Oleh: sastraindonesiaunand | Desember 14, 2007

Kliping Sastra Mazhab SMS

 

 

 

 

 

 

 

KLIPING POLEMIK 

 

 

 

 

 

SASTRA MAZHAB SELANGKANG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Taufiq Ismail

Hudan Hidayat

Muhammad Subarkah

Mariana Amiruddin

Viddy AD Daery

VERSUS

Muhidin M Dahlan

Firman Venayaksa

Veven Sp Wardhana

Mahdiduri

 

 

 

 

 

 

 

Budi Darma

M. Faizi

 

Daftar Isi

 

 

01. Budidaya Malu Dikikis Habis
  Gerakan Syahwat Merdeka (Taufiq Ismail) 4
02. Gerakan Syahwat Merdeka
  Mengepung Indonesia (Muhammad Subarkah) 13
03. Sastra yang Hendak Menjauh
  dari Tuhannya (Hudan Hidayat) 16
04. Hh dan Gerakan Syahwat Merdeka (Taufiq Ismail) 20
05. Nabi Tanpa Wahyu (Hudan Hidayat) 23
06. Hudan, Taufiq, dan Generasi Nol Buku (M. Faizi) 27
07. Perkosaan Teks-Teks Sastra (Mariana Amiruddin) 31
08. Gerakan Sastra Anti Neo-Liberalisme (Viddy AD Daery) 34
09. Proyek Lekra yang Teralpa
  Ismail dan Pelacur Kencur (Muhidin M Dahlan) 37
10 Jurnal Bumipoetra, Liberalisme
  dan Ode Kampung (Firman Venayaksa) 41
11 Sastra Perlawanan
  Terhadap ‘Neo-Takhyul’ (Veven Sp Wardhana) 44
12 Ada Apa dengan Sastra Kita (Budi Darma) 48
13 Sastra Indonesia
  dalam Skenario Imperialisme (Mahdiduri) 50

 

Pidato Kebudayaan

 

Budidaya Malu Dikikis Habis

 

Gerakan Syahwat Merdeka

 

Oleh: Taufiq Ismail

 

taufiq-ismail-1.jpgSederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

 

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali. Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

 

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

 

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

 

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

 

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial — ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

 

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco , Timbuktu , Rotterdam mau pun Klaten.

 

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.”

 

Di Singapura , Malaysia , Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

 

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

 

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang ebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

 

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta – 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

 

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD , kelas lima . Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

 

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

 

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

 

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

 

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

 

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

 

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton CD/DVD biru dan ingin mencobakannya. ‘ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

 

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang iakibatkannya.

 

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.

 

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di alamnya.

 

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnaka n adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

 

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

 

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

 

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

 

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi. Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis. Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa. Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.

 

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, herry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

 

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indon esia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

 

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirak an-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.

 

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

 

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

 

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

 

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

 

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi- novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

 

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar- pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh- apa-saja- genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

 

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang. Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

 

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya. Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

 

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling. Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

 

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

 

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.

 

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

 

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa , di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia . Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

 

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

 

Di setasiun kereta api bawah tanah New York , seorang laki-laki orban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

 

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York , anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

 

Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

 

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

 

Penutup

 

Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***

 

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=276485&kat_id=3

 

Republika, Jumat, 22 Desember 2006

 

Gerakan Syahwat Merdeka

 

Mengepung Indonesia

 

Oleh : Muhammad Subarkah

 

Seorang bule bertubuh tinggi besar bergegas ke luar ruangan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Raya, Jakarta Pusat. Langkahnya acuh saja. Sembari berjalan lurus, dia kemudian mendekati penyair Taufiq Ismail yang tengah dirubung banyak orang. Setelah sampai di dekat Taufiq, ia menyalaminya.

 

”Selamat ya. Pidato kebudayaan Anda bagus sekali. Tapi ingat, media massa Indonesia juga banyak sampahnya. Lihat siaran televisi Anda. Bayangkan kalau di Amerika tayangan itu diputar pada pukul 03.00 pagi, di sini malah diputar pada prime time,” kata si bule sembari memegang tangan Taufiq. Yang disalaminya pun membalas dengan senyum simpul. ”Terima kasih Tuchrello. Memang demikian adanya. Maaf, kalau banyak mengambil contoh negara Anda,” jawab Taufiq.

 

Sesaat dia lantas menerangkan sahabatnya itu adalah Will Tuchrello, direktur Perpustakaan Kongres AS Perwakilan Indonesia. ”Bayangkan, mereka saja resah atas menggejalanya budaya bebas tanpa batas itu. Tapi, kok kita tidak ya?” ujar penulis lirik lagu-lagu hits Bimbo ini.

 

Taufiq, Rabu (20/12) malam, melalui pidato kebudayaannya di depan kalangan Akademi Jakarta mengguncangkan kesadaran publik untuk kembali menengok nurani pada hilangnya rasa malu orang Indonesia. Bahkan, Taufiq lugas menyebutkan hilangnya rasa malu itu telah mulai meruntuhkan bangunan bangsa.

 

Tagihan rekening reformasi, menurut Taufiq, ternyata mahal sekali. Indonesia dikepung gerakan ‘Syahwat Merdeka’! ”Gerakan syahwat merdeka ini tak bersosok organisasi resmi, dan jelas tidak berdiri sendiri. Tapi, bekerja sama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya. Ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan eletronik menjadi pengeras suaranya,” kata Taufiq dalam pidatonya.

 

Ketika mendengar ‘kesaksian’ Taufiq, sesaat ruangan Teater Kecil yang penuh dipadati puluhan pengunjung mendadak berubah. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, misalnya, segera membuka buku kecil yang memuat pidato Taufiq Ismail.

 

Dari arah bangku belakang, kemudian terdengar lenguhan panjang. Seorang ibu berguman. Penulis skenario film senior, Misbach Yusa Biran, menggeleng-gelangkan kepala. Pemusik kontemporer Slamet Abdul Syukur tepekur di kursinya.

 

Ruangan teater pun terus senyap. Suhu udara berpendingin kini mulai terasa merambahi kulit. Taufiq kemudian meneruskan pidatonya dengan menjelaskan mengenai siapa saja yang menjadi komponen ‘syahwat merdeka’ itu.

 

Paling tidak ada 13 pihak yang menjadi pendukung fanatik gerakan ini. Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Kedua, para penerbit majalah dan tabloid mesum yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Ketiga, produser, penulis skrip, dan pengiklan televisi.

 

”Semua orang tahu betapa ekstentifnya pengaruh layar kaca. Setiap tayangan televisi rata-rata 170 juta pemirsa. Untuk situs porno kini tersedia 4,2 juta di dunia dan 100 ribu di internet Indonesia. Untuk mengaksesnya malah tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Fransisco, maupun Klaten,” tegasnya.

 

Pendukung keempat adalah penulis, penerbit, dan propagandanis buku-buku sastra dan bukan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya adalah penulis pria. Di Indonesia sebaliknya. Penulis yang asyik menulis wilayah ‘selangkangan dan sekitarnya’ mayoritas perempuan. ”Dalam hal ini ada kritikus Malaysia berkata, ‘Wah Pak Taufiq, pengarang Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu?” ungkap Taufiq Ismail.

 

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Keenam, produsen VCD/DVD porno. Ketujuh, pabrikan alkohol. Kedelapan, produsen, pengedar, dan pengguna narkoba. Kesembilan, pabrikan, pengiklan, dan pengisap rokok. Hal ini dilatarbelakangi kenyataan dalam masyarakat permisif, interaksi antara seks, narkoba, dan nikotin akrab sekali. Sukar dipisahkan.

 

Selanjutnya, komponen ke-10 adalah para pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Ke-11, germo dan pelanggan prostitusi. Ke-12 adalah dukun dan dokter praktisi aborsi.

 

”Bayangkan data menunjukan angka aborsi di Indonesia mencapai 2,2 juta setahun. Maknanya, setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal di suatu tempat akibat dari salah satu atau gabungan faktor-faktor di atas,” tandas Taufiq Ismail.

 

Menurut Taufiq, kehancuran hilangnya rasa malu itu kemudian tecermin dalam gemuruh gelombang penolakan RUU Pronografi dan Pornoaksi. Ini adalah pihak ke-13. Pada satu sisi memang ada kekurangan. Dan salah satu kekurangan RUU ini, yang perlu ditambah dan disempurnakan adalah perlindungan terhadap anak-anak yang jumlahnya 60 juta.

 

Perbandingannya, kalau di Indonesia masih nihil perundangan perlindungan anak, di AS anak-anak di sana paling tidak kini dilindungi enam undang-undang.

 

Sastra ganjil

 

Mengomentari keresahan Taufiq, pengarang perempuan NH Dini menyatakan, saat ini memang ada yang ganjil dalam dunia sastra. Entah mengapa tiba-tiba ada sekelompok penulis perempuan yang giat menulis cerita bergaya pornografi. Mereka memang tidak merasa risi atau malu. Entah sengaja atau tidak, mereka sudah menyalahartikan erotisme menjadi sama saja dengan pronografi.

 

”Beberapa waktu lalu, ketika tinggal di Prancis, saya dikirimi mendiang Ramadhan KH sebuah novel Indonesia yang mendapat penghargaan karya sastra. Ramadhan, karena tidak ‘kuat’ membaca, meminta saya membaca novel tersebut. Dan benar, saya hanya kuat baca beberapa lembar saja.” ”Saya kemudian berpikir, apa bagusnya novel ini, kok sampai mendapat penghargaan? Malah lebih terkejut lagi, ketika bertemu dengan seorang rohaniwan, dia malah memuji novel itu. Akhirnya, saya semakin tidak mengerti,” tutur NH Dini.

 

Budayawan Riau, Al Azhar, menyatakan, apa yang dikatakan Taufiq itu memang kenyataan yang kini terjadi. Beberapa penulis memang menghasilkan karya yang ‘tidak masuk akal’ karena hanya membahas soal selangkangan. Dominasi ide hanya memaparkan idealisme hedonis. Realitas kehidupan rakyat yang berbudi diabaikan.

 

”Entah apa yang dipikirkan generasi hedonis itu. Mutunya sangat jauh bila dibanding karya Pramudya Ananta Toer atau Ahmad Tohari. Terjadi penurunan mutu karya yang serius. Generasi syahwat merdeka memang kini mengepung kita,” tandas Al Azhar. ***

 

 

Jawa Pos, Ahad (6/5/2007)

 

Minggu, 06-Mei-2007

 

Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya

 

Oleh Hudan Hidayat

 

Nakal” dan” santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.”

 

PIDATO Kebudayaan Taufik Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006, bukan hanya menyerang sendi sastra dan seni, tapi telah memporandakkan hidup itu sendiri. Dengan pidato itu Taufik telah meringkus kompleksitas dunia pada satu ruang. Yakni, ruang agama formal.

 

Kalau diumpamakan sungai, maka sungai kehidupan yang memantulkan warna-warni nasib manusia dan takdir dunia, akan mengering diisap cara kerja Taufik yang ingin memasung kreativitas, membelenggu kebebasan berpikir, serta menciutkan imajinasi. Akibatnya, kehidupan akan kehilangan terang dan gelapnya sendiri. Kehendaknya, alih-alih membawa suara moral dalam sastra, tapi justru akan membawa sastra menjauh dari Tuhan-nya.

 

Bagaimana menyikapi penyair yang kondang di luar publik sastra Indonesia ini? Adalah dengan mengikuti cara berpikir Taufik sendiri. Yakni, suara moral agama. Dan apakah kata agama pada bidang yang diteriakkan Taufik Ismail?

 

Sesungguhnya serangan Taufik Ismail masuk dalam kawasan tafsir. Pertanyaan yang muncul: siapakah yang berhak menafsir? Dan tafsir siapakah yang paling hebat?

 

Mungkin tak seorang pun yang tahu. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Sebab, kebenaran seolah roh dalam badan. Makin kau genggam makin ia menyuruk ke dalam badan. Atau kebenaran mirip menggenggam air dalam tangan. Makin kau genggam makin merucut dari balik tangan.

 

Saya ingin menafsirkan kehidupan dari aras penciptaan. Kalau Taufik Ismail menafsirkan Serat Chentini sebagai teks yang porno, menganjurkannya agar dilarang dibacakan di depan publik, saya tidak menganggap teks itu sebagai pornografi. Karena tidak ada “bau burung” dan” dengus nafsu” di situ. Hanya penggambaran biasa, di mana seorang pembantu rumah tangga menunggu sepasang pengantin di kamarnya. Mengira-ngira apakah sudah terjadi “permainan burung”.

 

Suasananya mirip dengan seseorang bertamu di rumah teman. Sang tamu menunggu di ruang tamu. Tuan rumah masih di dalam kamar. Apa yang terjadi di dalam kamar tuan rumah?

 

Bisa apa saja. Seseorang yang “nakal” akan membayangkan tuan rumah dengan istrinya sedang “bermain burung”. Tapi seseorang yang “santun” mungkin’punya bayangan lain: tuan rumah sedang becermin. Maka muncul pertanyaan: siapakah yang “nakal” di sini? Siapakah yang berpikir dalam term pornografi?

 

Tuhan lebih “nakal” dari Taufik Ismail. Dalam sebuah ayat dari surat-Nya (QS 7 ayat 22), Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar “aturan main”. Tidak ada kamar seperti di Serat Chentini. Pembaca bebas berimajinasi, perihal aurat yang ditutupi daun surga itu. Akankah kita mengatakan kitab suci sebagai teks yang porno? Tidak. Sebab, ketelanjangan Adam dan Hawa ditempatkan sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya: sebagai sampiran untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. Ketelanjangan, dalam upaya meraih makna lebih luas, dibuat Tuhan melalui peristiwa dan kata-Nya.

 

“Nakal” dan”‘santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua dalam skenario nasib manusia dan takdir dunia. Budaya “kekerasan” itu telah ditandaskan Tuhan sebagai nasib manusia dan takdir dunia. Turunlah kamu semuanya. Sebagian dari kamu akan berbunuhan satu sama lain…(QS 2 ayat 30). “Berbunuhan”, bagi saya adalah nasib manusia dan takdir dunia. “Berbunuhan” bisa dirujuk pada semua yang diteriakkan Taufik Ismail.

 

Kata-kata saling “membunuh” ini, dalam sastra, menemukan bentuknya pada pelbagai cerita yang seolah “menjauh” dari Tuhannya. Sastrawan akan membuat kisah, dengan “pornografi” sebagai sampiran, bukan inti cerita. Pornografi diletakkan sebagai pintu ke dalam makna yang lebih luas, di mana keluasaannya akan mengatasi scene pornografi. Cerita bergaya Nick Carter, kata Taufik Ismail, telah meruyak ke dalam sastra Indonesia? Tapi, saya belum pernah menemukannya. Lagi pula, apa yang salah? Bukankah “pembaca” dewasa akan menerobos “ketelanjangan” Adam dan Hawa di surga, dalam dua versinya.

 

Versi pertama, itulah metafora Tuhan yang menggambarkan telah terjadi persetubuhan. Versi kedua, itulah metafora Tuhan yang menceritakan ketelanjangan sebagai hal yang memalukan. Karena memalukan, nenek moyang kita menutupi tubuhnya dengan daun-daun surga. Ketelanjangan ditempatkan sebagai sesuatu yang salah. Tapi ia diperlukan sebagai penggambaran suara moral bahwa “ketelanjangan”‘tidak boleh terjadi. Karena itu, penceritaan, sebagai motif penciptaan, menjadi sah adanya.

 

Tidaklah fair untuk mengatakan seorang pengarang yang menceritakan “ketelanjangan” sebagai” pencari tepuk tangan”, seperti dituduhkan Taufik Ismail. Sebab, pengarang menceritakan ketelanjangan sebagai fungsi pencerahan. Setidaknya pencerahan sejauh yang bisa ia capai.

 

Berhadapan dengan teks yang “telanjang”, kita harus mengejar maknanya. Apakah ia inheren demi makna yang lebih luas atau semata demi ketelanjangan itu sendiri? Kalau ia berada dalam makna yang lebih luas, maka “pornografi” adalah bagian dari budaya “kekerasan” sebagai takdir dunia yang telah diintrodusir’sang Pencipta. Kehadirannya menjadi sah.

 

Menjadi jelas, “permusuhan”dan”berbunuhan” yang dikabarkan Tuhan itu adalah penyimpangan laku, dengan segala variannya. Varian yang terpenting adalah seks dan kekerasan, kesakitan dan kegilaan, yang memuncak pada satu titik: mati. Karena itu, dunia adalah latar bagi pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Dijejalkan-Nya sifatsifat baik dan buruk pada manusia. Dia menunggu dengan takdir di tangan-Nya.

 

Saya ingin masuk pada aspek lain dari “budaya kekerasan”, sebuah varian yang menjadi fenomena dari abad-abad yang berlangsung. Yang telah pula dijadikan bahan oleh Taufik Ismail. Yakni, kekerasan yang dilancarkan oleh seseorang atau negara terhadap orang lain. Kekerasan yang masuk dalam frame “berbunuhan”, seperti “pornografi” masuk dalam’kotak yang sama. Aspek negatif dari kekerasan bisa menjelma sebagai perilaku seks bebas atau narkotika, di mana seseorang tidak mencelakai orang lain secara langsung, tapi mencelakai diri sendiri. “Berbunuhan” terhadap diri sendiri.

 

Di sini pula kita melihat dengan jelas makna yang dikehendaki Tuhan: janganlah “berbunuhan”, meski permintaan ini pada akhirnya dapat kita tafsirkan sebagai “permainan” Tuhan yang lain. Permintaan yang tidak mungkin. Sebab. bukankah “berbunuhan”‘sudah menjadi takdir dunia? Di dalam takdir mustahil manusia bisa masuk ke dalam arus yang sama atau sebaliknya. Tetapi untuk sampai kepada jangan “berbunuhan”, sekali lagi, adalah melalui’penceritaan. Persis seperti penceritaan Kabil dan Habil -dua saudara kandung yang saling membunuh itu.

 

Jadi, apa yang salah? Tidak ada. Manusia memainkan perannya dan semua manusia akan menuju Tuhannya. Permainan yang membuat dunia hidup. Seolah taman dunia, segenap kekayaan makna ada di dalamnya. Tetapi, permainan dengan nafsu hendak meringkus kompleksitas dunia, sama dengan kehendak menelan Tuhan ke dalam diri. Bukan Tuhan di dalam diri, tetapi kita berada di dalam diri Tuhan, yaitu dunia.

 

Tuan Taufik Ismail, sajakmu “tiga anak kecil yang datang ke Salemba dengan malu-malu”, bukankah termasuk juga’ke dalam nilai-nilai yang Tuan keluhkan itu? Di mana saya sebagai pembaca bisa menerobosnya: di balik puisi itu terbentang sebuah kisah “pornografi”: kekerasan negara terhadap warganya. Kebusukan manusia terhadap sesama. Sesuatu yang hendak Tuan salahkan pada orang lain.

 

Karena itu, tidakkah yang “tertusuk padaku, berdarah juga padamu”, Tuan Ismail. ***

 

*) Hudan Hidayat, cerpenis.

 

http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=290339

 

Minggu, 17 Juni 2007,

 

HH dan Gerakan Syahwat Merdeka

 

Oleh Taufiq Ismail

 

Para penulis berpaham neo-liberalisme merupakan bagian dari Gerakan Syahwat Merdeka, yang mendapat angin sejak masa reformasi 1997 di Indonesia.”

 

DI Jawa Pos, Ahad (6/5/2007) Hudan Hidayat (HH) menulis artikel “Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya”. Susah saya memahami tulisan itu. Jalan pikirannya melompatlompat dengan alur logika yang ruwet. Cerpenis ini tidak setuju dengan isi pidato kebudayaan Taufiq Ismail, “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka” pada 20 Desember 2006. HH menyebut saya menafsir Serat Centhini dan mengutip Nick Carter. Padahal sama sekali saya tak menyebut keduanya. Dalam pidato itu saya menyebutkan tentang kecenderungan penulis fiksi akhir-akhir ini yang suka mencabul-cabulkan karya.

 

Daripada merespons tulisan yang susah dibaca itu, ada serangkaian rencana kegiatan menarik yang saya sarankan dilaksanakan HH sebagai seorang penulis fiksi. Rangkaian kegiatan ini merupakan suatu bentuk sosialisasi karya ke masyarakat, terdiri dari empat tahap. Tujuannya adalah untuk memperjelas posisi sebagai penganut paham neo-liberalisme dari HH dan kawan-kawannya. Para penulis berpaham neo-liberalisme ini bagian dari Gerakan Syahwat Merdeka, yang mendapat angin sejak masa reformasi 1997 di Indonesia.

 

Perlu dijelaskan bahwa tentulah pelaku kegiatan ini langsung penulisnya, berhadapan dengan masyarakat. Penulis yang saya maksud terdapat di dalam naskah pidato 20/12/06. Mereka kelompok pengarang SMS (Sastra Mazhab Selangkang), yaitu sastrawan (atau setengah sastrawan) yang asyik dengan masalah selangkang dan sekitarnya. Kelompok SMS ini, yang berkembang subur sejak 1997, lebih tepat disebut sebagai kelompok penulis Fiksi Alat Kelamin (FAK), karena mereka gemar dan asyik menulis mengenai alat kelamin dan fungsinya di dalam karya cerpen dan novel mereka. Alat kelamin lakilaki dan perempuan dikisahkan dengan detil cara bekerjanya, yang berserakan di dalam karangan mereka. Dengan jalan pikiran serupa dan jumlah aktivis lebih dari lima orang, dapatlah mereka menyebut diri sebagai sebuah angkatan penulis.

 

Tahap pertama, sosialisasi awal adalah penulis Angkatan FAK mengumpulkan keluarga terdekat mereka, yaitu suami atau istri, anak-anak, ayah kandung, ibu kandung, mertua lelaki, mertua perempuan, ipar, keponakan, sepupu dan pembantu rumah tangga di ruang tamu. Lalu dia membacakan karyanya di depan seluruh keluarga. Karya yang dibaca tentulah yang paling banyak menyebut alat kelamin. Lalu catatlah bagaimana reaksi keluarga terdekat ini. Lakukan evaluasi.

 

Tahap kedua, sosialisasi berikutnya dilakukan di lingkungan RT-RW, dengan tetangga dekat, sekitar 5-10 rumah, 20-30 orang. Lakukan berbarengan dengan arisan atau acara ulang tahun. Undang Pak Camat. Supaya ada variasi gaya, dua penulis Angkatan FAK membacakan karya mereka. Untuk pengeras suara pakai alat karaoke. Yang ideal dua penulis FAK ini satu laki-laki, satu perempuan, sehingga dalam dramatic reading bisa melakukan simulasi. Catatlah bagaimana reaksi para tetangga itu. Lakukan penilaian.

 

Tahap ketiga, sosialisasi dengan mengambil tempat di sekolah atau di kantor. Supaya relevan, sebaiknya dikaitkan dengan suatu hari penting seperti Hari Pendidikan Nasional atau sebagai selingan hiburan acara halal bihalal atau perayaan Natal. Tamu utama adalah guru (SMP atau SMA) dan teman sekantor. Undang juga kawankawan lama alumni SMA atau universitas. Hadirin 40-50 orang. Sediakan ilustrasi musik. Yang membaca karya 6 penulis FAK, dan usahakan agar berimbang 3 jantan 3 betina (agak susah karena penulis FAK terbanyak perempuan). Kalau bisa, bagus, karena bisa demonstrasi orgy. Luangkan waktu untuk acara tanya jawab. Catat pula bagaimana reaksi guru-guru sekolah atau rekan kerja sekantor itu. Bikin evaluasi.

 

Tahap berikutnya berbentuk sosialisasi besar-besaran, yang lebih merupakan unjuk kekuatan agar penulis neo-liberal tidak diremehkan secara nasional. HH dkk. sebagai komponen Gerakan Syahwat Merdeka tidak akan sukar mendapat penyandang dana untuk kegiatan ini. Paling mudah, mintalah sponsor perusahaan penyebar penyakit akibat nikotin.

 

Tahap keempat, undanglah seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka berkumpul melakukan show of force seminggu di ibu kota. Komponen itu terdiri dari pembajak-pengedar VCDDVD porno, redaktur majalah cabul, bandar-pengguna narkoba, produsendistributor-pengguna alkohol, penulispengguna situs seks di internet, germopelaku prostitusi, dokter spesialis penyakit kelamin, dokter aborsi, dan dokter psikiatri. Bikin macam-macam acara sosialisasi. Penulis FAK beramai-ramailah baca karya di depan publik dengan peragaannya. Mintakan pelopor penulis Angkatan FAK Ayu Utami dan Djenar Mahesa Ayu tampil lebih dahulu baca cerpen. Lalu adakan promosi buku kumpulan cerpen dan novel FAK dengan diskon 40 persen. Catatlah bagaimana reaksi publik. Tarik kesimpulan.

 

Dalam evaluasi terakhir sehabis tahap keempat, tim dokter psikiatri akan menentukan diagnosis terhadap para pasien penulis Angkatan FAK, sampai seberapa parah sindrom patologis kejiwaan mereka. Terutama dalam kasus klinis nymphomania, overproduksi kelenjar hormon kelamin dan obsesi genito-philia, yaitu cinta berlebihan pada alat kelamin, termasuk adiksi pada onani-masturbasi. ***

 

Taufiq Ismail, penyair Angkatan 66

 

Jawa Pos, 1 Juli 2007

 

Nabi tanpa Wahyu

 

Oleh Hudan Hidayat

 

Dalam upayanya meredam filsafat dan ideologi penciptaan yang saya ajukan, yakni keyakinan saya bahwa penceritaan ketelanjangan dibolehkan oleh kitab suci, dan kitab suci pun telah mendemonstrasikannya melalui kisah Adam dan Hawa, Taufiq Ismail melancarkan serangan balik dengan menggesernya ke dalam sebuah upaya stigma akan tendensi sastra: sastra SMS (sastra mazhab selangkangan) atau sastra FAK –fiksi alat kelamin– (Jawa Pos, 17 Juni 2007). Inilah upaya yang mengingatkan saya akan cara-cara Lekra menggempur lawan-lawannya dulu, dengan menyebut mereka “Manikebu”.

 

Terasa bagi saya serangan balik Taufiq sangat mematikan. Dengan semangat anti-dialog dan anti-wacana, Taufiq seolah petinju yang memukul lawannya dengan tinju “kalang-kabut”. Atau seolah banjir bandang yang menyerbu permukiman manusia tanpa nurani-nurani sastra. Dalam SMS-nya pada saya, Taufiq menyebut tentang “kebakaran budaya”, yang penyebabnya antara lain sastra SMS atau sastra FAK, yang “bersama VCD porno dan situs seks internet… ikut merangsang perkosaan, menyebarkan penyakit kelamin menular, aborsi dan (minimum) masturbasi”.

 

Begitulah serangan balik Taufiq Ismail yang mematikan itu. Dan, saya merasa terkunci: saya mewacanakan kemungkinan melukiskan ketelanjangan dalam sastra, sepanjang ketelanjangan itu berfungsi untuk sesuatu yang lebih tinggi. Tetapi Taufiq berkelit akan kemungkinan sebuah tafsir. Ia lebih suka berteriak seolah nabi tanpa wahyu, yang mengacukan kepalannya pada fenomena sastra yang berseberangan dengan dirinya. Maka, bagaimana bila Taufiq malas berpikir akan kemungkinan tafsir, tapi serentak dengan itu gemar menghujat fenomena sastra yang disebutnya sastra SMS atau sastra FAK?

 

Kategori yang dibuat Taufiq dengan menstigma sastra SMS atau sastra FAK, menimbulkan persoalan dalam cara kita memandang dunia sastra. Termasuk cara kita berlogika dalam dunia sastra. Seperti SMS Goenawan Mohamad kepada saya, “Akan lebih berharga jika polemik yang timbul bukan seperti teriakan ‘copet!’, ‘lonte lu!’, atau ‘babi!’. Serangan terhadap satu tendensi dalam sastra akan lebih berharga jika dikemukakan dalam cara kritik sastra: dengan telaah, argumentasi, penalaran yang kuat, gaya menulis yang meyakinkan atau menggugah.”

 

Karena itu, bagi saya, mematahkan kecenderungan sastra tanpa telaah sastra, tampak seakan “tujuan menghalalkan cara”. Pertanyaan untuk Taufiq, sudahkah dia membaca buku-buku penulis yang diserangnya dengan gencar itu? Apakah boleh pelukisan ketelanjangan di dalam buku-buku itu? Apakah ketelanjangan di sana bukan sebuah ancang-ancang, untuk meraih makna kesepian atau ketuhanan? Di sinilah Taufiq tidak bisa menghindar dari filsafat penciptaan dan ideologi penciptaan yang saya ajukan. Menghindarinya sambil memukul langsung fenomena itu sebagai sastra FAK adalah ibarat hakim tuli dalam satu sidang.

 

Sang hakim tidak mau mendengar alasan mengapa sang terdakwa “melakukan persetubuhan”. Sang hakim hanya berpegang pada saksi-saksi, yang mungkin dirinya sendiri. Saksi yang tidak melihat keseluruhan rangkaian kejadian. Saksi yang hanya melihat scene persetubuhan. Dan, kemudian mengatakan telah terjadi persetubuhan. Padahal yang terjadi sebaliknya: bukan persetubuhan tapi pemerkosaan. Di mana sang wanita diperkosa, bersetubuh bukan atas kemauannya. Inilah prototipe sang hakim otoriter. Dia sudah bukan hakim lagi. Tetapi menjadi pemerkosa juga. Pemerkosa terhadap hak korban untuk berbicara.

 

Saya berpendapat, sastra yang disebut Taufiq sastra FAK itu, bukan sastra FAK atau sastra SMS. Sebutlah novel Saman karya Ayu Utami atau cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu. Mereka bukan sastra FAK. Tokoh Saman memang bukan karya sastra sekuat klaim tokoh di sampul belakang buku Saman. Tetapi bukan sastra FAK. Di sana, tubuh diangkat mengatasi tubuh. Meski tak terlalu meninggi. Karena itu menyebutnya sebagai sastra FAK adalah ibarat memandang malam tak bercahaya. Padahal di angkasa ada juga cahaya. Sebuah generalisasi yang menyesatkan.

 

Demikian juga dengan cerpen-cerpen Djenar. Ambillah contoh cerpen Menyusu Ayah di Jurnal Perempuan atau Melukis Jendela di majalah sastra Horison. Di kedua cerpen ini Djenar memang menyebutkan alat kelamin, tapi alat kelamin itu sekadar pintu masuk untuk makna lain. Yakni penderitaan sang anak yang menjadi korban kekerasan keluarga. Darinya menyembul simpati akan korban kekerasan. Bukan nafsu seks dalam konteks “sastra mazhab selangkangan” yang dituduhkan Taufiq.

 

Lihatlah, betapa mengharukan bagaimana seorang anak di dalam cerpen Menyusu Ayah harus memetamorfosakan dirinya menjadi lelaki, demi terhindar dari kekerasan kaum lelaki. Atau lambang “jendela” dalam cerpen Djenar Melukis Jendela. Sebuah kehendak untuk berpindah dari kehidupan kini yang menyesakkannya. Tapi jendela yang dibayangkan itu pun menelan dirinya. Dengan hasrat berpindah dan hilangnya tokoh Mayra ke dalam jendela lain, seolah Djenar hendak mengatakan, “Dengarlah, tak ada yang sempurna di bumi!” Jadi cerpen itu sebuah metafora (dan karena itu para redaktur Horison yang muda-muda dan cerdas itu memuatnya). Maka, di mana FAK atau “sastra mazhab selangkangan” di kedua cerpen itu?

 

Demikian juga kalau kita membaca cerpen Mariana Amiruddin, Kota Kelamin, yang timbul bukan hasrat seks tetapi simpati akan manusia modern yang lelah mengatasi hipokrisi, yang selalu ditutup rapat seolah kelamin yang dibalut pada tubuh manusia. Taufiq menyebut Ayu dan Djenar sebagai pelopor sastra FAK. Definisinya sederhana. Yakni, sastra yang ada atau berputar pada kelamin. Tanpa mau melihat ada transendensi. Tetapi Taufiq a historis. Sebab, kalau seperti itu definisi sastra FAK, mengapa Taufiq tidak menggugat novel Belenggu (yang ditolak Balai Pustaka karena moral selingkuhnya), atau novel Telegram dan Olenka. Bahkan puisi-puisi Rendra (yang memuja genital wanita) dan puisi Amuk Sutardji Calzoum Bachri -sebuah pencarian ketuhanan dengan lambang kucing, tetapi tak juga bisa menghindar dari menyebut nama alat kelamin laki-laki di dalam baris-barisnya.

 

Khusus novel Telegram Putu Wijaya dan Olenka Budi Darma, baik tokoh “aku” maupun Fanton bertindak gila-gilaan dengan hidup. Fanton bahkan merebut istri orang (Olenka) dan menidurinya tiap ada kesempatan. Olenka diperlakukannya seolah peta. Tangannya menyusur ke segenap tubuh Olenka dan kemudian berhenti di satu lubang: “Ini jalan ke surga!” Tokoh “aku” lebih gila lagi. Dia membayangkan bersetubuh dengan ibunya yang “telah” mati. Sambil mereguk bir, dia menyetubuhi ibunya dalam mimpi. Tetapi toh nasib kedua novel ini mendapat tempat terhormat dalam sastra Indonesia. Mengapa? Karena ada transendensi. Walau pada Olenka, hemat saya, transendensi di sana terkesan takluk pada “dunia”.

 

Dengan lanturan yang bersandar pada “dunia”, meski berhasil pada bentuk, membuat Olenka seolah inlanderisasi dalam sastra Indonesia. Olenka tak mampu mencari sumber orientasi sendiri. Fenomena penulis “tubuh” ini sudah dibelokkan kapitalisasi pasar, dengan menggesernya ke soal seolah melulu seks dalam blow-up opini. Konon karena begitulah rating yang disukai masyarakat: seks. Dan, orang seperti Taufiq, yang seharusnya melawan kapitalisasi opini sastra seperti itu, dengan menunjukkan bahwa substansi sastra mereka bukan melulu seks, malah ikut-ikutan menunggang gelombang. Dunia sastra yang pernah membesarkannya, “diselewengkannya” ke dalam arus besar yang disebutnya “Gerakan Syahwat Merdeka”. Padahal sastra yang ditulis itu bukanlah semata “syahwat merdeka”. Tetapi “syahwat” sebagai sampiran untuk kemerdekaan manusia. Kemuliaan manusia. Persis seperti novel Sendalu yang bertaburan alat dan nafsu kelamin yang ditulis Chavchay Syaifullah, tetapi dengan motif memperjuangkan perempuan sebagai korban perkosaan. Atau tokoh pelacur dalam cerpen Ahmadun Pintu, yang mengoyak-ngoyak pakaiannya sendiri di dalam masjid demi kehendak untuk telanjang (suci) saat menghadap Tuhannya.

 

Saya disebutnya sebagai komponen sastra FAK (pastilah Mariana Amiruddin juga). Apakah dasarnya? Karena kami menulis novel Tuan dan Nona Kosong? Karena saya dan Mariana melepaskan payudara, vagina, dan penis dari tempatnya dan benda-benda itu berkitar-kitar mengunjungi penonton?

 

Memang benar kami melukiskan hal-hal yang demikian. Tetapi, sastra FAK-kah itu? Tengok sekali lagi: betapa benda-benda itu cara kami menghampiri Tuhan. Seperti dalam irama lain (cerpen Lelaki Ikan dan Tongkatku, Musa) saya menyapa Tuhan. Lihatlah seorang lelaki di dalam novel itu melompat ke udara sambil berteriak, “Tuhan tidak seperti kita kira. Jadi mari kita rayakan hidup ini. Jangan benci kami!”

 

Tuan Taufiq, barangkali seniman memang mengidap kegilaan. Tetapi kegilaan yang meninggi untuk menjangkau Tuhan. Menjangkau Tuhan dengan lambang dan sampiran, sehingga sastra menjadi dunia metafora yang sedap untuk dibaca. Mencerahkan manusia. Duh, nasib seekor hh.***

 

Jakarta, 19 Juni 2007

 

*) Hudan Hidayat, penulis novel Tuan dan Nona Kosong bersama Mariana Amiruddin.

 

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=293384

 

Minggu, 08 Juli 2007,

 

Hudan, Taufiq, dan Generasi Nol Buku

 

Oleh M. Faizi

 

Pada 1970-an, suatu “bangsa yang maju”, menyeret Rob Halford, pentolan Judas Priest, band heavy metal kugiran dari Inggris, ke meja hijau karena sebuah kasus: seorang pemuda bunuh diri di depan tape saat memutar lagu, Better Than You Better Than Me.

 

Jauh sebelumnya, pada pertengahan abad 19, Uncle Tom’s Cabin-nya Harriet Beecher Stowe yang nangkring di runner up buku laris dunia mengundang protes banyak orang karena dianggap telah memicu revolusi sosial. Dan, pada kisaran tahun yang sama, hal serupa juga menimpa Gustave Flaubert, penulis Madame Bovary karena dianggap terlalu saru dalam menulis fiksi.

 

Sebegitu hebatkah lirik lagu/novel dalam mempengaruhi penikmatnya?

 

Ya, hanya hasil khayalan, tetapi karya sastra merupakan pantulan dari kenyataan (imagined reality). Rupanya, “bangsa yang maju” itu melupakan teori ini meskipun mereka yang telah menciptakannya. Karena realitas imagined berada di seberang jalan realitas empiris, hukum positif (seharusnya) tidak perlu menuntut si Rob, Stowe, maupun Flaubert. Tapi, mengapa mereka nekat melakukannya juga? Satu alasannya: lirik lagu tersebut dianggap tabu atau berbahaya!

 

Orientasi pragmatisme telah lama ditinggalkan dan “diolok-olok” oleh strukturalisme. Namun, pembaca menemukan kursi empuknya di sidang resepsi sastra. Mereka, “bangsa yang maju” itu, ternyata pragmatis. Pengaruh dan nilai/moral menjadi pertimbangan penting juga pada akhirnya.

 

Beberapa hari yang lewat, di koran ini, perdebatan seputar itu terjadi lagi. Esai Hudan Hidayat (HH), Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya (6/5/2007) direspons oleh Taufiq Ismail (TI) dengan judul HH dan Gerakan Syahwat Merdeka (17/6/2007), dan ditanggapi balik HH dengan Nabi tanpa Wahyu (1/7/07).

 

Selepas rehat dan membanding-bandingkan dua pendapat itu, saya mengambil simpulan dalam setarik napas: dua tulisan, dua pandangan, sebuah ketegangan. Jarak di sana begitu tegas: anak muda dengan “pandangan semangat dan perubahan”; orang tua dengan “pandangan khawatir dan kemapanan”. Dua hal ini, secara logis, tidak akan menemukan objektivitas dari titik tengah. Karena, ini kata Karl Popper, pendekatan itu berlangsung bukan karena kita telah banyak menemukan pengetahuan yang benar, melainkan karena lebih banyak menyingkirkan pengetahuan yang salah.

 

Kekhawatiran TI patut dimaklumi mengingat memang demikianlah kaum tua. Mereka akan selalu khawatir terhadap kehancuran generasi sesudahnya. Uap kekhawatiran itu menyembur pada tanggapan baliknya, dengan gaya khas kaum tua yang menantang dengan ironi: melarang dengan amar, dan seolah-olah tiada pintu untuk ber-jidal. Sayang sekali, serangan TI –seperti dirasakan HH– terlalu menohok dan terkesan menghakimi tanpa apresiasi. Dug!

 

Mungkin karena TI terlalu berapi-api, akibatnya tanggapan HH semakin menjadi-jadi. Semangat mudanya bergolak. Ia pun menolak. Meskipun, juga sayang sekali, HH tampak terlalu emosional sehingga argumennya tidak masuk akal. Di satu sisi ia mengatakan “gaya vulgar” hanya sebagai sampiran menuju Tuhan, tetapi di sisi lain ia takut dengan cara berlindung kepada Alquran (QS 7/Al-A’raf: 22), tentang pelukisan Adam dan Hawa yang telanjang di surga. Pendekatan analogi juga tidak kufu karena menyejajarkan kitab suci dengan fiksi.

 

Sebagai pembaca, saya merasa terkena imbasnya. Pukulan-pukulan itu, meskipun tidak mengenai saya secara langsung, tetapi sepintas cukup membuat saya takut. Sebab, pertarungan ini merupakan “tarung kelas berat” dan tidak sekadar debat antarpenonton yang memihak jagonya meskipun kalah ataupun salah. Ngeri deh! Polemik lebih “gawat” daripada sekadar polemik. Tidak hanya pukulan, tetapi ada lempar-melempar petasan di dalam tulisan.

 

Lalu, dalam tarikan napas yang kedua, saya mereka-reka. Bagaimana cara “mendamaikan”-nya? Tampaknya, kekhawatiran yang pertama dan gairah kedua pihak memang membutuhkan orang ketiga. Dialah pembaca. Tapi, pembaca yang bagaimana? Jika dibandingkan dengan jumlah penulis dan karya sastra yang ada, sebetulnya kita tak punya kritikus, tak punya tukang baca.

 

Bertolak dari gambaran di atas, saya berkesimpulan bahwa pragmatisme masih menjadi tuan di pikiran sekelompok orang dan menjadi hantu di pikiran lainnya. Yang cengeng/tabu adalah profan, yang berat/serius adalah yang sakral. Semangat zaman, menyangkut nilai dan moral di mata pembaca, ternyata tidak banyak berubah.

 

Dulu, masyarakat Nusantara mendudukkan sastra kepada fungsi religio-magis. Pada zaman penyebaran agama (Islam), misalnya, sastra digunakan para raja sebagai media penyampaian ajaran rohani kepada rakyatnya (Jakob Sumardjo, 1995). Orientasi ini pula yang memperkenalkan slogan Horace, dulce et utile, dengan dukungan Gianbattista Vico, verum, quis factum: sastra itu (seharusnya) indah dan berguna. Tesis ini dianggap benar karena demikianlah ia terjadi. Oleh karena itu, mengacu pada diktum pulchrum continetur in bono. Bonum enim quod placet. Pulchrum authem estquod visum placet. Yang indah (biasanya) bersatu dengan kebaikan.

 

Dalam anggapan saya, persoalan serius yang perlu dipikirkan agar dialog ini lebih asyik adalah dengan mempertimbangkan kembali keberadaan masyarakat pembaca sastra di Indonesia yang kaya penulis, kaya karya, tetapi soal minat baca dan apalagi apresiasi, aduhai masya Allah!

 

Banyak sastrawan yang mengeluh menghadapi masyarakat yang tidak membaca (Ini sebuah generalisasi. Jika ada perkecualian –kata Mahmud al-‘Aqqad– tentu hal itu tidak dapat dijadikan pijakan penetapan hukum). Siapa mereka? Merekalah “generasi nol buku”. Kalaupun mereka membaca, mereka tetaplah masyarakat –dalam istilah Seno Gumira Ajidarma– pembaca iklan dan tabloid di kala senggang.

 

Lebih parah lagi, di saat kita mempertimbangkan pembaca/apresiator/kritikus sebagai kambing hitam, di saat yang sama data buta huruf saja masih dimanipulasi. Jadi, tidak heran jika karya-karya yang dicemaskan itu beredar udar dengan hanya sedikit saja yang mau mengapresiasi. Sebab, bagaimana mungkin akan ada sikap kritis jika apresiasi saja merupakan hal yang mewah?

 

Sekadar bukti, ingat kembali ke lirik lagu. Beberapa tahun yang lewat, lagu Anyone, debutan duo Swedia, Roxette, dilarang di Jerman karena dianggap memberi sugesti fatalis kepada pendengarnya. Di Indonesia, lagu itu nangkring di chart-chart radio pada awal kemunculannya. Demikian juga dengan Asereje-nya Las Ketchup. Lagu itu sempat dihujat dan dituding mendewakan aliran sesat. Namun, di sini, lagu itu di-remix jadi dangdut buat suka-suka. Nah, dalam kasus apresiasi sebagaimana contoh, sebetulnya kita ini bangsa yang “maju” atau “terbelakang”?

 

Slogan “pengarang telah mati” kerap kali ditulis, tetapi orientasi pragmatisme tampaknya tak juga mati-mati. Ia tetap dipegang teguh sebagai “iman” para seniman. Karena, sesungguhnya, dengan anugerah kreativitas dan imajinasi di atas standar manusia kebanyakan, tugas penulis/seniman tidaklah sekadar berkarya lalu habis perkara, melainkan juga bertanggung jawab atas karyanya. Sebab, seniman/sastrawan percaya bahwa karya itu hidup dan separo napasnya juga berasal dari napas yang mereka gunakan untuk bertahan dalam berkarya di dunia.

 

Pembaca harus diagungkan, tidak boleh dianggap bodoh, dan tidak boleh digurui: semua prinsip ini tidak sepenuhnya terjadi dalam orientasi pragmatik. Sebab, sastrawan/seniman selalu mendidik melalui karya (saya kira, prinsip ini berada di dalam hati kecil meskipun cara itu memang selalu berbeda). Sebagaimana kata Pablo Neruda, mereka adalah pendidik bangsa.

 

Di Indonesia, dalam pandangan saya, pembaca membutuhkan penulis yang tahu betul kondisinya; bagaimana agar dapat memberi tahu cara memilih dan tidak saja memberi pilihan semata; mana yang harus diberitahukan dan mana yang harus ditunjukkan. Sebab, masyarakat yang nol buku dan miskin apresiasi lebih suka “diberitahu” daripada “ditunjukkan”.

 

Jika TI menuntut sastrawan/penulis harus jadi orang baik-baik, menulis baik-baik, punya jalan pikiran baik-baik, HH tetap akan seperti lazimnya anak muda. Dari dulu sampai sekarang, di mata generasi tua, cara berpikir kelompok anak muda tetaplah sama: ingin bebas, ingin perubahan, dengan risiko yang kerap kali berseberangan dengan kelompok tua.

 

Namun, lebih dari itu, baik TI maupun HH dalam polemiknya masih tetap memosisikan diri sebagai penulis. Nah, bagaimana jika sekarang mereka mencoba menjadi pembaca di tengah masyarakat yang menganggap tidak penting membaca, yang kurang menghargai sastra, dan tentunya menganggap apresiasi sebagai barang mewah? Pasti, hati kecil mereka akan bicara tentang “kebenaran”, meskipun hal itu dianggap nggak keren jika disampaikan dalam sebuh esai. (*)

 

*) M. Faizi, guru dan penyair, tinggal di Sumenep, Madura

 

http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=294445

 

Minggu, 15 Juli 2007,

 

Perkosaan Teks-Teks Sastra

 

Tanggapan tulisan Taufiq Ismail

 

Oleh: Mariana Amiruddin

 

Tak ada yang lebih mengejutkan selain rentetan istilah yang dilemparkan dalam esai Taufiq Ismail (TI) (Jawa Pos Minggu, 17 Juni 2007). Buat saya lebih mengerikan dari apa yang dia khayalkan tentang Gerakan Syahwat Merdeka (GSM), Sastra Mazhab Selangkang (SMS), dan Fiksi Alat Kelamin (FAK). Eseinya adalah fiksi yang sama dengan istilah-istilahnya itu. Sebuah esai yang miskin interpretasi. Ada kemalasan untuk menjabarkan karya orang-orang yang dikritiknya. Saya menyebutnya kritik sastra tanpa etika; tanpa telaah dan argumentasi yang menggugah.

 

Pernyataan TI tentang Hudan Hidayat dkk. dan “sejumlah aktivis lebih dari lima orang” bisa dibilang upaya mematikan latar belakang siapa pun penulis yang juga aktivis yang ikut serta menulis di ruang kreatif. Sebagai anak muda, saya takut memahami pikiran TI itu. Apalagi mengkhayalkan orang-orang yang disindirnya itu sebagai sebuah gerakan. Seolah-olah yang disebut “mereka” adalah pasukan perusak yang terorganisasi, ada ketuanya, ada dedengkotnya. Dan target pencapaian mereka adalah memorak-porandakan moral manusia Indonesia. Menurut saya TI menganggap manusia Indonesia tak boleh mempunyai imaji yang majemuk, harus satu saja, yaitu imaji yang sama dengan dirinya.

 

Namun apa yang dinyatakan TI justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Muncul interpretasi baru terhadap esai TI; upaya membonsai ruang kreatif yang majemuk menjadi seragam, miskin, dan dangkal. Penulis-penulis yang objek imajinya tubuh –sebab asal muasal manusia takkan terlepas dari tubuh, dan kenapa pula manusia mengabaikannya?– lalu disosialisasikan sebagai ancaman.

 

TI mengejek mereka, penulis yang punya pengakuan dan kompetensi melakukan penulisan kreatif dengan caranya sendiri. TI seperti hendak bilang; kau tak boleh menulis begitu. Dilarang melakukannya dengan cara begitu. Harus dengan cara TI.

 

Bagi saya, kewajiban kritikus (terutama penulis esai di media massa) bukan begitu –sebagaimana TI menyebut Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan kini Hudan Hidayat dkk. ditambah lima aktivis lainnya. Bahwa interpretasi seharusnya bukan pertama-tama mencari maksud pengarang, melainkan menyingkap makna dan hasilnya adalah sebuah produksi makna baru. Tentu bukan dengan cara sewenang-wenang atau tidak dengan memerkosanya (baca: memfitnahnya). Apalagi memaksa pra-pemahaman yang dimilikinya atau prasangka yang sudah ada di kepalanya. Kritikus punya peran yang berat (sama beratnya dengan pengarang) dalam melakukan interpretasi: menjadi aktor intertekstualitas, dengan kepala yang sudah terbuka serta mendengarkan apa yang sedang diungkap karya tersebut. Haryatmoko, doktor bidang Etika Sosial/Teologi Moral dan Sosial Universitas Indonesia mengajarkan saya tentang ini ketika membimbing tesis untuk penelitian novel Saman selama dua tahun di pascasarjana.

 

Oleh karena itu, saya harus meluruskan kembali tulisan TI yang kacau itu supaya tak terjadi distorsi, bahwa penulis esai yang sedang membahas karya orang seharusnya bagai seorang narator yang dalam narasinya dapat menjadi sumber inspirasi pembaca (bukan kalang-kabut mengejek karya orang sekaligus pribadi pengarang). Narator di sini adalah yang memasuki dunia batin tokoh-tokoh dalam karya orang dan hasilnya dapat memberikan suatu pandangan baru. Ini yang tidak dilakukan TI.

 

Dalam karya fiksi, begitu banyak kita temukan metafora. Tentu TI juga sering menemukannya. Metafora adalah proses retorika dan di dalamnya akan muncul dua interpretasi; yaitu yang menerima begitu saja (taken for granted) dan yang dianggap problematika. TI saya masukkan dalam kategori taken for granted atau “menerima begitu saja”, bukan sebagai suatu yang mengusung wacana. Kalau interpretasi terhadap metafora itu menjadi “begitu saja”, maka yang terjadi adalah ekspresi yang pendek dan tidak membutuhkan elaborasi (pencarian), apalagi advokasi. Jadinya picik, lucu dan garing…

 

Inilah distorsi yang mulai menggerogoti para kritikus yang taken for granted seperti yang saya katakan di awal tulisan ini. Bagi kami (Rich, Cixous, dan saya), penulisan tubuh perempuan (di antaranya kelamin) dan sebagainya, tak sekadar “ditangkap” sebagai tubuh itu sendiri, adalah karya-karya yang dari tubuhnya dapat memantulkan ruang tempat manusia becermin dan mengukur hidupnya dengan pikiran dan jiwa di dalamnya. Seperti dalam Of Woman Born, Adrienne Rich melawan tubuh perempuan yang jatuh pada mitos, dengan menyatakan bahwa tubuh pun dapat menatap dunia dan merekonstruksinya. Rich melakukan permainan feminin dalam karya sastranya untuk mengatakan bahwa manusia dapat mengembalikan sistem nilai tubuhnya pada sesuatu yang lebih adil, pada tindakan politik di mana domestik bisa menjadi ranah publik, dan perempuan akan bertempur dari sana, dari orientasi seksualitasnya yang konstruktif. Saya sendiri meneliti novel Saman karya Ayu Utami menghasilkan makna (seperti yang ditulis Haryatmoko dalam buku saya) yang mampu menjelaskan keprihatinan utama para tokoh perempuan, yaitu mendobrak pembatasan baik oleh tradisi, tatanan sosial, dan sebetulnya juga agama dalam hal yang berkaitan dengan seksualitas (ketubuhan, keperawanan, hubungan seksual, hasrat seksual, perkawinan, perselingkuhan, dan perkosaan).

 

 

***

 

 

Perlu bagi saya memberi highlight dalam esai TI 17 Juni lalu, karena bagi saya efeknya bisa jadi sangat mengerikan ketika TI memberi stigma pada mereka sebagai penulis angkatan FAK. Pernyataan ini jelas potensial agresi seorang narator yang ingin segera menutup mata dan pikiran pembaca karya-karya mereka.

 

TI lalu membangun tahap-tahap pembacaan sastra mereka kepada keluarga, RT, RW, sekolah, dan kantor dalam acara halalbihalal atau natal. Dan yang paling tidak etis adalah mengkhayalkan para sastrawan yang tertuduh itu lebih bagus melakukan demonstrasi orgy -TI seperti sedang membayangkan karya-karya mereka bagai blue film dan ini menjadi salah satu referensinya. Saya menjadi terkejut sebab sepertinya TI memperlakukan pembaca adalah anak kecil yang bodoh, yang tak mungkin lagi kepalanya diasah untuk bisa menikmati sastra dengan pikiran dan hati terbuka. Singkatnya, TI mengajak pembaca menjadi terbelakang yang kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran jorok.

 

Mengutip Nawal El-Saadawi, novelis perempuan Mesir yang menjawab ejekan atas novelnya Perempuan di Titik Nol, “saatnya membawa pembaca membaca di atas kesadarannya, bukan lagi di bawah kesadarannya.” ***

 

*) Mariana Amiruddin, peneliti sastra, redaktur Jurnal Perempuan, penulis Novel Tuan dan Nona Kosong bersama Hudan Hidayat dan penulis Perempuan Menolak Tabu.

 

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=298509&kat_id=364

 

Koran » Sastra

 

Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini

 

Minggu, 01 Juli 2007

 

Gerakan Sastra Anti Neo-Liberalisme

 

Viddy AD Daery

 

Pekan lalu, dua media massa nasional memuat tulisan yang menghajar peradaban termasuk sastra neo-liberalisme dan porno-praxisme yang kini sedang mendapat angin di Indonesia sejak reformasi ditafsirkan keliru dengan memperbolehkan apa saja sebagai kemerdekaan “hak asasi manusia” dan menafikan “hak asasi masyarakat”.

 

Harian Media Indonesia (MI) mewawancarai aktifis sastra buruh dan tokoh Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Wowok Hesti Prabowo, yang kini memproklamasikan gerakan anti sastra imperialis, anti neo-liberalis dan anti porno-praxis. Sedang di Jawa Pos (JP), Taufik Ismail menjawab Hudan Hidayat agar tidak terlalu bangga dengan gaya sastra porno-praxisnya.

 

Beberapa minggu sebelumnya, Hudan Hidayat memang memulai “membuka front” di JP dengan mengeritik Taufiq Ismail dan menganggapnya sebagai sastrawan yang sok moralis dengan pidato kebudayaan Taufiq yang pernah dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) dalam rangka memberangus gerakan sastra “syahwat merdeka”.

 

Dua tulisan tersebut sebenarnya sasarannya berbeda tetapi pada dasarnya sama. Wowok langsung menyebut Komunitas Teater Utan Kayu (TUK), sebagai penyebar aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”. Sedang Taufik Ismail menanggapi Hudan yang cenderung mempraktekkan kebebasan kreatif secara berlebihan, sehingga terkesan mendukung peradaban porno-praksis yang memuja tubuh dan seks.

 

Bentuk-bentuk sastra yang sudah kita kenal lahir dari lingkungan TUK umumnya memang berciri nonsens (tidak penting), porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), dan cenderung anti peran agama (sekuler). Sastra-sastra nonsense merayakan hal-hal sepele, seperti odol, sikat gigi, sepatu biru, celana dalam, sarung, dan sesekali agar keren juga mengeksplorasi daun mapel, pohon willow dan rumput azalea yang jarang bahkan sukar ditemukan di Indonesia.

 

Beberapa media sastra Jakarta pun telah bertahun-tahun ikut merayakan kata-kata semacam rembulan tumbuh di dengkulku, kapal berlabuh di meja makan, puting susumu patah di altar, atau malam biru menggoreng onde-onde yang cukup membingungkan bahkan bagi penyair dan budayawan senior sekelas Abdul Hadi WM waktu membedah puisi-puisi semacam itu di Cakrawala Sastra Indonesia yang diselenggaraan DKJ.

 

Majalah sastra Horison, yang dipimpin oleh Taufiq Ismail, juga kebanjiran puisi-puisi semacam itu, karena memang sebagian anak buahnya adalah penganut estetika sastra aliran TUK. Buku-buku Ayu Utami juga ikut dibicarakan di berbagai acara yang disponsori Horison. Bahkan, Ayu Utami juga pernah ditampilkan dalam acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diselenggarakan Horison. Jadi, sebenarnya Taufiq juga kebobolan di kandang sendiri.

 

Kita juga tidak dapat melupakan bahwa novel seksual Saman juga lahir dari Sayembara Menulis Novel DKJ pada sebagian anggota komita sastra DKJ adalah orang-orang Horison. Jika melihat bentuk-bentuk karya sastra yang dimuat selama bertahun-tahun oleh MI sebenarnya juga termasuk aliran TUK, namun anehnya beberapa artikelnya bersemangat anti-TUK.

 

Dan, untuk redaktur sastra surat kabar lain kiranya juga harus berhati-hati terhadap masuknya esei-esei dan puisi-puisi yang secara samar juga mengusung perayaan terhadap aliran neo-liberalisme dalam bentuknya yang paling canggih sekalipun, meski ditulis oleh tokoh-tokoh yang dikenal baik.

 

Liberalisasi sastra yang dilakukan TUK berjalan seiring dengan liberalisasi pemikiran agama yang dilakukan melalui Jaringan Islam Liberal (JIL). Dengan jelas, para aktifis JIL terus berupaya untuk mendekonstruksi prinsip-prinsip ajaran Islam, melalui berbagai diskusi, siaran radio, internet dan penerbitan buku.

 

Di wilayah sastra kini TUK juga mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra” untuk liberalisasi. Dalam kaitan ini TUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra. Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), misalnya, kini telah berhasil dikuasai oleh orang-orang TUK. Komte Sastra DKJ-lah (diketuai Nur Zen Hae) yang belum lama ini menggelar pertunjukan sastra erotis, yang sempat membuat Taufiq dan banyak sastrawan lain merasa prihatin.

 

Karya-karya “anti manfaat” dari penulis TUK akhirnya memang tidak banyak — bahkan tidak ada — manfaatnya, selain untuk mendorong liberalisasi. Tetapi, karya-karya sastra dengan estetika bergaya TUK kini seakan-akan mendominasi pasar “persuratan” Indonesia dengan cara ditayangkan di koran-koran dan majalah mereka selama bertahun-tahun tanpa kenal lelah. Dibuat pula oleh jaringan TUK berbagai anugerah seni dan sastra, dan karya-karya bersemangat liberal hampir selalu mendominasi kejuaraan, sehingga seakan karya-karya sastra semacam itulah yang kini menjadi “warna dominan” sastra Indonesia.

 

Panitia-panitia pesta puisi internasional di luar negeri yang umumnya merupakan “jaringan TUK” juga “dikendalikan” agar memilih nama-nama dari lingkungan dan jaringan TUK saja. Maka, tidak heran jika pada festival-festival sastra di Belanda, Jerman, Prancis, Bahama, Amerika, dan Australia, yang tampil lebih banyak para sastrawan dan penyair yang telah mendapat semacam legitimasi dari TUK atau direkomendasikan oleh orang-orang TUK.

 

Barangkali karena terdorong oleh berbagai persoalan di atas, kini banyak sastrawan dan aktifis komunitas sastra yang terpanggil untuk “melawan” dominasi TUK. Pertemuan-pertemuan sastra tingkat nasional yang kini diselenggarakan di Serang, Banten dan Yogjakarta, misalnya, mengagendakan diskusi-diskusi yang mengkritisi hegemoni TUK yang menyepelekan para sastrawan bukan “konco TUK”.

 

Sebetulnya, perlawanan di tingkat karya dan wacana, secara tidak frontal, telah dilakukan oleh para sastrawan Forum Lingkar Pena (FLP). Organisasi penulis Islami mengusung visi sastra sebagai dakwah dan sebagai pencerahan masyarakat ini jelas-jelas bertolak belakang dengan TUK yang bervisi sastra sebagai suatu perayaan terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat.

 

Gerakan untuk menghambat dominasi TUK juga telah digalakkan oleh beberapa tokoh komunitas dari Yogya, Medan, Depok, Pekanbaru, dan Banten. Namun, masih perlu dicermati, apakah yang dilawan hanya dominasi TUK, ataukah ideologi TUK yang sekuler dan liberal serta mendukung globalisasi kebudayaan bergaya Barat.

 

Pemikir Islam, Yusuf Qardhawi, pernah mengatakan, bahwa globalisasi kebudayaan adalah jalan untuk menghancurkan kearifan-kearifan lokal agar suatu bangsa hanya mengekor kepada satu kebudayaan global, yakni kebudayaan Yahudi-Free Mason. Filsuf-filsuf dunia yang mendukung “penghancuran kearifan lokal” seperti Roland Barthes, Michael Foucoult, dan Raman Shelden, telah lama dipuja-puja sejak awal kelahiran dan pendirian TUK.

 

Kini TUK telah telah tumbuh besar dan menjadi semacam pusat kebudayaan yang hendak mencengkeramkan pengaruhnya secara lebih kuat. Maka, komunitas-komunitas kecil yang kini hendak menandingi TUK harus disadarkan benar, bahwa mereka kini berposisi sebagai David dan TUK adalah Goliath. Dalam sejarah, dan dicatat oleh kitab-kitab suci, David bisa menang melawan Goliath, tetapi dengan taktik dan kecerdasan, bukan dengan emosi yang tidak terkendali! ***

 

Media Indonesia. Minggu 08 Juli 2007

 

Proyek Lekra yang Teralpa

 

Oleh: Muhidin M Dahlan

 

Ismail dan Pelacur Kencur

 

Samaritan Girl

 

Sutradara: Kim Ki Duk

 

Pemain: Seo Min-jung, Gwak Ji-min, Lee Eol, Gweon Hyeon-min, Oh Yong

 

Produksi: 2004

 

Saya sedang menonton film pemenang Berlin International Film Festival 2004 untuk Sutradara Terbaik ini, saat membaca potongan-potongan perdebatan antara Hudan Hidayat dan Taufik Ismail perihal Gerakan Syhawat Merdeka dan Fiksi Alat Kelamin di Harian Jawa Pos.

 

1

 

Dua anak SMU di Korea Selatan. Kulit pualam dan daging-daging tubuh masih liat pejal. Keduanya mengejar impian ke suatu tempat yang jauh. Dan diam-diam keduanya menyiapkan sejumlah uang dengan cara yang nista sekaligus manis.

 

Dan, “Astaghfirullah,” suara parau Taufik Ismail tertahan di kerongkongan membaca esai Hudan Hidayat “Sastra yang Hendak Menjauhi Tuhannya” (6/5/2007). Lalu ia tak ambil peduli. Taufik mengambil pisau dapur dan mengiris bawang merah. Ia mulai melantur tentang praktik bejat sastrawan yang disebutnya Fiksi Alat Kelamin.

 

2

 

Keduanya, cewek ingusan ini, sebagaimana galibnya dua pelacur profesional, membagi tugas. Jae-Young yang tampil feminin bertugas tidur dengan lelaki, sementara rekan dan sahabat karibnya, Yeo-Jin ambil tugas sebagai germo, manejer, dan sekaligus kasir dari semua keringat yang diperas Jae-Young. Satu lagi tugas Yeo-Jin: mencatat dalam diari mereka berdua kapan dan dengan lelaki yang mana Jae-Young melacur hari ini. Mereka pun mengincar motel. Jae-Young di kamar lantai tiga. Yeo-Jin di selasar untuk mengintai aparat keamanan yang selalu datang merazia transaksi seks yang dilakukan makhluk-makhluk di bawah umur.

 

Seperti polisi moral dunia akhirat, Taufik Ismail meneteskan airmata. Orang ini memang terkenal dengan mewekannya. Seakan-akan, sosoknyalah nabi baru yang menyelamatkan Indonesia ini dari kebrutalan Fiksi Alat Kelamin. Di usianya yang sudah magriban ia tampak gagah, tapi sekaligus cengeng. Ia sangat tahu bahwa tangisnya adalah modalnya untuk menaklukan hati siapa saja untuk bergerak melarang. Kalau sastrawan-satrawan Lekra dulu melarang semua yang tercela dari garis revolusi dengan suara lantang-lantang serak, kini Taufik Ismail melakukannya dengan menghamburkan airmata dan dengan suara serak-trenyuh menghiba-hiba belas kasih. Seorang diri maju tak gentar mengganyang sastra yang tak diridoinya. Ck. Ck. Ck.

 

3

 

Beberapa kali memang Jae-Young dan Yeo-Jin bebas dari razia di motel itu. Namun rupanya dua petugas keamanan sudah mencium praktik itu. Praktik banal itu digerebek. Tapi Jae-Young cepat turun tangga belakang motel dan berlari bersama Yeo-Jin melintasi pasar yang ramai. Jae-Young hanya memakai beha berlari-lari di pasar kelontong itu.

 

Dulu, sebelum Taufik menjadi-dalam istilah Hudan Hidayat-nabi tanpa wahyu, adalah pengecam keras praktik-praktik kejam yang dilakukan sastrawan-sastrawan Lekra dan tanpa penjelasan yang njlimet melekatkan kepada Lekra stigma seratus prosen Partai Komunis Indonesia. Di mata Taufik, nyaris tak ada yang baik yang dilakukan sastrawan Lekra. Bacalah buku yang disusunnya, Prahara Budaya, niscaya Anda akan berkesimpulan: Lekra tak lain adalah segerombol algojo haus darah. Padahal, apa yang ia kampanyekan hari ini sudah dilakukan Lekra 52 tahun lalu. Bacalah Harian Rakyat di bundel Fabruari 1955 bagaimana Lekra Jogja mengumumkan jihad akbar terhadap pakaian-pakaian bikini di hadapan umum.

 

Baca pula artikel Iecha Akulara di lembar “Lentera” Bintang Timoer edisi Jum’at 2 Nopember 1962 yang diasuh Pramoedya Ananta Toer. Di sana Rendra dikecam habis-habisan karena menulis sajak-sajak kelamin. Setelah mengulas 6 sajak Rendra, artikel “Puisi Erotik: Bingkisan Ulangtahun Rendra” itu diakhiri dengan kesimpulan: “Tapi kita masih bisa merasa beruntung, karena erotika tak tumbuh subur dalam sastra Indonesia. Erotika jang berlebih2an hanja merugikan moralite bangsa kita, jang sedang sibuk dalam taraf pembangunan semesta berentjana. Dan sebaiknja dalam hal ini kita mengikuti pendirian dr. K. Heeroma, jang mengatakan bahwa puisi erotis adalah puisi hina. Sastra jang sematjam inilah jang mesti segera dibabat!”

 

Rupanya Taufik Ismail tak mau mengutip guntingan artikel itu supaya suatu saat akan dipraktikannya secara leluasa tanpa ada yang tahu. Generasi saya yang hadir belakangan betul-betul terkelabui. Sialan.

 

4

 

Jae-Yung bernasib baik dan selalu bisa kabur dari razia yang pada akhirnya bunuh diri pada penggerebekan ke sekian kalinya. Bukan lantaran aparat ia meloncat dari lantai tiga, melainkan karena Yeo-Jin tak ingin dia mencintai teman kencannya. Yeo-Jin cemburu. Lantas karena itu Jae-Yung memilih mati. Tapi kematiannya adalah perubahan jalan hidup Yeo-Jin. Dia adalah anak aparat polisi moral Kota Seoul, Yeong-gi. Seusai diasupi ayahnya setiap pagi dengan masakan kesukaan almarhum ibunya, dia segera berangkat ke sekolah lalu melacur. Dia hubungi semua teman kencan Jae-Young untuk menidurinya di lantai tiga motel. Usai bercinta, dia ucapkan terimakasih dan uang pemberian lelaki kepada Jae-Yung dikembalikannya.

 

Ayahnya resah setelah tahu bahwa anaknya lonte. Dibunuhnya satu per satu lelaki yang meniduri anaknya. Kalau Yeo-Jin melacur untuk nazar membersihkan rasa bersalahnya melarang Jae-Young jatuh cinta, maka ayahnya membunuh semua lelaki girang itu karena martabat sebagai seorang ayah dan polisi. Selanjutnya film ini tak banyak bicara. Semuanya berjalan dingin dan tak mudah ditebak ujung emosi dan hubungan ayah dan anak ini. Yeo-Jin memang menyelesaikan nazarnya dan mencoret nama terakhir yang mengencani Jae-Young dan ayahnya juga mengakhiri pembataiannya atas lelaki terakhir dalam buku diari itu dengan cambukan borgol dan hentakan batu bata yang menghamburkan seisi kepala lelaki bejat itu. Yeo-Jin tersedu di kaki gunung. Ayahnya dengan tatapan kosong meninggalkan Yeo-Jin di gigir sungai yang teduh menuju penjara dengan dakwaan pembunuhan.

 

Di dapur rumahnya, Taufik Ismail terus berlatih menangis. Ia bawa juga tangisnya di ruang sidang DPR dan tangis itu berbuah kata PKI dilarang masuk kurikulum pelajaran sejarah SMP-SMU. Ia tumpahkan pula tangis itu di ujung-ujung mikrofon atas nama pidato kebudayaan; audiens terharu dan ia berharap dukungan membabat 13 aliansi Sastra Syahwat Merdeka. Tangisnya itu pula yang ia sebar di halaman-halaman koran dan huruf-huruf di koran pun luntur.

 

Politik tangis itu pula yang membuat saya iba hingga saya terkadang tak lagi mengenali siapa sih sejatinya Taufik Ismail ini. Masihkah ia seorang Humanis Universal atau Humanis Unilever. Masihkah ia seorang penyair yang melahirkan puisi pamflet Benteng dan Tirani, walau gaya realis itu sudah menjadi makanan sehari-hari penyair-penyair Lekra yang dia kutuk hingga ke liang lahat selama bertahun-tahun lamanya.

 

Saya berharap mewekan Taufik Ismail di atas hanya fiksi belaka dan salah satu adegan persiapan syuting film Ratapan Anak Tiri 3 yang penuh hujan airmata. Sebab jika terjadi di panggung kebudayaan yang sebenar-benarnya, Taufik Ismail hanyalah epigon dari salah satu projek Lembaga Kebudayaan Rakyat yang sudah teralpa: buang ke tong sampah majalah Playboy, singkirkan sastra yang mengabuti moralitas revolusi, pria berkeluarga haram hukumnya selingkuh dengan perempuan lain, dan perempuan berbikini dilarang berlenggak-lenggok di ruang publik karena merusak jalannya revolusi. ***

 

Muhidin M Dahlan

 

Kerani di Indonesia Buku (I:Boekoe) Jakarta. Sedang Menyiapkan buku Lekra Tak Membakar Buku Kajian Artikel-artikel Budaya Harian Rakyat 1960-1969

 

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=299334&kat_id=364

 

Koran » Sastra

 

Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini

 

Minggu, 08 Juli 2007

 

WACANA

 

Jurnal Bumipoetra,

 

Liberalisme dan Ode Kampung

 

Firman Venayaksa

 

Presiden Rumah Dunia Banten

 

Membaca tulisan Viddy AD Daery berjudul Gerakan Sastra Anti Neoliberalisme di koran ini, saya sungguh tergelitik. Dengan cemerlang, ia mengupas latar belakang persoalan-persoalan ideologi sastra (komunitas dan media) yang kerap tumpang tindih: di satu sisi menyerang, di sisi lain malah bermesraan.

 

Dimulai dengan pernyataan Wowok Hesti Prabowo di Media Indonesia yang langsung menyerang Komunitas Teater Utan Kayu (Komunitas Utan Kayu — KUK) sebagai agen sastra imperialis, agaknya pergumulan ini bakal panjang dan melelahkan. Akan hadir keberpihakan dan pertentangan yang bermunculan, dan hal tersebut adalah pilihan.

 

Namun, ekses ini jelas akan menimbulkan gejolak, karena kasus ini bukan hanya “pertikaian” antar-sastrawan yang bisa didamaikan dengan berjabat tangan; tapi juga melibatkan (ideologi) komunitas. Dan, ketika berbicara tentang komunitas yang notabene memiliki jejaring, tak pelak lagi perdebatan ini akan menyulut sumbu-sumbu kecurigaan di mana-mana.

 

Istilah yang disodorkan oleh Wowok Hesti Prabowo seperti “sastra imperialis” atau “sastra neoliberalisme” memang sangat rentan untuk diperdebatkan. Dalam kasus ini, selayaknya kita melihat itu dalam konteks perlawanan, istilah-istilah tersebut terlahir berdasarkan respon dari gejolak yang ada. TUK yang dipandang oleh kalangan sastrawan di luar lingkaran TUK sebagai sebuah komunitas yang arogan pastilah mengundang kekesalan tersendiri — mereka telah membuat sastrawan lain merasa diremehkan sekaligus dilecehkan.

 

Selain Wowok, saya kira masih banyak sejumlah nama yang secara terang-terangan di sejumlah pertemuan atau media memprovokasi agar anti TUK. Bahkan, Sabtu lalu (7/7), di Universitas Negeri Tirtayasa Banten, telah diluncurkan sebuah jurnal sastra bernama Bumipoetra: bukan milik pusat antek imperialis.

 

Isi jurnal itu (esai, cerpen dan puisi) mengolok-olok, menyindir TUK, beserta orang-orang di dalamnya dengan gaya yang sangat nyinyir dan teramat pedas. Tengok saja judul esainya “DKJ Cabangnya TUK!” atau “Sastra tanpa Pusat Sastra” yang ditulis oleh Babat Hutan Kayu. Bahkan singkatan TUK dipelesetkan menjadi Tempat Umbar Kelamin. Kehadiran jurnal yang aneh dan nyeleneh ini adalah sebentuk perlawanan lain yang bisa jadi efektif untuk melawan arogansi KUK kendati dalam balutan canda.

 

Seyogyanya, sebagai sebuah komunitas, KUK tak usah jumawa dengan apa yang telah dilakukan dengan merendahkan komunitas lain. Estetika kelamin yang diusung oleh komunitas ini hanyalah akal-akalan agar bisa bercentil-ria, supaya terus dipuji oleh orang-orang Barat. Dengan demikian, dukungan dana pun akan terus melimpah kendati menggadaikan harga diri.

 

Sepakat dengan apa yang diungkap oleh Viddy, Forum Lingkar Pena (FLP) dengan dakwah bil qolam-nya lebih bermartabat dan memiliki konsistensi yang kokoh. Walau banyak sastrawan yang menganggap remeh Forum Lingkar Pena, tapi waktu telah membuktikan bahwa komunitas ini memiliki kekhasan dan kekuatan tersendiri.

 

KUK sepertinya harus berkaca kepada mereka. Tak usah terlalu bersombong dengan apa yang telah dicapai, karena jika memakai parameter berapa jumlah buku yang diterbitkan dan berapa orang yang membaca karya-karya mereka, agaknya TUK akan malu dengan pencapaian dari FLP.

 

Jika Komunitas Utan Kayu (KUK) dengan pongah mengatakan bahwa yang tidak diundang oleh TUK bukanlah sastrawan, maka di dalam pertemuan Komunitas Sastra dalam Ode Kampung 2 di Banten pada tanggal 20-22 Juli 2007 nanti justru sebaliknya: siapapun yang mengaku sastrawan, silahkan datang. Panitia mengundang seluruh sastrawan yang tertarik pada pertemuan ini, karena pada dasarnya semua sastrawan memiliki hak yang sama. Kami ingin memperlakukan sastrawan sederajat.

 

Berbeda dengan TUK ataupun KUK yang memiliki dana berlimpah, pada kegiatan ini kami memang tak bisa memberikan akomodasi yang mewah. Dana kegiatan ini adalah sumbangan dari kawan-kawan yang peduli dan kas dari komunitas sastra di Banten. Setiap perwakilan komunitas (dua orang) hanya diberi jatah akomodasi menginap di rumah warga dan makan bersama. Sementara untuk para sastrawan lainnya harus rela mengeluarkan Rp 20.000 per malam untuk menyewa kamar warga di kampung Ciloang. Untuk makan, para warga yang dimotori Pak RT menyediakan jajanan khas kampung.

 

Kendati demikian kami cukup berbahagia karena hingga akhir pendaftaran peserta yang telah ditutup pada 1 Juli 2007, sudah tercatat 227 sastrawan dari 47 komunitas yang tersebar di Nusantara siap untuk hadir, padahal kami tahu bahwa mereka juga harus berjibaku untuk membiayai diri sendiri. Inilah yang kami namakan sebagai kehadiran atas kesadaran yang tulus.

 

Ode Kampung adalah sebuah pertemuan sastrawan yang menggali persoalan-persoalan kampung, kelokalan, karena hegemoni liberalisasi lambat laun telah mengubah cara pandang orang-orang Indonesia menuju arah yang “destruktif” sehingga kehilangan identitasnya sebagai manusia timur, termasuk sastrawan.

 

Melirik kembali “ideologi kampung” bukan hanya sekadar teori romantisisme belaka. Di sinilah sastrawan menjalankan kembali fungsinya sebagai kontrol sosial, tak hanya melulu menggapai keluhuran estetik. Jika Ode Kampung 1 pada tahun lalu lebih mengedepankan silaturahmi para sastrawan, dalam Ode Kampung 2 akan dititikberatkan pada diskursus komunitas.

 

Perkembangan komunitas sastra di Indonesia sangat beragam. Kemunculan sastrawan pun banyak dibidani oleh komunitas tempat ia belajar menulis. Pada akhirnya, disadari atau tidak, ideologi dan estetika yang diterapkan di dalam komunitas tersebut muncul di dalam karya-karya sang sastrawan. Inilah salah satu tema yang akan dibahas dalam Ode Kampung 2 dengan pembicara Helvy Tiana Rosa, Maman S Mahayana, Kurnia Efendi dan Saut Situmorang.

 

Tema lain yang tak kalah pentingnya adalah tentang hegemoni pusat (Jakarta) terhadap daerah. Tema ini akan dibahas oleh Kusprihanto Namma, Cahvchay Saifullah dan Ahmad S Alwy. Selain itu ada juga sesi Pesta Komunitas yang akan mendiskusikan tentang gerakan-gerakan komunitas sastra di pelbagai wilayah.

 

Pada akhir dari kegiatan ini akan dibuat semacam deklarasi dari hasil pemikiran bersama. Isi dari deklarasi itu bisa saja menekan pemerintah supaya segera menyelesaikan kasus lumpur Lapindo, menentang estetika kelamin atau mungkin menentang sastra imperialis? Kita lihat saja nanti. ***

 

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=300158&kat_id=364

 

Koran » Sastra

 

Republika. Minggu, 15 Juli 2007

 

Sastra Perlawanan

 

Terhadap ‘Neo-Takhyul’

 

Oleh: Veven Sp Wardhana

 

Artikel bertajuk Gerakan Sastra Anti Neoliberalisme yang ditulis Viddy AD Daery (Republika, Ahad, 1 Juli 2007) menarik untuk dicatat. Ini bukan satu-satunya tulisan yang isinya sesunguhnya sama dengan yang pernah ditulis orang lain dalam media yang juga lain.

 

Dalam tulisan itu, setidaknya dua nama disebutkan Sdr Viddy, yakni penyair Angkatan 66 Taufiq Ismail dan tokoh Komunitas Sastra Indonesia Wowok Hesti Prabowo. Kendati tulisan tersebut terkesan memparafrasekan lontaran pendapat Taufiq Ismail dan Wowok Hesti, toh sebagian besar uraiannya adalah hasil lalaran dan penalaran Viddy.

 

Jikalau dicoba diringkas, inti tulisan itu menggariskan: (1) ada dominasi ideologi sastra yang mendewakan neoliberalisme dan porno-praksis, (2) dominasi ini disosialisasikan para pemikir Komunitas Teater Utan Kayu (KUK), (3) dominasi itu menihilkan yang “bukan konco KUK”, (4) dan liberalisasi sastra ala TUK bersejalan dengan liberalisasi pemikiran agama yang dilakukan lewat Jaringan Islam Liberal (JIL).

 

Kalau diperjelas, dengan bahasa Viddy, sastra neoliberal itu ujudnya adalah karya nonsens yang tidak penting karena sibuk menggambarkan hal-hal sepele seperti pasta gigi, sikat gigi, celana, sarung, atau daun mapel, pohon willow, dan rumput azalea yang sukar didapatkan di Indonesia. Sementara, sastra porno-praksis sama dan sebangun dengan yang diterminologikan Taufiq Ismail: “syahwat merdeka”.

 

Yang model “syahwat merdeka” disebutkan salah satu tokohnya, yakni Ayu Utami, penulis novel Saman, juga salah satu penjaga gawang redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam. Sementara, kendati tak disebutkan nama-nama penulis sastra nonsens, saya mencoba meraba-raba, mereka antara lain adalah penyajak Joko Pinurbo, penovel dan pencerpen Nukila Amal, dan entah siapa lagi.

 

Dominasi atau hegemoni dimaksud antara lain termanifestasi lewat penganugerahan karya sastra versi TUK, atau pendudukan jabatan Komite Sastra di Dewan Kesenian Jakarta, selain “yang bukan TUK tak ambil bagian dalam festival sastra internasional” macam yang terselenggara di Belanda, Jerman, Bahama, Prancis, Ausralia, dan Amerika.

 

Pertanyaan penting untuk Viddy dan yang sepaham dengannya, dengan mengacu pada salah satu wujud ideologi “syahwat merdeka”, marilah kita comot salah satu nama Djenar Maesa Ayu, penulis kumpulan cerpen Mereka Bilang Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, dan novel Nayla.

 

Dengan logika bahwa karya-karysa Djenar sekubu dengan ideologi TUK, nyatanya dalam seleksi untuk sebuah event dan momentum pesta sastra internasional nama persisnya Utan Kayu International Literary Biennale 2003 yang dikelilingkan ke Jakarta, Denpasar, dan Surakarta, nama Djenar sama sekali tak ada dalam deretan pesastra internasional itu.

 

Pertanyaannya, tak termasuk “konco KUK”-kah Djenar mengingat namanya tak terseleksi, atau karena dia lebih karib dengan Presiden Penyair Mantra Sutardji Calzoum Bachri, yang juga dekat dengan pemilik galeri seni sekaligus dosen filsafat Tommy F Awuy yang juga menulis kumpulan cerpen Logika Fallus itukah “syahwat merdeka” kali ini dieliminasi?

 

Jika dalam ajang sastra internasional ini ada nama-nama A Mustofa Bisri dan Ahmad Tohari, bagaimana mempertanggungjawabkan pernyataan bahwa TUK cenderung anti peran agama alias sekuler? Adakah argumentasinya: Mustofa Bisri adalah penyair nonsens karena menulis soal balsem (sehingga dia dijuluki Penyair Balsem), sementara Ahmad Tohari “mengumbar syahwat” karena menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk. Atau, jangan-jangan faktor pelolosan Mustofa Bisri lantaran beliau adalah mertua Ulil Abshar Abdalla, sang komandan Jaringan Islam Liberal?

 

Sampai di sini, premis perihal syahwat itu sudah meragukan. Kalau mau lebih menegas-negaskan premis tersebut sekalian menyangkalnya; lewat oto-premis atau otokritik atau self-sangkal dalam Utan Kayu International Literary Biennale 2007, tersertakan nama-nama macam Abdul Hadi WM, Remy Sylado, Abidah el Khalieqy, dan Darmanto Jatman. Adakah nama-nama ini tergolong penyokong neo-liberalisme dan porno-praksis sebagaimana rumusan Viddy dan para pengikutnya (atau: para pelopor yang diikuti Viddy)?

 

Sampai di sini, saya agak ragu untuk meneguk pemahaman lain dari tulisan Viddy dan yang bersepaham perihal ideologi sastra ala TUK yang hendak ditandingi itu. Jangan-jangan yang dilawan hanyalah bayang-bayang. Jangan-jangan yang diberontaki hanyalah sebuah keomongkosongan atawa sejenis takhyul atau neo-takhyul yang seakan ada padahal hampa belaka adanya.

 

Saya tak paham bagaimana Viddy dengan simplistis menyejajarkan pemikiran sastra neo-liberal itu dengan liberalisasi pemikiran agama sebagaimana dilakukan JIL. Lebih terasa simplistis pula ketika dijabarkan bahwa aktivitas JIL adalah mendekonstruksi prinsip-prinsip ajaran Islam.

 

Saya kira, sebelum Viddy merumuskan “ideologi JIL”, harus dipahami bahwa dalam Islam sendiri ada yang namanya ijtihad, ijtima’, dan semacamnya. Yang paling elementer, komponen hukum misalnya, sumbernya adalah wahyu dan wahyu yang telah diintervensi akal. Wahyu berasal dari Alquran dan Sunnah, wahyu yang diintervensi berupa fiqih. Sementara kategori fiqih terdiri atas fiqih nabawi yang berlaku permanen dan universal serta tak ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada pula fiqih ijtihadi, yang bisa tidak permanen dan bisa tidak universal, selain bisa terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama.

 

Kalau mau diperlebar dan diperluas, jika sampai pada maslahah, dalam tataran tingkatan maslahah ada yang disebut maslahah dlaruriah, maslahah hijaiyah, dan maslahah tahsiniah. Sementara dalam tataran kategori maslahah ada maslahah mu’tabarah, maslahah mulghah, dan maslahah mursalah.

 

Maknanya, yang dilakukan JIL bukan saja sudah pernah dilakukan gerakan yang senada dan seirama di bumi belahan lain dan di era jauh dasawarsa sebelumnya, namun dalam diri Islam sendiri termungkinkan adanya “dekonstruksi” untuk hal-hal yang memang dibolehkan untuk didekonstruksi.

 

Dengan demikian, dekonsruksi yang dilakukan JIL diidentifikasi sebagai semata cenderung anti peran agama bersejajar dengan pemujaan terhadap neo-liberal dan porno-praksis dalam sastra ala TUK sungguh merupakan sebuah simplifikasi belaka.

 

Dengan sedikit agak narsistik, saya bertanya pada diri sendiri: di manakah saya berdiri dalam percaturan sastra Indonesia sebagaimana yang ditakhyulkan Viddy – dan mungkin juga nama-nama lain? Cerpen saya, Panggil Aku: Pheng Hwa, dikritik Ahmad Sahal dan Hasif Amini, keduanya anggota redaksi Jurnal Kalam, salah satu “faksi” di KUK. Sementara, cerpen saya Deja Vu: Kathmandu mengilhami pola penulisan Ulil Abshar Abdalla dalam menulis esai panjang mengenai jalan simpangnya dalam beragama sebagaimana kemudian dimuat Jurnal Kalam.

 

Maknanya, dalam KUK pun tak ada pola pikir dan ideologi yang seutuh dan seseragam sebagaimana dibayangkan dan dirumuskan Viddy. Jadinya, tak begitu penting apakah saya pernah menjadi bagian dari KUK (di ISAI), atau sama sekali tak bersangkut paut dengan mereka.

 

Lagi pula, tak ada Komunitas Teater Utan Kayu. Yang ada adalah Komunitas Utan Kayu (KUK), yang di dalamnya terkibar pelbagai panji: Teater Utan Kayu (TUK), ISAI, Jurnal Kebudayaan Kalam, (dulu) Jurnal Pantau, penerbitan Media Lintas Inti Nusantara (MLIN), Kantor Berita Radio (KBR) 68H, sekolah broadcasting, dan Kedai Tempo.

 

Karenanya, menganggap KUK sebagai semata TUK tak lebih sebagai sekadar simplifikasi. Sama simplistisnya dengan menanggapi “syahwat merdeka” tanpa sama sekali menelisik hal tersebut sebagai tema yang tak mungkin tergantikan ataukah syahwat sebagai pencarian efek. Simplifikasi adalah bentuk lain dari kemalasan melakukan analisis. ***

 

http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2003/12/29/KL/mbm.20031229.kl8.id.html

 

Edisi. 44/XXXII/29 Desember – 04 Januari 2004

 

Majalah Tempo Kolom

 

Ada Apa dengan Sastra Kita [1]

 

Budi Darma

 

budi-darma-1.jpgKONGRES Bahasa Indonesia VIII diselenggarakan pada 14-17 Oktober yang lalu. Salah satu moto yang dipergunakan sederhana, yaitu “Sastra adalah Pencerminan Kepribadian Bangsa”. Seorang teman yang sekarang melakukan studi di Malaysia bertanya: “Kalau memang moto itu benar, bagaimana pendapat Anda mengenai sastra wanita kita sekarang?” Keesokan harinya, seorang peserta lain mengajukan pertanyaan sama, lengkap dengan data dari berbagai sumber untuk menunjukkan “betapa jauh sastra wanita sekarang dari kepribadian bangsa kita yang sebenarnya”.

 

Jiwa semua data: sastra mutakhir kita didominasi oleh wanita, dan sastra wanita itu sendiri didominasi oleh keberanian para sastrawannya dalam mendedah masalah seks dengan terang-terangan, yang menurut Helvy Tiana Rosa dalam salah satu bukunya, “hingga kita menangkapnya sebagai pornografi murahan”. Kata-kata dan adegan yang dulu tabu benar-benar diberi kebebasan untuk berkelebat saenak-nya sendiri.

 

Saya bilang gejala ini terjadi di mana-mana, dan Indonesia hanyalah sebagian kecil dari “di mana-mana” itu. Di Inggris ada chick literature, di Beijing ada Jiu Dan, di Shanghai ada Wei Hui, dan lain-lain yang semuanya menganggap melepas keperawanan bukanlah pekerjaan sakral. Sinyalemen Helvy Tiana Rosa, “Para perempuan tersebut tidak lagi melihat lelaki sebagai lelaki, tapi ‘mangsa’ atau ‘hidangan’,” adalah salah satu gejala yang terjadi “di mana-mana” itu, kendati mungkin tiap-tiap bagian dari “di mana-mana” itu punya versi dan variasi sendiri-sendiri.

 

Sastra wanita kita tidak mungkin diisolasi dari sastra wanita global, sementara isu mengenai wanita sangat melekat dengan persoalan gender yang klasik: wanita dan laki-laki adalah dua kutub dikotomis. Kendati keduanya bisa bermesraan, mereka bisa juga berperilaku bagaikan kucing dan anjing, cakar-cakaran dan ingin saling mendominasi.

 

Perkembangan zaman telah membuka peluang kepada wanita untuk membuktikan dirinya sebagai gender yang patut diandalkan: pendidikan maju, karier melaju, dan semua front yang dulu hanya didominasi oleh laki-laki sebagian sudah menjadi milik wanita. Semua berawal dari kebebasan wanita, yang dulu boleh dibilang tidak ada.

 

Ironi bergerilya: kebebasan adalah awal dari kesadaran akan tidak adanya kebebasan dan tidak adanya keadilan. Sejarah kemerdekaan Indonesia mirip: makin banyak pemuda Indonesia yang memperoleh pendidikan tinggi pada zaman penjajahan dulu, makin tajam pulalah kesadaran mereka mengenai betapa rendah martabat bangsa kita. Penjajahan harus dikutuk.

 

Feminisme, sementara itu, dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain feminisme sosial. Apa pun yang terjadi, apakah wanita ikut menyumbang produksi atau tidak, apakah wanita maju atau tidak, satu hal akan terus berlaku: untuk selamanya, wanita dianggap sebagai warga kelas dua. Kesadaran feminisme sosial timbul, justru pada saat wanita sanggup membuktikan dirinya sebagai gender terhormat.

 

Keberadaan suatu community, menurut Carl Gustav Jung, tidak lepas dari keberadaan “ketidaksadaran bersama”. Kita menyaksikan kor besar ketika MPRS mengangkat Sukarno menjadi presiden seumur hidup, dan ketika MPR untuk sekian kalinya mengangkat Soeharto sebagai presiden, yang semuanya adalah atas nama rakyat. Dengan penuh semangat Sukarno dielu-elukan, demikian pula Soeharto. Lalu ada kor besar lain, yaitu ketika mereka dijatuhkan: dengan penuh semangat, mereka dihujat.

 

Pengarang adalah community, dan sastra adalah buah “ketidaksadaran bersama”. Eksplisit atau implisit, sastra mencerminkan situasi dan kondisi zamannya. Maka, para pengarang wanita pun mengadakan kor bersama. Lelaki menjadi “mangsa” atau “hidangan,” karena lelaki adalah kutub dikotomi yang mesti ditaklukkan.

 

Sewaktu Djenar Maesa Ayu dan saya menerima penghargaan dari Kompas pada tanggal 20 Juni 2003, saya menyatakan, dalam hal-hal tertentu wanita pengarang telah menjadikan karya mereka semacam forum pengakuan pribadi. Sastra sebagai confessional world dengan pembaca sebagai confidant tidak lain merupakan refleksi hasrat “ketidaksadaran bersama” untuk menaklukkan lelaki.

 

Sastra wanita menjadi semakin fenomenal tidak lain karena situasi dan kondisi yang mendominasi kita semua, yaitu sastra koran. Bukan hanya kreativitas saja yang dikondisikan oleh koran, dan karena itu cerpen menjadi genre yang amat menonjol, tapi juga informasi dan diskusi mengenai sastra. Sebagian besar data untuk menunjukkan “betapa jauh sastra wanita sekarang dari kepribadian bangsa kita yang sebenarnya” juga berasal dari koran.

 

Ada apa dengan sastra, itulah jawabannya. ***

 

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=300946&kat_id=364

 

Koran » Sastra

 

Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini

 

Minggu, 22 Juli 2007

 

WACANA

 

Sastra Indonesia

 

dalam Skenario Imperialisme

 

Mahdiduri

 

Penyair dan ketua KSI Banten

 

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu.

 

Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno.

 

Pada saat ini nasionalisme bangsa kita tengah dirongrong oleh kekuatan besar dari Barat yang kita kenal sebagai imperialisme. Kita telah didikte bagaimana bernegara, begitu banyak kebijakan-kebijakan yang seharusnya berpihak pada rakyat telah disulap menjadi keuntungan para pemodal besar.

 

Sejak kebijakan penanaman modal asing ditetapkan pada tahun 1967, segala sendi kehidupan berbangsa menjadi incaran penjajahan mereka, tak terkecuali kebudayaan. Kita telah diberi fatamorgana budaya yang membuat kita merasa nyaman. Pada sektor budaya ada sebuah skenario besar yang sedang dijalankan lewat agen-agen yang sengaja ditanamkan di negeri ini dengan memakai wajah kesenian.

 

Dalam skenarionya, pihak imperialis menyadari bahwa saat ini sangat tidak mungkin untuk memaksakan kehendak dengan jalan menginvasi sebuah negara lewat militerisme (walaupun hal itu sedang dilakukan di wilayah Timur Tengah). Maka, strateginya melalui protectorate atau mandate dan targetnya adalah menghancurkan tatanan politik, sosial, dan moral rakyat, agar memeluk nilai-nilai kaum imperialis.

 

Pada imperialisasi kebudayaan, kaum imperialis berencana menguasai jiwa (de geest) dari bangsa lain, karena dalam kebudayaan terletak jiwa suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, maka berubahlah jiwa bangsa itu. Kaum imperialis hendak melenyapkan kebudayaan suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan kaum imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti menguasai segala-galanya dari bangsa itu.

 

Imperialisme kebudayaan itu adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.

 

Ada indikasi yang sangat kuat bahwa imperialisme budaya dewasa ini sedang tumbuh dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama melalui fiksi-fiksi seksual-liberal karya para penulis terkini yang sebagian berasal dari Komunitas Utan Kayu (KUK). Seks sebagai tema primer karya-karya mereka, terutama karya-karya Ayu Utami, adalah “panser ideologi” yang dipaksakan masuk untuk menumbuhkan imperialisme budaya itu.

 

Mereka telah mendewakan nilai-nilai estetis sebagai sebuah pencapaian karya adiluhung, tanpa memperhitungkan nasionalisme dan moralitas generasi bangsa ini. Betapa tidak, kebebasan membicarakan seks (gerakan-gerakan seks) yang termaktub dalam karya-karya mereka hanya dimiliki oleh kebudayaan Barat. Sama sekali tidak mencerminkan kepribadian Indonesia.

 

Kearifan lokal kita lebih menghormati hak individu dalam bersenggama dan lebih halus pengungkapannya. Pembicaraan (konsultasi) seks dilakukan pada pihak tertentu saja: suami-istri, dokter, konselor rumah tangga. Tidak diumbar kemana-mana, apalagi dipublikasi secara luas lewat buku dan media massa.

 

Sebagai komunitas intelektual, KUK sebenarnya mampu menyerap sumber inspirasi dari kebudayaan lokal, seks sekalipun. Tetapi, lewat karya-karya Ayu Utami, TUK malah menyajikan seks ala Barat yang liberal dalam upaya menarik simpati pemodal besar kaum imperalis. Seperti halnya Dante lewat karyanya, La Divina Comedia, yang terinspirasi Isra Mi’raj nabi Muhammad (berisi penghinaan), kaum imperialis telah menggunakan sastra dan film sebagai propaganda ideologi mereka.

 

Beragam politik kesenian pun mereka jalankan, seperti disinyalir dalam tulisan Viddy A Daery (Gerakan Sastra Anti Neo-Liberalisme) bahwa KUK mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra” untuk liberalisasi. Dalam kaitan ini KUK juga berupaya merebut kursi-kursi strategis di bidang sastra, seperti menguasai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

 

Wowok Hesti Prabowo dan Maman S Mahayana malah meledek bahwa DKJ sekarang telah menjadi cabang KUK. Ada kabar, DKJ tahun ini membantu dana besar untuk pelaksanaan program rutin KUK, yakni Utan Kayu International Literary Biennale 2008, dengan mengorbankan program Komite Sastra DKJ sendiri.

 

Sementara, acara besar Pekan Presiden Penyair (PPP) yang pekan lalu diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM) di TIM, sama sekali tidak mendapat bantuan DKJ. Menurut ketua YPM Asrizal Nur, panitia PPP bahkan cenderung dipersulit untuk menyewa tempat di TIM. Ketua Masyarakat Sastra Jakarta, Slamet Rahardjo Rais, juga sempat mengeluhkan program Komite Sastra DKJ yang tidak menyentuh komunitas sastra di Jakarta yang seharusnya menjadi sasaran program DKJ. Kenyataannya, Komite Sastra DKJ periode ini memang hanya mengadakan acara rutin kecil-kecilan, yakni Lampion Sastra, yang sesungguhnya cukup dilaksanakan oleh sanggar sastra atau lembaga mahasiswa — alias ‘bukan level’ DKJ.

 

Saya rasa pendirian komunitas cabang KUK atau TUK di daerah-daerah juga adalah skenario lain untuk merekrut penganut-penganut baru yang akan patuh pada kehendak sang imperialis dalam mendikte kebutuhan sastra ke depan. Dan, penguasaan posisi stategis dalam lembaga kesenian, disinyalir adalah upaya untuk memperkuat finansial organisasi terkait dengan berkurangnya pasokan dana dari luar (subsidi silang), dengan bukti kasus bantuan dana DKJ untuk biennale KUK di atas.

 

Melalui novel dan esei-eseinya di X-Magazine, aktifis KUK Ayu Utami pun mengumbar tubuhnya sendiri ke khalayak ramai tanpa rasa malu. Ini adalah keprihatinan terdalam bagi kaum perempuan! Eksploitasi tubuh atas nama eksplorasi estetis telah dijadikan tameng dalam memunculkan sastra gaya rambut belah tengah — sebuah feminisme sastra liberal yang menyesatkan!

 

Terkadang rasa penasaran menghinggapi tatkala melihat sepak terjang para perempuan yang tak segan-segan memperagakan gerakan seks mereka sendiri lewat kata. Jadi, apa perbedaan fiksi-fiksi seksual mereka dengan layanan seks premium call 0809? Apakah mereka merasa lebih berderajat karena berada di jalur sastra?

 

Memang, fiksi seksual tidak hanya ditulis oleh orang-orang KUK, tapi juga penulis di luar KUK, seperti Dinar Rahayu, Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan Mariana Amirudin, serta Henny Purnamasari. Namun, karya-karya mereka muncul setelah novel Saman karya Ayu Utami mendapat sambutan banyak kalangan dan laris di pasaran.

 

Keteguhan seorang Jane Austen menggali peristiwa lokal sebagai sumber inspirasinya patut digugu dan ditiru, bagaimana dia konsisten mewartakan lewat sastra perihal kehidupan perempuan di masanya yang menjadi korban pergerakan industri. Walaupun banyak dicemooh kalangan kritikus sastra karena tidak peka dengan sejarah besar ‘revolusi industri’, siapa sangka karya-karyanya abadi, dan bahkan banyak menjadi bahan telaah. Seperti yang diakui oleh Edward W Said, dalam Mansfield Park Jane, tidak buta-buta amat akan kondisi sosial politik yang kental kritik terhadap imperialisme.

 

Proses kekaryaan Jane mengajarkan pada kita bahwa keabadian karya bukan dilihat dari isu hangat apa yang akan melambungkan popularitas, yang sifatnya sementara. Melainkan keteguhan hati dalam mewartakan apa yang menjadi tuntutan rakyat pada masanya.

 

Substansi dari peran kaum intelektual adalah membongkar hegemoni! Hampir semua cendekiawan tempo dulu adalah hasil dari didikan penjajah, tetapi mereka berhasil menempatkan diri agar tidak terjerat menjadi ‘intelektual bayaran’ yang bisa disetir oleh penjajah. Tapi, ternyata kondisi ideal itu tak berlaku lagi di saat sekarang, semua serba pragmatis dan pesimistis. Kesusateraan Indonesia digadaikan hanya karena keinginan sebuah komunitas untuk menjadi jaya, untuk menjadi yang terbesar.

 

Legitimasi semu sastra yang ditawarkan pihak pendukung hegemoni atau sentralisasi sastra hanyalah permen yang bisa menghancurkan gigi kesusasteraan Indonesia. Sudah cukup sastra kita didikte oleh satu komunitas atau lembaga kesenian dalam menentukan kebutuhan pasar sastra Indonesia ke depan. Adalah kebodohan jika kita tahu kondisi (permasalahan) lingkungan kita tapi kita sendiri tidak bergerak!

 

Karena itu, sudah saatnya para sastrawan Indonesia menabuh genderang perang untuk melawan sastra imperialis-liberalis dalam segala bentuknya. Hentikan praktek prostitusi kebudayaan yang akan menelan nasionalisme dan moral kita! Saatnya bergerak dengan apa yang kita bisa! ***

 


 

[1] Tulisan ini agaknya relevan dengan polemik ini , ed.


Responses

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

    Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
    (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

    JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

    Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

    Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

    Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

    Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

    SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

    Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

    Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

    Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

    SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

    Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

    Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

    Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

    SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: