Oleh: sastraindonesiaunand | Desember 22, 2007

Praduga

Oleh SAMSUDIN BERLIAN
 
Tahukah, praduga dan prasangka bertolak belakang arti walaupun sangka dan duga sama saja? Prasangka belum apa-apa sudah memvonis orang. Prejudice (’sebelum pengadilan’) berarti datang-datang sudah menilai buruk orang tanpa alasan logis. Praduga justru wanti-wanti: jangan berprasangka sebelum bukti bicara. Presumption (’penerimaan sebelum’) mengaku saja bahwa semua oke sampai ada alasan untuk menolak.
Prasangka berdasarkan generalisasi, jadi sebentuk diskriminasi; sudah lama berurat berakar dalam budaya kita. Praduga pendatang baru dalam terjemahan teknis presumption of innocence, praduga tak bersalah. Ini bukan soal tebak-tebakan, melainkan prinsip keadilan. Jaksa wajib membuktikan terdakwa bersalah, tertuduh tak perlu membuktikan apa-apa. Dakwaan bukan bukti kesalahan, tapi harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. Tertuduh harus diputuskan tak bersalah di mata hukum kalau dakwaan tak terbukti, atau kalau ada keraguan. Prinsip ini disebut juga in dubio pro reo (bila ragu, berpihaklah pada tersangka). Di dunia hukum William Blackstone dari Inggris dikenal luas dengan prinsipnya: “Lebih baik 10 orang bersalah lolos daripada seorang tak bersalah tersiksa”.

Prinsip ini juga tertuang dalam Pernyataan Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Walau sebagai frasa baku praduga tak bersalah baru mulai dipakai awal abad ke-19, konsepnya bisa ditelusuri paling tidak sejak zaman Romawi. Dalam suatu pengadilan yang diketuai langsung oleh Kaisar Flavius Claudius Iulianus (abad ke-4 M), seorang penuntut mengeluh, “Wahai, Kaisar! Kalau menyangkal saja sudah cukup, bagaimana jadinya dengan semua orang bersalah?” Jawab Sang Kaisar, “Kalau menuduh saja sudah cukup, bagaimana jadinya dengan orang tak bersalah?” Bahkan, ada orang menganggap prinsip ini sudah tampak dalam kisah dari abad ke-10 SM yang tertulis dalam Bibel ketika Ibrahim memohon-mohon sampai Tuhan berjanji: bila ada 10 orang saja yang tak bersalah di seantero kota Sodom, Dia tak jadi menghancurkan kota itu.

Sekarang bagaimanakah polisi akan menangkap orang? Kan harus berpraduga tak bersalah? Memang. Tapi, polisi dan jaksa juga harus berprasangka bersalah! Mereka harus menganggap setiap orang, yang terkait dengan suatu kasus kejahatan, bersalah. Baru sesudah menemukan bahwa mereka tak mungkin terlibat, mereka disangka tak bersalah. Yang harus diterapkan sejak awal: dicurigai salah tapi diperlakukan sebagai orang tak bersalah.

Dalam kasus dugaan suap pembelian tank militer beberapa tahun lalu yang melibatkan putri mantan presiden, ada panglima TNI dikutip koran mengatakan, “Belum terbukti. Nanti kalau memang sudah ada bukti yang tidak diragukan lagi, hukum harus ditegakkan.” Bagaimana dapat bukti kalau hukum tak lebih dulu ditegakkan? Bayangkan, semua polisi dan jaksa harus menganggap tak ada orang bersalah sampai pengadilan memutuskan. Lo, lantas siapa yang bisa dituntut di pengadilan?

Lain kali, kalau dalam kasus kriminal high-profile Anda dengar polisi, politikus, serta pejabat sipil dan militer berpesan dengan tampang bijak agar kita semua berpegang pada asas praduga tak bersalah, berprasangkalah seperti saya, bahwa pejabat itu sekubang dengan si tersangka!

SAMSUDIN BERLIAN Pengamat Bahasa

Kliping Rubrik Bahasa dari Harian Kompas,

Jumat, 21 Desember 2007 2007http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0712/21/UTAMA/4093211.htm
Berita Utama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: