Oleh: sastraindonesiaunand | Januari 16, 2008

BERKUBUR

Sajak Irman SyahBERKUBUR

tanpa lonceng, aku telah mempersiapkan saja cangkul
untuk mengubur diri sendiri di rimba kesunyian
mulut tanah perbukitan menganga dan bersuara:
“hai lelaki, pejamkan mata!” angin mendesirkan lalang
burung murai menajamkan kicau
dan aku berangkat ke jurang diri sendiri
memproklamirkan kesepian tanpa henti

berkubur sendiri jauh beda dengan dikubur
getar nuranilah yang mampu menerjemahkan perih
menangkap kearifan dan tebing jurang jiwa
” hai terjunlah sebelum sore kau tuntaskan!”
batu-batu runcing menggigil, dan pasir seakan teriak
di telapak kaki

untuk berkubur, aku tak sanggup menutup mata
dan terjun sebelum memproklamirkan diri
sebagai pembangkang
sayat kicau murai, desir angin, dan suara pasir
selalu saja sindir- menyindir bau kematian yang ku kemas
beribu suara menuding dari dalam
memporak-porandakan dinding-dinding dada
“lari kemana kau lelaki!” kejar suara
ada juga suara gaduh yang pukul memukul dinding hati
terkadang bagai dentuman tiga-tiga yang menyayup
mengantar perjalanan ke diri sendiri!

aku berkubur sendiri tanpa siapapun dalam diri
dan tak seorang pun boleh membaringkan ocehannya di sini
tanpa lonceng, aku telah berkubur di kampung kecil
aliran sungai kesejukan nurani meresapkan api ke jantung
bakar-membakar jiwa
dalam kubur diri, aku berteriak sejadi-jadinya:
ucapkan terima kasih dan cinta kepada siapa saja
bukan ke diri sendiri
ucapkan sakit hati dan dendam kepada siapa saja
terlebih ke diri sendiri!

aku berkubur dengan susah payah menciptakan kubur
aku berkubur untuk memudahkan orang lain berkubur
pada dirinya
aku berkubur untuk menentang orang lain membuat kubur dan memasukkan siapa saja ke dalamnya

Dimuat di Republika Minggu, 09 Desember 2007

Irmansyah lahir di Magek, Bukittinggi, 2 Oktober 1965. Alumni Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, ini gandrung mempertunjukkan puisinya di berbagai kota di Indonesia dengan format dendang-puitik dan gerak randai. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa Jakarta dan daerah, serta beberapa buku antologi puisi. 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: