Oleh: sastraindonesiaunand | Januari 21, 2008

Peneliti Malay Berburu Naskah

Naskah Kuno
Peneliti Malay Berburu Naskah

m-yusuf.jpgBak agen rahasia, para peneliti Malaysia belakangan ini bergentayangan di pelbagai pelosok Nusantara. Mereka berburu naskah Melayu klasik untuk diboyong ke negaranya. Bila naskah yang dikendaki tak bisa dibeli, mereka memotretnya.

Laku lancung orang Malay yang mengaku sebagai bangsa serumpun itu terungkap dalam Rapat Kerja Asosiasi Budaya Tulis (ATL) di Jakarta, 10-11 Desember lalu. Ditengarai, ratusan naskah Melayu klasik dari Indonesia kini terbang ke Malaysia.

“Naskah-naskah tersebut oleh mereka dibuatkan situs tersendiri. Jika kita mau mengakses naskah-naskah itu, harus membayar,” kata Al-Azhar, Ketua ATL Riau. Para peneliti dari Malaysia atau Singapura membeli naskah-naskah koleksi perorangan, yang mewarisi naskah klasik.

Para pemburu naskah Melayu dari negeri jiran itu membujuk ahli waris naskah agar sudi menjualnya. Mereka menawarnya hingga belasan juta rupiah untuk setiap naskah. Ahli waris naskah kuno yang taraf ekonominya kurang menguntungkan itu pun tergiur.

Salah satu contohnya adalah naskah kuno tentang tata cara pelaksanaan hidup dalam sebuah kerajaan Melayu. Naskah itu adalah catatan harian yang ditulis pemuka masyarakat Pakil, Tanjung Pinang, Provinsi Riau Kepulaun. Seorang peneliti Malaysia dikabarkan membeli naskah itu Rp 12 juta.

Modus itu, kata Al-Azhar, sekilas tampak bisa dibenarkan. “Karena mereka melakukan transaksi jual-beli,” tuturnya. Masalahnya, menurut Undang-Undang Perlindungan Cagar Budaya, jual-beli hanya boleh dilakukan masyarakat atau individu pemilik naskah kuno itu kepada kalangan dalam negeri. “Jadi, jika menjual ke pihak luar, bisa dituntut secara hukum,” Al-Azhar menegaskan.

Namun faktor ekonomi dan minimnya pengetahuan masyarakat pemilik naskah itu akan nilai historisnya membuat mereka enteng saja melepas naskah tersebut. “Mereka juga tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu melanggar hukum,” kata Al-Azhar.

Modus yang sama terjadi di Sumatera Barat. Dari penelusuran Gatra terungkap, ada 30 lembar naskah yang dijual Rp 150 juta. Naskah yang diburu biasanya naskah kebudayaan Minangkabau masa lampau, ilmu agama, dan rajah atau teks yang dianggap masyarakat punya kekuatan magis. Naskah itu lazim ditulis dengan huruf Arab Melayu, yang sebagian besar tak diketahui siapa penulisnya.

“Ada beberapa naskah naskah kuno yang telah dibeli secara ilegal oleh Malaysia,” kata Muhammad Yusuf, dosen filologi Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang. Naskah yang dibeli orang Malay itu, antara lain, Undang-Undang Minangkabau. Pemburu naskah dari negeri jiran membelinya dari seseorang di Kelurahan Balaigurah, Bukittinggi, pada 1984.

Di Malaysia, naskah itu ditulis ulang dengan aksara Latin oleh Prof. Dr. Umar Yunus, guru besar ilmu sastra University Malaya, yang kebetulan berasal dari Silingkang, Sumatera Barat, dan telah lama menjadi warga negara Malaysia. Kini naskah Undang-Undang Minangkabau itu menjadi koleksi Perpustakaan Nasional Malaysia.

Di antara naskah yang diketahui sudah “menyeberang” ke Malaysia, yang paling berharga, kata Yusuf, adalah naskah tentang iluminasi. Naskah ini berisi berbagai lukisan dan gambar hiasan pinggir buku. Naskah itu berasal dati tahun 1770 atau abad ke-18.

Menurut Yusuf, total ada 371 manuskrip Minangkabau yang berada di luar Sumatera Barat. Dari jumlah itu, 261 naskah ada di Belanda, 12 di Inggris, dan 19 di Jerman. Sisanya, 78 naskah, berada di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Naskah yang belum tercatat masih banyak dan kini menjadi rebutan Fakultas Sastra Universitas Andalas dengan para pemburu naskah dari Malaysia. “Fakultas sastra sering kalah bersaing, terutama karena keterbatasan dana,” tuturnya.

Meski begitu, dia tak mau menyerah. Yusuf mengaku berusaha melakukan pendekatan kepada para pemegang naskah kuno agar tetap memeliharanya. Misalnya, disediakan lemari, kotak, atau alat penyimpan yang lebih baik. Sebagian yang bisa dibeli fakultas sastra disimpan di perpustakaan fakultas.

Pihak Museum Adityawarman, Sumatera Barat, pun kini mulai getol memburu naskah tersebut jangan sampai jatuh ke tangan pemburu naskah dari Malasyia. “Kami sangat mengharapkan Pemda Sumatera Barat turun mendukung perlindungan naskah ini,” ujar Yusuf.

Toh, meski sudah tersimpan di museum pun, belum berarti aman. Buktinya, terungkap bahwa Malaysia menerapkan modus lain untuk mendapatkan naskah yang tersimpan di museum. Naskah-naskah itu oleh para peneliti mereka dipotret secara diam-diam. Dalam Rapat Kerja ATL terungkap, modus ini pernah terjadi di wilayah Buton, Sulawesi Tenggara.

Seorang peneliti naskah Melayu klasik dari Buton, La Niampe, mengaku pernah menangkap basah seorang peneliti Malaysia yang bersama tujuh rekannya memotret naskah-naskah Buton. Peneliti bergelar profesor itu, kata La Niampe, akhirnya diusir. “Tapi beberapa puluh naskah sempat mereka ambil,” katanya.

Jika cara itu tak manjur, mereka menempuh cara baik-baik, yaitu memintanya. Cara seperti ini ditempuh Malaysia untuk mendapatkan ratusan hasil penelitian budayawan Riau, Tenas Effendi, atas tradisi lisan dan naskah-naskah Melayu klasik yang dihimpun Tenas selama bertahun-tahun. Diakui Tenas, naskah-naskah itu memang diminta pihak Malaysia untuk dibuatkan situs tersendiri atas namanya.

Karena naskah-naskah itu pula, Malaysia memberinya gelar doctor honoris causa. “Mereka tak mencuri naskah milik saya,” kata Tenas. Cara ini juga ditempuh untuk mendapatkan 200-an naskah pantun Rantau Kopan, yang merupakan tradisi lisan masyarakat sekitar Sungai Rokan, Riau.

Al-Azhar, sang pemilik naskah, merekam pantun-pantun itu pada 1990. Pantun-pantun tadi diminta Malaysia untuk situs budaya “Sejuta Pantun”. Meski perbuatan itu tak bisa dikategorikan mencuri, belakangan Al-Azhar sadar bahwa tindakannya berisiko. Pasalnya, pantun-pantun itu sama sekali belum dipatenkan.

“Suatu saat, bisa saja 200 pantun Rantau Kopan tersebut diklaim Malaysia sebagai miliknya,” tuturnya dengan nada khawatir. Mengapa Malaysia begitu getol berburu naskah-naskah kuno itu? Menurut Muhammad Yusuf, Malaysia memang berambisi menjadi pusat Melayu dan pusat Islam.

Ia menduga, gerakan itu juga sejalan dengan gerakan Dunia Melayu Islam, yang berpusat di sana. “Dengan demikian, orang yang mau belajar tentang Melayu harus belajar di Malaysia,” kata Yusuf. Ketika berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia, dua pekan lalu, Gatra menangkap kesan itu.

Beberapa tokoh setempat yang ditemui Gatra menyebut nenek moyang mereka adalah orang Melayu. Termasuk orang Melayu yang ada di Indonesia, menurut mereka, berasal dari Malaysia. Uniknya, ketika ditanya tentang prototipe orang Melayu dan asal bahasa Melayu, mereka kesulitan menjelaskannya.

Bahkan, pada saat sinetron Malaysia berjudul Cilok dipertontotan, tak banyak orang muda Malaysia tahu maknanya. Maklum, kata itu berasal dari Minangkabau yang berarti pencuri atau maling.

Mengingat ambisi menggebu Malaysia yang tanpa malu itu, Al-Azhar meminta pemerintah melakukan penyelamatan warisan budaya bangsa, terutama naskah lisan di Riau dan wilayah Indonesia lainnya. “Naskah lisan akan mudah diklaim karena tidak ada catatan yang menyatakan itu hak warisan Riau,” katanya.

Ancaman itu, menurut dia, sangat nyata. Pada saat ini, di Riau ada 12 melodi naskah lisan, sedangkan Malaysia memiliki tiga melodi sejenis. “Jadi, ada sembilan melodi yang tidak ada di Malaysia,” tuturnya. Tapi, jika hal ini dibiarkan, bukan tak mungkin suatu saat 12 melodi itu diklaim sebagai milik Malaysia.

M. Agung Riyadi, Fachrul Rasyid HF (Kuala Lumpur), dan Luzi Diamanda (Pekanbaru)
[Hukum, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 20 Desember 2007]

Sumber kliping dari : http://www.gatra. com/artikel. php?id=110858
Komentar di Gatra

KOMENTAR PEMBACA
spacer



kitab pararaton majapahit juga di belanda (drpbhadi@yahoo.co.id, 05/01/2008 00:00)
sumber2 ilmu dari hasil kehebatan karya otak – Geist – nenek moyang kita kan sudah lama jadi incaran oleh orang asing? Kenapa heran? Paman saya saja yang ahli bahasa Jawa Kuno dari Univ. Canberra, kalau cari literatur2 Jawa Kuno di Leiden, Utrecht, Amsterdam, Delft juga di Belanda
Bangsa kita belum mampu menghargai warisan hasil karya Nenek Moyang kita yang juga pintar2 itu. Di Belanda ada kiasan “hij is Oost Indisch doof”. Artinnya adalah:
Bila seseorang nggak dengar dan faham, maka orang Belanda mengatakan “kamu begok tuli kayak orang Indonesia”.
Saya panas sekali dalam hati. Saya hanya bisa berjuang dengan cara saya sendiri untuk membela martabat bangsa ini dari lecehan2 terus menerus.
Kita memang belum mampu. Bukan dana, bukan korupsi. Tapi memang belum mampu. Maafkan kata2 ini. Maar dat is de realiteit. Helaas.

Wassalam.

mbah pur


spacer



lagi-lagi malaysia (wongjowo@hotmail.com, 04/01/2008 14:28)
Gatra ini selalu saja menyulut rasa ‘benci’ dan ‘sentimen’ anti Malaysia. Sebelum tergesa-gesa, mungkin perlu membaca buku-buku sejarah, Karya Azra, Jaringan Ulama Nusantara, atau kaya, H. W Muhd. Shaghir Abdullah, tentang wawasan islam Nusantara 4 jilid, juga karya beliau yang lain, Perkembangan madzhab syafii dan tokoh-tokohnya di Asia tenggara, agar kaca mata penglihatan sejarahnya lebih luas, dan mengetahui bagaimana karya tulis dari Aceh, Sumbar bisa sampai malaysia.
Lagi pula yang diCURI oleh penjajah-penjajah dulu kenapa ga pernah diurus lagi, ribuan manuskrip umat Islam digondol oleh mereka. Lihat saja di Leiden dll.
Cool man

spacer



Tak tahu malu…. (email(“luciahw02#at#yahoo.co.jp”);luciahw02@yahoo.co.jp, 04/01/2008 11:56) Negara kita memang kaya dalam segala hal, sehingga tetangga yang mengaku saudara serumpun itu cemburu setengah mati. Negara malaysia itu kecil, miskin, dan tidak punya apa-apa pada awalnya. Sekarang giliran merasa kaya secara ekonomi, baru sadar betapa miskinnya dia sebenarnya, sehingga nafsu serakahnya bertambah-tambah. Kaya saja tidak cukup kalau tidak punya budaya yang menjadi kekayaan tak terhingga juga. Nah, pencurian pun dilakukan dengan restu negara, tak tahu malu meng-klaim milik orang, mencuri yang bisa dicuri: kayu, tanah/pulau, lagu daerah, sekarang (yang baru ketahuan) naskah………malaysia…malaysia….OKB yang tidak punya identitas diri.

spacer



Negara tak berbudaya (email(“santawijaya#at#yahoo.com”);santawijaya@yahoo.com, 04/01/2008 11:52) Rentetan pencurian kebudayaan oleh Malaysia ini sungguh menyedihkan, sepertinya Malaysia itu negara yang “kurang kebudayaan-nya” atau “Negara yang tidak berbudaya”. sungguh disayangkan….Tapi disatu sisi, “they are smart” dengan mempatentkan segala hal yang dianggap perlu, walaupun bukan asli produk/kebudayaan Malaysia.

Bagaimana dengan Indonesia? mengapa susah sekali mempatenkan segala produk/budaya bangsa ini.
Apa kita tidak berfikir atau …? ma’af kita “kurang smart”

Kalau kita masih berpangku tangan saja, lihat nanti beberapa tahun lagi kita akan belajar ke Malaysia tentang “kebudayaan asli” Indonesia…


Responses

  1. Menyedihkan! Mungkin ini kata yang tepat atas apa yang terjadi ada naskah-naskah kuno itu. Saya pribadi menghargai apa yang dilakukan oleh Pak Yusuf dkk, dalam menyelamatkan aset intelektual/budaya itu. Mungkin salah satu jalan yang baiknya kita lakukan adalah melakukan upaya paten terhadap semua naskah-naskah kuno itu sebagai bagian dari hak kekayaan intelektual bangsa ini. Selain itu, salah satu kendala ketidakpedulian terhadap naskah-naskah kuno itu adalah publikasi dan sosialiasasi. Sayang, baru orang-orang filologi saja yang peduli, dan belum orang sejarah…

  2. “Menyedihkan! Mungkin ini kata yang tepat atas apa yang terjadi ada naskah-naskah kuno itu. Saya pribadi menghargai apa yang dilakukan oleh Pak Yusuf dkk, dalam menyelamatkan aset intelektual/budaya itu. Mungkin salah satu jalan yang baiknya kita lakukan adalah melakukan upaya paten terhadap semua naskah-naskah kuno itu sebagai bagian dari hak kekayaan intelektual bangsa ini. Selain itu, salah satu kendala ketidakpedulian terhadap naskah-naskah kuno itu adalah publikasi dan sosialiasasi. Sayang, baru orang-orang filologi saja yang peduli, dan belum orang sejarah…” bagaimana dengan anda yang berbicara?

  3. Pemerintah harus sadar budaya. Jangan hanya sadar ngimpor beras dan mobil saja.

  4. SAYA MAHASISWA STKIP PGRI JOMBANG N KOLEKTOR NASKAH KUNO.SAYA PINGIN BERDISKUSI SAMA ORANG-ORANG YANG FAHAM TENTANG ILMU FILOLOGI. hub : 085259999686

  5. jombang adalah tempat buat para kolektor naskah kuno, banyak naskah yang masih di pegang oleh masyarakat

  6. Mas Agus, kontak saja Bang Yusuf kita yang mengetahui seluk beluk pernaskahan. Kalau saya pengen juga sebenarnya lihat2 koleksi naskah Mas Agus. Tapi dimana Mas Agus tinggal? Kalau ke Leiden semoga kita ketemu.
    Saluut buat Bang Yusuf yang selalu bertekun dengan naskah. Nah…jangan sampai diganggu yang oleh Sanak Fadlillah yang bertekun dengan karya2 Gus TF Sakai.

  7. saya ingin sekali memiliki buku TAREKAT SYATHARIYAH DI MINANGKABAU karangan pak Oman fathurrahman.saya berharap sdr mengirimkannya kepada kami,nanti uangnya belinya kami ganti. kirim saja ke alamat :
    SYAIFUL WAHID d/a kantor camat suliki, jln. tan malaka no.49, kab.50 kota SUMBAR kode pos 26255.
    Trim’s sebelumnya

  8. saya ingin sekali memiliki buku TAREKAT SYATHARIYAH DI MINANGKABAU karangan pak Oman fathurrahman dan KATALOGUS MANUSKRIP DAN SKRIPTORIUM MINANGKABAU-nya pak yusuf.saya berharap sdr mengirimkannya kepada kami,nanti uangnya belinya kami ganti. kirim saja ke alamat :
    SYAIFUL WAHID d/a kantor camat suliki, jln. tan malaka no.49, kab.50 kota SUMBAR kode pos 26255.
    Trim’s sebelumnya

  9. Kalau dicuri dan bajak sama orang Malaysia ya bikin lagi aja……… gitu aja kok repot……

    Mampukah generasi sekarang (sastrawan) membuat tulisan dengan kualitas setingkat yang ada di naskah kuno itu ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: