Oleh: sastraindonesiaunand | Juni 20, 2008

ADAT MALAKOK: SUATU PROSESI MENJADI ORANG MINANG

Oleh : Leni Syafyahya

Menurut adat Minangkabau yang menganut sistem matrilinial, anak-anak yang lahir dari perkawinan antara pria Minangkabau dengan wanita non-Minangkabau tidak dapat dimasukan ke dalam sistem kekerabatan Minangkabau. Anak-anak ini dalam kaca mata adat Minangkabau berstatus “anak tidak bersuku” bahkan di lingkungan marga ibunya mereka juga tidak diterima dalam sistem patrilinial, sehingga jadilah status mereka ‘terkatung di awang-awang’.

Hal itu disebabkan memang begitulah sistem budaya matrilineal. Kalau diperhatikan dan amati banyak dari anak-anak yang berdarah Minangkabau ini, seperti ibunya dari suku Betawi dan suku Sunda, bangga berdarah orang Minangkabau dan mengatakan diri mereka sebagai orang Minangkabau. Ini berarti, sesungguhnya mereka mendambakan dapat diterima dalam persukuan Minangkabau.

Di samping itu, banyak perempuan non-Minangkabau yang mempunyai ikatan kekerabatan dengan orang Minangkabau (bersuamikan pria Minangkabau), menetap di ranah Minangkabau, berbahasa, beradat-istiadat bahkan beranak-pinak di Minangkabau, secara sistem budaya mereka tetap tidak dapat disebut sebagai orang minangkabau. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan sistem persukuan di Minangkabau berdasarkan garis keturunan ibu, maka dari itu setiap anak yang dilahirkan oleh perempuan Minangkabau pasti sukunya sama dengan ibunya.

Di sinilah yang menjadi persoalan, bagaimanakah dengan anak-anak yang ibunya bukan orang Minangkabau? apakah mereka tetap tidak memiliki suku? Namun adat budaya minangkabau tidaklah sekaku itu, juga bukan merupakan budaya yang tertutup atau menutup diri. Sebenarnya, anak yang dikatakan tidak bersuku tersebut dapat dicarikan sukunya dengan menjalani persyaratan adat yang disebut dengan Malakok. Ini yang disebut dengan hinggok mancakam tabang basitumpu, dima rantiang dipatah di sinan aia di sauak, di ma bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, cupak diisi limbago dituang, adat yang datang dan adat yang menanti

Mereka diterima dan ditampung dalam struktur persukuan Minangkabau (menjadi kemenakan di Minangkabau) setelah membayar upeti adat dalam bentuk uang, barang, maupun hewan (Amir, 1997). Dengan pengertian kalau seseorang ingin menjadi orang Minangkabau haruslah terlebih dahulu memenuhi aturan-aturan dan syarat-syarat yang telah ditentukan dalam adat.

Syarat merupakan suatu tuntutan atau permintaan yang harus dipenuhi. Dengan kata lain, apabila tuntutan telah dipenuhi maka permintaan pun telah dikabulkan. Begitu pula, dengan permintaan suku bagi anak tidak bersuku. Suku akan didapatkan apabila tuntutan adat telah dipenuhi sesuai dengan pepatah adat “cupak diisi limbago dituang” artinya ada aturan tersendiri untuk memenuhi suatu kewajiban pada keadaan yang berbeda-beda.

Keadaan yang berbeda-beda akan menyebabkan syarat dan tata cara yang berbeda pula. Demikian pula dengan malakok, pada daerah yang berbeda memiliki syarat dan tata cara yang berbeda pula. Syarat-syarat dan tata cara malakok di beberapa daerah Darek antara lain (saya pernah melakukan penelitian tentang ini). Pertama, ada dengan Carano diisi dengan siriah langkok dan di atas siriah langkok diletakkan emas seberat 2 emas. Emas di sini boleh ditukar dengan uang tunai dengan catatan jumlah uang tersebut sama dengan harga 2 emas. Kedua, ada dengan Carano diisi dengan siriah langkok dan di atas siriah langkok tersebut diletakkan emas seberat 4 sampai 5 emas. Emas di sini tidak boleh ditukarkan dengan uang, walaupun jumlah uang yang diberikan sama dengan harga 4 sampai 5 emas. Di samping itu, berat emas juga dapat kurang atau lebih dari 4 sampai 5 emas, tergantung kepada permintaan para penghulu kepada kerabat anak yang akan diberikan suku. Ketiga, ada yang hanya dengan seekor kerbau atau seekor kambing akan dipotong dalam upacara pemberian suku dan untuk menjamu seluruh penduduk nagari.

Setelah syarat-syarat di atas dipenuhi, acara selanjutnya ialah permintaan persetujuan dari pihak suku yang akan menerima. Persetujuan tersebut dimulai dari, pertama pihak keluarga bapak yang akan menerima, kedua sanak saudara sekeliling, ketiga semua kaum/kerabat yang sapasukuan dengan suku yang akan menerima, keempat jika tiga persetujuan di atas telah didapatkan, langkah selanjutnya ialah memberitahukan penghulu yang ada di setiap persukuan di daerah itu. Setalah persetujuan dan pemberitahuan kepada semua penghulu selesai. Tata cara malakok lainnya yang akan dilakukan ialah mengadakan upacara adat dengan mendatangkan keempat penghulu tersebut ke rumah anak yang akan diberikan suku. Di samping keempat penghulu itu, sanak saudara dan masyarakat di nagari itu ikut memeriahkan upacara ini.

Adapun syarat dan tata cara malakok di daerah Rantau antara lain. (1) Carano diisi dengan uang (jumlahnya tidak ditentukan atau sesuai kesanggupan keluarga anak yang akan malakok). (2) Memotong kambing sebagai pemberitahuan kepada masyarakat banyak bahwa anak si Fulan telah malakok ke suku ayahnya dan resmi menjadi anak sekaligus kemenakan dalam suku tersebut. (3) Dalam acara potong kambing tersebut, diundang sekalian orang kampung, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, rang mudo (para pemuda), rang sumando dan seluruh isi kampung. (4) Ada syarat lain yang lebih sederhana yaitu satu ikat siriah, siriah ini akan diberikan kepada pihak yang akan memberikan suku. Di sisi lain, pihak yang memberi suku akan memberikan uang sebesar Rp 5000,00 kepada ibu si anak yang tidak bersuku. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa anak yang tidak bersuku telah memiliki suku atau istilah lainnya telah digadaikan.

Setelah persyaratan di atas dipenuhi, langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh pihak yang meminta suku ialah: (1) Ayah dari anak yang akan malakok mendatangi penghulu sukunya tempat si anak akan ditumpangkan (dititipkan). (2) Si ayah menyampaikan maksud hatinya untuk ‘memperjuangkan si anak’ artinya memberikan suku untuk si anak, memberi kehidupan bagi si anak, memberikan tanah tempat berdiam, memberikan setumpak (sebidang) sawah untuk digarap. (3) Penghulu suku menerima dengan syarat, mereka mampu melaksanakan ‘Adat diisi, limbago dituang‘. (4) Tata cara malakok yang lebih sederhana ialah dengan menggadaikan si anak ke kerabat ayahnya. Sebagai bukti (tando) si anak malakok ke kerabat ayahnya, si ibu anak tidak bersuku memberikan siriah satu ikat kepada kerabat ayah si anak. Pihak kerabat ayah yang akan memberikan suku, memberikan si ibu anak yang tidak bersuku uang sebanyak Rp. 5000,00 dan air putih satu botol. Dengan demikian, resmilah si anak mempunyai suku yang sama dengan kerabat ayahnya. Apabila si anak menikah nantinya, uang sebanyak Rp 5000,00 itu dikembalkan kepada kerabat ayahnya. Selain itu, ibu si anak juga memberikan nasi kunik (ketan yang diberi kunyit sehingga berwarna kuning), nasi, dan lauk pauk. Pada saat yang bersamaan, pihak kerabat ayahnya juga memberikan baju sapatagak (satu stel), dan selembar sarung. Hal ini dilakukan sebagai pertanda bahwa si anak tidak lagi tagadai (digadaikan), melainkan sudah menjadi ‘bagian’ dari pihak kerabat ayahnya.

Dari keterangan di atas, dapat dilihat syarat dan tata cara malakok anak tidak bersuku dalam sosial budaya Minangkabau baik di daerah DarekRantau, masing-masing memiliki variasi. Daerah Darek atau daerah Rantau memiliki variasi syarat dan tata cara malakok yang berbeda. Ada daerah yang memiliki syarat dan tata cara yang cukup berat, bahkan tidak mau melakukan malakok bagi anak yang tidak bersuku. Di sisi lain, ada pula daerah yang memiliki syarat dan tata cara yang cukup ringan bahkan sangat sederhana. maupun daerah

Mereka nantinya akan disebut dengan kemenakan bertali emas atau kemanakan bertali budi. Apabila mereka berkembang, dan ingin mendirikan suku, maka mereka pun mengikuti tata cara dan persyaratan untuk pendirian suku. Suku mereka disebut suku belahan dari suku induk tempat mereka hinggok mancakam tabang basitumpu.

Hal ini sesuai dengan pepatah di Minangkabau “adaik salingka nagari”nagari akan berbeda dengan aturan dan norma di nagari lain di Minangkabau. Masing-masing nagari merdeka dengan aturannya, mempunyai otonomi sendiri (adat salinka nagari). *** artinya, aturan dan norma yang berlaku di suatu

*) Leni Syafyahya dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Unand, Padang.


Responses

  1. kalau seorang istri yang malakok ke suku ayah dari suami, tata caranya apakah sama?

  2. Bu, saya ada sedikit pertanyaan?
    Di dalam kalimat “dima rantiang dipatah di sinan aia di sauak, di ma bumi dipijak di sinan langik dijunjuang”

    Kata dima itu pada hakikatnya disambung apa dipisah ya bu?
    karena pada posisi kalimat dima rantiang dipatah di sinan aia di sauak , kata tersebut disambung.
    Sedangkan, pada kalimat di ma bumi dipijak di sinan langik dijunjuang, kata tersebut dipisah.

    Terima Kasih, Bu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: