Oleh: sastraindonesiaunand | Desember 14, 2007

Kho Ping Ho: BU KEK SIANSU

Kliping ini cerita Silat ini untuk penggemar cerita silat:

 

 

BU KEK SIANSU

 

Oleh: Kho Ping Ho

 

kover.jpgPagi itu bukan main indahnya di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning keemasan ke permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalaman oleh hawa dingin menusuk. Cahaya kuning emas membawa kehangatan, keindahan, penghidupan itu mengusir halimun tebal, dan halimun lari pergi dari cahaya raja kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran embun yang kini menjadi penghias ujung-ujung daun dan rumput membuat bunga-bunga yang beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar dan berseri-seri. Cahaya matahari yang lembut itu tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan hutan yang rimbun, namun kelembutannya membuat cahaya itu dapat juga menerobos di antara celah-celah daun dan ranting sehingga sinar kecil memanjang yang tampak jelas di antara bayang-bayang pohon meluncur ke bawah, disana sini bertemu dengan pantulan air membentuk warna pelangi yang amat indahnya, warna yang dibentuk oleh segala macam warna terutama oleh warna dasar merah, kuning dan biru.

Indah! Bagi mata yang bebas dari segala ikatan, keindahan itu makin terasa, keindahan yang baru dan yang senantiasa akan nampak baru biarpun andaikata dilihatnya setiap hari  Sebelum cahaya pertama yang kemerahan dari matahari pagi tampak, keadaan sunyi senyap. Yang mula-mula membangunkan hutan itu adalah kokok ayam hutan yang pendek dan nyaring sekali, kokok yang tiba-tiba dan mengejutkan, susul menyusul dari beberapa penjuru. Kokok ayam jantan inilah yang menggugah para burung yang tadinya diselimuti kegelapan malam, menyembunyikan muka ke bawah selimut tebal dan hangat dari sayap mereka, kini terjadilah gerakan-gerakan hidup di setiap pohon besar dan terdengar kicau burung yang sahut-menyahut, bermacam-macam suaranya, bersaing indah dan ramai namun kesemuanya memiliki kemerduan yang khas. Sukar bagi telinga untuk menentukan mana yang lebih indah, karena suara yang bersahut-sahutan itu merupakan kesatuan seperangkat alat musik yang dibunyikan bersama. Yang ada pada telinga hanya indah! Sukar dikatakan mana yang lebih indah, suara burung-burung itu sendiri ataukan keheningan kosong yang terdapat di antara jarak suara-suara itu.

Anak laki-laki itu masih amat kecil. Tidak akan lebih dari tujuh tahun usianya. Dia berdiri seperti sebuah patung, berdiri di tempat datar yang agak tinggi di hutan Gunung Seribu Bunga itu, menghadap ke timur dan sudah ada setengah jam lebih dia berdiri seperti itu, hanya matanya saja yang bergerak-gerak, mata yang lebar yang penuh sinar ketajaman dan kelembutan, seperti biasa mata kanak-kanak yang hidupnya masih bebas dan bersih, namun di antara kedua matanya, kulit di antara alis itu agak terganggu oleh garis-garis lurus. Aneh melihat seorang anak kecil seperti itu sudah ada keriput di antara kedua alisnya!

Anak itu pakaiannya sederhana sekali, biarpun amat bersih seperti bersihnya tubuhnya, dari rambut sampai ke kuku jari tangannya yang terpelihara dan bersih, wajahnya biasa saja, seperti anak-anak lain dengan bentuk muka yang tampan, hanya matanya dan keriput di antara matanya itulah yang jarang terdapat pada anak-anak dan membuat dia menjadi seorang anak yang mudah mendatangkan kesan pada hati pemandangnya sebagai seorang anak yang aneh dan tentu memiliki sesuatu yang luar biasa. Sepasang mata anak itu bersinar-sinar penuh seri kehidupan ketika dia tadi melihat munculnya bola merah besar di balik puncak gunung sebelah timur, bola merah yang amat besar dan yang mula-mula merupakan pemandangan yang amat menarik hati, akan tetapi lambat laun merupakan benda yang tak kuat lagi mata memandangnya karena cahaya yang makin menguning dan berkilauan. Maka dia mengalihkan pandangannya, kini menikmati betapa cahaya yang tiada terbatas luasnya itu menghidupkan segala sesuatu, dari puncak pegunungan sampai jauh di sana, di bawah kaki gunung.

Anak itu lalu menanggalkan pakaiannya, satu semi satu dengan gerakan sabar dan tidak tergesa-gesa, tanpa menengok ke kanan kiri karena selama ini dia tahu bahwa di pagi hari seperti itu tidak akan ada seorang pun manusia kecuali dirinya sendiri berada di situ. Dengan telanjang bulat dia lalu menghampiri sebuah batu dan duduk bersila, menghadap matahari. Duduknya tegak lurus, kedua kakinya bersilang dan napasnya masuk keluar dengan halus tanpa diatur, tanpa paksaan seperti pernapasan seorang bayi sedang tidur nyenyak. Sudah beberapa tahun dia melakukan ini setiap hari duduk sambil mandi cahaya matahari selama dua tiga jam sampai semua tubuhnya bermandi peluh dan terasa panas barulah dia berhenti. Juga di waktu malam terang bulan, dia duduk pula di batu itu, telanjang bulat, mandi cahaya bulan purnama selama tujuh malam, kadang-kadang sampai lupa diri dan duduk bersila sampai setengah tidur, dan barulah dia berhenti kalau tubuh sudah hampir membeku dan bulan sudah lenyap bersembunyi di balik pumcak barat.

Anak yang luar biasa! Memang. Demikian pula penduduk di sekitar Pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya Sin Tong (Anak Ajaib), demikianlah nama anak ini yang diketahui orang. Anak ajaib, anak sakti dan lain-lain sebutan lagi. Karena semua orang menyebutnya Sin Tong dan memang dia sendiri tidak pernah mau menyatakan siapa namanya, maka anak itu sudah menjadi terbiasa dengan sebutan ini dan menganggap namanya Sin Tong!

Mengapakah orang-orang dusun, penghuni semua dusun di sekitar lereng dan kaki Pegunungan Jeng Hoa San menyebutnya anak ajaib? Hal ini ada sebabnya, yaitu karena anak berusia tujuh tahun itu pandai sekali mengobati penyakit dengan memberi daun-daun, buah-buah, dan akar-akar obat yang benarbenar manjur sekali! Hampir semua penduduk yang terkena penyakit datang ke lereng Hutan Seribu Bunga, yaitu nama hutan di mana anak itu tinggal karena di antara sekalian hutan di Pegunungan Seribu Bunga, hutan inilah yang benar-benar tepat disebut Hutan Seribu Bunga denga tetumbuhan beraneka warna, penuh dengan bunga-bunga indah, terutama sekali pada musim semi. Dan anak ini memberi daun atau akar obat dengan hati terbuka, dengan hati terbuka, dengan tulus ikhlas, suka rela dan selalu menolak kalau diberi uang! Maka berduyun-duyun orang dusun datang kepadanya dan diam-diam memujanya sebagai seorang anak ajaib, sebagai dewa yang menjelma menjadi seorang anak-anak yang menolong dusun-dusun itu dari malapetaka. Bahkan ketika terjangkit penyakit menular, penyakit demam hebat yang menimbulkan banyak korban tahun lalu, bocah ajaib inilah yang membasminya dengan memberi akar-akar tertentu yang harus diminum airnya setelah dimasak. Dengan akar itu, yang sakit banyak tertolong dan yang belum terkena penyakit tidak akan ketularan. Ketika orang-orang dusun itu, terutama yang wanita, datang membawa pakaian baru yang sudah dijahit rapi, anak itu tak dapat menolak, dan menyatakan terima kasihnya dengan butiran air mata menetes di kedua pipinya akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Karena jasa orang-orang dusun ini, maka anak itu selalu berpakaian sederhana sekali, potongan “dusun”.

Siapakah sebetulnya anak kecil ajaib yang menjadi penghuni Hutan Seribu Bunga seorang diri saja itu? Benarkah dia seorang dewa yang turun dari kahyangan menjadi seorang anak-anak untuk menolong seorang manusia, seperti kepercayaan para penduduk di Pegunungan Tibet sehingga banyak terdapat Lama yang dianggap sebagai Sang Budha sendiri yang “menjelma” menjadi anak-anak dan menjadi calon Lama. Sebetulnya tentu saja tidak seperti ketahyulan yang dipercaya oleh orang-orang yang memang suka akan ketahyulan dan suka akan yang ajaib-ajaib itu.

Anak itu dahulunya adalah anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-Leng, sebuah kota kecil di sebelah timur Pegunungan Jeng-hoa-san. Dia bernama Kwa Sin Liong, dan nama Sin Liong (Naga Sakti) ini diberikan kepadanya karena ketika mengandungnya, ibunya mimpi melihat seekor nama beterbangan di angkasa diantara awan-awan. Adapun ayah Sin Liong adalah seorang pedagang obat yang cukup kaya di kota Kun-leng. Akan tetapi malapetaka menimpa keluarga ini ketika malam hari tiga orang pencuri memasuki rumah mereka. Tadinya tiga orang penjahat ini hendak melakukan pencurian terhadap keluarga kaya ini, akan tetapi ketika mereka memasuki kamar ayah dan ibu Sin Liong mempergoki mereka. Karena khawatir dikenal, tiga orang itu lalu membunuh ayah-bunda Sin Liong dengan bacokan-bacokan golok.

Ketika itu Sin Liong baru berusia lima tahun dan di tempat remang-remang itu melihat betapa ayah-bundanya dihujani bacokan golok dan roboh mandi darah, tewas tanpa sempat berteriak. Saking ngeri dan takutnya, Sin Liong seperti berubah menjadi gagu, matanya melotot dan dia tidak bisa mengeluarkan suara. Karena ini, tiga orang pencuri itu tidak melihat anak kecil di kamar yang gelap itu. Mereka terutama sibuk mengumpulkan barang-barang berharga dan mereka itu juga panik, ingin lekas-lekas pergi karena mereka telah terpaksa membunuh tuan dan nyonya rumah. Setelah para penjahat itu keluar dari kamar, barulah Sin Liong dapat menjerit, menjerit sekuat tenaganya sehingga malam hari itu terkoyak oleh jeritan anak ini. Para tetangga mereka terkejut dan semua pintu dibuka, semua laki-laki berlari keluar dan melihat tiga orang yang tidak dikenal keluar dari rumah keluarga Kwa membawa buntalan-buntalan besar, segera terdengar teriakan “maling…maling!” dan orang-orang itu mengurung tiga penjahat ini. Beberapa orang lari memasuki rumah keluarga Kwa yang dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat suami-isteri itu tewas dalam keadaan mandi darah, sedangkan Sin Liong menangisi kedua orang tuanya, memeluki mereka sehingga muka,tangan dan pakaian anak itu penuh dengan darah ayah bundanya.

“Pembunuh! Mereka membunuh keluarga Kwa!” Orang yang menyaksikan mayat kedua orang itu segera lari keluar dan berteriak-teriak “Manusia kejam! Tangkap mereka!” “Tidak! Bunuh saja mereka!” “Tubuh suami-istri Kwa hancur mereka cincang!” “Bunuh!” “Serbu…!”

Dan terjadilah pergumulan atau pertandingan yang berat sebelah. Tiga orang itu terpaksa melakukan perlawanan untuk membela diri, akan tetapi mana mereka itu, maling-maling biassa, mampu menahan serbuan puluhan bahkan ratusan orang yang marah dan haus darah?. Anak laki-laki itu, ketika pengeroyokan di luar rumahnya sedang terjadi, keluar dari dalam, mukanya penuh darah, kedua tangannya dan pakaiannya juga. Dia melangkah keluar seperti dalam mimpi, mukanya pucat sekali dan matanya yang lebar itu terbelalak memandang penuh kengerian.Dia berdiri di depan pintu rumahnya, matanya makin terbelalak memandang apa yang terjadi di depan rumahnya. Jelas tampak olehnya betapa para tetangganya itu, seperti sekumpulan serigala buas, menyerang dan memukuli tiga orang pencuri tadi, para pembunuh ayah-bundanya. Terdengar olehnya betapa pencuri-pencuri itu mengaduh-aduh merintih-rintih, minta-minta ampun dan terdengar pula suara bak-bik-buk ketika kaki tangan dan senjata menghantami mereka. Mereka bertiga itu roboh, dan terus digebuki, dibacok, dihantam dan darah muncrat-muncrat., tubuh tiga orang itu berkelojotan, suara yang aneh keluar dari tenggorokan mereka. Akan tetapi orang-orang yang marah dan haus darah itu, yang menganggap bahwa apa yang mereka lakukan ini sudah baik dan adil, terus saja menghantami tiga orang manusia sial itu sampai tubuh mereka remuk dan tidak tampak seperti tubuh manusia lagi, patutnya hanya onggokan-onggokan daging hancur dan tulang-tulang patah!.

Ketika semua orang sudah merasa puas, juga mulai ngeri melihat hasil perbuatan mereka, menghentikan pengeroyokan terhadap tiga mayat itu dan mereka memasuki rumah keluarga Kwa, Sin Liong tidak berada disitu! Kiranya bocah ini, yang baru saja tergetar jiwanya, tergores penuh luka melihat ayah bundanya dibacoki dan dibunuh, ketika melihat tiga orang pembunuh itu dikeroyok dan disiksa, jiwanya makin terhimpit, luka-luka dihatinya makin banyak dan dia tidak kuat menahan lagi. Dilihatnya wajah orang-orang itu semua seperti wajah iblis, dengan mata bernyala-nyalapenuh kebencian dan dendam, penuh nafsu membunuh, dengan mulut terngangga seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah tampak taring dan gigi meruncing, siap untuk menggigit lawan dan menghisap darahnya. Dia merasa ngeri, merasa seolah-olah berada di antara sekumpulan iblis, maka sambil menangis tersedu-sedu Sin liong lalu lari meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumahnya, meninggalkan kota Kun-leng, terus berlari ke arah pegunungan yang tampak dari jauh seperti seorang manusia sedang rebahan, seorang manusia dewa yang sakti, yang akan melindunginya dari kejaran iblis itu! Seperti orang kehilangan ingatan, semalam itu Sin lIong terus berlari sampai pada keesokan harinya, saking lelahnya, dia tersaruk-saruk di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, kadang-kadang tersandung kakinya dan jatuh menelungkup, bangun lagi dan lari pagi, terhuyung-huyung dan akhirnya, pada keesokan harinya, pagi-pagi dia terguling roboh pingsan di dalam sebuah hutan di lereng bagian bawah Pegunungan Jeng-hoa-san.

Setelah siuman, anak kecil berusia lima tahun ini melanjutkan perjalanannya, dan beberapa hari kemudian tibalah dia di sebuah hutan penuh bunga karena kebetulan pada waktu itu adalah musim semi. Di sepanjang jalan mendaki pegunungan, kalau perutnya sudah mulai lapar, anak ini memetik buah-buahan dan makan daun-daunan, memilih yang rasanya segar dan tidak pahit sehingga dia tidak sampai kelaparan. Di dalam hutan seribu bunga itu Sin Liong terpesona, merasa seperti hidup di alam lain, di dunia lain. Tempat yang hening dan bersih, tidak ada seorang pun manusia. Kalau dia teringat akan manusia, dia bergidik dan menangis saking takut dan ngerinya. Dia telah menyaksikan kekejaman-kekejaman yang amat hebat. Bukan hanya kekejaman orang-orang yang merenggut nyawa ayah bundanya, yang memaksa ayah bundanya berpisah darinya dan mati meninggalkannya, akan tetapi juga melihat kekejaman puluhan orang tetangga yang menyiksa tiga orang itu sampai mati dan hancur tubuhnya, Dia bergidik dan ketakutan kalau teringat akan hal itu.

Di dalam Hutan Seribu Bunga itulah dia merasakan keamanan, kebersihan, keheningan yang menyejukkan perasaan. Mula-mula Sin Liong tidak mempunyai niat untuk kembali ke kotanya karena ia masih terasa ngeri, tidak ingin melihat ayah bundanya yang berlumuran darah, tak ingin melihat mayat tiga orang pencuri yang rusak hancur. Ketika dia tiba di hutan Jeng-hoa-san itu dan melihat betapa tubuh dan pakaiannya ternoda darah yang baunya amat busuk, dia cepat mandi dan mencuci pakaian di anak sungai yang terdapat di hutan itu, anak sungai yang airnya keluar dari sumber, jernih dan sejuk sekali. Mula-mula memang dia tidak ingin pulang karena kengerian hatinya, akan tetapi setelah dua tiga bulan “Bersembunyi” di tempat itu, timbul rasa cintanya terhadap Hutan Seribu Bunga dan dia kini tidak ingin pulang sama sekali karena dia telah menganggap hutan itu sebagai tempat tinggalnya yang baru! Di dekat pohon peak yang besar, terdapat bukit batu dan di situ ada guanya yang cukup besar untuk dijadikan tempat tinggal, dijadikan tempat berlindung dari serangan hujan dan angin. Gua ini dibersihkannya dan menjadi sebuah tempat yang amat menyenangkan.

Demikianlah, anak ini tidak tahu sama sekali bahwa harta kekayaan orang tuanya yang tidak mempunyai keluarga dan sanak kadang lainnya, telah dijadikan perebutan antara para tetangga sampai habis ludes sama sekali! Dengan alas an “mengamankan” barang-barang berharga dari rumah kosong itu, para tetangga telah memperkaya diri sendiri. Mereka ini tetap tidak tahu, atau tidak mengerti bahwa mereka telah mengulangi perbuatan tiga orang pencuri yang mereka keroyok dan bunuh bersama itu. Mereka juga melakukan pencurian, sungguhpun caranya tidak “sekasar” yang dilakukan para pencuri.

Jika dinilai, pencurian yang dilakukan para tetangga dan “sahabat” ini jauh lebih kotor dan rendah daripada yang dilakukan oleh tiga orang pencuri dahulu itu, karena para pencuri itu melakukan pencurian dengan sengaja dan terang-terangan mereka itu adalah pencuri, tidak berselubung apa-apa, dan kejahatannya itu memang terbuka, sebagai orang-orang yang mengambil barang orang lain di waktu Si Pemilik sedang lengah atau tertidur. Namun, apa yang dilakukan oleh para tetangga itu adalah pencurian terselubung, dengan kedok “menolong” sehingga kalau dibuat takaran, kejahatan mereka itu berganda, pertama jahat seperti Si Pencuri biasa karena mengambil dan menghaki milik orang lain, ke dua jahat karena telah bersikap munafik, melakukan kejahatan dengan selubung “kebaikan”.

Demikianlah sampai dua tahun lamanya anak berusia lima tahun ini tinggal seorang diri di dalam Hutan Seribu Bunga. Sebagai putera seorang ahli pengobatan, biarpun ketika usianya baru lima tahun, sedikit banyak Sin Liong tahu akan daun-daun dan akar obat, bahkan sering dia ikut ayahnya mencari daundaun obat di gunung-gunung. Setelah kini dia hidup seorang diri di dalam hutan, bakatnya akan ilmu pengobatan mendapat ujian dan pemupukan secara alam. Dia harus makan setiap hari itu untuk keperluan ini, dia telah pandai memilih dari pengalaman, mana daun yang berkhasiat dan mana yang enak, mana pula yang beracun dan sebagainya.

Selama dua tahun itu, dengan pakaian cabik-cabik tidak karuan, sering pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia terserang sakit dan dari pengalaman ini pula dia dapat memilih daun-daun dan akar-akar obat, bukan dari pengetahuan, melainkan dari pengalaman. Mungkin karena tidak ada sesuatu lainnya yang menjadikan bahan pemikiran, maka anak ini dapat mencurahkan semua perhatiannya terhadap pengenalan akan daun dan akar serta buah dan kembang yang mangandung obat ini sehingga penciumannya amat tajam terhadap khasiat daun dan akar obat. Dengan menciumnya saja dia dapat menentukan khasiat apakah yang terkandung dalam suatu daun, bunga, buah ataupun akar! Tidak kelirulah kata-kata orang bahwa pengalaman adalah guru terpandai. Tentu saja kata-kata itu baru terbukti kebenarannya kalau seseorang memiliki rasa kasih terhadap yang dilakukannya itu. Dan memang di lubuk hati Sin Liong, dia mempunyai rasa kasih yang menimbulkan suka, dan suka ini menimbulkan kerajinan untuk mempelajari khasiat bunga-bunga dan daun-daun yang banyak sekali macamnya dan tumbuh di dalam Hutan Seribu Bunga itu. Selain mempelajari khasiat tumbuh-tumbuhan, bukan hanya untuk menjadi makanan sehari-hari akan tetapi juga untuk pengobatan, Sin Liong mempunyai kesukaan lain lagi yang timbul dari rasa kasihnya kepada alam, kasih yang sepenuhnya dan yang mungkin sekali timbul karena dia merasa hidup sebatangkara dan juga timbul karena melihat kekejaman yang menggores di kalbunya akan perbuatan manusia ketika ayah ibunya dan tiga orang pencuri itu tewas.

Di tempat itu dia melihat kedamaian yang murni, kewajaran yang indah, dan tidak pernah melihat kepalsuan-kepalsuan, tidak melihat kekejaman. Rasa kasih kepada alam ini membuat dia amat peka terhadap keadaan sekelilingnya, membuat perasaannya tajam sekali sehingga dia dapat merasakan betapa hangat dan nikmatnya sinar matahari pagi, betapa lembut dan sejuk segarnya sinar bulan purnama sehingga tanpa ada yang memberi tahu dan menyuruh hampir setiap pagi dia bertelanjang mandi cahaya matahari pagi dan setiap bulan purnama dia bertelanjang mandi sinar bulan purnama.

Tanpa disadarinya, tubuhnya telah menerima dan menyerap inti tenaga mujijat dari bulan dan matahari, dan membuat darahnya bersih, tulangnya kuat dan tenaga dalam di tubuhnya makin terkumpul di luar kesadarannya. Setelah keringat membasahi seluruh tubuh dan beberapa kali memutar tubuhnya yang duduk bersila di atas batu, kadang-kadang dadanya, Sin Liong turun dari batu itu, menghapus peluh dengan saputangan lebar, kemudian setelah tubuhnya tidak berkeringat lagi, setelah dibelai bersilirnya angin pagi, dia mengenakan lagi pakaiannya dan pergi mengeluarkan bunga, daun, buah dan akar obat dari dalam gua untuk dijemur dibawah sinar matahari.

Inilah yang menjadi pekerjaannya sehari-hari, selain mencangkok, memperbanyak dan menanam tanaman-tanaman yang berkhasiat. Menjelang tengah hari, mulailah berdatangan penduduk yang membutuhkan obat. Di antara mereka terdapat pula beberapa orang kang-ouw yang kasar dan menderita luka beracun dalam pertempuran. Untuk mereka semua, tanpa pandang bulu, Sin Liong memberikan obatnya setelah memeriksa luka-luka dan penyakit yang mereka derita.

Lebih dari lima belas orang datang berturut-turut minta obat dan yang datang terakhir adalah seorang lakilaki setengah tua bertubuh tinggi besar, dipunggungnya tergantung golok dan dia datang terpincang-pincang karena pahanya terluka hebat, luka yang membengkak dan menghitam. “Sin-tong, kau tolonglah aku…” Begitu tiba di depan gua dimana Sin Liong duduk dan memotong-motong akar basah dengan sebuah pisau kecil, laki-laki bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar itu menjatuhkan diri dan merintih kesakitan. Sin Liong mengerutkan alisnya. Di antara orang-orang yang minta pengobatan, dia paling tidak suka melihat orang kang-ouw yang dapat dikenal dari sikap kasar dan senjata yang selalu mereka bawa. Namun, belum pernah dia menolak untuk mengobati mereka, bahkan diam-diam dia menilai mereka itu sebagai orang-orang yang berwatak serigala, yang haus darah, yang selalu saling bermusuhandan saling melukai, sehingga mereka ini merupakan manusia-manusia yang patut dikasihani karena tidak mengenai apa artinya ketentraman, kedamaian, dan kasih antar manusia yang mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan.

“Orang tua gagah, bukankah dua bulan yang lalu kau pernah datang dan minta obat karena luka di lengan kirimu yang keracunan?” tanyanya sambil menatap wajah berkulit hitam itu.

“Benar, benar sekali, Sin-tong. Aku adalah Sin-hek-houw (Macan Hitam Sakti) yang dahulu terkena senjata jarum beracun di lenganku. Akan tetapi sekarang, aku menderita luka lebih parah lagi. Pahaku terbacok pedang lawan dan celakanya, pedang itu mengandung racun yang hebat sekali. Kalau kau tidak segera menolongku, aku akan mati, Sin-tong.”

Sin Liong tidak berkata apa-apa lagi, menghampiri orang yang di atas tanah itu, memeriksa luka mengangga di balik celana yang ikut terobek. Luka yang lebar dan dalam, luka yang tertutup oleh darah yang menghitam dan membengkak, seluruh kaki terasa panas tanda keracunan hebat! Sin Liong menarik nafas panjang. “Lo-enghiong, mengapa engkau masih saja bertempur dengan orang lain, saling melukai dan saling membunuh? Bukankah dahulu ketika kau datang kesini pertama kali, pernah kau berjanji tidak akan lagi bertanding dengan orang lain?”

Mata yang lebar itu melotot kemudian pandang matanya melembut. Tak mungkin dia dapat marah kepada anak ajaib ini. Seorang anak kecil berusia tujuh tahun dapat bicara seperti itu kepadanya, seolah-olah anak itu adalah seorang kakek yang menjadi pertapa dan hidup suci! “Sin-tong, aku adalah Sin-hek-houw, dan jangan kau menyebut Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) kepadaku. Aku adalah seorang perampok, mengertikah kau? Seorang perampok tunggal yang mengandalkan hidup dari merampok orang lewat! Kalau aku tidak butuh barang, aku tentu tidak akan menganggu orang, dan kalau orang yang kumintai barangnya itu tidak melawan, aku tentu tidak akan menyerangnya. Akan tetapi, dua kali aku keliru menilai orang. Dahulu, aku menyerang seorang nenek yang kelihatan lemah, dan akibatnya lenganku terluka hebat. Sekarang, aku merampok seorang kakek yang kelihatan lemah, yang membawa barang berharga, dan akibatnya pahaku hampir buntung dan kini keracunan hebat. Kau tolonglah, aku akan berterima kasih kepadamu, Sin-tong dan akan mengabarkan sesuatu yang amat penting bagimu”.

“Lo-enghiong, aku tidak membutuhkan terima kasih dan balasan. Aku mengenal khasiat tetumbuhan di sini, tetumbuhan itu tumbuh di sini begitu saja mempersilahkan siapapun juga yang mengerti untuk memetik dan mempergunakannya, tanpa membeli, tanpa merampas dan tanpa menggunakan kekerasan. Aku hanya memetik dan menyerahkan kepadamu, perlu apa aku minta terima kasih dan balasan? Lukamu ini hebat seluruh kaki sudah panas, berarti darahmu telah keracunan, Untuk mengeluarkan racunnya yang masih mengeram di sekitar luka, sebaiknya luka itu dibuka agar dapat diobati, tidak seperti sekarang ini ditutup oleh darah beracun yang mengering. Dapatkah kau membuka lukamu itu, Lo-enghiong?”

Orang setengah tua itu membelalakan mata dan kembali dia kagum mendengar cara bocah itu bicara, akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia teringat bahwa bocah ini adalah Sin-tong, anak ajaib! Maka dia lalu menghunus goloknya dan melihat berkelebatnya sinar golok, Sin Liong memejamkan matanya. Terbayan kembali tiga batang golok yang membacoki tubuh ayah bundanya, dan banyak golok yang kemudian membacoki tubuh tiga orang pencuri itu. Sin-hek-houw menggunakan ujung goloknya untuk menusuk dan membuka kembali luka di pahanya. Dia mengeluh keras, akan tetapi lukanya sudah terbuka dan darah hitam mengucur keluar. Dengan siksaan rasa nyeri yang hebat, Sin-hek-houw melemparkan goloknya dan menggunakan kedua tangannya memijit-mijit paha yang terasa nyeri itu. Sin Liong berlutut, menggunakan jari tangannya yang halus untuk bantu memijat sehingga darah makin banyak keluar.Darah hitam dan baunya membuat orang mau muntah! Akan tetapi Sin Liong yang melakukan hal itu dengan rasa kasih sayang di hati, dengan rasa iba yang mendalam dan tidak dibuat-buat dan tidak pula disengaja, menerima bau itu dengan perasaan makin terharu. Betapa sengsara dan menderitanya orang ini, hanya demikian bisikan hatinya. Dia lalu mengambil bubukan akar tertentu, menabur bubukan itu ke dalam luka yang mengangga.

“Aduhhhhh..mati aku….!” Kakek itu berseru keras ketika merasa betapa obat itu mendatangkan rasa nyeri seperti ada puluhan ekor lebah menyengat-nyengat bagian yang terluka itu.

“Harap kaupertahankan, Lo-enghiong sebentar juga akan hilang rasa nyerinya. Jangan lawan ras nyeri itu, hadapilah sebagai kenyataan dan ketahuilah bahwa bubuk itu adalah obat yang akan mengusir penyakit ini.” Sambil berkata demikian, Sin Liong lalu menggunakan empat helai daun yang sudah diremas sehingga daun itu menjadi basah dan layu, kemudian ditutupnya luka itu dengan empat helai daun. Benar saja, rintihan orang itu makin perlahan tanda bahwa rasa nyerinya berkurang dan akhirnya orang itu menarik nafas panjang karena rasa nyerinya kini dapat ditahannya.

“Harap Lo-enghiong membawa akar ini, dimasak dan airnya diminum. Khasiatnya untuk membersihkan racun yang masih berada di kakimu. Dengan demikian maka luka itu akan membusuk dan akan lekas sembuh. Obat bubuk dan daun-daun ini untuk mengganti obat setiap hari sekali, kiranya cukup untuk sepekan sampai luka itu sembuh sama sekali.” Sin Liong berkata sambil membungkus obat-obat itu dengan sehelai daun yang lebar dan menyerahkannya kepada Sin-hek-houw.

Orang kasar itu menerima bungkusan obat dan kembali menghela napas panjang. “Kalau saja aku dapat mempunyai seorang sahabat seperti engkau yang selalu berada di sampingku. Kalau saja aku dapat mempunyai seorang anak seperti engkau, kiranya aku tidak akan tersesat sejauh ini. Terima kasih, Sin-tong dan aku tidak dapat membalas apa-apa kecuali peringatan kepadamu bahwa engkau terancam bahaya besar”.

Sin Liong mengangkat muka memandang wajah berkulit hitam itu dengan heran.

“Sin-tong, dunia kang-ouw telah geger dengan namamu. Orang-orang kang-ouw, termasuk aku, yang telah menerima pengobatanmu, membawa namamu di dunia kang-ouw dan terjadilah geger karena nama Sin-tong menjadi kembang bibir setiap orang kang-ouw. Banyak partai besar tertarik hatinya, menganggap engkau tentu penjelmaan dewa atau Sang Buddha dan kini telah banyak partai dan orang-orang gagah yang siap untuk dating kesini dan untuk membujukmu menjadi anggota mereka atau menjadi murid orang-orang kang-ouw yang terkenal. Celakanya, di antara mereka itu terdapat 2 orang manusia iblis yang lain lagi maksudnya, bukan maksud baik seperti tokoh dan partai persilatan, melainkan maksud keji terhadap dirimu.”

Sin liong mengerutkan alisnya, sedikitpun dia tidak merasa takut karena memang dia tidak mempunyai niat buruk terhadap siapa pun di dunia ini. “Lo-eng-hiong, aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun juga. Siapa orangnya yang akan menggangguku?”

Kakek itu memandang terharu. “Ahh…kau benar-benar seorang yang aneh dan bersih hatimu. Kalau aku memiliki kepandaian, aku akan melindungimu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, bukan hanya karena dua kali kau menolongku, melainkan karena tidak rela aku melihat orang mau merusak seorang bocah ajaib seperti engkau ini. Akan tetapi 2 orang iblis itu…” Sin-hek-houw menggiggil dan kelihatan jerih sekali.

“Siapakah mereka dan apa yang mereka kehendaki dari aku?”

“Di dunia kang-ouw, banyak terdapat golongan sesat, manusia-manusia iblis termasuk orang seperti aku. Akan tetapi dibandingkan dua orang yang kumaksudkan itu, mereka adalah dua ekor harimau buas sedangkan orang seperti aku hanyalah seekor tikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian pengemis, kelihatan seperti orang miskin yang alim, namun dialah iblis nomor satu, ketua Pat-Jiu Kai-pang, seorang yang memiliki rumah seperti istana dan wajahnya yang biasa dan alim menyembunyikan watak yang kejamnya melebihi iblis sendiri! Celakalah engkau kalu sudah berada di tangan kakek ini Sin-tong.”

“Hemmm, kurasa seorang kakek seperti dia tidak membutuhkan seorang anak kecil seperti aku. Aku tidak khawatir dia akan mengangguku, Lo-eng-hiong!”

“Tidak aneh kalau kau berpendapat demikian, karena kau seorang anak ajaib yang berhati dan berpikiran polos dan murni. Akan tetapi aku khawatir sekali, apa lagi iblis kedua yang tidak kalah kejamnya. Dia seorang wanita, cantik dan tak ada yang tahu berapa usianya. Kelihatannya cantik, rambutnya panjang harum dan selalu membawa sebuah payung, kelihatannya lemah dan membutuhkan perlindungan. Akan tetapi, seperti iblis pertama, semua kecantikan dan kelemah-lembutannya itu menyembunyikan watak yang sesungguhnya, watak yang lebih keji dan kejam daripada iblis sendiri.”

“Lo-enghiong, harap saja Lo-enghiong tidak memburuk-burukkan orang lain seperti itu. Aku tidak percaya.”

Kakek itu menarik napas panjang lalu bangkit berdiri. “Aku sudah memberi peringatan kepadamu Sin-tong. Dan kalau kau mau, marilah kau ikut aku bersembunyi di tempat aman sehingga tidak ada seorang pun yang tahu. Setelah keadaan benar aman barulah kau kembali kesini. Aku mendengar berita angin bahwa dua iblis itu sedang menuju ke Jeng-hoa-san mencarimu.”

Namun Sin Liong menggeleng kepala “Aku dibutuhkan oleh penduduk pedusunan si sini, aku tidak pergi kemana-mana, Lo-enghiong.”

“Hemmm, sudahlah! Aku sudah berusaha memperingatkanmu. Mudah-mudahan saja benar-benar tidak terjadi seperti yang kukhawatirkan. Dan lebih-lebih lagi mudah-mudahan aku tidak akan terluka lagi seperti ini, sehingga kalau kau benar-benar sudah tidak berada lagi di sini, aku payah mencari obat. Selamat tinggal,Sin-tong dan sekali lagi terima kasih.”

“Selamat jalan, Lo-enghiong, semoga lekas sembuh.”

Orang itu berjalan menyeret kakinya yang terluka, baru belasan langkah menoleh lagi dan berkata, “Benarkah kau tidak mau ikut bersamaku untuk bersembunyi, Sin-tong?”

Sin Liong tersenyum dan menggeleng kepala tanpa menjawab.

“Sin-tong, siapakah namamu yang sesungguhnya?”

“Aku disebut Sin-tong, biarpun aku merasa seorang anak biasa, aku tidak tega menolak sebutan itu. Kau mengenalku sebagai Sin-tong, itulah namaku.”

Sin-hek-houw menggeleng kepala, melanjutkan perjalanannya dan masih bergeleng-geleng dan mulutnya mengomel, “Anak ajaib, anak ajaib..sayang..!” Dan dia mengepal tinju, seolah-olah hendak menyerang siapa pun yang akan menganggu bocah yang dikaguminya itu.

Beberapa hari kemudian semenjak Sin-hek-houw datang minta obat kepada Sin Liong, makin banyaklah orang yang datang membisikkan kepada anak itu tentang geger di dunia kang-ouw tentang dirinya. Bermacam-macam berita aneh yang didengar oleh Sin Liong tentang ancaman dan lain-lain mengenai dirinya, namun dia sama sekali tidak ambil peduli dan tetap saja bersikap tenang dan bekerja seperti biasa, tidak pernah gelisah, bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan tentang berita yang didengarnya itu.

 


Beberapa pekan kemudian, pagi hari dari arah timur kaki Pegunungan Jeng-hoa-san tampak berjalan eorang kakek seorang diri, menoleh ke kanan dan kiri seolah-olah menikmati pemandangan alam di sekitar tempat itu, kakek ini usianya tentu sudah enam puluhan tahun, tubuhnya kurus kecil, pakaiannya penuh tambalan, dan wajahnya membayangkan kesabaran dan mulut yang ompong itu bahkan selalu menyungging senyum simpul keramahan. Dia melangkah perlahan-lahan memasuki hutan pertama di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, langkahnya dibantu dengan ayunan sebatang tongkat butut yang berwarna hitam, agaknya terbuat dari semacam kayu yang sudah amat tua sehingga seperti besi saja rupanya. Agaknya dia seorang pengemis tua yang hidupnya serba kekurangan namun yang dapat menyesuaikan diri sehingga tidak merasa kurang, bahkan kelihatannya gembira, menerima hidup apa adanya dan hatinya selalu senang. Buktinya ketika dia mendengar kicau burung-burung, kakek ini membuka mulutnya dan bernyanyi pula! Akan tetapi kata-kata dalam nyanyiannya itu tentu akan membuat setiap orang yang mendegarnya mengerutkan kening, karena selain aneh, juga menyimpang dari ajaran kebatinan umumnya!

“Apa artinya hidup kalau hati tak senang? Apa artinya hidup kalau segala keinginan tak terpenuhi? Puluhan tahun mempelajari ilmu Bekal memenuhi segala kehendak Berenang dalam lautan kesenangan Matipun tidak penasaran!”

Berkali-kali pengemis ini bernyanyi dengan kata-kata yang itu-itu juga, suaranya halus dan cukup merdu dan sambil bernyanyi dia mengatur irama lagu dengan ketukan tongkatnya di atas tanah lunak atau kebetulan mengenai batu yang keras, ujung tongkat itu tentu membuat lubang. Kedua kakinya yang bersepatu butut itu sendiri tidak meninggalkan jejak seolah-olah dia tidak menginjak tanah akan tetapi tongkat itu membuat jejak jelas karena setiap kali melubangi tanah maupun batu. Adapun kaki itu sendiri, biarpun menginjak tanah basah, sama sekali tidak meninggalkan bekas.

Beberapa menit kemudian setelah kakek aneh ini lewat, tampak berkelebat bayangan orang, juga datang dari arah timur melalui kaki bukit itu. Mereka itu terdiri dari 12 orang laki-laki dari usia tiga puluh sampai empat puluh tahun, dan seorang wanita berusia dua puluh lima tahun, berwajah manis dan bertubuh bagus dengan pinggang ramping. 12 orang laki-laki itu kesemuanya kelihatan gagah dan pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat, sedangkan gerakan mereka yang ringan cekatan membuktikan bahwa mereka bukanlah sembarangan orang kang-ouw melainkan rombongan orang gagah yang berilmu. Hal ini memang tidak salah, karena mereka itulah yang terkenal dengan julukan Cap-sa-sinhiap (13 Pendekar Sakti) murid-murid utama dari Partai Besar Bu-tong-pai!

“Tahan dulu, para suheng!” Tiba-tiba wanita cantik itu mengangkat tangannya ke atas dan memperingatkan para suhengnya, kemudian dia menuding ke bawah dan berkata, “Lihat ini…!”

Tiga Belas orang ini memperhatikan bekas tusukan tongkat pengemis tadi yang jaraknya teratur dan biarpun tiba di atas batu, tetap saja tampak batu itu berlubang. “Siapa lagi kalau bukan dia?” kata gadis itu dengan alis berkerut.

“Tenaga tusukan tongkat yang hebat” kata seorang.

“Dan jejak kakinya tidak tampak, tak salah lagi, Pat-jiu Kai-ong (Raja Pengemis Berlengan Delapan), tentu telah lewat disini, dan baru saja. Hayo cepat kita mengejarnya! Jangan sampai dia mendahului kita memasuki Hutan Seribu Bunga!” kata orang tertua di antara mereka, seorang berusia empat puluh tahun yang bermuka seperti harimau.

Karena kini merasa yakin bahwa jejak lubang-lubang itu tentu terbuat oleh tongkat Pat-jiu kai-ong, maka tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai itu mencabut senjata masing-masing dan tampaklah berkilaunya senjata tajam itu meluncur ke depan ketika tiga belas orang itu mengerahkan ginkang mereka dan menggunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran ke depan, ke arah jejak berlubang itu. Tak lama kemudian terdengarlah oleh mereka bunyi nyanyian kakek pengemis tadi. Tiga belas orang ini memperlambat larinya dan satu-satunya wanita diantara mereka mengomel lirih, “Hemm, dasar manusia iblis. Selama hidupnya mengejar kesenangan dan demi kesenangan dia tidak segan melakukan hal-hal terkutuk yang kejamnya melebihi iblis sendiri!”

“Sssssttt, Sumoi, terhadap orang seperti dia kita harus berhati-hati. Semenjak dahulu, Bu-tong-pai tidak pernah bermusuhan dengan tokoh kang-ouw yang manapun juga, tidak pula mencampuri urusan mereka. Maka biarlah nanti kita bertanya dia secara baik-baik dan kalau tidak terpaksa sekali lebih baik kita menghindarkan pertempuran.” Kata Twa-su-heng (kakak seperguruan tertua) mereka.

Semua sutenya mengangguk, akan tetapi sumoinya mengomel, “Siapakah yang takut kepadanya?” Dia melintangkan pedangnya. Memang nona yang bernama The Kwat Lin ini, terkenal berhati keras dan pemberani dan memang ilmu pedangnya hebat maka tidaklah mengherankan apabila diat terhitung seorang di antara Capsha Sin-hiap yang terkenal di dunia kang-ouw.

“Sumoi, kita harus mentaati perintah Suhu, agar tidak membawa Bu-tong-pai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain, baik kaum bersih maupun kaum sesat. Karena itu, dalam pertemuan ini, serahkan saja kepadaku untuk mewakili kalian semua!” Karena maklum bahwa dia tidak boleh melanggar perintah gurunya dan bahwa twa-suheng ini selain paling lihai juga merupakan seorang yang mewakili Suhu mereka, Kwat Lin mengangguk biarpun bibirnya yang merah tetap cemberut tidak puas. Dia merasa tidak puas melihat sikap jerih yang diperlihatkan para suhengnya. Cap-sha Sin-hiap mempunyai nama besar di dunia kang-ouw, disegani kawan ditakuti lawan, masa sekarang berhadapan dengan seorang tokoh sesat saja kelihatan gentar?

Suara nyanyian itu makin keras, tanda bahwa jarak di antara mereka dengan kakek itu makin dekat. Dengan ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna, tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu dan dapat menyusul dan berkelebatlah tubuh mereka, dari kanan kiri dan atas, tahu-tahu mereka telah berdiri menghadap di depan kakek pengemis dengan sikap keren dan gagah sekali. Kakek pengemis itu masih melanjutkan nyanyiannya sambil berdiri memandang, dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Kwat Lin, dia tidak meyembunyikan kekagumannya. Setelah nyanyiannya berhenti, barulah dia tersenyum dan berkata, “Eh-eh, apakah kalian ini serombongan pemain akrobat yang hendak menjual kepandaian? Aku seorang pengemis tidak mempunyai uang untuk membayar upah kalian!”

“Harap Locianpwe tidak berpura-pura lagi. Kami tahu bahwa Locianpwe adalah Pat-jiu-kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Delapan Lengan) yang terhormat. Locianpwe adalah tokoh terkenal yang berjuluk Pat-jiu Kai-ong, bukan?”

Kakek yang mukanya kelihatan sabar dan baik hati itu tersenyum, senyumnya juga simpatik dan ramah. Tiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu yang hanya baru mengenal nama kakek sakti kaum sesat ini, diam-diam merasa heran bahkan sangsi apakah benar mereka berhadapan dengan Pat-jiu Kai-ong yang kabarnya kejamnya seperti iblis, karena kakek ini kelihatan halus tutur sapanya dan begitu ramah!

“Ha..ha..ha, sungguh sukar jaman sekarang ini untuk bersembunyi dan menyembunyikan diri. Orang-orang muda sekarang amat tajam penciumannya dan penglihatannya, biarpun belum pernah jumpa sudah mengenal orang. Orang-orang muda yang gagah dan cantik”, dia memandang Kwat Lin lagi dengan kagum, “Tidak keliru dugaan kalian aku adalah Pat-jiu Kai-ong, seorang pengemis tua yang hanya memiliki sebatang tongkat butut ini. Tidak tahu siapakah kalian dan perlu apa kalian menghadang perjalananku?”

“Kami adalah Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai!” kata Kwat Lin dan karena sudah terlanjur, maka percuma saja twa-suhengnya mencegahnya dengan pandang matanya.

“Benar, kami adalah murid-murid Bu-tong-pai, Locianpwe,” kata Twa-suheng itu dengan hati tidak enak karena sumoinya yang lancang itu ternyata telah membuka kartu dan mengaku bahwa mereka dari Bu-tongpai, berarti membawa-bawa nama perkumpulan mereka.

“Ha..ha..ha, bagus. Memang Bu-tong-pai mempunyai banyak murid pandai, gagah dan cantik sepanjang kabar yang kudengar. Akan tetapi kalau tidak salah, aku tidak pernah berurusan dengan Bu-tong-pai.”

Melihat sikap kakek itu masih ramah dan kata-katanya juga halus dan tidak bermusuh, twa-suheng itu menjadi makin tidak enak. Akan tetapi karena dia maklum orang macam apa adanya kakek di depannya ini, dan betapa Sin-tong yang mereka dengar merupakan seorang anak ajaib yang luar biasa dan sudah menolong manusia dengan pengetahuan yang tepat mengenai khasiat tetumbuhan yang mengandung obat, maka tetap saja dia merasa khawatir akan keselamatan Sin-tong itu kalau sampai kakek datuk sesat ini bertemu dengan anak itu. “Apa yang Locianpwe katakan memang benar. Di antara Locianpwe dengan Bu-tong-pai, tidak pernah ada urusan. Dan sekali ini, kami orang-orang muda dari Bu-tong-pai juga tidak berniat untuk menganggu Locianpwe yang terhormat. Hanya kami mendengar berita bahwa di antara banyak tokoh kang-ouw, Locianpwe juga berminat kepada anak kecil budiman yang terkenal dengan sebutan Sin-tong dan yang berdiam di dalam Hutan Seribu Bunga. Benarkah ini, dan apakah Locianpwe sekarang sedang menuju ke hutan itu?”

Mulai berubah wajah kakek itu mendengar ucapan ini, senyumnya masih ada akan tetapi sepasang matanya yang tadinya berseri gembira itu kehilangan cahaya kegembiraannya dan berubah dengan sinar kilat yang mengejutkan mereka semua. “Hemmm, orang-orang muda yang lancang. Kalau benar aku hendak pergi mengunjungi Sin-tong, kalian mau apakah?”

Tiga belas orang anak murid Bu-tong-pai itu sudah dapat “Mencium” keadaan yang membuat mereka semua siap siaga. Mereka melihat bahwa kakek yang kelihatannya halus budi itu dan ramah ini mulai memperlihatkan “tanduknya” atau watak sesungguhnya. “Locianpwe, kalau benar demikian, kami hanya mohon kepada Locianpwe agar tidak mengganggu Sintong.”

“Apamukah bocah itu?”

“Bukan apa-apa, Locianpwe. Namun mendengar betapa anak ajaib itu telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu tanpa pamrih, maka sudahlah menjadi kewajiban semua orang gagah di dunia kang-ouw untuk menjaga keselamatannya.” Perubahan hebat pada diri kakek itu. Kini senyumnya bahkan lenyap dan mulutnya menyeringai penuh sikap mengejek, matanya berkilat-kilat dan suaranya berubah kaku, ketus dan memandang rendah. “Anak-anak kurang ajar! Apakah Si Tua Bangka Kui Bho Sanjin yang mengutus kalian?”

“Guru kami tidak tahu-menahu tentang ini. Kami kebetulan berada di daerah ini dan mendengar akan Sintong yang terancam bahaya, maka kami melihat Locianpwe lalu sengaja hendak bertanya. Tentu saja kalau Locianpwe tidak menghendaki Sin-tong, kami pun sama sekali tidak kurang ajar dan kami mohon maaf sebanyaknya.”

“Aku memang menuju ke Hutan Seribu Bunga. Mengapa kalian menyangka bahwa aku akan mencelakai Sin-tong?”

Tiga belas pendekar Bu-tong-pai itu makin tegang. Kakek ini sudah mulai berterus terang, maka tiada salahnya kalau mereka bersikap waspada dan berterus terang pula.

“Siapa yang tidak mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong sedang menyempurnakan ilmu iblis yang disebut Hiat-ciang-hoat-sut (Ilmu Hitam Tangan Darah)?” Tiba-tiba Kwat Lin berseru sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka kakek itu.

Para suhengnya terkejut, akan tetapi ucapan telah terlanjur dikeluarkan dan memang dalam hati mereka terkandung tuduhan ini. Ilmu Hiat-ciang hoat-sut adalah semacam ilmu hitam yang hanya dapat dipelajari oleh kaum sesat karena ilmu ini membutuhkan syarat yang amat keji, yaitu menghimpun kekuatan hitam dengan jalan menghisap dan minum darah, otak dan sumsum anak-anak yang masih bersih darahnya! Tentu saja bagi seorang yang sedang menyempurnakan ilmu iblis ini, Sin-tong mempunyai daya tarik yang luar biasa, karena darah, otak dan sumsum seorang bocah seperti Sin-tong yang ajaib, lebih berharga dari darah, otak dan sumsum puluhan orang bocah biasa lainnya!.

Tiba-tiba kakek itu tertawa lebar. Hah-hah-hah-hah, memang benar! Dan satu-satunya bocah yang akan menyempurnakan ilmuku itu adalah Sin-tong! Dan aku bukan hanya suka minum dan menghisap darah, otak dan sumsum bocah yang bersih, juga aku bukannya tidak suka bersenang-senang dengan perawan cantik seperti engkau, Nona!”

“Singggg! Singggg…!” Tampak sinar-sinar berkilauan ketika pedang yang tiga belas buah banyaknya itu bergerak secara berbarengan dan tiga belas orang pendekar itu telah mengurung si Kakek yang masih tertawa-tawa.

“Heh-heh, kalian mau coba-coba main-main dengan Pat-jiu Kai-ong? Sayang kalian masih muda-muda harus mati, kecuali Nona manis. Andaikata Si Tua Bangka Kui Bhok Sanjin berada disini sekalipun, dia juga tentu akan mampus kalau berani menentang Pat-jiu Kai-ong!”

“Serbu dan basmi iblis ini!” Twa-suheng itu berteriak dan mereka sudah menerjang maju dengan bermacam gerakan yang cepat dan dahsyat.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan suara pekik yang dahsyat, pekik yang disusul dengan suara tertawa menyeramkan. Suara ketawa ini bergema di seluruh hutan, sehingga terdengar suara ketawa menjawabnya dari semua penjuru, seolah-olah semua setan dan iblis penjaga hutan telah datang oleh panggilan kakek itu. Hebatnya, suara pekik dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan mereka terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan jantung mereka seolah-olah berhenti berdenyut. Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera berseru, “Awas. Saicu-hokang (Ilmu menggereng seperti singa berdasarkan khikang)!”

Seruan ini menyadarkan para sutenya dan sumoinya. Mereka cepat mengerahkan sinking sehingga pengaruh Saicu-hokang itu membuyar. Pedang mereka melanjutkan gerakannya. “Sing-sing…. siuuuut…. trang-trang-trang..Heh-heh-heh!” Gulungan sinar pedang-pedang yang menyambar ke arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, dapat ditangkis oleh gulungan sinar tongkat hitam yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar Bu-tong-pai itu terkejut ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang mereka tertangkis tongkat. Hal ini menandakan bahwa Si kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata terbuat dari logam pilihan sehingga mampu menahan ketajaman pedang di tangan mereka, padahal semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka yang ampuh.

“Ha..ha..ha, inikah Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima Unsur) dari Bu-tong-pai yang terkenal? Ha..ha, tidak seberapa!” Sambil menggerakan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang, kakek itu tertawa dan mengejek.

“Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!” Teriak si Twa-suheng melihat betapa kakek itu benar-benar amat tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya. Tiba-tiba tiga belas orang pendekar itu merobah gerakan mereka, kini mereka tidak lagi menyerang dari kedudukan tertentu, melainkan mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil bergerak berkeliling mereka menyusun serangan berantai yang susul menyusul dan yang datangnya dari arah yang tidak tertentu. Diam-diam kakek itu terkejut. Sejenak dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan tertentu, biarpun gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan dapat menggerakan tongkat secara otomatis untuk menangkis semua pedang yang dating menyambar. Akan tetapi sekarang, sukar sekali menentukan dari mana serangan akan dating, dan gerakan mengelilinginya itu benar-benar mendatangkan rasa pusing. Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan memperhatikan para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin-kiam-tin dia tahu behwa mereka kalau dia tidak cepat mendahului mereka, dia bisa terancam bahaya. Tidak disangkanya bahwa Si Tua Bangka Kui Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan pedang yang demikian lihainya. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah menjadi merah sekali, merah darah!

“Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!” Si Twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna tangan kiri kakek itu. Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, lebih dahsyat daripada tadi dan tubuhnya mendadak membalik, tongkatnya menyambar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan.

“Prak-prak…dessss!” Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat, sedangkan seorang lagi terkena pukulan jarak jauh Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dadanya tampak ada bekas lima jari merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus. Itulah Hiat-ciang Hoat-sut, pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti Sin-tong!.

Sepuluh orang pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat dan penuh dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil bergerak menyerang, dan kembali tiga orang lawan roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk membebaskan diri. Empat kali terdengar dia memekik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas semua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup tinggal The Kwat Lin seorang!

Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek dia menghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua belas orang suhengnya telah tewas semua! Dua belas orang suhengnya yang selama ini berjuang sehidup semati dengannya, kini telah menjadi mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu mengurung dia dan Pat-jiu Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya. “Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!” Kwat Lin berseru mengandung isak tertahan. “Haiiiit…..!” tubuhnya melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan dengan kebencian meluap-luap.

Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping menghantam pedang yang menusuknya. “Krekkk!” Pedang itu patah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin! Dara itu membelalakan matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat mengerikan itu, tiba-tiba dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat untuk membenturkan kepalanya pecah pada batang pohon itu! Kwat Lin melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan daripada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, dia mengambil keputusan nekat untuk membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada batang pohon.

“Bukkkkkk!” Bukan batang pohon yang dibentur kepalanya, melainkan perut lunak dan tubuhnya berada dalam pelukan Pat-jiu Kai-ong yang entah kapan telah berada di situ menghadangnya di depan pohon!

“Lepaskan aku!!” Kwat Lin berteriak dan tubuhnya tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu, jauh kembali ke dalam lingkaran mayat-mayat suhengnya. Dengan langkah gontai, kakek itu tersenyum-senyum memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas para penggeroyoknya, menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah tersudut seperti seekor kelinci muda ketakutan menghadapi seekor harimau yang siap menerkamnya. Perasaan ngeri yang luar biasa membuat Kwat Lin cepat menggerakan tangan kanannya, dengan dua buah jari tangan dia menusuk ke arah ubun-ubun kepalanya sendiri sambil mengerahkan sinkang. Batu karang saja akan berlubang terkena tusukan jari tangannya seperti itu apa lagi ubun-ubun kepalanya.

“Plakkk!”

“Aihhh….!” Kwat Lin menjerit ketika tangannya itu tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah berdiri di depannya dan telah mencegah dia membunuh diri!

“Bretttt…bretttt….!” Tongkat kakek itu bergerak beberapa kali dan seperti disulap saja seluruh pakaian yang membungkus tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai, membuatnya menjadi telanjang bulat sama sekali! Kwat Lin menjerit akan tetapi tiba-tiba, seperti seekor kucing menerkam tikus, sambil mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kakek itu telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka berdua bergulingan diatas rumput yang bernoda darah para korban keganasan kakek itu! Kwat Lin melawan sekuat tenaga, namun sia-sia belaka. Untuk membunuh diri tidak ada jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan semua jeritan tangis dan permohonan, semua usahanya meronta-ronta tiada gunanya sama sekali. Bahkan semua usaha ini malah menyenangkan hati si Kakek. Seolah-olah seekor kucing yang menjadi gembira dapat mempermankan seekor tikus yang telah tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya dan melihatnya tersiksa dan meronta sebelum menjadi mangsanya!

Selama tiga hari tiga malam Kwat Lin menderita siksaan yang amat hebat. Diperkosa, dihina, diejek. Pada hari ketiga,pagi-pagi sekali dalam keadaan lebih banyak yang mati daripada yang hidup, dalam keadaan setengah sadar, rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang mendelik memandang kakek itu. Kwat Lin melihat kakek itu mengenakan pakaian, menyambar tongkatnya dan tertawa memandang kepadanya yang masih rebah terlentang dalam keadaan telanjang bulat di atas rumput berdarah. “Ha-ha-ha, sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas, dan kalau kau mau membunuh diri, silahkan. Ha-haha!”

Biarpun Kwat lin berada dalam keadaan menderita hebat, kehabisan tenaga, hampir mati karena lelah, muak, jijik, malu, marah dan dendam tercampur aduk menjadi satu dalam benaknya, namun kebencian yang meluap-luap masih memberinya tenaga untuk berseru, “Jahanam, sekarang aku harus hidup! Aku harus hidup untuk melihat engkau mampus di tanganku!”

“Ha..ha..ha..ha! Kalau sewaktu-waktu kau merasa rindu kepadaku, manis, datang saja ke Hong-san, sampai jumpa!” Kakek itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu meninggalkan Kwat-Lin yang masih rebah dan kini wanita yang bernasib malang ini menangis sesenggukan dia antara mayat-mayat dua belas suhengnya yang sudah mulai membusuk dan berbau! Dapat dibayangkan betapa tersiksa rasa badan wanita muda ini. Dia dipaksa, diperkosa, dihina di antara mayat-mayat dua belas suhengnya, bahkan sewaktu keadaan mayat-mayat itu mulai membusuk dan menyiarkan bau yang hampir tak tertahankan, kakek itu masih saja enak-enak mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang kejam melebihi iblis sendiri. 

Tiba-tiba Kwat lin bangkit serentak, seolah-olah ada tenaga baru memasuki tubuhnya yang menderita nyeri, lelah dan kelaparan karena selama tiga hari tiga malam dia dipermainkan tanpa diberi makan atau minum oleh kakek iblis itu. Dia berdiri tegak, telanjang bulat, lalu memandang ke arah semua mayat suhengnya, dan matanya menjadi liar, keluar suara parau dari mulutnya yang pecah-pecah bibirnya oleh gigitan kakek iblis. “Suheng sekalian, dengarlah! Aku The Kwat Lin, bersumpah untuk membalaskan kematian suheng sekalian. Satu-satunya tujuan hidupku sekarang hanyalah untuk membalas dendam dan membunuh iblis busuk Pat-jiu Kai-ong!”

Tiba-tiba dia terhuyung mundur memandang wajah twa-suhengnya. Pria inilah sebetulnya yang sudah sejak dahulu mencuri hatinya. “Twa Suheng……!” Dia menubruk dan berlutut di dekat mayat yang sudah mulai membusuk itu.

“Jangan berduka, Twa-suheng….jangan menangis……” Dia berdiri sesunggukan.

“Apa…..? Aku telanjang…..? Pakaianmu……?” Seperti orang gila yang bicara dengan sesosok mayat, Kwat Lin bertanya, kemudian dia membuka baju dab celana luar dari mayat yang sudah kaku kejang itu dengan agak susah, dan mengenakan pada tubuhnya sendiri. Tentu saja agak kebesaran.

“Hi-hi-hik, pakaianmu kebesaran, Suheng…….” Dia memandang wajah mayat twa-suhengnya dan tertawa lagi.

“Hi-hik,nah,begitu, tertawalah Twa-suheng, tertawalah para suheng sekalian……, tertawa dan bergembiralah karena dendam kalian pasti akan kubalaskan…! Hi-hi-hik… hu-hu-huuuhhh…” Dia menangis lagi terisak-isak dan dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan tempat mengerikan itu setelah mengambil pedang twa-suhengnya. Pedang itu adalah pedang pusaka terbaik di antara pedang ketiga belas orang pendekar Bu-tong-pai itu, sebatang pedang pemberian Ketua Bu-tong pai sendiri, pedang yang di dekat gagangnya ada gambar setangkai bunga Bwee merah, maka pedang itu diberi nama Ang-bwe-kiam (Pedang Bunga Bwee Merah).

Dia terhuyung-huyung, pergi tak tentu tujuan, asal menggerakkan kedua kaki melangkah saja, langkah yang kecil-kecil dan terhuyung-huyung karena tubuhnya masih terasa lelah, lapar dan sakit semua. Kadang-kadang terdengar dia terisak menangis, kemudian terkekeh geli sehingga kalau ada orang yang bertemu dengan wanita yang bibirnya pecah-pecah mukanya penuh debu dan air mata, matanya membengkak dan merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya terlalu besar, ini tentu orang itu akan merasa seram, mengira bahwa setidaknya dia adalah seorang wanita gila. Dugaan ini memang tidak meleset terlalu jauh. Penderitaan lahir batin yang melanda diri Kwat Lin membuat wanita malang ini tidak kuat menahan sehingga terjadi perubahan pada ingatannya.

 


Pada hari yang sama ketika Cap-sha Sin-hiap roboh di tangan kakek iblis Pat-jiu Kai-ong di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, terjadi pula peristiwa hebat di bagian lain dari Pegunungan itu. Kalau Cap-sha Sin-hiap roboh di daerah timur pegunungan, maka di daerah barat terjadi pula peristiwa yang hampir sama sungguhpun sifatnya berbeda.

Pada pagi hari itu, seorang wanita berjalan seorang diri mendaki lereng pertama dari pegunungan Jeng-hoasan sebelah barat. Wanita itu memasuki hutan dengan wajah berseri dan harus diakui bahwa wajah wanita cantik manis sekali, mempunyai daya tarik yang kuat sungguhpun usianya sudah empat puluh tahun. Tidak ada keriput mengganggu kulit mukanya yang putih halus, mulutnya yang agak lebar itu mempunyai bibir yang senantiasa menantang dan seolah-olah buah masak yang sudah pecah, akan tetapi kalau orang memperhatikan matanya, mata yang jernih dan bersinar tajam, maka hati yang kagum akan kecantikannya tentu akan berubah menjadi ragu-ragu, curiga dan ngeri karena sepasang mata itu tidak pernah, atau jarang sekali berkedip. Mata itu terbuka terus seperti mata boneka! Dengan langkah-langkah gontai dan lemas, membuat buah pinggulnya menonjol dan bergoyang ke kanan kiri, wanita itu berjalan seorang diri, memutar-mutarsebuah payung yang dipanggulnya. Sebuah payung hitam yang tertutup, gagangnya melengkung dan ujungnya meruncing. Pakaiannya serba mewah dan indah, rambutnya panjang sekali, digelung ke atas seperti sebuah menara hitam yang indah, terhias tusuk sanggul dari mutiara dan emas. Yang menarik adalah kuku-kuku jari tangannya. Kuku yang panjang terpelihara, diberi warna merah, panjang meruncing dan agak melengkung seperti kuku kucing atau harimau. Pakaiannya yang mewah itu dibuat terlalu pas dengan tubuhnya sehingga membungkus ketat tubuh itu, membayangkan lekuk lengkung yang menggairahkan dari dada sampai ke kaki karena celananya yang terbuat dari sutera merah muda itu pun ketat sekali! Biarpun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan genit (tante girang), namun sesungguhnya dia bukanlah manusia biasa saja!

Inilah dia yang terkenal sekali di dunia hitam kaum penjahat, karena wanita ini bukan lain adalah Kiam-mo Cai-li (Wanita Pandai Berpayung Pedang), sebuah julukan yang membuat bulu tengkuk orang yang sudah mengenalnya berdiri sangking ngerinya karena wanita yang sebenarnya hanya bernama Liok Si ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi mengerikan dan kekejaman yang sukar dicari bandingnya! Bahkan ia disamakan dengan wanita cantik penjelmaan siluman rase yang biasa mengganggu pria, dan setiap orang pria yang terjebak dalam pelukannya tentu akan mati kehabisan darah, disedot habis oleh siluman ini! Tentu saja bagi mereka yang belum pernah berjumpa dengannya, sama sekali tidak akan mengira bahwa wanita yang berlenggak-lenggok dengan payung di pundak itulah iblis wanita yang menggeggerkan dunia kang-ouw dengan perbuatannya yang luar biasa.

Dan mudah saja diduga mengapa pada hari itu Kiam-mo Cai-li ini mendaki lereng Jeng-hoa-san! Tentu saja dia pun mendengar berita menggeggerkan dunia kang-ouw akan adanya Sin-tong, Si Bocah ajaib dan mendengar ini, kontan keras hatinya berdebar-debar penuh ketegangandan penuh birahi! Dia dapat membayangkan betapa tenaga mukjijat yang dihimpunnya secara ilmu hitam dengan jalan menghisap sari tenaga ratusan orang pria, akan meningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa menghisap kejantanan si Bocah Ajaib itu! Maka begitu mendengar akan bocah ajaib di puncak Pegunungan Jeng-hoasan di dalam Hutan Seribu Bunga, dia segera menempuh perjalanan jauh mengunjungi pegunungan itu.

Perjalananyang jauh karena biarpun sering kali Liok Si ini pergi merantau namun dia memiliki sebuah pondok kecil seperti istana mewahnya terletak di tempat yang tidak lumrah dikunjungi manusia, yaitu di daerah Rawa Bangkai. Rawa-rawa yang liar ini terdapat di kaki Pegunungan Luliang-san, merupakan daerah maut karena banyak lumpur dan pasir yang berputar, merupakan perangkap maut bagi manusia dan hewan. Namun di tengah-tengah rawa-rawa itu, yang tidak dapat dikunjungi oleh manusia lain, terdapat sebuah tanah datar, tanah keras semacam pulau dan diatas pulau inilah letaknya istana kecil milik Liok Si yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, bersama belasan orang pembantu-pembantuyang sudah menjadi orangorang kepercayaannya.

Dia disebut Cai-li (Wanita Pandai) karena sebetulnya wanita ini dulunya adalah puteri seorang sasterawan kenamaan dan semenjak kecil Liok Si telah mempelajari kesusasteraan sehingga dia mahir sekali akan sastra, bahkan dia pernah menyamar sebagai pria menempuh ujian pemerintah sehingga dia lulus dan mendapat gelar siucai! Akan tetapi, penyamarannya keetahuan dan seorang pembesar tinggi istana yang kagum kepadanya lalu mengambilnya sebagai seorang selir. Selain ilmu sastra, juga Liok Si ini semenjak kecil digembleng ilmu oleh para sahabat ayahnya, apalagi setelah menjadi selir pembesar tinggi di istana, dia mengadakan hubungan dengan kepala-kepala pengawal, dengan pengawal-pengawal kaisar yang berilmu tinggi, menyerahkan tubuhnya sebagai pengganti ilmu silat-ilmu silat tinggi yang diperolehnya sebagai “bayaran”. Akhirnya, pembesar itu mengetahui akan tabiat selirnya ini yang ternyata adalah seorang wanita yang gila pria maka dia diusir dari istana pembesar itu.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Dia membunuh Si Pembesar, membawa banyak harta benda yang dicurinya dari istana itu, kemudian minggat! Belasan tahun kemudian, muncullah nama julukan Kiam-mo Cai-li, namun tidak ada yang menduga bahwa dia adalah Liok Si yang dahulu menjadi selir bangsawan dan yang membunuh bangsawanitu sehingga menjadi orang buruan pemerintah. Liok Si berjalan sambil tersenyum-senyum, kadang-kadang senyumnya melebar dan tampak giginya yang putih mengkilat dan di kedua ujungnya terdapat sebuah gigi yang agak meruncing sehingga sekelebatan mirip gigi caling sihung. Hatinya gembira sekali kalau dia membayangkan betapa akan sedapnya kalau dia dapat memperoleh bocah ajaib itu. “Hemmm, aku harus bersikap halus dan hati-hati terhadapnya, menikmatinya selama mungkin. Hemmm…”

Tiba-tiba dia terkejut dan menghentikan langkahnya, akan tetapi kembali dia tersenyum manis matanya mengerling tajam penuh kegairahan ketika melihat lima orang laki-laki berdiri di depannya dengan sikap gagah. Pandang matanya menyambar-nyambar dan terbayang kepuasan dan kekaguman. Memang, hati seorang wanita gila pria seperti Liok Si tentu saja menjadi berdebar tegang ketika melihat lima orang pria yang usianya rata-rata tiga puluh tahun lebih bertubuh tegap-tegap dan rata-rata berwajah tampan dan gagah! Seperti melihat lima butir buah yang ranum dan matang hati!

“Aih-aihh… Siapakah Ngo-wi (Anda berlima) yang gagah perkasa ini? Dan apakah Ngo-wi sengaja hendak bertemu dan bicara dengan aku?”

Seorang di antara mereka, yang usianya tiga puluh tahun, mukanya bulat dan alisnya seperti golok hitam dan tebal, berkata, “Apakah kami berhadapan dengan Kiam-mo Cai-li dari Rawa Bangkai?”

Wanita itu memainkan bola matanya memandangi wajah merka berganti-ganti dengan berseri, mulunya tersenyum ketika menjawab, “kalau benar mengapa? Kalian ini siapakah?”

“Kami adalah Kee-san Ngo-hohan(Lima Pendekar dari Gunung Ayam)”.

Kiam-mo Cai-li mengeluarkan bunyi “tsk-tsk-tsk” dengan lidahnya tanda kagum. Segera dia menjura dan berkata manis. “Aih, kiranya lima pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai murid-murid utama Hoa-san-pai? Aih, terimalah hormatnya seorang wanita bodoh seperti aku.”

“Harap Toanio(Nyonya) tidak mengejek dan bersikap merendah. Kami sudah tahu siapa adanya Kiam-mo Cai-li, dan karena melihat engkau mendaki Jeng-hoa-san, maka terpaksa kami memberanikan diri untuk menghadang.”

“Ehm…! Maksud kalian?” Senyumnya makin manis dan kerling matanya makin memikat. “Kami telah mendengar akan berita bahwa tokoh-tokoh kang-ouw sedang berusaha untuk memperebutkan Sin-tong yang berada di Hutan Seribu Bunga dan kami mendengar pula bahwa Kiam-mo Cai-li merupakan seorang di antara mereka yang hendak menculik Sin-tong. Karena kami telah berhutang budi, diberi obat oleh Sin-tong maka kami hanya dapat membalas budinya dengan melindunginya terutama dari tangan… maaf, para tokoh kaum sesat yang tentu tidak mempunyai itikad baik terhadap dirinya. Andaikata kami tidak berhutang budi sekalipun, mengingat bahwa Sin-tong adalah seorang anak ajaib yang telah banyak menolong orang tanpa pandang bulu, sudah menjadi kewajiban orang-orang gagah untuk melindunginya.”

Kembali Kiam-mo Cai-li tersenyum. “Terus terang saja, memang aku mendengar tentang Sin-tong dan aku ingin mendapatkannya, maka hari ini aku mendaki Jeng-hoa-san. Habis kalian mau apa?”

“Kalau begitu, kami minta dengan hormat agar kau suka membatalkan niatmu itu, Toanio. Kalau kau memaksa hendak menganggu Sin-tong, terpaksa kami akan merintangimu dan tidak membolehkan kau melanjutkan perjalanan!”

“Hi-hi-hik, galak amat! Lima orang laki-laki muda tampan gagah bertemu dengan seorang wanita cantik penuh gairah, sungguh tidak semestinya kalu bermain senjata mengadu nyawa!”

“Hemm, habis semestinya bagaimana?” tanya orang pertama dari Kee-san Ngo-hohan yang betapapun juga merasa jerih mendengar nama besar wanita ini dan mengharapkan wanita itu akan mengalah dan pergi dari situ, tidak mengganggu Sin-tong. Mata itu tajam mengerling dan senyumnya penuh arti, bibirnya penuh tantangan.

“Mestinya? Mestinya kita bermain cinta memadu kasih!”

“Perempuan hina!”

“Jalang!”

“Siluman betina”

Lima orang itu telah mencabut senjata masing-masing yaitu senjata golok besar yang selama ini telah mengangkat nama mereka di dunia kang-ouw. Kelima orang pendekar ini memang merupakan ahli-ahli bermain golok dengan Ilmu Hoa-san-to-hoat yang terkenal, dan selain itu juga mereka semua mahir akan ilmu menotok jalan darah yang bernama Sam-ci-tiam-hoat, yaitu ilmu menotok menggunakan tiga buah jari tangan. “Siaaaattt…singg…siang…”

“Ha-ha, bagus! kalian memang gagah sekali bermain golok, tentu lebih gagah kalau bermain cinta, hi-hik!” Kiam-mo Cai-li mengelak dan tiba-tiba payung hiatmnya berkembang terbuka. Payung itu merupakan senjata isimewa, terbuat dari baja yang kuat dan kainnya terbuat dari kulit badak yang kering dan sudah dimasak lemas, namun kuatnya luar biasa dapat menahan bacokan senjata tajam. Adapun ujung payung itu meruncing, merupakan ujung pedang, dan gagangnya yang melengkung itu pun dapat digunakan sebagai senjata kaitan yang lihai.

“Trang-trang-trang…!!” Bunga api berpijar ketika golok-golok itu tertangkis oleh payung dan karena kini tubuh wanita itu tertutup payung yang berkembang dan berputar-putar, maka sukarlah bagi lima orang itu untuk menyerangnya dari depan. Mereka lalu berloncatan dan mengurung wanita itu.

“Hi-hik, hayo keroyoklah. Kalu baru kalian lima orang ini saja, masih terlampau sedikit bagiku. Hi-hik, hendak kulihat sampai dimana kekuatan kalian apakah patut untuk menjadi lawan-lawanku untuk bermain cinta!”

“Perempuan rendah!” Orang pertama dari lima pendekar itu marah sekali, goloknya menyambar dahsyat, tapi tiba-tiba golok itu terhenti di tengah udara karena telah terikat oleh sebuah benda hitam panjang yang lembut. Kiranya wanita itu telah mengudar gelung rambutnya dan ternyata rambut itu panjangnya sampai ke bawah pinggulnya, rambut yang gemuk hitam, panjang dan harum baunya, bahkan bukan itu saja keistemewaannya, rambut itu dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh, sebagai cambuk yang kini berhasil membelit golok orang pertama dari Kee-san ngo-hohan! Sebelum orang ini sempat menarik goloknya, tangan kiri Kiam-mo Cai-li bergerak menghantam tengkuk orang itu dengan tangan miring. “Krekk!” Laki-laki itu mengeluh dan roboh tak dapat bangkit kembali karena dia telah terkena totokan istimewa yang membuat tubuhnya lumpuh sungguhpun dia masih dapat melihat dan mendengar.

Empat orang lainnya terkejut dan marah sekali. Mereka memutar golok lebih gencar lagi, bahkan kini tangan kiri mereka membantu dengan serangan totokan Sam-ci-tiam-hoat yang ampuh! Namun orang yang mereka keroyok itu tertawa-tawa mempermainkan mereka. Setiap serangan golok dapat dihalau dengan mudah oleh payung yang diputar-putar sedangkan ujung rambut yang panjang itu mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan menyambar-nyambar di atas kepala mereka, tidak menyerang, hanya mendatangkan kepanikan saja karena memang dipergunakan untuk mempermainkan mereka.

“Mampuslah!” Orang ke dua yang menyerang dengan golok ketika goloknya ditangkis, cepat dia “memasuki” lowongan dan berhasil mengirim totokan. Karena tempat terbuka yang dapat dimasuki jari tangannya di antara putaran payung itu hanya di bagian dada, maka dia menotok dada kiri wanita itu. Dalam keadaan seperti itu, menghadapi lawan yang amat tangguh, pendekar ini sudah tidak mau lagi mempergunakan sopan santun yang tentu tidak akan dilanggarnya kalau keadaan tidak mendesak seperti itu.

“Cusss…!” tiga buah jari tangan itu tepat mengenai buah dada kiri yang besar, tapi dia hanya merasakan sesuatu yang lunak hangat, sedangkan wanita itu sama sekali tidak terpengaruh, bahkan mengerling dan berkata, “Ihh, kau bersemangat benar, tampan. Belum apa-apa sudah main colek dada, hihik!”

Tentu saja pendekar ini menjadi merah sekali mukanya. Dia merasa malu akan tetapi juga penasaran. Ilmu totok yang dimilikinya sudah terkenal dan belum pernah gagal. Tadi jelas dia telah menotok jalan darah yang amat berbahaya di dada wanita itu, mengapa wanita itu sama sekali tidak merasakan apa-apa, bahkan menyindirnya dan dianggap dia mencolek dada? Dengan marah dia menerjang lagi bersama tiga orang sutenya.

“Sudah cukup, sudah cukup, rebah dan beristirahatlah kalian!” Tiba-tiba payung itu tertutup kembali, berubah menjadi pedang yang aneh dan segulung sinar hitam menyambar-nyambar mendesak empat orang itu, kemudian dari atas terdengar ledakan-ledakan dan berturut-turut tiga orang lagi roboh terkena totokan ujung rambut wanita sakti itu. Seperti orang pertama, mereka ini pun roboh tertotok dan lumpuh, hanya dapat memandang dengan mata terbelalak namun tidak menggerakan kaki tangan mereka!

Orang termuda dari mereka kaget setengah mati melihat betapa empat orang suhengnya telah roboh. Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan dengan kemarahan dan kebencian meluap dia memaki, “Perempuan hina, pelacur rendah, siluman betina, aku takkan mau sudah sebelum dapat membunuhmu!”

“Aihhh… kau penuh semangat akan tetapi mulutmu penuh makian menyebalkan hatiku!” Golok itu tertangkis oleh payung sedemikian kerasnya sehingga terpental dan sebelum laki-laki itu dapat mengelak, sinar hitam menyambar dan ujung rambut telah membelit lehernya! Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan libatan rambut dari lehernya dengan kedua tangan, akan tetapi begitu wanita itu menggerakkan kepalanya, rambutnya terpecah menjadi banyak gumpalan dan tahu-tahu kedua pergelangan lengan orang itu pun sudah terbelit rambut yang seolah-olah hidup seperti ular-ular hitam yang kuat.

“Nah, kesinilah, Tampan. Mendekatlah, kekasih. Kau perlu dihajar agar tidak suka memaki lagi!” Laki-laki itu sudah membuka mulut hendak memaki lagi, akan tetapi libatan rambut pada lehernya makin erat sehingga dia tidak dapat bernapas, kemudian rambut itu menariknya mendekat kepada wanita yang tersenyum-senyum itu! Kini laki-laki itu sudah berada dekat sekali, bahkan dada dan perutnya telah menempel pada dada yang membusung dan perut yang mengempis dari wanita itu. Tercium olehnya bau wangi yang aneh dan memabokkan, akan tetapi karena lehernya terbelit kuat-kuat, dan napasnya tak dapat lancar, maka dia terpaksa menjulurkan lidahnya keluar.

“Aihhh, kau perlu diberi sedikit hajaran, Tampan!”

Empat orang pendekar yang tertotok melihat dengan mata terbelalak penuh kengerian betapa wanita iut kini mendekatkan muka sute mereka yang termudda, kemudian membuka mulut dan mencium mulut sute mereka yang terbuka dan lidah yang terjulur keluar itu.Mereka melihat tubuh sute mereka berkelojot sedikit seperti menahan sakit, mata sute mereka terbelalak, namun wanita itu terus mencium dan menutup mulut pria itu dengan mulutnya sendiri yang lebar. Tak dapat terlihat oleh empat orang pendekar itu betapa wanita itu yang kejam dan keji seperti iblis, telah menggunakan giginya untuk menggigit sampai terluka lidah sute mereka yang terjulur keluar, kemudian menghisap darah dari luka di lidah itu! Mereka berempat hanya melihat betapa wanita itu memejamkan mata, baru sekarang mereka melihat wanita itu memejamkan mata, kelihatan penuh nikmat, akan tetapi wajah sute mereka makin pucat dan mata sute mereka yang terbelalak itu membayangkan kenyerian dan ketakutan yang hebat. Agaknya wanita itu tidak puas karena darah yang dihisapnya kurang banyak, maka kini dia melepaskan mulut pemuda itu dan memindahkan ciuman mulutnya ke leher si Pemuda. Dapat dibayangkan betapa kaget empat orang pendekar itu melihat bahwa mulut sute mereka penuh warna merah darah!

“Sute…!!!” Mereka berseru akan tetapi tidak dapat menggerakkan kaki tangan mereka. Sute mereka meronta-ronta seperti ayam disembelih, matanya melotot memandang ke arah para suhengnya seperti orang minta tolong, kemudian tubuhnya berkelojotan ketika wanita itu kelihatan jelas menghisaphisap lehernya ternyata bahwa urat besar di lehernya telah ditembusi gigi yang meruncing dan kini dengan sepuasnya wanita itu menghisap darah yang membanjir keluar dari urat di leher itu! Mata yang melotot itu makin hilang sinarnya dan pudar, wajahnya makin pucat dan akhirnya tubuh yang meregang-regang itu lemas. Orang termuda itu pingsan karena kehilangan banyak darah, takut dan ngeri. Kiam-mo Cai-li melepaskan libatan rambutnya dan tubuh itu tergulig roboh, terlentang dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

“Sute…!” Kembali mereka mengeluh dan dengan penuh kengerian mereka melihat betapa wanita itu menggunakan lidahnya yang kecil merah dan meruncing itu untuk menjilati darah yang masih belepotan di bibirnya yang menjadi makin merah. Wajahnya kemerahan, segar seperti kembang mendapat siraman, berseri-seri dan ketika dia mendekati empat orang itu, mereka terbelalak penuh kengerian.

Akan tetapi, wanita itu tidak menyerang mereka, agaknya dia sudah puas menghisap darah orang termuda tadi. Hanya kini kedua tangannya bergerak -gerak dan sekali renggut saja pakaian empat orang itu telah koyak-koyak. Kemudian dia bangkit berdiri, dengan gerakan memikat seperti seorang penari telanjang, dia membuka pakaiannya, menanggalkan satu demi satu sambil menari-nari! Sampai dia bertelanjang bulat sama sekali di depam empat orang itu yang membuang muka dengan perasaan ngeri dan sebal!

“Kalian layanilah aku, puaskanlah aku, senangkan hatiku dan aku akan membebaskan kalian berlima. Lihat, bukankah tubuhku menarik? Aku hanya ingin mendapatkan cinta kalian, aku tidak menginginkan nyawa kalian.”

“Cih, siluman betina! Kauanggap kami ini orang-orang apa? Kami adalah murid Hoa-san-pai yang tidak takut mati. Seribu kali lebih baik mampus daripada memenuhi seleramu yang terkutuk melayani nafsu berahimu yang menjijikan!” kata empat orang itu saling susul dan saling bantu.

Kiam-mo Cai-li tersenyum. “Hi-hik, begitukah? Kalau begitu, baiklah, kalian melayani aku sampai mampus!” Dia lalu membungkuk dan menarik lengan seorang di antara mereka, kemudian menggunakan kuku jari kelingking kiri menggurat beberapa tempat di punggung dan tengkuk pria ini. Orang itu menggigil, menggigit bibir menahan sakit, akan tetapi karena dia tidak mampu mengerahkan sinkang, dia tidak dapat melawan pengaruh hebat yang menggetarkan tubuhnya melalui luka-luka goresan kuku beracun dari kelingking itu. Mukanya menjadi merah, juga matanya menjadi merah dan napasnya terengah-engah.

Tiga orang pendekar yang lain memandang penuh kekhawatiran dan kengerian. Tiba-tiba wanita itu terkekeh, menggunakan tangan membebaskan totokan sehingga orang itu dapat menggerakkan kaki tangannya dan terjadilah hal yang membuat tiga orang pendekar yang masih rebah lumpuh itu terbelalak penuh kengerian. mereka melihat Sute mereka itu seperti seorang gila menerkam dan mendekap tubuh wanita itu penuh gairah nafsu! Dengan mata terbelalak mereka melihat betapa wanita itu menyambutnya dengan kedua lengan terbuka, bergulingan di atas rumput dan tampak betapa wanita itu membiarkan dirinya diciumi, kemudian mengalihkan mulutnya yang lebar ke leher Sute mereka!

Mereka bertiga terpaksa memejamkan mata agar tidak usah menyaksikan peristiwa yang memalukan dan terkutuk itu. Mereka mengerti bahwa Sute mereka melakukan hal terkutuk itu karena terpengaruh oleh racun yang diguratkan oleh kuku jari kelingking si iblis betina, dan mereka tahu pula bahwa Sute mereka yang diamuk pengaruh jahanam itu tidak tahu bahwa darahnya dihisap oleh wanita itu yang seperti telah dilakukan pada orang pertama tadi kini juga menghisap darahnya sepuas hatinya.

 Dapat diduga lebih dahulu bahwa tiga orang yang lain juga mengalami siksaan yang sama tanpa dapat berdaya apa-apa tanpa dapat melawan. Hal ini dilakukan berturut-turut oleh Kiam-mo Cai-li dan tiga hari tiga malam kemudian, dia meninggalkan tempat itu sambil menjilat-jilat bibirnya penuh kepuasan. Setelah dia melempar kerling ke arah lima tubuh telanjang yang sudah menjadi mayat semua itu, bergegas dia pergi mendaki Jeng-hoa-san untuk mencari Sin-tong yang amat diinginkan. Lima orang Kee-san Ngo-hohan itu mengalami kematian yang amat mengerikan. Tubuh mereka kehabisan darah, kulit mengeriput. Mereka seperti lima ekor lalat yang terjebak ke sarang laba-laba dan setelah semua darah mereka disedot habis oleh laba-laba, mayat mereka yang sudah kering dan habis sarinya itu dilemparkan begitu saja.

 


Kwa Sin Liong, atau yang lebih terkenal dengan nama panggilan Sin-tong, pada pagi hari itu seperti biasa setelah mandi cahaya matahari, lalu menjemur obat-obatan dan tidak lama kemudian berturut-turut datanglah orang-orang dusun yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit yang mereka derita. Sin tong mendengarkan dengan sabar keluhan dan keterangan mereka tentang sakit yang mereka derita, menyiapkan obat-obat untuk mereka semua dengan hati penuh belas kasihan. Semua ada sebelas orang dusun, tua muda laki perempuan yang memandang kepada bocah itu dengan sinar mata penuh kagum dan pemujaan. Baru bertemu dan memandang wajah Sin-tong itu saja, mereka sudah merasa banyak berkurang penderitaan sakit mereka. Seolah-olah ada wibawa yang keluar dari wajah bocah penuh kasih sayang itu yang meringankan rasa sakit yang mereka derita. Tentu saja hal ini sebenarnya terjadi karena kepercayaan mereka yang penuh bahwa bocah itu akan dapat menyembuhkan penyakit mereka, sehingga keyakinan ini sendiri sudah merupakan obat yang manjur. Dan bocah ajaib itu memang bukanlah seorang dukun yang menggunakan kemujijatan dan sulap atau sihir untuk mengobati orang, melainkan berdasarkan ilmu pengobatan yang wajar. Dia memilih buah, daun, bunga atau akar obat yang memang tepat mengandung khasiat atau daya penyembuh terhadap penyakit-penyakit tertentu itu.

Tiba-tiba terdengar nyanyian yang makin lama makin jelas terdengar oleh mereka semua. Juga Sin Liong, bocah ajaib itu, berhenti sebentar mengumpulkan dan memilih obat yang akan dibagikan karena mendengar suara nyanyian yang aneh itu. Akan tetapi begitu kata-kata nyanyian itu dimengertinya, dia mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepala. “Aihh, kalau hidup hanya untuk mengejar kesenangan, apapun juga tentu tidak akan dipantangnya untuk dilakukan demi mencapai kesenangan!” kata Sin Liong.

“Huh-ha-ha, benar sekali, Sin-tong. Untuk mencapai kesenangan harus berani melakukan apapun juga, termasuk membunuh para tamu-tamu yang tiada harganya ini!” Terdengar jawaban dan tahu-tahu disitu telah berdiri Pat-jiu Kai-ong! Sebagai lanjutan kata-katanya, tongkatnya ditekankan kepada tanah di depan kaki lalu lima kali ujung tongkat itu bergerak menerbangkan tanah dan kerikil ke depan. Tampak sinar hitam berkelebat menyambar lima kali, disusul jerit-jerit kesakitan dan robohlah berturut-turut lima orang dusun yang berada di depan Sin Liong, roboh dan berkelojotan kemudian tewas seketika karena tanah dan kerikil itu masuk ke dalam kepala mereka!

“Hi-hi-hik, kepandaian seperti itu saja dipamerkan di depan Sin-tong lihat ini!” Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu dan tau-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Kiammo Cai-li! Dia menudingkan payung hitamnya yang tertutup itu ke arah para penghuni dusun yang berwajah pucat dan dengan mata terbelalak memandang lima orang teman mereka yang telah tewas.

“Cuat-cuat-cuat…!” Dari ujung payung itu meluncur sinar-sinar hitam dan berturut-turut, enam orang dusun yang masih hidup menjerit dan roboh tak bergerak lagi, leher mereka ditembusi jarum-jarum hitam yang meluncur keluar dari ujung payung itu!

Sejenak Sin Liong terbelalak memandang kepada kedua orang itu yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian dia memandang ke bawah, ke arah tubuh sebelas orang dusun yang telah menjadi mayat. Mukanya menjadi merah, air matanya berderai dan dengan suara nyaring dia berkata sambil menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai, “Kalian ini manusia atau iblis? Kalian berdua amat kejam, perbuatan kalian amat terkutuk. Membunuh orang-orang tak berdosa seolah kalian pandai menghidupkan orang. Bocah itu memandang kepada sebelas mayat dan sesenggukan menangis.

“Hi-hi-hik, Sin-tong yang baik, apakah kau takut kubunuh? Jangan khawatir, aku datang bukan untuk membunuhmu,” kata Kiam-mo Cai-li, agak kecewa melihat betapa bocah ajaib itu menangis dan membayangkannya ketakutan.

Sin Liong mengangkat muka memandang wanita itu, biarpun air matanya masih berderai turun namun pandang matanya sama sekali tidak membayangkan ketakutan, “Kau mau bunuh aku atau tidak, terserah. Aku tidak takut!”

“Ha-ha-ha! Benar hebat! Sin-tong, kalau kau tidak takut kenapa menangis?” Pat-jiu Kai-ong menegur.

“Apa kau menangisi kematian orang-orang tak berharga itu?” Kiam-mo Cai-li menyambung.

“Mereka sudah mati mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan kekejaman yang kalian lakukan, kau menangis karena melihat kesesatan dan kekejaman kalian.” Dua orang tokoh sesat itu terbelalak heran saling pandang kemudian mereka teringat kembali akan niat mereka terhadap anak ajaib ini, maka keduanya seperti dikomando saja lalu tertawa, dan keduanya dengan kecepatan kilat menyerbu ke depan hendak menubruk Sin-Liong yang berdiri tegak dan memandang dengan sinar mata sedikitpun tidak membayangkan rasa takut!

“Desss……!” Karena gerakan mereka berbarengan, disertai rasa khawatir kalau-kalau keduluan oleh orang lain, maka melihat Pat-jiu Kai-ong sudah lebih dekat dengan Sin-tong, Kiam-mo Cai-li lalu merobah gerakannya, tidak hendak menangkap Sin-tong karena dia kalah dulu, melainkan melakukan gerakan mendorong dengan kedua tangannya ke arah Pat-jiu Kai-ong! Pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh wanita iblis ini dahsyat sekali, membuat Pat-jiu Kai-ong terkejut ketika ada angin panas menyambar, maka dia cepat menunda niatnya menangkap Sin-tong dan bergerak menangkis. Keduanya merasakan dahsyatnya tenaga lawan dan terpental ke belakang!

Sejenak mereka saling berpandangan dan Pat-jiu Kai-ong yang lebih dulu dapat menguasai dirinya lalu tertawa, “Ha-ha-ha, lama tidak jumpa, Kiam-mo Cai-li menjadi makin gagah saja!”

“Pat-jiu Kai-ong, selama ada aku disini, jangan harap kau akan dapat merampas Sin-tong dari tanganku!” Wanita itu berkata dan memandang tajam, siap menghadapi kakek yang dia tahu merupakan lawan yang tangguh itu.

“Aha, Kiam-mo Cai-li, sekali ini kau mengalahlah kepadaku. Aku membutuhkannya untuk menyempurnakan ilmuku…”

“Hi-hik, Ilmu Hiat-ciang Hoat-sut, bukan? Kau sudah cukup tangguh, Kai-ong, dan betapa mudahnya bagimu untuk mencari seratus orang anak lagi untuk kau hisap darah, otak dan sumsumnya. Jangan Sintong!”

“Hemmmm, kau mau menang sendiri. Apa kaukira aku tidak tahu mengapa kau menghendaki Sin-tong? Dia masih terlalu muda, Cai-li, tentu tidak akan memuaskan hatimu. Apa sukarnya bagimu mencari orangorang muda yang kuat dan menyenangkan?”

“Cukup! Kita mempunyai keinginan sama, dan jalan satu-satunya adalah untuk memperebutkannya dengan kepandaian!”

“Ha-ha-ha, bagus sekali. Memang aku ingin mencoba kepandaian Wanita Pandai dari Rawa Bangkai!”

Liok Si, Si Wanita Pandai Berpayung Pedang dari Rawa Bangkai sudah tak dapan menahan kemarahannya melihat ada orang berani merintanginya, maka sambil berteriak keras dia sudah menerjang maju dengan senjatanya yang istimewa, yaitu payung hitam yang tangkainya sebatang pedang runcing itu.

“Trakkk!” Pat-jiu Kai-ong sudah menggerakkan tongkatnya menangkis. Gempuran dua tenaga raksasa membuat keduanya terpental lagi ke belakang dan Pat-jiu Kai-ong cepat meloncat ke depan, tongkatnya berubah menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar ganas.

“Trakk! Trakkk!!” Dua kali senjata payung dan tongkat bertemu di udara dan keduanya terhuyung ke belakang. Diam-diam mereka berdua terkejut sekali dan maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, kekuatan mereka berimbang.

Sebelum mereka melanjutkan pertandingan mereka, tiba-tiba mereka melangkah mundur dan memandang tajam karena berturut-turut ditempat itu telah muncul lima orang kakek yang melihat cara munculnya dapat diduga tentu memiliki kepandaian tinggi. Mereka muncul seperti setan-setan, tidak dapat didengar atau dilihat lebih dahulu, tahu-tahu sudah berdiri di situ sambil memandang ke arah Pat-jiu Kai-ong dan Kiammo Cai-li dengan bermacam sikap. Ketika dua orang datuk kaum sesat atau golongan hitam ini melihat dengan penuh perhatian mereka terkejut sekali. Biarpun diantara lima orang itu ada yang belum pernah mereka jumpai, namun melihat ciri-ciri mereka, kedua orang datuk golongan hitam ini dapat mengenal mereka yang kesemuanya adalah orang-orang aneh di dunia kang-ouw yang masing-masing telah memiliki nama besar sebagai orang-orang sakti.

Sementara itu, ketika melihat dua orang kakek dan nenek tadi bertanding memperebutkan dirinya, Sin Liong menjadi makin berduka. Tak disangkanya bahwa di tempat yang penuh damai ini di mana dia selama hampir tiga tahun tinggal penuh ketentraman dan kedamaian, yang membuat dia hampir melupakan kekejaman-kekejaman manusia ketika terjadi pembunuhan ayah-bundanya, kini dia menyaksikan kekejaman yang lebih hebat lagi di mana sebelas orang dusun yang sama sekali tidak berdosa dibunuh begitu saja oleh dua orang itu. Maka dia lalu duduk di atas batu, bersila dan tak bergerak seperti arca, hatinya dilanda duka, dan dia memandang dengan sikap tidak mengacuhkan. Bahkan ketika muncul lima orang aneh itu, dia pun tidak membuat reaksi apa-apa kecuali memandang dengan penuh perhatian namun dengan sikap sama sekali tidak mengacuhkan.

Orang pertama adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka merah seperti tokoh Kwan Kong dalam cerita Sam-kok, kelihatan gagah sekali, di punggungnya tampak dua batang pedang menyilang, matanya lebar alisnya tebal dan suaranya nyaring ketika dia tertawa, “Ha-ha-ha, kiranya bukan hanya orang gagah saja yang tertarik kepada Sin-tong, juga iblis-iblis berdatangan sungguhpun tentu mempunyai niat lain!”

Dengan ucapan yang jelas ditujukan kepada Kiammo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong ini, dia memandang dua orang itu dengan terang-terangan. Orang ini bukanlah orang sembarangan, namanya sendiri adalah Siang-koan Houw, akan tetapi dia lebih terkenal dengan sebutan Tee-tok (Racun Bumi) karena selain merupakan seorang ahli racun yang sukar dicari tandingannya, juga dia amat ganas menghadapi lawan tidak mengenal ampun dan selain itu, juga dia amat jujur dan blak-blakan, bicara dan bertindak tanpa pura-pura lagi. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan yang paling terkenal sehingga menggegerkan dunia persilatan adalah ilmu pukulannya yang disebut Pek-lui-kun (Ilmu Silat Tangan Kilat) dan Ilmu Pedangnya Ban-tok Siang-kiam (Sepasang Pedang Selaksa Racun)! Tidak ada orang yang tahu dimana tempat tinggalnya karena memang dia seorang perantau yang muncul dimana saja secara tak terduga-duga seperti kemunculannya sekarang ini di Hutan Seribu Bunga.

“Huhh, bekas Suteku yang tetap goblok!” kata orang kedua. “Masa masih tidak mengerti apa yang dikehendaki dua iblis ini. Jembel busuk itu tentu ingin menghisap darah dan otak Sin-tong untuk menyempurnakan Ilmu Iblisnya Hiat-Ciang Hoat-sut. Sedangkan iblis betina genit ini apa lagi yang dicari kecuali sari kejantanan Sin-tong? Hayo kalian menyangkal, hendak kulihat apakah kalian begitu tak tahu malu untuk menyangkal!”

Orang yang kata-katanya amat menusuk ini adalah seorang kakek yang beberapa tahun lebih tua daripada Tee-tok, bahkan menyebut Tee-tok sebagai bekas sutenya karena memang demikian. Dia bertubuh tinggi kurus dan mukanya seperti tengkorak mengerikan, di ketiaknya terselip sebatang tongkat panjang dan gerak-geriknya ketika bicara seperti seekor monyet tidak mau diam, bahkan kadang-kadang menggaruk-garuk kepala atau pantatnya, matanya liar memandang ke kanan-kiri. Inilah dia tokoh hebat yang berjuluk Thian-tok (Racun Langit), bekas suheng Tee-tok yang memiliki kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai dengan nama dan julukannya, juga dia adalah seorang pemuja Kauw Cee Thian atau Cee Thian Thaiseng, Si Raja Monyet itu, yaitu sebatang tongkat yang dia beri nama Kim-kauw-pang seperti tongkat Si Raja Monyet. Juga dia telah menciptakan ilmu silat tangan kosong yang meniru gerak-gerik seekor monyet yang diberinya nama Sin-kauw-kun (Ilmu Silat Monyet Sakti). Seperti juga Tee-tok, dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, dan tidak ada yang tahu lagi nama aslinya, yaitu Bhong Sek Bin.

“Hemmm, setelah ada aku disini jangan harap segala macam iblis dapat berbuat sesuka hati sendiri!” kata orang ke tiga, suaranya kasar dan keras, pandang matanya seperti ujung pedang menusuk. Orang ini bernama Ciang Ham julukannya Thian-he Te-it (Sedunia Nomor satu)! Usianya kurang lebih 50 tahun, dan dia adalah ketua dari Perkumpulan Kang-jiu-pang (Perkumpulan Lengan Baja) yang didirikannya di Secuan. Di tangan kirinya tampak sebatang senjata tombak gagang panjang, dan selain terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun terkenal memiliki lengan sekuat baja! Pakaiannya ringkas seperti biasa dipakai oleh seorang ahli silat dan setiap gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia telah mempunyai kepandaian silat yang sudah mendarah daging di tubuhnya.

Orang ke empat adalah seorang berpakaian sastrawan, sikapnya halus, usianya 50 tahun tapi masih tampak tampan, tubuhnya sedang dan dia sudah menjura ke arah kedua orang datuk golongan hitam itu. Di pinggangnya terselip sebatang mauwpit alat tulis pena panjang. “Kami berlima dengan tujuan yang sama datang ke tempat ini, tidak sangka bertemu dengan dua orang tokoh terkenal seperti Ji-wi (Anda berdua), Pat-jiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li, terutama sekali kepada Cai-li, terimalah hormatku.”

Pat-jiu Kai-ong sudah segera dapat mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kiam-mo Cai-li tidak mengenalnya. Hati wanita ini yang tadinya panas mendengar kata-kata menentang dari tiga orang pertama, merasa seperti dielus-elus oleh sikap dan kata-kata orang berpakaian sastrawan yang tampan ini. Maka dia pun membalas penghormatannya dan dengan lirikan mata memikat dan senyum simpul manis sekali dia bertanya, “Harap maafkan, kana tetapi siapakah saudara yang manis budi dan yang tentu memiliki ilmu kepandaian bun dan bu(Sastra dan silat) yang tinggi ini?”

Laki-laki itu tersenyum dan menjawab halus, “Saya yang rendah dinamakan orang Gin-siauw Siucai (Pelajar Bersuling Perak), seorang yang suka bersunyi di Beng-san.”

Kiam-mo Cai-li kembali menjura, tersenyum dan berkata, “Aihhh, sudah lama sekali saya telah mendengar nama besar Cin-siauw Siucai, sebagai seorang ahli silat tinggi, terutama sekali sebagai seorang peniup suling yang mahir dan sudah lama pula mendengar akan keindahan tamasya alam di Beng-san. Mudah-mudahan saja saya akan berumur panjang untuk mengunjungi Beng-san yang indah, menjadi tamu Gin-siauw Siucai yang ramah dan sopan, tidak seperti kebanyakan pria yang kasar tak tahu sopan santun!” Ucapan terkhir ini jelas ditujukannya kepada tiga orang tokoh pertama yang kasar-kasar tadi.

Orang ke lima dari rombongan itu adalah seorang tosu berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat, tangan kiri memegang sebuah hudtim (Kebutan Pendeta) dan tangan kanan memegang sebuah kipas yang tiada hentinya digoyang-goyang menipasi lehernya seolah-olah dia kepanasan, padahal hawa di Hutan Seribu Bunga itu sejuk! Kini dia membuka mulut dan terdengarlah suaranya yang merdu menyanyikan sajak dalam kitab To-tek-kheng, kitab utama dari kaum tosu (Pemeluk Agama To)! “Amat sempurna, namun tampak tak sempurna, tampak tidak lengkap, sungguhpun kegunaannya tiada kurang Terisi penuh, namun tampaknya meluap tumpah, tampaknya kosong, sungguhpun tak pernah kehabisan Yang paling lurus, kelihatan bengkok, yang paling cerdas, kelihatan bodoh, yang paling fasih, kelihatan gagu. Api panas dapat mengatasi dingin, air sejuk dapat mengatasi panas, Sang Budiman, murni dan tenang dapat memberkati dunia!”

“Huah-ha-ha-ha! Anda tentulah Lam-hai Seng-jin (Manusia Sakti Laut Selatan), bukan? Sajak-sajak To-tekheng agaknya telah menjadi semacam cap Anda, ha-ha-ha!” kata Pat-jiu Kai-ong sambil tertawa mengejek.

Tosu itu berkata , “Siancai! Pat-jiu Kai-ong bermata tajam, dapat mengenal seorang tosu miskin dan bodoh.”

“Ah, jangan merendah, Totiang,” kata Kiam-mo Cai-li, “Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa biarpun Anda seorang yang berpakaian tosu dan kelihatan miskin, namun memiliki sebuah istana dan menjadi majikan dari Pulau Kura-kura. Ini namanya menggunakan pakaian butut untuk menutupi pakaian indah di sebelah dalamnya.”

“Siancai! Pujian kosong…!” Tosu itu berkata dan mukanya menjadi merah.

Tee-tok Siangkoan Houw mngeluarkan suara menggereng tidak sabar. “Apa-apaan semua kepura-puraan yang menjemukan ini? Patjiu Kai-ong dan Kiam-mo Cai-li, ketika kami berlima datang tadi, kami melihat kalian sedang memperebutkan Sin-tong dan tentu sebelas orang dusun ini kalian berdua yang membunuhnya!”

“Tee-tok, urusan itu adalah urusan kami sendiri. Perlu apa kau mencampuri?” Pat-jiu Kai-ong menjawab dengan senyum dan suara halus seperti kebiasaannya namun jelas bahwa dia merasa tak senang.

“Bukan urusanku, memang! Akan tetapi ketahuilah, kami berlima mempunyai maksud yang sama, yaitu masing-masing menghendaki agar Sin-tong menjadi muridnya. Biarpun kami saling bertentangan dan berebutan, namun kami memperebutkan Sin-tong untuk menjadi murid kami atau seorang di antara kami. Sedangkan kalian berdua, mempunyai niat buruk!” kata pula Tee-tok yang terkenal sebagai orang yang tidak pernah menyimpan perasaan dan mengeluarkannya semua tanpa tedeng aling-aling lagi melalui suaranya yang nyaring.

“Tee-tok, jangan sombong kau! Mengenai kepentingan masing-masing memperebutkan Sin-tong, adalah urusan pribadi yang tak perlu diketahui orang lain. Yang jelas, kita bertujuh masing-masing hendak memiliki Sin-tong, Untuk kepentingan pribadi masing-masing tentu saja sekarang bagaimana baiknya? Apakah kalian ini lima orang yang mengaku sebagai tokoh-tokoh sakti dan gagah dari dunia kang-ouw hendak mengandalkan banyak orang mengeroyok kami berdua. Aku, Kiam-mo Cai-li sama sekali tidak takut biarpun aku seorang kalian keroyok berlima, akan tetapi betapa curang dan hinanya perbuatan itu. Terutama sekali Gin-siauw Siucai, tentu tidak begitu rendah untuk melakukan pengeroyokan!” kata Kiammo Cai-li yang cerdik.

“Perempuan sombong kau, Kiam-mo Cai-li!” Tee-tok membentak marah dan melangkah maju. “Siapa sudi mengeroyokmu? Aku sendiri pun cukup untuk mengenyahkan seorang iblis betina seperti engkau dari muka bumi!”

“Tee-tok, buktikan omonganmu!” Kiam-mo Cai-li membentak dan dia pun melangkah maju.

“Eh-eh, nanti dulu! Apa hanya kalian berdua saja yang menghendaki Sin-tong? Kami pun tidak mau ketinggalan!” kata Pat-jiu Kai-ong mencela.

“Benar sekali! Perebutan ini tidak boleh dimonopoli oleh dua orang saja! Aku pun tidak takut menghadapi siapa pun untuk memperoleh Sin-tong!” Thian-te Te-it Ciang Ham membentak menggoyang tombak panjangnya melintang di depan dada.

“Siancai, siancai…!” Lam-hai Seng-jin melangkah maju, menggoyang kebutannya. “Harap Cuwi(Anda Sekalian) suka bersabar dan tidak turun tangan secara kacau saling serang. Semua harus diatur seadilnya dan sebaiknya. Kita bukanlah sekumpulan bocah yang biasanya hanya saling baku hantam memperebutkan sesuatu. Sudah jelas bahwa kita bertujuan sama, yaitu ingin memperoleh Sin-tong. Akan tetapi kita lupa bahwa hal ini sepenuhnya terserah kepada pemilihan Sin-tong sendiri. Maka marilah kita berjanji. Kita bertanya kepada Sin-tong, kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah menjatuhkan pilihannya, tidak seorangpun boleh melarang atau mencampuri, Bagaimana?”

“Hemm, tidak buruk keputusan itu. Aku setuju!” kata Tee-tok.

“Aku pun setuju!” kata Thian-tok dan yang lain pun tidak mempunyai alasan untuk tidak menyetujui keputusan yang memang adil ini, kemudian melanjutkan dengan kata-kata sengaja dibikin keras agar terdengar oleh Sin-tong.

“Tentu saja harus jujur tidak membohongi Sin-tong akan maksud hati sebenarnya. Misalnya yang mau mengambil murid, yang hendak menghisap darahnya atau hendak memperkosa dan menghisap sari kejantanannya juga harus berterus terang!” Tentu saja dua orang tokoh golongan hitam itu mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian-tok yang licik itu.

“Isi hati orang siapa yang tahu? Boleh saja kau bilang hendak mengambil murid, akan tetapi siapa tahu kalau kau menghendaki nyawanya?” Kiam-mo Cai-li mengejek Thian-tok.

“Kau…! Majulah, rasakan Kim-kauw-pang pusakaku ini!”

“Boleh! Siapa takut?” Wanita itu balas membentak.

“Siancai…!” Lam-hai Seng-jin mencela dan melangkah maju. “Apakah kalian benar-benar hendak menjadi kanak-kanak? Katanya tadi sudah setuju, nah marilah kita mendengar sendiri siapa yang menjadi pilihan Sin-tong.” Tujuh orang itu lalu menghampiri Sin-tong yang masih duduk bersila seperti sebuah arca, hatinya penuh kengerian menyaksikan tingkah laku tujuh orang itu.

“Sin-tong yang baik. Lihatlah, kau satu-satunya wanita di antara kami bertujuh. Lihatlah aku, seorang wanita yang hidup kesepian dan merana karena tidak mempunyai anak, kau mendengar bahwa engkau pun sebatangkara, tidak mempunyai ayah bunda lagi. Marilah anakku, marilah ikut dengan aku, aku akan menjadi pengganti ibumu yang mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Mari hidup sebagai seorang Pangeran di istanaku, di Rawa Bangkai, dan engkau akan menjadi seorang terhormat dan mulia. Marilah Sin-tong, Anakku!”

Sin Liong mengangkat muka memandang sejenak wajah wanita itu, kemudian dia menunduk dan tidak menjawab, juga tidak bergerak, hatinya makin sakit karena dia dengan jelas dapat melihat kepalsuan di balik bujuk-rayu manis itu, apalagi kalau dia mengingat betapa wanita ini dengan tersenyum-senyum dapat begitu saja membunuh jiwa enam orang dusun yang tidak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat menjawab.

“Sin-tong, aku adalah ketua dari Pat-jiu Kai-pang di Pegunungan Hong-san. Sebagai seorang ketua perkumpulan pengemis, tentu saja aku kasihan sekali melihat engkau seorang anak yang hidup sebatangkara. Kau ikutlah bersamaku, Sin-tong, dan kelak engaku akan menjadi raja Pengemis. Bukankah kau suka sekali menolong orang? Orang yang paling perlu ditolong olehmu adalah golongan pengemis yang hidup sengsara, kau ikutlah dengan aku, dan Pat-jiu Kai-ong akan menjadikan engkau seorang yang paling gagah di dunia ini!”

Kembali Sin-tong memandang wajah itu dan diam-diam bergidik. Orang yang dapat membunuh lima orang dusun sambil tertawa-tawa seperti kakek ini sekarang menawarkan kepadanya untuk menjadi raja pengemis! Dia tidak menjawab juga, hanya kembali menundukkan mukanya.

“Anak ajaib, anak baik, Sin-tong, dengarlah aku. Aku adalah Gin-siauw Siucai, seorang sastrawan yang mengasingkan diri dan menjadi pertapa di Beng-san. Selama hidupku aku tidak pernah melakukan perbuatan jahat dan selama puluhan tahun aku tekun menghimpun ilmu silat, ilmu sastra dan ilmu meniup suling. Aku ingin sekali mengangkat engkau sebagai muridku, Sin-tong.”

“Ha-ha-ha, kau turut aku saja, Sin-tong. Biarpun aku seorang yang kasar, namun hatiku lemah menghadapi anak-anak. Aku sendiri memiliki seorang anak perempuan sebaya denganmu. Biarlah kau menjadi saudaranya, kau menjadi muridku dan kau takkan kecewa menjadi murid Tee-tok. Pilihlah aku menjadi gurumu, Sin-tong.”

“Tidak, aku saja! Aku Bhong Sek Bin, namaku tidak pernah kukatakan kepada siapapun dan sekarang kukatakan di depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadamu. Akulah keturunan dari Dewa Sakti Cee Thian Thai-seng, akulah yang mewarisi ilmu Kim-kauw-pang. Kau jadilah murid Thian-tok dan kelak kau akan merajai dunia kang-ouw, Sin-tong.”

“Lebih baik menjadi muridku. Aku Thian-he Te-it Ciang Ham, di kolong dunia nomor satu dan ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon manusia terpandai di kolong langit!”

“Siancai…siancai..! Kaudengarlah mereka semua itu, Sin-tong. Semua hendak mengajarkan ilmu silat dan memamerkan kekayaan duniawi, tidak seorangpun yang hendak mengajarkan kebatinan kepadamu. Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil murid kepadamu, hendak pinto jadikan engkau seorang calon Guru Besar Kebatinan. Kau berbakat untuk itu, siapa tahu, kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan besar seperti Nabi Lo-cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau jadilah murid Lam-hai Sengjin, Sin-tong!”

Hening sejenak. Semua mata ditujukan kepada bocah yang masih duduk bersila seperti arca dan yang tidak pernah menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang orang yang membujuknya. Kemudian terdengar suaranya, halus menggetar dan penuh duka.

“Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe. Akan tetapi saya tidak dapat ikut siapapun juga di antara Cuwi karena di balik semua kebaikan Cuwi terdapat kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia. Tidak, saya tidak akan turut siapapun, saya lebih senang tinggal disini, di tempat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian tinggalkan saya, saya akan mengubur mayat-mayat yang patut dikasihani ini.”

“Wah, kepala batu! Kalau begitu, aku akan memaksamu!” kata Tee-tok yang berwatak berangasan dan kasar.

“Eh, nanti dulu! Siapa pun tidak boleh mengganggunya!” bentak Thian-tok.

“Siancai…sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah ajaib ini tidak mau memilih seorang diantara kita secara sukarela. Karena itu, tentu kita semua ingin merampasnya secara kekerasan. Maka harus diatur sebaik dan seadil mungkin. Kita bukan kanak-kanak, kita adalah orang-orang yang telah menghimpun banyak ilmu, maka sebaiknya kalau kita sekarang masing-masing mengeluarkan ilmu dan mengadu ilmu. Siapa yang keluar sebagai pemenang, tentu saja berhak meimiliki Sin-tong,” kata Lam-hai Seng-jin yang lebih sabar daripada yang lain.

“Mana bisa diatur begitu?” bantah Pat-jiu kai-ong yang khawatir kalau-kalau lima orang itu akan mengeroyok dia dan Kiam-mo Cai-li.

“Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah masuk kotak dan yang menang harus menghadapi yang lain setelah beristirahat. Begitu baru adil!”

“Tidak!” bantah Kiam-mo Cai-li, wanita yang cerdik ini dapat melihat kesempatan yang menguntungkannya kalau terjadi pertandingan bersama seperti yang diusulkan Lam-hai Seng-jin. Dalam pertempuran seperti itu, siapa cerdik tentu akan keluar sebagai pemenang. “Kalau diadakan satu lawan satu, terlalu lama. Sebaiknya kita bertujuh mengeluarkan ilmu dan saling serang tanpa memandang bulu. Dengan demikian, satu-satunya orang yang kelaur sebagai pemenang, Jelas dia telah lihai daripada yang lain.”

Akhirnya Pat-jiu kai-ong kalah suara dan ketujuh orang itu telah mengelurkan senjata masing-masing, membentuk lingaran besar dan bergerak perlahan-lahan saling lirik , siap untuk menghantam siapa yang dekat dan menangkis serangan dari manapun juga! Benar-benar merupakan pertandingan hebat yang kacau balau dan aneh! Sin Liong yang masih duduk bersila, memandang dengan mata terbelalak dan dia menjadi silau ketika tujuh orang itu sudah mulai menggerakkan senjata masing-masing untuk menyerang dan menangkis. Gerakan mereka demikian cepatnya sehingga bagi Sin Liong, yang kelihatan hanyalah gulungan-gulungan sinar senjata dan bayangan orang berkelebatan tanpa dapat dilihat jelas bayangan siapa.

Memang hebat pertandingan ini karena dipandang sepintas lalu, seolah-olah setiap orang melawan enam orang musuh dan kadang-kadang terjadi hal yang lucu. Ketika Tee-tok menyerang Pat-jiu Kai-ong dengan siang-kiamnya, sepasang pedangnya ini membabat dari kiri kanan. Pat-jiu Kai-ong terkejut karena pada saat itu dia sedang menyerang Lam-hai Seng-jin yang di lain pihak juga sedang menyerang Gin-siauw Siucai! Akan tetapi terdengar suara keras ketika sepasang pedang Tee-tok itu bertemu dengan tombak di tangan Thian-he Te-it dan tongkat Thian-tok, sehingga seolah-olah dua orang ini melindungi Pat-jiu Kaiong.

Pertandingan kacau balau dan hanya Kiam-mo Cai-li yang benar-benar amat cerdiknya. Dia tidak melayani seorang tertentu, melainkan berlarian berputar-putar, selalu menghindarkan serangan lawan yang manapun juga dan dia pun tidak menyerang siapa-siapa, hanya menggerakkan pedang payungnya dan rambutnya untuk membuat kacau dan kadang-kadang juga menekan lawan apabila melihat ada seorang diantara mereka yang terdesak. Siasatnya adalah untuk merobohkan seorang demi seorang dengan jalan “mengeroyok” tanpa membantu siapa-siapa agar jumlah lawannya berkurang. Namun, mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka tidaklah mudah dibokong oleh Kiam-mo Cai-li, bahkan lama-lama akalnya ini ketahuan dan mulailah mereka menujukan senjata kepada wanita ini sehingga mau tidak mau wanita itu terseret ke dalam pertandingan kacau-balau itu! Terpaksa dia mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan membalas serangan lawan yang paling dekat dengan kemarahan meluap-luap.

Sin Liong menjadi bengong. Entah kapan datangnya, tahu-tahu dia melihat seorang laki-laki duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon besar yang tumbuh dekat medan pertandingan itu. Laki-laki itu memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelalak penuh perhatian, tangan kiri memegang sehelai kain putih lebar, dan tangan kanan yang memegang sebatang alat tulis tiada hentinya mencorat-coret di atas kain putih itu, seolah-olah dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan sedang menonton pemandangan indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong yang terheran-heran itu memperhatikan.

Orang laki-laki itu kurang lebih empat puluh tahun usianya, pakaiannya seperti seorang pelajar akan tetapi di bagian dada bajunya yang kuning muda itu ada lukisan seekor Naga Emas dan seekor Burung Hong Merah. Indah sekali lukisan baju itu. Wajahnya tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, pakaiannya juga bersih dan terbuat dari sutera halus, sepatu yang dipakai kedua kakinya masih baru atau setidaknya amat terpelihara sehingga mengkilap. Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia mencorat-coret melukis pertandingan antara tujuh orang sakti itu.

Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin melukis tujuh orang yang sedang berkelebatan hampir tak tampak itu? Sin Liong tidak lagi memperhatikan pertandingan, hanya memandang ke arah orang itu. Dia mendengar bentakan-bentakan nyaring dan tidak tahu bahwa tujuh orang itu telah ada yang terluka. Thian-he Te-it telah terkena hantaman tongkat Thian-tok di pahanya sehingga terasa nyeri sekali. Pat-jiu Kai-ong juga kena serempet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di antara Siang-kiam di tangan Tee-tok, sedangkan Lam-hai Seng-jin dan Gin-siauw Siucai juga telah mengadu tenaga dan keduanya tergetar samapi muntahkan darah namun berkat sinkang mereka, kedua orang ini tidak sampai mengalami luka dalam yang parah. Sin Liong melihat betapa laki-laki di atas pohon itu tersenyum, menghentikan coretannya, menyimpan pensil dan menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon, memakainya, kemudian mengantongi gambar yang telah digulungnya dan tubuhnya melayang turun.

“Tontonan tidak bagus!” Terdengar dia berseru. “Tujuh orang tua bangka gila memperlihatkan tontonan di depan seorang anak kecil benar-benar tak tahu malu sama sekali!”

Tujuh orang itu terkejut ketika mendengar suara yang langsung menggetarkan jantung mereka itu. Mengertilah mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan singkang yang amat kuat, sehingga dapat mengatur suaranya, langsung dipergunakan untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak mempengaruhi Sin-tong yang masih duduk bersila. Dengan hati tegang mereka lalu meloncat mundur dan masing-masing melintangkan senjata di depan dada, memandang ke arah laki-laki gagah yang baru muncul itu. Namun, tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengenalnya, maka ketujuh orang itu menjadi marah sekali. 

“Bangsat kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan kami dan memaki kami?” bentak Patjiu Kai-ong sambil mengusap pundaknya yang berdarah.

“Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus kecil?” bentak pula Thian-he Te-it yang masih ngilu rasa pahanya, dan untung bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya.

Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka dengan langkah tegap dan sikap sama sekali tidak takut, bahkan wajahnya itu berseri-seri memandang mereka seorang demi seorang. kemudian, setelah berada di tengah-tengah sehingga terkurung, dia berkata, “Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada seorang anak baik terancam oleh perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika tiba disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku masuk dan hatiku memang penasaran menyaksikan gerakan kalian yang sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat dia itu tentu Pat-mo-tung-hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat,” katanya sambil menuding ke arah Pat-jiu Kai-ong.

Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu tongkatnya, padahal tadi mereka bertujuh bertanding dengan kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya?

“Dan ilmu tongkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan tetapi kaku dan mentah, tidak pantas menjadi gerakan Raja Monyet, pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus! Dia menuding arah Thian-tok.

“Brakkk!!” Batu besar yang berada di samping Thian-tok hancur berantakan karena dipukul oleh tongkatnya. Dia marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu. “Manusia lancang, berani kau menghina Thian-tok?” bentaknya dan tongkatnya sudah diputar hendak menyerang.

Akan tetapi orang itu membentak, “Berhenti!”

Dan aneh, suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri sampai tergetar dan menghentikan gerakan tongkatnya.

“Aku melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus namun masih mentah semua. Aku tidak membohong dan kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi seorang, akan kuperlihatkan kementahan ilmu silat kalian yang kalian pergunakan dalam pertandingna kacau balau tadi. Hayo siapa yang maju lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!”

Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak percaya daripada kemarahan, maka Pat-jiu Kai-ong melupakan pundaknya yang terluka, cepat dia sudah meloncat ke depan, melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru, “Nah, coba kaubuktikan kementahan ilmu tongkatku!”

Setelah berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang, menggunakan tongkatnya untuk menusuk, kemudian gerakan ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas menghantam kepala. Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan pedang, dia ambil dari Ilmu Pedang Pa-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah rahasianya, maka dia heran sekali mendengar orang tampan gagah itu mengenal ilmu tongkatnya dan sekaligus membuka rahasianya. Enam orang tokoh yang lain adalah orang-orang yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan dan menonton untuk melihat apakah orang yang tidak terkenal ini benar-benar memiliki kepandaian aneh dan apakah benar-benar selihai mulutnya yang amat sombong itu. Serangan Pat-jiu Kiam-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi tubuh orang itu tiba-tiba saja lenyap! Semua orang kaget dan bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu telah melayang turun dari atas pohon, di tangannya terdapat sebatang cabang pohon, yang daunnya telah dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi meloncat sehingga tidak tampak, dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah membikin sebatang tongkat yang ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu Kaiong telah menyerangnya dengan kemarahan meluap.

“Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang kau rubah menjadi Patmo-tung-hoat?” Dan orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas menyerang, namun bedanya, serangannya jauh lebih cepat dan lebih kuat tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu!

Tokoh-tokoh lain hanya menduga-duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi Raja Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya sendiri! Dia menjadi bingung dan heran, apalagi serangan orang itu cepatnya melebihi kilat dan dalam belasan jurus saja, tiba-tiba terdengar suara keras, tongkat di tangan Pat-jiu Kaiong patah dan si Raja Pengemis ini sendiri terpelanting dan mukanya pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawannya telah menyambar dahinya tepat diantara mata dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh itu hanya mengguratnya saja sehingga kulit di bagian itu robek dan berdarah. Tahulah dia bahwa sia telah berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu pula bahwa nyawanya diampuni maka tanpa banyak cakap dia lalu mundur dan berdiri dengan muka pucat dan mulut berbisik, “Aku mengaku kalah!”

Tentu saja hal ini mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi, dalam pertandingan kacau balau, telah beradu senjata dengan Si Raja Pengemis, dan mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai, juga tongkat itu sendiri merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di samping tenaga sinkang si Kakek Jembel yang amat kuat. Namun, dalam belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan diantara alisnya terluka, sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang yang baru datang itu hanya meniru-niru ilmu silat Pat-jiu Kai-ong!

“Si Jembel tua bangka memang tolol!” Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan, tombaknya melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan terkenal dengan sebutan Kang-jiu(Lengan Baja) yang kuat menangkis senjata tajam!

Orang itu tersenyum sabar. “Hemm, jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal? Heran ilmunya masih serendah itu sudah berani malang melintang di Heng-san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu cukup lumayan akan tetapi permainan tombakmu belum patut disebut Sin-jio (Tombak Sakti), dan pukulan itu, tentu yang dinamakan Lengan Baja, sayangnya tidak cocok dengan sebutannya karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah…!”

Muka Ciang Ham menjadi merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya mendelik dan kumisnya yang jarang itu bergoyang-goyang menurutkan bibir atasnya yang tergetar!

“Si keparat sombong! Tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Thianhe Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!”

Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang sudah memperhatikan seluruh gerak-geriknya melihat bahwa orang itu benar-benar memiliki ginkang yang sukar dipercaya. Hanya dengan mengenjot ujung kaki, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam pohon besar dan tak lama kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang panjangnya sama dengan tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah diruncingkan, entah bagaimana caranya!

“Nah, coba mainkan ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajumu yang masih mentah itu.”

Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan keras dia menerjang, tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak berubah menjadai belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolah-olah menyerang bagian-bagian tertentu dari lawannya! Namun orang itu pun menggerakkan tombak cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahakan mata “tombaknya” berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang menyilaukan mata dan terjadilah pertandingan tombak yang amat aneh karena gerakan mereka sama.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian-he Te-it Ciang Ham. Ilmu tombak itu adalah ciptaannya sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan kepada siapapun juga, merupakan kepandaian khasnya yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia melihat orang ini mainkan ilmu tombaknya dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih kuat! Marahlah dia. “Setan kau!” dia memaki dan kini tombaknya membuat lingkaran besar, menyambar-nyambar di atas kepala sedangkan lengan kirinya melakukan pukulan maut karena lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang kuat sekali.

“Bagus,” orang itu berseru, tombaknya bergerak pula menyambut tombak lawan dan terdengar suara “krekkk” ketika ujung tombak Thian-he Te-it patah disusul bertemunya dua buah lengan.

“Desss…!” Thian-he Te-it Ciang Ham mengaduh, melemparkan tombaknya yang patah, menggunakan tangan kanan mengurut-urut lengan kirinya. Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan Lengan Baja itu, yang berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan, berubah menjadi seperti bambu bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main! Dia pun bukan anak kecil, seketika tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi, membuat dia seolah-olah berhadapan dengan gurunya, maka dia meloncat ke belakang, meringis dan berkata nyaring, “Aku kalah!”

Hening sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran, hampir tidak dapat percaya akan peristiwa yang telah terjadi. Biarpun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun rasa penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah benar orang aneh ini dapat memainkan ilmu istimewa mereka yang selama ini mengangkat nama mereka di tempat tinggi di dunia kang-ouw.

“Hayo, siapa lagi yang ingin memamerkan ilmunya yang masih mentah?” Orang itu sengaja menantang sambil melemparkan tombak cabang pohon yang telah berhasil mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Ham tadi.

“Aku ingin mencoba!” Thian-tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya menggaruk-garuk pantat, tangan kanan memegang tongkat Kim-kauw-pang itu memutar-mutar tongkatnya.

“Nanti dulu,” kata orang itu. “Yang bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal sekali sebagai ketua Kangjiu- pang di Secuan? harap Pangcu (Ketua) menjaga agar anak buahmu tidak merendahkan nama Kang-jiupang dengan melakukan perbuatan melanggar hukum dan memperbaiki ilmu silatnya.”

Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang-goyang karena marahnya.

“Dan Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah memang hendak meniru lagak seekor monyet? Kalau begitu, tentulah Anda yang berjuluk Thian-tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian, terkenal dengan Ilmu Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun.”

“Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu, manusia sombong?” Thian-tok Bhong Sek Bin membentak marah. “Ataukah kau tidak berani mengakui namamu dan bersikap sebagai seorang pengecut tukang mencuri ilmu orang lain?”

Biarpun diserang dengan kata-kata yang menghina itu, orang ini tersenyum saja dan menjawab, “Namaku tidak ada perlunya kauketahui. Kalau aku tidak mampu mengalahkan engkau dengan ilmumu sendiri, barulah aku akan memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukamu terhadap diriku.”

Thian-tok lalu mengeluarkan suara memekik nyaring seperti seekor kera marah, akan tetapi sebelum dia menyerang laki-laki aneh itu telah menyambar tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah. Tombak itu panjang dan sekali dia menggerakkan jari tangannya, ujung tombak cabang yang runcing itu telah patah dan berubahlah tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya sama dengan Kim-kauwpang di tangan Thian-tok!

Thian-tok sudah menerjang dengan gerakan lincah sekali. Kim-kauw-pang ditangannya diputar-putar sedemikian rupa, mulutnya menggeluarkan pekik-pekik dahsyat dan tubuhnya sampai lenyap terbungkus gulungan sinar tongkat sendiri. Namun dengan enaknya orang itu pun memutar tongkatnya, serupa benar dengan gerakan Thian-tok bahkan mulutnya juga mengeluarkan pekik seperti monyet itu dan terjadilah pertandingan yang aneh dan lucu, seolah-olah bukan sedang bertanding, melainkan Thian-tok sedang berlatih silat dengan gurunya. Gerakan mereka sama, akan tetapi gerakan orang itu lebih cepat dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh jurus terdengar suara keras, Kim-kauw-pang di tangan Thian-tok patah-patah menjadi tiga potong dan Si Racun Langit itu terhuyung mundur dengan muka pucat karena tulang pundaknya hampir patah terpukul tongkat lawan!

Melihat betapa bekas suhengnya kalah, Tee-tok marah sekali. Siang-kiam di punggungnya telah dicabutnya dan tanpa banyak cakap lagi dia telah meloncat maju. “Keluarkan senjatamu, manusia licik! Akulah Tee-tok, hayo lawan siang-kiam-ku ini kalau kau memang gagah!”

Orang itu menjura, “Aha, kiranya Tee-tok Siangkoan Houw yang terkenal. Kulihat tadi ilmu pedangmu adalah pecahan dari Hui-liong-kiamsut, dan kau pandai pula menggunakan Ilmu Silat Pek-lui-kun. Akan tetapi seperti yang lain, gerakanmu masih mentah.”

“Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilmuku!” Bentak Tee-tok dengan marah dan dia sudah menerjang maju.

Laki-laki iut mematahkan tongkatnya menjadi dua potong tongkat yang sama dengan pedang-pedang di kedua tangan Tee-tok, dan begitu dia menggerakkan kedua tangannya, tampaklah sinar-sinar bergulung dengan gerakan yang persis seperti gerakan Tee-tok yang memutar sepasang pedangnya. Kembali terjadi pertandingan yang hebat, seru dan aneh. Berkali-kali terdengar suara nyaring bertemunya pedang dengan tongkat, namun anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali tidak dapat terbabat putus, bahkan kedua tangan Tee-tok selalu terasa panas dan perih setiap kali pedangnya bertemu tongkat!

Dengan teliti Tee-tok memperhatikan gerakan orang dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu mainkan jurus-jurus ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus ilmu pedangnya, bahkan telah mendesaknya dengan tekanan yang hebat karena orang itu jauh lebih lincah dan lebih kuat daripada dia. Lewat lima belas jurus, Tee-tok berseru, “Aku mengaku kalah!” Dia meloncat mundur, menyimpan pedangnya dan mengangkat tangan menjura ke arah orang itu sambil berkata, “Harap kau menerima penghormatanku dengan Pek-lui-kun!” Kelihatannya saja dia memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada, namun dari kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan maut yang mendatangkan hawa panas dan yang dapat membunuh lawan dari jarak tiga empat meter tanpa tangannya menyentuh tubuh lawan! Itulah pukulan Pek-lui-kun(Kepalan Kilat) yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat!

Orang itu sudah melempar sepasang tongkat pendeknya, sambil tersenyum dia pun mejura dengan gerakan yang sama. Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak oleh mata. Di tengah udara, diantara kedua orang itu terjadi benturan tenaga dahsyat dan akibatnya membuat Tee-tok terpental ke belakang, terhuyung dan dari mulutnya muntah darah segar! Dia tidak terluka hebat karena tenaganya Pek-lui-kun membalik, hanya tergetar hebat dan mukanya makin pucat. “Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!” kata Tee-tok dengan jujur, dan memandang dengan mata terbelalak penuh kagum dan juga penasaran.

“Engkau luar biasa sekali dan aku amat kagum kepadamu, sahabat!” Gin-siauw Siucai berkata sambil melangkah maju. “Aku tahu bahwa agaknya aku pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku penasaran sebelum melihat engkau mainkan ilmu-ilmuku yang tentu kauanggap masih mentah pula. Aku adalah Gin-siauw Siucai dari Beng-san, senjataku adalah suling dan pensil bulu entah kau bisa mainkannya atau tidak.”

“Gin-siauw Siucai, sudah lama aku mendengar namamu yang terkenal. Jangan khawatir, aku tentu saja dapat mainkan ilmumu. Dengan ranting pendek ini aku meniru sulingmu, dan aku pun memiliki sebatang pensil bulu.” Orang itu memungut sebatang ranting yang panjangnya sama dengan suling perak di tangan Gin-siauw Siucai, juga dia mencabut keluar pensil bulu yang tadi dia pergunakan untuk mencoret-coret ketika tujuh orang tokoh sakti itu sedang saling bertempur. Akan tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin-siauw Siucai adalah pensil yang dibuat khas, bukan hanya untuk menulis akan tetapi juga dipergunakan sebagai senjata sehingga gagangnya terbuat dari baja tulen, adalah pensil di tangan orang itu hanyalah sebatang pensil biasa saja.

Berkerut alis Gin-siauw Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah kepadanya. Akan tetapi karena orang itu tersenyum-senyum dan meniru menggerak-gerakkan pensil dan “suling” di tangannya, dia lalu berkata, “Apa boleh buat, engkau sudah memperoleh kemenangan. Kalau kau kalah, orang akan menyalahkan aku yang menggunakan senjata lebih kuat. Kalau aku yang kalah, engkau akan menjadi makin terkenal, sungguhpun kami belum tahu siapa kau. Nah, mulailah!” Siucai ini cerdik dan dia sengaja menantang agar lawannya bergerak lebih dulu.

Akan tetapi orang itu tersenyum dan sambil menggerakkan kedua senjata istimewa itu berkata, “Lihat baik-baik, Siucai. Bukankah ini jurus terampuh dari suling dan pensilmu?” Kedua tangan orang itu bergerak dan Gin-siauw Siucai terkejut mengenal jurus-jurus maut dari kedua senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk menyerangnya!

Tentu saja dia dapat memecahkan jurus ilmunya sendiri dan berhasil menangkis kedua senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain tadi, dia merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal sinkang, dia masih kalah jauh. Namun, Siucai ini merasa penasaran sekali. Puluhan tahun dia bertapa di Beng-san menciptakan ilmu-ilmu silat tinggi yang dirahasiakan dan belum pernah diajarkan kepada siapapun juga. Bagaimana sekarang telah dicuri oleh orang ini tanpa dia mengetahuinya? Dia melawan mati-matian, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh dari kedua senjatanya, namun karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung. Seperti juga yang lain dia tidak mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus. Terdengar suara keras dan kedua senjatanya itu, suling dan pensil patah-patah bertemu dengan senjata lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, menjura dan berkata, “Kepandaian Taihiap(Pendekar Besar) memang amat hebat, aku yang bodoh mengaku kalah.” Orang itu tersenyum dan memuji

“Tidak percuma julukan Gin-siauw Siucai karena memang hebat kepandaianmu.” Ucapan itu dengan jelas menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka Gin-siauw Siucai menjadi makin kagum dan terheran-heran.

“Sekarang tiba giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat yang gagah. Akan tetapi karena sepasang senjata pinto adalah hudtim dan kipas, yang tentu saja tidak dapat kautiru, bagaimana kalau kita bertanding dengan tangan kosong? Hendak kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto dengan ilmu silat tangan kosong pinto sendiri?”

Orang itu masih tersenyum, akan tetapi diam-diam ia terkejut. Tak disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia belum pernah melihat tosu ni mainkan ilmu silat tangan kosong, bagaimana dia akan dapat menirunya? Akan tetapi dengan tenang dia menjawab, “Tentu saja saya akan melayani kehendak Totiang, akan tetapi sebelum bertanding, saya harap Totiang tidak keberatan untuk memperkenalkan nama.”

“Siancai…! Anda licik, sobat. Semua orang hendak dikenal namanya, akan tetapi engkau sendiri menyembunyikan nama. Baiklah, pinto adalah Lam-hai Seng-jin yang berkepandaian rendah…”

“Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau kura-kura? Telah lama mendengar nama Totiang, girang hati saya dapat bertemu dan bermain-main sebentar dengan Totiang.”

“Nah, siaplah!” Lam-hai Seng-jin sudah memasang kuda-kuda sambil memandang tajam ke arah lawan karena dia ingin sekali tahu apakah benar lawan ini akan dapat menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya sendiri! Diam-diam orang itu memperhatikan dan tersenyum, lalu dia pun memasang kuda-kuda yang sama, kuda-kuda dari Ilmu Silat Tangan Kosong Bian-sin-kun (Tangan Kipas Sakti), semacam ilmu silat yang berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya sehingga telapak tangan menjadi halus seperti kapas, namun mengandung daya pukulan maut yang dahsyat sekali.

“Hiiaaatttttt….!!” Tosu itu sudah menerjang dengan pukulan mautnya. Tampak olehnya lawannya mengelak cepat dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu silatnya, akan tetapi betapa kagetnya melihat bahwa begitu mengelak lawan itu dalam detik berikutnya sudah menerjangnya dengan jurus yang sama, jurus yang baru saja dia pergunakan!

Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun cepat mengelak untuk memecahkan ilmunya sendiri, namun harus diakui bahwa elakan orang tadi dengan gerakan aneh jauh lebih cepat dan bahkan sambil mengelak orang itu dapat balas menyerang!

Kembali Lam-hai Seng-jin menyerang dengan jurus lain yang lebih dahsyat, dan seperti juga tadi lawannya meloncat dan tahu-tahu telah membalasnya dengan serangan dari jurus yang sama! Tentu saja dia dapat pula menghindarkan diri dan makin lama dia menjadi makin penasaran. Dikeluarkan semua ilmu simpanan, jurus-jurus maut dari Bian-sin-kun sampai delapan jurus banyaknya.

Semua jurus dapat dihindarkan orang itu dan tiba-tiba orang itu berseru, “Totiang, jagalah serangan Ilmu Silat Bian-sin-kun!” Dan dengan gencar kini orang itu menyerangnya dengan jurus-jurus yang tadi sudah dikeluarkannya, delapan jurus paling ampuh dari Bian-sin-kun. Karena gerakan orang itu cepat bukan main, Lam-hai Sengjin sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang sehingga dia terancam dan terdesak hebat oleh ilmu silatnya sendiri. Biarpun dia tahu bagaimana untuk memecahkan jurus-jurus serangan dari Bian-sin-kun, namun karena kalah tenaga dan kalah cepat, akhirnya punggungnya kena ditampar dan dia terpelanting, mukanya pucat dan dia harus cepat-cepat mengatur pernafasannya agar isi dadanya tidak terluka.

“Siancai…engkau benar-benar seorang manusia ajaib…” akhirnya dia berkata sambil bangkit perlahanlahan.

“Lepaskan aku…!” tiba-tiba terdengar seruan halus dan semua orang menengok ke arah Sin-tong dan melihat betapa anak ajaib itu telah dipondong oleh lengan kiri Kiam-mo Cai-li.

“Hei, lepaskan dia!” Enam orang kakek sakti maju berbareng.

“Mundur!” Kiam-mo Cai-li membentak dan menempelkan ujung payung pedang di tangan kanan itu ke leher Sin Liong. “Mundur kalian, kalau tidak dia akan mati!” Melihat ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua. Laki-laki aneh itu memandang dengan sinar mata berkilat, kemudian dia melangkah maju dan suaranya halus namun penuh wibawa ketika dia berkata, “Kiam-mo Cai-li, lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!”

“Hi-hik, enak saja kau. Mundur atau dia akan mampus di ujung payungku!” Dia menempelkan ujung payung yang runcing itu ke leher Sin Liong yang tak mampu bergerak dalam pelukan lengan kiri yang kuat itu.

Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang lain, laki-laki itu masih tersenyum dan masih melangkah maju, membuat Kiam-mo Cai-li mundur-mundur dan dia berkata, “Bocah itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Kalau kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi demi Tuhan, aku akan menangkapmu dan akan memberikan tubuhmu kepada Beruang Es untuk menjadi makanannya!” Berkata demikian, laki-laki itu menanggalkan jubah luarnya.

“Kau…kau..Pangeran Han Ti Ong….”

“Pangeran Han Ti Ong…!” Para tokoh kang-ouw itu berteriak. “Pangeran Pulau Es….!”

Kiam-mo Cai-li yang tadinya sudah merasa bahwa bocah ajaib itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah sekali. Dia menjerit dengan lengking panjang rambutnya menyambar ke depan, ke arah leher Pangeran Han Ti Ong, dan pedang payungnya juga meluncur dengan serangan yang dahsyat.

Laki-laki itu, yang disebut Pangeran Han Ti Ong, tenang-tenang saja, tidak mengelak ketika ujung rambut yang tebal itu seperti seekor ular membelit lehernya, akan tetapi ketika pedang payung berkelebat menusuk, dia menangkap payung itu dan sekali menggerakkan tangan pedang payung itu dan sekali menggerakkan tangan pedang payung itu membabat putus rambut yang melibat lehernya. Tangannya tidak berhenti sampai di situ saja. Selagi Kiam-mo Cai-li menjerit melihat rambut yang dibanggakan dan andalkan itu putus setengahnya, kedua tangan Pangeran Han Ti Ong bergerak, dan tahu-tahu tubuh Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih dulu dia menampar punggung wanita iblis itu sehingga tubuh Kiam-mo Cai-li menjadi lemas dan seperti lumpuh!

Dengan Sin Liong dalam pondongan lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti Ong membalik dan menghadapi tujuh orang itu, tidak mempedulikan Kiam-mo Cai-li yang mangeluh dan merangkak bangun. “Apakah masih ada diantara kalian yang hendak mengganggu anak ini? Sekali ini aku tentu tidak akan bersikap halus lagi!”

“Siancai….!” Lam-hai Sian-jin menjura, “Harap Ong-ya maafkan pinto yang tidak mengenal Ong-ya sehingga bersikap kurang ajar.”

“Maafkan aku, Pangeran.”

“Maafkan saya…”

Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya Kiam-mo Cai-li saja yang tidak minta maaf, bahkan wanita ini berkata, “Pangeran Han Ti Ong, kau tunggu saja, Kiam-mo Cai-li tidak biasa membiarkan orang menghina tanpa membalas dendam!”

“Hemmm, terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah, pergilah kalian, orang-orang tua yang tak tahu diri, tega mengganggu seorang bocah.” Dengan kepala menunduk, tujuh orang tokoh kang-ouw yang namanya terkenal itu meninggalkan Hutan Seribu Bunga. Karena mereka mempergunakan kepandaiannya, maka hanya nampak bayangan-bayangan mereka berkelebat dan sebentar saja sudah lenyap dari tempat itu.

“Hemmm…berbahaya…” Han Ti Ong melepaskan Sin Liong dan menghela napas panjang sambil memandang bocah itu yang sudah berlutut di depannya.

“Locianpwe selain sakti dan budiman juga cerdik sekali…” Sin Liong berkata memuji sambil memandang wajah Pangeran itu dengan kagum.

Han Ti Ong mengerutkan alisnya. “Hemmm, mengapa kau mengatakan demikian, terutama apa artinya kau mengatakan aku cerdik?”

“Locianpwe mengalahkan mereka, berarti Locianpwe sakti sekali, Locianpwe mengampuni dan membiarkan mereka lolos, berarti Locianpwe budiman, dan Locianpwe tadi mencatat gerakan-gerakan mereka dan kemudian mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri yang sudah Locianpwe catat berarti Locianpwe cerdik sekali.”

Wajah yang gagah itu berubah, mata yang tajam itu memandang heran dan kagum, kemudian dia berkata, “Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini. Tahukah engkau bahwa tanpa menggunakan akal budi, memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka dengan ilmu mereka sendiri, kalau mereka maju bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau sudah bebas dari bahaya, nah, aku pergi…!”

Melihat orang itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong memandang ke arah mayat sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru, “Locianpwe….”.

Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya untuk mentaati perintah orang kecuali suara ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi, ada sesuatu dalam suara bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan bertanya, “Ada apa lagi?”

Dengan masih berlutut Sin Liong berkata, “Locianpwe, sudilah kiranya Locianpwe menerima teecu sebagai murid.”

Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak yang masih berlutut itu. “Bocah, siapa namamu?”

“Teecu She Kwa, bernama Sin Liong. Dengan ringkas Sin Liong lalu menuturkan tentang kematian ayah bundanya dan mengapa dia melarikan diri dan bersembunyi di hutan itu karena dia ngeri dan muak menyaksikan kekejaman manusia dan merasa mendapatkan tempat yang tentram dan damai di tempat itu.

“Hemm, kau ingin menjadi muridku hendak mempelajari apakah?”

“Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Locianpwe dan tentu saja mempelajari ilmu kesaktian.”

“Kalau kau hanya ingin belajar silat mengapa tadi kau menolak ketika para tokoh menawarkan kepadamu agar menjadi murid mereka? Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian hebat.”

“Namun teecu masih melihat kekerasan di balik kepandaian mereka. Teecu kagum kepada Locianpwe bukan hanya karena ilmu kesaktian, terutama sekali karena sifat welas asih pada diri Locianpwe.”

“Tapi kau hendak belajar silat, mau kaupakai untuk apa? Bukankah kau lebih dibutuhkan dan berguna berada disini bagi penduduk sekitar Jeng-hoa-san?”

“Maaf Locianpwe. Tidak ada seujung rambut pun hati teecu untuk mempergunakan ilmu kesaktian dalam tindakan kekerasan. Dan tidak tepat pula kalau kepandaian teecu disini berguna bagi para penduduk. Buktinya, teecu hanya bisa mengobati orang sakit, itu pun kalau kebetulan jodoh, sedangkan sebelas orang ini, tertimpa bahaya maut sampai mati tanpa teecu dapat mencegahnya sama sekali. Andaikata teecu memiliki kepandaian seperti Locianpwe, apakah sebelas orang ini akan tewas secara demikian menyedihkan? Teecu kini melihat bahwa menolong orang tidak hanya mengandalkan ilmu pengobatan, juga untuk menyelamatkan sesama manusia dari tindasan orang kuat yang jahat, diperlukan kepandaian. Mohon Locianpwe sudi memenuhi permintaan teecu.”

“Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup disana tidaklah mudah dan enak, tidak seperti disini. Kau akan mengalami kesukaran, bahkan menderita ditempat yang dingin itu.”

“Kesukaran apa pun akan teecu terima dengan hati rela, karena tiada hasil dapat dicapai tanpa jerih payah, Locianpwe.”

Han Ti Ong tersenyum. Memang dia sudah tertarik sekali melihat bocah yang dijuluki Sin-tong ini. Bocah ini sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan orang lain yang lemah. Selain itu, pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa bocah ini memang benar-benar bocah ajaib, memiliki ketajaman otak dan pandangan yang luar biasa, juga memiliki darah dan tulang bersih, bakatnya malah jauh lebih besar daripada dia sendiri! Kalau tadinya dia tidak mau menerima bocah ini sebagai murid adalah karena dia merasa malu terhadap diri sendiri, karena kalau dia mengambil anak ini sebagai murid lalu apa bedanya antara dia dengan tujuh orang yang dihalaunya pergi tadi. Akan tetapi, memang ada bedanya sekarang setelah Sin Liong sendiri yang mengajukan permohonan agar diterima menjadi muridnya.

“Kalau memang sudah bulat kehendakmu menjadi muridku, baiklah, Sin-Liong. Mari kauikut bersamaku, akan tetapi jangan menyesal kelak. Hayo!” Han Ti Ong kembali membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi.

“Suhu, nanti dulu…!”

Pangeran itu mengerutkan alisnya. Lagi-lagi dia mendengar pengaruh yang luar biasa di balik suara anak itu yang memaksanya menoleh! Dengan suara kesal dia berkata, “Mau apa lagi?”

“Maaf, Suhu. Teecu mana bisa meninggalkan sebelas buah mayat itu disini begini saja?”

“Habis, apa maumu?”

“Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum pergi.”

“Kalau aku melarangmu?”

“Teecu tidak percaya bahwa Suhu akan sekejam itu, teecu yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan tetapi andaikata Suhu benar melarang teecu, terpaksa teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur mayat-mayat ini.”

Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan. Anak berusia tujuh tahun sudah berani memiliki pendirian seperti batu karang kokohnya. “Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap membangkang terhadap Guru!”

“Teecu menjadi murid bukan membuta, dan teecu ingin mempelajari ilmu yang baik. Kalau teecu mentaati saja perintah Suhu yang tidak benar, sama saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan.”

Mata Han Ti Ong makin terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat melihat apa yang tersembunyi di balik ucapan yang kelihatan kurang ajar ini dan dia mengangguk-angguk. “Lakukanlah kehendakmu, aku menunggu.”

“Terima kasih! Teecu memang tahu bahwa Suhu seorang sakti yang budiman!” Dengan wajah berseri Sin Liong lalu menggali lubang. Akan tetapi karena dia hanya seorang anak kecil dan yang dipergunakan menggali hanyalah sebatang cangkul biasa yang kecil pemberian orang-orang dusun dan yang biasa dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar obat, maka tentu saja menggali sebuah lubang untuk mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan ringan dan mudah!

Mula-mula Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan melirik ke arah muridnya itu yang bekerja keras. Disangkanya bahwa tentu bocah itu akan kelelahan dan akan beristirahat. Akan tetapi dia kecele. Sin Liong bekerja terus biarpun kaki tangannya sudah pegal-pegal semua, dan keringat membasahi seluruh tubuh, menetes dari dahinya dan kadang-kadang diusapnya dengan lengan baju. Akan tetapi dia tidak pernah berhenti bekerja. Sudah setengah hari mencangkul, baru dapat membuat lubang yang hanya cukup untuk dua buah mayat saja. Kalau dilanjutkan, agaknya untuk dapat menggali lubang yang cukup untuk semua mayat, ia harus bekerja selama dua hari dua malam atau lebih!

“Hemm, hatinya lembut tapi kemauannya keras. Benar-benar bocah ajaib.” Han Ti Ong mengomel sendiri dan dia lalu bangkit, dirampasnya cangkul dari tangan muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu mencangkul. Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang mundur dan menonton menjadi kabur pandangan matanya karena seolah-olah tubuh gurunya berubah menjadi banyak, semuanya mencangkul dan sebentar saja telah terbuat sebuah lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat itu. Tentu saja hati Sin lIong girang bukan main dan satu demi satu diangkat, atau lebih tepat diseeretnya mayat-mayat itu, dimasukkan ke dalam lubang dan air matanya bercucuran! Han Ti ong membantu muridnya mengguruk atau menutup lubang itu sehingga di tempat itu, di depan gua tempat tinggal Sin Liong, terdapat sebuah kuburan yang besar sekali.

“Sudahlah, sudah mati ditangisipun tidak ada gunanya. Mari kita pergi!” Sin Liong merasa lengannya dipegang oleh gurunya dan di lain saat dia harus memejamkan matanya karena tubuhnya telah “terbang” dengan amat cepatnya meninggalkan Gunung Jeng-hoa-san, entah kemana!

Akan tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong berani juga membuka matanya dan dengan penuh kagum dia melihat bahwa dia dikempit oleh suhunya yang berlari cepat seperti angin saja. Dia mengenal pula tempat divmana suhunya melarikan diri yaitu ke sebelah timur Pegunungan Jeng-hoa-san. Tiba-tiba dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium sesuatu, maka dia cepat berseru, “Suhu, harap berhenti dulu!”

Han Ti Ong berhenti. “Ada apa?”

“Suhu, disana itu…” Suara Sin Liong tergetar dan ketika Han Ti Ong menoleh, dia pun merasa jijik sekali.

Yang ditunjuk oleh muridnya itu adalah sekumpulan mayat orang yang sudah menjadi mayat rusak dan bekasnya menunjukkan bahwa mayat-mayat itu tentu diganggu oleh binatang-binatang buas sehingga berserakan kesana-sini.

“Mau apa kau?” Han Ti Ong membentak.

“Suhu apakah kita harus mendiamkan saja mayat-mayat itu? Mereka adalah bekas-bekas manusia seperti kita juga. Kasihan kalau tidak diurus…”

“Wah, kau memang gatal-gatal tangan! Nah, hendak kulihat apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?” Han Ti Ong menurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk diatas sebuah batu dari tempat agak jauh. Dia sungguh ingin tahu apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat yang sudah demikian membusuk, bahkan dari tempat dia duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya muntah.

Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri mayat-mayat itu, sedikit pun tidak kelihatan jijik atau segan. Kemudian, diikuti pandang mata Han Ti Ong yang terheran-heran bocah itu mulai menggali tanah dengan hanya menggunakan sebatang pisau kecil, pisau yang biasanya dipergunakan untuk memotong-motong daun dan akar dan yang agaknya tak pernah terpisah dari saku bajunya. Anak itu hendak menggali lubang untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu hanya dengan menggunakan sebatang pisau kecil!

Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga saking girangnya mendapat kenyataan bahwa muridnya ini benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi luhur dan wajar tanpa dibuat-buat! Dengan kagum dia meloncat bangun, lari menghampiri yang telah menggali lubang beberapa sentimeter dalamnya.

“Cukup Sin Liong. Lubang itu sudah cukup lebih dari cukup untuk mengubur mereka.”

“Ehhh…? Mana mungkin, Suhu…?”

“Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baik-baik!” Han Ti Ong lalu mengeluarkan sebuah botol dari saku jubahnya, menggunakan ujung sepatunya mencongkel mayat-mayat itu menjadi setumpukan barang busuk, dan dia menuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam botol ke atas tumpukan mayat. Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair, dalam sekejap mata saja lenyaplah tumpukan mayat itu karena semua, berikut tulang-tulangnya, telah mencair dan cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin Liong. Benar saja, cairan itu memasuki lubang dan meresap ke tanah, tentu saja lubang itu sudah lebih dari cukup untuk menampung cairan itu.

Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu menguruk lagi lubang itu dan berlutut di depan kaki suhunya, “Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu. Suhu sungguh sakti dan budiman.”

“Aahhh….!” Muka Han Ti Ong menjadi merah dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa malunya. Mana bisa dia disebut budiman kalau mengubur mayat-mayat itu bukan terjadi atas kehendaknya, melainkan dia “terpaksa” oleh muridnya? “Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekar-pendekar gagah. Sungguh kematian yang menyedihkan dan entah siapa yang dapat membunuh mereka. Mereka kelihatan bukan orang-orang sembarangan yang mudah dibunuh. Mari kita pergi, Sin Liong!” Kembali murid itu dikempitnya dan Pangeran Sakti itu menggunakan ilmu berlari cepat seperti tadi, melanjutkan perjalanan ke timur menuruni Pegunungan Jeng-hoa-san.

Tak lama kemudian, kembali Sin Liong yang dikempit (dijepit di bawah lengan) berseru, “Haiii Suhu, harap berhenti dulu…!”

Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga menurunkan bocah itu dari kempitan di bawah ketiaknya. “Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak penting sekali, aku akan marah!”

“Lihat disana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong orang yang sengsara itu? Siapa tahu dia juga sudah mati disana…”

Tanpa menanti jawaban suhunya, Sin Liong sudah lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di bawah pohon tak jauh dari situ. Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan tetapi dari tempat ia berdiri, Han Ti Ong mengerti bahwa orang itu belum tewas, agaknya pingsan atau tertidur saja. Dia tersenyum dan melihat muridnya sudah menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Betapa kagetnya ketika dia mendengar teriakan muridnya,

“Eihh, Suhu! Dia seorang wanita!” Han Ti Ong terheran. Dia lalu meloncat ke arah muridnya dan melihat betapa tiba-tiba orang yang disangkanya pingsan itu sudah meloncat bangun dan langsung memukul kepala Sin Liong dengan kekuatan dahsyat.

“Wuuuttt……….. plakkk! Augghhh….!!” Wanita yang mukanya kotor matanya merah dan rambutnya awutawutan itu menjerit ketika pukulannya tertangkis oleh lengan Han Ti Ong yang amat kuat. Dia terhuyung ke belakang, sejenak memandang Han Ti Ong dan Sin Liong, kemudian menangis tersedu-sedu dan bergulingan diatas tanah menangis seperti seorang anak kecil.

“Jangan….aughhh, jangan….lepaskan aku….lepaskan …! Jangan bunuh mereka…!” Sin Liong tertegun dan memandang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang wanita yang berotak miring!

“Toanio(Nyonya), kau kenapakah…?” Sin Liong melangkah ke depan.

Tiba-tiba wanita itu meloncat bangun dan Han Ti Ong sudah siap melindungi muridnya yang sama sekali tidak kelihatan takut itu.

Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba tertawa terkekeh. “Hi-hi-hi-hikk!”

Aneh sekali, ketika wanita itu tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis! Wanita itu adalah seorang gadis muda yang amat cantik, akan tetapi yang entah mengapa telah menjadi gila. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian pria yang terlalu besar, rambutnya yang hitam panjang itu riap-riapan tidak diurus, mukanya kotor terkena debu dan air mata, matanya merah dan membengkak.

“Hi-hi-hik, kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong, aku bersumpah akan membunuhmu untuk membalas kematian dua belas orang Suhengku!”

Kemudian dia menangis lagi. ” Hu-hu-huuuuuh…. Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai habis terbasmi….”

Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga Belas Orang Pendekar Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai tiga belas orang pendekar gagah perkasa pembela keadilan dan kebenaran, teringat pula bahwa mereka terdiri dari dua belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah, saudara termuda.

“Nona, apakah engkau orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai?” tanyanya sambil melangkah maju menghampiri wanita gila itu.

“Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku lagi!” Dan tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya.

Han Ti Ong menangkis dan menotok. Robohlah wanita itu, roboh dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi.

“Suhu, mengapa….?” Sin Liong bertanya penasaran.

“Bodoh, kalau tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk terus. Coba kauperiksa dia, apakah kau bisa mengobatinya?”

Sin Liong berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot tanpa mampu bergerak. Setelah memerikasa sebentar, dia menarik napas panjang. “Suhu, dia terkena pukulan batin yang amat berat, membuat dia menjadi begini, berubah ingatannya. Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat teecu mencarikan daun penenang untuk mengobatinya.”

“Hemm, kau lihatlah Gurumu mencoba untuk mengobatinya.” Han Ti Ong megeluarkan sebatang jarum emas dari sakunya, setelah membersihkan ujungnya dia lalu mengahampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya di tiga tempat, di tengkuk kanan kiri dan ubun-ubun!

Sin Liong memandang dengan mata terbelalak. Dia sudah mendengar dari ayahnya tentang kepandaian orang mengobati dengan tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia menyaksikannya. Dan wanita itu baru mengeluh lalu tertidur dengan pernapasan yang panjang dan tenang. Ketika gurunya mencabut jarum dan menyimpannya, gurunya berkata, “Coba kau periksa lagi matanya, apakah sudah ada perubahan?”

Sin Liong membuka pelupuk mata dan meihat bahwa mata wanita itu yang tadinya mengeluarkan sinar aneh yang liar, kini telah normal kembali. Dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Suhunya. “Suhu, teecu seperti buta, tidak tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula.”

“Hemm, dalam hal mengenal tetumbuhan obat, mana aku mampu menandingimu? Akan tetapi aku mempunyai kepandaian menusuk jarum, kepandaian turunan yang tentu kelak akan kuajarkan kepadamu.”

“Suhu, teecu mengajukan sebuah permohonan, harap Suhu tidak keberatan.” “Hemm, apa lagi?”

“Harap Suhu suka menolong wanita malang ini, dan membiarkan dia ikut dengan kita.”

“Kau…………..kau gila…….?”

“Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan disini, lalu datang orang jahat, bagaimana?”

“Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap, ilmu kepandaiannya tinggi. Siapa berani mengganggunya?”

“Buktinya, dua belas orang suhengnya tewas dan tentu mereka itu adalah mayat-mayat yang tadi kita kubur. Agaknya yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong. Selain itu, kalau dia teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega membiarkan dia seperti itu?”

Han Ti ong memandang wajah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia terheran sendiri mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu mendatangkan rasa iba yang luar biasa di hatinya? Mengapa dia merasa tertarik dan ingin sekali menolong wanita muda ini? Apakah dia sudah “Ketularan” watak muridnya, ataukah… ataukah…? Dia tidak berani membayangkan. Selama ini hanya isterinya seoranglah wanita yang menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini.. entah mengapa, telah membuat dia tertarik dan kasihan sekali.

“Sudahlah, kau memang cerewet, dan kalau tidak kuturuti, tentu kau rewel terus. Biar kita membawa bersama ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya.” Ucapan terakhir ini seperti ditujukan kepada hatinya sendiri!

“Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman.” Dengan hati mengkel karena ucapan muridnya itu seperti ejekan kepadanya karena dia mau menolong dara ini sama sekali bukan karena dia budiman, melainkan karena dia kasihan dan terutama sekali… tertarik hatinya, dengan kasar dia lalu mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak kanannya, dan menyambar tubuh Sin Liong di bawah ketiak kirinya dan larinya Pangeran yang sakti ini secepat terbang menuju ke pantai lautan.

Siapakah sebetulnya manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh orang tokoh kang-ouw itu? Siapakah Pangeran Han Ti Ong yang pada bagiaan dada bajunya terdapat lukisan burung Hong dan seekor Naga emas itu? Dia adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau ini merupakan pulau rahasia yang hanya dikenal orang kang-ouw seperti dalam dongeng karena tidak pernah ada orang yang berhasil menemukan pulau itu kecuali beberapa orang nelayan yang perahunya diserang badai dan mereka ini ditolong oleh manusia-manusia sakti, manusia yang menjadi penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es di mana terdapat istana indah dan merupakan sebuah kerajaan kecil penuh dengan orang sakti. Setelah ditolong dan diselamatkan, dan berhasil kembali ke daratan, para nelayan inilah yang membuat cerita seperti dongeng itu sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di dunia kang-ouw.

Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang pangeran, ratusan tahun yang lalu. Seorang pangeran yang amat sakti, seorang pangeran yang dianggap pemberontak karena berani menentang kehendak kaisar, dan pangeran ini bersama keluaraganya menjadi pelariaan. Dengan kesaktiannya, dia berhasil melarikan keluarganya ke pantai timur dan menggunakan sebuah perahu utnuk mencari tempat baru. Tujuannya adalah ke pulau di timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari daratan yang melarikan diri dan menjadi buronan karena berani menentang pemerintah, yaitu Kepulauan Jepang! Akan tetapi dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai hebat dan perahunya dibawa jauh ke utara sampai kemudian perahu itu mendarat di sebuah pulau. Pulau Es!

Melihat pulau itu tersembunyi, baik sekali dijadikan tempat persembunyiannya, dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang tanahnya cukup subur, maka pangeran pelarian ini mengambi keputusan untuk menjadikan Pulau Es sebagai tempat tinggalnya. Dia lalu mengumpulkan orang-orang yang setia kepadanya, membawa mereka ke Pulau Es menjadi pengikut-pengikutnya. Dibangunnya sebuah istana yang kecil namun indah di Pulau itu dan berdirilah sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini!

Berkat kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya dan keluarga raja hidup aman tentram dan penuh kebahagiaan di Pulau Es. Para keluarganya hidup rukun dan para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga penghuni pulau itu berkembang biak. Karena kesaktian rajanya, dan karena letak pulau itu yang sukar dikunjungi orang luar, maka kerajaan kecil ini tidak pernah terganggu. Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya, merupakan ilmu-ilmu warisan yang hebat, dan tentu saja para pengikut mereka mendapat pula pelajaran ilmu yang tinggi.

Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es. Pangeran ini berbeda dengan keturunan raja yang sudah-sudah. Kalau semua keturunan raja hidup di Pulau Es dan hanya meninggalkan pulau kalau mereka ada keperluan di pulau-pulau kosong sekitar daerah itu untuk mengambil daun obat, sayur-sayuran atau berburu binatang, maka Pangeran Han Ti Ong tidak betah tinggal di tempat sunyi itu. Dia sering kali pergi dari pulau dan diam-diam dia melakukan perantauan di daratan! Dia adalah orang yang paling banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya sehingga dia adalah orang terpandai diantara para keluarga raja di Pulau Es. Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan, dia dapat mengambil banyak ilmu-ilmu silat tinggi yang lain dari daratan sehingga kepandaiannya bertambah. Dan gara-gara perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es menjadi makin terkenal dan nama Pangeran Han Ti Ong sendiri juga menggemparkan dunia kang-ouw sungguhpun dia jarang sekali memperkenalkan diri.

Melihat bajunya yang terhias gambaran naga dan burung Hong itu saja sudah cukup bagi para tokoh kang-ouw untuk mengenal manusia sakti dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi di Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh besar dunia kang-ouw.

Para Pangeran yang sudah-sudah, selalu mengambil isteri dari keluarga kerajaan sendiri, yaitu saudara-saudara misan mereka sendiri. Hal ini adalah untuk menjaga agar “darah” kerajaan tetap “asli”. Akan tetapi, berbeda dengan semua kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang jatuh cinta kepada seorang dara puteri penghuni Pulau Es biasa, berkeras mengambil dara itu sebagai isterinya! Padahal biasanya, dara-dara yang berdarah “biasa” ini hanya diambil sebagai selir-selir oleh para pangeran dan raja. Akan tetapi, Pangeran Han Ti Ong tidak mau mengambil selir dan hanya mempunyai seorang isteri, yaitu anak nelayan yang menjadi pengikut keluarga raja, seorang dara biasa saja, namun yang sesungguhnya memiliki kecantikan yang mengatasi kecantikan para puteri raja!

Dari isteri tercinta ini, Pangeran Han Ti Ong mempunyai seorang puteri yang pada waktu itu berusia enam tahun, seorang anak perempuan yang mungil, cantik, keras hati seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya. Anak ini diberi nama Han Swat Hong (Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk menamakan puterinya karena ketika puterinya terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju yang amat kuat!

 


Pada pagi hari itu Swat Hong, anak perempuan berusia enam tahun lebih itu, duduk bengong di tepi pantai Pulau Es. Dia sengaja memilih tempat sunyi yang agak tinggi ini untuk melihat jauh ke selatan, dan hatinya penuh rindu terhadap ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan itu.

“Hong-ji (Anak Hong)…” Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil tadi adalah ibunya, dia lalu meloncat bangun, lari menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya dan menangis.

Ibunya tertawa. “Aih-aihhh… anakku yang biasanya periang tertawa mengapa menangis? Mengapa bulan yang berseri gembira menjadi suram? Awan hitam apakah yang menghalanginya?”

“Ibu, kau…kau kejam!”

“Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang menyembelih ikan atau ayam. Akan tetapi ibumu tidak kejam terhadap manusia.” Memang watak Liu Bwee, ibu anak itu, atau isteri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang menurun pula kepada Swat Hong.

“Ibu kejam, mengapa Ibu tidak berduka? Apakah Ibu tidak rindu kepada Ayah?” Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali dan terasa lagi dua titik air mata meloncat turun ke atas pipinya. Melihat ini, Swat Hong melorot turun dan bertepuk-tepuk tangan,

“Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu kepada Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!” Memang watak anak-anak, begitu melihat orang lain berduka, dia sendiri lupa akan kedukaanya dan merasa terhibur!

Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan tetapi masih bercucuran air mata. Swat Hong yang tadinya berbalik menggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya seperti juga dia tadi, kini menjadi terheran dan berkhawatir. “Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang terjadi? Apakah diam-diam ibu begitu merindukan Ayah dan menyembunyikannya saja?”

Liu Bwee memaksa diri tersenyum dan menghapus air matanya, mengangguk-angguk sebagai jawaban karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan suara tanpa terisak menangis. Akan tetapi puterinya itu adalah seorang anak yang amat cerdik, maka tentu saja tidak dapat dibohonginya semudah itu.

“Ibu ada apakah? Harap Ibu beritahu kepadaku, siapa yang menyusahkan hati Ibu? Akan kuhajar dia!” Swat Hong mengepal kedua tinjunya yang kecil seolah-olah orang yang menyusahkan hati ibunya sudah berada disitu dan akan dihantamnya.

Melihat sikap anaknya ini, hati Liu Bwee terharu sekali dan ingin dia menangis lagi, akan tetapi ditekannya perasaan harunya dan dia tertawa. “Aih, Hong-ji, kalau ada yang kurang ajar kepada ibumu, apakah Ibumu tidak dapat menghajarnya sendiri?”

Swat Hong tertawa. “Memang aku tahu bahwa kepandaian Ibu juga hebat, biarpun tidak sehebat Ayah, akan tetapi tidak puas kalau aku tidak menghajar dengan kedua tanganku sendiri kepada orang yang menyusahkan hati Ibu.”

“Anakku yang baik…!” Untuk menekan harunya, Liu Bwee mengangkat tubuh anaknya, dipeluk, diciuminya kemudian dia membentak, “Terbanglah!” dan melempar tubuh anak itu ke atas.

Swat Hong bersorak gembira. Itulah sebuah diantara permainan mereka. Dia senang sekali kalau dilempar ke udara oleh Ibunya, terutama kalau ayahnya yang melakukannya karena lemparan ayahnya membuat tubuhnya “terbang” tinggi sekali. Namun kini lemparan ibunya cukup menggembirakan hatinya karena biarpun Ibunya tidak sekuat ayahnya, lemparannya cukup membuat tubuhnya melambung tinggi melewati puncak pohon! Ketika tubuhnya melayang turun, ibunya sudah siap menyambutnya, akan tetapi dasar anak nakal, dia menggunakan kesempatan ini untuk berlatih! Dia cepat membalikkan tubuh sehingga kedua kakinya di atas dan cepat dia menggunakan kedua tangannya untuk menyerang ibunya, mencengkram ke arah ubun-ubun. Itulah jurus terakhir yang dilatihnya dari ayahnya yang seharusnya dilakukan dengan loncatan ke atas dan menyerang ubun-ubun kepala lawan, akan tetapi kini dilakukannya ketika dia melayang turun!

“Haaiiiit…!!” Untuk memperingatkan ibunya, Swat Hong menjerit sebelum menyerang.

Tentu saja Liu Bwee tidak perlu diperingatkannya lagi. Semenjak menjadi isteri Pangeran Han Ti Ong, wanita puteri nelayan yang tentu saja seperti semua penghuni Pulau Es telah memiliki dasar ilmu silat tinggi, telah digembleng oleh suaminya dengan ilmu-ilmu simpanan yang tinggi sehingga dia menjadi seorang yang sakti seperti semua keluarga kerajaan itu. Melihat kegembiraan puterinya, dia pun cepat mengelak, dari samping dia menyambar kedua lengan anaknya dan dengan bentakan nyaring kembali tubuh anaknya dilemparkan ke atas!

Tubuh itu melayang tinggi dan tiba-tiba dari atas Swat Hong berteriak girang, “Heiii, Ibu… itu Ayah datang….!!”

Mendengar ini, Liu Bwee cepat lari kepinggir tebing tinggi dan memandang ke laut. Wajahnya berseri-seri, jantungnya berdebar karena penuh rindu kepada suaminya. Benar saja. Tampak sebuah perahu dan dia mudah mengenal suaminya yang mendayung perahu itu dengan kekuatan dahsyat sehingga perahu kecil meluncur seperti seekor ikan hiu yang marah. Akan tetapi alis wanita ini berkerut ketika dia melihat dua orang lain di dalam perahu. Seorang wanita muda yang cantik! Hatinya terasa tidak enak. Dia tidak akan mengikat suaminya, dan sebagai seorang isteri pangeran calon raja tentu saja dia maklum bahwa suaminya berhak mengambil selir-selir sebanyaknya. Akan tetapi entah mengapa, kedatangan suaminya dengan dua orang itu, terutama seorang wanita cantik, mendatangkan rasa gelisah yang aneh didalam hatinya.

“Ibuuuu…..tolong dulu aku………..!” 

Teriakan Swat Hong ini mengejutkan hatinya. Dia menengok dan melihat tubuh anaknya meluncur turun. Dia kaget dan baru sadar bahwa ketegangan mendengar suaminya pulang membuat dia lupa kepada puterinya. Sungguhpun Swat Hong telah memiliki ginkang yang cukup baik akan tetapi meluncur turun dari tempat tinggi seperti itu ada bahayanya patah atau setidaknya salah urat. Untuk meloncat sudah tidak ada waktu lagi, maka cepat dia menyambar sebuah ranting kayu di dekat kakinya, melontarkan kayu itu dengan tepat melayang di bawah kaki Swat Hong dan anak ini juga tidak menyianyiakan pertolongan ibunya. Dia menginjak kayu itu dan tenaga luncuran kayu itu dapat menahan dan mengurangi tenaga luncuran tubuhnya sendiri dari atas sehingga dia dapat meloncat kebawah dengan aman.

Seperti tidak pernah mengalami bahaya apa-apa, anak itu lalu lari ke arah ibunya dan berteriak girang, “Ayah datang, Ibu?”

Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh, tetapi memandang ke arah perahu yang makin mendekat pantai.

“Heii, Ayah bukan datang sendiri! Ada seorang wanita dan anak laki-laki bersama ayah di dalam perahu!”

Liu Bwe tetap tidak menjawab akan tetapi memandang tajam penuh selidiki ke arah perahu.

“Wah, jangan-jangan itu selir dan putera..ayah!” Swat Hong yang memang berwatak terbuka itu berkata mengomel. Dia pun sudah tahu akan kebiasaan para pangeran untuk mengambil selir, maka dia tidak akan merasa heran pula kalau ayahnya juga mempunyai selir di luar pulau Es, biar pun hatinya merasa tidak senang dan penuh iri memandang kepada anak laki-laki di dalam perahu itu.

Mendengar ucapan yang tanpa disengaja oleh Swat Hong merupakan benda tajam menusuk hatinya itu, Liu Bwee menjawab, Perempuan itu masih terlalu muda untuk menjadi ibu anak laki-laki itu, Sungguhpun bukan tidak mungkin dia adalah selir Ayahmu karena dia memang cantik.”

Jawaban ini keluar dari lubuk hati Liu Bwee sehingga keluar melalui mulutnya seperti tidak disadarinya. Barulah dia kaget ketika kalimat itu telah terucapkan. Cepat dia menoleh ke arah puterinya dan merasa menyesal telah mengeluarkan katakata yang penuh cemburu tadi. Segera digandengnya tangan anaknya dan untuk mengapus kata-katanya dari hati anaknya dia berkata riang, “Ehh, kenapa kita disini saja? Hayo kita sambut Ayahmu!”

Berlari-larianlah mereka menuruni tebing untuk menyambut kedatangan Pangeran Han Ti Ong di pantai pasir. Sikap wanita yang penuh kegembiraan ini menyembunyikan semua perasaanya sehingga Swat Hong sudah lupa lagi akan kedukaan ibunya tadi. Sebenarnya, memang amat giranglah hati Liu Bwee melihat kembalinya suaminya sungguhpun kegembiraanya itu akan lebih besar andai kata suaminya pulang sendirian saja.

Semenjak suaminya pergi beberapa bulan yang lalu dia mengalami penderitaan batin yang hebat. Memang dia maklum bahwa dirinya tidak disukai oleh keluarga kerajaan, karena dianggap seorang wanita berdarah rendah. Kebencian keluarga itu menjadi-jadi ketika mendapat kenyataan betapa Han Ti Ong tidak mau mengambil selir.Hal ini dianggap oleh mereka Bahwa Liu Bwee menggunakan daya upaya untuk mengikat suaminya!. Apalagi karena Liu Bwee tidak mempunya anak laki-laki, maka kebencian mereka makin bertambah. Sudah tentu saja, yang merasa paling benci adalah mereka yang mengharap agar Han Tiong pangeran calon raja itu memperistrikan puteri mereka!

Pada waktu itu, raja yang sudah tua menderita sakit dan sudah menjadi dugaan umum bahwa usianya takan bertahan lama lagi. Agaknya raja itu hanya menantikan kembalinya puteranya yang menjadi putera mahkota, yaitu pangeran Han Ti Ong untuk mewariskan singasana kepada puteranya ini. Akan tetapi, karena keadaan Han Ti Ong yang lain daripada para pangeran lain, suka merantau, isterinya orang rendah dan hanya satu, tidak punya selir, tidak punya putera, maka Liu Bwee maklum bahwa di antara keluarga raja terdapat persekutuan yang menentang diangkatnya suaminya menjadi calon raja! Hal inilah yang mendukakan hatinya. Dia menganggap bahwa dirinya menjadi penghalang Bagi suaminya dan hal inilah yang paling merusak hatinya. Maka dapat dibayangkan betapa gembira hatinya melihat suaminya pulang!

Ketika ibu dan anak ini tiba dipantai, ternyata pasukan kehormatan telah berbaris dan siap menyambut pulangnya pangeran yang dihormati itu. Tentu saja Liu Bwee dan Swat Hong mendapat tempat kehormatan paling depan dan ketika akhirnya perahu itu menempel dipantai dan Han Ti Ong melompat keluar sambil tersenyum lebar, Swat Hong menjadi orang pertama yang berlari menyambut. “Ayah….!!”

“Ha-ha, Hong-ji, kau makin cantik saja!” Han Ti Ong menerima puterinya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu melemparkan tubuh anaknya ke udara. Sambil tertawa-tawa Swat Hong melayang turun dan langsung menyerang ayahnya dengan jurus Kek-seng-jip-hai (Bintang Terompet Meluncur ke Laut ) seperti yang dilakukanya kepada ibuya tadi.

“Ha-ha-ha, bagus juga!”Ayahnya tertawa, menyambar kedua lengan yang mencengkram ubun-ubunnya, lalu memondong puterinya, dan mencium dahinya. Sambil memondong puterinya Han Ti Ong menghampiri istrinya yang sudah maju menyambutnya, memandang penuh kemesraan dan berkata halus, “Harap kau baik-baik saja selama aku pergi.”

Liu Bwee memandang suaminya, tersenyum akan tetapi di balik senyum itu tampak oleh Han Ti Ong ada sesuatu yang menggelisahkan hati istrinya, apalagi ketika mendengar suara istrinya lirih. “Ayahanda raja sedang menderita sakit parah.”

Han Ti Ong mengangguk. Ucapan yang pendek itu sudah mencakup semua isi hati istrinya. Dia sudah mengenal hati istrinya yang tercinta itu dan tahu dia bahwa menjelang kematian ayahnya, ada hal-hal yang menggelisahkan istrinya. Tentu saja tentang warisan tahta kerajaan dan istrinya yang datang dari keluarga berdarah “rendah” itu tentu saja mengkhawatirkan bahwa keturunan istrinya itu akan menjadikan persoalan bagi pengangkatan raja!

Maka dia memandang isterinya dengan sinar mata menghibur, kemudian seperti teringat dia berkata, “Ahh, hampir aku lupa. Aku datang bersama seorang muridku, namanya Sing Liong akan tetapi di daratan besar sana dia dikenal sebagai Sin-tong.”

“Hai, seorang sin-tong (anak ajaib)? Hemm, ingin aku tahu sampai di mana keajaibannya!”

“Hong-ji, jangan!” ibunya menegur, akan tetapi anak itu meloncat ke depan dan pada saat itu, Sin Liong sudah turun dari atas perahu. Baru saja dia berjalan menghampiri gurunya, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang gadis cilik dengan gerakan seperti seekor burung garuda menyambar telah menyerangnya dari depan, sebuah kaki kecil telah menghantam dadanya.

“Bukk!!” Tanpa dapat ditanyakan lagi, Sin Liong roboh terjengkang, dadanya terasa nyeri dan napasnya sesak.

Akan tetapi dia bangkit berdiri, mengebutkan pakaianya yang menjadi kotor, memandang anak perempuan yang lebih muda daripada dia itu, menggeleng kepala dan berkata tenang, “Sungguh sayang sekali, seorang anak-anak yang masih bersih dikotori kebiasaan buruk mempergunakan kekerasan untuk memukul orang tanpa sebab.”

“Aihhh…” Swat Hong tertegun, lalu menoleh kepada ayahnya yang terdengar tertawa keras, “Ayah, dia tidak bisa apa-apa, mengapa disebut Sin-tong? Serangan biasa saja membuatnya roboh terjengkang!”

“Ha-ha-ha, kaulihat dia roboh, akan tetapi apakah kau tidak lihat sesuatu yang ajaib? Dia tidak marah malah menyayangkan dirimu, bukankah itu ajaib?”

“Anak yang luar biasa dia…” terdengar Liu Bwee berkata lirih dan kini Swan Hong juga memandang Sin Liong .

Akan tetapi dia masih merasa tidak puas dan berkata, “Dia tidak marah karena takut dan pengecut, Ayah!”

“He, Sin Liong, apakah engkau takut kepada Swat Hong ini?” Han Ti Ong berteriak kepada Sin Liong.

Anak ini menggeleng kepala. “Suhu mengerti bahwa teecu tidak takut terhadap apa pun dan siapa pun.”

Swat Hong membusungkan dadanya yang masih gepeng itu, menegakan kepalanya dan menantang, “Bocah sombong ,kalau kau tidak takut, hayo kaulawan aku!” Dia sudah siap memasang kuda-kuda.

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Adik yang baik, aku tidak akan menggunakan kepandaian apapun juga untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain, apalagi terhadap seorang anak-anak seperti engkau.”

Gadis cilik itu sudah menerjang maju, dipandang oleh Sin Liong dengan sikap tenang saja, berkedip pun tidak menghadapi serangan anak perempuan itu. Tiba-tiba tubuh Swat Hong terhuyung ke belakang dan ternyata lengannya sudah ditangkap oleh ibunya dan ditarik ke belakang.

“Swat Hong, kau terlalu sekali! Seharusnya kau minta maaf kepada Suhengmu itu!” Swat Hong menoleh, melihat ayahnya tersenyum, melihat pandang mata semua orang dari prajurit sampai perwira penuh kagum terhadap Sin Liong.

Barulah dia ingat bahwa dia telah melanggar pelajaran pertama dari ayahnya, bahkan dari semua penghuni pulau bahwa ilmu silat pulau Es tidak boleh sembarangan dikeluarkan untuk menyerang orang tanpa alasan! Dan dia telah menyerang Sin Liong tanpa sebab apa-apa, padahal Sin Lion adalah murid ayahnya atau suhengnya (kakak seperguruan). Biarpun dia berwatak keras dan tidak mengenal takut, akan tetapi sifatnya yang gembira dan mudah berubah membuat Swat Hong dapat mengusir semua rasa penasaran dan sambil tersenyum dan muka ramah dia menjura ke arah Sin Liong sambil berkata, “Suheng, harap maafkan aku yang kurang ajar tehadap murid Ayah.”

Sin Liong terkejut. Kiranya bocah ini puteri suhunya! Dia pun menjura dan berkata, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi. Kepandaianmu memang hebat, tentu saja aku bukan tandinganmu.”

“Hi-hik, wah, dia baik sekali, Ayah!” Swat Hong lalu meloncat menghampiri Sin Liong, menggandeng tangannya dan diajak lari ke pinggir di mana dia menghujani Sin Liong dengan pertanyaan-pertanyaan. “Siapakah nama lengkapmu, Suheng? Dari mana kau datang? Bagaimana kau dapat menjadi murid Ayah? Apa saja yang sudah diajarkannya kepadamu? Mengapa pula kau disebut Sin-tong?”

Payah juga Sin Liong menghadapi hujan pertanyaan dari anak perempuan yang baru saja menyerangnya seperti seekor burung garuda akan tetapi yang kini sudah bersikap demikian ramah dan baik terhadapnya ini. Akan tetapi baru saja dia memperkenalkan namanya, yaitu Kwa Sin Liong dan belum sempat menjawab pertanyaan yang lain, perhatiannya, juga Swat Hong dan semua orang yang berada disitu tertarik oleh keributan yang terjadi ketika Kwat Lin turun dari atas perahu. Begitu Kwat Lin turun dari perahu, wanita yang masih belum sadar betul dari gangguan ingatannya karena malapetaka hebat yang menimpa dirinya, menjadi perhatian semua orang. Wanita ini memang berwajah manis dan gagah, apalagi ketika turun dari perahu itu rambutnya yang awut-awutan berkibar tertuip angin, pakaiannya yang terlalu longgar itu membuat dia kelihatan makin aneh dan penuh rahasia. Kwat Lin turun dengan sikap tenang, akan tetapi matanya bergerak liar menyapu semua orang yang memandangnya, kemudian mata itu berhenti memandang kepada Liu Bwee yang telah melangkah menghampirinya.

“Dia ini siapakah?” Liu Bwee bertanya tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pucat itu sambil didalam hatinya menduga-duga dan menanti jawaban yang diharapkan dari suaminya karena pertanyaan itu sesungguhnya diajukan kepada suaminya. Akan tetapi sebelum Han Ti Ong menjawab, tiba-tiba Kwat Lin, wanita itu membentak,

“Manusia-manusia busuk! Kubunuh engkau!” Dan dia sudah meloncat ke depan dan menyerang Liu Bwee dengan pukulan yang dahsyat.

“He, Twanio! jangan begitu…!!” Sin Liong berteriak mencegah, namun terlambat karena Kwat Lin sudah menyerang dengan cepatnya. Sedangkan para penghuni Pulau Es, termasuk Swat Hong dan Pangeran Han Ti Ong sendiri, hanya memandang dengan tenang-tenang saja!

“Wuuuutttt… plak-plak…!” Tubuh Kwat Lin terpelanting ketika pukulannya tertangkis oleh Liu Bwee dan wanita ini sudah menampar pundaknya sebagai serangan balasan. Hal ini membuat Kwat Lin yang memang belum sadar benar itu makin marah. Dengan nekat dia melompat bangun dan menerjang lagi, Pangeran Han Ti Ong sudah mendahuluinya menotok pundaknya sambil berkata, “Tenanglah, Nona,”

Kwat Lin kembali roboh, akan tetapi tubuhnya disambar oleh Han Ti Ong. Ternyata dia telah ditotok lemas. Dengan lambaian tangan, Pangeran itu memanggil empat orang wanita pelayan yang kelihatan tangkas-tangkas. “Dia sedang sakit ingatannya tidak sewajarnya.” Ucapan ini ditujukan kepada istrinya yang memandang marah.

Mendengar ini, Liu Bwee mengangguk-angguk dan kemarahannya di wajahnya berubah menjadi iba. “Bawa dia ke kamar tamu dan rawat dia baik-baik,” kata Liu Bwee kepada empat orang pelayan itu yang segera menggotong tubuh Kwat Lin pergi dari situ.

Barulah Pangeran Han Ti Ong kini mempedulikan sambutan resmi dari para pangeran dan pasukan penghormatan. Tadi dia seolah-olah menganggap mereka semua itu seperti patung belaka. Dengan megah Pangeran itu lalu langsung diantar ke kamar ayahnya Sang Raja yang sedang sakit dan yang telah lama menanti kedatangan puteranya ini sedangkan Sin Liong langsung diajak oleh Swat Hong ke bagian istana di mana dia dan ibunya tinggal, yaitu di bagian kiri istana besar.

Tepat seperti telah diduga oleh semua penghuni Pulau Es, tiga hari kemudian setelah pulangnya Pangeran Han Ti Ong, raja tua meninggal dunia setelah sempat menyaksikan Han Ti Ong dinobatkan menjadi penggantinya, merajai Pulau Es dalam upacara yang amat sederhana. Dapat dibayangkan betapa tidak puas dan penasaran rasa hati para pangeran yang membenci Han Ti Ong karena usaha mereka memanaskan hati mendiang ayah mereka tentang keadaan Han Ti Ong tidak dipedulikan oleh raja tua itu. Dan untuk memberontak secara terang-terangan, tentu saja mereka tidak berani karena di dalam pulau itu, pada waktu itu Han Ti Ong merupakan orang yang paling sakti. Maka, mereka itu hanya diam saja biarpun tidak pernah lengah barang seharipun untuk mencari peluang dan kesempatan yang baik untuk menjatuhkan Han Ti Ong, atau lebih tepat lagi, menjatuhkan Lui Bwee yang mereka anggap sebagai biang keladi dari “penyelewengan” Han Ti Ong dari kebiasaan keluarga raja di Pulau Es!

 

Setengah bulan kemudian, berkat perawatan yang baik dari Liu Bwee dan para pelayan, juga dengan pengobatan tusuk jarum oleh Raja Han Ti Ong sendiri, ditambah obat-obatan berupa daun-daun yang dicari para anak buah Pulau Es atas petunjuk Sin Liong, gangguan ingatan yang diderita oleh The Kwat Lin menjadi sembuh.

Pada suatu pagi, wanita yang bernasib malang ini duduk seorang diri di dalam taman istana, taman yang bukan berisi bunga bungan hidup, melainkan terisi ukir-ukiran bunga dari batu-batu beraneka warna, dihias salju dan patung patung kayu. Sudah berhari-hari, dia duduk di taman ini dan didiamkan saja karena menurut Raja Han Ti Ong, wanita malang ini harus dibiarkan pulih kembali ingatannya dan tidak boleh diganggu. Namun, diam-diam dia sendiri melakukan pengawasan karena entah bagaimana, makin lama dia menjadi tertarik dan tahu bahwa dia jatuh hati kepada gadis ini!”

Tiba-tiba Kwat Lin melompat bangun karena mendengar gerakan di belakangnya. Sebagai seorang ahli silat kelas tinggi, sedikit suara saja cukup membuat dia siap waspada . Ketika dia membalik, dia melihat Han Ti Ong yang berdiri di situ sambil memandangnya dengan senyum ramah. The Kwat Lin yang kini sudah sembuh sama sekali, memandang penuh keheranan lalu menegur, “Siapakah engkau? Dan mengapa engkau bisa berada di tempat aneh ini?”

Melihat sikap gadis ini dan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, legalah hati Raja Han Ti Ong. Sikap dan kata-kata itu sudah cukup membuktikan bahwa Kwat Lin telah sembuh sama sekali, telah kembali kepada keadaan sebelum mengalami tekanan batin hebat, maka tentu saja tidak mengenalnya dan tidak mengerti mengapa dan bagaimana bisa berada di pulau itu. “Nona, girang hatiku mendapat kenyataan bahwa Nona telah sembuh dari lupa ingatan yang Nona derita belasan hari ini.”

“Lupa ingatan? Sekaranglah aku kehilangan ingatan karena aku tidak mengenal engkau dan tidak tahu mengapa dan bagaimana aku bisa berada di tempat ini.”

“Memang begitulah. Tadinya Nona lupa ingatan, dan baru sekarang Nona sadar sehingga Nona lupa lagi apa yang Nona telah alami selama belasan hari ini. Sungguh aku ikut merasa berduka dan terharu akan nasib Ca-sha Sin-siap yang amat malang….”

Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sekali dan kemudian berubah pucat, “Kau… kau tahu apa yang terjadi kepada kami…?”

Raja Han Ti Ong tersenyum dan memandang wajah yang mengguncangkan hatinya itu dengan senyum mesra. Tentu saja, Nona. Aku dan muridkulah yang mengubur jenazah dua belas orang suhengmu, dan aku dan muridku pula yang menolongmu membawa kesini kemudian mengobatimu sehingga sembuh hari ini. Aku adalah Raja Han Ti Ong, raja pulau ini dan kau berada di Pulau Es.”

Mata yang indah ini terbelalak. “Apa…? Di… di Pulau Es… dan aku telah mendengar nama besar Pangeran Han Ti Ong…”

“Sekarang telah menjadi Raja Han Ti Ong, raja sebuah pulau kecil tak berarti, Nona, dan aku belum mengetahui namamu karena selama ini kau tidak menyebut namamu.”

Kwat Lin menjatuhkan diri berlutut dan menahan isaknya. Saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Paduka, dan maafkan kalau saya tidak mengenal penolong saya. Saya bernama The Kwat Lin, orang termuda Cap-sha Sin-hiap, dan…kalau paduka menaruh kasihan kepada saya, saya ingin segera pergi dari sini … sekarang juga….”

“Nona The, aku adalah seorang yang tidak bisa menyimpan rahasia hati. ketahuilah, semenjak pertama kali melihatmu dan melihat penderitaanmu, timbul rasa iba dan sayang di dalam hatiku. Karena itu, kalau kiranya engkau suka aku akan merasa berbahagia sekali kalau Nona mau tinggal didalam istanaku ini, sebagai seorang istriku, istri ke dua.”

Kwat Lin terkejut sekali. Dia telah berhutang budi kepada raja ini, dan sekarang raja ini secara demikian terus terang menyatakan cintanya dan ingin mengambil dia sebagai isteri! Dia menjadi isteri raja? Dia yang telah dinodai oleh Pat-jiu Kai-ong? “Tidak! Maaf… saya… saya harus pergi sekarang juga. Hanya satu tujuan hidup saya, dan Paduka tentu tahu… yaitu untuk membunuh iblis Pat-jiu Kai-ong.”

Han Ti Ong mengangguk-angguk. “Aku mengerti dan aku sudah menduga bahwa seorang dara perkasa seperti engkau tentu saja tidak akan mau menerima tawaranku dan tidak mungkin aku mengharapkan seorang dara seperti Nona akan jatuh cinta begitu saja kepadaku. Akan tetapi aku pun tidak terlalu mengharapkan yang ajaib. Aku jatuh cinta kepadamu, Nona, dan adanya aku berani meminangnya secara terang-terangan, karena aku yakin Nona akan menerimanya berdasarkan cita-cita tunggal Nona itulah. Bagaimana mungkin Nona akan membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong, sedangkan Cap-sha Sin-hiap saja tidak mampu mengalahkannya. Akan tetapi kalau engkau menjadi istriku, hemmm…soal membalas dendam kepada Pat-jiu Kai-ong sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan.”

Ucapan ini berkesan mendalam, memang buat Kwat Lin termangu-mangu. Dia bukan gadis lagi dan tidak mungkin dia menjadi istri orang, dan baginya setelah berhasil membalas dendam, hanya kematianlah yang akan mengakhiri noda yang dideritanya. Akan tetapi, menjadi istri kedua Raja Han Ti Ong yang sakti, lain lagi halnya, apa pula kalau orang sakti itu sendiri sudah tahu akan keadaanya. “Apakah… apakah Paduka akan mengajarkan ilmu kesaktian kepada saya? tanyanya dan kini dia mengangkat muka, memandang raja itu, diam-diam harus mengakui bahwa laki-laki ini gagah dan tampan, sungguhpun usianya tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.

“Terserah kepadamu. kalau engkau suka memenuhi hasrat hatiku yang ingin memperistrimu. Kalau kau menghendaki, dalam waktu pendek saja aku dapat menangkap musuhmu itu dan menyeretnya kedepan kakimu. Atau, engkau boleh mempelajari ilmu dan aku berani tanggung bahwa selama setahun saja engkau akan mengalahkan musuhmu itu.”

“Be…benarkah itu?”

“Nona The Kwat Lin. Han Ti Ong bukan orang biasa membohong, pula aku tidak ingin mendapatkan dirimu dengan jalan membohong. Aku telah bicara terus terang dan andaikata engkau menolak sekalipun, aku tidak akan memaksamu. Sekarang juga, kalau engkau menolak, akan kusediakan perahu untukmu. Nah, engkau yang memutuskan.”

Tentu saja timbul keraguan hebat didalam hati Kwat Lin. Dia mengerti betapa lihainya Pat-jiu Kai-ong. Tentu saja dapat pergi ke Bu-tong-pai dan melaporkan malapetaka yang menimpa Cap-sha Sinhiap itu kepada gurunya, ketua Bu-tong-pai, Kui Bhok Sianjin. Akan tetapi, gurunya sudah tua sekali, dan belum tentu gurunya mau mencampuri urusan dunia, biarpun murid-muridnya terbunuh. Mengandalkan para saudara seperguruan, agaknya akan sukar mengalahkan Pat-jiu Kai-ong, dan terrutama sekali yang memperberat hatinya, kalau dia pergi ke Bu-tong-pai, tentu semua orang akan tahu tentang malapetaka yang menimpa dirinya, bahwa dia telah diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. ke mana dia akan menaruh mukanya kalau semua orang mengetahuinya akan hal itu? Sebaliknya, kalau dia berada di Pulau Es, selain tak seorang pun akan tahu tentang hal yang memalukan itu, juga dia akan mempunyai kesempatan besar untuk melakukan balas dendam itu! Akan tetapi, benarkah pria di depannya ini akan mampu mengajarnya sehingga dalam waktu setahun dia akan lebih pandai dari Pat-jiu Kai-ong? Dia tidak akan puas kalau tidak dapat membunuh jembel iblis itu dengan tangannya sediri. Biarpun dia sudah banyak mendengar nama besar Pangeran dari Pulau Es yang kini menjadi raja itu, namun bagaimana dia dapat membuktikan kesaktianya? Apakah orang ini lebih lihai dari gurunya dan terutama sekali, lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

Perlahan-lahan Kwat Lin bangkit berdiri dan sejenak memandang kepada Han Ti Ong yang juga sedang memandangnya. Keduanya berpandangan dan akhirnya Kwat Lin berkata, “Saya ingin sekali dapat membalas dendam dengan tangan saya sendiri. Akan tetapi, bagaimanakah saya dapat yakin bahwa dalam setahun saya dapat belajar di sini dan menangkan iblis itu?”

Han Ti Ong tersenyum dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya. “Inilah pedang yang kutemukan ketika aku dan muridku menolongmu.”

Kwat Lin menerima pedang itu dan air matanya turun bertitik akan tetapi segera dihapusnya. Itulah Angbwe- kiam pedang dari twa-suhengnya!

“Engkau meragu, baiklah. Kaupergunakan pedangmu dan kauserang aku untuk menguji apakah aku dapat melatihmu selama setahun sehingga kau lebih lihai daripada Pat-jiu Kai-ong.”

Kwat Lin menimang-nimang pedang Ang-bwe-kiam di tangannya. Pat-jiu Kai-ong telah dikeroyok oleh dia dan dua belas orang suhengnya. Mereka telah mainkan Ngo-heng-kiam, bahkan telah membentuk barisan Sin-kiam-tin ketika mengeroyok kakek iblis itu namun akhirnya mereka semua kalah, sungguhpun sejenak kakek itu terdesak. kini, kalau hanya dia seorang diri menyerang raja ini, mana bisa dipakai ukuran apakah dia lebih lihai dari Pat-jiu Kai-ong?

“Nona, jangan ragu-ragu. Percayalah, kalau engkau benar rajin belajar, dalam waktu setahun engkau pasti akan dapat mengalahkan dia. Hiat-ciang Hoat-sut dan Pat-mo-tung-hoat dari kakek itu sebetulnya kosong saja,” kata raja itu, seolah-olah dapat membaca isi hati Kwat-lin.

Dara itu terkejut, kemudian mengambil keputusan untuk menguji orang ini sebelum dia menyerahkan dirinya yang sudah ternoda itu menjadi istrinya sebagai penebus latihan ilmu untuk membalas dendam. “Baiklah, saya akan menguji kepandaian Paduka, harap Paduka bersiap dan mengeluarkan senjata.”

“Ha-ha-ha, Pat-jiu Kai-ong membutuhkan tongkatnya dan pukulan beracunnya untuk mengalahkan Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi aku cukup menggunakan ini.” Dia meraih kebawah dan tanganya sudah membentuk batu karang sedemikian rupa sehingga batu karang itu berbentuk panjang seperti pedang!

“Harap Paduka siap!” Kwan Lin berseru dan tiba-tiba pedangnya menyambar dengan cepat, melakukan tusukan ke arah leher sedang tangan kirinya sudah memukul ke arah dada. Serangan berganda dengan pedang dan pukulan tangan kiri ini merupakan jurus hampuh dari Ngo-heng-kiam-sut.

Tiba-tiba tubuh raja itu bergerak, serangan Kwat Lin telah dapat dielakkan dan pada detik berikutnya, leher dara itu tersentuh ujung batu karang dan dadanya juga tersentuh kepalan tangan kiri Han Ti Ong.

Kwat Lin menjerit lirih karena maklum bahwa kalau tusukan batu dan pukulan tadi dilanjutkan oleh Han Ti Ong tentu dia telah roboh dan tewas seketika. Akan tetapi yang lebih mengejutkan hatinya adalah gerakan raja itu. “Paduka… Paduka mengunakan jurus Hui-po-liu-hong (Air Tumpah Muncrat Pelangi Melengkung) dari Ngo-heng-kiam-sut Bu-tong-pai!”

Han Ti Ong tersenyum, “Persis sekali dengan seranganmu tadi, akan tetapi jauh lebih lihai karena sekali serang berhasil, bukan? Nah, kalau engkau memiliki kesempurnaan dalam jurus ini tadi, bukankah mudah kau mengalahkan musuhmu?”

Kwat Lin tertegun, akan tetapi dia masih belum puas. “Saya ingin mencoba lagi!”

“Boleh, boleh. kauseranglah aku sepuluh jurus yang paling lihai dan aku tanggung bahwa engkau akan kukalahkan dengan jurusmu yang sama.” Dengan pengerahan tenaga dan memilih jurus-jurus terampuh, Kwat Lin menyerang lagi, akan tetapi setiap kali menyerang satu jurus, dia menjerit lirih karena benar saja, dia selalu dikalahkan oleh jurusnya sendiri. Jurus itu digerakan oleh Han Ti Ong sedemikian aneh dan sempurnanya, demikian cepat dan mengandung tenaga mujijat sehingga biarpun dia mengenal jurusnya sendiri, dia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis!

Setelah sepuluh kali dia terkena sentuhan ujung batu atau usapan tangan kiri lawan yang lihai ini dia menjadi yakin, lalu menjatuhkan diri berlutut. “Saya menerima penawaran Paduka!”

Han Ti Ong memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya bangun berdiri. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan wajah raja itu berseri melihat betapa wajah Kwat Lin menjadi merah sekali dan ada kedukaan hebat tersembunyi dibalik kemerahan wajah karena malu itu. dengan mesra Han Ti Ong mengusap pipi halus kemerahan itu dan berkata lirih, “Aku tahu, Kwat Lin. Peristiwa terkutuk menimpa dirimu membuat kau jijik terhadap pria dan muak terhadap hubungan antara pria dan wanita. Akan tetapi, aku bukanlah pria yang mengutamakan hubungan badani saja, Kwat Lin. Aku akan menghapus kejijikan dan kemuakan itu. Percayalah, aku cinta dan iba kepadamu. Keputusan yang kauambil ini tepat sekali dan tidak akan mendatangkan sesal di kemudian hari. Mari,mari kita mengumumkan pernikahan kita. Semoga engkau berbahagia.” Han Ti Ong mencium dan mengecup mesra dan halus pinggir mata Kwat Lin, kemudian menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan memasuki istana dari pintu belakang yang menembus ke “Taman” itu.

Tentu saja tidak ada kehebohan terjadi ketika Han Ti Ong mengumumkan keputusanya mengambil The Kwat Lin, sebagai istri ke dua, sunguhpun hal ini mendatangkan bermacam-macam tanggapan dalam hati para penghuni Pulau Es. Pesta diadakan, pesta yang sederhana saja tetapi cukup meriah. Sebagian besar penghuni Pulau Es bersuka cita dan mengharapkan bahwa dari pernikahan ini, raja akan dikurniai seorang putera. Juga terjadi bermacam tanggapan di kalangan keluarga raja. Ada kekecewaan akan tetapi ada pula harapan. Kecewa karena sekali lagi Raja Han Ti Ong mengambil “orang luar” sebagai selir, akan tetapi timbul harapan karena mungkin melalui istri ke dua ini mereka dapat “memukul” Liu Bwee yang mereka benci.

Ternyata kemudian oleh Kwat Lin Bahwa semua ucapan yang dikeluarkan oleh Raja Pulau Es itu ketika meminangnya bukan hanya bujukan kosong belaka. Raja itu benar-benar jatuh cinta kepadanya dan hal ini terasa olehnya setelah dia menyerahkan dirinya menjadi selir Raja Han Ti Ong. Dengan sepenuh jiwa raganya, Han Ti Ong mencurahkan kasih sayang kepadanya sedemikian besarnya sehingga lambat laun dia pun jatuh cinta kepada suaminya ini. Dan dia yang tadinya hendak belajar ilmu silat sebagai dorongan terutama dengan mengorbankan dan menyerahkan diri sebagai selir, setelah menerima pencurahan cinta kasih yang amat mesra dan mendalam, mulailah berbalik pikir. Apalagi setelah sembilan bulan kemudian semenjak dia menjadi selir, dia melahirkan seorang anak laki-laki. Kwat Lin merasa betapa hidupnya berubah sama sekali, kalau dulu dia hanya seorang pendekar wanita yang seringkali menghadapi banyak kesengsaraan hidup, kini menjadi seorang yang mulia dan terhormat, bahkan dia mendapat kenyataan bahwa suaminya benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya!

Timbullah keinginan hatinya untuk mengangkat diri menjadi permaisuri, dan dia merasa berhak karena bukankah dia yang mempunyai keturunan laki-laki, dan selain menjadi permaisuri, juga menjadi pewaris semua ilmu kesaktian dari Pulau Es. Kalau sudah demikian, baru dia akan mencari dan membunuh Pat-jiu Kai-ong. Kebenciannya terhadap kakek iblis jembel itu kini menjadi tipis sekali. Memang kalau dipikir betapa selama tiga hari tiga malam kakek itu mempermainkanya, merengut kehormatan dengan memperkosa secara amat menghina akan tetapi ada segi lain yang membuat dia diam-diam berterima kasih kepada kakek itu. Kalau tidak ada peristiwa hebat itu, agaknya selama hidupnya dia tidak akan dapat bertemu dengan Han Ti Ong, apalagi menjadi istrinya dan sekaligus pewaris ilmu-ilmunya!

Sin Liong belajar ilmu silat dengan tekun bersama sumoinya, Swat Hong yang lincah jenaka. Dan mulai tampaklah bakatnya yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau para tokoh kang-ouw ingin memiliki bocah ini dan menjadikan Sin Liong sebagai bahan perebutan, karena dia pantas disebut Sin-tong. Han Ti Ong sendiri yang merupakan manusia luar biasa dan memiliki kecerdasan yang disebut Kwee-bak-put-bong (sekali melihat tidak bisa lupa lagi), diam-diam menjadi kagum sekali karena dia harus akui bahwa dalam hal kecerdasan dan kekuatan pikiran, dia masih kalah oleh muridnya ini! Yang amat mengagumkan hatinya adalah betapa di balik semua bakat yang luar biasa ini terpendam watak yang amat luar biasa, watak yang penuh kehalusan, kelembutan dan kasih sayang dan iba terhadap orang lain yang amat mendalam, di samping watak yang wajar seadanya. Benar-benar seorang bocah yang ajaib!

Diam-diam Sin Liong mengerti bahwa diangkatnya Kwat Lin menjadi istri Han Ti Ong, biarpun hal ini merupakan hal yang lumrah bagi seorang raja, namun akan mendatangkan banyak ketidak baikan, terutama di pihak ibu sumoinya. Apalagi ketika dia melihat sikap dan perubahan pada diri bekas pendekar wanita Bu-tong-pai itu Akan tetapi karena dia hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan yang sama sekali tidak berhak mencampuri “Urusan dalam” suhunya, maka tentu saja dia hanya berdiam diri, hanya mengikuti perkembangan keadaan dengan hati tidak enak. Yang dikhawatirkan oleh anak yang belum tahu apa-apa memang sungguh terjadi.

Semenjak mengambil Kwat Lin sebagai isteri kedua, Liu Bwee menderita tekanan batin yang amat hebat. Mula-mula tidak terasa olehnya ketika suaminya makin jarang bermalam di dalam kamarnya karena hal ini dianggapnya lumrah setelah suaminya memiliki isteri lain yang baru. Akan tetapi perasaan kewanitaannya yang halus segera dapat menangkap kehambaran cinta kasih yang dicurahkan suaminya kepadanya. Dan terutama sekali setelah The Kwat Lin mengandung, suaminya tidak pernah datang lagi menginap di kamarnya, dan kalau sekali-sekali datang, tidak ada cumbu rayu dan kemesraan sama sekali, hanya untuk menanyakan kesehatan dan agaknya suaminya datang hanya demi kesopanan belaka!

Hati seorang wanita amatlah halusnya, mudah tersinggung, mudah gembira, mudah marah, mudah berduka, mudah jatuh cinta dan mudah pula membenci! Setelah Kwat Lin melahirkan seorang anak lakilaki, mulailah hati Liu Bwee digerogoti iri dan hal ini mendatangkan kebencian hebat. Dia mulai merasa tersiksa batinya, merasa kesepian, rasa rindu yang makin menghimpit terhadap belaian kasih sayang suaminya membuat Liu Bwee makin tersiksa, menambah kebenciannya terhadap Kwan Lin yang makin dipuja suaminya itu. Liu Bwee bukan seorang wanita yang gila akan kedudukan. Dia tidak mengejar kedudukan dan dia sama sekali tidak khawatir akan menurunya derajatnya apabila madunya itu diangkat menjadi permaisuri karena mempunyai seorang putera. Akan tetapi Liu Bwee adalah seorang wanita yang haus akan kasih sayang, maka dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan batinnya setelah cintanya disia-siakan oleh suaminya yang telah jatuh di bawah telapak kaki Kwat Lin.

Melihat penderitaan batin yang dialami oleh Liu Bwee ini, diam-diam bersoraklah para keluarga raja. Bagi mereka, biarpun putera raja bukan keturunan dari seorang ibu yang masih berdarah “agung” seperti mereka, namun masih lebih baik dari pada kalau dilahirkan oleh seorang iu seperti Liu Bwee, hanya anak seorang nelayan Pulau Es rendah! Pula kebencian mereka yang terdorong oleh iri hati terhadap Liu Bwee membuat mereka condong kepada Kwan Lin sehingga kelahiran Han Bu Ong, nama putera itu, disambut dengan penuh kegembiraan oleh keluarga raja dan juga oleh semua penghuni Pulau Es sebagai penyambutan terhadap lahirnya seorang putera raja yang akan menjadi pangeran mahkota!

Tujuh tahun telah lewat semenjak Sin Liong berada di Pulau Es. Dipandang begitu saja, agaknya keadaan Pulau Es dan kerajaan kecilnya selam tujuh tahun itu tidak terjadi perubahan sesuatu, para penghuninya masih hidup dengan tenang dan tentram penuh kedamaian seperti puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Raja Han Ti Ong tidak kalah bijaksana dalam mengendalikan pemerintahan kecilnya sehingga para penghuni Pulau Es hidup bahagia, sedangkan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi hanya sedikit sekali.

Namun sesungguhnya terjadi perubahan yang amat besar dan banyak! The Kwat Lin yang kini menjadi permaisuri, diangkat secara resmi oleh Han Ti Ong sehingga kedudukan Liu Bwee tergeser menjadi istri selir, bukan hanya menjadi wanita pertama yang paling tinggi tingkat kedudukanya, namun juga telah menjadi seorang wanita yang memiliki kesaktian hebat, hanya kalah oleh suaminya dan beberapa tokoh lain di Pulau Es. Namun, hasratnya untuk membalas dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong agaknya telah lenyap sama sekali! Dia kelihatan hidup bahagia tenggelam dalam belaian penuh kasih sayang dari suaminya dan melihat puteranya yang kini telah berusia enam tahun dan menjadi seorang anak laki-laki yang tampan dan sehat biarpun tubuhnya agak kecil, sebagai pangeran, tentu saja Bu Ong digembleng oleh ayahnya sendiri sejak kanak-kanak.

 


Sin Liong telah memperoleh kemajuan yang mentakjubkan dan mengagumkan Han Ti Ong sendiri. Semua ilmuyang diajarkan oleh raja itu, sekali dilatih dapat dilakukan dengan hampir sempurna! Tentu saja dalam waktu beberapa tahun dia telah jauh melampaui tingkat kepandaian sumoinya, dan setelah dia berusia empat belas tahun, Sin Liong telah jauh meninggalkan tingkat sumoinya. Bukan hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi juga dalam ilmu sinkang dia maju pesat karena tanpa diperintah oleh suhunya, dengan tekun Sin Liong berlatih seorang diri di bawah hujan salju yang amat dingin sehingga dia dapat menampung inti sari tenaga im-kang yang amat hebat.

Selain tekun mempelajari ilmu silat yang diturunkan oleh suhunya tanpa ada yang disembunyikan itu, Sin Liong juga rajin sekali membaca kitab-kitab yang banyak terdapat didalam kamar perpustakaan istana. Dia dikenal oleh semua ahli sastra di Pulau Es dan mereka ini amat kagum dan suka kepada Sin Liong melihat ketekunan bocah ajaib ini. Tidak ada bosannya Sin Liong membaca kitab-kitab kuno dan setiap bertemu huruf baru yang tidak dikenalnya, dia mencatatnya untuk kemudian ditanyakan kepada para ahli itu. Dengan cara demikian, biarpun tidak dibimbing langsung, namun Sin Liong telah dapat memperkaya perbendaharaan kata-kata sehingga dia mampu membaca kitab-kitab yang paling kuno di dalam perpustakaan itu. Kitab kuno tidaklah seperti kitab biasa, karena selain huruf-hurufnya kuno, juga huruf-huruf itu mengandung arti yang amat mendalam. Karena inilah, maka kitab-kitab yang amat kuno di pulau itu jarang atau hampir tidak pernah dibaca orang. Han Ti Ong sendiri segan membaca kitab-kitab itu, karena selain sukar, juga isinya hanyalah sajak-sajak kuno yang dianggapnya tidak ada gunanya dan melelahkan otaknya. Namun semua kitab itu “dilalap” semua oleh Sin Liong!

Bukan ini saja, namun anak ajaib ini dapat menemukan sesuatu yang tersembunyi didalam sajak-sajak itu! Dia menemukan rangkaian ilmu silat sakti yang masih merupakan “rangka” terselubung di dalam huruf-huruf kuno yang sukar dimengerti itu, bahkan menemukan pula ilmu yang masih dirahasiakan oleh Han Ti Ong, ilmu yang selama ratusan tahun mengangkat nama Pulau Es, yaitu ilmu inti sari dasar gerakan semua ilmu silat. Dengan ilmu ini yang sudah dikuasainya, maka Han Ti Ong dapat mengalahkan tujuh orang tokoh sakti dengan jurus-jurus, jurus ilmu silat mereka sendiri ketika Han Ti Ong menolong Sin Long di jeng-hoa-sian. Kini, secara tidak disengaja, bahkan di luar kesadaran Sin Liong sendiri, bocah ajaib ini telah menemukan ilmu itu “terselip” dan terselubung di antara sajak-sajak kuno yang kelihatanya tidak ada gunanya itu.

Selain memperoleh kemajuan hebat dalam ilmu silat, juga selama berada di Pulau Es, Sin Liong memperoleh kesempatan memperdalam ilmunya mengenal daun dan tumbuhan obat dengan jalan menyelidikinya di pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Es. Dia memang mendapat tugas untuk mencari bahan-bahan obat di pulau-pulau itu untuk kepentingan para penghuni Pulau Es, Dan dalam kesempatan melaksanakan tugasnya ini, Sin Liong tidak menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki lebih banyak lagi tetumbuhan dan khasiatnya untuk kesehatan tubuh manusia. Dengan adanya Sin Liong di Pulau Es, banyaklah sudah penghuni yang terhindar dari bahaya penyakit, dan untuk ini, Han Ti Ong merasa berterima kasih sekali sehingga dia tidak segan-segan menurunkan ilmu pengobatan tusuk jarum kepada muridnya itu.

Selain Sin Liong, tentu saja Swat Hong sebagai puteri raja, juga memperoleh kemajuan pesat dan dalam usia tiga belas tahun itu dia telah memilik ilmu kepandaian yang sukar dicari tandinganya.

Dengan demikian, hampir semua orang di Pulau Es memperoleh kemajuan masing-masing. Raja Han Ti Ong memperoleh kebahagiaan cinta kasih dalam diri Kwat Lin yang telah menjadi permaisurinya. The Kwat Lin sendiri yang tadinya mengalami malapetaka yang dianggapnya lebih hebat daripada kematian sendiri, telah memperoleh banyak keuntungan, memperoleh cinta kasih yang mesra, kedudukan tinggi sekali, dan ilmu kepandaian yang amat hebat pula.

Hanya seorang saja yang sama sekali tidak memperoleh kemajuan lahir maupun batin yaitu Liu Bwee! Dia menderita makin hebat, terutama batinnya karena semenjak beberapa tahun ini, suaminya sama sekali tidak pernah lagi mendekatinya! Lenyaplah wataknya yang periang dan kini Liu Bwee lebih banyak mengurung dirinya di dalam kamar, menyulam atau membaca kitab. Dia seolah-olah menjadi seorang pertapa dan biarpun wajahnya tidak membayangkan sesuatu, masih tetap cantik manis dan pakaiannya selalu bersih, namun sesungguhnya hatinya terluka dan selalu meneteskan darah, batinnya terhimpit dan terbakar oleh rindu yang tak kunjung henti, kehausan akan belaian kasih sayang seorang pria yang tak pernah terpuaskan.

Keadaan di dalam istana dengan adanya penderitaan Liu Bwee, dengan adanya para anggauta keluarga istana yang masih menaruh benci kepadanya dan tidak melihat kesempatan untuk menjatuhkan wanita ini karena Liu Bwee selalu bersikap diam dan tidak memperlihatkan sesuatu, merupakan api dalam sekam yang setiap saat tentu akan berkobar atau meledak.

Hal ini tidak saja dirasakan oleh semua angauta keluarga raja, bahkan dirasakan pula oleh Sin Liong dan Swat Hong. Sering kali Sin Liong kehilangan kejenakaan Swan Hong yang merupakan ciri khas dara ini. Kalau dia melihat dara itu termenung seorang diri, dia menarik nafas panjang dan sekali waktu dia menegur, “Eh, Sumoi. Kenapa kau termenung dan wajahmu suram? lihat, hari tidak sesuram wajahmu, sinar matahari mencairkan salju dengan cahaya yang keemasan!”

Swat Hong memandang pemuda itu dan menarik nafas panjang. “Betapa aku tidak tidak akan muram menyaksikan keadaan yang begini dingin di dalam istana, Suheng? Ayah memang masih biasa dan baik kepadaku, juga ibu baik kepadaku. Akan tetapi antara Ayah dan Ibu seolah-olah terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Tidak pernah lagi aku menyaksikan keduanya beramah tamah dan bersendau gurau seperti dahulu lagi. Apakah karena Ibu Permaisuri…?”

“Ssst, Sumoi. Kita tidak mempunayi hak untuk bicara mengenai orang-orang tua itu. Hal itu adalah urusan mereka sendiri.”

“Aku mengerti, Suheng. Akan tetapi aku melihat kedukaan hebat bersembunyi di balik senyum Ibu kepadaku. Aku tahu betapa dia rindu kepada Ayah, rindu yang membuatnya seperti gila….”

“Hushh….”

“Aku tidak membohong, Suheng. Seringkali aku mendengar Ibuku mengigau memanggil nama Ayah dan menangis dalam tidur. Ibu selalu gelisah kalau tidur dan biarpun dia hendak menyembunyikannya dariku, namun aku tahu betapa Ibu menderita sengsara batin yang hebat, menderita rindu yang menghancurkan batinnya….” Dara itu kelihatan berduka sekali, kemudian berkata lagi, “Suheng, apa sih perlunya orang saling mencinta kalau akibatnya hanya mendatangkan rindu dan kecewa?”

“Itu bukan cinta, Sumoi, Ahh, kau takan mengerti dan semua orang takan mengerti karena sudah lajim menganggap hawa nafsu sama dengan cinta. Hawa nafsu menuntut pemuasan, menuntuk kesenangan dan ingin memilikinya untuk diri sendiri. Dan semua inilah yang menimbulkan kecewa dan duka, Sumoi.” Sumoinya terbelalak.

“Aihh, kau bicara seperti kakek-kakek saja! Dari mana memperoleh filsafat macam itu, Suheng?” Karena tertarik, dara yang mudah ini sudah melupakan kedukaanya dan menjadi riang gembira lagi, matanya memandang suhengnya dengan berseri penuh godaan.

“Dari… hemm, kukira dari kesadaran, Sumoi. Bukan filsafat. Aku sudah kenyang membaca filsafat, dan apa artinya filsafat kalau hanya untuk dihafal? Tidak ada bedanya dengan benda mati yang hanya diulang-ulang, dipakai perhiasan, dijadikan alat untuk terbang melayang diawang-awang yang kosong. Terlalu banyak kitab kubaca sudah, dan mungkin juga karena memperhatikan keadaan mendatangkan kesadaran.” Dia menarik napas panjang.

“Suheng, kau tadi mencela aku yang kaukatakan murung. Akan tetapi aku juga seringkali melihat engkau seperti orang berduka. Apakah kau tidak senang tinggal di Pulau Es?”

“Aku suka sekali tinggal di sini, Sumoi. Kurasa jarang terdapat tempat seindah ini, masyarakat setenteram ini. Akan tetapi, kalau aku melihat hukuman-hukuman yang dibuang ke Pulau Neraka…”

“Aih, hal itu bukan urusan kita, Suheng. Bukankah kau tadi juga mengatakan bahwa urusan antara Ayah dan Ibu bukan urusanku? Maka urusan hukuman itu pun sama sekali bukan urusan kita.”

“Kau keliru, Sumoi. Urusan Ayah Bundamu memang merupakan urusan pribadi mereka. Akan tetapi urusan orangorang terhukum adalah urusan umum, urusan kita juga. Aku merasa tidak senang sekali dengan adanya peraturan itu. Aku akan berusaha untuk mengingatkan Suhu….”

“Tapi Ayah seorang Raja, Suheng!”

“Raja pun manusia juga.”

“Tapi Raja hanyalah menjalankan hukum yang berlaku, Suheng.”

“Hukum pun buatan manusia. Benda Mati!”

Tiba-tiba terdengar suara tambur dipukul. Sejenak dua orang muda-mudi itu memperhatikan dan wajah Sin Liong menjadi muram.

“Nah, ada lagi sidang pengadilan yang akan menjatuhkan hukuman. Entah siapa lagi sekarang yang melakukan pelanggaran. Mari kita lihat, Suheng!” Sin Liong digandeng tangannya oleh Swat Hong yang menariknya ke arah bangunan di samping istana, bangunan yang dijadikan ruang sidang pengadilan di mana dijatuhkan hukuman terhadap mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Ketika mereka tiba di situ, banyak sudah penghuni Pulau Es yang menonton diluar ruangan, dan tentu saja dua orang muda-mudi itu mudah untuk memasuki ruang sidang dan duduk di atas kursi yang berderet di pinggiran. Ruangan itu luas sekali, lantainya halus dan bersih. Isi ruang hanyalah sebuah meja panjang dan di belakang meja panjang ini terdapat lima buah kursi dan di kanan kiri, di pinggir juga terdapat kursi-kursi, sedangkan di depan meja, di bagian tengah tetap kosong. Pada saat Sin Liong dan Swat Hong tiba di ruangan itu, di belakang meja telah duduk hakim, yaitu seorang kakek tua keluarga kerajaan yang biasa bertugas sebagai hakim, sedangkan di sebelah kanannya, di kursi kebesaran, tampak duduk Han Ti Ong sendiri bersama permaisurinya. Hal ini merupakan keanehan karena biasanya raja hanya datang tanpa permaisurinya dan duduk bersama dengan para pangeran lain. Agaknya permaisuri Raja Han Ti Ong sekarang ini ingin pula melihat pengadilan dilakukan di Pulau Es.

Para pesakitan yang sudah berlutut di depan meja, di atas lantai, hanya tiga orang. Seorang laki-laki tinggi besar penuh brewok yang matanya lebar dan gerak-geriknya kasar, seorang laki-laki muda yang tampan dan seorang wanita yang usianya empat puluhan, namun masih cantik dan wanita ini berlutut di samping laki-laki muda yang kelihatan ketakutan, tidak seperti laki-laki tinggi besar dan Si wanita yang kelihatan tenang-tenang saja.

Dengan suara lantang jaksa penuntut membacakan tuntutan kepada laki-laki tinggi besar yang sudah berlutut ke depan setelah namanya dipanggil, yaitu Bouw Tang Kui. “Bouw Tang Kui telah berkali-kali diperingatkan karena sikapnya yang kasar, suka menggunakan kepandaian menghina yang lemah dan suka mencuri. Terakhir ditangkap karena melakukan pencurian,mengambil batu hijau mustika penyedot racun ular milik orang lain. Karena kejahatanya membahayakan Pulau Es, dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan, maka hukuman yang paling berat patut dijatuhkan atas dirinya, selain untuk memberantas kejahatan dari permukaan pulau juga sebagai contoh kepada semua penghuni pulau.”

Hening sejenak, kemudian terdengar suara hakim tua yang lemah dan agak gemetar, “Bouw Tang Kui, kau sudah mendengar tuduhan atas dirimu. Kau diperkenankan membela diri.”

Bouw Tang Kui yang berlutut itu memberi hormat kepada raja, kemudian dengan suaranya yang kasar dan nyaring berkata,”Hamba mengaku telah melakukan perbuatan itu karena hamba ingin memiliki mustika batu hijau. Hamba telah menerima banyak budi dari Sri baginda, kalau sekarang dianggap berdosa, hamba siap menerima segala macam hukuman yang dijatuhkan kepada hamba.”

Hakim berfikir sejenak, kemudian sambil mengetok meja dia berkata, “Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Bouw Tang Kui.”

Suasana menjadi hening. Keputusan hukuman ini merupakan yang lebih hebat dari pada penggal kepala. Banyak di antara mereka yang mendengarkan, menahan nafas dengan muka pucat, ada yang menaruh hati kasihan kepada Bouw Tang Kui.

Akan tetapi pesakitan itu sendiri setelah memandang kepada raja, lalu berkata, suaranya penuh pahit getir, “Hukuman apa pun bagi hamba tidak terasa berat, yang terasa berat adalah bahwa hamba dipaksa untuk memusuhi Pulau Es yang hamba cintai!”

“Jadi engkau menerima keputusan hukuman?” hakim bertanya.

“Hamba mene….”

“Nanti dulu!!” tiba-tiba terdengar suara nyaring dan Han Ti Ong sendiri mengangkat muka memandang tajam ketika melihat Sin Liong telah berdiri dari kursinya dan mengeluarkan seruan itu.

“Harap Suhu dan para Cu-wi sekalian maafkan saya. Akan tetapi pesakitan berhak untuk dibela dan saya hendak membelanya. Saudara Bouw Tang Kui ini dianggap berdosa dan memang dia telah melakukan pelanggaran. Akan tetapi patutkah kalau kesalahannya itu lalu dijadikan tanda bahwa dia seorang jahat yang tidak bisa diampuni lagi? Saya hendak bertanya, siapakah di antara Cu-wi sekalian yang tidak pernah melakukan kesalahan? Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan karena kita semua manusia, maka kita pun tentu pernah melakukan kesalahan. Siapakah yang mau kalau kesalahan yang dilakukannya itu lalu dijadikan tanda bahwa selamanya dia akan bersalah atau berdosa, dan patut dihukum tanpa ampun lagi? Kesalahan yang dilakukan oleh Bouw Tang Kui adalah sebuah penyelewengan biasa yang dilakukan oleh manusia yang berbatin lemah. Manusia yang berbatin lemah dan melakukan penyelewengan sama saja dengan seorang yang sedang menderita semacam penyakit, hanya bedanya, yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Akan tetapi, setiap orang sakit bisa sembuh! Maka, menghukumnya dengan hukuman keji itu sama dengan membunuhnya!”

Hening sekali keadaan di situ setelah pemuda tanggung ini mengeluarkan pembelaanya. “Akan tetapi di sini sudah diadakan hukum sejak ratusan tahun dan kita semua harus tunduk kepada hukum!” kata Han Ti Ong ketika melihat betapa hakim ragu-ragu untuk menjawab. Dia maklum bahwa Sin Liong disuka banyak orang di situ, dan selain ini, agaknya para pejabat itu juga sungkan mendebat karena pemuda itu adalah murid raja. Karena inilah maka Han Ti Ong sendiri yang mengeluarkan suara membantah.

“Harap Suhu memaafkan teecu kalau teecu terpaksa mendebat. Saudara Bouw melanggar hukum yang dianggap berdosa, lalu menurut hukum harus dibuang ke Pulau Neraka. Dari manakah timbulnya pelanggaran yang disebut dosa? Kalau tidak ada hukum, mana mungkin ada dosa? Kalau tidak ada larangan, mana mungkin ada pelanggaran? Hukumlah yang menciptakan dosa dan pelanggaran, hukum adalah keji karena hukuman yang dijatuhkan sebetulnya lebih kotor daripada dosa itu sendiri! Kalau dia dianggap bersalah lalu dibuang ke Pulau Neraka, bukankah hal itu membuat dia menjadi makin jahat dan mendendam? Andaikata seorang penderita sakit, penyakitnya menjadi makin parah! Apakah hukuman pembuangan ke Pulau Neraka itu akan menginsafkannya? Suhu, sudah berkali-kali teecu menyatakan bahwa hukuman seperti ini tidak patut dilakukan. Lebih baik menuntut mereka yang tersesat agar kembali ke jalan benar dari pada menghukum mereka dengan kekerasan yang akan membuat meraka menjadi lebih jahat lagi.”

“Kwat Sin Liong, kau tak berhak untuk mencela hukum yang sudah menjadi tradisi kami! Hakim, lanjutkan persidangan dan pembelaan yang dilakukan atas diri Bouw Tang Kui tidak dapat diterima!” bentak Han Ti Ong yang merasa tersinggung juga mendengar betapa peraturan yang dijunjung tinggi selama ratusan tahun oleh nenek moyangnya itu kini disangkal dan dicela oleh seorang bocah yang menjadi muridnya!

Sin Liong menghela nafas dan terpaksa dia duduk kembali.

“Ssttt, kau terlampau berani….” Swat Hong berbisik.

“Hemmm… tiada gunanya….” Sin Liong balas berbisik.

Suara jaksa yang lantang sudah memanggil nama dua orang pesakitan yang lain, laki-laki tampan dan wanita cantik itu. Mereka maju dan berlutut di depan pengadilan. “Sia Gin Hwa dan Lu Kiat telah ditangkap karena melakukan perjinaan. Karena Sin Gin Hwa telah menjadi istri syah dari Ji Hoat, maka perbuatan itu merupakan perbuatan hina yang amat berdosa, melanggar larangan keras yang telah disyahkan hukum. Karena itu, tidak ada pengampunan baginya dan mohon pengadilan menjatuhkan hukuman terberat kepadanya. Adapun Lu Kiat, biarpun masih muda dan belum beristri, namun dia telah berjinah dengan istri orang, maka dia pun harus dijatuhi hukuman yang layak. Kemudian terserah kepada hakim.”

Wanita itu menundukan mukanya yang menjadi merah sekali ketika mendengar suara mengejek dari mereka yang menonton di luar ruangan sidang, akan tetapi sikapnya masih tenang-tenang saja. Adapun Lu Kiat, pemuda itu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dia juga menundukan mukanya, kelihatan gelisah sekali.

“Pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepada Sia Gin Hwa dan hukuman rangket seratus kali kepada Lu Kiat!”

“Hamba tidak menerima!” Tiba-tiba Sia Gin Hwa berteriak. “Yang melakukan perjinaan adalah hamba berdua, maka kalau dibuang pun harus hamba berdua!”

“Tidak, hamba menerima hukuman rangket seratus kali!” teriak pula Lu kiat.

“Laki-laki apa kau ini? Ketika merayuku, kau berjanji akan bersama-sama menderita andaikata dibuang ke Pulau Neraka!” Sia Gin Hwa memaki dan terjadilah ribut mulut antara mereka.

“Diam!!” Teriakan menggetarkan dari Han Ti Ong membuat mereka berdiri menjatuhkan diri mohon pengampunan. “Karena kalian melakukan perbuatan yang memalukan sekali, menodakan nama baik Pulau Es, maka sepatutnya kalian berdua sama-sama dibuang ke Pulau Neraka!” kata Raja itu dengan suara tenang namun penuh wibawa. Sia Gin Hwa memegang tangan kekasihnya dan menangis sambil menciumi tangan itu, akan tetapi wajah Lu Kiat menjadi makin pucat.

Kembali Sin Liong bangkit berdiri. “Maaf, Suhu. Teecu terpaksa membantah lagi! Mereka memang telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum yang ada, akan tetapi apakah perbuatan mereka itu sudah demikian jahatnya maka sampai mereka dihukum buang? Teecu kira di balik perbuatan mereka itu tentu ada sebab dan alasannya. Mereka menjadi korban nafsu, akan tetapi kalau seoarang istri sampai melakukan penyelewengan, tentu pihak suami juga ada kesalahannya. Tidak perlukah diselidiki mengapa wanita ini yang telah bersuami sampai berjina dengan pria lain? Mengapa dia sampai tidak dapat menahan dorongan nafsu berahi? Tentu ada sebab-sebabnya.”

“Sin Liong, engkau seorang bocah belum dewasa, tahu apa tentang nafsu berahi?” bentak gurunya, agak tertegun juga karena dia mendapatkan kebenaran tersembunyi di balik bantahan muridnya itu. Terdengar suara ketawa ditahan di sana-sini, bahkan permaisuri sendiri menahan senyumnya.

“Teecu…teecu…mengerti dari kitab….”

“Pembelaan seorang anak yang belum dewasa terhadap perjinaan yang dilakukan orang dewasa tidak dapat diterima. Laksanakan hukumannya dan buang mereka bertiga sekarang juga ke Pulau Neraka!” kata Han Ti Ong.

Persidangan dibubarkan dan tiga orang pesakitan itu lalu digiring keluar untuk dilaksanakan hukuman atas diri mereka, yaitu dibuang ke Pulau Neraka, hukuman yang paling mengerikan dan paling di takuti oleh semua penghuni Pulau Es karena mereka semua tahu bahwa di buang ke Pulau Neraka berarti hidup tersiksa dan sengsara, lebih hebat dari kematian!

Peristiwa seperti inilah yang membuat hati Sin Liong memberontak. Dia amat cinta dan kagum kepada suhunya, akan tetapi peraturan hukum di Pulau Es ini dianggapnya terlalu kejam. Sebaliknya, Han Ti Ong yang maklum akan kekecewaan hati muridnya yang dia kagumi dan cinta, berusaha menyenangkan hati muridnya itu dengan menurunkan ilmu-ilmu simpanannya sehingga dalam waktu setahun lagi saja ilmu kepandaian pemuda yang berusia lima belas tahun itu menjadi makin hebat. Boleh dibilang dialah orang satu-satunya yang menjadi pewaris ilmu-ilmu Pulau Es. Biarpun Permaisuri juga mewarisi banyak ilmu dahsyat namun dibandingkan dengan Sin Liong dia kalah bakat sehingga kalah sempurna gerakannya, apa lagi dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh. Hal ini adalah karena Sin Liong adalah seorang yang pada dasarnya memiliki batin kuat dan tidak pernah terseret oleh nafsu, sebaliknya The Kwat Lin adalah seorang wanita yang dibangkitkan nafsunya semenjak dia diperkosa oleh Pat-jiu Kai-ong. 

 


Dan pada suatu hari terjadilah suatu hal yang sudah lama diduga-duga akan terjadi hal yang menjadi akibat daripada keadaan yang ditekan-tekan di dalam istana yang dimulai dengan masuknya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisuri itu ke Pulau Es. Pagi hari itu, Sin Liong tengah duduk seorang diri di tempat yang menjadi tempat kesukaannya bersama Swat Hong, yaitu di tepi pantai yang paling sunyi, pantai yang tak pernah tertutup salju karena pasir berwana putih yang terjadi dari pecahan batu karang dan segala macam kulit kerang dan kepompong itu seolah-olah selalu mengeluarkan hawa hangat. Selagi dia duduk termenung itu terdengarlah olehnya suara tabur dipukul gencar, tanda bahwa pagi hari itu diadakan persidangan pengadilan yang amat penting, sidang yang diadakan kurang lebih tiga bulan semenjak tiga orang pesakitan terakhir itu di buang ke Pulau Neraka. Suara tambur itu seolah-olah menghantami isi dada Sin Liong, karena suara itu suara yang paling tidak disukainya, suara yang menandakan bahwa akan ada orang lagi yang dihukum! Maka dia tidak bergerak, mengambil keputusan tidak akan menonton karena menonton berarti hanya akan menghadapi hal yang menyakitkan hatinya. Akan tetapi dia meloncat bangun ketika mendengar suara panggilan Swat Hong, suara panggilan yang lain dari biasanya karena suara dara itu mengandung isak tangis yang mengejutkan. “Kwa-suheng…!!”

Sin liong terkejut melihat dara itu berlari-lari kepadanya sambil menangis dan dengan wajah yang pucat sekali. “Ada apakah, Sumoi?” tegurnya sebelum dara itu tiba di depannya.

“Suheng…, celaka… Ibuku…”

Biarpun hatinya berdebar penuh kaget dan kejut, Sin Liong bersikap tenang ketika di memegang kedua pundak Sumoinya dan bertanya, “Ada apakah dengan Ibumu? Tenanglah, Sumoi.”

“Swat Hong menahan isaknya. “Mereka… mereka menangkap Ibuku dan membawanya ke sidang pengadilan…”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah keterlaluan ini, pikirnya. Rasa penasaran membuat dia berlaku agak kasar. Digandengnya tangan Sumoinya, ditariknya dara itu dan dia berkata , “Mari kita lihat!”

 Ketika dua orang itu tiba di ruangan pengadilan, mereka mendapat kenyataan bahwa keadaan berlainan sekali dengan sidang pengadilan yang sudah-sudah karena suasana amat sunyi. Tidak ada seorang pun diperbolehkan mendekati ruangan pengadilan, bahkan ketika Sin liong dan Swat Hong tiba disitu, mereka dihadang oleh beberapa orang penjaga, “Maaf, atas perintah Sribaginda, tidak ada yang boleh memasuki ruang sidang pengadilan hari ini.” Kata mereka.

Dengan kedua tangan di kepal, Swat Hong melompat maju, matanya melotot dan mukanya merah sekali, “Apa kalian bilang? Kalian berani melarang aku memasuki ruangan? Apakah kalian sudah bosan hidup?” Sin Liong cepat memegang lengan sumoinya karena dia maklum bahwa kalau sumoinya ini sudah marah, tentu akan hebat akibatnya. Juga para penjaga itu mundur ketakutan karena mereka mengerti betapa lihainya Sang Puteri ini.

“Harap Saudara sekalian melaporkan kepada atasan Saudara bahwa kami akan memasuki ruang sidang,” kata Sin Liong dengan tenang kepada para penjaga.

“Akan tetapi kami hanya mentaati perintah. Bagaimana kami berani melanggar?” jawab kepala penjaga dengan muka bingung.

“Aku tahu. Ibuku yang diadili, Bukan? Nah, dengar kalian! Apa pun yang akan terjadi dengan ibuku, aku harus hadir, kalau perlu aku akan bunuh kalian semua agar dapat masuk!” Kembali Swat Hong membentak.

“Saudara sekalian harap mundur dan biarkan kami masuk. Akibatnya biarkan kami berdua yang menanggungnya,”kembali Sin Liong berkata dan keduanya memaksa masuk. Para penjaga tidak ada yang berani melarang akan tetapi mereka cepat-cepat lari untuk melapor kedalam. Han Ti Ong mengerutkan alisnya ketika melihat Sin Liong dan Swat Hong memasuki ruang sidang, akan tetapi dia hanya mengangguk kepada para penjaga yang kebingungan. Hal ini melegakan hati para penjaga dan mereka cepat-cepat meninggalkan ruangan itu untuk menjaga di luar, karena mereka pun tidak boleh mendengarkan sidang yang sedang mengadili isteri raja!

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Swat Hong melihat ibunya dengan tenang berlutut di depan meja pengadilan bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sebagai pelayan dalam istana. Hatinya menduga dan dia merasa ngeri karena melihat ibunya dan pemuda itu berlutut di situ, dia seolah-olah melihat Sia Gin Hwa dan Lu Kiat, dua orang pesakitan yang saling berjinah itu! Akan tetapi dia tidak percaya! Tak mungkin ibunya…! Akan tetapi dia menjadi lemas dan menurut saja ketika Sin Liong menariknya dan mengajaknya duduk dideretan kursi pinggiran yang sekali ini sama sekali kosong. Di belakang meja panjang hanya duduk jaksa, hakim, Raja Han Ti Ong , permaisurinya, dan Han Bu Ong, bocah berusia delapan tahun yang mengenakan pakaian indah dan duduk dengan agungnya di dekat ibunya, matanya memandang kearah Sin Liong dan Swat Hong dengan angkuh.

Kemudian terdengarlah suara nyaring Sang Jaksa, suara yang bagi telinga Swat Hong terdengar seperti sambaran pedang yang menusuk-nusuk hatinya dan bagi Sin Liong seperti guntur di tengah hari! “Liu Bwee, sebagai bekas istri Sribaginda, dari seorang anak nelayan biasa menjadi seorang mulia terhormat, ternyata membalas budi Sribaginda dengan aib dan noda yang hina, telah ditangkap karena melakukan perjinahan dengan seorang pelayan muda. Dosa ini amat besar karena selain menimbulkan aib dan malu kepada Sribaginda, juga kalau diketahui dunia luar akan mencemarkan nama Kerajaan Pulau Es. Oleh karena itu, sepatutnya dia dijatuhi hukuman yang seberat mungkin.”

“Bohong…! Ibu tidak mungkin….” Swat Hong menjerit dan hendak melompat maju menyerang jaksa yang berani mengeluarkan ucapan menuduh ibunya seperti itu akan tetapi Sin Liong menangkap lengannya untuk mencegah sumionya bergerak.

“Swat Hong! Berani engkau kurang ajar di depan Ayah?” Terdengar Han Ti Ong membentak dengan penuh wibawa.

“Ayah, tuduhan itu fitnah belaka! Tidak mungkin ibu melakukan hal yang kotor itu. Mana buktinya? Siapa saksinya?” kembali Swat Hong menjerit-jerit.

“Hong-ji, jangan begitu. Ibumu tidak berdosa, akan tetapi kita harus tunduk kepada peraturan dan hukum, anakku.Tenanglah.” Ucapan ini keluar dari mulut Liu Bwee yang menoleh kearah Swat Hong, suaranya lirih dan jelas, namun mengandung kedukaan yang merobek hati.

“Liu Bwee, engkau telah mendengar tuduhan atas dirimu. Apakah pembelaanmu?” terdengar suara hakim tua itu dengan halus dan lirih seperti biasanya, namun penuh wibawa karena dalam sidang ini, dialah orang yang paling kuasa.

“Saya tidak akan membela diri, hanya seperti dikatakan anakku tadi, agar tidak mendatangkan penasaran, harap suka disebutkan siapa saksinya dan apa buktinya yang memperkuat tuduhan terhadap diriku,” kata Liu Bwee dengan tenang dan suara halus.

Jaksa yang termasuk orang di antara anggauta keluarga raja yang tidak senang kepada Liu Bwee karena dia dahulupun mengharapkan agar Han Ti Ong memilih anak perempuannya, segera berkata lantang, “Buktinya? Engkau ditangkap ketika berada di dalam kamar dengan A Kiu, padahal dia bukanlah pelayanmu. Apalagi yang kalian kerjakan kalau bukan berjinah? Seorang wanita dan seorang laki-laki yang tidak ada hubungan apa-apa berada di dalam kamar berdua saja! selain itu, perjinahan kalian juga telah ada yang menyaksikan.”

Wajah Swat Hong sebentar pucat dan sebentar merah. Tak dapat dia menahan kemarahanya. Ibunya dituduh berjinah dengan seorang pelayan! “Bohong! itu bukan bukti!! Kalau memang ada yang menyaksikan, hayo siapa yang menyaksikan?” teriaknya, tidak memperdulikan cegahan Sin Liong yang masih memegang lengannya karena khawatir kalau-kalau dara ini mengamuk.

“Akulah saksinya!” tiba-tiba terdengar suara kecil merdu dan Han Bu Hong telah bangkit berdiri dengan sikap menantang. Mulut anak ini tersenyum mengejek dan matanya bersinar-sinar. “Enci Hong, akulah yang telah melihat ibumu dan pelayan itu di atas ranjang….”

“Ssssttt, diam…!” Permaesuri menarik puteranya.

Akan tetapi hakim telah berkata lagi, “Sudah terbukti kesalahan besar yang dilakukan Liu Bwee. Kesalahan paling besar yang dapat dilakukan oleh seorang wanita…”

“Nanti dulu!” Dengan muka pucat sekali Swat Hong memotong kata-kata hakim. “Tidak adil kalau begini! kita belum mendengar keterangan A Kiu. Hai, A Kiu, aku percaya bahwa engkau seorang manusia yang menjunjung kegagahan, tidak mungkin seorang pria penghuni Pulau Es Seperti engkau menjatuhkan fitnah sebagai seorang pengecut hina dina. Hayo ceritakan sesungguhnya apa yang terjadi!” Suara Swat Hong ini nyaring sekali dan muka A Kiu menjadi pucat, kepalanya makin menunduk.

Suasana menjadi hening dan akhirnya terpecah oleh suara Raja, “A Kiu, kau diperkenankan untuk bicara!”

Tubuh itu menggigil, muka yang tampan itu pucat sekali ketika diangkat memandang Raja, kemudian melirik ke arah Liu Bwee yang masih bersikap tenang dan agung berlutut di sebelahnya. Ketika dia melirik ke arah Swat Hong yang berdiri dengan sikap angkuh memandang kepadanya, A Kiu mengeluh lirih, kemudian menelungkup dan berkata dengan suara mengandung isak, “Hamba tidak berdaya… hamba memang berada di kamar itu… tapi… tidak seperti kesaksian Pangeran kecil… hamba terpaksa karena…”

“Berani kau mengatakan puteraku bohong?” Jeritan ini keluar dari mulut permaisuri dan hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar ketika permaisuri menggerakan tangan kirinya ke arah A Kiu.

“Dess…! Aungghh…!” Tubuh A Kiu terlempar bergulingan dan rebah tak bernyawa lagi, dari mulut, hidung dan telinganya mengalir darah. Hebat sekali pukulan jarak jauh yang di lakukan permaesuri itu, mengenai kepala A Kiu yang tentu saja tidak kuat menahannya.

Hakim dan jaksa saling pandang, sedangkan Raja menegur Permaesurinya, “Kau terlalu lancang….”

“Apakah aku harus diam saja kalau seorang rendah macam dia menghina putera kita?” Permaesuri membantah dengan suara agak ketus.

Raja diam saja dan menarik nafas panjang. Dia merasa bingung dan berduka sekali harus menghadapi perkara ini, lalu memberi isyarat kepada hakim sambil berkata, “Lanjutkan.”

Hakim menelan ludah beberapa kali, kemudian berkata lantang, ” Saksi utama yang mejadi pelaku perjinahan telah terbunuh karena berani menghina Pangeran. Akan tetapi dia mengaku telah berada di kamar itu, maka sudah jelas dosa yang dilakukan oleh Liu Bwee. Karena itu sudah adil kalau dia harus dijatuhi hukuman berat. Liu Bwee, pengadilan memutuskan hukuman buang ke Pulau Neraka kepadamu!”

“Ibuuuu..!!” Swat Hong meronta dan melepaskan diri dari Sin Liong, meloncat dan menubruk ibunya.

“Sssst, tenanglah, Hong-ji….” ibunya terbisik dengan sikap masih tenang saja, sungguhpun wajahnya kelihatan makin berduka.

“Tenang? Tidak! ibu tidak boleh dihina sampai begini!” Swat Hong lalu bangkit berdiri, menghadapi ayahnya dan berkata lantang, “Ibuku telah dijatuhi hukuman tanpa bukti dan saksi yang jelas. Akan tetapi keputusan telah dijatuhkan dan saya tidak rela melihat ibu dibuang ke Pulau Neraka. Saya sebagai anak tunggalnya, yang takkan mampu membalas budinya dengan nyawa, saya yang akan mewakilinya, memikul hukuman itu. Saya yang akan mejadi penggantinya ke Pulau Neraka, maka harap Sribaginda bersikap bijaksana, membiarkan ibu yang sudah mulai tua ini menghabiskan usianya di Pulau Es. Ibu, selamat tinggal!”

“Hong-ji…!” ibunya memekik, akan tetapi Swat Hong sudah meloncat dan lari keluar dari tempat itu dengan cepat.

Sin Liong memandang dengan alis berkerut. Tak disangkanya hal yang sudah dikhawatirkannya akan terjadi, sesuatu yang tidak menyenangkan, suatu yang akan meledak, ternyata sehebat ini.

“Hong-ji… ah, Hong-ji, Anakku…!” Liu Bwee tak dapat menahan lagi tanggisnya. Dia maklum bahwa untuk mengejar anaknya dia tidak mungkin dapat karena kepandaian puterinya itu sudah tinggi sekali, juga dia sebagai seorang pesakitan, tentu saja tidak berani melanggar hukum dan lari dari tempat itu. “Aduh, anakku… Swat Hong… Swat Hong… apa yang mereka lakukan atas dirimu…?” ibu yang hancur hati ini meratap.

Hakim menjadi bingung dan beberapa kali menoleh kearah Raja seolah-olah hedak minta keputusan Han Ti Ong. Raja ini menggigit bibir, jengkel dan marah karena tak disangkanya bahwa urusan akan berlarut-larut seperti ini. Ketika dia menerima laporan tentang istri pertamanya, Liu Bwee, yang berjinah dengan seorang pelayan muda, hatinya panas dan marah sekali. Akan tetapi dia masih hendak membawa perkara ini kepengadilan agar diambil keputusan yang seadil-adilnya. Siapa mengira terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Permaisurinya membunuh pelayan muda, kemudian kini Swat Hong membela ibunya, bahkan menggantikan ibunya “membuang diri” ke Pulau Neraka. maka kini,melihat betapa hakim menjadi bingung dan minta keputusannya, dia memukulkan kepalan kanan ke telapak kiri sambil berkata, “Sudahlah, sudahlah! Biar kupenuhi permintaan Swat Hong. Anak yang keras kepala itu sudah menggantikan ibunya ke Pulau Neraka. Sudah saja! Aku perkenankan Liu Bwe tinggal terus disini!” Setelah berkata demikian, dia menggandeng tanggan Bu Ong dan permaisurinya, bangkit berdiri dan hendak meninggalkan tempat yang tidak menyenangkan itu.

Akan tetapi Liu Bwee juga bangkit berdiri dan wanita ini berkata lantang, sambil menatap wajah suaminya dengan mata tajam. “Biarpun anakku telah menebus dosa yang tidak kulakukan, dan aku telah diperbolehkan tinggal di sini, akan tetapi apa artinya hidup di sini bagiku setelah anakku pergi ke Pulau Neraka? Tidak, aku tidak akan sudi tinggal di sini lagi. Aku mulai saat ini tidak menganggap diriku sebagai penghuni Pulau Es. Aku juga mau pergi dari sini!” Setelah berkata demikian, Liu Bwee lalu meloncat dan pergi. Setelah dia bukan pesakitan lagi, setalah dia bukan terhukum, dia berani pergi, bahkan dengan sikap tidak menghormat lagi kepada Raja yang pernah menjadi suami dan pujaan hatinya selama bertahun-tahun itu.

“Hmm, sesukamulah!” kata Han Ti Ong perlahan dan dengan wajah muram raja ini memasuki istana bersama permaisuri dan Pangeran Bu Ong.

Sampai ruangan persidangan itu kosong dan mayat A Kiu dibawa pergi, Sin Liong masih duduk di situ. Di dalam hatinya, dia merasa menyesal melihat sikap Raja Han Ti Ong, gurunya yang di cintainya itu. Tahulah dia bahwa perubahan pada diri gurunya itu terutama sekali terjadi karena hadirnya The Kwat Lin yang kini telah menjadi permaisurinya. Diam-diam dia merasa menyesal sekali. Bukankah dia sendiri yang dahulu minta kepada gurunya membawa pendekar wanita Bu-tong-pai itu ke Pulau Es? Kini, wanita itu menjadi selir gurunya, dan setelah The Kwat Lin menjadi permaisuri, kebahagiaan ibu Swat Hong menjadi musna! Bahkan kini berekor seperti ini, dengan larinya Swat Hong menggantikan ibunya ke Pulau Neraka sedang ibu dara itu sendiri pergi entah ke mana! Dialah, langsung atau tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, tidak mungkin dia menegur gurunya, juga permaisuri tidak dapat dipersalahkan. Betapapun juga, dia harus memperlihatkan tanggung jawabnya atas kerusakan hidup Swat Hong dan ibunya. Kalau dia mendiamkan saja, seolah-olah dia ikut pula persekutuan untuk merusak hidup ibu dan anak itu.

“Pulau Neraka kabarnya merupakan tempat berbahaya sekali. Aku harus menyusul Swat Hong dan melindunginya.” Demikian dia mangambil keputusan dalam hatinya dan dia tidak lagi berpamit kepada gurunya karena maklum gurunya sedang berada dala kedukan dan kepusingan. Pula, Sin Liong sudah biasa meninggalkan pulau itu mencari tetumbuhan obat, maka kepergiannya dengan sebuah perahu menunggalkan Pulau Es tidak ada yang menaruh curiga. Dengan tenaganya yang amat kuat Sin Liong mendayung perahunya sehingga perahu meluncur amat cepatnya menuju ke Pulau Neraka. Dia sudah tahu dimana letaknya pulau itu, dari keterangan yang diperolehnya ketika dia bertanya-tanya kepada para penghuni Pulau Es Bahkan diam-diam pernah pula seorang diri mendayung perahu mendekati Pulau Neraka ini akan tetapi hanya melihat dari jauh dan dia merasa ngeri sekali.

 

Pulau itu dari jauh tampak kehitaman seperti pulau yang pantas di huni oleh setan dan iblis.Pantainya penuh dengan batu-batu karang yang runcing dan tajam, amat berbahaya apalagi kalau ombak sedang besar. Sama sekali tidak tampak ada penghuninya sehingga ketika itu Sin Liong menduga-duga bahwa orang-orang buangan yang dibuang dari Pulau Es tentu telah tewas di jalan, tentu tewas di atas pulau itu. Maka dia menentang keras dalam hatinya kalau melihat di Pulau Es diadakan pengadilan dan diputusakan hukuman buang ke Pulau Neraka, karena baginya, dibuang ke Pulau Neraka sama dengan menghadapi kematian yang mengerikan, baik di dalam perjalanan menuju ke pulau itu atau setelah berasil mendarat. Dan kini Swat Hong telah pergi ke Pulau Neraka mewakili ibunya! Dia kagum dan khwatir. Kagum akan keberaniannya dan kebaktian sumoinya terhadap ibunya, akan tetapi khawatir sekali akan keselamatan sumoinya yang belum dewasa benar itu. Sumoinya baru berusia empat belas tahun! Biarpun dia tahu bahwa ilmu kepandaian sumoinya sudah hebat dan cukup untuk dipakai untuk menjaga diri, namaun betapapun juga sumoinya itu masih kanak-kanak! Sin Liong sama sekali tidak ingat bahwa usianya sendiri hanya satu tahun lebih tua dari pada usia Swat Hong!

Perjalanan dari Pulau Es ke Pulau Neraka melalui lautan yang penuh dengan gumpalan-gumpalan es yang mengapung di permukaan laut, gumpalan es yang kadang-kadang sebesar gunung dan celakalah kalau sampai perahu tertumpuk oleh gumpalan es menggunung itu yang kadang-kadang bergerak, digerakkan oleh angin. Celaka pula kalau sampai terjepit di antara dua gumpalan es yang begitu saling menempel tentu akan melekat dan membuat perahu terjepit di tengah-tengah. Akan tetapi, Sin Liong sudah banyak mendengar tentang ini maka dia tahu pula caranya menghindarkan perahunya dan tidak mendekat gumpalan-gumpalan es yang berbahaya, melainkan mencari jalan di celah-celah yang agak lebar. Kemudian dia tiba di daerah lautan yang penuh dengan ikan hiu. Ratusan ikan hiu yang hanya tampak siripnya itu berenang di kanan kiri dan belakang perahunya. Betapapun juga tinggi ilmunya, ngeri juga hati Sin Liong karena dia tahu bahwa sekali perahunya terguling, kepandaianya tidak akan berguna banyak dalam melawan ratusan ikan buas itu di dalam air! Cepat ia mengeluarkan bungkusan yang sudah dibawanya sebagai bekal, membuka bungkusan dan menaburkan sedikit bubuk hitam di kanan kiri, depan belakang perahunya. Tak lama kemudian, ikan-ikan hiu itu pergi berenang pergi dengan cepat seperti ketakutan setelah mencium bau bubukan hitam yang disebarkan oleh Sin Liong. Pemuda ini sudah mendengar akan bahaya ikan-ikan buas, maka dia telah membawa bekal racun bubukan hitam yang sering kali dipergunakan oleh para penghuni Pulau Es untuk mengusir ikan-ikan buas di waktu mereka mencari ikan.

Beberapa jam kemudian, kembali dia menghadapi ancaman ikan-ikan kecil yang banyak sekali jumlahnya, mungkin laksaan. Ikan-ikan besar ibu jari kaki, akan tetapi keganasannya melebihi ikan hiu. Ikan-ikan ini bahkan berani menyerang orang di atas perahu dengan jalan meloncat dan menggigit. Sekali mulut yang penuh gigi runcing seperti gergaji itu mengenai tubuh, tentu sebagian daging dan kulit terobek dan terbawa moncongnya! Apalagi kalau sampai orang jatuh ke dalam air. Dalam waktu beberapa menit saja tentu sudah habis tinggal tulangnya dikeroyok laksaan ikan buas ini. Kembali Sin Liong dengan cepat menyebar obat bubuk hitam beracun itu dan ikan-ikan kecil itupun lari cerai berai tidak berani lagi mendekati sampai perahu meluncur meninggalkan daerah berbahaya itu.

Setelah melalui perjalanan yang amat sulit akhirnya menjelang senja, sampai juga perahu Sin Liong di pantai Pulau Neraka. Tetapi seperti dugaannya, pulau itu memang mengerikan sekali. Hutan yang terdapat di pulau itu amat besar dan liar, pohon-pohon aneh dan menghitam warnanya memenuhi hutan yang kelihatannya sunyi dan mati. Namun, dibalik kesunyian itu Sin Liong merasakan seolah-olah banyak mata mengamatinya dan maut tersembunyi disana-sini, siap untuk mencengkram siapa pun yang berani mendarat! Melihat keadaan pulau ini makin berdebar hati Sin Liong, penuh kekhawatiran terhadap keselamatan Swat Hong. Apakah dara itu sudah berasil mendarat? Tentu Swat Hong dapat mencapai pulau ini, karena dara itupun tahu jalan ke situ, dan mengerti pula tempat-tempat berbahaya yang dilaluinya tadi sehingga seperti juga dia, tentu Swat Hong telah membawa bekal obat pengusir ikan-ikan buas tadi dengan cukup. Akan tetapi dia tidak melihat sebuah pun perahu di pantai Pulau Neraka. Apakah ada penghuninya? Atau semua orang buangan telah mati terkena racun yang kabarnya memenuhi pulau ini?

Karena khawatir kemalaman sebelum dapat menemukan Swat Hong, Sin Liong lalu meloncat ke darat dan menarik perahunya ke atas. Kemudian dia membalik dan memasuki hutan. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, terdengar suara berdengung-dengung dan entah dari mana datangnya, tampak ratusan ekor lebah berwarna putih menyambar-nyambar dan mengeroyoknya! Dari bau yang tercium olehnya, tahulah Sin Liong bahwa lebah-lebah itu mengandung racun yang amat jahat maka tentu saja dia terkejut sekali! Cepat dia lari dari tempat itu, namun lebah-lebah itu mengejar terus, beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung-dengung yang mengerikan. Sin Liong cepat menanggalkan jubah luarnya dan memutar jubah itu di sekeliling tubuhnya. Dari putaran jubah ini menyambar angin dahsyat dan lebah-lebah itu terdorong jauh oleh hawa yang menyambar dari putaran jubah.Sin Liong tidak tega untuk membunuh lebah-lebah itu maka dia hanya menggunakan hawa putaran jubahnya untuk mengusir. namun, binatang-binatang kecil itu hanya tidak mampu mendekati dan menyerang tubuh Sin Liong, akan tetapi sama sekali tidak terusir, bahkan kini makin banyak dan terbang mengelilingi Sin Liong dari jarak jauh sehingga tidak terjangkau oleh hawa pukulan jubah. Melihat ini, Sin Liong kaget. betapapun kuatnya tidak mungkin baginya untuk berdiri di situ sambil memutar jubahnya semalam suntuk, bahkan selamanya sampai lebah-lebah itu terbang pergi! Lalu teringatlah dia akan senjata yang paling ampuh. Api! Dengan tangan kiri terus memutar jubah melindungi tubuhnya, Sin Liong lalu mengumpulkan daun kering dan mencari batu yang keras. Dengan pengerahan tenaganya, dia menggosok dua batu itu sehingga timbul percikan bunga api yang membakar daun kering. Diambilnya sebatang ranting kering dan dibakarnya ranting ini. Benar saja. Dengan ranting yang ujungnya menyala ini dipegang tinggi di atas kepala, tidak ada lebah yang berani mendekatinya.

Dia melanjutkan perjalanan, dan terus menerus menyalakan api diujung ranting yang dikumpulkan dan dibawanya. Dapat dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika melihat banyak sekali binatang berbisa di sepanjang jalan. Ular-ular kecil, kalajengking, lebah-lebah dan sebangsanya merayap-rayap lari ketika dia datang dengan obor di tangan. Untung dia membawa ranting bernyala. Semua binatang berbisa itu takut terhadap api. Andaikata dia tidak membawa api tentu dia telah dikeroyok oleh binatang-binatang kecil yang semuanya berbisa itu, dari atas dan bawah! lebah-lebah itu terus mengikutinya, akan tetapi dari jarak jauh, terbukti dari suara yang berdengung-dengung itu masih terus berada di belakangnya. Tiba-tiba terdengar suara bersuit panjang dan lebah-lebah itu beterbangan makin dekat, kembali mengurungnya dan kelihatan seperti marah. Bahkan ada beberapa yang ekor yang meluncur dekat sekali, akan tetapi menjauh lagi ketika Sin Liong menggunakan api di ujung ranting untuk mengusirnya. Suitan terdengar berkali-kali dan lebah-lebah itu makin marah dan mengamuk, juga tampak oleh Sin Liong betapa binatang kecillainya yang banyak terdapat di hutan itu mulai mendekatinya, namun masih takut-takut oleh api di ujung ranting.

“Siuuuttt…” tiba-tiba tampak benda hitam menyambar kearah ujung rantingnya.

Maklumlah Sin Liong bahwa sambitan yang amat kuat itu bermaksud memadamkan api di ujung ranting. Tentu saja dia tidak mau terjadi hal ini, maka cepat ia menarik ke bawah ranting terbakar itu dan menggunakan tangan kirinya menyambar benda yang dilontarkan. Kiranya segumpal tanah hitam! Mengertilah dia bahwa ada orang yang membokonginya dan orang itu agaknya yang besuit-suit tadi. Suitan yang agaknya merupakan perintah kepada binatang-binatang itu untuk mengeroyoknya! “Haiiii, Saudara penghuni Pulau Neraka! Harap jangan menyerang. Aku Kwa Sin Liong datang dengan maksud baik! Aku hanya mau mencari Sumoiku di sini!”

Hening sejenak. Suitan-suitan tidak terdengar lagi dan lebah-lebah itu kembali menjauh, demikian ular, kelabang dan lain binatang kecil. Terdengar bunyi tampak kaki menginjak daun-daun kering dan tak lama kemudian muncullah belasan orang yang bertelanjang kaki, berpakaian tidak karuan, bermuka menyeramkan itu kotor tidak terawat, mata mereka merah dan bergerak liar seperti mata orang-orang gila. Dengan gerakan perlahan, pandang mata penuh curiga, belasan orang itu menghampiri dan mengurung Sin Liong.

Pemuda itu tersenyum ramah, bersikap tenang dan mengangkat ranting menyala tinggi-tinggi untuk memperhatikan wajah mereka. “Harap Cuwi (Anda Sekalian) sudi memaafkan kedatanganku yang tiba-tiba ini. Akan tetapi sungguhnya aku, Kwa Sin Liong, tidak berniat buruk terhadap Pulau Neraka apalagi terhadap penghuninya. Aku datang untuk mencari sumoiku yang bernama Han Swat Hong, yang mungkin sudah mendarat di pulau ini.”

Seorang di antara mereka, yang mukanya penuh brewok sehingga yang tampak hanya matanya dan sedikit hidungnya, melangkah maju dan menegur, suaranya parau dan kasar. “kau dari mana?”

“Dari Pulau Es….”

Belasan orang itu mendengus dan kelihatan marah sekali. Si Brewok mengangkat tinggi senjata golok besarnya dan membentak, “kalau begitu kau harus mampus!”

“Nanti dulu, harap Cuwi bersabar.” Sin Liong cepat berseru dan mengangkat tangan kirinya ke atas, “Aku bukan musuh dari Cuwi, sudah kukatakan bahwa aku datang bukan untuk bermusuh, mengapa Cuwi hendak membunuhku?”

Pada saat itu, muncul pula lima orang, dan terdengar seruan heran dari seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, “Ehh, bukankah ini Kwa-kongcu dari Pulau Es?”

Sin Liong memandang dan merasa girang sekali ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah Bouw Tang Kui, penghuni Pulau Es yang dihukum buang ke Pulau Neraka karena telah mencuri batu mustika hijau! “Bouw-lopek!” serunya girang. “Aku datang untuk mencari Swat Hong yang juga sudah dibuang ke sini!”

“Apa??” Bouw Tang Kui berteriak, lalu berkata kepada Si Brewok yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu.

“Dia adalah seorang yang telah membelaku, membela Lu Kiat dan Sia Gin Hwa ketika dijatuhi hukuman buang. Dia seorang pemuda yang tak setuju dengan hukum di Pulau Es, biarpun dia adalah murid Raja Han Ti Ong sendiri.”

“Apa…??” Mereka kelihatan terkejut mendengar ini. “Muridnya…?”

“Benar,” jawab Bouw Tang Kui. “Dan kita bukanlah lawanya.”

Si Brewok meragu. “Kalau begitu, kita bawa dia kepada To-cu (Majikan Pulau)!”

Bouw Tang Kui melangkah maju. “Harap Kongcu menurut saja kami hadapkan kepada To-cu sehingga Kongcu dapat bicara sendiri dengannya.”

Sin Liong mengangguk. Memang menghadapi orang-orang kasar ini akan berbahaya sekali karena mereka sukar diajak bicara. Kalau dia dapat bicara dengan Majikan Pulau yang tentu merupakan tokoh yang paling pandai, dia akan dapat minta keterangan apakah Swat Hong telah berada di pulau itu. Dia mengangguk dan beberapa orang penghuni Pulau Neraka lalu menyalakan obor. Sin Liong sendiri membuang rantingnya, mengenakan lagi jubahnya dan mengikuti rombongan belasan orang itu memasuki hutan. Di sepanjang jalan dia melihat tempat-tempat berbahaya, lumpur-lumpur yang tertutup rumput tinggi, pasir-pasir berpusing yang dapat menyedot apa saja yang menginjaknya, pohonpohon yang aneh dengan buah-buah yang kelihatan lezat namun dari baunya dia tahu bahwa buah itu mengandung racun jahat, dan lain-lain. Benar-benar pulau yang amat aneh dan berbahaya, fikirnya. Pantas kalau disebut Pualu Neraka, dan diam-diam dia mencela kekejaman Kerajaan Pulau Es yang membuang orang-orang bersalah ke tempat seperti ini.

Dari keadaan orang-orang yang menangkapnya ini, hanya Bouw Tang Kui seorang yang kelihatan masih normal. Hal ini mungkin karena raksaksa ini baru beberapa bulan saja dibuang ke sini, sedangkan yang lain-lain, biarpun dapat mempertahankan hidupnya, namun telah berubah menjadi orang-orang liar yang agaknya telah berubah pula watak dan ingatanya! Dan selain menjadi orang-orang yang tidak normal agaknya mereka telah menguasai ilmu yang dahsyat dan mengerikan, yaitu ilmu menguasai binatang-binatang berbisa di pulau itu. Buktinya, biarpun meraka berjalan di hutan penuh binatang berbisa itu tanpa sepatu tidak ada seekor pun yang berani menyerang mereka.

Akhirnya dengan menggunakan ketajaman pandang mata dan penciuman hidungnya Sin Liong maklum bahwa orang-orang ini telah menggunakan semacam obat yang agaknya digosok-gosokan ke seluruh kaki mereka sehingga binatang itu menyingkir begitu mereka mendekat. Tak disangkanya sama sekali, ketika mereka tiba di tengah jalan, di situ terdapat tanah lapang yang luas dan tampak sebuah rumah besar, dikelilingi pondok-pondok kayu sederhana. lampu-lampu dinyalakan terang dan Sin Liong dibawa ke sebuah ruangan yang luas di mana telah menanti ketua pulau itu yang disebut To-co (Majikan Pulau). Ruangan itu luasanya lebih dari sepuluh meter persegi, dikelilingi banyak orang yang memegang bermacam senjata dan yang sikapnya semua penuh curiga dan permusuhan, kecuali Bouw Tang Kui, Sia Gin Hwa, Lu Kiat dan belasan orang lagi yang belum lama dibuang kesitu sehingga mereka ini mengenal Sin Liong sebagai murid Han Ti Ong yang selalu baik kepada mereka, bahkan banyak di antara mereka yang pernah diobati oleh pemuda ini.

“Hayo berlutut di depan tocu!” kata Si Brewok sambil mendorong Sin Liong ke depan.

Akan tetapi Sin Liong dengan tenang berdiri di depan To-cu itu dan memandang penuh perhatian. Orang ini sudah tua, sedikitnya tentu ada enam puluh tahun usianya. Kepalanya besar sekali, tubuhnya kurus kecil sehingga kelihatan lucu, seperti seekor singa jantan yang duduk di kursi! Sepasang matanya bersinar-sinar, mulutnya menyeringai. Sebetulnya wajahnya tampan, akan tetapi karena sikapnya yang ganas itu membuat wajahnya kelihatan menyeramkan dan menakutkan. Pakaiannya tidak seperti pakaian sebagian besar penghuni Pulau Neraka yang butut, melainkan pakaian dari kain yang baru dan bersih. Kursinya terbuat dari tulang-tulang berukir, dan di kedua lengan kursinya dihiasi dengan rangka ular dengan moncongnya ternganga lebar memperlihatkan gigi yang runcing melengkung.

Di sebelah kanan ketua Pulau Neraka ini duduk seorang anak perempuan yang tadinya hampir membuat Sin Liong salah kira. Anak itu usianya sebaya dengan Swat Hong, seorang anak perempuan yang cantik dan tersenyum-senyum, sikapnya kelihatannya gembira dan mungkin karena sebaya maka kelihatanya mirip dengan Swat Hong. Hampir saja Sin Liong tadi memanggilnya ketika mula-mula memasuki ruangan. Ketika melihat betapa pemuda tawanan itu memandangnnya penuh perhatian, anak perempuan itu tersenyum-senyum.

Melihat Sin Liong tidak mau berlutut di depannya, kakek itu memandang tajam, kemudia berkata berlahan, suaranya rendah, “Hemmm, kau tidak mau berlutut, ya? Hendak kulihat kalau kedua lututmu patah, kau berlutut atau tidak?”

Berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu menyambar sebatang toya dari tangan seorang penjaga, menekuk toya itu sehingga patah tengahnya dan sekali dia menggerakan tangan, sepasang potong toya itu menyambar ke arah kedua kaki Sin Liong! Pemuda itu terkejut, akan tetapi bersikap tenang. Dia maklum bahwa ketua Pulau Neraka itu bermaksud menggunakan lemparan tongkat untuk membikin sambungan lututnya terlepas. Maka dia cepat menggerakan kedua kakinya, meloncat ke atas, kemudian setelah melihat kedua toya berkelebat ke bawah kaki dia menggunakan kedua kakinya menginjak. Sepasang tongkat pendek itu menancap di atas lantai dan pemuda itu berdiri di atas kedua ujung tongkat dengan tubuh tegak dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu!

“Waduhhh, dia hebat sekali, kong-kong (Kakek)!” anak perempuan yang tadi tersenyum-senyum itu besorak penuh kagum, padahal anak buah Pulau Neraka memandang marah karena mengangap bahwa pemuda itu mengejek ketua mereka.

“Hebat apa! Permainan kanak-kanak seperti itu!” Kakek berkepala besar itu mendengus marah.

“Kong-kong juga bisa? Ajarkan aku kalau begitu!” anak prempuan itu berkata dengan sikap dan suara manja.

“Hushh! Diamlah kau!” kakek itu membentak dan sejak tadi matanya tidak pernah berpindah dari Sin Liong. Dibentak seperti itu, anak perempuan itu cemberut dan mukanya merah, menahan tangis.

Sin Liong merasa kasihan lalu meloncat turun dan berkata menghibur, “Adik yang manis, jangan berduka. Biarlah kalau ada kesempatan aku akan mengajarkannya kepadamu.”

Anak perempuan itu memandang Sin Liong dengan mata terbelalak, kemudian lenyaplah kemuraman wajahnya yang manja menjadi berseri-seri kembali.

“Orang muda yang bersikap dan bermulut lancang! Siapa engkau yang mengandalkan sedikit kepandaian untuk mengacau Pulau Neraka?” Kakek itu membentak, menahan kemarahannya karena dia merasa direndahkan sekali ketika serangan sepasang tongkatnya tadi gagal dan dihadapi oleh pemuda itu secara luar biasa.

Sin Liong cepat memberi hormat dengan menjura dalam-dalam, kemudian dia berkata dengan suara tenang, “Harap To-cu suka memaafkan kedatanganku ke Pulau Neraka ini. Seperti telah kukatakan kepada semua penghuni Pulau Neraka kedatanganku sama sekali tidak mengandung niat buruk atau hendak bermusuhan. Aku bernama Kwa Sin Liong dan….”

“Dia murid Han Ti Ong!” tiba-tiba Si Brewok berkata lantang.

Ucapan ini disambut dengan suara berisik dari semua oang yang berada di situ karena mereka sudah menjadi marah sekali. Semua orang yuang berada disitu adalah orang-orang buangan dari Pulau Es, semenjak raja pertama sehingga sudah tinggal disitu selama tiga keturunan, ada orang buangan baru dan ada pula yang merupakan turunan dari orang-orang buangan lama, akan tetapi kesemuanuya mempunyai rasa benci dan dendam pada satu nama, yaitu Pulau Es! Maka begitu mendengar pemuda tampan dan tenang ini adalah murid Han Ti Ong, raja terakhir dari Pulau Es, dapat dibayangkan kemarahan hati mereka. Dengan pandang mata mereka yang liar mereka hendak mencabik-cabik dan membunuh pemuda itu yang dianggapnya seorang musuh besar, dan andaikata mereka itu tidak takut kepada ketua mereka, tentu mereka telah menyerbu untuk melaksanakan niat yang terbayang dalam pandang mata mereka itu.

“Akan tetapi dia selalu menentang Han Ti Ong, menentang pembuangan ke Pulau Neraka!” terdengar suara beberapa orang membela, yaitu suara Bouw Tang Kui, Lu Kiat, Sia Gin Hwa dan beberapa orang buangan baru yang lain.

“Bunuh saja dia!”

“Seret murid Han Ti Ong!”

“Jadikan dia mangsa ular!”

Kakek bekepala besar itu mengangkat kedua lengannya ke atas dan membentak, “Diam…!!”

Sin Liong kembali terkejut. Ketika mengeluarkan suara bentakan tadi ketua Pulau Neraka agaknya telah mengerahkan khikangnya sehingga dia sendiri yang berdiri di depan kakek itu merasa betapa kedua kakinya tergetar! Mengertilah dia bahwa ketua Pulau Neraka ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tahulah dia bahwa dia telah memasuki sarang naga dan berada dalam keadaan terancam. Namun Sin Liong tidak merasa takut sedikitpun juga karena dia merasa bahwa dia tidak melakukan suatu kesalahan terhadap mereka ini. Maka kembali dia menjura kepada ketua Pulau Neraka sambil berkata, “To-cu, sekali lagi kujelaskan bahwa kedatanganku ini sama sekali tidak mengandung niat buruk dan kalau tidak ada perlu sekali pasti aku tidak akan berani menginjakkan kaki ke pulau ini. Aku datang untuk mencari Sumoiku yang bernama Han Swat Hong puteri Suhu…..” Sin Liong menghentikan kata-katanya karena teringat bahwa dia telah kelepasan bicara, akan tetapi karena sudah terlanjur maka tak mungkin kata-kata itu ditariknya kembali.

“Putera Han Ti Ong…??” Ketua Pulau Neraka berseru keras sekalli sampai mengagetkan semua orang. “Kau mencari puteri Han Ti Ong di sini?”

Sin Liong berkata, “Benar, To-cu. Karena aku menduga bahwa dia berada di sini maka aku menyusul ke sini.”

“Tangkap puteri Han Ti Ong!”

“Bunuh dia!”

“Gantung puterinya!”

Kini Sin Liong mengangkat kedua lengannya dan sambil menggerakan khikangnya dia beseru, “Harap Cuwi diam!”

Dan diamlah semua orang. Di antara meraka yang memiliki kepandaian tinggi, termasuk ketua Pulau Neraka, kagum sekali karena orang muda yang belum dewasa benar ini ternyata memiliki kekuatan khikang yang amat hebat!

“Harap Tocu tidak salah sangka. Puteri Han Ti Ong itu juga menjadi orang buangan.” Ucapan Sin Liong ini tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati semua orang sehingga mereka tidak dapat mengeluarkan kata-kata melainkan hanya memandang kepada Sin Liong dengan mata terbelalak.

“Kau bohong!” Kakek berkepala besar itu menghardik. “Mana mungkin Han Ti Ong membuang puterinya sendiri ke Pulau Neraka?”

“Agaknya Tocu telah mengerti akan kerasnya peraturan hukum di Pulau Es, dan sebetulnya yang dianggap melanggar hukum adalah istri suhu sendiri, istri tua, yang aku yakin hanyalah karena fitnah belaka. Suhu telah menjatuhkan hukuman kepada Subo, dan Sumoi lalu mewakili ibunya untuk membuang diri ke Pulau Neraka, maka aku menyusul ke sini untuk mengajaknya pulang ke Pulau Es.”

Tiba-tiba ketua Pulau Neraka tertawa bergelak, tertawa penuh kegembiraan sampai kedua matanya mengeluarkan air mata! “Huah-ha-ha-ha! Ha-ha-ha, betapa lucunya! Rasakan kau sekarang Han Ti Ong, Raja keparat! Rasakan kau betapa perihnya orang tertimpa kesengsaraan karena keluarga berantakan. Ha-ha-ha!”

Semua orang yang melihat dan mendengar kata-kata ketua Pulau Neraka ini, kontan tertawa-tawa semua, mentertawakan Raja Pulau Es! Biarpun mereka belum sempat membalas dendam kepada Raja Pulau Es, mendengar nasib buruk Raja itu sudah merupakan hiburan besar yang amat menyenangkan hati mereka. Hanya anak perempuan itu saja yang tidak ikut tertawa karena dia agaknya tidak mengerti apa-apa, dan pada saat itu dia hanya saling pandang dengan Sin Liong yang juga terheran-heran.

“Hei, Kwat Sin Liong! Betapa baiknya ceritamu, akan tetapi aku masih belum percaya kalau tidak melihat sendiri peteri Han Ti Ong datang ke pulau ini. kita tunggu dan lihat saja. Setelah aku melihat puteri Han Ti Ong berada di pulau ini, barulah kita akan bicara lagi. Tangkap dia dan masukan dalam kamar tahanan sambil menanti munculnya puteri Han Ti Ong!”

Si Brewok dan beberapa orang yang agaknya menjadi pembantu utama ketua Pulau Neraka sudah melangkah menghampiri Sin Liong dengan sikap mengancam. Pemuda ini maklum bahwa tidak ada jalan lain kecuali menyerah sambil menanti munculnya Sumoinya karena sebelum dia bertemu degnan Sumoinya, melawan hanya akan menimbulkan permusuhan yang tidak ada artinya saja. Maka dia mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Aku tidak akan melawan, kecuali kalau kalian menggunakan kekerasan. Aku menyerah dan mau menanti di kamar tahanan sampai Sumoiku muncul.”

Melihat sikap tenang dan ucapan yang berwibawa ini, belasan orang yang mengurung Sin Liong dengan sikap mengancam tadi kelihatan ragu-ragu. Akan tetapi Sin Liong lalu melangkah ke depan dan berkata, “Marilah bawa aku ke kamar tahanan.”

“Jangan ganggu dia, biar dia mengaso di kamar tahanan dan layani baik-baik sampai puteri Han Ti Ong mucul. kalau dia membohong, hemm, baru kita akan berpesta membunuhnya!” Ketua Pulau Neraka berkata sambil terkekeh-kekeh karena hatinya senang sekali mendengar betapa Han Ti Ong sampai membuang istrinya sendiri ke Pulau Neraka, kemudian puterinya malah membuang diri ke Pulau Neraka. Biarpun dia belum percaya benar akan cerita ini sebelum dia menyaksikan buktinya, namun berita itu saja sudah mendatangkan rasa senang di dalam hatinya.

Dengan sikap gagah dan tenang sekali Sin Liong digiring ke dalam kamar tahanan, diikuti oleh pandang mata penuh khawatir dari anak perempuan tadi.

Setelah rombongan itu lenyap, anak perempuan itu mencela ketua Pulau Neraka, “Kong-kong kenapa dia ditahan? Dia luar biasa, berani dan pandai sekali!”

“Hushh! Dia orang Pulau Es, dia murid Han Ti Ong, karena itu dia adalah musuh kita. Mengerti?”

Anak perempuan itu cemberut, lalu meninggalkan kakek itu sambil bersungut-sungut sedangkan kakeknya tertawa bergelak dengan hati senang. Dia lalu memberi isyarat memanggil seorang kepercayaannya, lalu berbisik-bisik sambil tersenyum-senyum. Pembantunya juga tertawa, mengangguk-anguk lalu pergi. Kakek ini, ketua Pualu Neraka yang memiliki kepandaian tinggi, sama sekali tidak curiga kepada cucunya sendiri, tidak tahu bahwa cucunya itu tadi menyelinap dan mendengarkan perintah yang dia berikan kepada orang kepercayaannya.

Sin Liong adalah seorang pemuda yang tidak pernah mempunyai prasangka buruk terhadap orang lain. Dia belum banyak mengenal kepalsuan watak manusia dan biarpun terhadap orang-orang Pulau Neraka, dia tetap menaruh kepercayaan. Maka diapun percaya penuh akan kata-kata ketua Pulau Neraka dan dengan suka rela dia menyerahkan diri, tidak melawan ketika digiring memasuku kamar tahanan! Setelah berada di dalam kamar di bawah tanah yang sempit itu, dengan jendela dan besi dari baja, dan ruji baja yang kuat memenuhi jendela sebagai jalan hawa, dia segera duduk besila. Dia tak menaruh khawatir akan keadaan dirinya, akan tetapi dia merasa gelisah mengapa sumoinya belum tiba di Pulau Neraka? Dia percaya bahwa ketua Pulau Neraka tidak membohonginya. Kalau benar bahwa Swat Hong telah berada di Pulau Neraka, tentu tidak seperti ini sikap mereka terhadap dirinya. Kalau begitu, jelas bahwa Sumoinya belum tiba di Pulau Neraka, padahal telah berangkat lebih dahulu. Ke manakah perginya sumoinya itu?

 


Tengah malam telah lewat dan keadaan sunyi sekali dalam kamar tahanan itu. Tidak ada penjaga di luar pintu atau jendela, akan tetapi dia tahu bahwa di pintu masuk lorong tahanan itu terdapat beberapa orang penjaga yang selalu siap dengan senjata di tangan. Tiba-tiba dia mendengar suara wanita yang marah-marah di sebelah luar dan suara para penjaga ketakutan. “Kalian berani melarangku masuk?” terdengar suara wanita itu.

“Nona, tahanan ini adalah orang penting! dan….”

“Dan kauanggap aku bukan orang penting? Kaukira aku mau apa? Aku mau mengejeknya dan memakinya, dia adalah musuh besarku. Apakah kau berani melarangku? Coba kau melarang dan aku akan mengatakan kepada Kong-kong bahwa kalian berani kurang ajar kepadaku hendak menggodaku, aku mau melihat apakah kepala kalian masih akan menempel di leher!”

“Ah, tidak… bukan begitu….”

“Maafkan, Nona….”

“Silahkan masuk, silahkan”

“Awas kalau ada yang mengikuti aku dan mengintai, berarti dia mau kurang ajar dan akan kuberitahukan kepada Kong-kong!”

Sin Liong sudah menduga siapa wanita yang bicara di luar dan ribut-ribut dengan para penjaga itu, akantetapi begitu dara itu muncul di bawah sinar lampu di luar ruji jendelanya, hampir saja dia berteriak memanggil karena mengira bahwa Swat Hong yang muncul itu. Di bawah sinar lampu yang tidak begitu terang memang gadis cucu ketua Pualu Neraka ini hampir sama dengan Swat Hong. Setelah melihat jelas bahwa yang datang adalah cucu ketua Pulau Neraka dan mengingat akan kata-kata gadis ini di luar tadi bahwa kedatangannya dengan niat mengejek dan memakinya, Sin Liong tetap duduk bersila dan bahkan memejamkan matanya, pura-pura tidur.

“Ssssttt…”

Sin Liong tidak menjawab, bergerak sedikitpun tidak. Perlu apa melayani seorang bocah yang hanya datang hendak mengejek dan memakinya? Demikian pikirnya sungguhpun hatinya terasa tidak enak juga harus mendiamkan saja orang yang susah payah datang sampai ribut mulut dengan para penjaga. Tentu akan kecewa hatinya, pikir Sin Liong dan diam-diam dia mengintai dari balik bulu matanya yang direnggangkanya sedikit.

“Pssstttt… kau tidak tidur, bulu matamu bergerak-gerak, jangan kautipu aku….” anak perempuan itu berkata lagi dengan suara bisik-bisik dan meruncingkan bibirnya di antara ruji-ruji jendela.

Sin Liong menarik napas panjang dan membuka matanya. “Hah, kau boleh mengejek dan memaki sesukamu, kemudian pergilah agar aku dapat mengaso benar-benar,” katanya.

“Hi-hik!” Gadis itu menahan ketawanya, menutupi mulutnya yang kecil. “Kiranya engkau sama bodohnya dengan para penjaga itu, percaya saja apa yang kukatakan di luar tadi!”

Sin Liong bangkit berdiri dan menghampiri jendela kamar tahanan. Mereka saling berhadapan dan saling pandang melalui ruji-ruji jendela. “Apa yang kaumaksudkan, Nona?”

Mulut yang tersenyum itu kini cemberut dan terdengar suaranya manja, “Kau tadi menyebutkan Adik yang manis. Mengapa sekarang menjadi Nona? kau benar pandai mengecewakan hati orang!”

Mau tidak mau Sin Liong tersenyum. Bocah ini manja dan lincah, mengingatkan dia kepada Han Swat Hong. Banyak persamaan antara kedua orang perempuan itu. “Baiklah, Adik yang manis. sebenarnya, mau apa kau datang ke sini kalau bukan untuk mengejek dan memaki aku yang dianggap musuh oleh kakekmu?”

“Aku datang untuk bercakap-cakap.”

“Hemm, waktu dan tempatnya tidak tepat untuk bercakap-cakap. Aku adalah seorang tahanan dan engkau adalah cucu To-cu di sini, tempat ini di kamar tahanan yang kotor dan sempit dan sekarang sudah lewat tengah malam. Harap engkau kembali ke kamarmu dan tidur yang nyenyak. jangan-jangan kau akan dimarahi Kong-kongmu.”

“Aku tidak takut! Aku sengaja datang ke sini untuk bercakap-cakap denganmu. Siapa berani melarangku?” Sikapnya menjadi galak, matanya bersinar-sinar dan Sin Liong menarik napas panjang.

Sejak lama dia memperoleh kenyataan betapa ganjilnya watak wanita. Dia melihat watak-watak yang aneh dan sukar dimengerti yang dilihatnya pada diri Sia Gin Hwa yang menyeleweng dari suaminya, berjinah dengan Lu Kiat, pada diri Liu Bwee ibu Swat Hong yang tadinya periang lalu berubah pemurung dan berhati begitu sabar dan mengalah terhadap suaminya yang menyakitkan hatinya, pada diri The Kwat Lin yang juga amat berubah setelah menjadi istri raja, pada diri Swat Hong yang telah nekad membuang diri ke Pualu Neraka, dan kini dia berhadapan dengan seorang gadis yang juga berwatak aneh sekali. “Baiklah, jangan marah karena tidak ada yang melarangmu di sini. Kalau kau ingin bercakap-cakap, nah, bercakaplah dan aku akan mendengarkan.”

Gadis itu melongo. “Bercakap apa?”

Diam-diam Sin Liong merasa geli. Benar-benar seorang gadis yang masih seperti kanak-kanak dan mungkin semua sikapnya tadi, ketika bergembira dan ketika marah, tidaklah setulusnya hati maka demikian mudah berubah. “Bercakap apa saja sesukamu, misalnya siapa namamu, siapa pula nama Kong-kongmu dan keadaan di pulau ini dan lain-lain.”

Wajah itu berseri kembali, gembira setelah ingat bahwa sesungguhnya banyak sekali bahan untuk dibicarakan. “Namaku Soan Cu, Ouw Soan Cu….”

“Namamu indah.” Sin Liong memuji untuk menyenangkan hatinya. Dan memang hati Soan Cu senang sekali mendengar pujian ini.

“Benarkah? Benarkah namaku indah?” Dengan penuh gairah dia lalu menceritakan riwayatnya secara singkat.

Ketua atau Majikan Pulau Neraka itu bernama Ouw Kong Ek bukanlah seorang buangan dari Pulau Es, melainkan keturunan orang buangan yang semenjak ratusan tahu menjadi ketua di situ karena memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kakek dari Ouw Kong Ek, seorang buangan dari Pulau Es yang berilmu tinggi, adalah seorang pertama yang menjadi “Ketua” di Pulau Neraka, kemudian menurunkan kedudukan ini kepada anaknya sampai kepada Ouw Kong Ek. Ouw Kong Ek sendiri mengambil seorang buangan dari Pulau Es, seorang bekas pelayan permaisuri Raja Pulau Es yang dijatuhi hukuman buang karena fitnah dan sesungguhnya dia tidak mau melayani seorang pangeran yang tergila-gila kepadanya, menjadi istrinya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Ouw Sian Kok. Akan tetapi istrinya meninggal dunia ketika Ouw Sian Kok menikah dengan seorang gadis Pulau Neraka dan Ketua Pulau Neraka ini tinggal menduda. Dia mencurahkan pengharapanya kepada putera tunggalnya yang mewarisi semua ilmunya dan yang diharapkan kelak akan menggantikan kedudukanya kalau dia sudah mengundurkan diri. Namun nasib buruk menimpa keluarga Ouw. Ketika istri Ouw Sian Kok melahirkan seorang anak, yaitu Soan Cu, ibu muda ini meninggal dunia. Ouw Sian Kok demikian berduka sehingga ingatannya terganggu, menjadi gila dan melarikan diri dari Pulau Neraka, tak seorangpun tahu kemana perginya orang gila itu.

“Demikianlah riwayatku yang tidak mengembirakan,” Soan Cu mengakhiri ceritanya. “Sejak kecil aku tidak pernah melihat wajah ibu dan ayahku. Ayah sampai sekarang tidak pulang dan tidak ada yang tahu berada di mana. Aku dipelihara dan dididik oleh Kong-kong yang mengharapkan kelak aku menggantikan kedudukan ketua di sini. Akan tetapi aku tidak sudi!”

“Mengapa tidak suka, Soan Cu?”

“Siapa sudi mengurusi orang-orang gila itu! Mereka semua gila dan jahat, karena itu aku suka kepadamu Sin Liong. Engkau lain dari pada mereka, engkau berani dan baik. Maka aku datang untuk menolongmu. Ketahuilah, sebentar lagi, kalau kau dikira sudah tidur, engkau akan dibunuh!”

Sin Liong terkejut akan tetapi tetap bersikap tenang. “Benarkah? Mengapa aku dibunuh? Bukankah Kongkongmu berjanji bahwa kita akan berjanji akan menunggu sampai Sumoiku tiba di Pulau Neraka?”

“Uhh, kau percaya kepada Kong-kong! Hmm, dia hanya membohong.”

“Ah, mengapa begitu? Sebagai seorang ketua tidak sepatutnya kalau dia menipu.”

“Membohong dan menipu merupakan pebuatan yang menguntungkan dan bahkan dianggap baik dan layak di sini! itu adalah tanda dari kecerdikan seseorang!”

“Pantas kau tadi pun membohongi penjaga.” Sin Liong mencela.

“Memang, kalau tidak membohong, mana bisa masuk dengan mudah? Dan kau tentu akan celaka kalau aku tidak membohong.”

“Hmmm…, alasan dicari-cari dan ngawur. Jadi mereka hendak membunuhku? Mudah saja, apa dikira aku begitu mudah dibunuh?”

“Kau tidak tahu kecerdikan Kong-kong, Sin Liong. Kalau digunakan kekerasan, agaknya kau akan melawan dan sudah melihat kau tadi sudah lihai. Akan tetapi, mereka akan mengerahkan binatang-binatang berbisa untuk mengeroyokmu dan membunuhmu di kamar sempit ini! Kalau segala macam ular, kalajengking, kelabang, lebah dan lain binatang berbisa itu datang memenuhi tempat ini dan mengeroyokmu, apa yang akan dapat kaulakukan untuk menyelamatkan diri?”

“Hemm, aku akan berusaha membela diri, kalau aku gagal, aku akan mati dan habis perkara. tidak ada hal yang menggelisahkan hatiku.”

“Kau sombong! Kau tidak minta tolong kepadaku?”

“Andaikata aku minta tolong juga, kalau kau tidak mau menolong, apa artinya? Tanpa kuminta sekalipun, kalau kau mau menolong, bagaimana caranya? Sudahlah, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri saja, Soan Cu. Betapapun juga terima kasih atas kedatanganmu dan kebaikan hatimu. Kau seorang dara yang cantik dan baik budi, sayang kau berada diantara orang-orang liar itu. Pergilah, jangan sampai kakekmu melihat engkau berada disini.”

Soan Cu mengeluarkan sebuah bungkusan. “Inilah yang akan menyelamatkanmu. Kaupergunakan obat bubuk ini untuk menggosok semua kulit tubuhmu yang tampak, dan sebarkan sebagian di sekelilingmu. Tidak akan ada seekor pun binatang berbisa yang berani datang mendekat, apalagi menggigitmu. Nah, sebetulnya kedatanganku hanya untuk menyerahkan ini, akan tetapi kita terlanjur ngobrol panjang lebar. Selamat tinggal, Sin Liong.”

Sin Liong menerima bungkusan itu, mengulurkan tangan dari antara ruji jendela dan memegang lengan dara itu. “Nanti dulu, Soan Cu”

“Ada apa lagi?” Gadis itu membalikan tubuh dan mereka saling berpegangan tangan. Hal ini dilakukan oleh Sin Liong karena dia merasa terharu juga oleh pertolongan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu.

“Soan Cu, tahukah engkau apa yang akan terjadi padamu kalau sampai Kong-kongmu mengetahui akan perbuatanmu ini?”

“Menolong engkau? Ah, paling-paling dia akan membunuhku!”

“Hemm, begitu ringan kau memandang akibat itu? Soan Cu, mengapa kau melakukan ini untukku? Mengapa kau menolongku dengan mempertaruhkan nyawa?”

“Sudah kukatakan tadi. Kau lain dari pada semua orang yang kulihat di pulau ini. Aku suka padamu dan aku tidak ingin mendengar apalagi melihat engkau mati. Sudahlah, hati-hati menjaga dirimu, Sin Liong!” Gadis itu meloncat dan berlari keluar.

Sin Liong berdiri termenung sejenak, kemudian kembali ke tengah kamar tahanan dan duduk bersila menenangkan hatinya. Andaikata tidak ada Soan Cu yang datang memberikan obat penawar dan pengusir binatang berbisa, dia pun tidak kan gentar dan belum tentu dia akan celaka oleh binatang-binatang itu, sungguhpun dia sendiri belum mau membayangkan apa yang akan dilakukanya kalau serangan itu tiba. Apalagi sekarang ada obat bubuk itu. Dia teringat betapa penghuni Pulau Neraka dapat menjelajahi hutan yang penuh binatang berbisa dengan enaknya karena tubuh mereka sudah memakai obat penawar. Agaknya inilah obat penawar itu. Dia membuka bungkusan dan melihat obat bubuk berwarna kuning muda yang tidak akan kentara kalau dioleskan di kulit tubuhnya. Sin Liong bersila dan mengatur pernapasan, melakukan siulian (samadhi) lagi. Pendengarannya menjadi amat terang dan tajam sehingga dia dapat menangkap suara mendesis dan suara yang dikenalnya sebagai suara lebah yang datang dari jauh, makin lama makin mendekat itu. Tahulah dia bahwa apa yang diceritakan oleh Soan Cu memang tidak bohong. Sekali ini agaknya anak itu tidak membohong! Maka dia lalu membuka bungkusan, menggosok kulit tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan obat itu. Mukanya sampai ke leher, tangan dan kakinya, digosoknya sampai rata. Kemudian sambil membawa bungkusan yang terisi sisa obat itu, dia menanti. Tak lama kemudian, suara itu menjadi makin dekat dan tiba-tiba saja munculah mereka! Diam-diam Sin Liong bergidik juga. Tentu dia akan melompat kalau saja dia tidak mempunyai obat penolak itu. Dari bawah pintu, puluhan ekor ular kecil dan kelabang besar, kalajengking yang besarnya sebesar ibu jari, merayap dengan cepat memasuki kamar, berlomba dengan lebah-lebah putih yang beterbangan masuk melalui jendela. Sin Liong cepat menyebarkan bubuk obat ke sekeliling di atas lantai, dan menaburkan sebagian ke atas, ke arah lebah-lebah yang berterbangan. Dia tersenyum kagum melihat akibatnya. Semua binatang berbisa itu, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, tiba-tiba serentak membalik saling terjang dan saling timpa, lari cerai berai meninggalkan kamar. Lebah-lebah putih juga terbang dengan kacau, menabarak dinding dan banyak yang jatuh mati, yang sempat terbang keluar jendela saling tabrak seperti mabok, dan sebentar saja suara binatang-binatang itu sudah menjauh.

Akan tetapi mendadak Sin Liong meloncat berdiri ketika medengar suara lain yang membuat jantungnya berdebar, suara seorang wanita memaki-maki, “Iblis kalian semua! Manusia-manusia gila! Kalau tidak dapat membasmi kalian, jangan sebut aku Han Swat Hong!”

Sin Liong meloncat ke arah jendela, kedua tangannya bergerak dan terdengar suara keras ketika ruji-ruji jedela jebol semua. Dia meloncat dan keluar dari kamarnya, terus berlari keluar melalui lorong. Setibanya di luar, tampaklah olehnya Swat Hong berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang, dua orang anggota Pulau Neraka roboh dan mengaduh-aduh di bawah sedangkan belasan orang lain mengurung gadis itu. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sumoinya memang galak dan pemberani. Bukan main gagahnya. Dikurung oleh orang-orang Pulau Neraka itu masih enak-enak saja, bahkan tidak mencabut pedang, padahal semua yang mengurungnya memegang senjata. 

“Heiii! Mundur kalian, jangan ganggu dia!!” Sin Liong sudah meloncat ke depan.

“Kau yang mundur! Mengapa ikut-ikut keluar?” Swat Hong membentak dan memandang Sin Liong dengan mata mendelik.

“Ehh? Sumoi…? Aku hanya ingin menolongmu.”

“Siapa membutuhkan pertolonganmu? kembalilah ke kamar tahananmu itu dengan … dengan…” Akan tetapi Swat Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini orang-orang Pulau Neraka telah mengeroyoknya.

“Wuuuttt… siuuuuttt!” Tubuh Swat Hong sudah menyambar ke sana-sini, selain mengelak dari serbuan banyak senjata itu, juga untuk mengirim serangan serangan balasan dengan tangan dan kakinya yang bergerak cepat sekali. Bukan main hebatnya Swat Hong yang bergerak cepat dan yang didorong oleh perasaan marah itu. Dia memang marah, bukan marah kepada orang-orang Pulau Neraka, melainkan marah kepada… Sin Liong!

Kiranya tanpa diketahui oleh Sin Liong sendiri, sudah sejak tadi Swat Hong tiba di tempat itu, menggunakan kepandaiannya menyelundup sehingga tidak diketahui para penjaga dan dia telah dapat mendengarkan percakapan antara suhengnya dan Soan Cu. Hatinya menjadi panas! Dia sendiri tidak tahu akan hal ini, tidak sadar mengapa dia menjadi tidak senang mendengar betapa suhengnya bercakap-cakap dengan ramah bersama seorang gadis! karena itu, niatnya untuk menolong suhengnya menjadi buyar dan dia hanya menonton saja ketika suhengnya diserbu binatang berbisa dan dapat menolong diri dengan obat penolak yang diberikan oleh Soan Cu.

Ketika Swat Hong yang marah menyaksikan ibunya dijatuhi hukuman buang melarikan diri dari Pulau Es, dara ini segera berlayar menggunakan sebuah perahu Pulau Es. Tujuannya memang hendak membuang diri ke Pulau Neraka menggantikan ibunya, dan terutama hal ini dilakukannya sebagai protes kepada ayahnya. Akan tetapi karena dia belum pernah pergi ke pulau tempat buangan itu, dan pula karena sudah jauh meninggalkan Pulau Es dia mulai merasa gelisah dan ngeri memikirkan keadaan Pulau Neraka yang kabarnya amat berbahaya itu, maka dia tersesat jalan, mendarat di pulau-pulau kosong sekitar Pulau Neraka. Akhirnya dia melihat dari jauh perahu Sin Liong meluncur di antara gumpalan-gumpalan es yang menggunung. Dia merasa heran sekali melihat suhengnya dan merasa khawatir kalau-kalau suhengnya itu mengejarnya atas suruhan raja untuk memaksanya kembali ke Pulau Es.

Maka diam-diam ia lalu mengikuti dari jauh sampai akhirnya dia melihat suhengnya mendarat di Pulau Neraka. Dengan menggunakan kepandaianya. Swat Hong berhasil pula mendarat di Pulau Neraka. Dia tidak khawatir akan serangan binatang-binatang berbisa, karena sebelum berangkat Swat Hong membawa batu mustika hijau yang dia dapat dahulu dari ayahnya. Di bagian tertentu di dasar laut dekat Pulau Es terdapat batu mustika hijau ini yang amat sukar didapat dan hanya beberapa orang penghuni Pulau Es saja yang berhasil mendapatkannya. Batu mustika hijau ini mengandung khasiat yang mujijat terhadap ular berbisa dan semua binatang berbisa, selalu ditakuti binatang-binatang itu, juga dapat dipergunakan untuk mengobati luka terkena gigitan binatang berbisa. Maka, dengan batu mustika ditangannya, dengan mudah Swat Hong dapat memasuki Pulau Neraka tanpa mendapat gangguan sedikit pun dari binatang berbisa yang hidup di pulau itu.

Ketika Swat Hong tiba di tengah pulau, dia sempat melihat sinar, maka dia menanti sampai larut malam dan menyelundup ke dalam tempat tahanan, dengan maksud menolong suhengnya, akan tetapi tanpa disengaja dia dapat mendengarkan percakapan antara suhengnya dengan Soan Cu. Inilah yang membuat hatinya menjadi panas sehingga ketika dia ketahuan para penjaga dan dikroyok, dia menolak keras bantuan Sin Liong! Tentu saja Sin Liong menjadi terheran-heran melihat sikap sumoinya dan memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Sudah ada enam orang pengeroyok terguling roboh oleh gerakan kaki tangan Swat Hong yang marah itu, padahal dara itu belum mencabut pedangnya. Dapat dibayangkan betapa akan hebatnya kalau dara itu sudah menggunakan senjata!

“Sumoi, tahan…!” Dia meloncat maju.

“Singgg…! Mundur kau!” Sin Liong terkejut melihat sumoinya mencabut pedang!

Dan pada saat itu, terdengar bentakan keras, “Siapakah gadis cilik itu berani mengacau disini? Ahhh, Kwa Sin Liong, engkau berani lolos dari tempat tahanan?” Yang datang adalah Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka!

Tentu saja ketua ini tidak mengenal Swat Hong, sebaliknya, dara itupun tidak mengenal kakek berkepala besar ini, maka dia memandang rendah dan membentak, “Siapa kau? Kalau sudah bosan hidup, majulah!” Dara itu dengan gerakan gagah melintangkan pedangnya di depan dada.

Sin Liong cepat melangkah maju. Dia tahu betapa lihainya kakek ini, maka untuk mencegah pertempuran, dia cepat berkata, “Tocu, jangan salah sangka.Dia adalah sumoiku, dia adalah puteri Suhu, Raja dari Pulau Es!” Semua orang terkejut mendengar ini dan para pengurung melangkah mundur dengan mata terbelalak. Betapapun juga, nama Raja Pulau Es masih merupakan nama ampuh dan selain dibenci, juga amat ditakuti oleh mereka. Tentu saja sebagai puteri Raja Pulau Es, dara itu merupakan musuh yang dibenci dan juga ditakuti. Pantas saja dara itu demikian lihai, pikir mereka. Hati mereka gentar.

Tidak demikian dengan Ouw Kong Ek. Dia memandang Swat Hong dan tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, jadi dia inikah puteri Raja Pulau Es? Puteri Han Ti Ong? Bagus, hayo tangkap dia hidup-hidup!” perintahnya kepada para pembantunya yang segera melompat ke depan.

“Tahan dulu!” Sin Liong sudah mengangkat tangan kanannya ke atas. Semua orang, termasuk Ouw Kong Ek sendiri, memandang pemuda ini. Betapapun juga mereka maklum bahwa pemuda ini lihai sekali, buktinya penyerbuan binatang-binatang berbisa untuk membunuhnya di dalam kamar tahanan telah gagal, bahkan binatang-binatang itu lari cerai berai dan kini pemuda itu sudah lolos dari dalam penjara.

“Ouw-tocu, seperti sudah kuceritakan kepadamu, biarpun sumoi adalah puteri Raja Han Ti Ong, akan tetapi ia menentang Ayahnya dan mewakili Ibunya dihukum ke Pulau Neraka. Dia tidak memusuhi Pulau Neraka….”

“Ha-ha-ha, apa pun yang kaukatakan, dia tetap adalah puteri Han Ti Ong, musuh besar kami. Mana kami dapat percaya kepada kalian, puteri dan murid Han Ti Ong? Tangkap mereka!”

“Nanti dulu, Tocu! Mengapa engkau melanggar janji? Aku sudah mengatakan bahwa kedatanganku ke pulau ini hanya untuk mencari Sumoi dan ternyata sekarang Sumoi telah tiba di sini, maka harap Tocu bersikap bijaksana dan membiarkan kami pergi dari tempat ini.”

“Hai, Kakek berkepala besar yang tolol! Kau mudah saja dibohongi Suheng! Kami memang datang untuk membasmi iblis-iblis di Pulau Neraka. Nah, kau mau apa?”

“Sumoi!” Sin Liong membentak kaget dan cepat berkata kepada ketua Pulau Neraka, “Tocu, jangan dengarkan dia. Agaknya dia telah mengalami tekanan batin yang hebat sehingga mengeluarkan kata-kata kacau balau tidak karuan.”

Swat Hong mengangkat dada, menegakan kepalanya dan menghadapi Sin Liong dengan mata mendelik dan berkata lantang, “Apa? Kau mau bilang bahwa aku telah menjadi gila?”

“Sumoi, kalau kau bicara seperti tadi, membohong tidak karuan, memang agaknya kau telah gila?”

“Kau yang gila! Kau yang tidak waras dan berotak miring! Kalau aku membohongi iblis-iblis ini, apa hubungannya dengan kau?” Sin Liong benar-benar menjadi bingung. Biasanya Swat Hong bersikap manis kepadanya dan biarpun dia tahu bahwa dara ini berhati keras, akan tetapi belum pernah bersikap sekeras itu kepadanya.

Tiba-tiba muncul Soan Cu yang berkata kepada kakeknya, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang. “Kong-kong, apa yang dikatakan Sin Liong memang benar! Dia beriktikad baik terhadap kita, Kong-kong. Malam tadi aku datang kepadanya untuk mengejeknya, akan tetapi dia sebaliknya malah menunjukkan bahaya maut yang mengancam diriku.”

Kakek itu terkejut. “Bahaya maut? Apa maksudmu?”

“Sin Liong ternyata memiliki ilmu pengobatan yang lihai sekali. begitu melihat aku, dia mengatakan bahwa aku terserang hawa beracun dari sebelah dalam dan jika tidak diobati dengan tepat, dalam waktu kurang dari setahun aku tentu akan mati.”

“Hahh…??” Kakek itu dan semua pembantunya terbelalak kaget memandang dara itu yang bersikap sungguh-sungguh. “Dan dia memang benar. Dia mengantakan bahwa setiap tengah malam aku tentu merasa pening dan dibagian punggung seperti ditusuk-tusuk jarum, kalau pagi kedua kaki pegal-pegal dan sehabis makan tentu merasa mual hendak muntah. Semua yang dikatakanya itu ternyata tepat sekali, Kong-kong.”

Berubah wajah kakek itu. Soan Cu adalah seorang yang amat disayangnya, bahkan disayang oleh pembantunya karena dara inilah yang akan mewarisi seluruh ilmu kepandaiannya dan yang akan menggantikannya menjadi Ketua Pulau Neraka. Tentu saja mendengar bahwa usia Soan Cu hanya tinggal setahun, dia terkejut bukan main dan cepat memandang kepada Sin Liong. Sin Liong sendiri bengong dan terheran-heran. Akan tetapi ketika dia memandang Soan Cu ketika kakek itu membalik dan menghadapinya, dia melihat dara itu secara lucu telah mengejapkan mata kirinya, maka mengertilah dia bahwa dara itu kembali membohong! Membohong dengan cerdik bukan main dalam usahanya untuk menolongnya!

“Kwa Sin Liong, benarkah cucuku diancam hawa beracun? Benarkah??”

Melihat sikap Sin Liong meragu, agaknya sukar bagi pemuda itu untuk membohong maka Soan Cu cepat berkata lagi, “Kong-kong, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan obatnya, akan tetapi dia hanya mau memberi obat kalau dia dan sumoinya dibebaskan dari sini. Terserah kepada Kong-kong berat aku atau berat mereka itu.”

Swat Hong sudah hampir membuka mulutnya memaki dara itu yang dia tahu telah membohong. Dia sendiri mendengar percakapan mereka dan dara itu sama sekali tidak sakit, bahkan telah memberi obat penolak binatang beracun kepada Sin Liong, dan menyatakan betapa dara tak tahu malu itu amat suka dan kagum kepada Sin Liong, maka datang menolongnya. Sekarang dara itu mengatakan hal yang bukan-bukan! Akan tetapi, ketika mendengar ucapan terakhir dari Soan Cu, tahulah dia bahwa dara itu kini membohong untuk menolong Sin Liong dan dia terbebas dari Pulau Neraka! Kenyataan ini membuat dia bungkam kembali. Betapa baiknya dara itu dan betapa akan buruknya dia kalau dia membongkar rahasia gadis itu. Tentu Sin Liong akan makin kagum kepada Soan Cu dan makin benci kepadanya. Pikiran inilah yang membuat dia membungkam dan tidak melanjutkan niatnya untuk membantah Soan Cu.

Hati kakek itu makin bingung. Lenyaplah semua nafsunya untuk menawan Sin Liong dan Swat Hong. Dia memandang Sin Liong dan bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dapat menyelamatkan cucuku?”

Kini Sin Liong yang menjadi bingung. Pemuda ini sama sekali tidak pernah membohong dan hatinya tidak akan dapat membohong, namun dia tahu bahwa kalau dia menyangkal kata-kata Soan Cu, sama saja mencelakakan gadis yang berniat baik kepadanya itu. Maka dia lalu menjawab dengan suara ragu-ragu dan perlahan, “Aku dapat memberi obat pembersih darah dan penguat tulang kepadanya, Tocu.”

“Dan kau menjamin bahwa cucuku tentu akan sembuh dan terhindar dari ancaman maut hawa beracun di tubuhnya itu?” Kakek itu mendesak.

“Kong-kong mengapa tidak percaya kepadanya? Lekas minta obatnya dan engkau yang harus menjamin bahwa dia dan sumoinya tidak akan diganggu,” kata Soan Cu.

Kakek berkepala besar itu meraba-raba jenggotnya. “Hemmm,harus ada buktinya dulu. Kwat Sin Liong, mulai saat ini engkau dan Sumoimu puteri Han Ti Ong harus tinggal di pulau ini sebagai tamu sambil menanti hasil pengobatanmu kepada cucuku. Kalau kau gagal mengobatinya, hemmm, aku tidak akan mengampuni kalian berdua. Kalau cucuku sembuh, barulah kita bicara lagi.”

Sin Liong mengerutkan alisnya hendak membantah peraturan yang berat sebelah ini, akan tetapi dia melihat Soan Cu mengedipkan mata kirinya maka dia menarik napas panjang dan mengangguk lalu berkata, “Harap sediakan alat tulis, biar kulukiskan bentuk daun yang harus dicari.”

Sin Liong lalu melukiskan beberapa macam daun yang mudah dicari dan yang mempunyai khasiat biasa saja, yaitu sekedar penambah kekuatan tubuh. Ouw Kong Ek lalu menyuruh seorang pembantunya untuk mencari daun-daun yang dilukis itu di pulau sebelah Pulau Neraka di mana terdapat banyak tetumbuhan.

Adapun Sin Liong dan Swat Hong lalu diperlakukan sebagai tamu terhormat, bahkan disediakan dua kamar yang bersih untuk mereka, dilayani baik-baik dan tentu saja di samping pelayanan ini, para pelayan yang terdiri dari pembantu-pembantu ketua, bertugas pula sebagai penjaga!

“Kuperingatkan kepada kalian agar menanti sampai cucuku sembuh. Lari pun tidak akan ada gunanya bagi kalian karena perahu-perahu kalian telah kami simpan dan di sekeliling Pulau Neraka tidak akan ada perahu sebuah pun. Tanpa perahu, bagaimana kalian akan dapat meninggalkan pulau ini?” Demikinan pesan Ouw Kong Ek sebelum dia meninggalkan dua orang itu sehingga Swat Hong menjadi mendongkol sekali dan hampir saja dia memaki-maki ketua itu kalau tidak ditahan oleh Sin Liong yang memegang lengannya.

Setelah ketua itu meninggalkan mereka berdua di dalam pondok di mana mereka untuk sementara tinggal, Sin Liong menegur sumoinya , “Sumoi, mengapa kau bersikap seperti itu?”

“Suheng, aku tidak nyangka sama sekali akan menyaksikan engkau yang terkenal alim kini bermain gila dengan gadis puteri ketua Pulau Neraka. Huhh!”

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada sumoinya,hatinya bertanya mengapa sumoinya memperhatikan soal begitu, padahal sama sekali tidak ada sangkut paut dengan sumoinya. “Sumoi, engkau tahu betul bahwa Nona Ouw Soan Cu melakukan hal itu demi menolong kita. Siapakah yang main-main dengan dia?”

“Hemm, apa kaukira aku tidak tahu betapa dia suka kepadamu dan sengaja mendatangi kamar tahananmu untuk merayumu?”

“Sumoi! jadi sudah selama ini kau berada di sini? Dan aku diam saja? Sumoi, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Kalau kau sudah tahu akan kunjungannya itu, tentu kau tahu juga bahwa dia datang untuk memberi obat penolak binatang-binatang berbisa. Sumoi, kita semestinya berterima kasih kepadanya, dia bermagsud baik bahkan tidak segan-segan membohong kepada Kong-kongnya demi keselamatan kita.”

“Ya, ya, memang dia baik sekali dan cantik sekali. Siapa yang tidak tahu?”

“Sumoi…, harap jangan marah. Dia adalah seorang gadis yang bernasib buruk sekali, ibunya meninggal ketika melahirkan dia, ayahnya pergi entah kemana dan sampai kini belum kembali…”

“Memang, dia seorang gadis bernasib buruk yang patut dikasihani, tidak seperti aku…” dan Swat Hong lalu menelungkupkan muka di atas meja dan menangis!

Sin Liong terkejut, beberapa kali hendak memegang lengan sumoinya akan tetapi ditahannya tangannya. “Aihh… Sumoi, engkau pun bernasib buruk, dan aku merasa kasihan sekali kepadamu. Karena aku merasa kasihan aku menyusulmu. Sumoi, diamlah jangan menangis. Apakah Sumoi telah bertemu dengan Ibumu?”

Swat Hong seketika berhenti menangis, mengangkat mukanya yang basah air mata dan memandang kepada Sin Liong. Pemuda itu merasa kasihan sekali, lalu mengeluarkan saputangannya dan mengapus air mata yang membasahi muka gadis itu.

“Suheng…apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan dia? Bukankah ibu berada di Pulau Es dan aku sudah mewakilinya?” Mendengar tentang ibunya, seketika lupalah Swat Hong akan kemarahan dan kedukaan hatinya sendiri.

“Ibumu juga telah pergi meninggalkan Pulau Es…” dengan singkat Sin Liong lalu menceritakan apa yang terjadi setelah gadis itu lari pergi dari Pulau Es, betapa ibunya juga pergi, tidak mau disuruh tinggal di Pulau Es setelah puterinya membuang diri ke Pulau Neraka.

“Aku tadinya mengharapkan engkau dapat bertemu dengan ibu maka aku tidak melihatmu di sini,Sumoi. Jadi engkau belum bertemu dengan ibumu?” Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala, kelihatan muram wajahnya mendengar akan kepergian ibunya.

“Ah, kalau begitu ke manakah perginya ibumu?” Sin Liong termenung dan diam-diam dia pun merasa prihatin sekali akan nasib wanita itu.

Tiba-tiba Swat Hong berdiri dan mengepal tinju, mukanya agak pucat ketika dia berkata, “Aku mau pergi dari sini sekarang juga! Aku harus mencari ibu sampai ketemu, dan aku tidak akan kembali ke Pulau Es! Aku tidak akan sudi menggantikan ibu di Pulau Neraka ini pula. Bukankah ibu sudah meninggalkan Pulau Es sehingga percuma saja aku mewakilinya?”

“Nanti dulu, Sumoi, kau tidak bisa pergi begitu saja. Tentu mereka akan menghalangimu!”

“Aku tidak takut! Yang menghalangi aku akan kubunuh!”

“Sabarlah, Sumoi. Perlu apa kita mencari permusuhan dengan mereka yang berjumlah banyak? Bukan soal takut atau tidak takut, akan tetapi mereka adalah manusia-manusia yang bernasib buruk sekali, dipaksa tinggal di tempat seperti neraka ini. Bahkan mereka boleh dibilang senasib dengan ibumu dan denganmu sendiri. Selain itu ke manakah kita harus mencari ibumu? Kalau kita berbaik dengan mereka, bukankah kemudian mereka dapat membantu kita mencari? Dengan tenaga banyak orang kukira akan lebih mudah mencari Ibumu yang tidak jelas ke mana perginya itu.”

Swat Hong dapat dibujuk dan akhirnya dia duduk di atas bangku sambil mengerutkan alisnya dengan wajah muram. Betapapun juga, setelah dia sadar bahwa cemburunya terhadap suhengnya dan Soan Cu tidak berdasar, kini terasalah olehnya betapa hatinya sesungguhnya merasa lega dan senang karena dapat bertemu dan berkumpul dengan suhengnya, apalagi di tempat yang berbahaya ini.

Beberapa hari telah lewat dan Soan Cu setiap hari minum “Obat” yang terbuat dair daun-daun seperti yang dilukiskan oleh Sin Liong. Setiap hari kakenya bertanya dan dia menjawab bahwa penyakitnya yang dideritanya, rasa nyeri seperti yang dinyatakan Sin Liong itu berangsur-angsur sembuh! Girang bukan main hati kakek itu, akan tetapi hati Swat Hong yang mendongkol melihat betapa Soan Cu seolah-olah mengulur waktu “penyembuhannya”!

Pada hari ke tujuh, Ouw Kong Ek dan Soan Cu mendatangi pondok tempat tinggal Sin Liong dan Swat Hong. Dua orang muda dari Pulau Es ini memang sudah menunggu di depan pondok dengan hati tidak sabar, menanti berita kesembuhan total Soan Cu. Maka mereka menyambut ketua Pulau Neraka dan cucunya itu dengan penuh harapan itu, melihat betapa wajah kedua orang pendatang itu berseri. Setelah tiba di depan mereka, Soan Cu segera berkata, “Sin Liong, Kakek merasa berterima kasih sekali kepadamu dan menyetujui kau melanjutkan pengobatan dengan menggunakan sinkang!”

“Apa…?”

Akan tetapi kata-kata Sin Liong yang bingung dan tidak mengerti itu segera diputus oleh Soan Cu, “Bukankah dulu kaukatakan setelah beberapa hari minum obat penawar racun, kau akan melenyapkan sama sekali hawa beracun itu dengan menggunakan sinkang menyedot keluar hawa itu dari punggungku?”

Ouw Kong Ek tertawa. “Orang muda she Kwa. Kalau bukan engkau yang sudah kupercaya penuh, tentu aku tidak mengijinkan pengobatan ini. Akan tetapi aku sudah percaya kepadamu, maka silahkan. Mudah-mudahan saja dalam waktu singkat cucuku akan sembuh sama sekali.” Setelah berkata demikian, kakek itu membungkuk ke arah Sin liong dan Swat Hong, lalu meninggalkan cucunya.

“Soan Cu, apa maksudmu?” Sin Liong segera berbisik menegur.

“Huh, tentu ingin berduaan denganmu di dalam kamar, apa lagi?” Swat Hong mengejek.

“Husshhh, harap kalian jangan ribut-ribut”, bisik Soan Cu. “Mari kita masuk ke kamar dan bicara.” Dia menggandeng tangan Sin Liong dan diajaknya masuk.

Melihat Swat Hong cemberut, Sin Liong berkata, “Sumoi, marilah.”

“Aku tidak sudi menggangu kalian!”

“Aih Enci Hong, mengapa begitu? Yang hendak kubicarakan adalah kepentingan kalian berdua. Marilah.” Soan Cu berkata dan agaknya memang dara Pulau Neraka ini tidak pernah mengerti apa yang diejekan oleh Swat Hong. Agaknya cara hidup di Pulau Neraka membuat dia kurang mengerti akan tata susila sehingga tak pernah merasa melanggar sesuatu biarpun dia memasuki kamar berdua dengan seorang pemuda.

Sambil bersungut-sunggut menyembunyikan rasa malunya bahwa dia telah menduga yang bukan-bukan, Swat Hong ikut masuk. “Aku memang berpura-pura, mengulur panjang waktu penyembuhan. Semua ini karena aku mendengar bahwa Kong-kong dan para pembantunya tidak membebaskan kalian setelah aku sembuh.”

“Keparat! Kong-kongmu memang bukan manusia baik-baik! pantas menjadi ketua di Pulau Neraka! Aku akan menemuinya!”

“Hushhh, Sumoi, Bersabarlah, dan mari kita dengar kata-kata Soan Cu.”

Dengan muka muram Swat Hong duduk lagi dan memandang wajah Soan Cu. Wajah yang manis sekali, pikirnya, manis dan polos. Pantaslah kalau andaikata Sin Liong jatuh cinta kepada gadis ini, pikirnya lagi dan hatinya merasa berdebar penuh khawatir.

“Kong-kong telah berjaga-jaga dan mempersiapkan anak buahnya, menjaga kalau-kalau kalian melarikan diri. Berbahaya sekali.”

“Habis bagaimana baiknya, Soan Cu?”

“Ada jalan,” kata dara yang lincah dan cerdik itu. “Menurut pendengaranku ketika Kong-kong merundingkan di kamar rahasia bersama para pembantunya yang paling dipercaya, Kong-kong tidak berniat buruk kepada kalian. Setelah kau dapat menyembuhkan aku, maka Kong-kong membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Dia hendak menahanmu agar kau dapat mengobati setiap penghuni yang terserang penyakit. Adapun Enci Hong ditahan di sini sebagai sandera, untuk menahan kekuasaan Pulau Es.”

“Keparat….!”

“Jangan marah, Enci Hong. kurasa kita harus menghadapi Kong-kong yang berwatak kasar dengan sikap dan akal halus. Kalau aku sudah sembuh, yaitu kalau kunyatakan bahwa aku sudah sembuh sama sekali, sedikit banyak Kong-kong tentu akan berterima kasih. Kemudian Liong-ko…heh, Sin Liong mengajarkan Kong-kong mengenal daun obat-obatan dengan janji akan membebaskan kalian. Kurasa Kong-kong akan mau menerimanya karena sebenarnya yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang ilmu pengobatan itu. Dengan demikian, kalau kalian meninggalkan pulau ini, kalian akan dianggap sebagai sahabat dan penolong. Bagaimana?”

“Kurasa baik juga akal ini,” kata Sin Liong.

“Hemm, terserahlah,. Akan tetapi jangan ada akal bulus di balik semua ini!” Swat Hong mengancam.

Soan Cu menarik napas panjang. “Enci Hong, harap jangan mencurigai aku. Aku sudah menyesal sekali menjadi seorang yang terlahir di tempat ini, dan aku ingin melanjutkan cita-cita Ayah bundaku yang kabarnya dahulu juga selalu berusaha agar penghuni Pulau Neraka tidak menjadi orang liar yang tidak mengenal prikemanusiaan.” Setelah berkata demikian, Soan Cu pergi meninggalkan pondok itu dengan muka tunduk.

“Seorang anak yang baik….” Sin Liong memuji sambil memandang tubuh dara itu yang melangkah pergi meninggalkan pondok.

“Maksudmu, seorang dara yang cantik dan berbudi!” Tanpa menoleh Sin Liong mengangguk.

“Memang, dia cantik dan berbudi.”

“Huh! Sudah kusangka demikian!”

Sin Liong menoleh kaget dan memandang wajah sumoinya, “Sumoi, apa maksudmu?”

Swat Hong membuang muka. “Hemm, tidak apa-apa. “Begitulah!” lalu dia lari memasuki kamarnya, membanting daun pintu keras-keras.

Sin Liong menggeleng kepalanya, makin tidak mengerti dia akan sikap wanita pada umumnya dan saat itu, sikap Swat Hong khususnya, juga sikap Soan Cu yang amat aneh kalau diingat bahwa dia adalah cucu ketua Pulau Neraka yang berwatak aneh dan kejam.

Semua terjadi seperti direncanakan oleh Soan Cu. Setelah dara itu mengaku sembuh sama sekali dan Sin Liong bersama Swat Hong menghadap ketua untuk minta pembebasan, Ouw Kong Ek menggeleng kepalanya dan berkata, “Kwa Sin Liong, kami berterima kasih sekali atas penyembuhan penyakit cucuku, dan untuk jasamu itu, kami tidak akan menggangu kalian, bahkan menganggap kalian sebagai orang-orang berjasa. Akan tetapi, terpaksa kami tidak dapat membebaskan kalian karena kami amat membutuhkan engkau sebagai ahli pengobatan di pulau ini. Maka, harap kalian suka mengerti akan kebutuhan kami ini. Tinggallah di sini dan menjadi orang-orang terhormat menjadi pembantuku yang paling baik.”

“Tocu, aku mengerti akan kebutuhan Tocu dan para penghuni Pulau Neraka. Akan tetapi sungguh tidak adil kalau menyuruh kami tinggal di sini selamanya, apa lagi amat tidak adil bagi Sumoi. Betapapun juga, karena aku mengerti akan kebutuhan kalian semua, biarlah sekarang diatur begini saja. Aku akan sementara waktu tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan kepada Tocu, akan tetapi kuminta agar Sumoi sekarang juga dibebaskan, diberi sebuah perahu agar sumoi dapat pergi lebih dahulu meninggalkan Pulau Neraka. Adapun aku sendiri, kalau Tocu sudah mengenal semua daun dan bahan pengobatan, baru aku akan pergi dari sini. Bagaimana?” Ketua Pulau Neraka itu mengerutkan alisnya, lalu melirik kearah cucunya yang duduk di sebelahnya dan menundukan kepala saja.

“Hemmm, boleh juga sumoimu pergi. Biarpun dia puteri Han Ti Ong, akan tetapi mengingat akan jasamu, biarlah dia kami bebaskan. Akan tetapi kau…. ah, aku sangat mengharapkan agar engkau menjadi…. keluarga kami, orang muda.” Kembali dia mengerling ke arah Soan Cu dan gadis itu makin menundukan mukanya yang menjadi merah sekali.

“Benar sekali, dia amat cocok menjadi jodoh Nona Ouw!” beberapa orang membantu berkata sambil tertawa-tawa, sikap mereka bebas terbuka.

“Aku tidak mau pergi!” tiba-tiba Swat Hong berkata lantang. “Kalau Suheng tinggal di sini mengajarkan ilmu pengobatan, aku akan tinggal di sini juga sampai pelajaran itu selesai. Dan kalau….kalau ada pengantinan di sini, kalau suheng diambil mantu, aku pun harus menjadi saksinya!” Ucapan itu sebetulnya dikeluarkan dengan gejolak kemarahan dan kepanasan hatinya, akan tetapi para pembantu Ouw Kong Ek menyambutnya dengan suara ketawa.

Tentu saja Sin Liong kaget sekali mendengar ucapan Sumoinya itu. Ada kesempatan yang amat baik terbuka bagi Swat Hong untuk membebaskan diri dari pulau berbahaya itu, dan kesempatan itu dibuang begitu saja oleh Swat Hong! Dia telah mengenal watak Swat Hong. Sekali bilang tidak mau, dipaksa pun sampai mati tidak akan mau tunduk! Maka dia menjadi bingung sekali. “Tocu, karena Sumoi tidak mau pergi sendiri lebih dulu, maka biarlah perjanjian kita diubah. Akan memberi pelajaran ilmu pengebatan kepada Tocu, setelah Tocu mengenal bahan obat untuk melindungi penghuni pulau ini, aku dan Sumoi boleh pergi dengan bebas.”

Ketua Pulau Neraka itu mengelus-elus dagunya dan alisnya berkerut, berkali-kali dia melirik ke arah cucunya. Dia adalah seorang yang sudah tua, biarpun tidak pernah terjun ke dunia ramai, namun dia tahu bahwa cucunya jatuh hati kepada pemuda yang hebat ini. Dan dia tidak melihat seorang pemuda lain di Pulau Neraka yang kiranya patut menjadi suami cucunya! Tentu saja hatinya tidak rela kalau pemuda itu pergi meninggalkan pulau karena dia tahu bahwa hal itu tentu akan mengecewakan hati cucunya. Maka dia hanya menggeleng-geleng kepala, tanpa dapat menjawab.

Melihat keraguan ketuanya, seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih melaju maju. Orang ini kepalanya gundul botak akan tetapi mukanya penuh brewok, tubuhnya kurus kecil dan di lehernya ada seekor ular merah melingkar. Dia adalah pembantu utam dari Ouw Kong Ek, seorang yang lihai ilmu kepandaiannya dan bernama Lo Thong. Berbeda dengan Majikan Pulau Neraka itu yang merupakan keturunan orang buangan, maka Lo Thong sendiri adalah seorang buangan dari Pulau Es, tiga puluh tahun yang lalu dia dibuang dariPulau Es karena sebagai seorang pemuda dia banyak melakukan kejahatan. Setelah berada di Pulau Neraka dia memperdalam ilmu-ilmunya dan menjadi orang ke dua yang terkuat setelah Ouw Kong Ek, yaitu sesudah putera Ouw Kong Ek yang bernama Ouw Sian Kok, ayah Soan Cu menjadi gila dan meninggalkan pulau. Maka dia diangkat sebagai pembantu utama oleh Ouw Kong Ek. “Twako(Kakak),” Lo Thong berkata dan tidak seperti lain penghuni Pulau Neraka yang menyebut ketua mereka tocu (majikan pulau), dia menyebutnya kakak, “mengapa Twako bingung menghadapi urusan dua orang anak-anak ini? Betapapun juga, mereka berada di pulau ini dan seharusnya mereka tunduk kepada semua perintah Twako yang menjadi hukum di sini. Kalau mereka hendak mengambil keputusan sendiri, boleh saja akan tetapi mereka harus lebih dulu dapat mengalahkan kita!”

Ouw Kong Ek memandang pembantunya dengan muka berseri, seolah-olah dia terlepas dari keadaan yang ruwet. “Kalau begitu, bagaimana baiknya, Lo-tee?”

“Menurut saya, lebih baik diadakan pertandingan antara orang pemuda She Kwa ini dan Twako. Kalau dalam pertandingan itu dia kalah, maka dia dan Sumoinya harus selamanya tinggal di sini dan menjadi penghuni pulau ini seperti kita semua.”

“He, Botak! Enak saja kau bicara! Siapa bilang Suhengku kalah oleh ketua kalian? Habis, kalau kemudian ketua kalian yang kalah, bagaimana?” Swat Hong berteriak nyaring.

“Twako kalah? Ha-ha, mana mungkin?” Lo Thong menjawab. “Akan tetapi kalau Twako kalah, biarlah pemuda She Kwa ini mengajarkan ilmu pengobatan sampai Twako pandai, baru kalian berdua boleh pergi meninggalkan pulau ini dengan bebas.”

“Usul yang bagus sekali!” Ouw Kong Ek berseru gembira. “Kwa Sin Liong, aku mendengar bahwa di dunia ramai, di daratan sana, orang-orang gagah menggunakan kepandaian untuk memutuskan sebuah perkara yang ruwet. Aku percaya bahwa engkau tentu seorang gagah pula, maka biarlah kita membereskan urusan ini dengan mengukur kepandaian masing-masing seperti yang diusulkan oleh pembantuku Lo Thong.”

Sin Liong menggeleng kepalanya. “Tocu, aku tidak suka menggunakan ilmu yang kupelajari untuk kekerasan. Mengapa Tocu hendak menggunakan cara kekerasan untuk menahan kami berdua selamanya di pulau ini? Aku sudah besedia mengajarkan ilmu pengobatan, maka sudah sepatutnya kalau Tocu membalasnya dengan membebaskan kami.

“Tidak kita harus saling mengukur kepandaian dulu!” ketua itu berkeras.

Tiba-tiba Swat Hong melompat ketengah lapangan dan membusungkan dada menegakkan kepalanya. “Hayolah! Kalau Suheng tidak mau, biarlah aku yang melayanimu! Siapa sih takut kepada orang Pulau Neraka? Aku yang memasuki pertandingan itu, dan kalau kalah, boleh kalian berbuat apa saja sesuka kalain!”

“Sumoi…!!” Sin Liong menegur.

“Suheng, aku tidak takut!” Swat Hong membantah.

Ouw Kong Ek mengerutkan alisnya. “Soan Cu, kau layani bocah liar yang sombong ini!” katanya.

“Baik Kong-kong.”

Soan Cu bangkit berdiri dan melangkah maju, akan tetapi segera berhenti ketika mendengar suara Sin Liong, “Soan Cu harap jangan bertanding. Di antara kita tidak ada permusuhan, bukan?”

Soan Cu meragu, memandang kepada Kong-kongnya, kemudian kepada Sin Liong, dan akhirnya dia kembali duduk di tempatnya yang tadi.

“Soan Cu….” Kakeknya menegur. “Kong-kong, aku tidak mau bertanding. Mereka bukan musuhku.”

Mata kakek itu terbelalak, akan tetapi dia tidak marah bahkan lalu tertawa bergelak. “Kau…kau lebih taat kepadanya? Ha-ha-ha-ha!” Dia tertawa karena sikap cucunya itu jelas membuktikan betapa cucunya benarbenar telah jatuh cinta kepada Sin Liong! Sampai-sampai berani membangkang terhadap perintahnya hanya karena Sin Liong menghendaki demikian.

Makin panaslah hati Swat Hong. Tadinya dia sudah siap-siap untuk menjatuhkan cucu ketua Pulau Neraka itu, selain agar menang pertandingan juga hendak memperlihatkan kepada Suhengnya bahwa dia lebih pandai dari pada Soan Cu. Akan tetapi, ternyata Suhengnya melarang Soan Cu dan dan putri Pulau Neraka itu begitu taat! “Ouw Kong Ek, kalau cucumu tidak berani maju, biarlah kau sendiri yang maju! Hayo tandingilah aku, puteri Raja Pulau Es!” Dia menantang-nantang dengan suara penuh kemarahan.

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya dan bingung sekali bagaimana harus mencegah sumoinya. Kembali kakek itu menjadi marah. Tantangan yang keluar dari mulut Swat Hong membuat mukanya merah dan telinganya panas. Akan tetapi betapa memalukan kalau dia harus menandingi seorang bocah perempuan yang usianya sebaya dengan cucunya sendiri! “Twako, perkenankanlah saya menghajar bocah bermulut lancang ini”

Lo Thong berkata dan Ouw Kong Ek mengangguk, akan tetapi masih ingat dan memesan. “Akan tetapi cukup beri hajaran saja, jangan sampai dia terbunuh.”

“Baik saya mengerti, Twako.” Lo Thong menjawab lalu sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah mencelat ke depan Swat Hong.

Menyaksikan ginkang yang hebat ini diam-diam Sin Liong khawatir sekali, akan tetapi dia pun tidak dapat mencegahnya karena maklum kalau dia melarang, Sumoinya tentu akan menjadi makin nekat saja. Maka dia hanya bangkit berdiri dan memandang dengan jantung berdebar tegang.

Swat Hong memandang kakek botak yang berdiri di depannya, lalu berkata, suaranya mengejek. “Apakah pertandingan ini akan memutuskan perjanjian tadi, bahwa kalau aku menang kami berdua boleh pergi dari sini?”

“Tidak”, jawab Lo Thong. “Pertandingan ini hanya mengenai dirimu, kalau kau menang kau boleh pergi, kalau kau kalah, kau harus tinggal di sini selamanya dan menjadi muridku.”

“Setan alas! Siapa takut padamu?” Swat Hong yang sudah kena dibakar hantinya itu membentak.

“Sumoi, tanpa pertandingan pun kau boleh pergi sekarang juga!” Sin Liong berteriak.

“Tidak, Suheng. Aku merasa kurang terhormat kalau pergi begitu saja. Aku tidak sudi menerima kebaikan orang-orang Pulau Neraka. Kalau aku pergi berarti aku pergi mengandalkan kepandaian aku sendiri, bukan karena kebaikan hati mereka. Hayo, kakek botak, boleh kaukeluarkan segala ilmumu!”

“Bocah sombong, sambutlah ini!” Lo Thong merasa panas juga perutnya melihat sikap dara remaja yang memandang redah kepadanya itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa dara ini tentu memiliki kepandaian tinggi sebagai puteri Raja Pulau Es, maka sekali menyerang, dia telah mengeluarkan kepandaiannya, mengeluarkan jurus yang ampuh dan mengerahkan tenaga sinkangnya.

“Wuuuuuttt… sirrr…desss!”

Mula-mula Lo Thong menggerakan tubuhnya rendah kebawah, seolah-olah lengan kirinya yang bergerak itu hendak menangkap kaki Swat Hong, akan tetapi tiba-tiba saja tubuhnya meninggi, tangan kanannya meluncur dan mencengkram ke arah pinggang dara itu. Namun Swat Hong yang usianya masih muda sekali itu belum lima belas tahun, telah mewarisi inti kepandaian dari ilmu-ilmu kesaktian Pulau Es. Dengan tenang dia melihat bahwa bukan tangan kiri lawan yang berbahaya melainkan tangan kanannya, maka dia cepat menarik kaki kiri dan menangkis dengan sabetan tangan miring dari samping yang mengenai lengan lawan. LoThong mencelat ke belakang dan inilah kehebatan ginkangnya. Gerakannya bukanlah langkah kaki, melainkan loncatan yang membuat tubuhnya mencelat ke sana-sini dengan amat cepatnya dan sama sekali tidak terduga-duga lawan.

“Sumoi awasilah gerakannya. Ginkangnya lihai!” Sin Liong berseru dan diam-diam Lo Thong mendongkol juga. Ternyata pemuda itu lihai sekali, baru segebrakan saja sudah mengenal dimana letak keampuhannya. Maka dia lalu menggereng dan menubruk maju, menghujani Swat Hong dengan serangan bertubi-tubi.

Swat Hong diam-diam terkejut juga. Ternyata bahwa pembantu utama dari ketua Pulau Neraka ini hebat bukan main. Setiap gerakan tangannya mendatangkan angin keras menyambar dan kecepatannya membuat dia pening karena harus menggerakan kekuatan matanya untuk mengikuti terus gerakan lawan. namun, tentu saja dia tidak menjadi gentar. Sejak kecil dara remaja ini tidak pernah mengenal artinya takut, dan dia pun mengeluarkan kepandaiannya untuk membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.

Semua mata memandang pertandingan itu dengan penuh perhatian. Diam-diam Soan Cu merasa kagum sekali kepada Swat Hong dan dia harus mengaku dalam hatinya bahwa andaikata tadi dia yang maju, dia akan kalah menghadapi kelihaian dara Pulau Es itu, maka dia merasa makin bersyukur kepada Sin Liong yang tadi mencegahnya maju melawan Swat Hong. Apakah pemuda itu sudah tahu bahwa dia akan kalah kalau melawan Swat Hong? Soan Cu melirik ke arah Sin Liong dan melihat betapa wajah pemuda yang tampan itu diliputi kekhawatiran, maka dia kembali menyaksikan pertandingan yang hebat itu.

Tubuh mereka berdua yang bertanding itu sudah tidak dapat kelihatan jelas, yang tampak hanya dua bayangan berkelebatan ke kanan kiri dengan cepat sekali. Ginkang yang dikuasai oleh Lo Thong memang hebat sekali, akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan puteri Raja Han Ti Ong dari Pulau Es! Biarpun masih kalah sedikit namun Swat Hong dapat mengimbangi kecepatan lawan, bahkan dapat mendesak dengan ilmu silatnya yang luar biasa dan tenaga sinkangnya yang berdasarkan hawa murni dari im-kang yang dingin. Ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong adalah ilmu silat tangan kosong Jit-cap-jiseng (Jutuh Puluh Dua Bintang ) yang mempunyai tuluh puluh dua jurus-jurus ampuh. Sebagai bekas penghuni Pulau Es sebelum Swat Hong terlahir, tentu Lo Thong mengenal ilmu ini, bahkan ilmu silatnya sediri pun bersumber pada ilmu silat Pulau Es. Akan tetapi setelah dua puluh tahun lebih berada di Pulau Neraka dan mempelajari ilmu-ilmu dari Pulau Neraka, maka ilmu silatnya menjadi campur aduk dan tentu saja kalah murni oleh ilmu silat yang dimainkan oleh Swat Hong.Pula, Lo Thong dahulu belum mempelajari Jit-cap-ji-seng sampai habis, hal yang jarang dilakukan penghuni Pulau Es kecuali keluarga raja. Mulailah Lo Thong terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Swat Hong. Ingin sekali Lo Thong menggunakan senjatanya, yaitu ular hidup yang melingkar di lehernya, namun dia takut akan pesan ketuanya tadi. Kalau dia menggunakan senjata itu dan sekali lawan tergigit mati tentu dia akan mendapat marah besar. Maka dia lalu berteriak keras dan mengerahkan seluruh ilmunya meringankan tubuh.

“Aihhh…!” Swat Hong terkejut ketika melihat betapa tubuh lawan dapat bergerak lebih cepat lagi dan dalam serangkaian serangan yang tak terduga saking cepatnya, hampir saja pundaknya kena dicengkeram. Dia berseru sambil meloncat keatas, tinggi sekali kemudian bagaikan seekor burung walet, tubuhnya sudah membalik di udara, menukik kebawah dan dia sudah melancarkan serangan dengan jurus Kak-seng-jip-hai (Bintang Terompet Memasuki Laut), jurus terakhir yang paling ampuh dan yang dulu dilatihnya dengan ibu dan ayahnya sehingga dia mahir sekali mainkan jurus ini. Hebat bukan main daya serang jurus ini karena selagi tubuh meluncur turun dengan menukik kebawah, kedua tangannya sudah bergerak mencengkram kearah ubun-ubun kepala lawan yang botak itu!

“Hayaaa…!” kini Lo Thong yang kaget ketika merasa ada hawa dingin menyentuh ubun-ubun kepalanya dari atas. Maklum bahwa serangan itu merupakan ancaman maut bagi dirinya, dia tidak berani lengah, cepat membuang diri kebelakang sehingga dia terjengkang, kemudian menggunakan ginkangnya untuk berguling di atas lantai. Dengan gerakan ini, biarpun pakainnya kotor terkena debu, namun dia selamat dan dapat menghindarkan diri dari serangan jurus Kak-seng-jip-hai tadi. Akan tetapi, betapa terkejutnya melihat dara itu sudah meloncat ke depan dan baru saja dia bangkit berdiri, Swat Hong sudah menghantamnya dengan kedua tangan didorongkan ke depan.

“Haiiiiiiittt!!” Swat Hong berseru nyaring dan mengerahkan tenaga sinkangnya.

“Sumoi, jangan….!” Sin Liong berteriak, kaget ketika melihat betapa sumoinya itu menggunakan tenaga Swat-im-sin-ciang (Tenaga Pukulan Inti Salju) yang merupakan sinkang paling ampuh dari Pulau Es! Untuk melatih diri agar bisa menguasai tenaga im-kang yang amat kuat ini, orang harus bersamadhi di atas salju, tanpa pakaian, dan melewati malam-malam yang dinginya menyusup tulang! Dan sebagai puteri Raja Han Ti Ong, tentu saja Swat Hong telah menguasai sinkang itu yang kini dipergunakan untuk menyerang selagi lawan terdesak.

“Ciaaaattt…!!” Lo Thong juga berteriak keras dan cepat dia menolak hawa serangan itu dengan dorongan kedua tangannya.

Dua tenaga sinkang bertemu tanpa kedua pasang telapak tangan itu bersentuhan dan akibatnya, Lo Thong terhuyung kebelakang dan dari ujung bibirnya mengucur darah! Sambil menggereng keras, Lo Thong yang merasa penasaran itu melompat ke depan menerkam, akan tetapi Swat Hong yang sudah siap menyambutnya dengan sebuah tendangan dari samping yang tepat mengenai pantat Lo Thong dan membuat tubuhnya terlempar jauh ke arah tempat duduk Ouw Kong Ek!

Ketua Pulau Neraka ini marah sekali, tangannya bergerak menyambut tubuh itu dan tahu-tahu tubuh Lo Thong sudah melayang lagi ke arah Swat Hong. Akan tetapi ternyata bahwa ketika menyambut tadi, Ouw Kong Ek yang lihai telah menotok dua jalan darah di pungung pembantunya yang seketika merasa dadanya lega kembali, begitu dia dilontarkan ke arah Swat Hong, dengan nekat dia sudah menyerang dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan hendak mencengkram tubuh gadis itu. Swat Hong terkejut sekali, tidak nyangka bahwa tubuh lawan akan secepat itu melayang kembali ke arahnya, maka dia berteriak dan maklum akan bahaya yang mengancam karena dia tidak sempat mengelak lagi!

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Sin Liong telah berada di dekat sumoinya. dengan tangan kiri dia menarik tubuh sumoinya dan dengan tangan kanan dia menyapok ke atas dan kedua tangan Lo Thong tertangkis, bahkan tubuh orang botak ini terdorong miring dan cepat dia meloncat ke atas lantai dengan mata terbelalak heran dan kagum akan kehebatan tenaga pemuda itu. Maklum bahwa dia tak mampu menang, dia lalu mengundurkan diri di dekat ketuanya dengan muka penuh keringat.

“Bagus! Puteri Han Ti Ong lumayan juga kepandaiannya, boleh coba-coba dengan aku sendiri!” Ouw Kong Ek turun dari kursinya dan melangkah ke tengah lapangan.

“Baik, majulah! Aku tidak takut menghadapimu!” Swat Hong menantang.

“Sumoi, mundurlah! Biar aku menghadapi Ouw Tocu.” Sin Liong mencegah sumoinya.

“Tidak, aku akan menghadapi sendiri!”

Sin Liong melangkah menghampiri Ouw Kong Ek dan berkata, “Ouw-tocu, benarkah Tocu menantang sumoiku ini? Harap Tocu suka melihat baik-baik. Sumoiku adalah seorang anak perempuan yang usianya sebaya dengan cucumu, sehingga kalau Tocu menantangnya sama artinya dengan Tocu menantang seorang cucu! Kalau Tocu tidak malu bertanding dengan seorang anak perempuan yang sepatutnya menjadi cucumu, silahkan. Kalau Tocu, cukup gagah biarlah aku menerima tantanganmu tadi. mari kita bertanding mengukur kepandaian. Kalau aku kalah, terserah kepada Tocu. kalau aku menang, setelah aku mengajarkan ilmu pengobatan, Tocu akan membiarkan kami berdua pergi dari pulau ini dengan aman. Bagaimana?”

“Aku tidak takut! Suheng, biar aku melawan dia, aku tidak takut!” Swat Hong berteriak-teriak. Ouw Kong Ek memandang kepada dara muda dan mukanya berubah merah. Memang tidak keliru omongan Sin Liong tadi. Bocah itu masih amat muda, masih kanak-kanak sebaya Soan Cu. Seorang anak-anak dan perempuan lagi! Tentu saja akan amat merendahkan dirinya kalau sampai dia menantang seorang anak perempuan kecil!

“Baiklah, mari kita mengadu kepandaian Kwa Sin Liong,” katanya.

Sin Liong menoleh kepada sumoinya. “Nah, kau dengar. Yang ditantang adalah aku, buka kau, Sumoi. Mundurlah.”

Swat Hong membanting-banting kaki, terpaksa dia mundur akan tetapi lebih dulu dia berkata kepada Ouw Kong Ek, “Aku selalu masih siap untuk melayani jago Pulau Neraka yang manapun juga.”

Ouw Kong Ek dan Sin Liong sidah saling berhadapan dan keduanya saling pandang tanpa bergerak, seolah-olah hendak mengukur dan menilai keadaan lawan dengan pandangan matanya. Melihat sikap pemuda yang amat tenang itu, juga pancaran sinar matanya lembut dan bebas dari rasa takut maupun kebencian dan kemarahan, hati Ouw Kong Ek menjadi makin suka. Melihat sikap pemuda ini, sukar untuk dipercaya bahwa pemuda ini adalah murid Han Ti Ong, Raja Pulau Es yang sakti. Kelihatannya hanya seperti seorang pemuda yang lemah, pantasnya seorang sastrawan yang biasanya hanya membaca sajak dan menulis huruf indah atau meniup suling. “Orang muda, mulailah!” Ouw Kong Ek berkata ragu-ragu untuk menggunakan kepandaiannya menyerang orang yang kelihatannya lemah ini.

“Ouw-tocu, bukan aku yang menghendaki adu kepandaian ini, maka biarlah aku hanya menjaga diri saja.” Jawaban yang keluar dengan suara lembut dan sejujurnya itu setidaknya memanaskan hati Ouw Kong Ek karena kedengarannya seolah-olah pemuda itu memandang rendah kepadanya. Pemuda ini sama sekali tidak gentar menghadapinya, hal itu sama saja memandang rendah!

“Kwa Sin Liong, sambutlah seranganku!” bentaknya dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, gerakannya perlahan saja namun didahului sambaran angin pukulan dari kedua telapak tangannya.

“Wuuuuuttt… wuuuuttt!!” hawa pukulan yang dahsyat dua kali menyambar ke arah leher dan pusar Sin Liong ketika kakek itu menggerakan kedua tangannya memukul. Dengan tubuh ringan sekali Sin Liong menggeser kaki dan berhasil mengelah sampai berturut-turut enam kali karena ternyata bahwa pukulan kakek itu begitu luput dari sasaran terus dilanjutkan dengan serangan berikutnya tanpa berhenti sedikit pun, sehingga enam kali berturut-turut kedua tangannya menyambar dahsyat dari segala jurusan! barulah Sin Liong dapat membebaskan diri dari kepungan kedua tangan itu ketika dia meloncat jauh ke belakang, dan siap lagi menghadapi serangan berikutnya.

“Bagus!” Ouw Kong Ek berseru kagum melihat betapa pemuda itu dengan enak saja sudah berasil menghindarkan diri dari serangan pukulan yang dinamakan Jurus Pukulan Badai Mengamuk. Kemudian dia menerjang lagi, kini dia tidak bergerak lambat lagi, melainkan cepat sekali. Kaki tangannya bergerak dengan cepatnya, gerakan yang aneh namun setiap gerakan mengandung daya serang yang amat berbahaya.

Kembali Sin Liong menyambut serangan-serangannya itu dengan tenang dan hati-hati, mengelak ke sana-sini dan hanya kalau terpaksa dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkis atau menyampok. Perlahan saja pemuda itu menangkis, namun selalu tangkisannya yang membawa hawa pukulan Im-kang itu berhasil menghalau tangan lawan! Sampai tiga puluh jurus lebih Sin Liong selalu mengelak dan menangkis tanpa satu kalipun membalas serangan lawan! Tentu saja hal ini membuat Ouw Kong Ek kagum sekali. Pemuda ini sudah diserangnya dengan hebat, didesaknya sampai keadaannya berbahaya, namun tetap tidak mau membalas.

“Eh, Suheng, kau tidak membalas, apa kau merasa phai-seng-gi (sungkan) kepada orang yang hendak memunggut mantu kepadamu?” Swat Hong berteriak-teriak penuh penasaran ketika melihat suhengnya bertempur seperti orang mengalah saja.

Merah muka Sin Liong. Memang dia tidak mau membalas karena dia selamanya belum pernah memukul orang! Dia memang mempelajari silat yang tinggi sekali tingkatannya, bahkan dari kitab-kitab lama yang rahasia dan tak pernah dibaca orang di dalam perpustakaan Pulau Es, dia menemukan ilmu-ilmu mujijat, di antaranya ilmu mengenal inti gerakan semua ilmu silat. Akan tetapi dia merasa sungkan dan ngeri kalau harus memukul orang lain, apalagi kepada kakek yang sama sekali tidak ada permusuhan apaapa dengannya itu. Kini mendengar ejekan Swar Hong, dia merasa tidak enak dan hatinya terguncang. Guncangan ini memperlambat gerakan tangannya, maka ketika dia menangkis sebuah pukulan, tangkisannya meleset dan pukulan tangan kiri Ouw Kong Ek menyerempet pundaknya. Tubuhnya tergetar hebat dan dia terhuyung ke belakang.

Ouw Kong Ek yang merasa penasaran sekali kini maklum bahwa kalau pemuda itu membalas serangannya, mungkin dia akan kalah! maka melihat hasil pukulannya yang membuat Sin Liong terhuyung dia cepat mendesak maju. Dia harus mengalahkan pemuda ini karena dia ingin sekali pemuda ini menjadi penghuni Pulau Neraka, dan kalau mungkin menjadi suami Soan Cu. Dan untuk itu, dia harus lebih dulu merobohkannya. Maka dia cepat mendesak selagi tubuh Sin Liong terhuyung ke belakang itu.

“Wuuut-plak-plak! Wuuu-plak-plak!!” Pukulan-pukulan tangan Ouw Kong Ek hebat sekali dan setiap kali Sin Liong yang masih terhuyung itu mengelak, pukulan itu berubah menjadi cengkraman yang amat lihai namun selalu tangan Sin Liong masih dapat menyapoknya!

Bahkan pemuda itu berseru keras, tubuhnya melayang keatas, berjungkir balik dua kali dan sudah turun lagi ke atas lantai dengan tubuh tegak dan sudah siap lagi! Ouw Kong Ek makin penasaran. Cepat dia menerjang maju, kedua kakinya bergerak cepat dengan tendangan berantai yang cepat dan kuat sekali. Kedua kaki itu seperti kitiran saja sehingga kelihatannya kakek ini berkaki lebih dari dua yang bergerak susul menyusul melakukan tendangan ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Sin Liong.

“Siuut-siutt…dess!!” Setelah berhasil mengelak ke kanan kiri, Sin Liong terdesak ke sudut dan terpaksa dia menggunakan kedua lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga inti salju.

Tubuh Ouw Kong Ek menggigil, terasa dingin sekali tubuhnya, rasa dingin yang menjalar melalui kaki yang tertangkis. Dia menggoyang tubuhnya beberapa kali dan ras dingin sudah terusir. Dia memandang lawannya dengan mata terbelalak lebar, kemudian kakek ini mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke atas kemudian menukik kearah Sin Liong.

Sin Liong terkejut sekali, dia maklum bahwa serangan terakhir ini bukan main hebatnya, maka dia pun lalu berteriak keras dan tubuhnya juga mencelat ke atas menyambut tubuh lawannya, kedua lengannya digerakkan di depan tubuhnya.

“Plak-plak… bruukkk!!” tubuh Ouw Kong Ek terbanting ke atas lantai, dan hanya setelah dia bergulingan beberapa kali saja dia dapat bangun dengan agak pening. Bukan main, pikirnya. Dia tadi melakukan serangan dahsyat, serangan maut yang akan sukar disambut oleh lawan yang sakti, akan tetapi pemuda itu menyambutnya di udara, memapaki pukulan dengan pukulan sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu di udara dan akibatnya dia sendiri yang terbanting keras!

“Belum cukupkah, Tocu?” Sin Liong bertanya dengan suara penuh penyesalan karena dia dipaksa untuk bertempur , hal yang sama sekali tidak disukainya.

“Hmm, aku belum mengaku kalah, orang muda!” Dan kini kakek itu menyerang lagi dengan ilmu silat yang gerakannya cepat sekali, akan tetapi juga aneh.

Swat Hong yang menonton di pinggir, memandang penuh perhatian dengan alis berkerut. Dia merasa heran sekali. Ilmu silat yang dimainkan oleh kakek itu seperti pernah dilihatnya, seperti bukan gerakan asing, namun mengapa begitu aneh dan sama sekali tidak dikenalnya?

Memang tidak mengherankan hal ini terjadi pada Swat Hong karena ilmu silat yang dimainkan kakek itu memang bersumber pada ilmu silat Pulau Es, hanya sudah diubah banyak sekali menjadi ilmu silat ciptaan nenek moyang Pulau Neraka! Bahkan kini dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul uap hitam, dari mulutnya juga menyembur uap hitam yang kadang-kadang menyambar ke arah muka Sin Liong.

Sebagai seorang hali pengobatan Sin Liong segera mengenal hawa beracun keluar dari uap hitam itu, maka dia bersikap hati-hati, setiap kali ada uap hitam menyambar. Sementara itu, sambil mengelak dan menangkis dia mencurahkan seluruh perhatiannya dan dengan ilmu mujijat yang didapatnya dari kitab, yaitu mengenal rahasia inti gerakan ilmu silat, dia sudah dapat mencatat dan hafal akan jurus-jurus yang dimainkan oleh lawannya.

“Suheng, balaslah lawanmu! Apa kau takut?” Swat Hong berteriak lagi.

Ouw Kong Ek yang sudah merah mukanya saking penasaran dan malu karena merasa dipandang rendah dan dipermainkan, membentak, “Orang muda, berani engkau memandang rendah kepadaku sehingga tidak mau balas menyerang?”

Sin Liong terkejut bukan main. Sama sekali tidak mengira bahwa sikapnya yang mengalah dan tidak mau balas menyerang itu malah dianggap memandang rendah oleh kakek itu dan dianggap takut oleh Swat Hon! Tadinya dia hanya mengharapkan kakek itu akan tahu diri dan mundur sendiri. Siapa kira, kakek itu keras kepala dan tidak akan mengaku kalah kalau tidak dirobohkan! Dalam keadaan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Sin Liong. Dia menggigit bibirnya menguatkan hati karena menyerang orang merupakan hal yang berlawanan dengan hatinya, lalu kaki tangannya bergerak cepat sekali.

Terdengarlah seruan-seruan kaget dari mulut para pembantu Ouw Kong Ek, bahkan belasan jurus kemudian, setelah dengan susah payah Ouw Kong Ek mengelak dan menangis, kakek ini berseru keras dan tubuhnya terguling. “Heiiii… dari mana engkau mendapatkan ilmuku ini ?”

Kakek yang sudah terguling karena kedua lututnya tercium ujung sepatu Sin Liong itu meloncat bangun lagi sambil bertanya dengan mata terbelalak dan penuh keheranan. Selama belasan jurus tadi, dia telah diserang oleh Sin Liong dengan ilmu silatnya sendiri dan pada jurus ke lima belas, dia tidak mampu menghindar sehingga kedua lututnya tertendang, membuat dia terguling dan kalau pemuda itu menghendaki, ketika ia terguling tadi tentu pemuda itu dapat menyusulkan serangan maut yang dapat menewaskannya!

Sin Liong menjura dan melangkah mundur. “Aku hanya meniru-niru dari Tocu sendiri….” Ouw Kong Ek makin terheran dan sejenak dia melongo, kemudian dia melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu.

“Kwa Sin Liong …engkau hebat sekali! Aku mengaku kalah terhadap Kwa-taihiap (Pendekar Besar Kwa)! Aku telah dirobohkan secara mutlak, bahkan dengan jurus-jurus ilmu silatku sendiri! Dia ini adalah seorang pendekar besar yang memiliki kesaktian seperti dewa!”

Semua penghuni Pulau Neraka membungkuk dan memberi hormat kepada Sin Liong!

Tentu saja pemuda itu cepat membalas penghormatan mereka dengan memutar-mutar tubuhnya sambil berkata tersipu-sipu, “Aahhh, harap Cuwi (Anda sekalian) jangan berlebihan…”

“Kwa-taihiap, aku Ouw Kong Ek sudah mengaku kalah. Harap Taihiap suka mengajarkan ilmu pengobatan itu agar kami dapat terbebas dari hawa beracun yang banyak terdapat di pulau ini. Setelah aku paham, kami akan mempersilahkan Taihiap dan Han-lihiap (Pendekar Wanita Han) meninggalkan pulau ini dengan aman.”

“Baik, Ouw-tocu. Aku akan melakukan penyelidikan tentang racun-racun di pulau ini dan berusaha mencarikan obat penawanya.”

Soan Cu berlari menghampiri Sin Liong dan berkata, “Sin Liong, kau hebat sekali! Aku sungguh kagum kepadamu .” Sambil berkata demikian, Soan Cu memegang kedua tangan Sin Liong dan mengangkat muka memandang wajah Sin Liong penuh kekaguman.

“Ahhh, engkau terlalu memuji, Soan Cu. Sebetulnya adalah Kong-kongmu yang sengaja mengalah kepadaku,” kata Sin Liong, dan mukanya menjadi merah. Dia maklum bahwa Soan Cu seorang dara remaja yang berhati polos dan wajar, maka di depan semua orang tanpa segan-segan menyatakan kekagumannya dan memegang kedua tangannya begitu saja.

Akan tetapi hal ini tentu saja menimbulkan anggapan salah dan dia sudah melihat betapa Swat Hong membuang muka dengan wajah diselubungi kemarahan, bahkan akhirnya dara itu lalu membalikan tubuh dan berlari pergi!

Sampai tiga bulan lamanya Sin Liong dan Swat Hong di Pulau Neraka. Dengan teliti dan hati-hati Sin Liong melakukan penyelidikan tentang segala macam racun yang terdapat di pulau itu, kemudian dia mencarikan obat penawarnya dan menulis serta melukiskan nama dan bentuk daun, akar, bunga, atau buah yang berkhasiat sebagai penawar racun-racun itu. Sibuklah ketua Pulau Neraka, dan para pembantunya mencarikan bahan-bahan obat itu dan setelah tiga bulan, barulah lengkap catatan Sin Liong. 

Ouw Kong Ek dan semua penghuni Pulau Neraka merasa berterima kasih sekali kepada Sin Liong, apalagi setelah terbukti banyak penghuni yang sembuh dari penderitaan penyakit akibat keracunan setelah menggunakan obat-obat seperti yang ditunjuk oleh pemuda itu. Dia dianggap sebagai seorang dewa penolong mereka dan diperlakukan dengan sikap penuh hormat.

Setelah “terpaksa” tinggal di Pulau Neraka selama tiga bulan, akhirnya Swat Hong mendapatkan kenyataan bahwa Soan Cu adalah seorang remaja yang benar-benar tulus, jujur dan wajar sehingga mudah saja di antara mereka terjalin persahabatan yang akrab. Bahkan karena dara Pulau Neraka itu dengan terang-terangan tanpa dibuat-buat dan tanpa usaha menarik hati Sin Liong menyatakan suka dan cintanya kepada Sin Liong, Swat Hong menyambut pernyataan itu dengan hati terharu.

Diam-diam menaruh hati kasihan kepada dara Pulau Neraka ini karena dia tahu bahwa hati suhengnya itu jauh daripada cinta! Suhengnya belum pernah mengacuhkan tentang hubungan di antara mereka, juga suhengnya sama sekali tidak kelihatan menaruh hati kepada Soan Cu. Dianggapnya suhengnya itu terlalu “dingin” dan sudah seringkali dia sendiri merasa kecewa melihat suhengnya sebagai seorang pemuda yang tidak ada semangat! Padahal dia sendiri belum yakin apakah dia mencintai suhengnya, sungguhpun dia merasa suka sekali kepada pemuda itu namun sebagai seorang dara remaja, tentu saja dia merasa tidak puas menyaksikan sikap pemuda yang “dingin” saja terhadapnya. Sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal, tentu saja Swat Hong juga ingin agar semua orang, terutama kaum pria, memandangnya dengan kagum dan suka, bahkan dia pun seperti semua wanita di dunia ini agaknya, akan merasa bangga kalau semua orang laki-laki jatuh cinta kepadanya!

Hari keberangkatan mereka meninggalkan Pulau Neraka pun tibalah. Sin Liong dan Swat Hong diantar oleh semua penghuni Pulau Neraka sampai ke pantai, dimana telah tersedia sebuah perahu yang lengkap dengan layar, dayung, dan bekal makanan. Soan Cu mengantar dengan mata berlinang air mata. Semenjak tadi dara ini menangis, bahkan rewel kepada kakeknya hendak ikut pergi bersama Sin Liong dan Swat Hong.

“Hushhh, apakah kau gila?” demikian kakeknya menjawab.

“Kau hendak ikut ke Pulau Es? tidak tahukah kau bahwa semua penghuni Pulau Neraka dilarang menginjakan kaki ke Pulau Es? Begitu kau tiba di sana, kau akan dijatuhi hukuman sebagai seorang pelanggar hukum!”

Juga Sin Liong dan Swat Hong melarang dengan alasan bahwa Swat Hong sendiri sedang menghadapi malapetaka, bahkan dia bersama suhengnya sedang berusaha mencari ibunya. Selama tiga bulan ini, Ouw Kong Ek sudah mengerahkan pembantunya untuk mencari Liu Bwee, bekas istri Raja Han Ti Ong, ke pulau-pulau kosong di sekitar Pulau Neraka, namun hasilnya sia-sia belaka. Tentu saja para penghuni Pulau Neraka yang mencari itu tidak berani terlalu mendekat Pulau Es.

Setelah perahu yang ditumpanginya Sin Liong dan Swat Hong pergi Jauh, Soan Cu menjatuhkan dirinya menangis. “Kong-kong, akupun mau pergi dari sini. Aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka tanpa adanya mereka berdua! Aku harus pergi, aku harus pergi mencari ayahku, seperti Swat Hong yang pergi mencari ibunya!”

Kong-kongnya hanya menggeleng kepala, menghela napas dan menggandeng cucunya yang tercinta itu kembali ke tengah pulau. Hati orang tua ini khawatir sekali karena dia tahu bahwa cucunya telah mulai dewasa dan telah tergoda oleh cinta sehingga merasa tidak tahan lagi tinggal lebih lama di Pulau Neraka. Dia maklum bahwa agaknya takan lama lagi cucunya itu tentu akan nekat meninggalkan pulau dan kalau hal yang dikhawatirkan itu terjadi, apalagi artinya hidup baginya di pulau itu? Puteranya telah lenyap dan satu-satunya orang yang selamanya ini membuat hidupnya berarti hanyalah Soan Cu.


Ketika perahu mereka mendarat di Pulau Es, Sin Liong dan Swat Hong saling pandang dengan hati yang berdebar. Mereka sudah menjelajahi seluruh pulau di sekitar Pulau Es untuk mencari ibu Swat Hong, namun sia-sia belaka. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk kembali ke Pulau Es, dengan harapan mudah-mudahan ibu dara itu sudah kembali ke Pulau Es. “Bagaimana kalau ibu tidak berada di sana? Bukankah berarti bahwa aku telah melanggar janjiku untuk mewakili ibu yang dibuang ke Pulau Neraka?” Swat Hong bertanya ketika perahu mereka tadi sudah mendekati Pulau Es.

“Jangan khawatir, Sumoi. Suhu adalah ayahmu sendiri, dan betapapun marahnya, aku percaya bahwa suhu akan dapat memaafkanmu. Aku percaya akan kebijaksanan Suhu, dia bukanlah seorang yang berbudi rendah….”

“Tapi dia telah terkena racun yang hebat, racun yang seratus kali lebih kejam daripada racun yang paling jahat di pulau Neraka! Dia telah terkena hasutan mulut wanita jahat itu…”

“Ssttt, Sumoi, jangan mempersulit keadaan dengan menyangka yang bukan-bukan. Sudalah, kekhawatiranmu itu hanyalah permainan pikiran yang membayangkan hal yang belum terjadi. Singkirkan saja kekhawatiran kosong itu dan mari kita hadapi kenyataan. Percayalah, apa pun yang akan terjadi, aku tidak akan membiarkan engkau terancam bencana. Mari kita hadapi apa saja yang menimpa kita berdua.”

“Suheng… betulkah? Betulkah kau akan membela dan melindungi aku?”

“Tentu saja, Sumoi.”

“Menghadapi Ayah sekalipun?”

“Menghadapi siapa saja karena aku yakin bahwa engkau tidak mempunyai kesalahan apa pun.”

“Kalau begitu, aku menjadi besar hati, Suheng. mari kita mendarat.” Makin tegang hatinya dan juga terheran-heran ketika dia melihat betapa beberapa orang penghuni Pulau Es kebetulan berada di situ, segera berlari pergi menuju ke tengah pulau, bahkan tidak berhenti ketika dia dan suhengnya memanggil mereka. Makin tidak enak mereka, namun dengan tenang Sin Liong mengajak sumoinya untuk menuju ke Istana Pulau Es di tengah pulau itu, menemui Raja Han Ti Ong dan bertanya tentang Liu Bwee.

Tak lama kemudian, keduanya berhenti tiba-tiba ketika melihat raja itu sendiri berlari-lari datang bersama permaisuri dan pembantu-pembantu yang terpercaya. Tadinya Swat Hong merasa girang, wajahnya berseri karena dia mengira bahwa ayahnya datang menyambutnya dengan girang melihat di pulang. Akan tetapi betapa kagetnya ketika ayahnya sudah tiba di depan mereka, langsung raja Han Ti Ong menudingkan telujuknya ke arah mereka sambil membentak, “Manusia-manusia rendah! kalian masih berani menginjakan kaki di Pulau Es? Membikin kotor pulau ini? keparat!”

“Ayah…!!”

“Suhu…!!”

“Plak! Plak!!” Tubuh Sin Liong dan Swat Hong terguling ketika tangan Raja itu dengan kecepatan kilat telah menampar mereka. Dengan alis berdiri Raja Han Ti Ong menudingkan telunjuknya bergantian ke arah muka dua orang muda yang menjadi kaget setengah mati dan merangkak bangun itu.

“Jangan sebut aku Ayah dan Suhu! Kalian berdua telah minggat dengan diam-diam, perbuatan yang tak tahu malu dan mengotorkan nama keluarga Han! Masih berani datang dan menyebut Ayah dan Suhu kepadaku? Huh!!”

“Ayahhhh….apa…apa yang terjadi….? Mana Ibuku…?”

“Ibumu seorang yang hina, dan engkau anaknya pun tidak berbeda banyak!”

“Ayah…!”

“Diam! Dan minggat engkau dari sini sebelum kubunuh!”

“Ayah, kalau begitu bunuh saja aku! Aku tidak berdosa…!” Swat Hong yang berlutut itu menangis sesungguhnya.

“Bagus! Kau minta mati?”

“Suhu…!” Suara Sin Liong ini mengandung wibawa sedemikian hebatnya sehingga Han Ti Ong sendiri sampai terkejut menghentikan langkahnya yang hendak menghampiri puterinya.

Sepasang mata Sin Liong mengeluarkan sinar yang luar biasa dan sejenak Han Ti Ong ragu-ragu. Teringatlah dia akan keadaan dahulu ketika anak ajaib ini menyuruhnya menolong The Kwat lin, menyuruhnya berhenti untuk menguburkan mayat-mayat. Seperti itu pula kekuatan mujijat yang keluar dari sepasang mata itu. Sepasang mata yang sedikitpun tidak membayangkan takut, atau marah, atau kekerasan, hanya membayangkan kelembutan yang mengharukan.

“Suhu, harap suhu bersabar dulu. Menjatuhkan hukuman tanpa memberitahu kesalahan orang, sungguh tidak adil sekali, sungguhpun Sumoi adalah puteri Suhu sendiri.” Bangkit kembali marah Han Ti Ong.

“Sin Liong, bagus perbuatanmu, ya? Kau masih berpura-pura lagi? Dia pergi tanpa pamit, hal itu masih belum apa-apa, akan tetapi dia pergi lalu kau susul, bersamamu pergi sampai berbulan-bulan, pantaskah itu? Kalian tidak tahu malu, dan menodakan nama baik keluarga Kerajaan Han!”

Diam-diam Sin Liong terheran. mengapa suhunya berubah seperti ini? Tentu saja dia tidak tahu betapa para keluarga yang membenci Liu Bwee telah menggunakan kesempatan selagi terjadi peristiwa penghukuman atas diri Liu Bwee itu untuk membakar hati raja ini, terutama sekali melalui mulut permaisuri!

“Ayah, jangan menuduh yang bukan-bukan. Aku memang pergi dan bertemu dengan suheng, akan tetapi apakah salahnya dengan itu?”

“Hemm, apa, salahnya, ya? Tidak salahkah kalau seorang pemuda dan seorang dara berdua saja sampai hampir setengah tahun lamanya? Mingkinkah tidak akan terjadi apa-apa antara kalian, di tempat sunyi, hanya berdua saja! Hem…hemmm… siapa percaya tidak akan terjadi apa-apa yang kotor?” ucapan ini keluar dari mulut permaisuri, The Kwat Lin yang tersenyum mengejek.

“Ibu, kalau Enci Hong dan Suheng melakukan hubungan gelap, kawinkan saja mereka, mengapa ribut-ribut?” Tiba-tiba Bu Ong, putera raja yang baru berusia kurang lebih delapan tahun itu, berkata dengan suara nyaring.

“Hussshhh! Tutup mulutmu!” Kwat Lin membentak puteranya yang segera cemberut, tapi memandang kepada Swat Hong dan Sin Liong dengan pandang mata mengejek.

Hampit saja Swat Hong tak dapat percaya akan apa yang didengarnya. Ayah dan ibu tirinya menuduh dia berjinah dengan Sin Liong! Dengan dada sesak dan kemarahan yang meluap-luap, Swat Hong lupa diri dan meloncat bangun, menjerit dengan kata-kata yang seperti dilontarkan kepada ayahnya, “Ayah! Mengapa ada fitnah sekeji ini? Ayah, insyaflah, Ayah telah dikelabui, Ayah telah mabuk oleh rayuan…”

“Plak! Desss!!” Tubuh Swat Hong terlempar dan terguling-guling ketika terkena tamparan dan pukulan tangan ayahnya sendiri.

“Suhu, ini tidak adil sama sekali!”

“Plak! Desss!!!” Tubuh Sin Liong juga terjungkal, akan teapi pemuda ini sudah meloncat bangun kembali. Sedikit pun tidak merasa takut, bahkan kini dia memandang tajam kepada Han Ti Ong.

“Suhu, andaikata Suhu memukul tee-cu sampai mati sekalipun, sudah sepatutnya karena karena tee-cu hanyalah seorang murid yang telah menerima banyak kebaikan dari Suhu dan tee-cu rela membalasnya dengan nyawa. Akan tetap, Sumoi adalah puteri Suhu sendiri, darah daging suhu sendiri! Mengapa Suhu begitu tega? Di manakah rasa kasih di hati Suhu?”

“Keparat!” Han Ti Ong memaki dengan suara gemetar saking marahnya. Melihat betapa Sin Liong berani menantangnya untuk membela Swat Hong makin besar kepercayaannya akan desas-desus bahwa puterinya main gila dengan muridnya ini. “Kau mau memberi kuliah kepadaku? Kalau dia orang lain, aku tidak akan perduli apa yang dilakukannya. Justru karena dia anaku dan aku cinta kepada anakku, maka aku perlu mengajarnya!”

“Hemmm, begitulah cinta di hati Suhu? Cinta suhu siap untuk berubah menjadi kemarahan, kebencian yang meluap karena Suhu merasa bahwa puteri Suhu tidak menyenangkan hati suhu? itu bukan cinta, Suhu! Suhu hanya mementingkan diri sendiri, kalau disenangkan hati Suhu, biar orang lain sekalipun akan Suhu perlakukan dengan baik, akan tetapi kalau hati Suhu dikecewakan, biar anak sendiri akan dibunuh!”

“Plak-plak! Dess…!” Kembali tubuh Sin Liong terjungkal dan kini darah mengucur dari mulut dan hidungnya.

“Suheng…! Ahhh, Ayah… Jangan…!” Swat Hong sudah meloncat ke depan dan menubruk suhengnya.

“Anak durhaka, murid murtad! Dess!” kini Swat Hong yang mengeluh dan terjungkal terkena tendangan ayahnya yang sedang marah itu. Masih untung bagi mereka berdua bahwa Han Ti Ong hanya berniat mengajar dan menghukum, kalau berniat membunuh, tentu mereka sudah tak benyawa lagi. Saking marahnya, biarpun melihat murid dan puterinya sudah beberapa kali dihantam dan ditendangnya sampai mulut dan hidung mengeluarkan darah dan muka mereka bengkak-bengkak, Han Ti Ong masih saja menghajar mereka.

“Ongya, harap ampunkan mereka….” Tiba-tiba beberapa orang pembantu utama berlutut di depan Raja yang marah ini dan menyabarkan hatinya.

Han Ti Ong berdiri dengan napas terengah-engah, mata terbelalak dan muka merah sekali. dia menjadi hampir putus napasnya saking marahnya. “Hemmm, mereka ini bocah-bocah kurang ajar yang layak dibunuh!” katanya.

“Ongya, sejak dahulu belum pernah ada hukuman dilaksanakan tanpa diadili lebih dulu, harap Ongya ingat akan keadilan Kerajaan Pulau Es yang sudah terkenal semenjak ratusan tahun,” kata seorang pembantu yang sudah berusia lanjut.

Han Ti Ong menghela napas panjang dan dia teringat. Sebetulnya, dia sedang berada dalam keadaan duka dan kecewa. duka mengingat akan istrinya, Liu Bwee, yang kini menimbulkan penyesalan di dalam hatinya karena dia pun mulai meragukan kesalahan istrinya itu. Kecewa karena serangkaian peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya, mengganggu ketentraman hidupnya di Pulau Es. “Anak durhaka, untung engkau belum kubunuh! Kau boleh membela diri, kalau memang masih ada yang akan kau katakan!”

Dengan tubuh sakit-sakit dan hampir pingsan, Sin Liong masih dapat membantu Sumoinya, bangkit duduk, bahkan tidak memperdulikan keadaan dirinya sendiri, dia menyusuti peluh, air mata dan darah dari muka sumoinya, kemudian menarik sumoinya untuk berlutut di depan raja yang sedang marah itu. “Sumoi, laporkanlah semuanya kepada Suhu…” bisiknya.

“Apa gunanya? Biarlah aku dibunuh! Biarlah, Ibu lenyap tak berbekas dan akan dibunuhnya… tentu akan puas hatinya…hu-hi-huuuuukkk….” Swat Hong menangis terisak-isak. Melihat keadaan puterinya ini, tersentuh juga rasa hati Raja Han Ti Ong.

“Sin Liong, hayo ceritakan apa yang terjadi! kami semua menuduh kalian berdua selama berbulan-bulan dan tentu kalain telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Mengakulah! Awas, kalau kau membohonng, akan kubunuh kau sekarang juga!”

“Suhu boleh membunuh teecu kalau teecu berbohong. Bahkan kalau teecu tidak membohong sekalipun, teecu menyerahkan nyawa teecu kepada suhu. Sebetulnya, ketika melihat sumoi pergi membuang diri ke Pulau Neraka dan melihat Subo juga pergi, teecu merasa kasihan dan berkhawatir sekali. Maka teecu diam-diam lalu mengejar dan menyusul ke Pulau Neraka.”

Kemudian dengan panjang lebar dan jelas Sin Liong menceritakan semua pengalaman mereka di Pulau Neraka dan mengapa mereka sampai berbulan-bulan berada di pulau itu. Berkerut Raja Han Ti Ong. Di lubuk hatinya, dia percaya kepada muridnya ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membohong dengan sikap seperti yang diperlihatkan muridnya. Tidak, tentu muridnya tidak berbohong. Akan tetapi hatinya masih marah dan ia makin marah ketika mendengar betapa Pulau Neraka telah berani menahan puterinya sebagai sandera!

“Swat Hong! Benarkah cerita Sin Liong?” bentaknya kepada dara yang masih menangis sesenggukan itu.

“Apa gunanya Ayah bertanya kepadaku? Lebih baik Ayah menyelidiki sendiri ke Pulau Neraka. Kalau aku dan suheng berbohong, boleh bunuh seribu kali juga tidak apa.” Memang sejak dahulu Swat Hong bersikap manja kepada ayah bundanya, pula dia memiliki watak keras, tidak takut mati, maka dalam keadaan seperti itu pun dia bersikap berani dan menantang!

“Siapkan pasukan, tiga puluh orang untuk ikut bersamaku ke Pulau Neraka!” Raja itu memerintah kepada pembantunya dengan suara marah dan pada hari itu juga dia berangkat bersama tiga puluh orang pasukan menuju ke Pulau Neraka!

Dapat dibayangkan betapa gagetnya para penghuni Pulau Neraka ketika diserbu oleh pasukan Pulau Es yang dipimpin Oleh Raja Han Ti Ong sendiri! Ouw Kong Ek sendiri yang maju dan berusaha melawan, dalam belasan jurus saja telah dirobohkan dan dipaksa menceritakan apa yang terjadi ketika puteri Raja Pulau Es itu berada di Pulau Neraka. Dengan kebencian dan dendam yang makin mendalam, Ouw Kong Ek menceritakaan keadaan sebenarnya, tepat seperti yang telah didengar oleh Han Ti Ong dari mulut Sin Liong.

Maka mulailah raja ini merasa menyesal mengapa dia telah terburu nafsu menghajar, bahkan hampir saja membunuh Sin Liong dan Swat Hong yang sebetulnya tidak berdosa. Mulailah dia teringat bahwa kemarahanya itu timbul karena bujukan dan kata-kata yang membakar dari permaisurinya. Dia menjadi marah sekali dan kemarahannya itu dilampiaskannya di Pulau Neraka. Pulau itu diobrak-abrik, sebagai hukuman telah berani menahan puterinya. Bahkan kitab catatan Sin Liong tentang racun dan pengobatanya, dihancurkan dan dibakarnya! Setelah puas melampiaskan kemarahanya, Han Ti Ong memimpin pasukannya meninggalkan Pulau Neraka, meninggalkan para penghuni yang banyak menderita luka lahir batin itu dan Raja ini telah menanamkan dendam yang makin menghebat di dalam hati para penghuni Pulau Neraka.

Sepekan kemudian, barulah rombongan Han Ti Ong tiba kembali di Pulau Es dan wajah Raja ini seketika pucat setelah dia mendengar berita yang lebih hebat dan mengejutkan lagi, yaitu bahwa sehari setelah dia dan pasukanya berangkat, permaisuri dan pangeran telah pergi meninggalkan Pulau Es! Dan belum pulang . Makin terpukul lagi bathin Raja Han Ti Ong ketika dia mendapat kenyataan bahwa kitab-kitab pusaka Pulau Es telah lenyap, berikut banyak harta benda berupa mas dan permata yang disimpan didalam kamarnya! Hampir saja dia roboh pingsan mendapat kenyataan bahwa permaisurinya, The Kwat Lin, gadis yang ditolongnya itu, ternyata telah berkhianat!

“Mengapa tidak kalian larang mereka pergi? Mengapa? Sin Liong, engkau muridku, mengapa engkau mendiamkan saja pergi membawa pusaka-pusaka kita?” dalam bingung dan marahnya dia menegur Sin Liong.

“Suhu, Subo pergi hanya memberi tahu bahwa Subo bersama Sute hendak menyusul ke Pulau Neraka. Siapa yang berani menghalangi Subo? Kami semua tidak ada yang mengira bahwa Subo tak kan kembali, dan tidak ada yang tahu bahwa Subo membawa sesuatu, harap maafkan teecu.”

Han Ti Ong membanting-banting kakinya, lalu berlari memasuki kembali istana setelah tadi dia memeriksa dan melihat kehilangan pusaka Pulau Es. Ketika dia memanggil dua orang muda menghadap, Sin Liong dan Swat Hong melihat perubahan hebat terjadi pada diri raja sakti ini. wajahnya menjadi suram dan gelap, sepasang mata yang biasanya bersinar dan berpengaruh itu, menjadi redup seperti lampu kekurangan minyak. Dan rambut yang tadinya hanya sedikit putihnya, mendadak berubah hampir seluruhnya, dan suaranya tidak bersemangat ketika berkata, “Sin Long…, Swat Hong…, kalian ampunkan aku…”

“Suhu…!” Sin Liong berlutut dan menundukan muka.

“Ayah… jangan berkata begitu Ayah…!” Swat Hong meloncat menubruknya.

Ayah dan anak itu saling rangkulan dan Sin Liong makin menundukan mukanya ketika mendengar suhunya menangis mengguguk seperti anak kecil ! Setelah Han Ti Ong dapat menguasai kembali hatinya dia mencium dahi puterinya dan menyuruhnya duduk kembali. Swat Hong menyusuti air matanya dan berlutut di dekat Sin Liong.

“Aku telah bedosa. Sekarang baru aku tahu…aku telah berdosa. Mungkin sekali… tidak, aku yakin sekarang, bahwa ibu Swat Hong tidak bersalah apa-apa, hanya terkena fitnah… aih, apa yang telah kulakukan? Dan aku hampir saja membunuhmu, Sin Liong, dan kau Swat Hong anaku. Orang macam apa aku ini? Dan aku mengaku cinta kepada anakku? Huh, huh, engkau benar, Sin Liong. Tidak ada cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita itu. Aihhhh….kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau… kau menjadilah jodoh Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku…”

“Suhu…!”

“Ayah…!”

“Muridku….anakku….,maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku… aku ingin melihat kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang…”

“Suhu, teecu mohon ampun. Teecu…tidak ada dalam hati teecu untuk memikirkan soal jodoh…”

“Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami menentukannya sendiri…”

Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri, membalikan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu.

Semenjak saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah semua pembantunya. Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini. Semenjak terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi dan semua wajah para penghuni kelihatan muram bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, seringkali malah menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi.

Peristiwa yang menyedihkan yang menimpa Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik, lebih menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan. Dengan membandingkan keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi detik kita mengejar kebutuhan. Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita kejar-keja. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, didepan masih menanti serbu yang lain yang akan mejadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa sehingga kalau ada sesuatu yang datang menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni!

Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalan diri The Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya nafsu. Dia seolah-olah hidup dialam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang manis menjati pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan! Dan mengalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama!

 


Perahu kecil itu terayun-ayun kekanan kiri seperti menari-narikarena tidak dikuasai oleh layar maupun dayung, melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang. Dua orang yang duduk diperahu itu seperti dua buah arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti mencari-cari sesuatu yang hilang. Dan memang fikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri. pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis mendatar putih dekat kaki langit. mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang sunyi ini, mereka menggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masingmasing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang menyedihkan.

“Suheng…” Suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh ruang kesunyian. Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi.

“Hemmmm…?” jawabannya masih ragu-ragu. “Suheng mengajakku meninggalkan pulau dan setelah tiba disini, mengapa suheng tidak lekas bicara melainkan melamun saja?”

“Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi….”

“Aku pun tadi terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi! Suheng, kau tadi bilang bahwa untuk membicarakan urusan kita, engkau mengajakku ketengah laut. Mengapa?”

“Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak kesini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap ditempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di dalam alam lain, kita akan menemukan ilham…”

Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka. “Wah, Suheng! Kadang-kadang kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham segala?”

“Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi.”

Wajah dara muda jelita itu terheran, matanya memandang terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. “Aihh… apa maksudmu, Suheng?”

Sin Liong menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoinya. “Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhuini, marilah kita bicara tentang cinta!”

“Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa,” Kata Swat Hong yang tentu saja merasa malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu.

“Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?” Dara itu makin merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dhasyat! Dia mengangkat muka memandang suhengnya dengan bingung.

“Aku…aku…ah, aku tidak tahu…” dan dia menundukan mukanya.

“Sumoi, sudah sering aku melihat sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat Kongkongnya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi, aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi ini. Cintakah kau kepadaku?”

Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menadakan rasa cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang dengan suhengnya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan, kepalanya digeleng-gelengkan dan dia berkata, “Aku tidak tahu…aku tidak tahu… kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!” Dan kini dia menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong!

Sin Liong menarik napas panjang. “Itulah yang membingungkan hatiku selama ini, Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? ataukah seperti cintanya Ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan suhu? Hemm, mengapa semua cinta itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu, Sumoi.”

Swat Hong memandang heran. “Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini, suheng.”

“Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, Ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta? Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu, aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapapun, Sumoi. Karena, kalau hanya seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir belaka, hanya cinta palsu belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta, lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri… hemm, betapa mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini.”

Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab. Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya, sebagai seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan hatinya, seperti suhengnya ini. Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu. “Aku tidak tahu, Suheng.., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah…”

Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan suhunya yang sudah berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati suhunya yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong! Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang, dara itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta. “Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?”

Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya. Akhirnya dia dapat berbisik. “Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada ayah…”

“Maksudku, apakah engkau merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau, seperti aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kukatakan apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan penyesalan bagimu?”

Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. “Kalau begitu, andaikata aku menerima, engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?”

Swat Hong mengangguk!

“Kalau begitu, mari kita pergi menghadap Ayahmu. Aku akan menerima permintaannya, karena betapapun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya. Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya, aku akan merasa senang.” Sin Liong mengambil dayung perahu itu dan menggerakan dayung.

“Suheng, kau menerima karena kasihan kepada Ayah? Jadi kau… kau tidak cinta kepadaku?”

“Sumoi aku tidak berani berlancang mulut mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi…”

“Ahhh…!!” Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa dan juga kekangetan hebat, matanya terbelalak memandang kedepan.

Melihat wajah Sumoinya, Sin Liong cepat menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah membakar dunia. Tampak oleh Sin Liong yang terbelalak memandang itu air muncrat tinggi sekali disusul asap dan api, muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba karena perahu mereka dilontarkan keatas, dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan kebisingan yang sukar dilukiskan.

Sin Liong berteriak, “Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!” keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu.

Namun, kekuatan gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biarpun kedua orang pemuda itu adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekalipun? Perahu mereka menjadi permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas, disambut dan diseret kebawah, seolah-olah tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke dasar laut, akan tetapi tiba-tiba dihayun lagi keatas, ditarik ke kanan, didorong ke kiri sehingga kedua orang murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan! Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak, dan mereka tidak sempat menggunakan pikiran lagi. Yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu. Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoinya. Betapapun juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya! Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkram dan menelannya itu! Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas.

“Brukkk…!” Keduanya terpental keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan. Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecilkecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol tinggi.

“Sumoi, lekas…, kita naik ke sana…!!”

Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit semua, membantu sumoinya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu pun agaknya tidak merasakan semua ini, tersaruk-saruk dia dibantu suhengnya merangkak dan menyeret perahu ke atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah. Akhirnya mereka tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan jantung. Air di sekeliling mereka. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung, suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar , atau lebih tepat disebut pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari atas, seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala,

“Ouhhhh..!” Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh suhengnya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek.

“Tenanglah… tenanglah, Sumoi….” Sin Liong berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoinya yang disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri juga! Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan alam nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak hanya kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin menderu, dan kadang-kadang ledakan halilintar. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub dan ngeri!

Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam! Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, air mulai tenang dan menurun, akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah lautan luas terbentang di bawah dan baru sekarang ternyata oleh dua orang muda itu bahwa mereka duduk dipuncak batu karang yang amat tinggi! Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar leher dan perut!

“Sumoi, badai sudah mereda. Mari kita turun. Aihh, itu perahu kita. Untung tidak pecah,” kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoinya, menuruni batu karang. Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat perahu itu, membawanya turun ke bawah. “Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan.”

Swat Hong duduk didalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuk kegelisahan, “Bagaimana dengan Pulau Es? Badai mengamuk demikian hebatnya, Suheng.”

“Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka, kita harus cepat pulang.” dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, meluncur di atas air yang tenang dan licin seperti kaca, sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil disekita tempat itu telah diamuk badai sedemikian hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air.

Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih seperti biasa, sebuah pualu keputihan memanjang di kaki langit, berkilaun tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana di Pulau Es, maka legalah hati mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menepel di Pulau Es. Keadaannya begitu sunyi.

Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau balau tidak karuan dan berubah bentuknya! Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ketengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat wajah mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu bersih dari pulau itu.

“Auhhhh…!” Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil.

“Mari kita ke istana, Sumoi!” Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoinya dan diajaknya dara itu lari ke dalam istana.

Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat itu didiami manusia! Habis sama sekali, baik prabot-prabotan istana maupun manusia-manusianya! Tidak tertinggal sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari dan berteriak-teriak memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri!

“Oughhh…!!” Swat Hong tidak menahan himpitan perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar oleh Sin Liong.

“Sumoi…!” Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh sumoinya yang pingsan itu ke dalam kamar. Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka, karena kamar itu pun kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun prabotannya. terpaksa dia merebahkan tubuh sumoinya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala diatas kedua lututnya sambil menangis. terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya. Pulau Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong, tidak ada sepotong pun barangnya yang tinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu.

Setelah siuman, Swat Hong menangis, “Aih, mengapa..? Mengapa…? ayah, kasihan sekali Ayah…!”

Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya. Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai. Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka menemukan beberapa potong pakaian yang tersangkut di batu-batu dan dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu, entah punya siapa, sebagai barang peninggalan yang amat berharga. Kemudian mereka memeriksa istana. Memang ada beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua habis dan lenyap.

“Suheng, lihat ini…!” tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding. Sin Liong cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu!

“Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Ki-ong.” Pendek saja “surat dinding” itu, namun cukup jelas isinya.

Sin Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada suhunya yang mati meninggalkan dendam itu!

“Suheng lihat ini…”

Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkram dinding. Mudah saja mereka menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka. Agaknya, dalam menghadapi amukan badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkram dinding dan sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatanya menyeret keluar dari istana dan bahkan dari pulau itu!

“Kasihan sekali suhu…” Sin Liong menghapus air matanya. Swat Hong mengepal tinjunya.

“Aku akan mencari perempuan iblis itu, selain merampas kembali pusaka Pulau Es, juga menghukumnya! Dialah yang mencelakakan ibuku, yang mencelakakan Ayahku!”

Sin Liong menarik napas panjang. Sudah diduganya ini. Tentu akan terjadi balas-membalas. Dendam tak kunjung habis! “Sumoi, Suhu hanya meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu….”

“Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh iblis betina itu!” Swat Hong berseru penuh semangat. “Dan Bu Ong… hemm,apa pula artinya ini? Bukan putera ayah?”

“Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum ditolong ayahmu?”

Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu telah diperkosa di antara mayat para suhengnya.

“Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas orang anak murid Bu-tongpai itu, sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong yang memperkosanya dan membunuh para suhengnya.”

Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel. “Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu, mengapa dia membalasnya kepada Ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus mencarinya dan membalaskan sakit hati ibu dan Ayah.”

Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoinya ini percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu mendamping sumoinya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang terdorong oleh nafsu dan dendam. Betapapun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai suhengnya. Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak. Dia tidak membantah ketika sumoinya mengajaknya meninggalkan Pulau Es yang telah kosong itu, untuk mencari ibunya, dan kalalu masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke daratan besar mencari The Kwat Lin.

 


Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan Pulau Es. Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di bawah laut itu. Ada pulau yang lenyap sama sekali , dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan bermacam bentuk. Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama sekali tetumbuhan atasnya. diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andaikata semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis?

“Agaknya ibumu tidak berada diantara pulau-pulau ini,” Beberapa hari kemudian setelah merasa mencari dengan sia-sia, Sin Liong mengemukakan pendapat.

“Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana.”

“Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng.”

Sian Liong mengerutkan alisnya. “sumoi, kau…cemburu lagi?”

Wajah dara itu menjadi merah. “Aku hanya berkata sewajarnya.”

“Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka,” kata Sin Liong menarik napas panjang. Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat keputusan akan mencari ke mana.

“Kita ke Pulau Neraka!” tiba-tiba Swat Hong berkata.

“Ehhh…??” “Aku harus ke sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biang keladi sehingga Ayah marah-marah kepada kita, hampir saja kita dibunuhnya. Karena Pulau Neraka telah berani menawanku.”

“Hemm, Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana kurasa Ayahmu telah menghukum mereka menurut cerita anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi.”

“Aku harus pergi ke sana!” dara itu berkeras. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoinya ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja.

“Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk mencari Subo, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, sumoi.”

“Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada….”

“Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka setelah ada badai mengamuk.”

Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. “Baiklah, kita lihat saja nanti.”

Dan mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena di daerah itu telah terjadi perubahan hebat sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata mengambil daerah yang amat luas itu, di sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang amat besar sehingga Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.

“Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini,” kata Swat Hong.

“Ini tentu diakibatkan oleh badai itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan mencoba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau tunggu saja di sini.”

Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es. Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara seperti itu. Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depanya ke arah burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang besar-besar beterbangan di atas biruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik mengerikan.

Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati. Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa biruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka dan burung-burung nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar. Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan dan mereka terbang ketakutan menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan saja Sin Liong sudah tiba di depan biruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong.

“Tenanglah, aku datang untuk menolongmu,” kata Sin Liong sambil maju lebih dekat.

“Auuughh..!” Beruang itu menggerang dan kaki depan yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.

Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu. Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut, beruang itu mencengkram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur deras dan dia segera membalut dengan saputangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini tidak nyeri lagi dan tentu saja , karena yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang menancap itu.

“Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati,” Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu. “Hemmm, aku harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu,” katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa yang dia katakan.

“Hai, Suheng, ada apakah?” Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas. Sin Liong menoleh dan melihat Sumoinya turun berlari-lari cepat sekali.Setelah dekat, beruang itu menggerang dan memandang Swat Hong dengan marah. “Huh, binatang buruk!” Swat Hong memaki.

“Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang itu kuat sekali. Aku harus mengobatinya sampai sembuh.”

Swat Hong mengerutkan alisnya, “Perlu apa menolong binatang buas seperti itu, Suheng? Membuang-buang waktu saja.”

“Dia tidak buas lagi, sumoi. Lihat betapa jinaknya. Dia pun mahluk hidup yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya, Sumoi.”

“Wah, kau lebih mementingkan dia…”

“Hei…, ada apa engkau…?” Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin kuat menariknya. Diam-diam Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoinya dan dia berteriak. “Awas, sumoi. Mari pergi, dia menghendaki demikian, entah mengapa?” 

Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan membiarkan dirinya diseret oleh biruang itu. Binatang itu mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja mereka melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es dimana mereka berada tadi telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan hal ini agaknya telah diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ. Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia!

Sin Liong berdiri dengan muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. “Terima kasih, kakak beruang. Kiranya engkau malah menyelamatkan kami berdua.”

Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. “Suheng, mari kita segera pergi dari sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung tidak hilang. Marilah, suheng.”

“Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di tubuh beruang ini.”

“Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini…”

“Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!”

“Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu, bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan Marilah, Suheng.”

“Tidak, sumoi. Kita tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya.”

Swat Hong menjadi marah. “Agaknya kau lebih sayang biruang betina ini dari pada aku!”

“Sumoi…!”

Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja, dia membatalkan niatnya.

“Ngukkk… nguuuuukkk….” Beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya.

“Ahhh, Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?”

Sin Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di pulau kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh.

Pada suatu hari dia melihat sebuah perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu pulau es. Tentu penumpangnya telah lenyap ditelan badai, pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah biruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya.

“Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!”

“Nguuuk…nguukk…!” Beruang hitam itu mengeluarkan suara mengeluh dan mukanya seperti orang menangis! Sin Liong tersenyum.

“Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke atas!”

Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, biruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini mukanya kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap seekor anjing yang kegirangan.

“Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!” kata Sin Liong. “Kalau sumoi tidak menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh.”

Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi temannya berlayar itu kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar. Setelah kini dia mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.

Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka.


Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka? Ternyata bahwa seperti juga pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat tinggi, diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua. Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai.Perahu itu adalah perahu bajak laut!

Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce.

Kepala bajak ini adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi. Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal sebagai Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan namanya adalah Koan Sek. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga, mereka tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang Pulau Es. Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah dongeng. Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akat tetapi karena pulau dimana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh tetumbuhan, mereka menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah pulau.

Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar. Andaikata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang akan dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu.

Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira. mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat! Terjadilah perang tanding yang seru dan matimatian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan orang-orang biasa melainkan penjahat-penjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah bola baja yang berat dan keras.

Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua mereka, Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah itu.

Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi!

“Keparat…!” Kakek itu meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali.

“Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu.”

Ouw Kong Ek terpaksa hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur. “Hati-hatilah, Soan Cu…”

Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu malah tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya, menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi.

Melihat sepak terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu, dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan pedangnya berubah segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar pedang yang dimainkan oleh dara itu.

“Lepas tulang ikan!!” Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada sutenya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang.

Dara ini memandang rendah senjata rahasia mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening.

“Aihhh…!” Dia berseru nyaring, lebih merasa heran daripada khawatir. Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun yang dipakainya.

“Sute, tangkap nona manis ini…!” Teriak Koan Sek dengan girang.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak yang mendengar suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan… mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan diri dengan ketakutan. Kiranya yang menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus!

Sin Liong yang datang bersama biruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung biruang, lengan kiri memeluk dan menjaga tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang dara itu sambil beseru “Kakak biruang, lawan mereka yang berani mendekat!”

Biruang itu menggereng-gereng dan ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan menangkis pedang melainkan mencengkram kepala Coa Liok Gu. Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan tubuh, membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan biruang itu menyambar lawan, dia meloncat ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata biruang itu.

“Cringgg…!!” Pedangnya terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar biruang setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi.

“Siuuuut…!!” Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung biruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga dahsyat.

“Cringgg…! Tranggg…!!” Dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan perih.

Pada saat dia terbelalak dan terheran, biruang itu sudah membalikan tubuh dan sekali kaki depannya yang kanan menampar, kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan biruang itu sudah menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya.

“Kakak biruang, jangan …!” Sin Liong membentak.

Biruang itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh kebelakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang biruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu tidak lagi berani menyerang karena dia maklum bahwa selain biruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat itu. “Hentikan pertempuran…!” Dia berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk.

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu segera disusul suara berdengung-dengung dan berdesis-desis. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah digerakan oleh suara melengking iru, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan! Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung biruang dan kini biruang itu pun terkejut dan ketakutan, seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya.

“Uhhh… apa yang terjadi…?” Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya.

Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega. “Bagaimana lukamu?”

“Nyeri sekali, panas… eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?” Soan Cu turun dari pondongan Sin Liong. “Cepat pergunakan obat penolak ini…”

Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan biruang betina, Soan Cu berkata lagi, “Sin Liong tolong… kau tangkap Si Mata Satu itu…aku membutuhkan obat penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)….”

Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa.

Maka ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke arah Sin Liong. Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan sebelum Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan.

Soan Cu. Koan Sek menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh.

“Cepat bertindak, halau mereka, Soan Cu!” Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak, namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu.

Soan Cu menggeleng kepala. “Tak mungkin. Mereka digerakan oleh suara melengking itu…”

“Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?” Soan Cu tersenyum dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung.

“Siapa lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong… augghh …” Dara itu roboh pingsan lagi dalam rangkulan Sin Liong.

“Aduh celaka…, binatang-binatang itu….” Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil dan dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya.

“Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan mengalami nasib yang sama,” Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak. “Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini.”

Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa ular-ular beracun yang bermacammacam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang juga merupakan sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan, kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut!

Sin Liong sendiri merasa ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akat tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun tidak tampak. pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak? Maka pemuda ini merasa seperti disayat-sayat jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging mereka!

Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup sebatang alat tiup terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka, memapahnya datang dan kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya mayatmayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran.

“Ahhh, engkau pula yang menolong cucuku, Taihiap?” Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat.

Sin Liong mengerutkan alisnya. “To-cu, engkau sungguh kejam, membunuh mereka seperti itu.”

Kakek itu terbelalak. “Aku? kejam? Dan mereka ini…?” Dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. “Dan…hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini pemimpin mereka?”

Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat. “Tahan dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!”

“Soan Cu…!” Ouw Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu.

“Mengapa dia?” “Terkena senjata beracun.” Kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak, “Hayo kauberikan obat penawar senjata gelapmu!”

Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sutenya, tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum. “Agaknya kita telah salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?” tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa jerih sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu.

“Kau belum tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya.” Dia menuding kepada Ouw Kong Ek. “Sedangkan Nona ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya.”

“Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya seperti iblis pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka Nona ini, akan tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkraman kalian!”

“Engkau… engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!” Ouw Kong Ek membentak.

“Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang, karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu. Kalau orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!”

Ouw Kong Ek sudah marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya.

 Melihat kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong Berkata, “Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun juga, nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari pada kehidupan seorang sesat seperti dia.”

“Ha-ha-ha , itu baru omongan yang tepat!” Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang merasa “mendapat angin” berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau Es berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya?

“Iblis keparat! Hayo kauberikan obat untuk cucuku dan kau boleh minggat dari sini!”Ouw Kong Ek membentak.

“Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol.” Dia lalu menoleh kepada Sin Liong.

“Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?” Dia memang tidak dapat menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan kalau ada yang dipercaya di situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini.

“Aku bukan penghuni Pulau Neraka aku adalah seorang dari Pulau Es….”

“Heeeehhh…??” Mata Tok-ganhai- liong yang tinggal satu itu terbelalak dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahyul belaka. Mimpikah dia? Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya? “Pulau… Pulau… Es…?” Dia berkata lirih.

Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting.

“Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat penawar jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini.”

“Jahanam, kau tidak percaya kepadaku?” Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam.

“Terserah, bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini.”

Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada kakeknya, kemudian berkata, “Ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya.”

Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakan kapalanya memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka menuju ke tepi laut.

Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering. “Nona itu terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak, lalu minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh.”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam lautan. Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata, “Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona. Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini.”

Dua orang itu menerima kuda laut mati dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang. “Kau tidak mau membiarkan aku pergi?” Koan Sek bertanya penuh khawatir.

“Jangan tergesa-gesa,” jawab Sin Liong. “Aku harus yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?”

Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak akan menang. “Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?”

Sin Liong diam saja. Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian bertanya, “Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?”

Sin Liong mengangguk.

“Dan siapa namamu?”

“Kwa Sin Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?”

“Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng…”

“Hemm.., memang sekarang hanya tinggal dongeng…” Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pualu Es yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan.

“Nguuk… nguuukkk…” Sin Liong menoleh dan tersenyum “Eh, Enci biruang. Kau menyusulku?”

Biruang itu menghampiri, dan memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu.

“Binatang yang hebat!” Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa ! dan mempunyai binatang peliharaan seperti itu! “Kau bilang tadi… tinggal dongeng apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, lupakanlah,” kata Sin Liong sambil mengelus biruang yang sudah bertiarap di depannya.

“Orang muda she kwa… eh, Tai-hiap… kenapa kau mau membebaskan aku?”

Sin Liong mengangkat mukanya memandang dan kepala bajak itu menjadi lebih heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan dengannya?

“Mengapa tidak? engkau pun membebaskan Soan Cu.” Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi datang berlari-lari.

“Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!” Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek.

“Pergilah, cepat! Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini.”

Koan Sek menjawab, “Terima kasih. Satu kalipun sudah cukuplah!” Dia mengkirik. “Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?” Dia lalu menggerakan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka.

Ketika Sin Liong bersama biruangnya tiba kembali ke tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun. Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh Kong-kongnya. Para penghuni Pulau Neraka sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu.

“Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami,” kata Ouw Kong Ek.

“Kalau engkau tidak segera datang entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong,” kata Soan Cu dengan mata bersinarsinar penuh kagum dan terima kasih.

“Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?”

Soan Cu dan kakeknya memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin Liong maklum akan ketidak-senangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang dan berkata, “Harap saja Tocu tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Sumoi.”

“Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?” Sin Liong mengangguk.

“Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini.”

“Bukan hanya marah-marah!” kata Soan Cu mengepal tinju. “Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun tidak melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!”

“Kau juga dipukulnya?” Sin Liong bertanya.

“Tadinya, melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat kakek dipukul, aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!”

Sin Liong menarik napas panjang. “Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada lagi sekarang, telah musnah.”

“Hei…? Apa maksudmu, Taihiap…?” kakek itu bertanya, terbelalak.

“Apa yang telah terjadi?” Soan Cu juga bertanya.

“Dilanda badai… habis seluruhnya, semua penghuninya termasuk suhu dan seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali…”

Sin Liong lalu menuturkan dengan singkat malapetaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan Sumoinya terluput dari bencana. Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo kemudian kakek itu bertepuk tangan dan tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk Tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat, sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha, siapa yang lebih dilindungi Tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!” Kakek itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis. “Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?”

Sin Liong lalu menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bungung dan tersesat karena badai telah menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan betapa dia menemukan biruang hitam. “Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati biruang.”

Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja dia segera menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya. “Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak dantang ke sini?”

Soan Cu menjawab, “Untung saja dia tidak datang, Sin… eh, Taihiap.”

“Soan Cu mengapa engkau meniru kakekmu, bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?”

“Biarlah, Taihiap,” Kata Ouw Kong Ek. “Tidak pantas kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena kepandaianmu tinggi sekali.”

“Kaukatakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?”

“Andaikata dia datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es datang mengacau di sini, Kong-kong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik.”

Sin Liong mengangguk-angguk, merasa lega bahwa sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena dia jadi tidak tahu ke mana sumoinya yang pemarah itu kini berada! Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya dan mengapa mengacau ke sini?” tanyanya.

“Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di tepi pulau.”

“Agaknya mereka juga diamuk badai.”

“Mungkin.” Soan Cu melanjutkan. “Kami diserang selagi kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap.”

“Akan tetapi akhirnya, biarpun sakit, Kong-kongmu dapat membunuh semua bajak laut itu.” Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak itu.

“Ugh-ugh….!” Kakek itu terbatuk-batuk. “Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau binatang-binatang Pulau Neraka bersembunyi ketakutan diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap.”

“Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu menggunakan permohonan lagi?” jawab Sin Liong.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sin Liong! Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek itu dan berkata, “Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? katakan saja, aku tentu akan membantumu sedapat mungkin.” Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, mengira akan menghadapi hal yang sulit.

Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, “Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada, berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini tidak akan ditolak oleh Taihiap.”

Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah disangkanya! “Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatangkara yang tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku ini.”

“Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin…. dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini.”

Sin Liong merasa sukar untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, “Soal ini sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak terikat oleh perjanjian apapun juga.”

“Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini, hanya karena kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku telah bebas, dan betapapun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kong-kong akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap.”

“Dan aku hendak mencari Swat Hong dan ibunya.”

“Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoimu itu , aku dapat bertemu dengan ayahku.”

Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kong-kongnya, membawa pula bekal berupa pakaian dan sekantung emas simpanan Kong-kongnya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan pulau, maka setelah perahu meluncur jauh dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya bersama semua sisa penghuni Pulau Neraka yang mengantarkanya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air matanya.

“Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk kembali,” kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini. Biarpun dia tidak terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini, dan kalau dara ini wataknya seaneh Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi!

“Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa perih hatiku meninggalkan tempat yang sejak kulahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggakan pulau itu, terasa olehku bahwa di situ adalah sorga.”

Sin Liong tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga maupun neraka itu berada dalam hati manusia itu sendiri! Betapapun indahnya suatu tempat kalau tidak berkenan di hatinya, akan merupakan neraka, sebaliknya betapapun buruknya suatu tempat kalau berkenan di hatinya akan menjadi sorga!

Jadi, baik buruk, senang, susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh keadaan hati dan pikiran sendiri. keadaan di luar merupakaan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain hal yang saling bertentangan itu. Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka, memandang segala sesuatu seperti APA ADANYA, tanpa penilaian. tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentanganpertentangan itu.

Perahu yang ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus, ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya dan kini dara itu memandang ke depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari nenek moyangnya tentang keadaan di dunia rame, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan dilihatnya dengan mata sendiri!

 


Pusat perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan pengemis Tangan Delapan) berada di lereng Pegunungan Hen-san. Dari luar, tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheranheran menyaksikan sebuah rumah gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah sekali! Inilah tempat tinggal Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kaipang di lereng Hengsan!

Pat-jiu kai-ong sudah berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua, sungguhpun pakaianya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini, pakaiannya diganti dengan pakaian tidur yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit. Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis kelaparan yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang selirnya yang muda-muda, cantik dan genit.

Pat-jiu Kai-ong tinggal tinggal didalam istananya yang mewah akan tetapi yang dikelilingi pagar bambu tinggi sehingga tidak tampak dari luar itu bersama lima orang selirnya, lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya. Selosin orang ini tentu saja merupakan tokoh-tokoh dalam pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan kiri istana ketua mereka. Adapun Pat-jiu Kai-pang mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota. Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggauta itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar dan sebagian dari pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah membuat raja pengemis menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali. Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi setoran! Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib karena dia pada waktu itu ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoatsut (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sintong, tentu dalam waktu satu tahun saja ilmunya akan sempurna. Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan otaknya dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah! Pada suatu hari , pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis.

“Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah datang menggangguku?” Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut. Akan tetapi karena merasa penasaran, dia tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu dan terutama sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang “sahabat lama.”

Ketika dia keluar membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia kagum melihat pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik, pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima belas atau empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu, keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andaikata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha! Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang dan Swi Nio, ha-ha-ha!”

Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala yang beruban itu terlindung kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula.

 Kakek itu tertawa lagi. “Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lusan ini?”

“Ahhhh…!” Pat-jiu Kai-ong tertawa, mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. “Kiranya sahabat Bu yang datang? maaf, maaf, mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak pernah kujumpi. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta berani, bahkan kalau tidak salah, anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!”

Dara berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah. “Harap Pangcu sudi memaafkan saya.”

“Aih-aih…! Ini tentu orang tua Lusan ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!”

“Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh puteriku?” Kakek itu berkata.

“Wah, jangan berkelabar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. Marilah masuk, kita bicara di dalam.” Pat-jiu-kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul. “Lekas beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!”

Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong menggandeng tangan kakek itu, sambil tertawa-tawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah.

Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi keindahan ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, “Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu-kai-ong tinggal disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampaui segalanya yang telah kudengar. Hebat sekali!”

Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu. “Ha-ha, kau terlalu memuji, sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan meneriama kehormatan kedataangan seorang tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok.”

Kedua orang tua ini lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin, seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak, lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san, dan di sana dia bertapa sambil mendidik dan menggembleng putera puterinya.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup sehat. Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut. Karena hatinya yang penasaran mengapa dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam itu, dia terlampau terburu-buru dan akibatnya, hawa mujijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lu-san.

Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali. Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang ini naik ke puncak Lu-san.

Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh . Selama satu bulan berada di Lu-san, raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia mengenal dua orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biarpun dia melihat Swi Liang sebagai seorang anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu.

Di lain pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lusan Lojin terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling mengunjungi dan saling membantu.

“Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi,” setelah makan minum Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya.

“Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan kalian yang jauh-jauh datang mengunjungi aku.”

“Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kami pun hanya kebetulan saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati Pegunungan Hengsan mencarimu.”

“Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalian datang dari manakah?” Lu-san Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya, memandang puterinya seolah-olah minta ijin.

Swi Liang menganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan menunduk. Dianggap oleh pemuda ini bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis itu dapat membantunya.

“Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan perjalanan sejauh itu dan ternyata sia-sia belaka perjalanan kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah engkau mencari racun bumi itu, Lu-san Lojin?”

“Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan, semenjak kecil, antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana, ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia.” 

“Ha-ha-ha, ala salahmu sendiri! mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?”

“Pat-jiu Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu, kami mengharap bantuanmu yang mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw.”

“Baik, baik… jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya, dan kalian bermalamlah di sini, jangan tergesa-gesa pulang.”

Lu-san Lojin menggeleng kepala. “Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok, kami hanya dapat bermalam untuk satu malam saja. Besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan.”

“Semalaman cukuplah, Biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku”

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di luar istana raja pengemis itu. Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan takut.

“Ada apa? mau apa kalian mengganggu kami?” Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar.

“Pangcu… ampunkan kami berdua… terpaksa kami mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua.”

“Apa yang terjadi? Hayo cepat ceritakan.”

Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam jago dan kadang-kadang mengadunya. Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan ayam jago itu, dan memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik. Tiba-tiba ayam jago itu menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut yang kemudian ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisanya.

“Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu. Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan….”

“Cukup!” Raja pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang. “Kalian tolol semua! Mana kain yang ada tulisan itu!”

Kepala pengawal yang mukanya penuh bewok itu dengan kedua tangan gemetar, menyerahkan sehelai kain putih kepada ketuanya. kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada noda-noda darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu, sejenak menjadi bingung dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin sambil berkata, “Harap kaubacakan ini untukku!”

Lu-san Lojin menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya terbelalak. “Wah… apa artinya ini?”

“Lojin! bagaimana bunyinya?” Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya membentak.

Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu. Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!” Ratu Pulau Es.

“Ratu Pulau Es…?” Pat-jiu Kai-ong tertawa. “Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini? Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat bagaimana macamnya!”

“Kai-ong, harap jangan main-main. Biarpun hanya seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal, katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa, apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong….”

“Ha-ha-ha, siapa perduli? Aku tidak ada permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal apakah kalian tahu akan isi surat?”

Dua orang pengawal itu mengangguk. “Sudah Pangcu.”

“Apa kalian takut?”

“Ti… tidak, Pangcu, Hanya… hanya amat aneh itu…”

“Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang ketat terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!”

“Kai-ong harap hati-hati….” kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu keluar dari ruangan itu.

“Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?”

Kakek dari Lu-san itu kelihatan ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau dengan hati berat dia bersama dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari. Kemudian mereka dipersilahkan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilahkan makan minum lagi. Sekali ini mereka benar-benar takjub. Melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam yang indah dan mewah! Mengignat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampit tertawa, seperti melihat seorang badut pemain lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap daripada siang tadi!

“Ha-ha, ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!” kata tuan rumah itu mempersilahkan tamu-tamunya. Setelah hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang berminyak dan perutnya yang gendut, matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka terkejut setengah mati, “Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak mengganggu. Adapun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua besenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!”

“Kai-ong!” Lu-san Lojin membentak. “Apa… maksud kata-katamu ini?”

Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. “Apa maksudnya? Swi Liang begini tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan….hemmm, aku ingin sekali bersenang dengan mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak.”

“Kai-ong, apa kau gila??” Lu-san Lojin hampir tidak dapat percaya akan pendengaranya sendiri.

“Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, dan puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak baik, marilah kalian layani pamanmu…”

“Keparat!” Lu-san Lojin melompat ke depan dan dua orang anaknya yang berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan.

 “Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?”

“Ha-ha-ha! Siapa main gila? Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja seperti putermu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau malam ini ada yang berani datang!”

“Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!” Lu-san Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya.

Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sebagai bekas murid Hoa-sanpai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaanya sendiri, hasil renungannya di waktu bertapa. Kepalan tangnnya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi kiranya hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai.

Sambil tertawa, Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar dua kali dan kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tanganya karena dari kedudukan menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan baju itu! dua orang naknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan pedang mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi Nio membabatkan pedangnya ke arah leher.

“Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!” kata kakek itu dan dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang. Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan…. dua batang pedang itu telah dicengkramnya dengan telapak tangan!

Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah dicengkeram jepitan baja yang amat kuat.

“Manusia tak kenal budi!”

“wirrrr… tar-tar!” Pat-jiu Kai-ong merasa terkejut melihat menyambarnya sinar kuning dan ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkangnya.

“Krekk-krekkk!” dua batang pedang itu patah-patah dalam cengkraman Pat-jiu Kai-ong dan sambil melompat mundur menghindarkan sambaran ujung sabuk, raja pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.

“Trang-tranggg!” Dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk(ikat pinggang) dan kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan dan mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu ayah mereka. Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut.

Melihat mereka, Pat-jiu Kai-ong berkata, “Tangkap dua orang muda ini, akan tetapi awas, jangan lukai mereka!”

Empat orang pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan sekuat tenaga, akan tetapi biarpun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong, maka ketika dua orang di antara mereka menggunakan tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok dan roboh dan lumpuh.

“Ha-ha-ha, belenggu kaki tangan mereka baik-baik… kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku… haha- ha!” Pat-jiu Kai-ong tertawa sambil menyambar tongkatnya. Setelah dia bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih leluasa.

Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia mengejar dan menggerakan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding. Pertandingan yang amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini memang hebat.

“Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu, apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?” Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib puterinya.

“Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat buruk!”

“Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!”

“Ha-ha-ha, Lu-san Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?” Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas.

“Plak-plakk!” Ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar amat kuat.

“Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan kedua anakku dan kau berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu.”

“Wah, berat kalau disuruh melepaskan. Lu-san Lojin, dengar baik-baik. Aku tergila-gila melihat anakanakmu. Pinjamkan mereka kepadaku untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian.”

“Iblis busuk!” Lu-san Lojin marah sekali dan dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan raja pengemis ini karena dia maklum bahwa betapapun juga hati yang kotor dari raja pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satu-satunya jalan untuk menolong anak-anaknya adalah melawan mati-matian.

“Plakkk!” Tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat, keduanya saling betot untuk merampas senjata. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawan. Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal limu Hiat-ciang Hoat-sut dari raja pengemis itu, namun dia pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakan tangan pula menyambut pukulan itu.

“Dessss…! Aduhhh…!!” Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan menderita luka dalam yang amat parah!

“Lempar dia di kamar tahanan!” Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa. Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa dia memasuki kamarnya.

Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong yang lebar. Dalam keadaan terbelenggu kaki tanganya. Lima orang selirnya menjaga di situ. Ketiaka dia masuk sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata.

Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan, menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sambil berkata, “Manis, jangan menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan musuh gelap yang mengancam.” Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang. “Temani mereka, jaga baik- baik jangan sampai ada yang lolos, dan kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal. Mengerti?”

Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi. Sebelum orang yang membunuh ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang. Dia belum yakin benar apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya, akan tetapi ada hubungan atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati, maklum bahwa dia mempunayi banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga memusuhi. Andaikata tidak sekalipun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?

Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas orang pengawalnya menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian malam yang mendatangkan perasaan tidak enak. Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng! Pembunuh ayam itu tidak perlu ditakuti. Andaikata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadipun, hanya menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin. Dia tidak takut!

“Aku tidak takut!” serunya kuat-kuat. “Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!”

Para pelayan sudah menyalakan lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayan-pelayan ini menambah jumlah lampu sehingga keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu, dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan mempertajam pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana.

Malam makin larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang mendengar dari para pengawal, dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar terhibur dengan adanya Swi Liang pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu diisi dengan sendau gurau dan mengobrol. Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong. Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula dia merasa tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya seberat mungkin!

Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas!

“Apa yang terjadi? Keparat, diam semua! Jangan menangis, apa yang terjadi?”

Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka bercerita dengan suara gagap, “Ada… ada… setan…., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan… dan mereka berdua… tahutahu telah lenyap…”

“Tolol!!” Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar melalui jendela kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun dia tidak melihat jejek dua orang tawanan yang lenyap itu. “Kalian tidak melihat orang masuk?” Bentaknya kepada para pengawal.

“Tidak ada, Pangcu.”

“Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?”

Kagetlah para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong, dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai!

“Cepat lakukan penjagaan tadi. Tutupsemua jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!” Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau karena harus diakuinya bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar biasa itu. Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat ditangan, sampai tidak ada lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang bersembunyi di dalam gedung, Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung berdebar.

Malam telah makin larut dan musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada dengan menculik dua orang tawannan itu secara aneh. Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi, namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemudapemudi itu di depan hidung mereka, sungguh merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya. Siapakah Ratu Pulau Es? Apalagi dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu. Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan perebutan atas diri Sin-tong!

Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah yang bermain-main dengan dia? Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya?

“Ha-ha-ha!” Dia tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar. Mengapa dia takut? Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang, diapun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang lebih mengerikan daripada Kiam-mo Cai-li?

“Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut, ha-ha-ha-ha!”

Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya, sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang ayam, berkeruyuk keras sekali!

“Ha-ha-ha!” Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah. Keruyuk ayamnya itu berhenti setengah jalan dan terputus oleh suara “kok!” suara ayam kesakitan! Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun berhenti setengah jalan dan bekali-kali terdengar suara “kok” suara ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!

“Keparat…!!” Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking marahnya itu sudah meloncat keluar dan langsung lari ke kandang.

Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang dan di bawah sinar obor tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.

“Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.

“Ngeooonggg…!” Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke atas genting. Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung itu, berkelebat melompat sambil menggereng, seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya.

“Bukkk!” Ketika pengawal yang membawa obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!

“Jahanam…!” Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti oleh dua orang pengawalnya. Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke atas genting membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusian pun. Keadaan sunyi. Sunyi ekali, terlampau sunyi seolah-olsh gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan!

“Hung-hung! Huk-huk-huk…!!” Riuhlah suara tiga ekor anjng peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung. Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan suara “kaing…! nguik… nguikkk… nguikkkkk!” Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu.

“Bedebah…!” Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting, tidak dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di sebelah kanan gedungnya, di kandang anjing.

Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat! Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, “Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!”

Semua binatang peliharaannya , ayam, kucing, dan anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar “Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung…!”

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang pengawalnya yang terlentang itu telah tewas dengan mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah banyaknya dan mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak!

“Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua…!”

Akan tetapi kembali terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama. Segera tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini, termasuk pengawal kepala Si brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam keadaan mengerikan, presis seperti yang lain. Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas.

Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul menyusul begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Namun, biarpun mulutnya tidak menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama, dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan. Tiga orang pengawal saling pandang dengan muka pucat.

Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih. Dia berteriak memaki, “jahanan pengecut! Hayo keluarlah dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!” Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan damn menyeramkan, seolah-olah dalam kegelapan dan kesunyian malam itu tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa !

Pat-jiu Kai-ong makin penasaran. Dia sendiri adalah seorang manusia yang dikenal sebagai iblis, jarang menemui tandingan dan ditakuti banyak orang dari semua golongan. Akan tetapi malam ini dia, Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal, memiliki anggauta ratusan orang banyaknya, seorang di atara datuk kaum sesat atau golongan hitam yang ditakuti orang, dia dipermainkan orang! Dan orang itu, kalau melihat namanya sebagai ratu tentulah seorang wanita! Apa lagi dia melihat bahwa bekas jari tangan di dahi para korban itu pun jari tangan wanita yang kecil meruncing!

“Hem, pengecut benar dia” katanya kepada tiga orang pengawalnya yang diam-diam telah kehilangan separuh dari nyali mereka. “Kita harus menggunakan pancingan. Biar aku mengintai dari atas, kalian berjalan-jalan di sini. kalau dia muncul menyerang, aku tentu dapat melihatnya dan aku akan meloncat turun. Bersiaplah kalian!”

Setelah berkata demikian, dengan gerakan ringan seperti seekor kelelawar, Pat-jiu Kaiong melompat ke atas genteng dan mendekam di wuwungan sambil mengintai. Dia melihat tiga orang pengawalnya itu masing-masing telah mencabut senjata mereka. Si Brewok menggunakan sebatang tombak panjang yang ujungnya berkait, orang ke dua mengeluarkan golok besar dan orang ketiga sebatang pedang. Mereka berdiri saling membelakangi dan mata mereka memandang tajam ke depan, telinga mereka memperhatikan setiap suara. Akan tetapi sunyi saja sekeliling tempat itu.

Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong melihat sesosok bayangan melayang turun dari atas pohon! Celaka pikirnya. Kiranya si laknat itu bersembunyi di dalam pohon yang tumbuh di depan gedung. Bayangan itu sukar di lihat bentuknya karena cepat sekali gerakannya, tahu-tahu telah berada di depan Si Brewok. Tiga orang pengawal itu menggerakan senjata, akan tetapi anehnya, tampak oleh Pat-jiu Kai-ong betapa tiga buah senjata mereka itu telah berpindah tangan! entah bagaimana caranya karena dari atas genteng itu dia tidak dapat melihat jelas. Yang dia ketahuinya hanyalah betapa tiga orang pengawalnya itu kini lari ketakutan!

“Hik-hik-hik!” Suara ketawa ini membuat bulu tengkuk Pat-jiu Kai-ong berdiri dan dia melihat sinar-sinar menyambar ke arah tiga orang pengawal yang lari, melihat mereka roboh dan memekik, terjungkal tak bergerak lagi karena punggung mereka ditembus oleh senjata mereka masing-masing!

“Keparat jangan lari kau!” Pat-jiu Kai-ong sudah melayang turun dan tongkatnya sudah diputar-putar.

Akat tetapi bayangan itu melesat dan lenyap dari tempat itu! Pat-jiu Kai-ong menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak tampak gerakan sesuatu. Dia makin penasaran. Dihampirinya tiga orang pengawalnya. Mereka telah tewas dan hanya mereka bertiga yang tidak dicap dahinya dengan tiga buah jari tangan hitam akan tetapi kematian mereka cukup mengerikan. Tombak golok dan pedang itu menembus punggung pemilik masing-masing sampai ujungnya keluar dari hulu hati! Dan sambitan tiga buah senjata yang berlainan bentuknya itu dilakukan secara berbareng dari jarak yang cukup jauh, tepat mengenai tiga sasarannya yang sedang berlari. Hal ini saja membuktikan pula betapa hebatnya kepandaian orang aneh itu

Mendadak Pat-jiu Kai-ong tersentak kaget. Di dalam gedung! Betapa tololnya dia! Semua pengawalnya yang berjumlah dua belas orang telah tewas semua. Tentu sekarang musuh itu masuk ke dalam gedung untuk membunuh orang-orang di dalam gedung. Secepat kilat dia meloncat dan lari memasuki gedung. Benar saja, terdengar pekik susul-menyusul dan begitu melewati pintu depan, dia sudah melihat para pelayannya telah menjadi mayat dan berserakan di sana-sini. Cepat dia lari ke dalam kamarnya dan dengan mata terbelalak dia melihat lima orang selirnya telah mati semua, dahi mereka juga ada bekas tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam!

Sunyi sekali di dalam gedung itu, kesunyian yang penuh rahasia. Lu-san Lo-jin! Pat-jiu Kai-ong teringat dan dia cepat lari ke dalam tempat tahanan, hanya untuk melihat bahwa kakek itu pun telah tewas dan di dahinya terdapat pula tanda tapak tiga jari tangan dan semua lubang di muka mereka mengalirkan darah hitam! Kini dia benar-benar bingung. Jelas bahwa musuh ini bukanlah kawan Lu-san Lojin seperti yang disangkanya semula!

Makin bingunglah dia dan dia lari pula ke dalam ruangan besar di mana dia tadi makan minum dengan Lu-san Lojin dan dua anaknya, di mana dia tadi menanti datangnya musuh rahasia. Dan begitu memasuki ruangan itu, dia tertegun! Ruangan itu kini terang sekali, agaknya ada yang menambah lampu penerangan. Ketika dia melihat, benar saja bahwa di situ terdapat banyak lampu, banyak sekali karena agaknya semua lampu penerangan dibawa dan dikumpulkan di ruangan itu. Dan di atas kursinya yang tadinya ditinggalkan kosong, kini tampak duduk seorang wanita! Di depan wanita itu, juga duduk di atas kursi, tampak seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang memandangnya dengan mata penuh selidik. Wanita itu cantik, pakaiannya mewah dan indah, anak itu pun tampan dan bersih serta mewah pakaiannya. Wanita itukah yang membunuh semua orang di gedungnya? Tak mungkin agaknya. wanita itu usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, cantik dan kelihatan halus gerak-geriknya, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan dingin sekali.

“Ibu, dia inikah orangnya?” Tiba-tiba anak kecil itu bertanya, suaranya nyaring, memecahkan kesunyian yang sejak tadi mencekam.

“Benar, dialah Si Bedebah Pat-jiu Kai-ong.” Wanita itu berkata, suaranya halus akan tetapi dingin menyeramkan.

“Kalau begitu, mengapa ibu tidak lekas membunuhnya?”

Wanita itu tersenyum dan wajah yang cantik itu makin cantik, akan tetapi juga makin dingin menyeramkan, kemudian bangkit berdiri berlahan-lahan. “Kau lihat sajalah ibumu menundukan Si jembel busuk ini.”

Wanita itu ternyata bertubuh tinggi ramping dan ketika melangkah maju, tampak gerakan kedua kakinya lemah lembut. Pat-jiu Kai-ong sudah dapat menguasai hatinya dan timbul keberaniannya setelah melihat bahwa orang itu hanyalah seorang manusia biasa, wanita yang kelihatan lemah pula, bukan seorang iblis yang menyeramkan sama sekali.

“Siapakah engkau? Siapa pembunuh orang-orangku dan apa hubunganmu dengan Ratu Pulau Es yang mengancamku?”

Wanita itu kini tiba di depan Pat-jiu Kai-ong sehingga raja pengemis ini dapat mencium bau harum semerbak yang keluar dari rambut dan pakaian wanita itu. “Akulah Ratu Pulau Es, aku pula yang telah membunuh semua mahluk hidup di dalam gedungmu, semua telah kubunuh kecuali engkau, Pat-jiu Kai-ong. Aku harus membunuhmu berlahan-lahan, menyiksamu sampai puas hatiku.”

Mendengar ancaman ini, Raja Pengemis yang biasanya berhati kejam dan keras itu, menjadi berdebar juga. Akan tetapi kemarahannya melenyapkan semua rasa jerih dan dia membentak, “Perempuan sombong! Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi Pat-jiu Kai-ong?”

“Pat-jiu Kai-ong, agaknya kejahatanmu sudah begitu bertumpuk-tumpuk sehingga engkau tidak dapat mengenal korban-korbanmu lagi. Pandanglah aku baik-baik dan kumpulkan ingatanmu! Lupakah kau apa yang terjadi di kaki pegunungan Jeng-hoa-san sepuluh tahun yang lalu?”

Pat-jiu Kai-ong memandang dan terbayanglah peristiwa di Jeng-hoa-san sebelum dia naik ke puncak gunung itu untuk mencari Sin-tong. Kini dia dapat mengenal wajah ini, wajah cantik yang pernah merintih-rintih dan memohon pembebasan, namun yang dia permainkan secara kejam.

“Kau… kau… Cap-she Sin-hiap…?” Tanyanya ragu-ragu.

“Benar. Aku adalah anggauta paling muda dari Cap-sha Sin-hiap. Dua belas orang suhengku telah kaubunuh. Ingatkah sekarang kau?”

Pat-jiu Kai-ong tertawa. Hatinya lega. Kalau hanya wanita muda itu, yang telah diperkosanya dan yang hanya menjadi orang ke tiga belas dari Cap-sha Sin-hiap, perlu apa dia takut? Biar perempuan ini agaknya telah memperdalam ilmunya selama sepuluh tahun ini, akan tetapi perlu apa dia takut? “Ha-ha-ha, kiranya engkaukah ini, manis? Tentu saja aku masih ingat kepadamu, siapa bisa melupakan kenang-kenangan manis selama tiga hari itu? Ha-ha-ha, betapa mesranya!”

“Jahanam! Kematian sudah di depan mata dan kau masih berlagak? Pat-jiu Kai-ong, aku telah datang dan rasakanlah pembalasanku, aku akan membuat kau menyesal mengapa kau pernah dilahirkan ibumu!”

“Perempuan sombong, mampuslah!” Pat-jiu Kai-ong sudah menerjang dengan tongkatnya melakukan penyerangan dengan dahsyat, menusukan tongkatnya yang tentu akan menembus dada wanita itu kalau tidak depat wanita itu mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis.

“Trakk!” Tongkat itu menyeleweng dan terkejutlah Pat-jiu Kai-ong. Ternyata lawannya ini benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat dan telah memiliki sinkang yang tak boleh dipandang ringan.

Tentu saja! Wanita itu bukan lain adalah The Kwat Lin yang selama sepuluh tahun ini menjadi istri atau permaisuri Raja Pulau Es, Han Ti Ong yang sakti! Wanita ini selama sepuluh tahun telah menggembleng diri, di bawah petunjuk suaminya yang amat mencintainya. Bahkan suaminya telah menurunkan ilmu-ilmu yang khusus untuk menghadapi ilmu tongkat Pat-jiu Kai-ong dan ilmu mujijat Hiat-ciang Hoat-sut dari Raja Pengemis ini atas permintaan The Kwat Lin. Karena itu, biarpun ada sebatang pedang menepel di punggungnya, The Kwat Lin tidak menggunakan senjata melainkan ujung lengan bajunya untuk menghadapi tongkat dan memang kedua ujung lengan baju ini yang merupakan sepasang senjata yang dilatihnya khusus untuk mengatasi tongkat Raja Pengemis itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, The Kwat Lin menggunakan kesempatan selagi Han Ti Ong pergi menyerbu Pulau Neraka, untuk meninggalkan Pulau Es. Hal ini sudah bertahun-tahun dia citacitakan. Dia menjadi istri Han Ti Ong hanya karena ingin mewarisi ilmu kepandaiannya, akan tetapi setelah menjadi permaisuri, dia pun ingin memiliki pusaka Pulau Es dan benda-benda berharga lainya. Maka dia menanti kesempatan baik untuk meninggalkan pulau, tentu saja meninggalkan untuk selamanya karena pada hakekatnya dia tidak suka tinggal di pulau itu. Siapa suka tinggal di Pulau Es yang membosankan itu, jauh dari dunia ramai? Pergilah dia mengajak puteranya, Han Bu Hong, meninggalkan Pulau Es sewaktu suaminya tidak ada, membawa pusaka Pulau Es. Dengan alasan akan menyusul suaminya yang menyerbu Pulau Neraka, tidak ada seorang pun berani menghalangi kepergiannya dan akhirnya, dengan kepandaiannya yang sudah tinggi, dia berhasil mendarat.

Berbulan-bulan dia menyelidiki dan akhirnya dia dapat menemukan tempat tinggal musuh besarnya di lereng Heng-san. Dia mengajak puteranya dan setelah menyembunyikan puteranya, dia menyelidiki istana Raja Pengemis itu. Melihat Swi Liang dan Swi Nio, dia tertarik sekali, maka dia menculik mereka dan membawa mereka ke dalam hutan di mana Bu Hong menanti ibunya.

“Kalian kuselamatkan dengan maksud untuk mengangkat kalian berdua menjadi muridku” dia berkata tanpa banyak cerita lagi. “Tinggal kalian pilih, mati atau hidup. Kalau ingin mati, kalian semestinya mati karena kalian berada di gedung Pat-jiu Kai-ong. karena sekarang belum malam, maka kalian belum mestinya dibunuh dan karenanya boleh pula kukeluarkan dari sana. Kalau kalian ingin hidup harus suka menjadi muridku. Bagaimana?”

Tentu saja dua orang muda itu ingin hidup dan segera berlutut di depan calon Subo (ibu guru) mereka. “Harap subo sudi menolong Ayah kami….” kata Swi Liang.

“Kalian tinggal saja di sini menemani sute kalian ini. Tentang Ayahmu, kita lihat saja nanti.”

The Kwat Lin meninggalkan dua orang murid itu bersama puternya, kemudian mulailah dia turun tangan membunuh-bunuhi semua binatang peliharaan gedung raja Pengemis itu lalu membunuhi semua pengawal, pelayan, selir dan juga Lusan Lojin dibunuhnya karena dia sudah berjanji akan membunuh semua orang di dalam gedung itu, apalagi dia tahu bahwa kalau tidak dibunuh, kakek itu tentu akan menjadi penghalang baginya mengambil murid Swi Liang dan Swi Nio yang menarik hatinya. Akhirnya dia keluar dari gedung, menyuruh kedua orang muridnya menanti di hutan.

Akhirnya bersama puteranya, dia dapat berhadapan dengan musuh besarnya itu setelah membunuh semua orang di dalam gedung. Han Bu Ong anak laki-laki yang baru berusia sepuluh tahun itu, duduk di kursi dan menonton pertandingan dengan mata terbelalak dan jarang berkedip. Dia sama sekali tidak merasa takut atau khawatir. Dia percaya penuh kepada kelihaian ibunya dan memang sejak kecil anak ini memiliki keberanian luar biasa dan kekerasan hati yang amat aneh bagi seorang anak sebesar itu. Melihat kekejaman-kekejaman yang terjadi, dia tidak pernah merasa ngeri, bahkan merasa gembira!

Barulah hati Pat-jiu kai-ong terkejut sekali setelah selama lima puluh jurus dia mainkan tongkatnya dia tidak mampu menembus pertahanan sepasang ujung lengan baju lawannya. Bahkan lawannya terkekeh-kekeh mengejeknya dan biarpun lawannya hanya mainkan ujung lengan baju, namun ternyata tongkat yang biasanya dia andalkan itu sama sekali tidak berdaya!

“Keparat, mampuslah!” Tiba-tiba Pat-jiu Kai-ong berseru keras, disusul dengan gerengan dahsyat yang menggetarkan seluruh ruangan itu.

Han Bu Ong terplanting jatuh dari kursinya, akan tetapi bocah ini sudah duduk bersila dan mengatur pernapasan, menutup pendengaran. Ternyata sekecil itu, Bu Ong telah digembleng hebat oleh ayahnya sehingga dengan dasar latihan sinkang Inti Salju, dia kini mampu menulikan telinga dan menghadapi auman Sai-cu Ho-kang dari Pat-jiu Kai-ong! Padahal lawan yang tidak begitu kuat sinkangnya, mendengar auman Sai-cu Ho-kang yang berdasarkan Khi-kang yang amat kuat ini, sudah akan roboh.

Sementara itu, The Kwat Lin yang melihat puteranya dapat menyelamatkan diri, sudah mengeluarkan suara terkekeh-kekeh dan lawannya terkejut bukan main karena dari suara ini keluar getaran yang menghancurkan ilmunya bahkan menyerangnya dengan hebat. Terpaksa dia menghentikan auman Sai-cu Ho-kang dan mempercepat gerakan tongkatnya dengan ilmu Tongkat Pat-mo-tung-hoat (Ilmu Tongkat Delapan Iblis) yang dahsyat. The Kwat Lin memang hendak mempermainkan lawannya, maka dia hanya menangkis dan mengelak. Hal ini sengaja dilakukannya untuk memamerkan kepandaiannya dan untuk meyakinkan lawan bahwa akhirnya lawan akan roboh olehnya sehingga lawannya yang amat dibencinya itu akan ketakutan setengah mati!

Dan memang usahanya ini berhasil. Keringat dingin membasahi muka pat-jiu Kai-ong dan tahulah kake ini bahwa mengandalkan ilmu silat saja, dia tidak akan menang melawan wanita yang pernah dipermainkannya dan diperkosanya selama tiga hari tiga malam itu. Maka dia lalu mengerahkan tenaganya, menggerakan sinkang dan tiba-tiba dia memekik dan menghantamkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka. The Kwat Lin sudah menduga bahwa lawannya tentu akhirnya akan menggunakan ilmu Hiat-ciang Hoatsut ini. Dan dia sudah mendengar dari suaminya akan ilmu mujijat ini, maka dia bersikap hati-hati dan tidak berani memandang rendah. Bahkan ketika menyaksikan cahaya merah menyambar keluar, merasakan getaran mujijat dan mencium bau amis darah yang memuakan, dia terkejut sekali dan cepat dia menekuk kedua lututnya sedikit, kemudian mendorongkan telapak tangan kanannya dengan tiga buah jari tangan diluruskan. Hawa dingin meluncur keluar dari telapak tangannya menyambut hawa pukulan Hiat-ciang Hoat-sut.

“Dess!”dua benturan tenaga mujijat bertemu dan tubuh kedua orang itu tergetar hebat!

Kiranya tenaga Hiatciang Hoat-sut sudah sedemikian ampuhnya sehingga dalam benturan tenaga ini, Pat-jiu Kai-ong dapat mengimbangi tenaga The Kwat Lin. Kalau kakek itu merasa betapa tubuhnya mendadak menjadi dingin sekali, sebaliknya The Kwat Lin merasa tubuhnya panas! Namun keduanya dapat melawan hawa ini dan berkali-kali mereka mengadu tenaga sinkang lewat telapak tangan mereka .

Tiba-tiba ujung lengan baju kiri The Kwat Lin menyambar kearah ubun-ubun kepala kakek itu yang menjadi terkejut sekali dan menangkis dengan tongkatnya. Ujung lengan baju melihat dan tangan The Kwat Lin menyambar ke depan dari dalam lengan baju itu, menangkap tongkat. Pat-jiu Kai-ong cepat menghantamkan tangan kirinya lagi dengan tenaga Hiat-ciang Hoat-sut sekuatnya, mengarah kepala lawan. Namun hal ini sudah diperhitungkan oleh wanita itu yang cepat sekali menarik tongkat yang dicengkramnya menangkis.

“Krekkkk!” Tongkat raja pengemis itu hancur terkena pukulannya sendiri dan selagi dia terkejut bukan main, tahu-tahu ujung lengan baju kanan wanita itu sudah menyambar ke arah matanya! Dia berteriak kaget, miringkan kepala, akan tetapi ternyata ujung lengan baju itu tidak menyerang mata, melainkan menyeleweng ke bawah dan menotok lehernya.

“Auggghh…!” Kalau orang lain yang terkena totokan yang tepat mengenai jalan darah, tentu akan roboh dan tewas. Akan tetapi tubuh Pat-jiu Kai-ong sudah kebal, maka totokan yang kuat itu hanya membuat ia terhuyung ke belakang.

Melihat ini, The Kwat Lin tertawa terkekeh, kedua tangannya bergerak dengan cepat sekali dan biarpun raja pengemis itu sudah berusaha mati-matian membela diri, namun karena totokan pertama membuat pandangan matanya berkunang sehingga gerakannya menjadi kurang cepat, dua kali totokan lagi dan sebuah tamparan dengan tiga jari tangan yang tepat mengenai punggungnya membuat dia roboh pingsan!

Ketika dia siuman. Pat-jiu Kai-ong mendapatkan dirinya sudah rebah terlentang di atas lantai dan dia tidak mampu menggerakan kaki tangannya, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara karena selain tertotok jalan darah yang membuatnya menjadi lumpuh, juga urat ganggu di lehernya telah ditotok. Tahulah dia bahwa dia tak berdaya lagi dan nyawanya berada di tangan lawan, dan dia pun maklum bahwa wanita ini tidak akan mungkin mengampuni kesalahannya.Maka dia memejamkan mata menanti datangnya kematian.

“Bret-bret-brettt…, hi-hik! lihatlah, Bu Ong, lihat binatang ini!” Pat-jiu Kai-ong memaki dalam hatinya. Apa maunya perempuan ini? Seluruh pakaiannya direnggut lepas semua sehingga dia terlentang dalam keadaan telanjang bulat sama sekali! Karena ingin tahu, bukan karena jerih sebab seorang datuk macam Pat-jiu Kai-ong juga tidak mengenal takut, dia menggerakan pelupuk mata dan mengintai dari balik bulu matanya. Dia melihat anak laki-laki turun dari kursinya, memandanginya dan tertawa.

“Heh-heh, ibu,dia lucu sekali! Lucu dan amat buruk… eh, menjijikkan!” The Kwat Lin tertawa-tawa, kemudian sekali ujung lengan bajunya bergerak menyambar ke arah leher Patjiu Kai-ong, kakek ini terbebas dari totokan urat ganggunya dan dapat mengeluarkan suara.

“Perempuan hina, mau bunuh lekas bunuh! Aku tidak takut mati!” teriaknya marah. “Hi-hik, enak saja! Ingatkah kau betapa aku dahulupun minta-minta mati kepadamu? Tidak, engkau harus mengalami siksaan, mati sekarat demi sekarat! Bu Ong, dia inilah yang membunuh dua belas orang Supekmu secara kejam . Maukah kau membalaskan sakit hati dan kematian para Suoekmu?”

“Tentu saja! Akan kubunuh anjing tua ini!” Bu Ong sudah melangkah maju dan anak ini memandang dengan muka bengis.

“Nanti dulu, Bu Ong.Terlampau enak baginya kalau dibunuh begitu saja. Tidak, untuk setiap orang dari suhengku, dia harus menderita satu macam siksaan. Jari tangannya. Hi-hak, jari-jari tangannya berjumlah sepuluh, itu untuk sepuluh orang suheng! Dan dua buah daun telinganya itu untuk kedua suheng yang lain,” The Kwat Lin mencabut pedangnya, menyerahkan kepada puteranya sambil tertawa-tawa, kemudian dia menggerakan khikangnya, “mengirim suara” dengan ilmunya yang tinggi ini sehingga suaranya hanya terdengar oleh Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi sama sekali tidak terdengar oleh anaknya, “Pat-jiu Kai-ong , tahukah kau siapa bocah ini? Dia ini adalah puteramu! Keturunanmu! hasil kotor dari perkosaanmu atas diriku. Nah, sekarang kaulihatlah anakmu, darah dagingmu sendiri yang akan menyiksa dirimu!”

Sepasang mata Pat-jiu Kai-ong terbelalak lebar, mukanya pucat sekali. Puluhan tahun dia ingin sekali memperoleh keturunan, terutama seorang putera, akan tetapi biarpun dia sudah berganti-ganti selir sampai ratusan kali, tetap saja para selir itu tidak pernah memperoleh keturunannya. sekarang, secara tidak sengaja dia telah memperoleh seorang putera! dan puteranya itu dengan pedang di tangan menghampirinya, siap untuk menyiksanya! Tadi dia terheran melihat betapa bekas anggauta Cap-sa Sin-hiap, murid Bu-tong-pai yang terkenal gagah itu menjadi begitu keji, mengajar putera sendiri melakukan kekejaman. Kira-kira wanita itu memang sengaja hendak menyiksanya dengan menggunakan tangan keturunanya sendiri! Kiranya wanita itu juga membenci anak itu seperti juga membencinya, maka sengaja membiarkan anak itu menyiksa dan membunuh ayah sendiri!

“Anak… jangan…dengarkanlah….”

“Pratttt…!” Pat-jiu Kai-ong tidak dapat melanjutkan kata-katanya yang tadinya hendak mmperingatkan anak laki-laki itu karena urat gagunya dileher telah ditotok oleh lengan baju The Kwat Lin yang terkekeh menyeringai.

“Pat-jiu Kai-ong, begini pengecutkah engkau? Haiii… di mana kegagahanmu sebagai seorang datuk? Lihatlah baik-baikdan nikmatilah siksaan anak ini! Bu Ong, pergunakan pedang itu . Pertama buntungi kedua daun telinganya untuk Twa-supek dan Ji-supekmu!”

“Baik, Ibu!”Bu Ong lalu melangkah maju dan dua kali pedang itu berkelebat karena anak itu ternyata sudah pandai menggunakan pedang itu dan buntunglah kedua daun telinga Pat-jiu Kai-ong ! Dapat dibayangkan betapa nyeri, perih dan pedih rasa badan dan hati kakek itu. Air matanya meloncat keluar membasahi pipinya!

“Ha-ha, ibu! Lihat, dia menangis !” Anak itu bersorak dan mengambil dua buah daun telinga itu. “He-he, seperti teling babi!”

Memang Pat-jiu Kai-ong menangis! Akan tetapi bukan menangis karena rasa nyaeri dan pedih karena kedua daun telinganya buntung, melainkan nyeri di hati yang lebih hebat lagi melihat betapa anaknya sendiri yang sejak puluhan tahun yang lalu dirindukannya, kini bersorak girang melihat penderitaannya! Dia tidak takut mati, tidak takut sakit, akan tetapi melihat betapa dia menghadapi siksaan dan kematian di tangan anaknya sendiri, benar-benar merupakan tekanan batin yang hampir tak kuat dia menanggungnya .

“Teruskan,Bu Ong.Masih ada sepuluh orang Supekmu yang belum dibalaskan sakit hatinya. Jari-jari tangannya yang sepuluh itu! Perlahan-lahan saja, satu demi satu buntungkan!”

Mulailah penyiksaan yang amat mengerikan itu dilakukan oleh Bu-ong. Anak ini seolah-olah telah menjadi gila, dengan tertawa-tawa dia membuntungi semua jari tangan kakek itu satu demi satu dan setiap buntung sebuah jari, dia bersorak kegirangan. Memang sejak dapat mengerti omongan, anak ini dijejali dendam oleh ibunya, dendam terhadap Pat-jiu Kai-ong dan diceritakan betapa Pat-jiu Kai-ong telah membunuh dua belas orang suhengnya dan betapa raja pengemis itu menyiksanya dan Bu Ong kelak harus membalas dendam itu. Maka kini anak itu sama sekali tidak menaruh rasa kasihan, bahkan hatinya puas sekali dapat menyiksa kakek itu.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Pat-jiu Kai-ong. Namun dia tidak menyesali nasibnya karena dia maklum bahwa dia pun telah melakukan perbuatan sewenang-wenang atas diri The Kwat Lin sehingga pembalasan ini sudah jamak. Hanya satu hal yang membuat air matanya bercucuran adalah melihat betapa dia disiksa dan akan dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Dia menangis melihat darah dagingnya sendiri itu, yang baru berusia sepuluh tahun, telah menjadi seorang iblis cilik yang demikian kejam!

Kini The Kwat Lin membebaskan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh. Begitu kaki tangannya dapat bergerak, Pat-jiu Kai-ong meloncat dan menerkam ke arah Bu Ong dengan ke dua tangan yang sudah tak berjari lagi itu, yang berlumuran darah. Niat hatinya untuk membunuh saja anaknya itu agar kelak tidak dijadikan iblis cilik oleh ibu yang membencinya. Akan tetapi sebuah tendangan dari samping yang dilakukan oleh The Kwat Lin membuat dia terguling lagi. Rasa nyeri pada kedua ujung tangannya membuat kakek itu menggeliat-geliat.

“Mundurlah, Bu-ong. lihat sekarang ibumu yang akan turun tangan. Aku akan membalas sendiri perbuatannya kepadaku terdahulu!” The Kwat Lin menghampiri musuhnya dengan pedang di tangan. “Pat-jiu Kai-ong, ingatlah engkau akan peristiwa dahulu itu? Bayangkanlah,hi-hik, bayangkanlah betapa nikmatnya bagimu dan betapa menyiksa dan sengsaranya bagiku. Sekarang aku yang menikmati dan kau yang menderita . Sudah adil bukan? Nah, terimalah ini… ini… ini…!”

Bertubi-tubi pedang di tangan The Kwat Lin bergerak dan tubuh kakek itu bergulingan, berkelojotan karena rasa nyeri yang amat hebat ketika ujung pedang itu membabat keseluruh tubuhnya, dengan tepat sekali membabat ujung semua jari kakinya, hidungnya, dagunya. Babatan itu hanya mengenai ujung sedikit, tidak membahayakan keselamatan nyawa namun menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Seluruh tubuh kakek itu kini berlepotan darah, mukanya dipenuhi oleh kerut-merut menahan nyeri.

“Hi-hik, bagaimana? Masih kurang? Nah, rasakanlah ini!” Kembali pedang itu digerakan, kini menusuk-nusuk dan seluruh tubuhnya ditusuki ujung pedang bertubi-tubi. Ujung pedang hanya menusuk dua senti saja sehingga menembus kulit daging akan tetapi tidak membunuh dan darah keluar makin banyak lagi, rasa nyeri makin menghebat sehingga tubuh kakek itu berkelojotan seperti dalam sekarat.

“Ini yang terakhir!” The Kwat Lin berkata dan ujung pedangnya membabat ke bawah pusar. Wanita itu tertawa bergelah, tertawa puas, wajahnya yang cantik itu pucat sekali dan dia tertawa sambil berdongak ke atas. “suheng sekalian, terutama Twa-suheng, lihatlah musuhmu. Sudah puaskah kalian?”

Dan dia terisak, lalu menghampiri tubuh yang berkelojotan itu. “akan tetapi aku belum puas! kau harus tidur dalam keadaan tersiksa di antara mayat-mayat yang membusuk, selama tiga hari tiga malam!”

The Kwat Lin menengok kepada anaknya dan berkata, “Bu Ong, kautunggu di sini sebentar!”

Tubuhnya berkelebat meninggalkan ruangan itu dan dengan cepat dia telah datang menyeret mayat-mayat para pengawal, selir dan pelayan sampai ruangan itu penuh dengan mayat-mayat yang dia lemparkan ke sekeliling tubuh Pat-jiu Kai-ong yang mandi darah.  “Nah, nikmatilah sekaratmu selama tiga hari!”

The Kwat Lin lalu menggandeng tangan anaknya dan mengajak pergi meninggalkan gedung itu. Ketika mereka berdua tiba di dalam hutan di depan gedung, Swi Liang dan Swi Nio menyambut mereka dengan mata penuh harapan.

“Mana Ayah, Subo?” Swi Liang bertanya.

“Bagaimana dengan dia?” Swi Nio juga bertanya.

“Ayah kalian telah tewas….”

Dua orang muda itu mengeluh dan menangis. Swi Liang mengepal tinjunya dan berkata, “Si jahanam Patjiu Kai-ong! aku harus membalas kematian Ayah!”

“Subo, bantulah kami…” kata pula Swi Nio, “kami harus menuntut balas!”

“Heh-heh, Suheng dan Suci, tenangkanlah hati kalian. Pat-jiu Kai-ong telah di balas dan sekarang sedang sekarat di antara tumpukan mayat, he-he-heh! Wah, aku mendapat bagian pesta tadi. Akulah yang membuntungi kedua telinganya dan sepuluh jari tangannya. Menyenangkan sekali!”

Swi Liang dan Swi Nio terbelalak memandang “sute” ini. Ucapan anak itu benar-benar membuat mereka merasa serem. Memang, mendengar kematian ayah mereka yang tanpa keraguan lagi mereka yakin tentu dilakukan oleh Pat-jiu Kai-ong, mereka pun merasa sakit hati dan ingin membalas dendam. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh sute mereka menurut pengakuan anak itu, sungguh luar biasa sekali. Membuntungi kedua daun telinga dan sepuluh jari tangannya, dan perbuatan itu dianggap menyenangkan sekali dan berpesta, benar-benar membuat mereka bergidik!

“Musuhmu sedang menanti saat kematian, harap kalian tenang dan tidak memikirkannya lagi. Ayahmu telah tewas, dan kalian akan kuajak bersamaku sebagai muridku . Akulah pengganti ayah kalian.”

Swi Liang dan Swi Nio menjatuhkan diri dan berlutut di depan subo mereka sambil bercucuran air mata. “Terima kasih subo…” Kata mereka di antara tangis mereka. “Perkenankan kami mengubur jenasah Ayah” kata pula Swi Liang.

“Tidak perlu. Kita menanti di sini sampai tiga hari, setelah itu aku akan membakar gedung itu.”

Biarpun merasa heran dan kasihan kepada mayat ayah mereka, kedua orang yang sudah merasa ditolong dan dibalaskan sakit hati itu tidak membantah. Mereka tentu saja tidak tahu betapa mayat ayah mereka itu ikut pula di lempar oleh The kwat Lin di dekat tubuh Pat-jiu Kai-ong untuk ikut menyiksa musuh besar ini!

Memang Pat-jiu Kai-ong tersiksa hebat bukan main. Ketika tadi anaknya membuntungi jari-jari tangannya, dia melihat muka anaknya itu berubah-ubah menjadi muka banyak anak laki-laki yang menjadi korbannya. Puluhan, bahkan ratusan anak laki-laki yang menjadi korbannya itu seolah-olah mengeroyoknya, memaki dan mengejeknya, dan kini, setelah tubuhnya mandi darah dan rasa nyeri sampai menusuk-nusuk tulang, dia ditinggalkan di antara mayat-mayat itu. Celaka baginya, tubuhnya yang terlatih memiliki daya tahan yang amat kuat sehingga dia tidak menjadi pingsan oleh rasa nyeri itu. Kalau saja dia dapat pingsan atau mati sekali, tentu dia tidak akan menderita sehebat itu. Mayat-mayat itu mulai mengeluarkan bau yang memuakan pada hari ke dua. Bau darah yang mengering dan membusuk, ditambah rasa nyeri di sekujur tubuhnya, masih diganggu lagi oleh bayangan anak-anak yang dahulu menjadi korbanya, membuat Pat-jiu Kai-ong menangis di dalam hatinya, menyesali perbuatannya yang mengakibatkan dia mati dalam keadaan tersiksa seperti itu.

Tiga hari kemudian, The Kwat Lin muncul dan perempuan ini tertawa bergelak melihat musuh besarnya masih belum mati. Senang sekali hatinya. Dahulu, dia diperkosa dan dipermainkan di antara mayat-mayat suhengnya selama tiga hari tiga malam, dan kini dia dapat membalas secara memuaskan sekali. “Hi-hik, kau sudah puas sekarang?” ejeknya. “Nah, mampuslah kau. Pat-jiu Kai-ong!” pedangnya berkelebatan dan seluruh bagian tubuh di bawah pusar kakek itu dicincang hancur oleh pedang di tangan The Kwat Lin.

Setelah merasa puas melihat mayat musuh besarnya, barulah dia membuat api dan membakar gedung itu, lalu berlari keluar. Dengan air mata bercucuran, Swi Liang dan Swi Nio memandang nyala api yang membakar gedung, maklum bahwa mayat ayah mereka ikut terbakar.

“Ayahmu telah sempurna,” kata The Kwat Lin. “Tak perlu menangis lagi, hayo kalian ikut bersamaku. Kalau kalian rajin mempelajari ilmu, kelak kalian tidak akan mengalami penghinaan orang lagi.”

Dengan hati berat namun karena tidak ada orang lain yang mereka pandang setelah ayah mereka meninggal, dua orang muda itu terpaksa mengikuti The Kwat Lin bersama Han Bu Ong pergi meninggalkan Hen-san.

 


Bu-tong-pai adalah sebuah perkumpulan silat yang besar, merupakan sebuah di antara “partai-partai” persilatan yang terkenal. Akan tetapi pada saat itu, Bu-tong-pai sedang berkabung. Di markas perkumpulan itu yang letaknya di lereng pegunungan Bu-tong-san, dari pintu gerbang sampai rumah-rumah para tokoh dan murid kepala, tampak kibaran kain-kain putih menghias pintu, tanda bahwa Bu-tong-pai sedang berkabung. Siapakah yang meninggal dunia? Bukan lain adalah ketua Bu-tong-pai yang sudah berusia lanjut, yaitu Kiu Bhok San-jin yang meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun. Baru saja upacara penguburan selesai dilakukan oleh para anak murid Bu-tong-pai, para tamu telah meninggalkan Pegunungan Bu-tong-san, akan tetapi semua anak buah murid Bu-tong-pai masih berkumpul di sekitar kuburan baru itu. Suasana penuh pergabungan dan masih tampak beberapa orang murid yang mengusap air mata. Kui Bhok San-jin terkenal sebagai seorang ketua dan guru yang baik dan yang dicintai oleh para anak murid Bu-tong-pai.

“Suhu…!” Seruan ini membuat semua orang menengok dan tampaklah seoang wanita cantik berlari mendatangi, diikuti oleh seorang muda-mudi remaja dan seorang anak laki-laki. Wanita itu tidak menoleh ke kanan kiri, melainkan langsung berlari menghampiri kuburan baru dan menjatuhkan diri berlutut di depan batu nisan sambil menangis.

“Ahh, bukankah dia Sumoi The Kwat Lin….?” Seorang murid Kui Bhok San-jin yang usianya lima puluhan berseru.

Semua orang memandang dan kini mereka pun mengenal wanita yang berpakaian indah seperti seorang nyonya bangsawan itu. The Kwat Lin! Tentu saja mereka semua kini teringat. Bukankah The Kwat Lin merupakan seorang anak murid Bu-tong-pai yang amat terkenal, sebagai orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap yang sudah bertahun-tahun lenyap tanpa meninggalkan jejak?

“Benar, dia orang termuda dari Cap-Sha Sin-hiap!” terdengar seruan-seruan setelah mereka mengenal wanita cantik itu.

Mendengar suara-suara itu, wanita ini lalu bangkit berdiri, menyusuti air matanya, kemudian memandang kepada mereka sambil berkata, “Benar, aku adalah The Kwat Lin, orang termuda dari Cap-Sha Sin-hiap. Masih baik kalian mengenalku! Sekarang suhu telah meninggal dunia, siapakah yang akan menggantikannya sebagai ketua Bu-tong-pai?”

Para tokoh Bu-tong-pai terkejut menyaksikan sikap angkuh ini. Di antara mereka, terdapat delapan orang yang terhitung suheng-suheng dari The Kwat Lin, dan orang tertua di antara mereka adalah seorang kakek berpakaian seperti pendeta tosu. Sejak tadi kakek tosu ini mengerutkan alisnya setelah mendengar bahwa wanita itu adalah seorang muda dari Cap-sha Sin-hiap, maka kini mendengar pertanyaan Kwat Lin, dia melangkah maju dan berkata, “Sian-cai…, tak pernah pinto sangka bahwa anggauta termuda dari Cap-sha Sin-hiap akan muncul hari ini. Berarti engkau adalah murid termuda dari mendiang suheng, dan kalau engkau ingin mengetahi, pinto yang dipilih oleh anak murid Bu-tong-pai, juga telah ditunjuk oleh mendiang suheng menjadi ketua di Bu-tong-pai.”

Kwat Lin mengangkat mukanya memandang. Tosu itu bertubuh kecil sedang, dan biarpun mukanya penuh keriput, namun matanya bersinar terang dan jenggotnya yang terpelihara baik mengitari mulutnya itu masih hitam semua, demikian pula rambutnya yang diikat dan diberi tusuk konde dari perak. Pakaiannya sederhana saja, pakaian seorang pendeta To yang longgar.

“Siapakah Totiang?”

“Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu kalau seorang murid keponakan tidak mengenal susioknya sendiri. Ketahuilah bahwa pinto adalah Kui Tek Tojin, satu-satunya saudara seperguruan dari mendiang Kui Bhok San-jin.”

Kwat Lin sudah pernah mendengar nama susioknya (paman gurunya) ini, seorang tosu perantau, sute termuda dan satu-satunya yang masih hidup dari mendiang suhunya. Dia mencibirkan bibirnya yang merah dengan gaya mengejek, kemudian berkata dengan suara lantang, “Ah, kiranya Susiok Kui Tek Tojin yang menggantikan Suhu menjadi ketua Bu-tong-pai? Sungguh keputusan yang sama sekali tidak tepat! Aku tidak setuju sama sekali kalau Susiok yang menjadi ketua!”

Tosu itu membelalakan matanya dan memandang kaget, heran dan penasaran. Akan tetapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata, seorang tosu lain yang bernama Souw Cin Cu, murid tertua dari Kui Bhok San-jin, melangkah maju dan berkata, “Sumoi, apa yang kaukatakan ini? Betapa beraninya engkau mengatakan demikian! Keputusan ini tidak saja sesuai dengan petunjuk suhu, juga telah menjadi keputusan kami semua. Pula, Susiok merupakan satu-satunya saudara seperguruan mendiang Suhu, sehingga kedudukannya paling tinggi dan usianya paling tua di antara kita. Siapa lagi kalau bukan Beliau yang menggantikan Suhu menjadi ketua kita?”

“Siancai, kedatangan yang mendadak dan tak tersangka-sangka, juga pendapat yang mengejutkan. Betapapun juga, sebagai murid mendiang Suheng, dia berhak berbicara untuk kepentingan dan kebaikan Bu-tong-pai. The Kwat Lin, bukankah demikian namamu tadi? Kalau menurut pendapatmu, siapa gerangan yang patut dijadikan ketua Bu-tong-pai menggantikan Suheng yang telah tidak ada?”

“Harap maafkan aku, Susiok. Bukan sekali-kali aku memandang rendah kepada Susiok, akan tetapi penolakanku itu berdasarkan perhitungan yang matang.” Kwat Lin berkata kepada calon ketua Bu-tong-pai itu, mengejutkan dan mengherankan semua orang yang mendengar dan melihat sikap tidak menghormat dari wanita itu. “Pertama-tama sejak dahulu Susiok selalu merantau, tidak pernah memperdulikan keadaan Bu-tong-pai, apalagi Susiok adalah seorang tosu sehingga kalau Susiok yang menjadi ketua Bu-tong-pai, ada bahayanya Bu-tong-pai akan berubah menjadi perkumpulan Agama To! Berbeda sekali dengan pendirian mendiang Suhu yang bebas sehingga murid suhu pun terdiri dari bermacam-macam golongan. Selain itu, selama ini Bu-tong-pai makin kehilangan sinarnya, menjadi bahan ejekan dan bahan penghinaan orang lain.”

“Ahhhh…!” terdengar suara memprotes dari sana-sini.

Souw Cin Cu kembali berkata penasaran, “Sumoi aku benar-benar merasa heran mendengar kata-katamu dan melihat sikapmu. Sepuluh tahun engkau dan para suhengmu menghilang dan kini engkau muncul seperti seorang yang lain. Seperti langit dengan bumi bedanya antara engkau dahulu dan engkau sekarang! Sumoi, kau mengatakan bahwa Bu-tong-pai menjadi lemah dan menjadi bahan ejekan dan penghinaan orang lain. Apa artinya ini?”

“Souw Cin Cu Suheng, selama bertahun-tahun ini Cap-sha Sin-hiap telah lenyap, tahukah engkau apa yang terjadi dengan mereka?”

“Kami telah berusaha menyelidiki namun tidak dapat menemukan kalian.”

“Hemm, itulah tandanya bahwa Bu-tong-pai amat lemah, sehingga semua suhengku, tokoh-tokoh Cap-sha Sin-hiap, dibunuh orang tanpa diketahui oleh Bu-tong-pai!”

Semua orang terkejut sekali mendengar bahwa dua belas orang dari Cap-sha Sin-hiap telah dibunuh orang!

“Siapa yang membunuh mereka?” Souw Cin Cu bertanya dengan suara marah sekali. Hati siapa yang takkan menjadi panas dan marah mendengar bahwa dua belas orang saudara seperguruannya dibunuh orang?”

“Hemm, terlambat sudah! Dua belas orang Suheng dibunuh oleh Pat-jiu Kai-ong ketua Pat-jiu Kai-pang di Heng-san.”

“Ohhh…!” kini Kui Tek Tojin berseru kaget, “Pat-jiu Kai-ong…?? Mengapa…??”

Kwat Lin tersenyum mengejek. “Ahhh, tentu Susiok pernah mendengar nama besarnya dan menjadi gentar, bukan? Memang dialah datuk sesat yang terkenal itu, yang telah membunuh dua belas orang Suhengnya. dan peristiwa itu berlalu begitu saja! Tiga belas orang tokoh Bu-tong-pai mengalami penghinaan, dan Butong- pai sendiri diam saja. Apalagi berusaha membalas dendam, bahkan tahupun tidak akan peristiwa itu! Ini tandanya bahwa Bu-tong-pai lemah! Kini Bu-tong-pai hendak diketuai oleh Susiok, apakah akan dijadikan markas kaum pendeta Tosu dan menjadi makin lemah lagi? Aku sendirilah yang harus turun tangan membunuh musuh-musuh besar kami, membunuh Pat-jiu Kai-ong dan membasmi Pat-jiu Kai-pang di Heng-san. Melihat kelemahan Bu-tong-pai, aku tidak setuju kalau mendiang Suhu digantikan kedudukannya oleh Susiok Kui Tek To-jin harus diganti oleh orang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat memajukan dan memperkuat Bu-tong-pai, barulah tepat!”

Kwat Lin bicara penuh semangat, mukanya yang cantik dan berkulit halus itu kemerahan, sepasang matanya bersinar-sinar dan dengan tajamnya menyapu wajah semua anak murid Bu-tong-pai yang hadir di situ. Pandang mata bekas orang termuda Cap-sha Sin-hiap ini membuat banyak anak murid Butong- pai merasa gentar dan mereka hanya menunduk untuk menghindarkan pandang mata Kwat Lin. Akan tetapi, delapan orang suheng dari Kwat Lin memandang dengan marah dan penasaran. Adapun Kui Tek Tojin hanya tersenyum dan mengelus jenggotnya sambil mengangguk-angguk, matanya memandang wajah wanita itu penuh selidik.

“The Kwat Lin, omonganmu penuh semangat terhadap kedudukan Bu-tong-pai. Andaikata benar semua kata-katamu itu, habis siapakah yang kaupandang tepat untuk menjadi ketua Bu-tong-pai?” Kui Tek Tojin berkata lagi dengan sikap tenang.

“Untuk waktu ini, kiranya tidak ada orang lain lagi dari Bu-tong-pai kecuali aku sendiri!”

Kini benar-benar terkejut dan terheran-heranlah semua anak murid Bu-tong-pai yang berada di situ. Begitu beraninya wanita ini. Biarpun tak dapat disangkal lagi bahwa The Kwat Lin merupakan murid utama pula dari mendiang Bhok Sanjin dan orang termuda Cap-sha Sin-hiap, akan tetapi pada waktu itu dia bukanlah orang yang memiliki tingkat tertinggi di Bu-tong-pai. Sama sekali bukan! Di atas dia masih ada delapan orang suhengnya, murid-murid Kui Bhok San-jin yang lebih tua, dan lebih lagi di situ masih ada Kui Tek Tojin yang tentu saja memiliki tingkat jauh lebih tinggi karen tosu ini adalah paman gurunya!

“Murid Murtad!!” Tiba-tiba Souw Cin Cu membentak garang dan meloncat maju, diikuti pula oleh sutesutenya. Telunjuk kirinya menuding ke arah muka The Kwat Lin. “The Kwat Lin, engkau sungguh tidak patut menjadi murid Bu-tong-pai! Kiranya engkau menghilang sepuluh tahun hanya untuk pulang sebagai iblis wanita yang murtad terhadap perguruanya sendiri. Dan kami berkewajiban untuk mengajar seorang murid murtad!”

Sambil berkata demikian, Souw Cin Cu menerjang ke depan dengan dahsyat. Souw Cin Cu merupakan murid pertama atau paling tua dari Kui Bhok San-jin. sungguhpun tidak dapat dikatakan bahwa dia memiliki tingkat ilmu silat paling tinggi, akan tetapi setidaknya tingkatnya sejajar dengan orang-orang tertua dari Cap-sha Sin-hiap dan sebenarnya masih lebih tinggi setingkat jika dibandingkan dengan ilmu kepandaian The Kwat Lin ketika masih menjadi orang termuda Cap-sha Sin-hiap dahulu.

Akan tetapi, Kwat Lin sekarang sama sekali tidak bisa disamakan dengan Kwat Lin sepuluh tahun yang lalu. Dia telah mewarisi ilmu, silat ilmu silat tinggi dan mujijat dari Pulau Es! Tingkatnya sudah tinggi sekali dan dengan tenang saja dia memandang ketika suhengnya itu menerjangnya. Apalagi karena dia mengenal benar jurus yang dipergunakan oleh suhengnya, jurus dari ilmu silat Ngo-heng-kun.

Ketika tangan kiri Souw Cin Cu mencengkeram ke arah lehernya dan tangan kanan tosu itu menampar pelipis, dia diam saja seolah-olah dia hendak menerima dua serangan ini tanpa melawan. Akan tetapi setelah hawa sambaran pukulan itu sudah terasa olehnya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak dari bawah ke atas.

“Plak-plak-plak!!” Kedua lengan Souw Cin Cu telah terpental, bahkan tubuh tosu ini terpelanting ketika tangan Kwat Lin yang tadi sekaligus menangkis kedua lengan itu melanjutkan gerakannya dengan tamparan pada pundaknya. Tamparan yang perlahan saja, akan tetapi sudah cukup murid pertama mendiang Kui Bhok San-jin terpelanting!

Diam-diam Kui Tek Tojin terkejut heran menyaksikan gerakan tangan wanita itu, gerakan yang amat cepat dan aneh, gerakan yang sama sekali tidak dikenalnya dan tentu saja bukan jurus ilmu silat Butong- pai! Akan tetapi tujuh orang sute dari Suow Cin Cu sudah menjadi marah dan tanpa dikomando lagi mereka menerjang maju. Akan tetapi The Kwat Lin tertawa, tubuhnya bergerak sedemikian cepatnya dan berturut-turut tujuh orang ini pun terguling roboh di dekat Suow Cin Cu!

Mereka sendiri tidak tahu bagaimana mereka dirobohkan, akan tetapi tahu-tahu terpelanting dan bagian yang tertampar tangan Kwat Lin, biarpun tidak sampai patah tulang, akan tetapi amat nyeri. Padahal tamparan itu perlahan saja. Bagaimana andaikata wanita itu menampar dengan pengerahan tenaga sekuatnya, sukar dibayangkan akibatnya. Betapapun juga, delapan orang murid utama dari Bu-tong-pai ini tentu saja tidak sudi menyerah begitu mudah dan mereka sudah meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing!

“Ibu, mengapa tidak dibunuh saja tikus-tikus menjemukan ini?” Tiba-tiba Bu Ong berteriak. Anak ini sudah bertolak pinggang dan memandang marah kepada para pengeroyok ibunya. Kalau saja tangannya tidak dipegang erat-erat oleh Swi Liang dan Swi Nio, suheng dan sucinya, tentu dia sudah menerjang maju membantu ibunya. Akan tetapi memang sebelumnya, Swi Liang dan Swi Nio sudah dipesan oleh subo mereka untuk menjaga Bu Ong, dan terutama sekali mencegah bocah ini mencampuri urusannya dengan orang-orang Bu-tong-pai.

Kwat Lin tersenyum mengejek melihat delapan orang suhengnya itu mengeluarkan senjata. “Hemmm, apakah kalian ini sudah buta? Apakah para suheng tidak melihat bahwa tingkat kepandaianku jauh melebihi kalian, dan bahkan andaikata Suhu masih hidup, beliau sendiri tidak akan mampu menandingi aku.”

“Keparat…!” Souw Cin Cu dan tujuh orang sutenya menerjang maju.

Akan tetapi tiba-tiba Kui Tek Tojin berseru, “Tahan senjata! Mundur kalian!”

Mendengar teriakan ini, delapan orang ini serentak mundur mentaati perintah calon ketua mereka. Kui Tek Tojin melangkah maju menghampiri wanita yang tersenyum-senyum itu. “Siancai… kiranya engkau telah memiliki kepandaian tinggi maka berani menentang Bu-tong-pai! The kwat Lin, selama ini engkau telah mempelajari ilmu silat dari luar Bu-tong-pai, tidak tahu dari perguruan manakah?”

“Memang benar dugaanmu, Susiok, akan tetapi tidak perlu aku menceritakan kepada siapapun juga.”

“Hei, tosu bau! Ibu adalah Ratu dari Pulau Es, tahukah engkau?”

“Bu Ong…!” Kwat Lin membentak puteranya, akan tetapi anak itu sudah terlanjur bicara dan bukan main kagetnya Kui Tek Tojin dan para anak murid Bu-tong-pai mendengar ini. Pulau Es hanya disebut-sebut dalam dongeng saja, dan memang nama besar tokoh Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es amat terkenal di dunia kang-ouw.

Timbul keraguan di dalam hati Kui Tek Tojin, akan tetapi karena wanita di hadapannya itu juga merupakan anak murid Bu-tong-pai, maka dia menekan perasaannya dan berkata, “The Kwat Lin, kalau engkau masih mengaku sebagai murid Bu-tong-pai, betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, engkau harus tunduk kepada pimpinan Bu-tong-pai. Sebaliknya, kalau engkau sudah mempelajari ilmu silat dari golongan lain dan tidak lagi merasa sebagai orang Bu-tong-pai, engkau tidak berhak mencampuri urusan dalam dari Bu-tong-pai.”

Kwat Lin tersenyum mengejek. ” Susiok, tidak perlu kupungkiri lagi bahwa aku telah membelajari ilmu silat dari golongan lain dan tingkat kepandaianku menjadi jauh lebih tinggi daripada semua tokoh Butong- pai. Akan tetapi aku bukan saja masih mengaku orang Bu-tong-pai, bahkan ingin memimpin Bu-tongpai menjadi perkumpulan terkuat di dunia. Akan kuperbaiki dan kupertinggi mutu ilmu silat Bu-tong-pai agar tidak ada lagi golongan lain yang berani memandang rendah Bu-tong-pai, apalagi menghina anak murid Bu-tong-pai seperti yang terjadi kepada Cap-sha Sin-hiap sepuluh tahun yang lalu.”

“Hemm, kalau begitu, pinto sebagai calon ketua Bu-tong-pai, terpaksa melarang dan menentang kehendakmu, The Kwat Lin.”

“Dengan cara bagaimana kau hendak menentangku, Susiok?”

“Dengan mempertaruhkan nyawaku. Kehormatan Bu-tong-pai lebih penting dari pada nyawa seorang ketuanya. Majulah dan mari kita putuskan persoalan ini dengan kepandaian kita .”

The Kwat Lin tersenyum. “Susiok, betapapun mudahnya bagiku membunuhmu, membunuh para suheng dan membunuh semua orang yang menentangku. Akan tetapi, aku bahkan ingin menolong kalian, ingin mengangkat nama Bu-tong-pai, maka biarlah aku hanya akan mengalahkan Susiok tanpa membunuhmu.”

Ucapan ini malah merupakan penghinaan yang luar biasa sekali, karena mengalahkan lawan tanpa membunuhnya merupakan hal yang amat sukar dan hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari lawannya! Merah muka tosu tua itu. Dia dipandang rendah oleh murid keponakannya sendiri! Bukan hanya itu saja. Dia sebagai orang tertua dari Bu-tong-pai, sebagai calon ketua Bu-tong-pai, dihina oleh seorang anggauta muda Bu-tong-pai! Oleh karena itu, tosu tua ini mengambil keputusan untuk mengadu nyawa dengan wanita yang kini dipandangnya bukan sebagai anggauta Bu-tong-pai lagi, melainkan sebagai seorang musuh yang hendak mengacau Bu-tong-pai.

“The Kwat Lin sebagai seorang ketua Bu-tong-pai, pinto menyediakan nyawa untuk mempertahankan kehormatan Bu-tong-pai terhadap siapapun juga , dan saat ini pinto akan mempertahankannya terhadap engkau! Majulah!” sambil berkata demikian tosu tua berjenggot lebat ini meloncat ke depan, tongkatnya di tangan kanan dan ujung lengan bajunya melambai panjang.

Kwat Lin mengenal tongkat itu. Tongkat kayu cendana yang harum dan menghitam saking tuanya, tongkat yang menjadi tongkat pusaka para ketua Bu-tong-pai sejak dahulu. Dia maklum pula bahwa tongkat itu hanya sebagai lambang kedudukan ketua belaka, namun dalam hal ilmu silat bersenjata, ujung lengan baju kakek itu jauh lebih barbahaya dari pada tongkatnya. Dia dapat menduga bahwa tentu kakek ini sudah memiliki tingkat tertinggi dari Bu-tong-pai, dan telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga kedua ujung lengan bajunya dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh yang dapat menghadapi senjata apapun juga dari lawan, dapat dibikin kaku keras seperti besi dan lemas seperti ujung cambuk yang dapat melakukan totokan-totokan maut keseluruh jalan darah di tubuh lawan!

Karena itu, dia tidak berani memandang rendah, cepat dia mengeluarkan pekik melengking, dan tubuhnya sudah bergerak maju, tangan kananya melakukan pukulan dorongan dengan telapak tangan sambil mengerahkan tenaga sinkang Swat-im Sin-jiu. Hawa yang amat dingin menghembus ke depan menyerang kakek itu. Swat-im Sin-jiu adalah tenaga dalam inti salju yang dilatihnya di Pulau Es, kekuatannya dahsyat bukan main karena hawa yang menyambar ini mengandung tenaga sakti yang mendatangkan rasa dingin.

“Siancai…!!” Tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa hawa yang menyambar dari depan amat dinginnya, membuat tangannya ketika mendorong kembali terasa membeku. Maka dia lalu mengerakan tongkat di tangan kanannya, mengambil keuntungan dari ukuran tongkat yang panjang, menghantam ke arah kepala wanita itu dari samping.

“Wuuuuttt… plakkkk!” Dengan berani sekali Swat Lin menggunakan tangan kiri yang dibuka untuk memapaki sambaran tongkat dari samping, terus mencengkram tongkat itu dan mengerahkan sinkang, menyalurkannya lewat getaran tongkat dan kembali tosu itu berseru kaget ketika merasa betapa lengan kanannya yang memegang tongkat terasa dingin dan lumpuh! Kesempatan baik ini, dalam satu detik pada saat lawan masih terkejut dan belum sempat mengerahkan sinkang, dipergunakan oleh Kwat Lin dengan jalan menarik ke bawah, bergulingan ke depan dan menghantam ke arah lawan dengan tangan kananya, kini menggerakan tenaga sinkang yang berhawa panas!

“Ouhhh…!” Kui Tek Tojin berteriak, cepat meloncat ke belakang dan tentu saja tongkatnya dapat dirampas. Dia tadi sudah mengerahkan sinkang melawan getaran melalui tongkat, dengan niat merampasnya kembali, akan tetapi pukulan lawannya dari bawah yang ditangkis dengan tangan kanan, ternyata luar biasa kuat dan panasnya, mengejutkannya karena perubahan sinkang yang berlawanan itu tidak disangka-sangkanya, maka untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia meloncat ke belakang dan mengorbankan tongkatnya.

Kwat Lin sudah melompat kebelakang pula, memegang tongkat itu dengan kedua tangan di atas kepala sambil tertawa dan berkata, “Hi-hik, tongkat pusaka telah berada di tanganku, berarti akulah ketua Bu-tong-pai!

“Kembalikan tongkat!” Kui Tek Tojin berteriak marah dan kedua lengannya bergerak ketika tubuhnya menerjang maju. Dengan amat cepatnya kedua ujung lengan bajunya bergerak seperti kilat menyambar-nyambar dan dalam segebrakan itu, Kwat Lin telah dihujani sembilan kali totokan yang amat berbahaya! Sukarlah membebaskan diri dari ancaman totokan yang hebat ini dan andaikata Kwat lin bukan seorang pewaris ilmu-ilmu dari Pulau Es, tidak mungkin dia dapat menghindarkan diri lagi. Dia menggunakan ginkangnya berloncatan menghindar, akan tetapi sebuah totokan yang meleset masih mengenai pergelangan tangannya, membuat tongkat pusaka itu terlepas dari peganganya! Kwat Lin menjerit marah, pedangnya sudah dicabutnya, yaitu pedang Ang-bwe-kiam dan tampak sinar merah berkeredepan dan menyambar-nyambar dahsyat.

“Bret-brettttt…!!” Kui Tek Tojin berteriak kaget, meloncat mundur dan ternyata bahwa ujung lengan bajunya telah terbabat buntung oleh pedang di tangan Kwat Lin, dan sekarang wanita itu telah mengambil lagi tongkat pusaka yang tadi terpaksa dilepaskan oleh tangannya yang tertotok.

“Susiok! Dan kalian para suheng semua! Kalau kalian mendesak, terpaksa aku akan mematahkan tongkat pusaka ini kemudian membunuh kalian dan merampas Bu-tong-pai dengan kekerasan!” Dia mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi. “Aku hanya menuntut hak seorang murid Bu-tong-pai yang memiliki tingkat tinggi dan memegang tongkat wasiat itu, hak menjadi ketua dengan niat untuk mempertinggi tingkat Butong- pai!”

Delapan orang suheng itu masih penasaran dan mereka hendak menyerbu ke depan, akan tetapi Kui Tek Tojin mengangkat tangan ke atas dan berkata, “Mundurlah kalian. Dia benar, kita tidak boleh melawan pemegang tongkat pusaka!”

Kemudian dia berkata kepada Kwat Lin, “Baiklah, melihat tongkat pusaka di tanganmu, kami tidak akan melawan. Akan tetapi, betapapun juga kami tidak dapat menerima engkau menjadi ketua kami dan kami harap engkau tidak memaksa anak murid Bu-tong-pai yang tidak mau tunduk kepadamu dan meninggalkan tempat ini.”

Kwat Lin tersenyum. Memang bukan kehendaknya untuk memusuhi anak murid Bu-tong-pai. Dia tidak membenci Bu-tong-pai, melainkan hendak mencarikan kemuliaan bagi puteranya dengan perantaraan sebuah perkumpulan besar dan dia akan mengusahakan agar Bu-tong-pai menjadi sebuah perkumpulan yang paling kuat dan paling besar. “Terserah kepadamu, Susiok.”

Dia lalu memandang ke sekeliling, kepada para anak murid Bu-tong-pai, “Haiii, semua anggauta dan murid Bu-tong-pai, dengar lah baik-baik! Betapapun juga aku adalah murid Bu-tong-pai sejak kecil, dan di dalam sepak terjang Cap-sha Sin-hiap, kalian juga sudah tahu betapa aku dan para suheng telah menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai dan aku ingin menyebarkan ilmuku kepada kalian semua agar kalian menjadi orang-orang yang lihai dan Bu-tong-pai menjadi perkumpulan yang paling kuat di dunia ini. Terserah kepada kalian apakah hendak besetia kepada nama Bu-tong-pai dan menjadi murid-muridku, ataukah hendak bersetia kepada tosu Kui Tek Tojin dan delapan orang suhengku ini yang hendak membelakangi Bu-tong-pai!”

Berisiklah keadaan di situ setelah Kwat Lin mengeluarkan kata-kata ini. Para anak murid Bu-tong-pai saling bicara sendiri, saling berbantahan dan akhirnya hanya ada dua puluh orang termasuk Kui Tek Tojin yang meninggalkan tempat itu, menuruni bukit dan memasuki sebuah hutan di kaki bukit yang dipilih oleh Kui Tek Tojin untuk menjadi tempat tinggal mereka sementara waktu sambil menanti perkembangan selanjutnya. Sisanya semua suka mengangkat Kwat Lin menjadi ketua mereka setelah mereka tadi menyaksikan betapa lihainya Kwat Lin dan mereka semua ingin memperoleh bagian pelajaran ilmu silat yang tinggi.

Demikianlah, mulai hari itu, The Kwat Lin menjadi ketua yang baru dari Bu-tong-pai yang dipimpinnya dengan gaya dan bentuk yang baru pula. Dengan harta benda berupa emas permata yang amat mahal, yang didapatkan dan dilarikannya dari Pulau Es, dia membangun markas Bu-tong-pai menjadi bangunan yang megah, mewar dan kuat. Bahkan dalam keinginan hatinya untuk lekas-lekas melihat Butong- pai menjadi perkumpulan yang kuat dan banyak anggautanya, dia menerima anggauta-anggauta baru. Anggauta baru diterima dari golongan apapun juga, syaratnya hanya satu bahwa mereka itu haruslah memiliki kepandaian yang sampai pada tingkat tertentu, dan bersumpah setia sampai mati kepada Bu-tongpai.

Karena mendengar bahwa ketua Bu-tong-pai yang baru adalah seorang wanita yang cantik yang memiliki kesaktian hebat, juga amat kaya raya, maka banyaklah orang-orang kang-ouw dan golongan kaum sesat yang tadinya hidup sebagai perampok dan bajak-bajak yang tidak tertentu penghasilanya, berdatanganlah dan masuk menjadi anggauta Bu-tong-pai!

Mulai pulalah The Kwat Lin mengatur dan merencanakan cita-citanya untuk puteranya. Dengan kerja sama antara dia dan para anggauta baru yang berpengalaman mulailah dia diam-diam mengadakan kontak dan mencari kesempatan untuk menghubungi para pembesar tinggi yang merupakan kekuatan rahasia untuk membrontak terhadap kaisar. Inilah cita-cita The Kwat Lin. Dia pernah menjadi ratu, menjadi istri seorang raja, biarpun hanya raja kecil yang menguasai Kerajaan Pulau Es, karena itu, dia menganggap bahwa puteranya, Han Bu-ong, adalah seorang pangeran! Seorang pangeran haruslah bercita-cita menjadi raja. Bukan raja kecil yang hanya menguasai sebuah pulau, melainkan raja besar! Dan satu-satunya jalan untuk dapat mencapai ini, hanyalah menggulingkan kaisar sehingga kelak ada kesempatan bagi puteranya untuk menjadi kaisar! Tentu saja untuk membrontak sendiri dengan mengandalkan kekuatanBu-tong-pai merupakan hal yang tak masuk diakal dan hanya merupakan bunuh diri, maka dia mencari kesempatan mengadakan kontak dengan para pembesar tinggi yang berambisi seperti dia sehingga mungkin bagi mereka untuk menggunakan bala tentara yang dapat dikuasai untuk mencapai cita-cita mereka itu.

Memang sesungguhnyalah bahwa kemuliaan duniawai atau alam benda merupakan keadaan yang amat berbahaya. Tak dapat disangkal pula bahwa hidup memang memerlukan kebendaan sebagai pelengkap dan pelangsung hidup, dan amat baiklah kalau orang dapat menggunakan keduniawian itu pada tempat sebenarnya. Akan tetapi, akan celakalah dan hanya akan menimbulkan malapetaka bagi diri sendiri dan bagi orang lain kalau manusia sudah dikuasai oleh duniawi yang merupakan harta benda, kedudukan, nama besar, kepandaian dan lain-lain sebagainya. Alam kebendaan ini mempunyai sifat seperti arak. Diminum dengan kesadaran dan pengertian akan menjadi obat, tapi di lain saat dalam keadaan lalai akan menjadi minuman yang memabokan. Dan sekali orang mabok oleh duniawi, akan timbullah perbuatan sombong, sewenang-wenang, dan lupa segala. yang ada hanyalah keinginan memenuhi segala kehendaknya dengan cara apapun juga tanpa mengharamkan dengan segala cara.

Demikian pula terjadi dengan The Kwat lin. Dahulu, belasan tahun yang lalu, The Kwat Lin merupaka seorang pendekar wanita yang gagah perkasa menentang kejahatan yang gigih sehingga namanya bersama dua belas orang suhengnya sebagai Cap-sha Sin-hiap amatlah terkenal. Akan tetapi setelah malapetaka menimpa Cap-sha Sin-hiap, dendam menaburkan bibit yang merobah seluruh pandangan hidupnya. Setelah dia berhasil membalas dendam secara keji dan kejam sekali, bibit itu masih berkembang biak dan merobah sifat, dari dendam kepada pengejaran kemuliaan yang tanpa batas.

 


Sudah terlalu lama kita meninggalkan Han Swat Hong. puteri dari Raja Han Ti Ong dan sebaiknya kita mengikuti pengalamanya agar tidak tertinggal terlampau jauh. Seperti kita ketahui, Swat Hong yang berwatak keras itu marah-marah ketika melihat betapa Sin Liong menolong seekor biruang dan tidak mempedulikan dia.Dianggapnya Sin Liong sengaja mencari-cari alasan untuk menghambat perjalanan, padahal dia ingin sekali segera mencari dan menemukan ibunya yang tidak ia diketahui kemana perginya dan bagaimana nasibnya setelah badai yang amat dahsyat mengamuk disekitar lautan itu. Akan tetapi tentu saja bukan dengan hati yang sesungguhnya dia hendak meninggalkan Sin Liong di pulau kosong itu, melainkan hanya untuk sekedar menunjukan kemarahan hatinya saja. Karena itu setelah perahunya jauh meninggalkan pulau itu sehingga pulau dimana Sin Liong mengobati biruang itu tidak nampak lagi, dara itu memutar lagi perahunya dan hendak kembali kepada Sin Liong. Sudah dibayangkannya betapa Sin Liong yang selalu sabar dan selalu mengalah kepadanya itu akan minta maaf dan menyatakan penyesalan hatinya, dan dia yang akan memaafkannya! Saat – saat seperti itu mendatangkan keharuan, kebanggan dan kemenangan di dalam hatinya.

Betapa bingung dan kagetnya ketika kemudian dia mendapat kenyataan bahwa dia tersesat jalan dan tidak tahu lagi dimana dia meninggalkan Sin Liong tadi! Demikian banyaknya pulau yang sama bentuknya di lautan itu, banyak sekali bongkahan es yang datang dan pergi seperti hidup saja! Setelah berputar putar tanpa hasil dan yakin bahwa dia berada makin jauh dari tempat dimana Sin Liong berada, setelah berteriak – teriak memanggil dengan pengerahan khikang tanpa ada jawabannya dan memutar perahu keluardari daerah penuh pulau kecil yang membingungkan itu. Biarlah, dia akan pergi saja melanjutkan perjalanan seorang diri mencari ibunya. Dia merasa yakin bahwa suhengnya itu tentu akan dapat menyelamatkan diri. Suhengnya memiliki ilmu kepandaian yg amat tinggi.

Swat Hong tidak tahu bahwa perahunya menuju ke selatan, bukan menuju ke daerah Pulau Es lagi. Namun karena maksudnya untuk mencari ibunya, dara ini seolah – olah berlayar tanpa tujuan dan membiarkan saja kemana perahu yang terdorong angin itu membawanya. Pada suatu hari , tampaklah olehnya garis hitam di sebelah kanan, masih jauh sekali, akan tetapi dengan girang dia dapat mengenal bahwa garis hitam yang amat panjang membujur dari kanan kiri itu adalah sebuah daratan yang agaknya tiada bertepi. Itulah daratan besar, pikirnya dengan girang dan dia segera membelokan perahunya menuju ke garis hitam itu.

Ketika perahunya sudah tiba di dekat pantai yang sunyi, dia melihat ada sebuah perahu lain yang meluncur cepat dari sebelah kirinya. Perahu kecil dan yang berada di perahu itu seorang laki-laki muda yang kelihatannya gagah dan tampan. Pemuda itu pun memandang kepadanya sehingga dua pasang mata saling pandang sejenak. Akan tetapi Swat Hong membuang muka dan tidak mempedulikan orang yang tidak dikenalnya itu, terus saja mendayung perahunya ke tepi.

Begitu perahunya mendekati daratan, dia lalu meloncat ke daratan, tidak menghiraukan perahunya lagi. Memang dia tidak berpikir untuk kembali ke tempat itu dan berperahu lagi. Untuk apa berlayar? Pulau Es sudah kosong. Dia akan mencari ibunya di daratan besar, karena kalau ibunya berada di suatu pulau, agaknya tentu tidak akan dapat terlepas dari amukan badai yang dahsyat itu. Kalau ibu berada di daratan besar , dan ini mungkin saja terjadi, barulah ada harapan bahwa ibunya masih hidup dapat bertemu dengannya. Andaikata tidak, dia pun akan merantau di daratan besar, tidak kembali kelaut. Dan dia tahu bahwa demikian pula agaknya pendapat suhengnya karena sebelum berpisah mereka sudah membicarakan hal ini berkali-kali. Nenek moyangnya yang selama ini menjadi raja di Pulau Es juga berhasal dari daratan besar! Setelah kini Kerajaan Pulau Es terbasmi badai dan tidak ada lagi, sepatutnya kalau dia sebagai ahli waris satu-satunya kembali pula ke daratan besar!

“Heiii… Nona! Tunggu…!!” Swat Hong mengerutkan alisnya dan berhenti melangkahkan kakinya, membalik dan melihat betapa pemuda yang berada di dalam perahu tadi sudah menambatkan perahunya dan juga perahu yang ditinggalkanya meloncat tadi, di pantai. Kini pemuda itu berlari mengejarnya.

“Mau apa engkau mengejar dan memanggil aku?” Swat Hong bertanya, matanya memandang penuh selidik.

Pemuda itu usianya tentu hanya lebih tua dua tiga tahun darinya, seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah, yang perawakanya tinggi besar dan matanya menyorotkan kejujuran dan membayangkan kekerasan dan keberanian. Kedua lengan yang tampak tersembul keluar dari lengan baju pendek itu kekar berotot membayangkan tenaga yang hebat, juga bajunya yang terbuat dari kain tipis membayangkan dada yang bidang, terhias sedikit rambut, berotot dan kuat sekali. Melihat bahan pakaiannya dapat di duga bahwa pemuda ini seorang yang beruang, namun melihat dari keadaan tubuhnya dan kaki tangannya, agaknya dia biasa dengan pekerjaan berat. Seorang petani atau seorang nelayan, pikir Swat Hong, kagum juga memandang tubuh yang kokoh kuat itu.

Pemuda itu tersenyum. Senyumnya lebar memperlihatkan deretan gigi yang kokoh kuat pula, senyum terbuka seorang yang berwatak jujur dan bersahaja. Akan tetapi sikapnya ketika mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan, membuktikan bahwa dia pernah”makan sekolahan” alias terpelajar, terbukti pula dari kata-katanya yang biarpun ringkas dan singkat akan tetapi tetap sopan.

“Maafkanlah, Nona meninggalkan perahu begitu saja, aku merasa sayang dan membantu meminggirkannya. Melihat gerakan Nona ketika meloncat, jelas bahwa Nona berkepandaian tinggi. Aku ingin sekali belajar kenal.”

Swat Hong mengerutkan alisnya. Hatinya sedang tidak senang, karena selain kegagalannya mencari ibu, juga perpisahanya dengan Sin Liong setidaknya mendatangkan rasa gelisah di hatinya. Kini ada pemuda yang amat lancang ingin “belajar kenal”, sungguh menggemaskan.

“Aku tidak membutuhkan perahu itu lagi, dan aku tidak peduli apakah kau meminggirkannya atau hendak memilikinya, aku tidak minta bantuanmu. Tentang belajar kenal biasanya hanya pedang, kepalan tangan dan tendangan kaki saja yang mau belajar kenal dengan orang asing lancang!”

Sepasang mata lebar itu terbelalak seolah-olah memandang sesuatu yang amat aneh, namun membayangkan kekaguman yang luar biasa. Dan memang, di luar dugaan Swat Hong sendiri, sikap dan kata-katanya tadi mendatangkan rasa kagum yang amat besar di dalam hati pemuda ini. Telah menjadi ciri khas pemuda ini yang mengagumi sikap orang yang terbuka, jujur, kasar dan tanpa pura-pura seperti sikap Swat Hong yang baru saja diperlihatkan.

“Ha-ha-ha-ha!” Pemuda itu tertawa bergelak dan kedua matanya menjadi basah oleh air mata. Ini pun ciri khasnya. Kalau dia tertawa, air matanya keluar seperti orang menangis. Dengan punggung tangannya yang besar dan berotot dia menghapus air matanya. “Nona hebat sekali! Ha-ha-ha , aku Kwee Lun selama hidupku baru sekarang ini bertemu dengan seorang nona yang begini hebat! Diantara seribu orang gadis, belum tentu ada satu! Nona, kalau sudi, perkenalkanlah aku Swee Lin, biarpun jelek dan kasar bukanlah tidak terkenal. Ayahku adalah seorang pelaut biasa dan sudah meninggal, demikian pula Ibuku. Aku anak pelaut akan tetapi sejak kecil aku sudah ikut kepada guruku. Guruku inilah yang terkenal. Guruku adalah Lam Hai Sen-jin, pertapa yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kami berdua tinggal di Pulau Kura-kura di laut selatan.”

Melihat sikap terbuka ini, geli juga hati Swat Hong. Kini dia melihat jelas bahwa pemuda ini sama sekali tidak kurang ajar. Kasar memang, akan tetapi kekasaran yang memang menjadi wataknya yang terbuka. Orang macam ini baik dijadikan sahabat, pikirnya. Akan tetapi harus dibuktikan dulu apakah pemuda ini pantas menjadi sahabatnya, sungguhpun menurut pengakuannya dia murid seorang pertapa yang namanya terkenal di dunia kang-ouw! Swat Hong tersenyum. “Aihh, engkau lebih pantas menjadi seorang penjual jamu! Setelah engkau memperkenalkan semua nenek moyangmu kepadaku, dengan maksud apakah engkau seorang pria minta perkenalan dengan seorang wanita?”

Kwee Lun mengerutkan alisnya yang sangat lebat seperti dua buah sikat ditaruh melintang di dahinya itu, dan dia menggeleng-geleng kepalanya. “Memang, sebelum aku berangkat merantau, suhu berpesan dengan sungguh bahwa aku tidak boleh mendekati wanita cantik yang katanya amat berbahaya melebihi ular berbisa! Akan tetapi, biarpun Nona cantik sukar dicari cacatnya, namun kepandaian Nona tinggi dan sikap Nona jujur menyenangkan. Aku ingin bersahabat, karena sekarang ini baru pertama kali aku merantau seorang diri, aku membutuhkan seorang sahabat yang pandai seperti Nona untuk memberi petunjuk kepadaku. Untuk budi Nona ini, tentu aku akan berusaha menyenangkan hatimu.”

Swat Hong makin terheran. Dia tidak tahu apakah pemuda ini pintar atau bodoh. Sikapnya terbuka akan tetapi biarpun kata-katanya teratur, ada bayangan ketololan. “Hemm, kau bisa apa sih? Bagaimana engkau bisa menyenangkan hatiku?” Dia menyelidik.

“Aku? Wah, aku bodoh akan tetapi kalau ada orang-orang kurang ajar kepadamu, tanpa Nona turun tangan sendiri, aku sanggup menghajar mereka! Dia melonjorkan kedua lengannya yang kekar berotot itu. “Dan jangan Nona sangsi lagi, biar ada lima puluh orang, aku masih sanggup menghadapi mereka, kalau perlu dibantu sengan senjataku kipas dan pedang. Kalau Nona senang sajak, aku banyak mengenal sajak kuno yang indah dan di waktu Nona kesepian, aku dapat menghibur Nona dengan nyanyian! Aku suka sekali bernyanyi.”

Hampir saja Swat Hong tertawa geli orang yang kekar seperti seekor singa buas ini membaca sajak, bernyanyi dan senjatanya kipas? Benar-benar seorang pemuda yang aneh, akan tetapi tentu saja dia belum mau percaya begitu saja. Sambil memandang tajam dia berkata, “Hemm, kau bicara tentang pedang dan kipas sebagai senjata, akan tetapi aku tidak melihat engkau membawa senjata apa-apa.”

“Ahh, tunggu dulu, Nona. Aku memang sengaja meninggalkanya di perahu!”

Setelah berkata demikian, Kwee Lun membalikan tubuhnya dan berlari cepat sekali ke perahunya dan ketika dia sudah kembali ke depan Swat Hong, benar saja dia telah membawa sebatang pedang yang sarungnya terukir indah dan sebuah kipas bergagang perak yang diselipkan di ikat pinggangnya!

“Mengapa baru sekarang kau memperlihatkan senjata-senjatamu?”

“Aih, kalau tadi aku membawa senjata, tentu akan menimbulkan dugaan yang bukan-bukan dan untuk berkenalan dengan seorang gadis, bagaimana aku berani membawa senjata? Tentu disangka perampok atau bajak!”

Mau atau tidak, Swat Hong tersenyum. Timbul rasa sukanya kepada pemuda kasar yang aneh ini. “Betapapun juga, aku adalah seorang wanita dan engkau seorang pria, mana mungkin menjadi sahabat? Tidak patut dilihat orang.”

Mata yang lebar itu kembali terbelalak penuh penasaran dan tangan kirinya dikepalkan. “Apa peduli kata-kata orang? Kalau ada yang berani mengatakan yang bukan-bukan tentu akan kuhancurkan mulutnya! Wanita adalah seorang manusia, pria pun seorang manusia. Apa salahnya berkenalan dan bersahabat? Nona, aku Kwee Lun bukan seorang yang berpikiran kotor, juga aku tidak akan sembarangan memilih kawan! Aku kagum melihat Nona, maka kalau Nona sudi, harap memperkenalkan diri.”

Swat Hong makin tertarik, akan tetapi dia masih ragu-ragu apakah orang ini patut dijadikan seorang teman. Biarpun lagaknya seperti jagoan, siapa tahu kalau kosong belaka? “Kau bilang tadi murid seorang tosu yang terkenal?”

“Ya, Suhu Lam Hai Seng-jin merupakan tokoh yang paling terkenal di daerah selatan!”

“Kalau begitu, ilmu silatmu tentu lebih lihai daripada bicaramu sepeti penjual jamu?”

“Ihhh, harap jangan mentertawakan! Biarpun tidak selihai Nona yang dapat kulihat dari gerakan meloncat dari perahu tadi, akan tetapi masih tidak terlalu banyak orang di dunia ini yang akan sanggup mengalahkan Kwee Lun!”

“Tidak ada artinya kalau hanya disombongkan dan dibanggakan tanpa ada buktinya! Aku juga tidak sembarangan memperkenalkan diri kepada orang lain. Untuk membuktikan apakah kau patut menjadi kenalanku, cabut kedua senjatamu, dan coba kau hadapi pedangku!” Sambil berkata demikian, Swat Hong sudah mencabut pedangnya perlahan-lahan dan tampaklah sinar pedang ketika sinar matahari menimpanya.

“Akan tetapi, Nona….” Kwee Lun meragu. Biarpun dia tadi menyaksikan betapa gesit dan ringannya tubuh nona itu melayang ke daratan, namun dia tidak percaya apakah nona ini mampu menandingi pedang dan kipasnya!

“Tidak usah banyak ragu. Kalau kau tidak mau, pergilah dan jangan menggangguku lebih lama lagi!”

“Srat…!!” Pedang terhunus sudah berada di tangan kanan Kwee Liu dan sarung pedangnya dilempar ke atas tanah, sedangkan tangan kirinya sudah mencabut kipas gagang perak yang telah dikembangkan dan melindungi dadanya, adapun pedang itu dilonjorkan ke depan. “Aku telah siap, Nona.”

Swat Hong memang ingin sekali melihat sampai di mana kepandaian pemuda yang aneh ini, maka tanpa banyak kata lagi dia sudah meloncat ke depan dan menggerakan pedangnya dengan hebat sekali. Pedang di tangannya itu adalah pedang biasa saja, akan tetapi karena yang menggerakan adalah tangan yang mengandung tenaga sinkang istimewa dari Pulau Es, maka pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata dan tubuh dara itu juga tertutup oleh gulungan sinar pedang saking cepatnya tubuh itu berloncatan.

“Aihhh…!!” Kwee Lun berseru keras dan cepat dia menggerakan pedang dan kipas. Memang sudah diduganya bahwa dara itu lihai sekali, akan tetapi menyaksikan gerakan pedang yang demikian luar biasa, dia menjadi kaget, kagum, heran dan juga gembira. Tanpa ragu-ragu dia lalu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua ilmu silatnya untuk menandingi dara yang mengagumkan hatinya ini.

Seperti telah kita kenal di permulaan cerita ini ketika terjadi para tokoh kang-ouw memperebutkan Sin Liong yang ketika itu dikenal sebagai Sin-tong (bocah ajaib), guru pemuda itu, Lam Hai Seng-jin, adalah seorang tosu yang selain ahli dalam Agama To, juga pandai bernyanyi, dan lihai sekali ilmu silatnya. Namun terkenal sebagai pertapa atau pemilik Pulau Kura-kura di Lam-hai dan senjatanya yang berupa hudtim dan kipas mengangkat tinggi namanya di dunia kang-ouw. Agaknya kepandaian itu telah diturunkan semua kepada murid tunggalnya ini, namun tentu saja karena muridnya bukanlah seorang tosu, senjata hudtim diganti dengan pedang. Pedang dan kipas adalah senjata yang ringan, kini dimainkan oleh kedua lengan Kwee Lun yang mengandung tenaga gajah, tentu saja dapat dibayangkan betapa cepatnya kedua senjata itu bergerak sampai tidak tampak lagi sebagai senjata kipas dan pedang, melainkan tampak hanya gulungan sinar yang berkelebatan dan saling belit dengan sinar pedang di tangan Swat Hong.

“Cringgg…!” Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget dan pedangnya mencelat ke atas terlepas dari tangannya.

Swat Hong tersenyum. Dia tadi sudah menyaksikan bahwa ilmu pedang pemuda itu cukup lihai, bahkan dalam hal kecepatan dan tenaga tidaklah kalah banyak dibandingkan dengan kepandaiannya sendiri. Adanya dia dapat membuat pemuda itu terlepas dalam waktu tiga puluh jurus, hanyalah karena selain dasar ilmu silatnya lebih tinggi daripada pemuda itu, juga kenyataan bahwa pemuda itu tidak mau menyerangnya dengan sungguh-sungguh dan mendasarkan permainannya pada tingkat penguji dan berlatih saja. Kalau pemuda itu merupakan lawan sungguh-sungguh, dia sendiri sangsi apakah akan dapat merobohkannya dalam waktu seratus jurus.

“Wah, kau hebat sekali, Nona! Aku mengaku kalah!” Kwee Lun menjura dan menyimpan kipasnya. Suaranya bersungguh-sungguh, karena memang pemuda ini walaupun tadi tidak mau menyerang sungguh-sungguh, namun dari gerakan lawannya dia sudah dapat melihat bahwa dara itu benar-benar memiliki ilmu silat yang amat aneh dan amat kuat. “Aku terlalu rendah untuk menjadi sahabatmu.”

“Kwee-twako, kau terlalu merendah. Ilmu kepandaianmu hebat! Perkenalkanlah, aku bernama Hat Swat Hong….” Sampai di sini, dara itu meragu karena dia masih sangsi apakah dia akan memperkenalkan diri sebagai seorang puteri dari Kerajaan Pulau Es yang asing dan yang telah terbasmi habis oleh badai itu.

“Ilmu pedang Nona hebat bukan main, juga amat aneh gerakannya, Selama melakukan peratauan dengan Suhu, dan mendengar penjelasan Suhu, sudah banyaklah aku mengenal dasar ilmu silat perkumpulan besar di dunia kang-ouw akan tetapi melihat gerakan pedangnya tadi, aku benar-benar tidak tahu lagi, sedikit pun tidak mengenalnya. Maukah Nona Han Swat Hong memperkenalkannya kepadaku?”

“Kwee-twako, sebenarnya aku akan merahasiakan keadaanku, Baru pertama kali ini aku menginjak daratan besar dan aku tidak ingin melibatkan diri dengan urusan di dunia kang-ouw, apa lagi memperkenalkan diriku. Akan tetapi memang sudah nasib, begitu mendarat bertemu dengan engkau, dan sikapmu menarik hatiku, membuat aku tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Aku akan menceritakan keadaanku hanya dengan satu janji darimu, Twako.”

Kwee Lun memunggut pedangnya, mengikatkan sarung pedang di punggung lalu membusungkan dadanya yang sudah membusung tegap itu sambil menepuk dada dan berkata, “Nona Han….”

“Kwee-twako, sekali mau mengenal orang, aku tidak mau bersikap kepalang. Aku menyebutmu Twako (kakak), berarti aku sudah percaya kepadamu. Maka janganlah kau masih bersikap sungkan menyebutku Nona. Namaku Swat Hong dan tak perlu kau menyebutku Nona seperti orang asing.”

“Hemm, bagus sekali!” Kwee Lun bertepuk tangan dan memandang ke langit. “Bukan main! Aku benar-benar berbahagia dapat memperoleh adik seperti engkau! Nah, Hong-moi (adik Hong), kauceritakanlah kepada kakakmu ini. Ceritakan semuanya, kalau ada penasaran, akulah yang akan membereskan untukmu! Kakakmu ini sekali bicara tentu akan dipertahankan sampai mati!”

Diam-diam Swat Hong merasa girang dan kagum. Inilah seorang laki-laki sejati! Seorang jantan! Sekaligus dia memperoleh seorang sahabat yang boleh dipercaya seorang kakak dan sebagai pengganti seorang keluarga setelah dia kehilangan segala-galanya. Dia telah kehilangan ibunya, ayahnya, keluarga ayahnya, bahkan akhirnya dia kehilangan suhengnya dan dalam keadaan seperti itu tiba-tiba muncul seorang seperti Kwee Lun!

“Kwee-twako aku baru saja meninggalkan tempat tinggalku di tengah-tengah laut di sekitar sana!” Dia menuding ke arah laut bebas.

“Di manakah tempat tinggalmu itu? Di sebuah pulau?”

Swat Hong mengangguk, masih agak ragu-ragu. “Pulau apa, Hong-moi?”

“Pulau Es…”

“Hah…?” Benar saja seperti dugaannya, nama Pulau Es mendatangkan kekagetan luar biasa, bahkan wajah pemuda itu berubah menjadi agak pucat dan dia memandang dara itu seperti orang melihat iblis di tengah hari! “Pulau… Pulau Es…??”

Seperti juga semua orang di dunia kang-ouw, Pulau Es hanya didengarnya seperti dalam dongeng saja, dan pangeran Han Ti Ong yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw disebut sebagai seorang dari Pulau Es, seorang yang memiliki kepandaian seperti dewa! Dan kini pemuda itu mendengar bahwa dara itu dari Pulau Es. “Kwee-twako! Jangan memandangku seperti memandang siluman begitu…!”

“Ohh… eh…., maafkan aku, Moi-moi! Hati siapa yang mau percaya? Akan tetapi aku percaya padamu, Moi-moi! Wah! aku percaya sekarang! Kau pantas kalau dari Pulau Es. Ilmu kepandaianmu luar biasa, bukan seperti manusia lumrah. Mana ada gadis biasa mampu mengalahkan Kwee Lun dalam beberapa jurus saja? Aku malah bangga! Seorang penghuni Pulau Es menyebutku Twako dan kusebut Moi-moi! Ha-ha-ha-ha, Suhu tentu akan tercengang saking kagetnya kalau mendengar ini!”

Melihat pemuda itu petentang- petenteng mengangkat dada seperti orang membanggakan diri sebagai seorang sahabat baik penghuni Pulau Es, Swat Hong menjadi geli hatinya.

“Hong-moi, engkau tidak tahu betapa bangga dan besarnya hatiku. Aihh, sekali ini, baru saja meninggalkan Suhu untuk merantau seorang diri, aku telah bertemu dan dapat bersahabat denganmu. Betapa bangga hatiku!”

Swat Hong terkejut. Baru teringat olehnya bahwa dia tadi belum melanjutkan syaratnya, maka cepat dia berkata, “Kalau begitu, berjanjilah bahwa engkau tidak akan menceritakan kepada siapapun juga tentang keadaan diriku, kecuali namaku saja. Berjanjilah Twako!”

Kwee Lun memandang kecewa. “Tidak menceritakan kepada siapapun juga bahwa engkau adalah penghuni Pulau Es? waaahhh… ini…” Tentu saja hatinya kecewa karena hal yang amat dibanggakan itu tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Mana bisa dia berbangga kalau begitu?

“Kwee Lun.”tiba-tiba Swat Hong berkata dengan lantang. “Hanya ada dua pilihan bagimu. Berjanji memenuhi permintaanku dan selanjutnya menjadi sahabat baiku, atau kau tidak mau berjanji akan tetapi kuanggap sebagai seorang musuh!”

“Wah-wah… aku berjanji! Aku berjanji! Bukan karena takut kepadamu, Hong-moi, aku bukan seorang penakut dan juga tidak takut mati, akan tetapi karena memang aku merasa suka sekali kepadamu. Aku tidak sudi menjadi musuh! Nah, aku berjanji, biarlah aku bersumpah bahwa aku tidak akan menceritakan kepada siapapun juga tentang asal-usulmu, kecuali… hemm, tentu saja kalau… kalau kau sudah mengijinkan aku. Siapa tahu…”

Sambungnya penuh harap. Swat Hong tersenyum lega. “Baiklah, Kwee-twako. Aku percaya bahwa engkau akan memegang teguh janjimu. Sekarang dengarlah cerita singkatku dan kuharap kau suka membantuku. Aku adalah puteri dari Raja Pulau Es…”

“Aduhhhh….” Kembali mata itu terbelalak dan kwee Lun segera membungkuk, agaknya malah akan berlutut!

“Twako, kalau kau berlutut atau melakukan hal yang bukan-bukan lagi, aku takkan sudi bicara lagi kepadamu!”

Kwee Lun berdiri tegak lagi. “Hayaaaa… siapa bisa menahan datangnya hal-hal yang mengejutkan secara bertubi-tubi ini? Baiklah, aku taat… eh, benarkah aku boleh menyebutmu Moi-moi?”

“Siapa bilang tidak boleh ! Aku hanya bekas puteri raja! Ayahku telah meninggal dunia dan Ibuku…, ah, aku sedang mencari Ibuku yang pergi entah kemana. Kwee-twako, aku tidak bisa menceritakan lebih banyak lagi. Yang penting kauketahui hanya bahwa Ibuku telah berbulan-bulan meninggalkan Pulau Es, entah ke mana perginya dan aku sedang mencarinya. Juga aku telah saling berpisah dengan Suhengku. Aku sedang pergi merantau dan sekalian mencari Ibuku dan Suhengku.”

“Aku akan membantumu!” Kwee Lun menggulung lengan bajunya yang memang sudah pendek sampai kebawah siku itu. “Jangan khawatir!”

“Terima kasih, Twako. Dan sekarang, engkau hendak ke manakah?”

“Sudah kukatakan tadi bahwa aku meninggalkan Pualu Kura-kura untuk pergi merantau meluaskan pengalaman, sekalian memenuhi permintaan penduduk kota Leng-sia-bun yang berada tak jauh dari pantai ini.”

“Permintaan apa, Twako?”

“Beberapa orang penduduk bersusah payah mencari Suhu di Pulau Kura-kura, dan mereka mohon pertolongan Suhu untuk menghancurkan komplotan busuk yang merajalela di kota ini. Suhu lalu memerintahkan aku pergi, dan sekalian aku diberi waktu setahun untuk merantau sendirian. Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini. Marilah kau ikut bersamaku ke Leng-sia-bun, tentu kau akan gembira melihat keramaian ketika aku menghadapi komplotan itu. Setelah selesai urusanku di sana,aku menemanimu mencari Suhengmu dan Ibumu.”

Swat Hong mengangguk setuju. Lega juga hatinya, karena kini ada seorang teman yang setidaknya lebih banyak mengenal keadaan daratan besar dari pada dia yang asing sama sekali. “Baik, Twako. Akan tetapi perutku….”

“Eh, perutmu mengapa? Sakit….”

“Sakit…. lapar…!” 

Kwee Lun tertawa-tawa bergelak dan Swat Hong juga tertawa. Keduanya merasa lucu dan gembira karena mendapatkan seorang teman yang cocok wataknya! “Kalau begitu, tidak jauh bedanya dengan perutku! mari kita cepat pergi. Leng-sia-bun terdapat banyak makanan enak!”

“Tapi …. perahumu itu? Bagaimana kalau ada yang curi nanti ?”

“Hemm, siapa berani mencurinya? Lihat, bentuk perahuku itu. Bentuknya seperti seekor kura-kura, lengkap dengan kepalanya dan ekornya. Melihat itu, semua orang tahu bahwa itu milik Pulau Kura-kura, siapa berani mengganggunya? Perahumu yang berada di dekat perahuku juga aman.”

“Wah, kalau begitu nama Suhumu sudah terkenal sekali!”

“Memang, dan sekarang aku akan membuat nama agar sama terkenalnya dengan nama suhu!”

Berangkatlah kedua orang muda itu menuju ke utara, melalui sepanjang pantai itu lalu mendekati sebuah daerah pegunungan, menuju ke kota Leng-sia-bun yang letaknya tidak jauh dari pantai laut, tak jauh dari muar sungai Huai. Kota Leng-sia-bun merupakan kota pantai yang ramai dan padat penduduknya. Karena daerah ini merupakan daerah perdagangan yang menampung datangnya hasil bumi dari pedalaman untuk dibawa oleh perahu-perahu ke pantai laut yang lain, juga merupakan pasar besar pagi para nelayan, maka penduduknya cukup makmur. Rumah-rumah besar, toko-toko, hotel-hotel dan restoran-restoran membuktikan kemakmuran kota itu. Akan tetapi, seperti biasa terjadi di mana pun juga di penjuru dunia dan di jaman apa pun, di kota Leng-sia-bun muncul juga manusia-manusia yang mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan dan menumpuk harta benda dengan cara yang tidak layak, tidak halal, bahkan tidak mempedulikan lagi nilai-nilai kemanusiaan.

Telah bertahun-tahun, di kota itu merajalela komplotan yang dipimpin oleh seorang hartawan bernama Ciu Bo jin dan terkenal dengan sebutan Ciu- wangwe (Hartawan Ciu). Sebenarnya, tanpa diketahui oleh siapa pun di kota itu, Ciu-wangwe adalah bekas seorang perampok tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Setelah rambutnya mulai putih dan dia berhasil mengumpulkan kekayaan, tinggallah dia di kota Leng-sia-bun menjadi seorang pedagang. Mula-mula dia mendirikan sebuah rumah makan. Setelah rumah makannya maju, dia membuka rumah judi dan rumah penginapan. Tentu saja dia mengumpulkan bekas teman-temannya dari kalangan hitam untuk bekerja kepadanya dan merangkap menjadi tukang pukul, akan tetapi Ciu-wangwe melarang keras kepada anak buahnya untuk memperlihatkan sikap kasar dan sewenang-wenang karena dia maklum bahwa itu bukan merupakan cara untuk mengumpulkan kekayaan di sebuah kota. Dengan licin sekali, Ciu-wangwe mempengaruhi para pembesar kota itu dengan jalan seringkali mengirimkan hadiah kepada mereka. Bahkan bukan uang saja yang dijadikan umpan untuk memancing ikan besar dan menjinakkan harimau, akan tetapi dia juga mempergunakan wanita-wanita muda! Terkenallah hotel dan rumah judi yang didirikan Ciu-wangwe karena kedua tempat ini juga merupakan tempat berpelesir di mana disediakan perempuan muda sebagai pelacur-pelacur kelas tinggi! Bahkan restorannya juga amat laris karena disitu bercokol pula beberapa orang pelacur cantik yang melayani para tamu makan minum dan memberi kesempatan kepada para tamu sambil makan minum untuk colek sana sini!

Biarpun banyak penduduk Leng-sia-bun yang menjadi korban judi, banyak rumah tangga berantakan, namun tidak ada orang yang mampu menyalahkan Ciu-wangwe karena rumah judi, hotel dan restoran yang dibukanya adalah sah dan mendapat restu serta perlindungan dari para pembesar setempat. Bahkan secara terang-terangan, hampir semua pembesar di kota itu menjadi langganan Ciu-wangwe. Mereka yang gemar berjudi menjadi langganan pokoan ( tempat judi) di mana mereka dapat berjudi apa saja sepuasnya dan tentu saja dalam melayani para pembesar berjudi, orang-orang kepercayaan Ciuwangwe tidak berani main curang, tidak seperti jika melayani umum di situ dilakukan kecurangan-kecurangan yang menjamin kemenangan bagi si bandar judi. Bagi para pembesar yang senang pelesir dengan wanita, mereka mendatangi likoan (hotel) di mana tersedia kamar yang mewah berikut pelacurnya yang tinggal pilih dan mereka memperoleh pelayanan istimewa! Bagi yang mengutamakan lidah dan mulut, tersedia restoran yang menyediakan atau mengirim arak wangi dan masakan lezat!

Kesewenang-wenangan Ciu-wangwe tidaklah tampak atau terasa secara langsung oleh penduduk. Hanya apabila ada orang berani mendirikan tempat judi, restoran atau hotel baru yang menyaingi perusahannya, maka diam-diam tukang pukulnya akan bertindak dan memaksa si pemilik perusahan itu untuk menutup pintu dan menurunkan papan nama perusahan! Boleh orang lain membuka akan tetapi harus kecil-kecilan dan mengirim “pajak” sebagai penghormatan kepada Ciu-wangwe! Akan tetapi, beberapa bulan belakangan ini terjadilah kegemparan-kegemparan di daerah kota Leng-sia-bun. Kegemparan yang terasa oleh kaum pria yang doyan pelesir di restoran dan hotel milik Ciuwangwe. Hanya bedanya, kalau kegemparan para penduduk dusun disertai tangis, adalah kegemparan di hotel-hotel itu diiringi suara ketawa gembira sungguhpun di malam hari juga mengakibatkan tangis mnyedihkan.

Apakah yang terjadi di kedua tempat itu? Di kota Leng-sia-bun, di dalam hotel milik Ciuwangwe, kini seringkali terdapat “barang baru”, yaitu pelacur-pelacur muda yang baru, dan daun-daun muda seperti ini paling disuka oleh bandot-bandot tua yang tidak segan-segan membuang uang sebanyaknya untuk memetik daun-daun muda itu! dan di dalam tempat-tempat rahasia di belakang hotel, di dalam kamar-kamar gelap sering kali terjadi hal yang mengerikan di mana seorang gadis remaja dipaksa dan dicambuki, disiksa sampai mereka itu terpaksa menyanggupi untuk dijadikan pelacur dan melayani kaum pria! Dan sekali dara remaja ini melayani seorang tamu, segala akan berjalan lancar dan beberapa bulan kemudian perempuan remaja itu akan menjadi seorang pelacur kelas tinggi yang dijadikan rebutan!

Pada waktu yang bersamaan, terjadi geger di dusun-dusun di sekita daerah itu. Banyak terjadi pembelian gadis-gadis muda, bahkan banyak terjadi penculikan dan perampokan secara terang-terangan dilakukan oleh gerombolan perampok ganas! Keluarga gadis ini melakukan penyelidikan dan mereka akhirnya dapat menemukan anak gadis mereka di Leng-sia-bun, dalam keadaan yang menyedihkan karena sudah menjadi pelacur-pelacur! Ada yang lenyap sama sekali, bahkan ada yang terlunta-lunta sebagai seorang wanita gila! Mereka ini adalah gadis-gadis yang berkeras tidak mau menjadi pelacur. ada yang disiksa sampai mati, dan ada yang diperkosa dan akhirnya menjadi gila! Tentu saja banyak di antara mereka yang melapor kepada pembesar di Leng-sia-bun, akan tetapi mereka itu malah dimaki-maki karena dianggap menghina Ciu-wangwe. Dikatakan bahwa anak mereka menjadi pelacur, hal ini adalah orang tua mereka yang tidak tahu malu dan tak dapat mendidik anak, sekarang ada Ciu-wangwe yang menampung mereka sehingga tidak kelaparan, mengapa mereka itu malah melapor dan menuntut Ciu-wangwe? Mereka melaporkan bahwa anak gaisnya di culik orang yang ternyata anak gadis mereka itu tahutahu telah menjadi pelacur di hotel milik Ciu-wangwe, malah dijatuhi hukuman rangket karena menghina Ciu-wangwe, dan pelaporan mereka itu dianggap fitnah karena tidak ada bukti bahwa anak mereka diculik! Memang ada saja jalan dan alasan para penegak hukum yang telah diperbudak oleh harta yang mereka terima dari Ciu-wangwe itu, disamping suguhan anak-anak perawan hasil penculikan! Untuk melakukan penculikan sendiri, tentu saja para pembesar ini merasa malu. Kini ada yang menculikan untuk mereka, hati siapa yang takkan senang?

Karena sudah merasa tersudut dan tidak berdaya lagi, akhirnya mereka teringat akan nama besar Lam-hai Seng-jin, Majikan pulau kura-kura yang terkenal sebagai seorang pertapa yang suka menolong kesukaran orang lain yang memerlukan pertolongan. Terutama sekali mereka yang mempunyai anak perempuan dan yang merasa gelisah kalau-kalau pada suatu malam akan tiba giliran mereka didatangi penculik yang akan melarikan anak mereka, segera bermufakat untuk mita pertolongan pertapa itu dan akhirnya berangkatlah serombongan orang menuju ke pulau Kura-kura. Lam-hai Seng-jin menerima pelaporan mereka dan merasa kasihan, maka dia mengutus murid tunggalnya yang sudah mewarisi ilmu kepandaiannya untuk mewakilinya menyelidiki dan memberi hajaran kepada komplotan penjahat itu. Juga dia memberi ijin kepada muridnya untuk merantau selama satu tahun.

Setelah memberi banyak nasihat, berangkatlah Kwee Lun seorang diri naik perahu menuju ke daratan besar dan tanpa disangkanya, dia telah berjumpa dengan Han Swat Hong puteri kerajaan Pulau Es! Pada hari itu kota Leng-sia-bun sibuk seperti biasa. Keadaan tetap ramai dan biasa seperti tidak terjadi sesuatu dan seperti tidak akan terjadi sesuatu. Tidak ada seorang pun yang tahu, di antara sebagian besar penduduk yang memang tidak memikirkan lagi, bahkan malam tadi telah terjadi seperti biasa, yaitu pemerkosaan dara-dara culikan baru seperti seklompok domba disembelih, dan tidak ada pula yang tahu bahwa pagi hari itu muncul dua orang yang akan mendatangkan perubahan besar di kota itu, menimbulkan geger yang akan menggemparkan kota dan akan menjadi bahan cerita sampai bertahun-tahun lamanya.

Setelah menyelidiki di mana letaknya rumah makan milik Ciu-wangwe, Kwee Lun mengajak Swat Hong mendatangi rumah makan itu. Sebuah rumah makan yang bangunannya indah dan besar, dengan cat baru dan di depan rumah makan terdapat tulisan dengan huruf besar “RUMAH ARAK” yang berarti restoran.

“Hong-moi, engkau lapar bukan? Mari kita makan dan minum di sini.”

Swat Hong memandang heran. Bukankah ini rumah makan milik Hartawan Ciu yang menjadi pemimpin komplotan penjahat di kota ini yang akan dibasmi Kwee Lun? Dia memandang dan melihat mata pemuda itu bersinar, kemudian Kwee Lun memejamkan sebelah mata penuh arti. Swat Hong tersenyum geli. Mengertilah dia kini. Pemuda itu hendak mengajaknya makan sampai kenyang lebih dulu sebelum turun tangan. Dan memang dia merasa lapar sekali!

“Aku tidak bisa bekerja tanpa makan lebih dulu,” pemuda itu berkata lirih ketika mereka memasuki rumah makan dan Swat Hong tersenyum-senyum.

Sepagi itu, rumah makan sudah terisi setengahnya oleh mereka yang beruang, karena rumah makan ini terkenal sebagai rumah makan mahal. Dua orang pelayan, pria dan wanita, yang wanita masih muda dan genit, dengan wajah yang ditutup warna putih dan merah yang tebal seperti tembok dikapur dan digambar, menyambut mereka dengan sikap manis. Kwee Lun dan Swat Hong diantar ke sebuah meja kosong di sudut dan dengan suara lantang Kwee Lun memesan makanan dan minuman yang paling lezat, dalam jumlah banyak sekali. Para pelayan menjadi terheran-heran mendengar pesanan masakan yang pantasnya untuk menjamu sepuluh orang! Akan tetapi melihat sikap kasar dari pemuda tinggi besar itu, pula melihat dua batang pedang dan kipas yang diletakan di atas meja, mereka tidak berani banyak cakap dan melayani mereka. Diam-diam seorang pelayan memberi tahu kepada kepala tukang pukul yang berada di dalam. Dua orang tukang pukul yang berpakaian biasa, dan dengan sikap biasa pula, keluar dari dalam dan berjalan lewat dekat meja Kwee Lun dan Swat Hong. Kedua orang tidak perduli dan berpura-pura tidak melihat. Juga Swat Hong melanjutkan makan sambil kadang -kadang tersenyum geli menyaksikan betapa temannya itu makan dengan lahapnya. Dia belum menghabiskan setengah mangkok, Kwee Lun sudah menyapu bersih lima mangkok. Ketika dua orang itu lewat, Swat Hong hanya melirik sebentar dan mengerahkan ilmu sehingga telinganya terbuka dan dapat menangkap dengan ketajaman luar biasa ke arah kedua orang itu yang masih berjalan-jalan di ruangan itu, seolah-olah sedang memeriksa dan kadang-kadang membenarkan letak kursi dan meja yang kosong.

“Aku tidak mengenal mereka,” terdengar yang kurus pucat berkata.

“Tapi gadis itu hebat….,” kata orang ke dua yang pendek dan berperut gendut. “Kalau dia bisa didapatkan, tentu Loya (Tuan Tu) akan memberi banyak hadiah kepada kita.”

“Hushh… apa kau mau menyaingi pekerjaan Tian-ci-kwi (Setan Berjari Besi)?”

“Ah, siapa tahu, dengan cara halus bisa mendapatkan dia….”

“Tapi pemuda itu kelihatan jantan!”

“Huh, takut apa? Orang kasar seperti itu….”

“Tapi jangan memancing keributan, Lote, kita nanti tentu dimarahi Loya.”

“Aku tidak bodoh, mari kita pergunakan cara halus. Lihat, mereka telah selesai makan. Raksasa itu makannya melebihi babi!”

Swat Hong yang sedang minum hampir tersedak karena geli hatinya mendengar temannya yang gembul itu dimaki seperti babi. Akan tetapi Kwee Lun agaknya tidak mempedulikan sesuatu dan tidak melakukan penyelidikan seperti Swat Hong, tidak mendengar makian itu dan mengelus-elus perutnya yang kenyang. Dia kelihatan puas sekali telah dapat makan minum secukupnya di dalam restoran itu. Pada saat itu dua orang tukang pukul tadi sudah menghampiri mereka. Yang kurus pucat sudah menjura sambil berkata, “kami mewakili Ciu-wangwe pemilik restoran ini menghaturkan selamat datang kepada Jiwi.”

Sebelum Kwee Lun yang terheran-heran menjawab, Si Gendut pendek sudah menyambung sambil menyeringai dalam usahanya untuk tersenyum ramah. “Tentu Jiwi datang dari jauh dan lelah. Majikan kami juga memiliki hotel yang paling besar, paling bersih dan paling baik di kota ini, letaknya di sebelah kiri rumah makan ini. Jiwi akan dapat mengaso dengan enak di hotel kami dan kalau Loya kami mendengar bahwa Jiwi adalah tamu dari jauh, tentu biayanya akan diberi potongan separuhnya.”

Kwee Lun sudah mengerutkan alisnya, mukanya merah dan dia seakan-akan memperoleh kesempatan mulai beraksi. “Kalian berani mengganggu kami yang sedang makan?”

Mendadak kakinya tertendang ujung kaki Swat hong dan ketika dia memandang, dia melihat isyarat dalam sinar mata gadis itu, maka dia hanya mengerutkan alis dan tidak melanjutkan kata-katanya. Swat Hong sendiri segera berkata kepada dua orang itu dengan suara ramah dan sikap manis, “Kalian sungguh ramah, tentu majikan kalian adalah seorang yang mengenal pribudi. Baik, kami memang hendak bermalam barang dua hari di kota ini. Akan tetapi melihat keramahan kalian, aku ingin bertemu dengan majikan kalian untuk menghaturkan terima kasih.”

Dua orang itu saling pandang. “Marilah kami antarkan Nona dan Tuan agar memperoleh kamar yang paling baik di hotel, kemudian kami akan melapor kepada majikan kami….”

“Tidak usah repot-repot!” Swat Hong berkata cepat. “Temanku ini masih hendak melanjutkan makan minum….heiii! Pelayan tambah araknya! Biarlah saya yang menemui majikan kalian dan memilih kamar di hotel sebelah. Kami sudah mendengar tentang kebaikan hati majikan kalian dari pembesar-pembesar di kota ini, dan kami memang ingin minta pekerjaan. Aku ingin bekerja apa saja yang pantas dan temanku itu…. dia tentu bisa menjadi seorang penjaga keselamatan.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati kedua orang itu. Sudah terbayang di depan mata betapa mereka akan menerima pujian berikut hadiah dari Ciu-wangwe. Seorang nona begini cantik jelita seperti bidadari, tanpa susah payah datang sendiri ke depan mulut, tinggal membuka mulut dan mencaplok saja! Ciuwangwe tentu senang sekali, bukan untuk hartawan itu sendiri yang kesenangannya bukan memeluk wanita cantik, melainkan untuk menyenang hati para pembesar setempat. Ciu-wangwe sendiri kesenangannya hanya satu, yaitu uang dan kedudukan!

“Bagus sekali kalau begitu, Nona! Kebetulan pada saat ini Ciu-wangwe sedang menjamu pembesar yang paling terhormat di kota ini. Mereka sedang berpesta di ruangan belakang hotel kami. Mari kami antar Nona ke sana!”

“Tidak usah, kalian di sini saja melayani temanku!” Sambil berkata demikian Swat Hong sudah bangkit berdiri dan cepat laksana kilat kedua tangannya bergerak seperti seorang wanita yang menepuk-nepuk pundak kedua orang itu dengan ramahnya, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati kedua orang tukang pukul itu ketika tiba-tiba tubuh mereka menjadi lemas dan kaki tangan mereka tak dapat digerakan lagi.

“Ha-ha, duduklah kalian, mari temani aku minum arak!” Kwee Lun yang dapat melihat gerakan temannya itu cepat bangkit berdiri, kakinya bergerak dan kedua lutut mereka telah terkena tendangan ujung sepatunya sehingga terlepas sambungannya. Sambil tersenyum Kwee Lun sudah mendudukkan mereka di atas bangku di kanan kirinya!

Para tamu hanya melihat empat orang itu seperti beramah tamah, maka mereka tidak tertarik lagi, hanya tertarik kepada Swat Hong yang memang sejak tadi telah menjadi perhatian pandang mata para tamu pria yang berada di dalam restoran. Mereka menahan napas melihat dara cantik jelita itu dengan langkah gontai meninggalkan restoran, membawa dua batang pedang dan sebuah kipas, “Aku pinjam dulu ini!” kata Swat Hong tadi kepada Kwee Lun yang hanya memandang dengan terheran-heran melihat kedua senjatanya dibawa pergi oleh Swat Hong. “Agar kau tidak kesalahan membunuh orang!” kata pula Swat Hong dan Kwee Lun tersenyum.

Kiranya gadis itu tidak ingin melihat dia membunuh orang, maka sengaja membawa pergi kedua senjatanya. Di dalam hatinya dia mentertawakan Swat Hong. Apakah tanpa kedua senjata itu kaki dan tanganku tidak mampu membunuh orang? Pula, apakah dia seekor harimau yang haus darah? Biarlah, pikirnya. Gadis itu masih belum percaya kepadanya, dan dia akan memperlihatkan kelihaianya tanpa bantuan senjata. Sambil tertawa-tawa kepada dua orang tukang pukul yang duduk seperti boneka dan tak mampu bergerak itu, Kwee Lun melanjutkan minum arak. Karena hawa mulai panas disebabkan oleh hawa arak, pemuda perkasa ini melepaskan kancing bajunya sehingga tampak rambut halus ditengah dadanya yang bidang dan kokoh kuat itu.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri meja Kwee Lun. pelayan ini tadi melihat ketidak-wajaran pada kedua tukang pukul yang duduk berhadapan dengan pemuda itu. Mengapa mereka tidak bergerak-gerak dan duduk dengan lemas, dan ketika dia bertemu pandang, tukang pukul yang gendut pendek itu mengejapkan mata kepadanya sedangkan dari kedua mata tukang pukul kurus pucat itu keluar dua titik air mata. Maka dia cepat menghampiri dan melihat dari dekat.

“Mau apa kau? pergi!” Kwee Lun membentak dan pelayan itu kaget sekali, lalu lari pergi masuk ke dalam untuk melaporkan keanehan itu kepada kepala tukang pukul yang lain.

Kwee Lun bukanlah seorang yang bodoh. Dan maklum bahwa pelayan itu telah melihat keadaan dan tentu akan melapor ke dalam. Maka dia memandang ke sekeliling dan mencari akal. Ketika dia melihat segulung tambang yang besar dan kuat, timbullah akalnya. Dia bangkit berdiri, melangkah lebar ke dekat meja pengurus, menyambar gulungan tambang itu dan berkata dengan suara lantang yang ditujukan kepada para tamu yang duduk di ruangan restoran itu, “Semua orang yang berada di dalam restoran ini harap lekas pergi! Restoran ini akan ambruk!”

Kemudian sekali melompat tubuhnya telah berada di luar restoran. Di ikatkan ujung tambang ke pilar di depan, pilar yang ikut menyangga atap, kemudian dia membawa ujung tambang yang lain ke jalan depan restoran. Dengan memegang ujung tambang, mulailah pemuda raksasa ini menarik tambang, melalui atas pundak kanannya yang menonjolkan otot besar yang amat kuatnya. Tambang besar itu menegang, kemudian terdengar suara berkerotok.

Orang-orang sudah mulai lari keluar rumah makan itu dan mereka ada yang ketawa-tawa geli menyaksikan pemuda itu menarik tambang. Tentu pemuda itu sudah mabok, pikir mereka. Mana mungkin merobohkan bangunan yang besar itu dengan cara demikian? Menarik tambang yang diikatkan pada pilar yang demikian besar dan kuatnya. Kalau tidak mabok tentu sudah gila!

Memang membutuhkan tenaga gajah untuk dapat menumbangkan pilar yang sedemikian kokohnya. Kwee Lun mengerahkan tenaga, matanya terbelalak, dahinya penuh keringat dan mulutnya mengeluarkan gerengan yang langsung keluar dari dalam pusarnya, seluruh tubuhnya menarik tambang dengan pemusatan perhatian dan tenaga.

“Krakkk….!” Pilar yang kokoh kuat itu patah tengahnya! Orang-orang berteriak kaget dan mulai berlari-lari ketakutan. Terdengar bunyi hiruk pikuk ketika akhirnya, atap rumah makan itu runtuh ke bawah dan menyusul debu mengebul tinggi dibarengi teriakan-teriakan mengerikan dari dalam di mana masih banyak pekerja restoran itu yang teruruk. Di antara suara hiruk pikuk ini terdengar suara ketawa dari Kwee Lun yang masih memegang tamban besar itu di kedua tangannya. Tali besar itu sudah terlepas dari pilar dan kini menjadi senjata di kedua lengan yang dilingkari otot itu. Tempat itu menjadi sunyi dan biarpun banyak sekali penduduk kota yang berlari-larian datang, mereka hanya menonton dari jauh saja, tidak ada yang berani mendekati restoran yang sudah runtuh itu. Belasan orang tukang pukul datang berlarian, dari belakang restoran yang roboh dan dari rumah judi yang berada di sebelah kanan restoran.

“Itu orangnya….!” Seorang pelayan restoran yang berhasil menyelamatkan diri menuding ke arah Kwee Lun.

“Tangkap penjahat….!”

“Serbu….!”

“Bunuh….!”

Lima belas orang tukang pukul dengan bermacam senjata di tangan mereka, belari-lari datang menyerbu dan mengurung Kwee Lun. Pemuda ini masih tersenyum lebar, tali tambang tadi masih melingkar-lingkar di kedua lengan, kdua kakinya terpentang lebar dan sikapnya gagah sekali, membuat lima belas orang tukang pukul itu merasa gentar dan ragu-ragu untuk mendahului maju menyerang. Seorang yang telah meruntuhkan sebuah bangunan seperti restoran itu, sudah jelas memiliki tenaga gajah! Apalagi melihat sikap yang demikian gagah.

“Ha-ha-ha, hayo majulah! Mengapa ragu-ragu? Hayo keroyoklah aku! Memang aku datang untuk membasmi komplotan yang merajalela di Leng-sia-bun. Kalian ini anak buah si keparat Ciu Bo Jin, bukan? Mana itu hartawan Ciu jahanam, si penculik gadis orang! Suruh dia keluar, biar kuhancurkan kepalanya!”

“Serbu….!!” Kepala tukang pukul, seorang she Ma yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi dan menjadi tangan kanan Ciu-wangwe, berseru setelah diam-diam dia mengutus seorang anak buahnya untuk melaporkan kepada Ciu-wangwe di hotel, dan seorang anak buah lagi disuruh minta bala bantuan di markas keamanan! Tiga belas orang tukang pukul, dipimpin oleh Ma Siu menyerbu dengan senjata mereka.

Akan tetapi, Kwee Lun tertawa bergelak dan begitu kedua lengannya bergerak, tali besar yang panjang menyambar dan menjadi gulungan sinar yang besar panjang. Setiap senjata pengeroyok yang terbentur tali itu terlepas dari pegangan pemiliknya sehingga terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena dalam segebrakan saja, lima orang tukang pukul kehilangan senjata mereka dan dua orang lagi terpelanting roboh dan tak dapat bangun kembali karena tulang punggung dan tulang iga mereka patah oleh hantaman tambang! Ma Siu menjadi marah sekali dan dengan nekat dia bersama sisa anak buahnya menyerbu dan menghujankan senjata mereka kepada Kwee Lun. Namun pemuda Pulau Kura-kura ini sambil tertawa melakukan perlawanan seenaknya. Teringat dia oleh perbuatan Swat Hong yang menyingkirkan pedang dan kipasnya, karena andaikata dia menggunakan dua senjata itu, agaknya sekarang semua tukang pukul sudah roboh kehilangan nyawa mereka! Dan dia tahu bahwa biang keladi semua kejahatan adalah orang She Ciu, adapun para tukang pukul ini hanya orang-orang yang mencari nafkah mengandalkan ilmu silat mereka! Biarpun cara mencari nafkah dengan menjadi tukang pukul adalah perbuatan sesat yang menimbulkan kekejaman, namun andaikata tidak ada Hartawan Ciu yang menjadi sumber maksiat, agaknya mereka tidak akan berani mengacaukan sebuah kota besar seperti Leng-sia-bun. Diam-diam dia membenarkan tindakan Swat Hong dan teringat dia akan nasehat suhunya bahwa di dalam perantauannya, dia tidak boleh sembarangan membunuh orang!

Sementara itu, di dalam hotel juga terjadi keributan hebat. Dengan dua batang pedang tergantung di punggung dan kipas gagang perak di tangan, Swat Hong memasuki hotel besar di sebelah kiri restoran. Gedung yang lebih megah dan besar daripada restoran itu. Dengan sikap tenang dia berjalan menaiki anak tangga di depan hotel. Beberapa orang pelayan segera menyambutnya dengan wajah berseri. Biarpun dara ini membawa pedang di punggung namun kecantikannya yang luar biasa menyenangkan hati para pelayan.

“Apakah Nona mencari kamar,?” tanya seorang pelayan dengan senyum manis.

“Bukan mencari kamar, akan tetapi aku mencari Ciu-wangwe,” jawab Swat Hong tanpa memperdulikan senyum itu.

Wajah para pelayan itu berubah dan pandang mata mereka membayangkan kecurigaan, “Tidak semudah itu mencari Loya, Nona. Pula, kami tidak tahu dimana adanya Ciu-wangwe sekarang ini….” kata seorang di antara mereka dengan suara hati-hati.

“Aihhh, kalian tidak perlu membohong lagi. Aku mengenal Ciu-wangwe dan kedatanganku adalah atas undangannya. Aku tahu bahwa dia sedang menjamu kepala Daerah di ruangan belakang hotel ini, bukan? Kalau kalian tidak membawaku menemuinya sekarang juga, bukan hanya dia akan marah kepada kalian, akan tetapi aku pun akan kehabisan sabar!”

Mendengar ini, para pelayan itu saling pandang, lalu seorang di antara mereka memanggil tukang pukul. Dua orang tukang pukul datang berlari. Mereka adalah bekas-bekas perampok yang tentu saja dapat menduga bahwa wanita ini tentulah seorang kang-ouw, maka mereka segera memberi hormat dan bertanya, “Ada urusan apakah Lihiap hendak bertemu dengan Ciu-wangwe?”

Swat Hong memandang tajam dan mengambil sikap marah. Eh, pangkat kalian di sini apa sih berani bertanya-tanya urusan antara aku dan Ciu-wangwe? Lekas bawa aku menemuinya!”

“Tapi… tapi…. Loya sedang menjamu Tai-jin, tidak boleh diganggu!”

“Siapa mau mengganggu? Aku justru datang memenuhi panggilannya untuk meramaikan pesta! Kalau dia marah, biar aku yang tanggung jawab, akan tetapi kalau kalian berani menolak aku, dia akan marah kepada kalian!”

Dua orang tukang pukul itu saling pandang, kemudian mereka berkata, “Baiklah mari kami antarkan Lihiap ke dalam.”

Mereka telah mengambil keputusan dengan isyarat mata untuk mengawal dan menjaga wanita cantik ini. Kalau wanita ini mempunyai niat buruk, masih belum terlambat untuk merobohkannya. Siapa tahu, melihat kecantikannya yang luar biasa, sangat boleh jadi kalau dia ini adalah seorang yang dikenal oleh Ciu-wangwe dan benar-benar dipesan datang untuk menghibur pembesar!

Dengan langkah tenang sambil mengipasi lehernya dengan kipas gagang perak, Swat Hong diiringkan dua orang tukang pukul itu melalui gang yang berliku-liku, melalui kamar-kamar di mana terdapat wanitawanita cantik yang rata-rata wajah layu dan bermata sayu, ada yang duduk sendiri, ada pula yang sedang berduaan dengan seorang tamu pria karena terdengar suara ketawa laki-laki di dalam kamar itu, kemudian tibalah mereka di ruangan belakang yang luas dan terjaga oleh belasan orang prajurit pengawal yang bercampur dengan para tukang pukul.

Ketika mereka bertiga muncul, tentu saja para penjaga dan pengawal itu memandang Swat Hong dengan penuh perhatian. Dua orang tukang pukul itu agaknya bangga dapat mengawal nona cantik jelita ini maka sambil mengacungkan ibu jari, mereka berkata, “Barang baru! Pesanan khusus!”

Maka tertawa-tawalah para pengawal dan tukang pukul itu memasuki pintu besar yang menembus ke dalam ruangan. Karena mereka yang duduk mengitari meja besar terdiri dari belasan orang berpakaian serba indah dan masing-masing dilayani dan dirubung wanita-wanita muda dan cantik, Swat Hong tidak mau bertindak sembrono. Dia tidak tahu siapa Ciu-wangwe dan yang mana pula kepala daerah, maka dia menanti dan membiarkan dua orang tukang pukul itu melapor. Akan tetapi sebelum kedua orang yang sudah menjura penuh hormat itu sempat membuka mulut, seorang yang berpakaian serba biru, berusia lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan matanya besar sebelah, telah bangkit berdiri dan membentak, “Haii! Mengapa kalian lancang….?”

Dia tidak melanjutkan ucapannya karena matanya telah dapat melihat Swat Hong dan kini dia memandang heran. Swat Hong sudah melangkah ke dalam, mendekati meja lalu bertanya kepada laki-laki berpakaian biru itu, “Apakah aku berhadapan dengan Ciu-wangwe?”

Laki-laki itu memang benar Ciu Bo Jin. Dia merasa curiga sekali, akan tetapi karena dia mengandalkan ilmu kepandaiannya sendiri, pula dia berada di tempatnya sendiri yang terjaga oleh para anak buahnya, bahkan disitu terdapat pula pasukan pengawal Gu-taijin, maka sambil tersenyum lebar dia melangkah maju dan berkata, “Benar, aku adalah orang she Ciu yang kau cari. Nona siapakah dan …. heiiittt….”

Dia cepat mengelak ke kiri ketika melihat nona cantik itu sudah menerjang maju, menggunakan tangan kirinya mencengkeram ke arah pundaknya. Gerakan Ciu-wangwe cukup cekatan dan memang dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan seorang dara perkasa yang luar biasa lihainya, maka baru saja dia mengelak, tahu-tahu ujung gagang kipas terbuat dari perak itu telah menotok jalan darah di punggungnya dan dia terpelanting roboh dengan tubuh lemas!

Peristiwa ini terjadi sedemikian cepatnya sehingga tidak terduga sama sekali, maka terjadilah keributan hebat. Seorang yang tubuhnya gendut dan mukanya merah sekali, agaknya sudah mabok, bangkit berdiri dengan tiba-tiba sehingga dua orang pelacur cantik yang tadinya duduk di atas kedua pahanya terpelanting jatuh sambil menjerit. Orang ini berpakaian mewah dan sikapnya agung-agungan, sambil berdiri dia berseru, “Hai… pengawal….! Tangkap pengacau…!!”

Pintu depan terbuka dan para pengawal serta tukang pukul berlompatan masuk. Swat Hong girang sekali karena dia dapat menduga bahwa Si Gendut itulah tentu yang menjadi kepala daerah, orang she Gu yang diperalat oleh Ciu-wangwe. Maka dia sudah meloncat ke dekat orang itu, mencabut pedangnya dan menempelkan pedang telanjang di leher Gu-taijin sambil menghardik, “Gu-taijin! Cepat kau menyuruh mundur semua orangmu! Kalau tidak, pedang ini akan menyembelih lehermu!”

Swat Hong menahan geli hatinya melihat tubuh yang gendut itu menggigil semua dan dia menahan jijiknya karena terpaksa menggunakan tangan kanan mencengkeram leher baju. Apalagi ketika melihat betapa lantai di bawah pembesar gendut ini tiba-tiba menjadi basah, tersiram air yang membasahi celana, dia makin jijik. Ingin dia membacokkan pedangnya saja agar manusia tiada guna ini tewas seketika kalau saja dia tidak teringat bahwa jalan satu-satunya untuk membantu Kwee Lun membereskan urusannya hanyalah menangkap pembesar ini hidup-hidup. Biarpun manusia gendut ini tidak ada gunanya, akan tetapi manusia yang bagaimana pun pengecut dan lemahnya, sekali menduduki pangkat besar, menjadi seorang yang sewanang-wenang dan jahat! Makin pengecut dan makin rendah watak orang itu makin celakalah kalau dia memperoleh kedudukan tinggi, karena kerendahan akalnya akan membuat dia makin jahat, mempergunakan kekuasaannya yang kebetulan melindunginya.

“Am… ampun…!” Gi-taijin dengan sukar sekali mengeluarkan suara. Mendengar betapa lehernya akan disembelih, apalagi disembelih berlahan-lahan dan sedikit demi sedikit, membayangkan betapa lehernya akan terasa perih dan nyeri, berlepotan darah, betapa dia akan mati dan meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan hidupnya, hampir dia pingsan!

“Suruh mereka mundur…!” Kembali Swat Hong membentak dan tangan kirinya mencengkeram tengkuk.

“Ouwwhhh…!” Pembesar itu menjerit, mengira tengkuknya disembelih, padahal hanyalah jari-jari saja yang mencengkeramnya.

“Heii, mundur kalian! Tolol semua! Mundur kataku, dan jangan membantah… Li… Lihiap…!”

Para pengawal menjadi bingung dan dengan muka pucat dan mata terbelalak lebar mereka mundur sambil memandang penuh kesiapsiagaan. Pada saat itu, seorang tukang pukul telah berhasil membebaskan totokan Ciu-wangwe dan kini hartawan itu dengan marahnya berteriak kepada tukang pukulnya, “Cepat serbu iblis betina itu….!”

Swat Hong kembali mencengkeram tengkuk Gu-taijin. “Suruh jahanam Ciu itu menyerah!”

“Ouughh… Ciu-wangwe… jangan…! jangan melawan….!” Ciu-wangwe yang melihat betapa kepala daerah itu telah ditangkap, sejenak menjadi bingung sekali. Akan tetapi tentu saja dia tidak sudi menyerah dan pada saat itu terdengar suara hiruk pikuk di sebelah luar hotel. Tahulah Swat Hong bahwa Kwee Lun tentu telah turun tangan pula mulai bereaksi, maka dia berkata, “Orang she Ciu! Kejahatanmu berakhir di hari ini juga!”

Selagi Ciu-wangwe kebingungan, tiba-tiba datang seorang tukang pukulnya dari luar dan berteriak-teriak, “Celaka… Loya…. ada orang merobohkan restoran kita….!” Akan tetapi orang ini terbelalak memandang ke dalam dengan muka pucat. Dia melihat kepala daerah berada dalam cengkeraman wanita cantik itu dan melihat Ciu-wangwe berdiri bingung.

Mendengar ini, Ciu-wangwe menjadi kaget dan mengira bahwa tentu banyak musuh yang datang menyerbunya. Dia tidak mau mempedulikan Gu-taijin lagi. Dalam keadaan seperti itu, yang terbaik baginya adalah berada di luar dan berusaha mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menghadapi para penyerbu. Keselamatan Gu-taijin tentu saja tidak dipedulikannya lagi. Maka tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu berlari hendak keluar dari ruangan besar itu.

“Hendak kemana engkau?” Swat Hong cepat menotok roboh Gu-taijin dan meloncat ke depan. Tubuhnya melayang dan Ciu-wangwe hanya melihat sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu wanita cantik itu telah berdiri di depannya!

“Serbu….!” Bentaknya dan dia sendiri yang sudah mencabut goloknya membacok dengan cepat sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

“Sing-sing-singggg….!!” Bertubi-tubi golok itu menyambar dan kini anak buahnya juga sudah membantunya. Swat Hong cepat memutar pedangnya dan mengerahkan sinkang disalurkan kepada pedang itu.

“Cringcring- trang-trang-trang….!!” Sebatang golok di tangan Ciu-wangwe dan empat batang pedang terlepas dari pegangan pemiliknya, dan tiga orang pengeroyok roboh terkena totokan kipas perak di tangan kirinya!

Melihat kelihaian wanita ini, bukan main kagetnya hati Ciu-wangwe. Dia sudah berpengalaman dan tahulah dia bahwa kalau dia melanjutakn, dia sendiri akan roboh di tangan wanita lihai ini. Maka jalan terbaik baginya adalah lari keluar untuk mengerahkan anak buahnya dan kalau perlu melarikan diri! Melihat orang yang hendak ditangkapnya itu lari, Swat Hong hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu dia melihat tubuh gendut Gu-taijin sedang dibantu oleh beberapa orang meninggalkan tempat itu. Celaka, pikirnya. Dia harus dapat menangkap pembesar itu , kalau tidak, tentu akan sukar menundukkan semua orang. Maka dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kanan, tangan kanan itu bergerak dan pedangnya meluncur seperti kilat menyambar ke depan. Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ciu-wangwe terjungkal ke depan, dadanya ditembusi pedang dari punggung dan dia tewas seketika! Swat Hong telah melompat dan tangan kanannya kembali sudah mencabut pedang, kini pedang milik Kwee Lun yang dicabutnya. Kipas di tangan kirinya merobohkan empat orang pengawal yang tadi membantu Gutaijin dan mereka roboh tertotok, kemudian sebelum pembesar itu sempat bergerak, dia sudah mencengkeramnya lagi, bahkan yang dicengkeram adalah pundaknya sambil mengerahkan tenaga.

“Aughhh… add… duh… duh…duhhh… ampun, Lihiap….!” Gu-taijin berteriak-teriak seperti seekor babi disembelih.

“Hayo cepat suruh mereka semua mundur!” bentak Swat Hong, kembali pedang telanjang ditekankan di tengkuk pembesar itu.

“Mundur kalian semua! Keparat! Kurang ajar kalian! Disuruh mundur tidak cepat mentaati perintah! Apa minta dihukum gantung semua!”

Mendengar pembesar ini dengan suara galak sekali, seperti biasanya, membentak-bentak, semua pengawal dan anak buah Ciu-wangwe terbelalak ketakutan dan mundur. Apalagi mereka melihat betapa Ciu-wangwe sudah tewas. Para pelacur yang tadi melayani perjamuan itu, menjerit-jerit dan lari pontang-panting, kemudian bersembunyi di kolong-kolong meja dan belakang-belakang lemari.

Swat Hong mendengar suara ribut-ribut di luar, suara pertempuran. Tahulah dia bahwa Kwee Lun sedang dikeroyok. Cepat dia menarik tubuh pembesar Gu keluar dari hotel, kemudian dengan mencengkeram punggung baju, dia membawa pembesar gendut itu meloncat ke atas genteng. Semua orang memandang heran melihat betapa seorang gadis cantik dan muda seperti itu mampu meloncat sambil mencengkeram tubuh seorang laki-laki bertubuh gendut dan berat seperti pembesar itu! Swat Hong masih mencengkeram punggung Gu-taijin yang pucat sekali wajahnya, menggigil kedua kakinya. Tentu saja dia merasa ngeri berdiri di atas genteng, di pinggir sekali. Terpeleset sedikit saja dia tentu akan melayang jatuh ke bawah, tubuhnya akan remuk! Selama hidupnya tentu saja belum pernah dia naik ke atas genteng. Akan tetapi karena dia ditodong dan merasa takut sekali kepada wanita perkasa yang mencengkeram punggungnya, dia mentaati perintah Swat Hong dan dengan suara lantang dia berteriak-teriak dari atas.

“Haiii…. mundur semua…!” Dia melihat pasukan keamanan sudah berada di situ, dipimpin oleh Bhongciangkun, perwira yang mengepalai pasukan keamanan. “Bhong-ciangkun, suruh semua pasukan mudur!”

Pada saat itu, Kwee Lun sedang mengamuk. Tadinya yang mengeroyoknya hanyalah para tukang pukul anak buah Ciu-wangwe dan dia sudah berhasil merobohkan belasan orang dengan tambang di tangannya yang kini sudah berlepotan darah. Akan tetapi dia kewalahan juga ketika pasukan keamanan datang. Pasukan yang jumlahnya hampir seratus orang itu tentu saja tidak mungkin dapat dia lawan seorang diri hanya mengandalkan segulung tambang! Maka dalam amukannya itu, dia sudah menerima pula beberapa bacokan senjata tajam yang melukai pinggul dan punggungnya, membuat pakaiannya berlepotan darah pula. Namun, sedikit pun semangatnya tidak menjadi kendur, bahkan darah dipakaiannya itu seolah-olah membuat dia makin bersemangat lagi!

Melihat betapa atasannya berada di atas genteng dan mengeluarkan perintah itu, Bhong-ciangkun terkejut dan cepat dia mengeluarkan aba-aba menyuruh pasukannya mundur. Kwee Lun ditinggalkan seorang diri, berdiri dengan kedua kakinya terbentang lebar, pakaian dan tambangnya berlumuran darah, gagah bukan main sikapnya. Sisa anak buah Ciu-wangwe tidak ada lagi yang berani maju setelah para pasukan itu diperintahkan mundur. Apalagi ketika mereka itu mendengar bisikan teman-teman bahwa Ciuwangwe telah tewas oleh dara di atas genteng itu!

Ketika Kwee Lun melihat betapa Swat Hong telah berdiri di atas gentang sambil membawa Gu-taijin, diam-diam dia menjadi kagum bukan main. Kiranya gadis itu amat cerdiknya. Tahulah dia bahwa dara perkasa itu hendak menggunakan kekuasaan Gu-taijin untuk membasmi kejahatan yang merajalela di Lengsia- bun! Maka sambil tertawa bergelak dia pun melompat dan tubuhnya melayang ke atas genteng di mana dia berdiri di samping Swat Hong dan berkata mengejek, “Hong-moi, bagaimana kalau kita dorong kotoran ini ke bawah saja dan melihat perutnya berhamburan di bawah sana?”

“Jangan…. jangan … aduh, ampunkan saya….” Gu-taijin berkata memohon dengan rasa takut menghimpit hatinya.

“Kalau begitu, hayo kau membuat pengumunan dan perintah, menurutkan kata-kataku.” Swat Hong berbisik di belakang pembesar itu. Gu-taijin mengangguk-angguk, kemudian terdengarlah suaranya lantang mengikuti perintah yang dibisiki oleh Swat Hong.

“Hai, dengarlah baik-baik semua pembantuku dan semua penduduk Leng-sia-bun! Hari ini, dengan bantuan Kwee-taihiap dari Pulau Kura-kura, aku baru mengetahui bahwa di kota ini terdapat komplotan penjahat yang diketuai oleh Hartawan Ciu Bo Jin! Mereka mendirikan rumah judi, hotel pelacuran, dan rumah makan di mana terjadi segala macam kejahatan perjudian curang, pemaksaan terhadap gadis-gadis yang diculik untuk dijadikan pelacur dan penyogokan terhadap para petugas pemerintah! Sekarang Ciu-wangwe telah tewas! Anak buahnya akan diampuni asal saja mulai sekarang mau merobah watak dan tidak lagi melakukan kejahatan ! Dan semua wanita yang dipaksa menjadi pelacur, akan dibebaskan dan dikirim pulang ke rumah masing-masing dengan mendapat bekal masing-masing seratus tail perak! Semua ini harus dijalankan sebaiknya. Kalau ada yang melanggar dia akan dihukum sesuai dengan hukuman pemerintah, dan selain itu, juga Kwe-taihiap sendiri akan selalu mengawasi dan memberi hukuman terhadap mereka yang tidak mentaati perintah kami ini!”

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai penduduk dan terjadi keributan karena beberapa tukang pukul yang pernah berbuat sewenang-wenang, tiba-tiba dikeroyok oleh penduduk! Sekali ini, para pasukan pemerintah tidak ada yang berani melindunginya para tukang pukul itu sehingga mereka mengaduh-aduh dan tidak berani melawan, mengalami pemukulan penduduk sampai babak belur! Dan para wanita pelacur yang berasal dari keluarga baik-baik dan yang dipaksa menjadi pelacur dengan berbagai ancaman dan siksaan, sudah menangis riuh-rendah, menangis saking girang, terharu, dan juga duka.

“Awas kau, Gu-taihiap. Kalau sampai semua ucapanmu tadi tidak kau laksanakan, kami akan melaporkan bahwa engkau sebagai seorang kepala daerah telah diperalat oleh orang jahat dengan jalan sogokan, dan selain itu, kami akan datang kembali khusus untuk menyembelih lehermu!” Swat Hong berbisik dengan nada penuh ancaman. Pembesar itu mengangguk-anggukkan kepalanya seperti seekor ayam mematuki gabah. Ketika dia mengangkat muka memandang, ternyata kedua orang itu telah lenyap dan dia hanya berdiri sendiri saja di atas genteng yang begitu tinggi. Tentu saja dia menjadi ngeri sekali.

“Bhong-ciangkun…. tolong…. tolong saya turun….!” Bhong-ciangkun telah melihat bayangan kedua orang itu berkelebat, maka dia lalu meloncat naik ke atas genteng dan membawa pembesar itu turun.

“Bagaimana, apakah hamba harus mengejar mereka?” Bhong-ciangkun berbisik. “Hushhh…! Bodoh! Masih untung kita….” Pembesar itu berbisik kembali kemudian berkata lantang. “Hayo laksanakan perintahku tadi!”

Demikianlah, peristiwa itu menjadi semacam dongeng sampai bertahun-tahun di kalangan penduduk Lengsia- bun, dan betapa pun orang mencari kedua orang pendekar itu, tak pernah lagi mereka melihat mereka. Memang Swat Hong dan Kwee Lun telah melarikan diri dari kota itu dan melanjutkan perjalanan mereka dengan hati puas.

“Hebat kau, Hong-moi!” Kwee Lun memuji. “Luar biasa sekali! Kalau tidak ada engkau yang membantuku dengan siasat yang cerdik itu, tentu akan lain jadinya! Aku masih sangsi apakah aku akan mampu menaklukkan mereka! Tentu akan menjadi banjir darah, dan mungkin aku sendiri akhirnya mati dikeroyok.”

“Ah, sudalah, Kwee-twako. Kau yang hebat, menggunakan tali merobohkan restoran dan dengan hanya bersenjatakan tambang dapat menghadapi pengeroyokan puluhan orang!”

“Tidak ada artinya dibandingkan dengan sepak terjangmu, Moi-moi. Engkau telah membantuku sehingga tugasku selesai dengan hasil baik. Tak pernah aku akan dapat melupakan ini! Dan sebagai balasannya, aku akan membantumu mencari ibumu dan suhengmu sampai berhasil pula!”

Wajah Swat Hong menjadi suram, dan dia menarik napas panjang. “Hemm… Ibu dan Suheng pergi tanpa meninggalkan jejak. Ke mana aku harus mencarinya?”

“Jangan khawatir, Moi-moi. Kalau memang Ibumu dan Suhengmu mendarat tentu kita akan dapat mencari mereka. Tempat yang paling tepat untuk mencari seseorang adalah kota raja. Memang belum tentu mereka berada di sana, akan tetapi setidaknya, di kota raja merupakan sumber segala keterangan sehingga kita dapat mendengar-dengar kalau-kalau ada berita dari dunia Kang-ouw tentang mereka.”

Swat Hong Menyetujui pendapat ini Memang dia pun bermaksud mengunjungi kota raja, karena bukankah nenek moyangnya dahulunya juga seorang anggauta keluarga raja? Mereka melanjutkan perjalanan dari luar kota Leng-sia-bun. Makin lama melakukan perjalan bersama Kwee Lun, setelah lewat sebulan kurang lebih, makin sukalah Swat Hong kepada pemuda itu. Dia makin mengenal Kwee Lun, sebagai seorang yang benar-benar jantan, keras hati, teguh dan tidak mempunyai sedikit pun pikiran menyeleweng, suka bergurau, kasar akan tetapi kekasaran yang bukan bersifat kurang ajar melainkan karena terbawa oleh kejujurannya yang wajar dan tak pernah mau menyembunyikan sesuatu. Pendeknya, pemuda itu benar-benar seorang laki-laki yang gagah perkasa lahir bathinnya.

Di lain pihak, Kwee Lun juga merasa kagum kepada Swat Hong setelah dia mengenal sifat-sifat temanya ini yang amat cerdik, periang, jenaka namun keras hati dan kadang-kadang tampak keagungan sikapnya sebagai seorang puteri kerajaan! Namun dara itu sama sekali tidak angkuh atau sombong, sungguhpun kini dia harus mengakui bahwa ilmu kepandaiannya sedikitnya kalah dua tingkat dibandingkan dengan dara Pulau Es ini!

Oleh karena inilah maka ada keseganan di dalam hatinya sehingga biarpun dia yang selalu memimpin perjalanan dan menjadi petunjuk jalan, namun dalam segala hal, sampai dalam memilih makanan dan penginapan yang selalu dibayar oleh Kwee Lun, pemuda ini selalu minta pendapat dan keputusan Swat Hong!


Pada suatu hari tibalah kedua orang ini di kaki Pegunungan Tai-hang-san yang amat luas dan memanjang dari selatan ke utara. Tujuan mereka adalah Tiang-an ibu kota Kerajaan Tang. Di dusun ini mereka berhenti untuk makan di sebuah warung nasi sederhana. Mereka memesan nasi, mi, dan arak, Kwee Lun minta air hangat untuk Swat Hong agar nona ini dapat mencuci muka setelah melakukan perjalanan yang panas berdebu. Ketika Swat Hong sedang bercuci muka dengan air hangat, menggosok mukanya dengan air bersih sampai kedua pipinya kemerahan, dia mendengar percakapan menarik dari arah dapur warung itu.

“Bukan main ramenya !” terdengar suara seorang laki-laki, agaknya pekerja di dapur itu.

“Lebih ramai daripada kalau melihat dua orang jago silat berkelahi! Bayangkan saja! Harimau mengaum sampai bumi tergetar, lalu menubruk dan mencakar ke arah biruang itu. Akan tetapi si biruang juga tidak kalah lihainya, dia menggereng dan aku yakin engkau sendiri tentu akan terkencing-kencing mendengar gerengan itu! Dia dapat menangkis dengan kaki depannya dan balas menggigit. Mereka saling cakar, saling gigit, mula-mula saling menangkis lalu bergumul! Bukan main!”

“Ahhh, sudahlah. Siapa percaya omonganmu? Paling-paling kau melihat ornag mengadu jangkerik dan kau kalah bertaruh lagi! Lebih baik lekas masak air, tehnya hampir habis.”

Swat Hong cepat menghampiri Kwee Lun dan berbisik, “Agaknya di sini ada jejak suhengku!”

“Ehhh….? Kwee Lun bertanya heran.

“Ada orang di dapur tadi bercerita tentang pertandingan antara harimau dan biruang, dan kalau tidak salah perasaan hatiku, itu biruang kepunyaan suheng.”

“Eh? Suhengmu memelihara biruang?” Kwee Lun bertanya makin heran lagi.

“Belum kuceritakan kepadamu, Twako. Ketika aku berpisah dari suheng, dia sedang mengobati seekor biruang terluka. Tentu biruang itu menjadi jinak dan menjadi binatang peliharaannya.”

“Aduh! Suhengmu tentu hebat sekali, berani mengobati seekor biruang!”

“Sudahlah, Twako. Kalau kelak dapat bertemu, engkau dapat berkenalan dengan suheng sendiri. Sekarang harap kau suka tanyakan kepada pekerja di dapur tentang biruang yang diceritakannya tadi.”

“Mengapa tidak panggil saja dia ke sini? Hei, Bung pelayan!” Pelayan itu segera menghampiri. “Tolong kau panggilkan sahabat yang tadi berbicara tentang biruang, dia bekerja di dapur. Cepat!”

Pelayan itu terheran-heran, akan tetapi dia masuk juga ke dalam dan tak lama kemudian, dia kembali ke situ bersama seorang laki-laki muda yang kelihatan takut-takut. Laki-laki ini kurus kecil dan memakai pakaian koki, agaknya dialah tukang atau pembantu tukang masak di warung itu. “Saya…. saya tidak tahu apa-apa….” begitu tiba di dekat meja, orang itu berkata.

Kwee Lun menggerakkan tangannya tak sabar. “Aahh, mengapa takut? Kami hanya tertarik mendengar cerita biruang bertanding dengan harimau. Di manakah kejadian itu dan bagaimana asal mulanya?” Kwee Lun mengeluarkan sepotong uang dan memberikan kepada orang itu. “Nah, ceritakanlah! Jangan takut-takut, ini hadiahnya.”

Orang itu menerima hadiah dan setelah memandang ke kanan kiri dia bercerita. “Pagi tadi, sebelum masuk bekerja saya menemani Saudara Misan saya mengantar segerobak kayu bakar ke atas sana….” dia menuding ke luar warung.

“Ke atas mana?”

“Di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Siangkoan Lo-enghiong. Kami berdua mengantarkan kayu bakar dan melihat ribut-ribut di sana. Mendengar gerengan-gerengan dahsyat, saya lalu menyelinap dan mendahului saudara saya, mengintai. Ternyata di sana sedang diadakan permainan yang luar biasa, yaitu adu harimau dan biruang! Entah milik siapa biruang itu, akan tetapi harimau itu saya kenal sebagai harimau peliharaan Siangkoan Lo-engkeng yang biasanya di dalam kerangkeng. Bukan main ramenya dan saya takut sekali. Agaknya di tempat Siangkoan Lo-enghiong ada tamu yang membawa biruang….”

“Siapa tamunya? Bagaimana macam orangnya?” Swat Hong mendesak penuh ketegangan hati.

Akan tetapi orang itu menggeleng kepala. “Bagaimana saya bisa tahu? Di atas sana banyak orang, murid-murid Lo-enghiong dan orang-orang seperti kami tidak mempunyai hubungan dengan Puncak Awan Merah, kami tidak diperbolehkan naik kecuali kalau ada pesanan dari sana. Hanya kadang-kadang saja Siocia atau murid Lo-enghiong yang turun ke sini. Melihat pertandingan yang amat dahsyat itu, saya ketakutan dan cepat lari turun lagi….”

Swat Hong mengerutkan alisnya. Mungkinkah suhengnya “kesasar” sampai di tempat ini? Tiba-tiba Kwee Lun bertanya, “Yang kausebut Siangkoan Lo-enghiong itu, apakah dia bernama Siang-koan Houw?”

“Nama lengkapnya mana saya tahu?” Orang itu menggeleng kepala, kelihatannya takut-takut.

“Julukannya Tee Tok (Racun Bumi), bukan?” Orang itu makin ketakutan, akan tetapi dia mengangguk.

“Pernah saya mendengar muridnya bicara menyebut julukan itu…. harap Ji-wi maafkan, saya masih banyak pekerjaan di dapur.” Dia tidak menanti jawaban, kembali ke dapur dengan sikap ketakutan.

“Aihh, kiranya Teek-tok sekarang tinggal di tempat ini!” kata Kwee Lun.

“Twako, siapakah racun bumi itu?”

“Hemm, seorang yang luar biasa! Dapat dikatakan saingan suhu, menurut cerita suhu, sukar dikatakan siapa yang lebih unggul. Dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh dunia kang-ouw yang sudah terkenal sekali. Aku sendiri baru mendengar namanya dari suhu saja. Menurut suhu, dia adalah seorang yang gagah perkasa dan jujur, akan tetapi sayang sekali, hati ganas dan kejam terhadap orang yang tak disukainya dan dia amat lihai dan berbahaya sebagai seorang ahli racun yang mengerikan. Karena itu julukannya adalah Racun Bumi. Sungguh tidak dinyana bahwa kita bakal bertemu dengan orang seperti dia!”

“Hemm… kalau begitu engkau sudah merencanakan untuk mengunjungi Puncak Awan Merah, Twako?”

“Tidak begitukah kehendakmu? Agaknya sangat boleh jadi biruang itu milik suhengmu. hong-moi, karena di tempat tinggal seorang seperti teek-tok, segala apa mungkin saja terjadi. Tentu saja amat mencurigakan dan hatiku tidak akan merasa puas kalau belum menyelidiki ke sana. Kalau ternyata suhengmu tidak berada di sana kita turun lagi karena aku tidak mempunyai urusan dengan Tee-tok.”

Swat Hong mengangguk. “Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat. Entah mengapa, betapa pun sedikit kemungkinannya bahwa suheng berada di sana, akan tetapi hatiku merasakan sesuatu yang aneh. Kita harus menyelidiki ke sana.”

Setelah membayar harga makanan berangkatlah kedua orang itu ker Pulau Awan Merah, tentu saja diikuti pandang mata penuh keheranan dan kegelisahan oleh pelayan warung yang mereka tanyai di mana adanya puncak itu. Setelah mereka mendekati bukit dan tiba di lereng atas, tampaklah bangunan besar di puncak yang dimaksudkan itu. Mereka tidak mengerti mengapa puncak itu disebut Puncak Awan Merah, padahal ketika mereka tiba di situ di siang hari itu, awannya tidak berwarna merah melainkan biru dan putih seperti biasa.

“Twako, kedatangan kita hanya menyelidiki apakah suheng berada di sana. Oleh karena itu, tidak baik kalau kita datang berterang, bisa menimbulkan kecurigaan orang dan kita tidak berniat mencari perkara dengan tokoh kang-ouw itu, bukan? Maka, sebaiknya kita berpencar dan kau menyelidiki dengan memutar dari kiri, aku dari kanan, sampai kita saling bertemu dan kalau suheng tidak ada di sana, dan biruang itu bukan biruangnya, kita segera kembali ke dusun tadi dan bermain saja di sana.”

“Baik, Hong-moi, dengan demikian, penyelidikan dapat dilakukan lebih leluasa dan lebih cepat.”

Mereka mendaki terus dan setelah tiba di luar pagar tembok gedung besar di puncak itu, mereka berpencar. Swat Hong yang mengambil jalan dari kanan menyelinap di atas pohon-pohon dan batu gunung. Tak lama kemudian dia mendengar suara orang dan cepat dia menghampiri dan mengintai. Apa yang dilihatnya membuat dia hampir berteriak saking kagetnya! Dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika dia melihat suhengnya, Kwa Sin Liong, terbelenggu kedua pergelangan tangannya dan setengah tergantung pada pohon! Tubuh atas suhengnya itu telanjang dan hanya celana dan sepatunya saja yang menutupi tubuhnya. Sin Liong kelihatan tenang saja biarpun dahinya berpeluh, dan agaknya pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya terbelenggu, karena Swat Hong yakin sekali bahwa apabila dikehendaki oleh suhengnya itu, apa sukarnya membebaskan diri dari belenggu seperti itu? Tentu ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini! Swat Hong menahan kemarahannya yang membuat dia ingin menyerbu, dan dia memandang kepada orang-orang lain itu.

Dua orang yang berpakaian seragam, memakai topi aneh, menjaga di belakang pohon dan tangan mereka meraba gagang golok. Seorang kakek yang tinggi besar, brewok dan matanya lebar, dengan marah-marah menghampiri Sin Liong, tangan kanannya memegang senjata yang aneh. Bukan senjata, pikir Swat Hong, melainkan tanduk rusa yang agaknya hendak dipakai sebagai senjata. Tanduk rusa seperti itu saja apa artinya bagi suhengnya? Yang membuat dia terheran-heran adalah melihat suhengnya berada di tempat itu dan mudah saja dibelenggu dan dihina!

Apa yang telah terjadi? Seperti telah kita ketahui, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Ouw Soan Cu, gadis Pulau Neraka yang hendak mencari ayahnya. Sebetulnya, mencari ayahnya ini hanya merupakan alasan yang dicari-cari saja oleh Ouw Kong Ek, ketua Pulau Neraka. Puteranya Ouw Sin Kok, ayah kandung Soan Cu, telah menghilang selama belasan tahu, tak pernah kembali dan tidak pula ada kabarnya sehingga menimbulkan dugaan besar bahwa Ouw Sian Kok telah meninggal dunia. Selain itu, andaikata masih hidup, tak seorang pun mengetahui di mana tempat tinggalnya. Soan Cu ditinggal ayah kandungnya sejak bayi bagaimana mungkin dia dapat mencari ayahnya yang belum pernah dilihatnya dan tak diketahui ke mana perginya itu? Kalau Ouw Kong Ek mengunakan alasan ini dan mendesak kepada Sin Liong agar membawa dara itu bersama, keluar dari Pulau Neraka, adalah karena sebenarnya dia ingin agar cucunya itu dapat berjodoh dengan Sin Liong. Dia sering kali mengingat akan nasib cucu yang di cintanya itu. Jauh dari dunia ramai, akhirnya cucunya itu terpaksa hanya akan berjodoh dengan seorang penghuni Pulau Neraka! Maka munculnya Sin Liong untuk pertama kalinya itu sudah mendatangkan harapan untuk menjodohkan cucunya dengan pemuda itu. Apalagi ketika Sin Liong datang untuk kedua kalinya, bahkan pemuda itu telah menolong Soan Cu, dan menolong Pulau Neraka yang diserbu bajak laut. Tentu saja dia tidak dapat memaksa pemuda itu untuk menjadi calon suami cucunya, akan tetapi dengan kesempatan melakukan perantauan bersama, dia harap akan timbul cinta di dalam hati pemuda itu terhadap cucunya yang dia tahu merupakan seorang gadis yang cantik jelita dan berilmu tinggi, juga berwatak baik. 

Demikianlah, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Soan Cu dan juga biruang raksasa yang menjadi jinak itu. Dengan sebuah perahu yang disediakan oleh Ouw Kong Ek, berangkatlah mereka meninggalkan Pulau Neraka, berlayar melalui pulau-pulau di daerah itu. Akhirnya, karena tidak berhasil menemukan Swat Hong yang dicari-carinya, juga tidak tampak seorang pun manusia tinggal di daerah lautan berbahaya itu, Sin Liong mengemudikan perahunya menuju ke arah barat, ke daratan besar.

“Besar kemungkinan Sumoi mendarat, dan kalau sampai belasan tahun ayahmu tidak pernah pulang dan tidak ada beritanya, juga bukan tidak mungkin Ayahmu tinggal di sana,” katanya kepada Soan Cu. “Mari kita mencari jejak mereka di daratan besar.”

Soan Cu tidak membantah dan demikianlah, akhirnya mereka mendarat dan hanya beberapa hari lebih dulu dari pendaratan yang dilakukan oleh Swat Hong yang tersesat jalan dan mendarat jauh di selatan sehingga dia bertemu dengan Kwee Lun. Karena dari pantai ke barat banyak melalui daerah yang sunyi, pegunungan dan hutan, maka adanya biruang bersama meraka tidak terlalu mengganggu benar. Pula, binatang itu sudah jinak sekali, bahkan dapat disuruh untuk mencari buah-buahan, pandai pula mencari air di dalam hutan yang lebat.

Pada suatu hari, tibalah mereka di pegunungan Tai-hang-san. Tanpa mereka ketahui, mereka tiba di lereng puncak Awan Merah, daerah kekuasan Tee-tok. Ketika mereka memasuki sebuah hutan besar, tiba-tiba terdengar auman harimau yang amat keras sehingga suara itu menggetarkan hutan. Mendengar auman ini, biruang menjadi marah sekali. Sin Liong cepat memegang dan memeluk binatang itu, khawatir kalau-kalau biruang itu akan lari dan berkelahi dengan harimau yang mengaum itu.

“Hai…….! Ada harimau! Biar kutangkap dia!” Sian Cu sudah berlari-lari membawa senjatanya yang aneh dan istimewa, yaitu sebatang cambuk berduri yang menjadi senjata kesayangannya disamping pedang. Dia tertawa-tawa gembira sehingga Sin Liong tidak tega untuk melarangnya. Dara itu masih remaja, masih bersifat kanak-kanak dan hanya kadang-kadang saja tampak kedewasaanya. Dia maklum bahwa gadis yang sejak bayi dibesarkan di tempat seperti Pulau Neraka itu, tentu saja memiliki sifat-sifat liar, akan tetapi dia pun mengenal dasar-dasar baik dari hati Soan Cu. Selain membiarkan gadis itu bergembira, juga dia percaya penuh bahwa ilmu kepandaian Soan Cu sudah tinggi sekali, cukup tinggi untuk melindungi diri sendiri. Soan Cu berlari cepat sekali dan dalam berlari ini timbullah kegembiraan yang luar biasa di dalam hatinya.

Di depan Sin Liong, dia selalu harus menekan perasaannya karena sikap pemuda ini sungguh penuh wibawa dan membuat dia tunduk, takut dan hormat seolah-olah pemuda itu menjadi pengganti kakeknya. Akan tetapi sesunguhnya semenjak dia meninggalkan Pulau Neraka, ada perasaan gembira yang disembunyikannya dan baru sekarang dia memperoleh kesempatan untuk melepaskan kegembiraannya yang meluap-luap. Ingin dia bersorak gembira kalau saja tidak takut terdengar oleh Sin Liong! Maka kegembiraannya itu disalurkannya lewat kedua kakinya yang berloncatan dan berlari-lari menuju ke arah suara harimau yang mengaum. Karena auman harimau itu keras sekali, mudah saja bagi Soan Cu untuk menuju ke tempat itu dan akhirnya dia melihat seekor harimau yang amat besar dan kuat, berbulu indah sekali, loreng-loreng hitam kuning berdiri memandang ke arah seorang laki-laki yang berdiri ketakutan.

Harimau itu membuka-buka moncongnya, seperti seorang anak kecil yang menggoda kakek itu, menakut-nakutinya, kadang-kadang mengaum dan tiap kali dia mengaum, kedua kaki orang itu menggigil dan terdengar suara terputus-putus dan dia mencoba untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon, “Kakak harimau yang baik….. saya….. saya….. A-siong pedagang kayu bakar….. hendak mengirim kayu bakar kepada Lo-enghiong……. harap jangan mengganggu saya……”

Harimau itu sebetulnya adalah harimau peliharaan Tee-tok dan biasanya dikurung dalam kerangkeng dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja dibiarkan berkeliaran di hutan. Agaknya penjaga harimau pada hari itu terlupa sehingga harimau itu tetap berkeliaran pada waktu A-siong sedang mengirim kayu bakar ke Puncak Awan Merah. A-siong adalah seorang di antara pedagang-pedagang kayu bakar yang suka menjual kayu bakar di tempat itu.

Melihat harimau itu, Soan Cu lalu berseru, “Kucing besar, kau nakal sekali!”

Harimau itu menggereng dan menoleh. Ketika dia melihat seorang wanita memengang cambuk, dia menggereng dan cepat sekali, berlawanan dengan tubuhnya yang besar, dia sudah membalik dan menubruk.

“Celaka……!” A-siong berseru kaget, memeluk batang pohon dan menahan napas, membelalakan matanya. Akan tetapi, tanpa mengelak Soan Cu sudah menggerakan cambuknya.

“Tar-tar!” ujung cambuk itu menyambar dan membelit kaki depan kanan harimau itu dan sekali tarik, tubuh harimau yang sedang meloncat itu terbanting ke atas tanah. Harimau itu menggereng dan kelihatan marah sekali. Kembali dia menubruk, akan tetapi sekali ini, Soan Cu yang sedang gembira meloncat ke kiri dan melihat tubuh harimau itu menyambar lewat, dengan tangan kirinya dia menangkap ekor harimau yang panjang dan sekali tubuhnya bergerak, dia telah berada di atas punggung harimau! Sambil tersenyum-senyum dan membuat gerakan seperti orang menunggang kuda, Soan Cu menggerak-gerakan ujung cambuk menyabeti moncong harimau itu. Tentu saja harimau itu merasa kesakitan karena ujung cambuk itu berduri. Dengan kemarahan meluap harimau itu berusaha mencakar dan menggigit ujung cambuk yang mungkin dikira seekor ular yang ganas, namun tak pernah berhasil bahkan bagaikan buntut seekor ular, ujung cambuk itu terus melecuti hidung dan bibirnya sampai berdarah!

“Hiyooooo…. kucing binal, hayo jalan baik-baik!” Seperti seorang pemain sirkus yang mahir, Soan Cu menunggang harimau, tangan kiri mencengkeram kulit leher, tangan kanan mempermainkan cambuknya dan harimau itu yang mengejar ujung cambuk yang digerak-gerakan, melangkah perlahan-lahan!

A-siong yang menonton sambil berusaha menyembunyikan diri di balik batang pohon, terbelalak dan hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Beberapa kali tangan kirinya menggosok kedua matanya dengan ujung lengan baju karena dia mengira bahwa dia sedang dalam mimpi, akan tetapi tetap saja penglihatan yang luar biasa itu masih tampak oleh kedua matanya.

“Soan Cu, turunlah……!!” Tiba-tiba terdengar teguran dan mengenal suara Sin Liong, lenyaplah semua kegembiraan yang liar dari gadis itu.

Dia masih tersenyum, akan tetapi matanya kehilangan sinar yang berapi-api dan liar tadi, dan dia berkata, “Liong-koko, dia…. dia hendak menerkam orang…..” ucapannya ini bersifat membela diri karena dia ketakutan oleh pemuda itu sedang mengganggu harimau.

“Turunlah berbahaya sekali permainanmu itu!”

Soan Cu meloncat turun dan tentu saja harimau yang marah itu cepat mencakar dengan kecepatan luar biasa. Namun dia hanya mencakar tempat kosong kerena gerakan Soan Cu lebih cepat lagi. Dara ini telah meloncat ke dekat Sin Liong dan mengejek ke arah harimau dengan meruncingkan mulutnya dan mengeluarkan bunyi, “Hiii…..! Hiiiiii!!”

Sementara itu, biruang yang tadinya sudah dapat ditenangkan oleh Sin Liong dan diajak menyusul Soan Cu, setelah kini melihat harimau, timbul kembali kemarahannya, bahkan lebih hebat dari pada tadi. Pada saat Sin Liong lengah karena menegur gadis itu, tiba-tiba biruang itu melompat ke depan dan menggereng sambil memperlihatkan taringnya, memandang harimau dengan mata merah. Harimau itu agaknya tidak merasa gentar menghadapi tantangan ini. Dia pun menggereng dan menubruk. Akan tetapi biruang itu sudah siap. Ketika harimau itu menubruk dengan kedua kaki depan lebih dulu, dia menggerakan kaki depan kanan yang amat kuat, memukul dari samping dan menangkis kedua kaki depan harimau . Karena tubuh harimau itu berada di udara, tentu saja dia kalah kuat dan tubuhnya terlempar ke bawah. Akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan siap untuk melanjutkan serangannya.

“Hushhh….! Biruang yang baik, jangan berkelahi!” Sin Liong sudah menangkap kaki depan biruangnya dan mengelus kepalanya, menenangkannya.

Akan tetapi sekali ini agak sukar karena biruang itu marah sekali, meronta-ronta dan apa lagi melihat harimau itu masih menggereng hendak menyerangnya.

“Ihh, kucing licik! Hayo mundur kau!” Soan Cu melangkah maju, menggerakan cambuknya ke depan untuk menghalau harimau itu.

“Tar-tar-tarr…..!!” Harimau merasa jerih menghadapi cambuk, akan teapi bukan berarti dia takut karena dia masih menggereng-gereng memperlihatkan taringnya dan matanya merah bersinar-sinar. “Hayo pergi! Kalau tidak akan kuhajar kau!” Soan Cu membentak.

“Siapa dia berani kurang ajar hendak mengganggu harimau kami?” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah banyak orang di tempat itu.

Serombongan orang yang berpakaian seragam telah bergerak mengurung tempat itu, dan orang yang berseru tadi, seorang kakek tinggi besar yang brewok, pakaiannya ringkas, tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat, matanya lebar membayangkan kekerasan dan kejujuran, akan tetapi tarikan bibirnya membayangkan kekejaman. Di sampingnya berjalan seorang gadis yang cantik sekali, dengan pakaian yang mewah dan indah, rambutnya ditekuk ke atas dan diikat dengan kain kepala dari sutera merah, dihias dengan bunga emas permata, pakaian yang indah itu membungkus ketat tubuhnya sehingga membayangkan lekuk lengkung tubuhnya yang padat dan ramping, di pinggang yang kecil ramping itu melibat sehelai sabuk sutera merah. Telinganya terhias anting-anting batu kemala panjang berwarna hijau, menambah kemanisan wajahnya yang mendaun sirih bentuknya itu.

Sin Liong cepat menjura dengan hormat dan berkata halus, “Harap Locian-pwe sudi memaafkan kami yang secara tidak sengaja memasuki daerah ini, “kata Sin Liong sambil memegangi kaki depan biruangnya.

Kakek itu memandang tajam. Jawaban penuh kesopanan dan sepasang mata bersinar halus tanpa rasa takut sedikit pun itu mencengangkan hatinya. “Melanggar daerah ini masih bukan apa-apa, akan tetapi kalian berani mengganggu harimau peliharaanku. Apakah karena mempunyai biruang itu maka kalian menjadi sombong?”

“Kami tidak menggangu, Locianpwe. Hanya karena harimau itu dan biruang kami akan berkelahi maka kami melerai dan mencegahnya.”

“Hemm… dua ekor binatang akan berkelahi, apa anehnya? Hanya kalau manusia sudah mencampurinya, maka manusia itu lebih rendah daripada binatang!”

“Eh, tahan tuh mulut!” Soan Cu membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah mulut kakek gagah itu. Dara ini tidak lagi dapat menahan kemarahan hatinya mendengar ucapan yang menghina tadi. “Kami melerai karena yakin bahwa kucing hutan busuk ini tentu akan mampus dirobek-robek oleh biruang kami, engkau ini orang tua tidak berterima kasih, malah mengucapkan kata-kata menghina!”

Sepasang mata kakek itu besinar-sinar, bukan hanya marah akan tetapi juga kagum. Kakek ini memang orang aneh. Melihat keberanian orang, apa lagi seorang dara muda seperti Soan Cu yang pada saat itu muncul kembali sifat liarnya karena marah, dia kagum bukan main. Kakek ini adalah Siangkoan Houw yang terkenal dengan julukan Tee-tok (Racun Bumi), seorang gagah yang jujur dan terbuka sikapnya, maka kasar sekali dan kalau dia sudah marah, kejamnya melebihi harimau peliharaannya. Dia terkenal sekali di dunia kang-ouw sebagai seorang di antara tokoh-tokoh besar. Dia hidup di Puncak Awan Merah itu dengan tentram, bersama puteri tunggalnya, yaitu gadis cantik yang datang bersamanya dan yang sejak tadi diama saja. Tee-tok Siangkoan Houw sudah duda, dan hanya hidup berdua dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Adapun orang-orang lain yang berada di situ adalah para murid-muridnya yang juga menjadi anak buahnya, kurang lebih lima belas orang banyaknya, di antaranya seorang kakek yang usianya sebaya dengan dia dan rambutnya sudah putih semua. Kakek inilah yang merupakan murid kepala dan yang telah memiliki kepandaian tinggi pula, bernama Thio Sam dan berjuluk Ang-in Mo-ko (Iblis Awan Merah).

“Bagus sekali!” Kakek ini memuji. “Kalau begitu, mari kitas adukan kedua binatang itu. Hendak kulihat apakah benar-benar biruangmu dapat mengalahkan harimauku!”

“Boleh!” Soan Cu menjawab.

“Jangan! Soan Cu, tidak boleh begitu!” Sian Liong berseru, kemudian dia berkata kepada kakek itu, “Harap Locianpwe suka memaafkan kami dan biarlah kami pergi dari sini sekarang juga. Bukan maksud kami untuk mengganggu siapa pun.”

“Kucing hitam macam itu saja, biar ada lima akan diganyang oleh biruang kami!” Soan Cu masih marah-marah. “Kakek sombong mengandalkan harimaunya menakut-nakuti orang. Kalau aku tidak cepat datang, agaknya harimau itu sudah makan orang tadi! Perlu diberi hajaran!”

“Hayo kita adukan mereka!” Tee-tok berteriak-teriak dengan kumis bangkit saking marahnya. “Sebelum kedua binatang peliharaan kita saling diadu, jangan harap kalian akan dapat pergi dari sini!”

“Kami tidak takut!” Soan Cu menjerit lagi.

Mendengar ucapan kakek itu, Sin Liong menyesal bukan main. Kalau dia tidak membolehkan biruang diadu, tentu kakek itu bersama teman-temannya akan menghalangi dia dan Soan Cu pergi dan akibatnya lebih hebat lagi. Maka dia menghela napas dan berkata, “Baiklah, mari kita lepaskan mereka dan melihat apakah mereka memang mau berkelahi. Kuharap saja setelah ini, kami diperbolehkan pergi.”

“Koko, lepaskan biruang kita, biar dihancur-lumatkan kucing keparat itu. Tar-tar-tarrr…!!” Soan Cu sudah membunyikan cambuknya di udara berkali-kali.

Sin Liong melepaskan biruangnya dan dia menghampiri Soan Cu, memegang lengannya dan berbisik, “Soan Cu, kautenangkanlah hatimu, jangan marah-marah. Ingat, kita tidak mau melibatkan diri dalam permusuhan dengan siapapun juga, bukan?”

Dipegang lengannya secara demikian halus oleh Sin Liong, seketika api yang bernyala dalam hati Soan Cu padam seperti tertimpa hujan, semangat dan tubuhnya lemas dan dia menunduk sambil menganggukan kepalanya. Dia seperti seekor harimau liar yang tiba-tiba menjadi jinak!

Sementara itu, setelah kini dilepas keduanya dan tidak ada yang menghalangi, kedua ekor binatang itu mengeluarkan suara auman dan gerengan yang dahsyat dan menggetarkan. Mual-mula mereka saling pandang dan masing-masing hendak menggetarkan lawan dengan kekuatan suara, kemudian harimau yang ganas itulah yang mulai menerjang maju! Dengan berdiri di atas kedua kaki belakangnya, harimau itu menubruk dan menerkam. Akan tetapi, dengan gerakannya yang agak lamban dan tenang, namun kuat dan tetap sekali, biruang menangkis terkaman dan balas mencengkeram dengan kuku jari kakinya yang biarpun tidak seruncing kuku harimau, namun tidak kalah kuatnya. Kena tamparan biruang yang amat kuat itu, harimau terguling-guling! Hanya sepasang matanya saja yang bersinar-sinar garang, akan tetapi Soan Cu tiak berani berkutik di dekat Sin Liong. Ingin hatinya bersorak dan mulutnya mengeluarkan kata-kata mengejek melihat betapa harimau itu terguling-guling, namun dia merasa segan terhadap Sin Liong.

Harimau itu meloncat lagi dan menerkam makin dahsyat. Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat, ditengah-tengah suara gerengan yang menggetarkan seluruh bukit. Pada saat itulah koki warung yang menemani sudara misannya mengantar kayu bakar, mendapat kesempatan menonton harimau bertanding melawan biruang, akan tetapi karena merasa ngeri dan takut, dia cepat meninggalkan tempat itu dan berlari turun lagi. Perkelahian yang dahsyat, seru dan mati-matian. Biruang itu sudah menderita banyak luka di tubuhnya akibat cakaran dan gigitan harimau, akan tetapi akhirnya dia berhasil mencengkeram kepala harimau, menindihnya dan menggigit leher harimau, sampai robek dan terus luka di leher itu dirobeknya sampai keperut! Harimau berkelojotan dan mati tak lama kemudian.

“Heiii….!” Soan Cu berteiak, namun terlambat. Sinar hitam menyambar ke arah leher biruang dan binatang ini mengeluarkan pekik mengerikan lalu roboh dan tak bergerak lagi, mati diatas bangkai harimau yang tadi menjadi lawannya.

“Kau membunuh biruang kami!” Soan Cu melompat dan menuding dengan marah kepada kakek yang tadi menyerang biruang dengan Hek-tok-ting (Paku Hitam Beracun).

“Dia pun membunuh harimau kami!” Tee-tok menjawab dengan mata mendelik saking marahnya.

“Manusia curang kau!” Soan Cu sudah menerjang maju dan cambuknya mengeluarkan suara meledak-ledak di udara.

“Tar-tar-cring-tranggggg…..!!” Bunga api berpijar ketika cambuk itu tertangkis oleh sepasang pedang yang bersinar hitam. itulah pedang Ban-tok-siang-kiam (Sepasang Pedang Selaksa Racun) yang ampuh dari Teetok. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika tadi pedangnya menangkis cambuk duri, dia merasakan lengannya tergetar, tanda bahwa dara muda itu memiliki sinkang yang amat kuat.

“Heii, jangan bertempur…..!” Sin Liong cepat menegur,akan tetapi sekali ini Soan Cu pura-pura tidak menengarnya, apalagi kakek itu pun sudah marah dan sudah membalas serangannya dengan sepasang pedangnya.

Terjadi pertempuran hebat sekali antara gadis itu dan Tee-tok. Melihat gerakan sepasang pedang itu lihai bukan main dan ada menyambar hawa yang kuat dari lawannya, Soan Cu tidak berani memandang ringan dan tangan kanannya sudah mencabut pedangnya. Pedang di tangan gadis ini adalah pemberian kakeknya, ketua Pulau Neraka dan seperti juga cambuknya, pedang ini aneh dan ampuh sekali. Bentuk pedang itu juga berduri seperti cambuknya dan pedang itu terbuat dari tulang ular dan namanya pun Coa-kut-kiam (Pedang Tulang Ular) terbuat dari pada tulang ular beracun yang telah dikeraskan dan diperkuat dalam rendaman tetumbuhan beracun sehingga keras seperti baja. Sedangkan cambuknya itu pun bukan cambuk biasa karena cambuk itu terbuat dari ekor ikan hiu yang istimewa dan yang hanya terdapat di pantai Pulau Neraka. Seperti juga pedangnya, cambuknya itu pun mengandung bisa yang tidak dapat diobati, kecuali oleh dia sendiri yang selalu membawa obat penolaknya!

Sin Liong sudah mengenal kakek itu ketika muncul tadi, dan dia memang tadinya tidak mau memperlihatkan bahwa dia telah mengenalnya. Tentu saja dia mengenal kakek ini yang dahulu pernah pula membujuknya untuk ikut dan menjadi muridnya, ketika para tokoh kang-ouw datang memperebutkan dia di lereng Pegunungan Jeng-hoa-san. Kini, melihat betapa Soan Cu sudah bertanding mati-matian melawan kakek itu, dia menjadi khawatir sekali dan cepat dia berkata, “Locianpwe, seorang tokoh besar yang berjuluk Tee-tok dan disegani di seluruh dunia Kang-ouw, benar-benar mengecewakan dan merendahkan nama besarnya kalau sekarang melayani bertanding melawan seorang dara remaja!”

Mendengar ucapan itu, Tee-tok menjadi merah mukannya. Dia menangkis pedang Soan Cu sekuat tenaga sampai pedang itu hampir terlepas dari tangan Soan Cu, melompat mudur dan menghadapi Sin Liong. “Hemm, orang muda! Kau sudah mengenal aku, kalau begitu majulah kau menggantikan gadis itu!”

Sin Liong menjura. “Bukan maksudku dengan kata-kata itu menantangmu, Locianpwe. Saya hanya hendak mengatakan bahwa kami berdua sama sekali bukan datang untuk bertanding.”

“Tapi kalian datang dan mengakibatkan harimau peliharaan kami mati. Kalau kalian tidak datang mengacau, mana biasa harimau kami mati?”

“Dia mampus karena kalah dalam pertandingan yang adil!” Soan Cu membentak, akan tetapi menjadi tenang kembali karena Sin Liong mendekatinya dan minta gadis itu menyimpan pedang dan cambuknya kembali.

“Siangkoan Locianpwe, memang kami akui bahwa harimau peliharaan Locianpwe mati karena biruang kami, akan tetapi Locianpwe telah membalas kematian itu dengan membunuh biruang kami. Bukankah itu sudah lunas artinya?”

“Tidak!” Tee-tok yang masih marah itu membentak. “Biarpun biruangnya sudah mati, akan tetapi pemiliknya belum dihukum!”

Soan Cu tak dapat lagi menahan kemarahannya. “Dihukum apa? Kau hendak membunuh kami?”

“Tak perlu dibunuh! Pelanggaran ke dalam daerah ini sudah merupakan kesalahan, dan matinya harimau tidak cukup ditebus dengan kematian biruang. Pemiliknya harus dihukum rangket seratus kali , baru adil!”

“Keparat!”

“Soan Cu!” Sin Liong berkata dan memegang lengan dara itu sehingga Soan Cu menelan kembali katakatanya. “Soan Cu, aku mita kepadamu agar kau sekarang juga meninggalkan tempat ini. Biarkan aku yang berurusan dengan Siangkoan Locianpwe. Kau turunlah dan kau tunggu aku di dusun itu. Mengerti?”

Soan Cu mengerutkan alisnya dan matanya memandang ragu, akan tetapi melihat sinar mata Sin Liong yang tegas dan halus itu, dia tidak dapat menolak dan dia mengangguk.

“Berangkatlah, dan tunggu aku di sana.” Sin Liong berkata lagi sambil tersenyum.

Soan Cu membanting kakinya, lalu melotot ke arah Siangkoan Houw, kemudian meloncat pergi, meninggalkan isak tertahan. Semua orang memandang dengan kagum akan keberanian dara itu yang sekali meloncat lenyap dari situ, akan tetapi terutama sekali kagum kepada Sin Liong yang bersikap demikian tenang dan halus, namun ia memiliki wibawa demikian besarnya sehingga gadis liar seperti itu menjadi demikian jinak dan taat.

Setelah Soan Cu pergi jauh dan tidak tampak lagi bayangannya, Sin Liong lalu mengeluarkan kedua lengannya dan sambil tersenyum tenang dia berkata, “Nah, Locianpwe. Tidak ada yang perlu diributkan lagi. Aku sudah mengaku bersalah telah memasuki tempat ini dan menimbulkan keributan. Biarlah aku menerima hukuman rangkes seratus kali agar hatimu puas.”

Sikap yang tenang dan halus ini diterima keliru oleh Siangkoan Houw. Matanya terbelalak lebar dan dia menganggap pemuda itu menantangnya, menantang ancaman hukumannya. “Belenggu kedua lengannya!” bentaknya kepada para muridnya. Empat orang muridnya menyerbu dan Sin Liong hanya tersenyum saja ketika bajunya dibuka, kedua pergelangan lengannya diikat dengan tali yang diikatkan pula pada cabang pohon sehingga tubuhnya setengah tergantung.

“Ayah…..!” Tiba-tiba dara cantik jelita yang sejak tadi hanya menonton dan selalu memandang ke arah Sin Liong penuh kagum, berkata kepada Tee-tok, “Apakah tidak berlebihan perbuatan kita ini? Harap Ayah berpikir lagi dengan matang sebelum melakukan suatu kesalahan.”

“Dipikir apalagi? Kita telah dihina orang, kalau tidak memperlihatkan kekuatan, bukankah akan menjadi bahan tetawaan orang sedunia?”

Mendengar kata-kata orang tua itu, Siangkoan Hui, gadis itu, menunduk dan melirik ke arah Sin Liong yang telah siap menerima hukuman. “Terima kasih atas kebaikan hatimu, Nona. Akan tetapi biarlah, aku sudah siap menghadapi hukuman. Dengan begini, habislah segala urusan dan Ayahmu takkan marah lagi.”

“Diam kau!” Tee-tok membentak, kemudian menuding kepada seorang muridnya yang bertubuh tinggi besar. “Ambil cambuk dan rangket dia seratus kali!”

Murid itu berlari pergi dan tak lama kemudian sudah datang kembali membawa sebatang cambuk hitam yang besar dan panjang. Setelah menerima isyarat gurunya, murid tinggi besar ini mengayun cambuknya. Terdengar suara meledak-ledak dan cambuk itu menyambar ke bawah, melecut tubuh atas yang telanjang itu. “Tar…..! Tar….! Tar……..!”

Semua orang terbelalak memandang , penuh keheranan. Cambuk itu menyambar bertubi-tubi, melecuti tubuh itu, mukanya, lehernya, lengannya, dada, dan punggungnya, namun sama sekali tidak membekas pada kulit halus putih itu! Hanya dahi pemuda itu yang berkeringat, akan tetapi dahi Si Pemengang Cambuk lebih banyak lagi peluhnya! Sampai seratus kali cambuk itu menyambar tubuh Sin Liong dan ujungnya sudah pecah-pecah, namun jangankan sampai ada darah yang menetes dari kulit tubuh Sin Liong, bahkan tampak merah saja tidak ada seolah-olah cambuk itu bukan melecut kulit membungkus daging, melainkan melecut baja saja!

Setelah menghitung sampai seratus kali, Si Algojo itu jatuh terduduk, napasnya terengah-engah dan dia menggosok-gosok telapak tangan kanannya yang terasa panas dan lecet-lecet. Mukanya pucat dan matanya terbelalak penuh keheranan dan kengerian. Semua anak buah atau murid Tee-tok terbelalak dan pucat. Akan tetapi muka Tee-tok sendiri menjadi merah sekali. Tahulah bahwa pemuda itu adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tadi telah menggunakan sinkangnya sehingga tubuhnya kebal dan tentu saja lecutan cambuk itu tidak membekas! Hal ini menambah kemarahan hatinya. Dia merasa dihina dan ditantang.

Dengan kemarahan meluap dia menyambar senjata aneh, yaitu tanduk rusa yang kering itu. Tanduk rusa itu bukanlah sebuah senjata sembarangan saja. Tee-tok merupakan seorang ahli racun dan dia telah menemukan tanduk rusa ini yang mempunyai daya ampuh terhadap kekebalan. Tanduk ini mengandung racun yang tak dapat ditahan oleh kekebalan yang bagaimana kuat pun dan kini dalam kemarahannya, dia hendak mengajar pemuda ini dengan tanduk rusa ini!

Pada saat itulah Swat Hong datang dan mengintai dengan mata terbelalak keheranan. Seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah tegang dan dia sudah hampir meloncat keluar untuk menolong suhengnya ketika dia melihat seorang gadis datang berlari dan berlutut di depan kakek yang memegang senjata tanduk rusa itu. Melihat ini, Swat Hong menahan diri dan terus mengintai.

“Ayah, jangan….. jangan pukul dia dengan ini…..!”

“Hui-ji (Anak Hui), mundurlah kau! Dia telah menghina kita, memperlihatkan dan memamerkan kekebalannya! Hemm, hendak kulihat sampai dimana kekebalannya kalau dia merasai pukulanku dengan ini!” Dia mengamangkan senjata aneh itu.

“Jangan, Ayah! Jangan…. aku akan melindunginya kalau Ayah memaksa! Ayah bersalah, dia…. dia orang gagah yang budiman, luar biasa….. mengapa Ayah tak bisa melihat orang…..?” Siangkoan Houw menundukan mukanya dan melihat wajah puterinya yang pucat, mata yang sayu dan tampak dua titik air mata di pipi puterinya. Dia terkejut dan terheran-heran, kemudian marah sekali. Puterinya telah jatuh cinta kepada pemuda itu!

“Hemm…” Suaranya penuh geram. “Lupakah kau kepada putera Lusan Lojin…..?”

“Ayahhhh….!” Siangkoan Hui berseru dan terisak sambil memeluk kedua kaki ayahnya, menangis.

Betapapun bengisnya, Tee-tok yang hanya mempunyai seorang anak itu, tentu saja merasa tidak tega kepada anaknya. Hantinya mencair ketika dia melihat puterinya menangis sambil memeluk kedua kakinya. Dia menghela napas panjang dan pandang matanya yang ditujukan kepada Sin Liong kini kehilangan kekejaman dan kemarahannya, hanya terheran dan ragu-ragu. Puterinya mencintai pemuda ini? Hemm…., seorang pemuda yang amat tampan , dan harus diakuinya bahwa biarpun pemuda itu kelihatan halus seperti seorang lemah, namun pemuda itu gagah perkasa, penuh ketenangan dan keberanian. Dan kekebalannya itupun membuktikan bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Dia belum melihat putera Lu-san Lojin, entah bagaimana setelah dewasa sekarang. Apakah sebaik pemuda ini?

“Hai, orang muda. Siapakah namamu?”

Sin Liong memandang kepada kakek itu dan menjawab halus, “Nama saya Kwa Sin Liong, Locianpwe.”

“Bagaimana engkau bisa mengenal aku?”

“Siapa yang tidak mengenal Locianpwe yang terkenal di dunia Kang-ouw? Locianpwe adalah Tee-tok Siangkoan Houw yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, dan saya pernah bertemu dengan Locianpwe…..” Tiba-tiba Sin Liong berhenti bicara karena baru dia teringat bahwa sebenarnya tidak ada perlunya menyebut-nyebut hal itu.

“Bertemu? Di mana?”

Karena sudah terlanjur bicara, Sin Liong merasa tidak enak untuk membohong lagi, maka dia berkata, “Di lereng Jeng-hoa-san, bahkan Locianpwe pernah membujuk saya menjadi murid……”

“Astaga….! Engkaukah ini? Engkaukah anak ajaib? Engkau Sin-tong….?” Tee-tok berseru dan cepat melangkah maju. “Benar, engkaulah Sin-tong! Aihh….. maafkan kami. Di antara kita telah timbul salah pengertian besar!”

Dia cepat meloncat dan merenggut lepas tali yang mengikat kedua lengan Sin Liong, bahkan cepat meneriaki muridnya untuk menyerahkan kembali baju Sin Liong. Sin Liong tersenyum. “Tidak mengapa, Locianpwe. Memang saya mengaku salah, telah menimbulkan keributan dan mengakibatkan kematian harimaumu.”

“Aihh… hei, matamu tajam sekali, Hui-ji! Engkau benar! Dia anak baik, bukan hanya baik saja. Aduh, betapa dahulu aku mati-matian memperebutkan anak ini! Hui-ji, dia Sin-tong! Betapa girangku dia tiba-tiba muncul di sini!” Dengan giran Tee-tok menggandeng lengan Sin Liong dan menariknya.

“Hayo masuk ke rumah kami, kita bicara!”

“Tapi, Locianpwe. Saya ingin melanjutkan.”

“Nanti dulu, kita bicara! Sejak engkau dibawa oleh…. eh, di mana dia sekarng…..?” Kakek itu menengok kekanan kiri, seolah-olah merasa ngeri karena dia teringat akan Pangeran Han Ti Ong yang sakti. Siapa tahu, pangeran yang luar biasa itu tahu-tahu muncul pula di situ.

“Locianpwe maksudkan Suhu? Saya hanya datang berdua dengan adik Soan Cu.”

“Mari kita bicara. Ah, pertemuan ini sungguh menggirangkan hati!”

Melihat sikap kakek itu begitu gembira, Sin Liong tidak tega untuk menolak terus. Urusan telah selesai dengan baik, dan Soan Cu tentu sedang menanti di dusun di kaki bukit. Terlambat sedikit pun tidak mengapa daripada memaksa menolak dan menimbulkan kemarahan kakek yang berangasan ini. Siangkoan Hui memandang kepada Sin Liong dengan sepasang mata bersinar-sinar, penuh kekaguman dan ketika ayahnya menggandeng pemuda itu dengan tangan kanan, kemudian menggandengnya dengan tangan kiri, dia tersenyum dan meronta melepaskan diri karena malu, kemudian berlari-lari kecil meninggalkan mereka.

“Ha-ha-ha! Hui-ji… ha-ha-ha-ha! Eng kau benar. Dia ini seorang pemuda pilihan, seorang pemuda hebat!” Dengan penuh kegembiraan Tee-tok menjamu Sin Liong.

“Siapakah Nona yang lihai dan berani itu?”

“Dia adalah Ouw Soan Cu, seorang sahabat baik saya, Locianpwe. Dia sedang mencari ayahnya dan saya membantunya.”

“Mana dia? Karena dia sahabatmu, dia pun sahabat kami. Biar aku menyuruh orang mengundangnya.”

“Tidak usah, Locianpwe. Wataknya aneh dan keras, jangan-jangan malah menimbulkan salah paham.”

“Ha-ha-ha, aku suka kepadanya! Sejak pertemuan pertama aku kagum kepada anak itu! Keras, aneh dan berani! Hebat dia! Aihh, Sin-tong….”

“Locianpwe, nama saya Kwa Sin Liong.”

“Tidak apa, aku tetap menyebutmu Sin-tong. Engkau memang anak ajaib, luar biasa sekali. Apakah engkau telah menjadi murid pangeran Han Ti Ong?”

Sin Liong mengangguk dan merasa agak gugup. “Benar, akan tetapi saya dilarang untuk bicara tentang Suhu….”

“Ha-ha-ha, aku tahu. Dia bukan manusia biasa! Aku girang sekali bertemu dengan muridnya, apalagi muridnya adalah engkau, Sin-tong! Ahhh… kegirangan yang bercampur dengan kekecewaan sebesar gunung!” Tiba-tiba kakek itu meremas cawan araknya dan cawan arak yang terbuat daripada perak itu seperti tanah lihat saja, di dalam kepalanya berubah menjadi perak yang pletat- pletot, lenyap bentuk cawannya. Sin Liong terkejut dan tidak berani bertanya. Kakek itu melempar cawan yang sudah tidak karuan itu ke bawah meja dan berteriak kepada muridnya mita diberi sebuah cawan baru.

Kemudian dia berkata, “Siapa tidak kecewa? Anaku hanya seorang, perempuan lagi, dan celakanya, dia sudah ditunangkan sejak kecil!” Kakek ini memang selalu bicara keras, kasar dan jujur, tak pernah mau menyembunyikan sesuatu! Sin Liong menjadi makin terheran.

“Telah ditunangkan sejak kecil adalah baik sekali, mengapa celaka, Locianpwe?”

“Kalau ditunangkan dengan engkau tentu saja baik sekali! Akan tetapi bukan denganmu , dengan orang lain yang tak kunjung datang! Dan karena telah ditunangkan itu, mana mungkin aku dapat mengambil engkau sebagai mantuku? Padahal aku tahu, Hui-ji suka padamu, dia jatuh cinta padamu. Ha-ha, anak pintar itu, matanya tajam sekali.”

Tentu saja Sin Liong menjadi terkejut dan malu, menunduk dan tak berani bicara lagi.

“Engkau tentu belum bertunangan, bukan?”

Sin Liong hanya menggeleng kepalanya.

“Kalau begitu, mudah saja ! Engkau menjadi mantuku, menikah saja dengan Hui-ji….”

“Locianpwe, ingatlah bahwa Siocia telah bertunangan, adapun aku…. aku sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk menikah.”

Kakek itu menarik napas panjang. “Engkau betul, memang tidak patut kalau diputuskan begitu saja, dari satu pihak. Aihhh, Lu-san Lojin, engkau tua bangka benar-benar sekali ini membuat hatiku kesal! Aku telah pergi ke sana baru-baru ini dan dia bersama puteranya itu, juga bersama seorang puterinya, menurut penuturan penduduk di sekitar Lu-san, telah pergi entah ke mana! Aihh, betapa kesal hatiku….”

“Harap Locianpwe menenangkan pikiran. Mungkin mereka sedang mencari Locianpwe. Kalau sudah jodoh, tentu akan dipertemukan kelak.”

Kembali kakek itu mengangguk-angguk. Memang, setelah mendengar bahwa pemuda yang tadinya akan dibunuhnya itu ternyata adalah Sin-tong yang dahulu dibawa oleh Pangeran Han Ti Ong tokoh Pulau Es, dia tertarik dan terkejut sekali. Bukan hanya untuk mencoba menarik pemuda itu menjadi mantunya, akan tetapi juga untuk keperluan lain yang amat penting. Dia masih ragu-ragu untuk membicarakan urusan ini, maka dia menanti kesempatan baik dan hendak menjajaki lebih dulu, di fihak manakah pemuda ini berdiri.

Sementara itu, Siangkoan Hui merasa malu sekali. Dia sudah mengenal baik watak ayahnya yang kasar dan jujur. Tentu kalau dia ikut masuk ke dalam rumah menemui pemuda itu, ayahnya akan bicara yang bukan-bukan tanpa tedeng aling-aling lagi! Dia merasa malu dan…. girang bukan main. Tak dapat ia menipu hatinya sendiri. Dia memang telah jatuh cinta kepada pemuda itu! Pemuda yang amat luar biasa, bukan hanya tampan dan gagah, namun memiliki watak yang amat hebat. Belum pernah dia bertemu dengan pemuda segagah itu, begitu halus, begitu budiman, begitu tabah dan mengalah, akan tetapi juga amat lihai sehingga seratus kali rangketan itu tidak membekas sama sekali di kulit tubuhnya yang putih halus dan padat membayangkan tenaga yang luar biasa! Dia sudah jatuh cinta! Dan ayahnya sudah mengetahui akan hal ini. Tentu ayahnya akan bicara terang-terangan kepada pemuda itu. Akan tetapi, bagaimana dengan tunangannya? Teringat akan ini, tiba-tiba Siangkoan Hui menjadi lemas. Dia duduk bersandar pohon dan termenung, menanggalkan sabuk sutera merah yang melibat pinggangnya. Kiranya sabuk itu hanya sabuk tambahan dan dapat dipergunakan sebagai saputangan, karena di pinggang itu telah terdapat sabuk lain yang berwarna kuning. Sambil menggigit-gigit ujung sabuk sutera merah, Siangkoan Hui termenung, mukanya sebentar pucat sebentar merah tanda bahwa hatinya kacau tidak karuan oleh jalan pikirannya.

Dara ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada bayangan yang mengikutinya, bayangan seorang gadis lain yang memandangnya dengan sinar mata berapi-api penuh kemarahan! Gadis ini bukan lain adalah Han Swat Hong! Tadinya Swat Hong mengintai dan hampir saja dia melompat keluar untuk menolong suhengnya. Akan tetapi kemunculan Siangkoan Hui yang melarang ayahnya menggunakan tanduk rusa memukul Sin Liong, membuat dia membatalkan niatnya menolong Sin Liong. Apalagi melihat betapa usaha pertolongan dara cantik puteri kakek berangasan itu berhasil! Hatinya terasa panas sekali, seperti dibakar dan serta merta dia merasa benci kepada Siangkoan Hui! Kebencian yang membuat dia diam-diam mengikuti dara itu dengan niat untuk membunuhnya! Swat Hong sendiri tidak mengerti mengapa dia selalu marah dan tidak senang kalau melihat ada gadis memperlihatkan sikap baik dan mencinta kepada Sin Liong. Dia sendiri tidak tahu bahwa hatinya diamuk cemburu! Melihat Siangkoan Hui yang dibayanginya itu duduk seorang diri di tempat sunyi itu, menggigit ujung sabuk merah dengan wajah sebentar pucat sebentar merah, melamun dan kadang-kadang tersenyum manis, Swat Hong merasa perutnya seperti dibakar!

“Perempuan tak tahu malu!” Bentaknya dan dia sudah melompat keluar, mencabut pedangnya dan menyilangkan pedang itu di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri, memasang kuda-kuda dan membentak, “Bersiaplah untuk mampus di tangan Nonamu!”

Siangkoan Hui adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng ilmu silat tinggi oleh ayahnya, maka begitu melihat bayangan berkelebat tadi, dia sudah meloncat bangun. Kini, melihat bahwa yang muncul dan datang-datang memakinya itu adalah seorang gadis cantik yang tidak dikenalnya, dia melongo. “Eh-eh, apakah kau ini orang gila?”

Tentu saja pertanyaan ini membuat Swat Hong menjadi makin marah. Kedua pipinya merah seperti udang direbus dan sepasang matanya yang jeli itu mengeluarkan sinar berapi-api. Sukar dikatakan siapa di antara kedua orang dara itu yang lebih menarik. Keduanya sama muda, sama cantik jelita dan pada saat itu sama marahnya!

“Kau…. kau…. perempuan rendah! Perempuan macam engkau berani jatuh cinta kepada Suhengku!” Swat Hong memaki.

Siangkoan Hui terkejut sekali, akan tetapi perutnya juga sudah panas dibakar kemarahan mendengar dirinya dimaki-maki orang. “Apa? Kau ini mengaku Sumoinya? Sungguh tidak patut! Seekor naga mana mempunyai sumoi seekor cacing?”

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati yang keras seorang dara seperti Swat Hong mendengar ini. Ingin dia mencaci maki habis-habisan, ingin dia menjerit-jerit, akan tetapi karena dia tak pandai cekcok dengan suara, dia hanya mengeluarkan suara melengking nyaring dan pedangnya sudah menerjang ke arah dada Siangkoan Hui! “Singgg… Wuuuuttt……!”

Siangkoan Hui juga mengeluarkan pekik kemarahan, tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas dan dari atas sabuk sutera merahnya yang ternyata adalah senjatanya yang ampuh itu menyambar ke bawah dengan serangan balasannya yang tidak kalah berbahaya.

“Plakkkk!!” Sarung pedang di tangan kiri Swat Hong berhasil menangkis serangan itu dan dia terkejut juga menyaksikan kelincahan lawan. Tahulah Swat Hong bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan dan memiliki ginkang yang amat hebat, maka dia memutar pedangnya dengan kecepatan kilat. Repotlah Siangkoan Hui menghadapi permainan pedang lawannya yang amat luar biasa itu. Sebetulnya tingkat kepandaian Siangkoan Hui sudah tinggi, dan pada jaman itu, sukarlah dicari tandingannya. Sebagai puteri tunggal, Tee-tok telah menurunkan semua ilmu simpanannya dan selain memiliki senjata istimewa berupa sabuk sutera, juga dara ini adalah seorang ahli racun seperti ayahnya. Ayahnya adalah seorang tokoh yang berjuluk Racun Bumi, tentu saja dia mempelajari pula penggunaan racun-racun yang ampuh. Setelah mendapat kenyataan betapa permainan pedang lawannya benar-benar amat lihai dan berbahaya, tiba-tiba Siangkoan Hui membentak dan dari tangan kirinya menyambar sinar-sinar merah. Sawat Hong mengeluarkan suara mendengus dari hidung dan mengejek, sinar pedangnya berkelebatan dan bergulunggulung sehingga jarum-jarum merah yang dilepas Siangkoan Hui secara lihai itu semua dapat dipukul runtuh.

“Haiiittt….!!” Swat Hong meluncur ke depan, didahului sinar pedangnya, pedang itu menusuk lalu disambung membabat ke kanan kiri, sedangkan sarung pedangnya masih bergerak menghantam dari atas. Seolah-olah semua jalan keluar tertutup dan tidak memungkinkan lawan untuk mengelak lagi!

“Hiaaaaahhhh!!” Siangkoan Hui memekik nyaring, sabuknya berubah menjadi sebatang benda keras yang diputar-putar, melindungi tubuhnya. Pada saat pedang tertangkis, tiba-tiba dari ujung sabuk merah itu menyambar dua batang paku merah yang meluncur tanpa tersangka-sangka dan dengan cepat sekali ke arah tenggorokan Swat Hong!

“Aihhh….!!” Swat Hong menjerit dan tidak ada jalan lain baginya kecuali membuka mulutnya yang kecil dan “menangkap” dua batang paku merah itu dengan gigitan giginya yang kecil-kecil dan putih berderet rapi itu!

Siangkoan Hui terkejut dan kagum bukan main , dan pada saat itu, Swat Hong telah meniupkan dua batang paku ke arah tubuh lawan. Tentu saja Siangkoan Hui dapat mengelakan senjata rahasianya sendiri ini dengan mudah. Akan tetapi kini Swat Hong sudah marah sekali dan pedangnya bergerak untuk membunuh! Jurus-jurus terhebat dari Pulau Es dimainkannya dan tentu saja Siangkoan Hui terdesak hebat dan ujung sabuknya sudah robek dicium ujung pedangnya!

“Sumoi, jangan….!!!” Tiba-tiba terdengar seruan dan Sin Liong melompat memasuki lapangan pertandingan, menolak lengan sumoinya dengan tangan kiri. “Sumoi….! Syukur kita dapat saling bertemu di sini….!” Sin Liong berseru girang bukan main.

Akan tetapi, perut Swat Hong terasa panas saking mendongkolnya.tadi dia sudah berhasil mendesak lawan dan belasan jurus lagi saja dia tentu akan menang. Siapa Tahu, suhengnya muncul dan lawannya itu dapat meloncat keluar dan kini berdiri di belakang kakek yang menjadi ayahnya! “Aku harus membunuhnya!” bentaknya dan dia hendak melompat ke arah Siangkoan Hui.

“Sumoi, jangan serang orang!”

“Kalau begitu, serang kau saja!” Dan gadis itu lalu menyerang Sin Liong kalang kabut dengan pedangnya!

“Eh-eh….! Ohhh….! Sumoi…., mengapa kau marah-marah?” Sin Liong terpaksa berlompatan ke sana-sini mengelak karena sambaran pedang di tangan sumoinya itu bukan main-main!

“Kenapa kau membelanya? Kenapa?” Swat Hong berkata berlahan dan menyerang terus tanpa mempedulikan seruan suhengnya.

Pada saat itu tampak dua sosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Kwee Lun dan Soan Cu. Bagaimana dua orang muda ini dapat datang bersama? Telah kita ketahui bahwa Soan Cu disuruh pergi oleh Sin Liong, dan karena gadis ini amat taat kepada Sin Liong, dengan hati berat dia meninggalkan puncak itu hendak turun ke dusun kembali. Dan telah diceritakan pula di bagian depan betapa Kwee Lun melakukan penyelidikan bersama Swat Hong dan mereka berpencar. Kwee Lun mengambil jalan dari kiri. Kebetulan sekali ketika pemuda ini sedang berindap-indap melakukan penyelidikan, dia melihat seorang gadis cantik berjalan seorang diri keluar dari pagar. Tentu saja dia mengira bahwa gadis itu adalah seorang musuh. Timbul dalam pikirannya untuk menangkap gadis ini dan memaksanya mengaku apa yang telah terjadi di sebelah dalam . Hal ini akan lebih memudahkan penyelidikannya, daripada menyelidiki dari luar tak berketentuan. Dengan pikiran ini, Kwe Lun tiba-tiba meloncat keluar dari tempat sembunyinya dan langsung dia menubruk dan memeluk Soan Cu! Dapat dibayangkan betapa marahnya dara ini. Ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki keluar dari semaksemak dan dengan gerakan secepat kilat menyergap dan memeluknya, tentu saja dia mengira bahwa ini tentulah anak buah Tee-tok yang hendak menangkapnya atau hendak berkurang ajar.

“Setan keparat jahanam terkutuk !!” bentaknya dan dia mengerahkan tenaganya, meronta dan menggerakan kaki tangannya, menyepak dan menampar.

“Plak-plak-plak…..!”

“Wah-wah….. galak benar!” Kwee Lun kewalahan dan terpaksa melepaskan rangkulannya karena tulang kering kakinya kena ditendang, pipinya dicakar dan dagunya ditampar!

Kini mereka berhadapan dan saling pandang. Keduanya kelihatan tertegun karena sama-sama tidak menyangka. Kwee Lun sama sekali tidak menyangka bahwa yang ditangkapnya tadi, dipeluknya karena disangkanya seorang pelayan wanita, kiranya adalah seorang dara remaja yang cantik jelita! Sedangkan Soan Cu yang terkejut melihat seorang pemuda yang begitu tampan gagah perkasa. Sejenak keduanya saling pandang, kemudian timbul kegalakan Soan Cu yang menjadi marah. Dia memang sudah mendongkol disuruh pergi oleh Sin Liong , hatinya gelisah memikirkan Sin Liong biarpun dia yakin pemuda itu akan mampu menjaga dirinya. Kini ada orang yang betapa gagahnyapun telah berlaku kurang ajar.

“Setan alas! Siapa kau? Tentu kaki tangan Tee-tok, ya? Hendak menangkap aku? Keparat jahanam! Engkau sudah bosan hidup!”

“Tar-tar-tar….!!” Cambuk buntut ikan hiu itu sudah meledak-ledak di atas kepala Kwee Lun. Soan Cu mengira bahwa sekali serang saja kepala pemuda gagah itu tentu akan pecah. Seberapa hebat sih kepandaian anak buah Tee-tok? Akan tetapi betapa herannya ketika dia melihat pemuda tinggi besar itu dapat mengelak dengan amat cepatnya, bahkan telapak tangan pemuda itu berhasil menepuk lengannya yang memegang cambuk.

“Plakkk!” Pemuda itu terheran. Tamparannya tidak membuat cambuk itu terlepas!

“Aihhh….. nanti dulu, jangan menyerang begitu. Aku bukan anak buah Tee-tok atau racun manapun juga!”

Namun Soan Cu sudah merasa penasaran sekali. Kembali dia menyerang dan kini cambuknya berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar dibarengi suara meledak-ledak. Akan tetapi, Kwee Lun tetap dapat mengelak dan meloncat ke sana-sini, bahkan kadang-kadang dia berani menangkis cambuk itu dengan telapak tangannya! Hal ini tentu saja mengagumkan hati Soan Cu. Dan tidak tahu bahwa pemuda itu menggunakan ilmu Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti) yang mengandung sinkang tingkat tinggi yang membuat telapak tangannya menjadi lemas seperti kapas dan karenanya tidak terluka oleh benda keras!

“Nona cantik tapi galak seperti kucing lapar!” Kwee Lun balas memaki ketika melihat nona itu menyerang terus sambil memaki-maki. “Berhentilah dulu dan kita bicara!”

“Iblis raksasa, kau yang kelaparan!” Soan Cu membentak makin marah dan kini dia sudah mencabut pedangnya, pedang Coa-kut-kiam! Dengan kedua senjatanya ini, dia menyerang kalang kabut!

“Wah, runyam! Perempuan galak dan ganas!” Kwee Lun terancam bahaya maut dan dia pun terpaksa lalu mencabut pedangnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang kipas gagang perak.

“Tringgggg…. Cringggg-trangggg……!” Bunga api berpijar dari keduanya terdorong kebelakang oleh pertemuan senjata yang hebat itu tadi. Kipas bertemu dengam cambuk dan pedang bertemu dengan pedang. Masing-masing menjadi terkejut dan terheran. Tenaga sinkang mereka seimbang!

“Bagus! Mari kita bertanding sampai selaksa jurus!” Soan Cu sudah menerjang lagi.

“Trangggg….! Trangggg….!!” Kembali Kwee Lun menangkis sekuatnya dan mereka terdorong mudur. “Sombongnya! Manusia mana kuat bertanding sampai selaksa jurus? Makan waktu berapa bulan? Tunggu dulu, mengapa kau marah-marah kepadaku seperti orang kebakaran jenggot?”

“Ngaco! Jenggotmu yang kebakaran!”

“Eh, ohhh! Kau bikin aku bingung! Benar, kau tidak berjenggot. Eh, kenapa kau marah-marah begini? Dan kau lihai bukan main! Senjatamu mengerikan!”

“Cerewet!” Soan Cu sudah hendak menerjang lagi, sekarang terdorong oleh rasa penasaran bahwa dia tidak mampu mengalahkan pemuda ini.

“Nanti dulu! Kita bicara dulu, baru kita bertanding selaksa…. eh, seratus jurus saja! Aku salah menduga, kukira kau tadi seorang pelayan di sini!”

“Menghina kamu ya? Orang macam aku ini pelayan? Kalau kau baru pantaslah menjadi jongos! Atau jagal babi!”

“Maafkanlah. Aku tadi melihat dari jauh. Aku sedang menyelidiki….. wah, celaka! Kau tentu puteri Teetok!” Kwee Lun terkejut dan menyesali kebodohannya. Mengapa dia tidak menduganya lebih dulu? Siapa lagi kalau bukan puteri Tee-tok yang begini lihai?

“Aku bukan anak racun bumi, bukan anak racun bau! Aku malah musuhnya!”

“Wah, benarkah? Kalau begitu kita cocok! Aku pun sedang melakukan penyelidikan. Aku mendengar ada biruang diadu dengan harimau, pemilik biruang itu adalah sahabatku, eh, maksudku, sahabatnya sahabatku!”

Soan Cu menjadi bingung. “Bicaramu seperti orang sinting!”

“Memang betul, sahabatnya, eh, malah suhengnya sahabatku. Kau siapa?”

“Aku baru saja meninggalkan pemilik biruang itu yang menjadi sahabat baikku.” Dengan singkat Soan Cu menuturkan betapa Sin Liong mengalah dan malah menyuruh dia pergi dan ingin menerima hukuman!

“Wah, kenapa kau sudah begini besar masih begini tolol?”

“Siapa? Siapa tolol?” Soan Cu melangkah maju dan sepasang senjatanya sudah menggetar ditangannya.

“Siapa lagi kalau bukan engkau? Mengapa kau meninggalkan sahabatmu itu menghadapi hukuman? Kau tidak tahu siapa itu Tee-tok Siangkoan Houw? Dari julukannya saja sudah mudah diketahui. Dia Racun Bumi, kejemnya bukan main. Sahabatmu itu, suheng sahabatku, pemilik biruang, tentu akan dibunuhnya!”

“Apa….?” Wajah Soan Cu menjadi pucat sekali. “Celaka….!Hayo cepat kita kesana, barangkali belum terlambat!”

Demikianlah, kedua orang itu seperti berlomba lari saja, bersicepat lari kembali ke puncak. Dan mereka tiba di tempat yang tepat di mana mereka melihat Swat Hong sedang menyerang kalang kabut kepada Sin Liong yang mengelak ke sana-sini. Ketika Kwee Lun melihat sahabatnya itu menerjang seorang pemuda dengan mati-matian dan mendapat kenyataan betapa pemuda itu lihai bukan main, biarpun bertangan kosong namun pedang di tangan Swat Hong sama sekali tidak pernah menyentuhnya, dia sudah menggerakan pedang dan kipasnya, meloncat maju sambil membentak, “Berani kau menghina Hong-moi?”

“Trangg-cringgg….!!”

Kwee Lun terdorong ke belakang dan matanya terbelalak melihat bahwa yang menangkisnya adalah sepasang senjata di tangan….. Soan Cu yang mendelik dan memaki, “Kerbau tolol! Berani kau mencampuri urusan Liong-koko?”

Setelah berkata demikian, Soan Cu menyerang kalang kabut dan kembali mereka saling serang dengan serunya! Melihat ini, otomatis Swat Hong menghentikan serangannya dan Sin Liong juga sudah meloncat ke belakang lalu berkata, “Jangan bertempur! Soan Cu, mundurlah….!”

“Liong-ko, biarkan aku bertempur dengan gajah ini sampai selaksa……. eh, seratus jurus!”

“Kwee-koko, mundur! Orang sendiri……!”

“Hehhhh….? Orang sendiri….? Dia ini….” Kwee Lun terkejut dan terheran-heran, sebentar memandang kepada Sin Liong, lalu kepada Soan Cu.

“Kwee-koko, inilah suhengku yang kucari-cari.” Swat Hong memperkenalkan .

“Eh…. akan tetapi, mengapa kau menyerangnya…..??”

Sin Liong cepat berkata, “Saudara yang gagah, Sumoiku ini memang kalau lama tidak bertemu lalu ingin mengajakku berlatih.”

Mendengar ini, merah wajah Swat Hong. Setelah ketahuan oleh semua orang betapa dia marah-marah dan menyerang suhengnya sendiri, baru dia teringat dan menjadi malu.

Sementara itu, dapat dibayangkan betapa kaget dan sedihnya hati Siangkoan Hui ketika itu. Kiranya dara cantik yang amat lihai ini adalah Sumoi dari Kwa Sin Liong dan melihat sikapnya, dia dapat menduga bahwa dara yang galak ini cemburu kepadanya. Maka dia sudah melangkah maju dan menjura sambil berkata, “Ah, harap maafkan. Kiranya Cici adalah sumoi dari Kwa-taihiap….”

“Hemmmm…. sudahlan!” Swat Hong berkata malu, kemudian memperkenalkan kepada suhengnya, “Suheng, dia ini adalah Saudara Kwee Lun, murid dari Lam Hai Sengjin.”

“Ha-ha-ha! Kiranya murid majikan Pulau Kura-kura? Selamat datang! Dan Nona adalah Sumoi dari Kwataihiap? Aihhh….. sungguh hari ini kami kedatangan banyak tokoh besar!” Kemudian berkata kepada Soan Cu yang masih cembertu. “Baik sekali Nona sudah datang kembali. Mari…. mari orang-orang muda yang gagah perkasa, marilah kita duduk dan bicara di dalam.”

Tee-tok Siangkoan Houw lalu mempersilahkan mereka semua memasuki gedungnya dan dia menjamu mereka dengan hidangan mewah, dibantu oleh puterinya, Siangkoan Hui yang merasa kagum sekali kepada Swat Hong, akan tetapi juga merasa iri hati dan berduka. Tidaklah demikian dengan perasaan Soan Cu. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa gadis Pulau Neraka ini amat tertarik kepada Sin Liong yang dianggapnya sebagai seorang pemuda yang luar biasa dan amat mengagumkan hatinya. Akan tetapi, selama dalam perjalanan ini Sin Liong jelas memperlihatkan sikap bahwa pemuda itu sama sekali tidak tertarik kepadanya, juga bahwa sikap baiknya itu lebih mendekati sikap baik seorang kakak terhadap adiknya, pula, melihat bahwa sesungguhnya Swat Hong, sumoi pemuda itu, juga mencintai suhengnya, Soan Cu maklum bahwa tidaklah mungkin dia membiarkan cintanya terhadap Sin Liong berlarut-larut. Pertemuannya dengan Kwee Lun telah mengubah seluruh perasaan hatinya. Pemuda raksasa ini amat hebat, amat menarik dan jelas lebih cocok dengan dia! Kwee Lun merupakan seorang pemuda yang jujur, terus terang, gagah perkasa dan biarpun baru sekali bertemu saja, mereka telah saling serang sampai dua kali! Oleh karena itu, ketika mereka semua makan bersama mengelilingi meja besar, perhatian Soan Cu lebih banyak tertuju kepada pemuda perkasa itu.

Setelah mereka makan minum, berkatalah Tee-tok Siangkoan Houw, suaranya sungguh-sungguh dan katakatanya ditujukan kepada Sin Liong dan Swat Hong, “Saya tidak tahu dengan jelas apakah Ji-wi mempunyai hubungan dengan Pulau Es, akan tetapi mengingat bahwa Kwa-taihiap adalah murid dari Pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka agaknya apa yang hendak saya bicarakan ini akan menarik perhatian Ji-wi. Dan sesungguhnya saya, atas nama para orang gagah di dunia kang-ouw, saya amat mengharapkan bantuan Sin-tong!” 

“Ah, mengapa Locianpwe terlalu sungkan dan merendahkan diri? Harap diceritakan ada urusan apakah yang kiranya dapat kami bantu, dan harap jangan membawa-bawa nama Pulau Es.”

“Justeru karena urusan ini menyangkut Pulau Es.”

“Heiii….? Ada urusan apakah yang menyangkut Pulau Es?” Swat Hong bertanya penuh semangat.

Mendengar ini Tee-tok tersenyum dan memandang. “Sebagai Sumoi dari Sin-tong, tentu Nona juga dari Pulau Es, bukan? Gerakan pedang Nona tadi hebat bukan main….”

“Tidak perlu diketahui siapa pun apakah aku dari Pulau Es atau tidak,” jawab Swat Hong tegas. “Kalau ada urusan Pulau Es, kami ingin mendengar.”

“Locianpwe, harap ceritakan kepada kami dan maafkanlah sikap Sumoi yang selalu tegas dan singkat. Perlu saya berutahukan bahwa memang amatlah penting artinya bagi kami kalau ada urusan yang menyangkut Pulau Es.”

Tee-tok menarik napas panjang. “Kalau dibicarakan sungguh membuat orang menjadi penasaran sekali. Ji-wi (Anda Berdua) tentu telah mendengar nama besar Bu-tong-pai, bukan? Nah, semua orang gagah dari dunia kang-ouw bersepakat untuk menentang Bu-tong-pai mati-matian.”

“Haiii….? Mengapakah? Maaf kalau aku mencampuri, akan tetapi sungguh hatiku penasaran sekali mendengar Bu-tong-pai dimusuhi orang kang-ouw. Bukankah anak murid Bu-tong-pai adalah orang-orang gagah yang dihormati oleh dunia kang-ouw? Mengapa sekarang hendak dimusuhi?” Kwee Lun berseru lantang, matanya terbelalak lebar karena penasaran.

“Ha-ha-ha, agaknya gurumu, Si Tua Bangka Lam Hai Sengjin masih belum mendengar berita karena dia selalu bertapa di pulaunya sehingga engkau pun belum tahu, orang muda yang gagah, Bu-tong-pai telah beberapa bulan ini dikuasai oleh seorang ketua baru!”

“Soal pengangkatan ketua baru Bu-tong-pai, kurasa adalah urusan dalam Bu-tong-pai sendiri!” kata pula Kwee Lun.

 “Memang demikian kalau ketua baru itu orang dalam Bu-tong-pai pula. akan tetapi, ketua baru itu mengaku dirinya sebagai Ratu Pulau Es dan telah melakukan perbuatan sewenang-wenang, melanggar peraturan kang-ouw, mengalahkan banyak tokoh kang-ouw dan kabarnya bahkan bersekutu dengan pembrontak!”

“Ihhhh….!” Swat Hong berseru.

“Kiranya dia di sana….!” Sin Liong juga berseru. Mendengar seruan dua orang muda sakti dari Pulau Es itu, Tee-tok cepat memandang penuh selidik.

“Ji-wi mengenal wanita itu?”

Sin Liong mengangguk tenang. “Agaknya begitulah. Dan sekarang juga kami berdua minta diri, karena kami harus segera berangkat ke Bu-tong-pai.”

“Tapi biarlah kami membantumu, dan kalau perlu kita memberitahukan teman-teman di dunia kang-ouw agar….”

“Tidak usah, Locianpwe. Ini adalah urusan antara kami sendiri. Bukankah begitu Sumoi?”

“Benar! Harus kami berdua saja yang berangkat ke sana. Kwee-koko, terima kasih atas bantuanmu mencari Suheng dan setelah kini aku bertemu Suheng dan kami ada urusan yang amat penting, terpaksa aku akan meninggalkanmu. Kita berpisah sampai di sini, Kwee-koko.” Kwee Lun mengangguk dan berkata dengan suara lirih setelah menarik napas panjang.

“Aku mengerti, Hong-moi.”

“Soan Cu, kuharap engkau suka menanti dulu di sini dan harap Siangkoan Lo-enghiong melimpahkan kebaikan hati dengan menerima Soan Cu di sini untuk beberapa hari sampai saya selesai berurusan dengan Bu-tong-pai.”

“Tentu saja! Dengan senang hati! Biarlah Ouw-siocia tinggal di sini dulu, ditemani oleh anakku.”

“Tidak, Liong-koko! Aku…. aku…. akan pergi saja melanjutkan usahaku mencari Ayah. Kaupergilah menyelesaikan urusanmu dengan Swat Hong……” kata Soan Cu sambil menekan perasaannya. “Urusan kita memang berlainan. Selamat tinggal, aku pergi lebih dulu!” Setelah berkata demikian, Soan Cu lalu bangkit berdiri dan berlari pergi tanpa menoleh lagi.

Kwee Lun juga bangkit berdiri. “Kalau begitu aku pun pamit. Biarlah aku membantu dia kalau dia mau.” Kwee Lun lalu berlari sambil berseru, “Nona…., tunggu dulu….!!” Namun Soan Cu tidak menengok lagi dan berlari cepat sehingga Kwee Lun terpaksa harus mengerahkan ginkangnya untuk mengejar. Sebentar saja kedua orang muda yang berkejaran itu sudah lenyap dari pandangan mata. Sin Liong dan Swat Hong juga berpamit dan meninggalkan Tee-tok bersama puterinya yang mengantar mereka sampai di pintu depan. Setelah kedua orang itu berjalan pergi dan tidak nampak lagi, terdengar Siangkoan Hui terisak dan menutupi matanya dengan ujung lengan bajunya. Siangkoan Houw menghela napas dan merangkulnya. dara itu makin berduka, menangis sesenggukan di dada ayahnya. Teetok menepuk-nepuk pundak puterinya dan berkata,

“Hemm, tidak patut anak Tee-tok begini lemah hatinya! Aku tahu bahwa kau jatuh cinta kepadanya, Hui-ji. Memang dia seorang pemuda luar biasa! Akan tetapi, aku melihat sesuatu yang aneh pada diri Sin-tong itu. Aku akan merasa heran kalau sampai mendengar dia itu menikah! Dia tidak seperti manusia biasa! Dia dari Pulau Es, demikian Sumoinya. Mereka itu berbeda dengan kita. Selain itu, engkau adalah tunangan putera Lusan Lojin Bu Si Kang. Engkau sejak kecil telah dijodohkan dengan Bu Swai Liang. Biarlah aku akan mencari lagi mereka!”

Siangkoan Hui tidak menjawab dan dia menurut saja ketika diajak masuk ke rumah oleh ayahnya yang amat menyayanginya. Sebetulnya, sukarlah dikatakan apakah Siangkoan Hui benar-benar jatuh cinta kepada Sin Liong. Kiranya lebih tepat dikatakan kalau dia tertarik dan suka menyaksikan wajah dan sikap pemuda yang halus budi itu. Untuk dikatakan jatuh cinta, kiranya masih terlalu pagi!

 


Keadaan di Bu-tong-pai mengalami perubahan hebat semenjak The Kwat Lin menjadi ketua partai persilatan besar itu. Bukan hanya perubahan di luar, yang nampak jelas karena adanya banyak anggauta perkumpulan golongan hitam dan sepak terjang mereka yang kasar dan ugal-ugalan, mengandalkan kepandaian untuk menentang siapa saja, akan tetapi juga terjadi perubahan di sebelah dalam yang tidak diketahui oleh orang luar.

Terjadi hal yang membuat Swi Nio seringkali menangis seorang diri di dalam kamarnya! Peristiwa yang memalukan hati dara itu, yaitu ketika dia melihat betapa kakaknya, Swi Liang, telah menjadi kekasih dari subo mereka sendiri! Tadinya tentu saja hal itu terjadi secara sembunyisembunyi, akan tetapi kini dia melihat sendiri betapa subonya dan kakaknya itu berjinah secara terangterangan, tidak bersembunyi lagi dan biarpun pada siang hari di mana banyak mata para angauta Bu-tongpai menyaksikannya, dengan seenaknya ketua Bu-tong-pai itu memasuki kamar Bu Swi Liang atau sebaliknya pemuda itu memasuki kamar subonya kemudian pintu kamar ditutup dari dalam! Hati Swi Nio memberontak, akan tetapi apa yang dapat dia lakukan kecuali menangis?

Dan memang sungguh menyedihkan sekali kenyataan bahwa seorang pemuda seperti Bu Swi Liang kini terjebak oleh nafsu berahi dan menjadi hamba nafsu berahi, juga menjadi hamba subonya sendiri yang membuatnya tergila-gila! Hal ini tidak amat mengherankan, mengingat bahwa Swi Liang adalah seorang pemuda yang masih hijau. Seorang pemuda remaja yang tentu saja tidak kuat menahan godaan dan rayuan seorang wanita yang sudah matang seperti The Kwat Lin pula, memang rasa kagum seoran muda terhadap lawan kelaminnya yang lebih tua dengan mudah menyeretnya ke dalam perangkap cinta nafsu.

Di lain pihak, peristiwa itu bukanlah dapat diartikan bahwa The Kwat Lin adalah seorang wanita yang gila laki-laki atau gila berahi. Sama sekali tidak. Dia adalah seorang yang normal, dan hanya keadaanlah yang membuat dia menjadi seorang penyeleweng besar. Dia adalah seorang wanita yang belum tua benar, baru tiga puluh tahun usianya, berwajah cantik dan bertubuh sehat. Setelah menjadi janda dan hidupnya menyendiri, wajarlah kalau dia merindukan cinta asmara, merindukan kehangantan rasa sayang seorang pria. Adapun pria yang sudah dewasa dan yang dekat dengannya adalah Bu Swi Liang, maka tidak pula mengherankan apa bila dia tertarik dan jatuh hati kepada muridnya sendiri ini.

Karena pemuda ini masih hijau dan tentu saja tidak berani mulai dengan langkah pertama, maka The Kwat Lin yang menggunakan perasaan kewanitaannya untuk membuka pintu dan menggerakan kaki dalam langkah pertama. Dialah yang memikat dan merayu sehingga akhirnya Swi Liang jatuh dan mabok. Sekali saja hubungan jinah dilakukan, maka membuat orang menjadi mencandu. Yang pertama kali segera disusul oleh yang ke dua, ke tiga, kemudia mereka menjadi ketagihan dan seolah-olah tidak dapat lagi hidup tanpa kelanjutan hubungan gelap mereka!

Tentu saja hal ini dapat terjadi karena keadaan hidup Kwat Lin. Andaikata dia masih seorang pendekar wanita seperti belasan tahun yang lalu, tentu perbuatan ini sampai mati pun tak kan dia lakukan. Akan tetapi kini keadaanya lain. Dia menjadi seorang wanita yang berhati keras oleh sakit hati, kemudian menjadi tak peduli oleh keadaannya sebagai seorang ketua paksaan dari Bu-tong-pai, seorang yang bercita-cita untuk mencarikan kedudukan setingginya bagi puteranya. Kedudukannya memberi dia perasaan lebih dan berkuasa, maka timbul sifat untuk bertindak sewenang-wenang tanpa mempedulikan orang lain lagi.

Akan tetapi, selain hubungan gelap dengan muridnya yang tersayang ini, Kwat Lin juga mulai dengan langkah-langkah ke arah tercapainya cita-citanya. Dia mulai memperkuat Bu-tong-pai dengan mengadakan hubungan dengan para pembesar di kota raja melalui anggauta-anggauta barunya, yaitu para pembesar yang mempunyai cita-cita yang sama, para pembesar calon pembrontak.

Kedudukan Bu-tong-pai makin kuat setelah terjadi peristiwa hebat pada beberapa hari yang lalu. Pada beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekali, anak buah Bu-tong-pai gempar dengan munculnya dua orang laki-laki di pintu gerbang Bu-tong-pai. Tidak ada seorang pun anak buah Bu-tong-pai yang berani sembarangan turun tangan ketika mendengar dan mengenal bahwa dua orang ini adalah tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan. Ketika seorang diantara mereka, yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, kumis dan jenggotnya sudah putih, mengatakan bahwa mereka minta berjumpa dengan ketua Bu-tong-pai yang baru, para anak murid Bu-tong-pai cepat memberi kabar kepada The Kwat Lin yang pada saat itu masih enak-enak pulas dalam pelukan muridnya, juga kekasihnya, Bu-swi Liang! Terkejutlah dia ketika pintu kamarnya diketuk dan mendengar suara seorang murid bahwa di luar pintu gerbang terdapat dua orang tamu, ayah dan anak she Coa dari dusun Koan-teng di kaki Pegunungan Bu-tong-san yang minta bertemu dengan ketua!

“Suruh mereka menanti di luar! Aku segera datang!” kata Kwat Lin dengan marah.

Tak lama kemudian, Kwat Lin yang ditemani oleh Swi Liang dan Swi Nio, juga ikut pula Han Bu Ong yang usianya hampir sebelas tahun, keluar dari pintu gerbang menemui dua orang itu. Senyum mengejek menghias bibir ketua Bu-tong-pai yang cantik itu. Semenjak dia merampas kedudukan ketua dengan paksa, sudah lima kali dia didatangi tokoh-tokoh kang-ouw yang agaknya datang karena permintaan para tosu Bu-tong-pai yang mengundurkan diri. Para tokoh ini merasa penasaran dan membela para tokoh Bu-tong-pai. Dengan mudahnya semua tokoh yang datang berturut-turut itu dirobohkan oleh Kwat Lin, ada yang tewas seketika, ada yang terpaksa pergi membawa luka-luka berat! Dan kini, ayah dan anak yang datang itu merupakan tokoh-tokoh yang datang ke enam kalinya.

Swi Liang dan Swi Nio yang menggandeng tangan Bu Ong segera minggir dan membiarkan subo mereka seorang diri menghadapi dua orang tamu itu. Dengan pakaian yang mewah dan indah, dandanan seperti puteri kerajaan, The Kwat Lin tampak sebagai seorang wanita bangsawan agung yang memiliki wibawa. Dengan sikap angkuh dia melangkah maju menghadapi dua orang itu sambil tersenyum.

Kedua orang itu berpakaian sederhana, namun dari sikap mereka yang tenang jelas tampak kegagahan mereka sebagai pendekar-pendekar penentang kejahatan. Kakek itu biarpun sudah tua, masih kelihatan sehat dan kuat, jenggot dan kumisnya yang putih menambah keangkeran wajahnya.Di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan dia memandang ketua Bu-tong-pai dengan sinar mata penuh selidik. Orang ke dua masih muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya, bertubuh tegap dan berwajah tampan gagah. Ada kemiripan pada wajah kakek dan laiki-laki ini dan memang mereka itu adalah ayah dan anak yang terkenal sekali namanya sebagai pendekar-pendekar dari dusun Koan-teng yang menjadi sahabat-sahabat baik dari para tosu Bu-tong-pai.

Kakek Coa Hok memiliki ilmu pedang turunan keluarga Coa yang amat lihai dan ilmu pedang ini diturunkan pula kepada puteranya itu yang bernama Coa Khi. Ketika ayah dan anak ini mendengar akan malapetaka yang menimpa para pemimpin Bu-tong-pai, yaitu munculnya orang termuda dari Cap-sha Sinhiap, seorang wanita yang merampas kedudukan ketua , kemudian mendengar betapa banyak sahabat-sahabat kang-ouw yang membela mereka telah roboh di tangan wanita itu, mereka berdua menjadi marah sekali. Sebagai orang-orang yang biasa menentang kejahatan mereka tidak mempedulikan berita tentang kesaktian wanita itu dan berangkatlah mereka meninggalkan rumah, berbekal pedang, semangat dan kebenaran, naik ke Bu-tong-san menjumpai ketua Bu-tong-pai itu.

The Kwat Lin bukan seorang bodoh. Setiap kali ada tokoh naik ke Bu-tong-san dan hendak menantangnya, dia selalu membujuk mereka untuk berdamai dan bekerja sama. Selama cita-citanya belum tercapai, dia membutuhkan bantuan sebanyak mungkin orang pandai. Maka setiap kali ada orang gagah datang dengan maksud menantangnya dan membela para bekas pimpinan Bu-tong-pai, dia selalu menyambut mereka dengan bujukan manis. Hanya karena bujukannya tidak berhasil dan mereka itu berkeras, terpaksa dia turun tangan menerima tantangan mereka.

Memang demikianlah sifat orang-orang yang mempunyai cita-cita besar, cita-cita yang sesungguhnya hanyalah nafsu keinginan untuk kesenangan diri pribadi. Demi tercapainya cita-cita yang merupakan pamrih bagi diri peribadi ini, orang tidak segan untuk bersikap palsu, membujuk orang sebanyaknya untuk membantunya demi tercapainya cita-cita itu. Orang-orang yang tidak membantu di anggap musuh dan perlu dibasmi agar jangan menjadi penghalang cita-citanya, sebaiknya, mereka yang mati-matian membantunya, jika cita-cita itu sudah tercapai sebagian besar dilupakannya begitu saja! Atau kalau teringat pun, hanya diberi pahala sekedarnya karena yang penting bukan orang-orang yang membantunya, melainkan dirinya sendiri!

Begitu berhadapan dengan ayah dan anak itu, The Kwat Lin mengangkat kedua tangannya ke depan dada sambil berkata. “Kiranya Ji-wi Coa-enghiong (Kedua Pendekar she Coa) yang datang. Suadh lama kami mendengar Ji-wi yang terkenal gagah perkasa, maka kami merasa beruntung sekali hari ini dapat bertemu. Apalagi mendengar bahwa Ji-wi adalah sahabat baik dari Bu-tong-pai…..”

“The Kwat Lin!” Kakek Coa membentak dengan telunjuk kiri menuding ke arah muka ketua baru Bu-tongpai itu. “Aku mengenalmu sebagai seorang di antara Cap-sha Sin-hiap yang gagah perkasa, sebagai seorang murid Bu-tong-pai yang selalu menjunjung tinggi nama Bu-tong-pai. Aku telah puluhan tahun bersahabat dengan Bu-tong-pai dan telah mendengar akan namamu. Akan tetapi, mengapa setelah menghilang bertahu-tahun, engkau kembali ke sini dan menjadi seorang murid murtad, merampas kedudukan ketua mengandalkan kekerasan dan kepandaian? Aku sebagai seorang sahabat Bu-tong-pai tentu saja tidak mungkin dapat mendiamkan hal penasaran ini tanpa turun tangan!”

Kwat Lin tersenyum manis dan melirik ke arah Soa Khi yang berwajah tampan, akan tetapi Coa Khi mengerutkan alis dan memandang penuh kemarahan. “Coa-lo-enghiong agaknya kena dibujuk orang! Memang benar saya menjadi ketua Bu-tong-pai, akan tetapi hal itu adalah demi kebaikan Bu-tong-pai, demi cinta saya kepada Bu-tong-pai. Saya ingin menjadikan Butong- pai perkumpulah terbesar dan terkuat di dunia kang-ouw, dan saya ingin menarik semua orang gagah menjadi sahabat yang dapat bekerja sama. Karena itu, saya harap Ji-wi dapat membuka mata melihat kenyataan dan saya persilahkan Ji-wi untuk datang sebagai sahabat dan untuk minum arak persahabatan bersama kami.”

“Perempuan murtad! Jangan mengira dapat menyogok kami dengan omongan manis!” Kakek itu membentak marah.

Kedua alis yang hitam kecil dan panjang itu bergerak-gerak dan biarpun mulut yang berbibir itu masih tersenyum, namun kata-kata yang keluar mengandung nada dingin, “Habis apa yang kalian akan lakukan?”

“Sing! Singggg!!”

Ayah dan anak itu telah mencabut pedang dan kakek Coa berkata, “Hanya ada dua pilihan bagi engkau dan kami. Pertama engkau pergi meninggalkan Bu-tong-pai dan kami akan berterima kasih kepadamu yang mengembalikan Bu-tong-pai, kepada para pimpinan Bu-tong-pai, atau kalau engkau berkeras terpaksa kami ayah dan anak turun tangan menggunakan pedang membela kehormatan sahabat-sahabat dari Bu-tong-pai!”

“Hi-hik! Betapa gagahnya keluarga Coa! Apakah ilmu Pedang Hok-liong-kiamsut sehebat sikap mereka, perlu ditonton dulu!”

Tiba-tiba terdengar suara yang lantang dan merdu ini. Semua orang menengok, juga The Kwat Lin yang menjadi terkejut melihat ada orang datang tanpa diketahuinya. Hal itu saja membuktikan bahwa wanita yang muncul ini memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Ayah dan anak itu mendengar nama ilmu pedang turunan mereka disebut-sebut, juga menengok dengan kaget. Wanita itu pakaiannya mentereng dan biarpun usianya sudah kurang lebih setengah abad, namun harus diakui bahwa dia adalah seorang wanita cantik. Rambutnya hitam gemuk dan panjang, dibiarkan terurai sampai kepinggulnya yang menonjol di balik celana yang ketat. Tangan kanannya memanggul sebatang payung hitam dan wanita itu tahu-tahu telah berdiri di situ dengan gaya lemah lembut. Dia seorang wanita yang masih kelihatan cantik dengan tubuh padat akan tetapi ada sesuatu yang dingin mengerikan keluar dari sikapnya, terutama sekali sepasang matanya yang amat tajam itu karena mata itu terbelalak memandang hampir tak pernah berkejap!

Melihat wanita ini, kakek Coa terkejut bukan main dan otomatis dia berseru keras. “Kiam-mo Cai-li….!!”

Puteranya, Coa Khi terkejut. Tentu saja dia sudah pernah mendengar nama ini, nama seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal sebagai seorang iblis betina yang selain kejam dan ganas, juga amat tinggi ilmu kepandaiannya. Kakek Coa merasa heran sekali mengapa iblis betina yang sudah bertahun-tahun tak pernah muncul di dunia kang-ouw dan kabarnya hanya bertapa di tempat kediamannya, yaitu di Rawa Bangkai di kaki Penggunungan Lu-liang-san itu tahu-tahu kini muncul di situ. Dan biasanya, di mana pun iblis itu muncul, tentu akan terjadi malapetaka hebat!

The Kwat Lin juga sudah mendengar nama itu, yaitu sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih menjadi seorang di antara Cap-sha Sin-hiap. Ketika itu, nama Kiam-mo Cai-li (Wanita Cerdik Berpedang Payung) sudah amat terkenal. Akan tetapi dia belum pernah bertemu dengan iblis betina itu dan sekarang dia melirik ke arah wanita itu dengan senyum mengejek. Dengan kepandaiannya seperti sekarang ini, dia tidak perlu takut menghadapi iblis yang manapun juga!

“Kiam-mo Cai-li, apakah kedatanganmu tanpa diundang ini pun hendak menantang aku sebagai ketua Butong- pai? Kalau memang demikian, jangan kepalang tanggung, majulah kau bersama kedua orang She Coa ini agar lebih cepat aku menghadapi kalian!”

Ucapan yang keluar dengan tenangnya dari mulut ketua Bu-tong-pai itu mengejutkan hati kedua orang ayah dan anak She Coa itu. Berani bukan main wanita ini menantang Kiam-mo Cai-li seperti itu! Menyuruh datuk kaum sesat itu untuk mengeroyok! Akan tetapi Kiam-mo Cai-li tertawa lebar sehingga tampaklah deretan giginya yang putih dan rapi,

“Hi-hi-hik, hebat sekali mulut ketua baru Bu-tong-pai! Pantas kau disebut-sebut di dunia kang-ouw, kiranya memang memilki keberanian yang hebat! Hanya karena mendengar engkau adalah Ratu Pulau Es maka aku terpaksa meninggalkan tempatku yang aman dan tenteram. Kalau tidak karena nama ini, biar siapa pun yang akan menduduki Bu-tong-pai, aku peduli apa? Sekarang hendak kulihat bagaimana kau menghadapi pewaris-pewaris ilmu Pedang Hok-liong-kiamsut yang terkenal ini. Kalau kau memang berharga untuk melawanku, barulah kita nanti bicara lagi!”

The Kwat Lin tersenyum mengejek dan mendenguskan suara dari hidung. “Hemm, kau merasa terlalu tinggi untuk mengeroyok? Baiklah, kalau begitu tunggu saja sampai aku membereskan dua orang ini. Di sini tidak ada bangku, duduklah di sini!”

Setelah berkata demikian, Kwat Lin menghampiri sebatang pohon dan sekali tangan kirinya bergerak menyabet dengan telapak tangan miring, terdengar suara keras dan pohon itu tumbang. Hebatnya, batang pohon itu putus seperti dibabat pedang tajam saja, rata dan halus sehingga sisanya merupakan sebuah bangku! “Hi-hi-hik, memang hebat sinkangmu! Terima kasih, aku menanti di sini,” kata Kiam-mo Cai-li Liok Si dan sekali meloncat, tubuhnya sudah melayang ke atas batang pohon yang merupakan bangku bermuka halus itu. Dia duduk bertumpang kaki dan menunjang dagu dengan sebelah tangan, seperti seorang yang akan menikmati suatu tontonan yang menarik. Ayah dan anak she Coa itu saling pandang. Di dalam pandang mata yang bertemu ini mereka seperti sudah saling bicara, menyatakan bahwa mereka menghadapi lawan yang amat lihai. Akan tetapi, jiwa pendekar kedua orang ini membuat mereka sama sekali tidak merasa gentar. Mereka bukan saja membela sahabat-sahabat mereka Kui Tek Tojin dan para tokoh Bu-tong-pai, akan tetapi juga menuntut balas atas kematian dan kekalahan para tokoh kang-ouw yang datang lebih dulu dari mereka membela Butong- pai. Selain itu mereka sudah datang sebagai dua orang penuntut kebenaran, kalau sekarang mereka harus mundur melihat kehebatan lawan, hal ini akan membuat mereka menjadi pengecut dan bagi dua orang pendekar seperti mereka yang namanya sudah terkenal harum selama beberapa keturunan, lebih baik mati sebagai orang gagah dari pada hidup menjadi pengecut hina! “Kalau begitu, The Kwat Lin, bersiaplah engkau!” teriak kakek Coa dan pedang di tangan kanannya sudah melintang di depan dada. Gerakan ini diturut oleh Coa Khi dan kedua orang itu berdiri berjajar dengan memasang kuda-kuda yang kuat. Kwat Lin menggerakan tangan kanannya dan tongkat pusaka ketua Bu-tong-pai yang selalu dipegangnya itu menancap di atas tanah di depannya. Tongkat itu baginya perlu untuk menghadapi orang-orang Butong- pai yang menghormati tongkat itu dan menganggapnya sebagai benda keramat lambang kedudukan tertinggi di Bu-tong-pai. Kini, menghadapi dua orang luar, dia tidak mau mempergunakannya, dan juga untuk memamerkan kepandaiannya, dia sengaja hendak menghadapi dua orang itu dengan tangan kosong! “Ceppp!” Tongkat itu amblas setengahnya ke dalam tanah dan sekali Kwat Lin menggerakan ke dua kakinya, tubuhnya mencelat ke depan dua orang gagah se Coa itu sambil berkata, “Mulailah!” “Sing, sing…. wut-wut-wut-wutttt….!!” Bertubu-tubi kedua pedang itu menyambar dengan kekuatan dan kecepatan dahsyat sehingga tampak sinar-sinar berkilauan dibarengi suara bersiutan ketika kedua pedang membelah udara. Diam-diam Kwat Lin terkejut dan harus memuji kehebatan dan keindahan gerakan ilmu pedang mereka itu. Namun, tentu saja dengan latihan yang didapatnya dari Pulau Es, gerakanya lebih cepat lagi sehingga dengan mudah dia dapat mengelak ke sana-sini menghindarkan diri dari sambaran sinar kedua pedang itu dengan gerakan yang cepat dan indah. Setelah merasa yakin bahwa betapapun indah dan lihainya ilmu pedang mereka namun dia masih memiliki tingkat jauh lebih tinggi dalam hal sinkang, Kwat Lin tersenyum dan bagaikan seekor kucing mempermainkan dua ekor tikus, dia sengaja selalu mengelah ke sana ke mari memamerkan kegesitan tubuhnya, bukan hanya kepada dua orang itu melainkan terutama sekali kepada wanita yang dianggapnya merupakan calon lawan yang lebih lihai, yaitu Kiam-mo Cai-li yang menonton pertandingan itu. Tiba-tiba Kwat Lin mengeluarkan seruan tertahan ketika lirikan matanya membuat dia maklum bahwa ada dua orang bekas anak buah Bu-tong-pai yang mendekati tongkat pusaka itu dan berusaha mencabut tongkat pusaka dari dalam tanah. Peristiwa itu terjadi cepat sekali namun Kwat lin yang cerdik lebih cepat lagi mengambil kesimpulan bahwa dua orang itu tentulah pengkhianatpengkhianat yan berpura-pura takluk kepadanya namun diam-diam mencari kesempatan untuk mencuri tongkat pusaka, tentu dengan maksud mengembalikan tongkat itu kepada Kui Tek Tojin! Pada saat itu, dua pedang ayah dan anak itu menusuk dari depan dan belakang dengan cepatnya. Kwat Lin tentu saja agak terlambat gerakanya oleh perhatian yang terpecah tadi, maka dia cepat menggulingkan tubuhnya, mengelak dari tusukan pedang di depan, sedangkan tusukan pedang dari belakang yang masih mengancamnya di tangkisnya dengan lengan kiri yang dilindungi gelang-gelang emas. “Cringggg….!!” Coa Khi terkejut bukan main ketika lengan yang memegang pedang itu tergetar hebat dan hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan ketika bertemu dengan gelang di pergelangan tangan kiri ketua Bu-tong-pai itu! Ketika dia dan ayahnya memandang, ternyata wanita itu telah lenyap dan tahu-tahu terdengar jerit-jerit mengerikan dari kiri. Ketika mereka memandang, ternyata wanita itu telah merobohkan dua orang laki-laki yang tadi mencoba mencuri tongkat pusaka. Dua orang laki-laki itu roboh dengan kepala pecah disambar jari-jari tangan Kwat Lin yang marah. Setelah membunuh kedua orang itu, sekali meloncat Kwat Lin sudah kembali menghadapi dua orang lawannya. kini dialah yang menerjang, menyerang dengan kedua tangan terbuka, cepatnya bukan main sehingga ayah dan anak itu terpaksa mudur sambil melindungi tubuhnya dengan pedang. Seru dan indah dipandang pertandingan itu. Tubuh Kwat Lin lenyap dan hanya kadang-kadang saja tampak, bergerak-gerak di antara gulungan dua sinar pedang. Dia seloah-olah seorang penari yang amat indah dan lemah gemulai gerakannya, seperti sedang bermain-main dengan gulungan sinar pedang yang dipandang sepintas lalu seperti dua helai selendang yang di mainkan oleh wanita itu. Tiba-tiba kedua orang ayah dan anak itu mengeluarkan pekik yang menggetarkan bumi dan tampak mereka menerjang secara berbareng dari depan dengan pedang terangkat ke atas dan membacok sambil meloncat. Inilah jurus paling ampuh dari ilmu pedang mereka lakukan dengan berbareng, jurus terakhir dari Hokliong- kiam-sut (Ilmu Pedang Naga). Serangan ini demikian dahsyatnya sehingga tidak memungkinkan lawan yang diserangnya untuk mengelak lagi karena jalan keluar sudah tertutup dan ke mana pun lawan mengelak, ujung pedang tentu akan mengejar terus. Akan tetapi, sambil tersenyum Kwat Lin tidak menghindarkan diri sama sekali tidak mengelak, bahkan menubruk ke depan, tiba-tiba ketika tubuh Coa Khi yang meloncat ke atas itu sudah dekat dan pedang pemuda itu sudah menyambar ke arah kepalanya, dia menjatuhkan diri ke bawah, berjongkok dan kedua tangannya menyambar ke atas dan depan dengan jari-jari terbuka. “Hyaaaaattt….!!” Pekik melengking yang keluar dari mulut Kwat Lin ini dahsyat sekali dan kedua tangan yang mengandung sepenuhnya tenaga Inti Salju yang ampuh itu telah menyambar perut kedua orang laawannya. “Plak! Plak!” Tamparan jari-jari tangan yang mengandung tenaga sinkang mujijat ini tepat mengenai perut Coa Khi yang sedang melayang di atas dan Coa Hok yang berada di depan. Ayah dan anak itu mengeluarkan jerit tertahan yang mengerikan. Mereka merasa tubuh mereka dimasuki hawa dingin yang tak tertahankan hebatnya dan robohlah ayah dan anak itu, roboh tanpa dapat berkutik lagi karena mereka telah tewas dengan muka membiru karena darah mereka telah beku terkena pukulan yang mengandung Swat-im-sinkang hebat dari Pulau Es! “Bagus sekali….!!” Kiam-mo Cai-li Liok Si memuji dan melayang turun dari atas batang pohon dan berdiri berhadapan dengan ketua Bu-tong-pai itu. Keduanya sama cantik dan sama mewah pakaiannya, dan sejenak mereka saling pandang seperti hendak mengukur kelebihan lawan dengan pandang mata. “Hebat kepandaianmu, Pangcu (Ketua)! Melihat tingkatmu, engkau pantas menjadi lawanku bertanding, mari kita coba-coba, siapa diantara kita yang lebih lihai!” The Kwat Lin mengerutkan alisnya dan bertanya, “Kiam-mo Cai-li, diantara kita tidak pernah ada urusan sesuatu. Apakah engkau menantangku demi membela para tosu Bu-tong-pai yang sudah mengundurkan diri?” “Hi-hi-hik!” Wanita yang sudah hampir nenek-nenek namun masih amat genit itu terkekeh. “Aku membela tosu Bu-tong-Pai? Jangan bicara ngaco! Bagi aku, siapa pun yang akan menjadi ketua Bu-tong-pai, masa bodoh! Akan tetapi mendengar bahwa yang mengetuai Bu-tong-pai disebut Ratu Pulau Es, hatiku tertarik dan sekarang melihat engkau benar-benar lihai, makin ingin hatiku menguji kelihaianmu dan bertanya apakah benar engkau Ratu Pulau Es?” Kwat Lin mengangguk. “Benar, aku adalah bekas Ratu Pulau Es! Kiam-mo Cai-li, kalau engkau tidak membela tosu-tosu Bu-tong-pai perlu apa kita bertanding? Ketahuilah, aku sedang membangun Bu-tongpai dan aku membutuhkan kerja sama dengan orang-orang pandai, terutama sekali engkau. Apakah seorang dengan kepandaian seperti engkau ini tidak pula mempunyai cita-cita tinggi untuk mencapai matahari dan bulan? Ataukah hanya menanti kematian begitu saja, membusuk di tempat pertapaanmu di Rawa Bangkai?” “Hi-hi-hik, aku sudah mendengar pula akan usahamu yan bercita-cita luhur! Karena itu pula aku tertarik dan datang ke sini. Akan tetapi sebelum kita bicara tentang kerja sama dan cita-cita, kita harus menentukan dulu siapa diantara kita yang patut memimpin dan siapa pula yang harus taat.” “Maksudmu?” The Kwat Lin memandang tajam dengan alis berkerut. “Kita bekerja sama, itu pasti! Dan kalau kita berdua sudah bekerja sama, di tangan kita kaum wanita, tentu segalanya akan berhasil baik! Lihat saja keadaan di istana kerajaan. Seorang selir mampu mengemudikan seluruh kendali pemerintahan! Akan tetapi untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya diantara kita, perlu diketahui sekarang juga.” “Bagus! Dengan lain kata-kata engkau menantang untuk kita mengadu kepandaian, ya? Kiam-mo Cai-li, engkau seperti seekor katak dalam sumur! Majulah!” Kwat Lin membanting kakinya ke atas tanah dekat pusaka Bu-tong-pai dan…. tongkat yang menancap setengahnya lebih itu mencelat ke atas seperti didorong dari bawah tanah, lalu tongkat itu disambar dan dipegangnya. Kiam-mo Cai-li menganguk-angguk. “Hebat memang sinkangmu, Pangcu. Akan tetapi jangan kau salah sangka. Sekali ini aku benar-benar menyadari bahwa usiaku sudah makin tua dan aku perlu memperoleh kedudukan yang akan menjamin masa tuaku sampai mati. Kita hanya mengukur kepandaian, bukan bertanding sebagai musuh, hanya untuk menentukan tingkat siapa yang lebih tinggi di antara kita berdua.” Mendengar kata-kata ini, berkurang panas hati Kwat Lin dan teringat lagi dia bahwa betapapun juga, dia membutuhkan tenaga bantuan wanita iblis yang terkenal sebagai datuk kaum sesat ini. Kalau dia dapat menarik wanita ini sebagai pembantu, tentu akan banyak tokoh kaum sesat yang dapat ditariknya untuk membantu tercapainya cita-citanya. “Baiklah kalau begitu, Kiam-mo Cai-li. Mari kita mulai!” “Pangcu, awas serangan pedang payungku!” Kiam-mo Cai-li berseru dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, didahului oleh bayangan hitam dari pedang payungnya yang terbuka dan menyembunyikan gerakannya. Ujung payung berbentuk pedang itu menusukkan payung itu sendiri berputar mengaburkan pandangan mata lawan. Namun, dengan tenang saja Kwat Lin menggerakan tangan kirinya, dengan telapak tangan terbuka dia mendorong ke depan sehingga hawa pukulan sinkang yang hebat menyambar dan membuat payung itu seperti tertiup angin keras dan menahan daya serang ujung payung yang seperti pedang, kemudian disusul dengan gerakan tongkat pusaka ditangan Kwat Lin menyambar dari samping dengan dahsyatnya. “Plakk…! Cringggg-cring….!!” Tongkat itu ditangkis, pertama dengan kuku tangan Kiam-mo Cai-li yang hendak mencengkeram dan merampas tongkat, namun tongkat sudah ditarik kembali dan mengirim hantaman dua kali berturut-turut yang dapat ditangkis oleh pedang di ujung payung. Maklum akan kehebatan lawannya, Kiam-mo Cai-li bergerak cepat sekali dan dia sudah mainkan ilmu pedangnya yang luar biasa, yaitu Tiat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Payung Besi). Kalau saja kwat Lin belum mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi tingkatnya dari Pulau Es, tentu dia bukanlah lawan Kiam-mo Cai-li yang lihai sekali itu. Akan tetapi, karena The Kwat Lin kini telah menjadi seorang yang berilmu tinggi, maka dia dapat mengimbangi permainan lawannya dan terjadilah pertandingan yang amat seru dan seimbang. Kiam-mo Cai-li memang luar biasa lihainya. Tidak percuma dia menjadi seorang datuk kaum sesat, seorang tokoh golongan hitam yang ditakuti seperti seorang iblis betina yang kejam dan berilmu tinggi. Tdak hanya ilmu pedangnya yang lain dari pada yang lain, permainan pedang yang gerakan tangannya terlindung dan tersembunyi oleh payung hitam sehingga lebih praktis dan berbahaya daripada menggunakan perisai, akan tetapi di samping ilmu pedangnya ini juga tangan kirinya merupakan senjata yang amat berbahaya dengan kuku-kukunya yang panjang dan mengandung racun. Ini semua masih dilengkapi lagi dengan rambutnya yang hitam panjang, karena rambutnya ini seperti ular-ular hidup, dapat dipergunakan untuk menotok, melecut, atau melibat! Akan tetapi, tidak percuma pula The Kwat Lin pernah menjadi isteri seorang manusia yang disohorkan seperti setengah dewa, yaitu Han Ti Ong yang sukar diukur lagi tingkat kepandaiannya. Tidak percuma selama sepuluh tahun bekas murid Bu-tong-pai ini digembleng di Pulau Es, apalagi telah mewarisi kitab-kitab pusaka Pulau Es yang telah dilarikannya. Yang jelas, dalam hal tenaga sinkang, dia masih menang setinggkat dibandingkan dengan Kiam-mo Cai-li. Tenaga sinkangnya adalah hasil latihan di Pulau Es, maka dia telah dapat menyedot tenaga inti salju, yaitu Swat-im Sin-kang, tenaga sinkang yang mengandung hawa dingin sehingga lawan yang kurang kuat sekali bertemu tenaga akan menjadi beku darahnya. Selain menang dalam tenaga sinkang, juga dasar ilmu silatnya lebih sempurna daripada dasar ilmu silat Kiam-mo Cai-li yang sesungguhnya merupakan gabungan ilmu silat campur-aduk. Demikianlah, pertandingan itu berlangsung sampai seratus jurus lebih dengan amat serunya. Kiam-mo Cai-li menang keanehan senjatanya dan menang pengalaman bertanding akan tetapi kelebihannya ini menjadi tidak berarti karena dia kalah tenaga sinkang sehingga setiap serangan dan desakannya membuyar oleh hawa sinkang dari dorongan telapak tangan The Kwat Lin. Akhirnya, iblis betina ini harus mengakui keunggulan lawan dan dia sebagai seorang ahli maklum bahwa kalau dilanjutkan, salah-salah dia akan menjadi korban hawa Swat-im Sin-kang yang mujijat. Maka dia meloncat ke belakang dan berseru, “Cukup, Pangcu! Kepandaianmu hebat, engkau pantas menjadi Ratu Pulau Es, pantas menjadi ketua Bu-tong-pai dan biarlah aku membantumu dalam kerja sama kita!” Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kwat Lin mendengar ini. Dia lalu menghampiri Kiammo Cai-li, menggandeng tangan wanita itu dan memperkenalkan kepada Swi Liang, Swi Nio, dan Han Bu Ong. Kemudian dia mengajak sahabat baru itu memasuki gedungnya dan sambil menghadapi hidangan lezat kedua orang wanita lihai ini bercakap-cakap dan mengadakan perundingan untuk bekerja sama. Ternyata mereka cocok sekali dan memang keduanya merindukan kedudukan yang mulia dan terhormat, maka dalam perundingan ini. Kiam-mo Cai-li diangap sebagai pembantu utama dan tangan kanan Kwat Lin, bahkan Rawa Bangkai yang terletak di kaki Pegunungan Lu-liang-san itu dijadikan markas kedua di mana kelak akan dilakukan semua pertemuan dan perundingan rahasia. Benar saja seperti yang diharapkan, setelah Kiam-mo Cai-li menjadi pembantunya, banyaklah kaum sesat yang menggabung dan menyatakan suka bekerja sama sehingga biarpun tidak resmi, mulai saat itu The Kwat Lin bukan hanya menjadi ketua Bu-tong-pai, akan tetapi juga diakui sebagai datuk kaum sesat nomer satu! Hubungan rahasia yang diadakan oleh The Kwat Lin dengan para pembesar kota raja menjadi makin luas, dan diam-diam persekutuan ini mulai mengatur rencana pemberontakan untuk menggulingkan Kaisar! Dari para pembesar yang mengharapkan bantuan orang-orang kang-ouw inilah Kwat Lin memperoleh bantuan keuangan sehingga Bu-tong-pai menjadi makin kuat dan wanita lihai ini dapat menarik banyak tenaga bantuan orang pandai dengan mempergunakan uang sebagai pancingan. Keadaan kerajaan Tang di masa itu memang sedang diancam pergolakan hebat. Kaisarnya, yaitu Kaisar Beng Ong, atau yang terkenal juga dengan sebutan Kaisar Hian Tiong. Tak dapat disangkal lagi, di bawah pemerintahan Kaisar Beng ini Kerajaan Tang mengalami perkembangan yang amat pesat sehingga menjadi sebuah kerajaan yang luas sekali wilayahnya. Di jaman pemerintahannya inilah (712-756) di Tiongkok bermunculan sastrawan-sastrawan dan pelukis-pelukis yang menjadi terkenal sekali dalam sejarah, seperti Li Tai-po, Tu Fu, Wang Wei dan lain-lain. Namun, disayangkan bahwa kebijaksanaan Beng Ong dalam mengemudikan roda pemerintahan ini mengalami godaan hebat yang meruntuhkan segala-galanya. Seperti telah terjadi seringkali, di jaman apa pun dan di negara manapun juga, Beng Ong yang hatinya teguh menghadapi godaan segala macam keduniawian, ternyata lumpuh ketika menghadapi seorang wanita! Betapa banyaknya sudah dibuktikan oleh sejarah, betapa pria-pria yang hebat, pandai, gagah perkasa dan kuat hatinya, menjadi luluh dan tak berdaya begitu bertemu dengan seorang wanita yang berkenan di hatinya. Peristiwa itu terjadi dalam tahun 745. Ketika itu, Raja Beng Ong sudah berusia enam puluh tahun lebih. Sebenarnya sudah tua dan sudah kakek-kakek, namun seperti telah terbukti dari jaman dahulu sampai sekarang, laki-laki, betapapun tuanya dalam menghadapi wanita menjadi seperti seorang kanak-kanak yang hijau dan lemah. Seorang di antara banyak pangeran, yaitu putera Kaisar yang terlahir dari banyak selirnya adalah Pangeran Su. Pangeran ini mempunayi seorang isteri yang amat cantik jelita, dan menurut kabar angin, wanita ini cantiknya melebihi bidadari kahyangan. Wanita ini bernama Yang Kui Hui, dan memang wanita ini memiliki kecantikan yang amat luar biasa sehingga terkenal di seluruh penjuru dunia. Ketika Kaisar Beng Ong dalam suatu kesempatan bertemu dan melihat Yang Kui Hui, seketika hati Kaisar tua itu tergila-gila. Ratusan orang selir cantik dan pelayan-pelayan muda dan perawan tidak lagi menarik hatinya dan setiap saat yang tampak di depan matanya hanyalah wajah Yang Kui Hui yang cantik jelita. Akhirnya, Kaisar tidak lagi dapat menahan nafsu hatinya. Dengan kekerasan dia memaksa puteranya sendiri, Pangeran Su, untuk menceraikan isterinya dan mengawinkan pangeran ini dengan seorang wanita lain. Adapun Yang Kui Hui, tentu saja, segera dimasukan ke dalam istana, di dalam kumpulan harem (rombongan selir) di istana. Setelah Yang Kui Hui pada malam pertama melayani Kaisar Beng Ong, bekas ayah mertuanya, sejak saat itulah terjadi lembar baru dalam sejarah Kerajaan Tang. Kaisar Beng Ong yang tadinya giat mengurus pemerintahan, memperhatikan segala urusan pemerintahan sampai ke soal yang sekecil-kecilnya, kini mulai tidak acuh dan menyerahkan semua urusan ke tangan para Thaikam (Orang Kebiri, Kepercayaan Raja) dan para pembesar yang berwenang. Dia sendiri dari pagi sampai jauh malam tak pernah meninggalkan tempat tidur di mana Yang Kui Hui menghiburnya dengan penuh kemesraan. Dalam beberapa bulan saja, selir yang tercinta ini berhasil menguasai hati Kaisar seluruhnya sehingga apa pun yang dilakukan oleh Yang Kui Hui selalu benar, dan apa pun yang diminta oleh selir ini, tidak ada yang ditolak oleh Kaisar tua yang sudah dimabok cinta itu. Yang Kui Hui bukanlah seorang wanita bodoh. Sama sekali bukan. Tentu saja hatinya menaruh dendam kepada kaisar Beng Ong karena dia dipisahkan dari suaminya yang tercinta. Sudah pasti sekali dalam melayani semua nafsu berahi Kaisar tua itu, ada tersembunyi niat yang lain lagi, bukan semata-mata karena dia membalas cinta kasih Kaisar yang sudah tua itu. Dia tidak menyia-nyikan kesempatan amat baik itu. Setelah membuat Kaisar tergila-gila dan seolah-olah bertekuk lutut di depan kakinya yang kecil mungil, mulailah Yang Kui Hui memetik hasil pengorbanan diri dan hatinya. Dia menggunakan pengaruhnya terhadap Kaisar, menarik keluarganya menduduki tempat-tempat penting dalam pemerintahan! Bahkan kakaknya yang bernama Yang Kok Tiong diangkat menjadi menteri pertama dari Kerajaan Tang setelah menteri yang lama dicopot secara menyedihkan oleh Kaisar, tentu saja atas bujukan Yang Kui Hui! Dan masih banyak lagi anggota keluarga selir yang cantik jelilta ini memperoleh kedudukan yang tinggi sekali yang sebelumnya tak pernah termimpikan oleh mereka. Pada jaman itulah muncul seorang yang akan menjadi terkenal sekali dalam sejarah Tiongkok. Orang ini bukan lain adalah An Lu San, seorang yang tadinya dari keturunan tak berarti. An Lu San dilahirkan di Mancuria Selatan, di luar Tembok Besar, yaitu Di Liao-tung. Orang tuanya berdarah Turki dari suku bangsa Khitan, keturunan keluarga yang bersahaja dan terbelakang. Ketika An Lu San menjadi seorang pemuda remaja, sebagai seorang budak belian dia dijual kepada seorang perwira Kerajaan Tang yang bertugas di utara, di Tembok Besar. Mulai saat itulah bintangnya menjadi terang. Sebagai kacung perwira itu, dia ikut pula ke medan perang dan ternyata bocah ini membuktikan dirinya sebagai seorang yang gagah berani dan cerdik sekali, memiliki keahlian dalam pertempuran sehingga beberapa kali dia membuat jasa pada pasukan yang dipimpin oleh majikannya. Maka diangkatlah dia menjadi prajurit dan dalam waktu singkat saja dia membuat jasa-jasa besar sehingga dia diangkat terus, dinaikkan menjadi perwira dan akhirnya, beberapa tahun kemudian setelah dia memenangkan beberapa peperangan melawan musuh dari luar sehingga dia berjasa besar bagi Kerajaan Tang, dia diangkat menjadi jenderal! Mulailah jenderal An Lu Sun ini mendekati Kaisar. Setelah pangkatnya setinggi itu, tentu saja terbuka kemungkinan baginya untuk berhadapan dengan Kaisar yang waktu itu sedang tergila-gila kepada Yang Kui Hui yang telah memperoleh kedudukan tinggi. An Lu San memang seorang yang amat cerdik. Menyaksikan pengaruh dan kekuasaan selir yang cantik jelita itu terhadap Kaisar, dia melihat kesempatan baik sekali untuk mengangkat diri sendiri ke tempat yang lebih tinggi. Dengan sikapnya yang lucu dan ugal-ugalan, pembawaan watak liarnya, dia berhasil menyenangkan hati Kaisar dan memancing kegembiraan Yang Kui Hui sendiri. Selir ini, yang setiap hari harus melayani seorang pria yang sudah tua dan sudah lemah, tentu saja bangkit gairahnya melihat jenderal yang tegap, gembira dan kasar liar itu! Terjadilah “main mata” antara kedua insan ini, dan akhirnya, dengan bujukan dan rayuannya, Yanh Kui Hui memuji-muji kesetiaan dan jasa-jasa An Lu San sehingga Kaisar menjadi semakin suka kepada jenderal ini. Bahkan Yang Kui Hui dengan akalnya yang licik telah mengangkat An Lu San sebagai “putera angkatnya”. Hal ini tidak dijadikan keberatan oleh Kaisar, bahkan Kaisar memuji selirnya sebagai seorang selir yang cerdik, selir yang mencinta dan yang setia karena perbuatan Yang Kui Hui itu dianggapnya sebagai taktik selir untuk menyenangkan hati seorang pahlawan sehingga dengan demikian memperkuat kedudukan Kaisar. Kaisar Beng Ong yang terkenal pandai dan bijaksana itu ternyata menjadi lemah tak berdaya, sama lemahnya dengan seuntai rambut lemas hitam dari Yang Kui Hui yang setiap saat dapat dipermainkan oleh jari-jari tangan halus dari selir yang cantik jelita itu. Tentu saja setiap sukses dari seseorang, bail didapatkan dengan jalan apa pun juga melahirkan iri hati kepada orang-orang lain. Biarpun tidak ada yang berani secara terang-terangan menentang selir cantik yang amat dikasihi Kaisar tua itu, namun diam-diam banyak anggauta keluarga kerajaan yang merasa iri hati dan membenci Yang Kui Hui, terutama sekali para selir lainnya yang kini seolah-olah diabaikan oleh Kaisar yang setiap malam selalu dibuai dalam pelukan Yang Kui Hui. Pada suatu malam Kaisar beristirahat di dalam kamarnya sendiri. Betapapun dia tergila-gila kepada Yang Kui Hui, namun karena dia sudah tua sekali, tenaganya tidak mengijinkan dia setiap malam mengunjungi selirnya yang masih muda, penuh nafsu dan panas itu. Malam itu merupakan malam istirahatnya dan dia tidak mendekati selirnya yang tercinta. Tubuhnya terasa lelah setelah sore tadi dia berpesta makan minum dan menikmati tari-tarian yang disuguhkan untuk kehormatan jenderal An Lu San yang datang berkunjung ke istana. Setelah mengijinkan jenderal perkasa itu mengundurkan diri ke kamar tamu yang disediakan, Kaisar yang merasa lelah itu berbisik kepada selirnya tercinta bahwa malam itu dia ingin beristirahat karena merasa lelah, kemudian langsung menuju ke kamarnya sendiri. Menjelang tengah malam, kaisar terbangun dan ternyata yang mengganggu tidurnya adalah seorang selir muda belia yang cantik seperti selir-selir lain. Selir ini bernama Yauw Cui, masih berdarah bangsawan dan termasuk selir termuda sebelum Kaisar mengambil Yang Kui Hui yang merupakan selir terakhir. “Hemmm, apa maksudmu datang mengganggu?” Kaisar berkata, tidak marah karena dia pun pernah mencinta selir yang cantik ini, bahkan tangannya lalu diulur untuk membelai dagu yang berkulit putih halus itu. “Hamba mohon Sri Baginda mengampunkan hamba,” selir itu berkata dengan suara agak gemetar, “Sebetulnya hamba tidak berani mengganggu paduka yang sedang beristirahat, akan tetapi….” Kaisar yang tua itu tersenyum dan salah menyangka. Dikiranya selir muda ini merindukan curahan kasihnya karena sudah lama dia tidak mengunjungi kamar selirnya ini dan tidak pula memerintahkan selirnya itu datang melayaninya. “Aihh, manis, naiklah ke sini dan kau pijiti punggungku…” katanya sebagai uluran tangankarena membayangkan hasrat selirnya ini, sudah bangkit pula berahinya. Yauw Cui tidak berani membantah, bangkit dari lantai di mana dia berlutut, dan jari-jari tangannya yang halus mulai menari-nari di atas punggung tua yang pegal-pegal itu. Akan tetapi selir ini berkata lagi, “Rasa penasaran memaksa hamba memberanikan diri mengujungi Paduka. Hamba tidak ingin melihat Paduka yang hamba junjung tinggi ditipu dan dihina orang!” Tangan Kaisar yang mulai membelai tubuh selirnya itu tiba-tiba terhenti dan dengan pandang mata penuh selidik Kaisar Beng Ong bertanya, “Apa maksudmu? Siapa yang berani menipu dan menghinaku?” Yauw Cui menangis dan suara terisakisak dia berkata, “Hamba…. secara tidak sengaja… mendengar …. Angoanswe (jenderal An) berada di dalam kamar…. Yang Kui Hui….” Seketika Kaisar bangkit duduk dengan mata terbelalak. Dengan alis berkerut dia memandang selirnya itu yang masih menangis, hatinya tidak percaya sama sekali karena memang sudah seringkali Yang Kui Hui difitnah orang lain yang merasa iri hati. “Hammm, jangan bicara sembarangan saja terdorong iri hati.” “Tidak…. hamba rela untuk dihukum mati, rela diapakan saja kalau hamba membohong…. tidak berani hamba menjatuhkan fitnah…. hamba hanya merasa penasaran melihat Paduka dihina maka hamba memberanikan diri melapor….” “Pengawal….!!” kaisar berseru sambil mendorong selirnya turun dari pembaringan. Pintu terbuka dan enam orang pengawal pribadi meloncat masuk dan langsung berlutut setelah mereka melihat bahwa Kaisar tidak dalam bahaya. Kaisar menyambar jubah luarnya. “Antar kami ke kamar yang Kui Hui.” kata Kaisar singkat sambil memberi isyarat dengan matanya agar Yauw Cui ikut pula bersamanya. Pada saat Yauw Cui melapor kepada Kaisar, kamar Yauw Kui Hui sudah gelap remang-remang dan pada saat itu memang selir yang cantik jelita ini sedang bersama An Lu San. Mereka seperti mabok nafsu berahi dan tentu saja segala pertahanan di hati Yang Kui Hui runtuh menghadapi jenderal yang tegap dan gagah perkasa ini, yang masih memiliki sifat-sifat liar dan kasar dari tempat asalnya. Selama tujuh tahun Yang Kui Hui menekan kekecewaan hatinya melayani seorang kakek-kakek lemah. Kini bertemu dengan An Lu San dan berkesempatan menikmati rayuan laki-laki yang jantan dan jauh lebih muda dari kaisar ini, tentu saja dia terbuai dan lupa segalanya. Sesosok bayangan menyelinap ke dalam kamar itu dan berisik di luar kelambu pembaringan. Bisikan itu merobah suasana di dalam kamar itu. Yang Kui Hui dan An Lu San dalam waktu beberapa menit saja telah memakai pakaian yang rapi, duduk menghadapi meja yang diterangi dengan beberapa batang lilin, dan di atas meja terdapat gambar peta daerah utara. Di ujung-ujung Kamar itu terdapat mengawal dan pelayan berdiri seperti patung, hanya memandang saja ketika An Lu San dengan suara lantang sedang menjelaskan tentang situasi dan keadaan pertahanan di perbatasan utara. Demikianlah, ketika Kaisar yang diiringkan Yauw Cui dan para pengawal memasuki kamar itu dengan sikap kasar, dia melihat selirnya yang tercinta itu memang benar duduk berdua dengan An Lu San, akan tetapi bukanlah berjinah seperti yang dilaporkan Yauw Cui, melainkan sedang bicara urusan pertahanan! “Hamba sedang mempelajari keadaan kekuatan pertahanan kita di utara dari An Lu San,” antara lain Yang Kui Hui membela diri ketika Kaisar menyatakan kecurigaannya. “Paduka terlalu mempercayai mulut seorang wanita yang cemburu dan iri hati setengah mati kepada hamba.” Karena semua pengawal dan pelayan yang berada di kamar itu merupakan saksi yang kuat bahwa selir tercinta itu tidak bermain gila dengan putera angkatnya tentu saja Kaisar menjadi marah kepada Yauw Cui. Selir muda ini mengerti bahwa dia berbalik kena fitnah oleh madunya yang lihai itu, maka maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya, dia menudingkan telunjuknya kepada Yang Kui Hui sambil berteriak nyaring, “Kau Wanita Iblis! Karena engkaulah kerajaan ini akan hancur!” Dan sebelum para pengawal yang diperintah oleh Kaisar yang marah-marah itu sempat menangkapnya, Yauw Cui lari membenturkan kepalanya di dinding kamar itu sehingga kepalanya pecah dan dia tewas disaat itu juga! Tentu saja pada hari berikutnya, ada seorang pelayan yang menerima hadiah banyak sekali dari Yang Kui Hui, yaitu pelayan yang membisikinya semalam sehingga menyelamatkannya. Semenjak peristiwa itu, kepercayaan Kaisar terhadap Yang Kui Hui dan An Lu San makin besar. Tentu saja kesempatan baik ini tidak dibiarkan lewat percuma oleh Yang Kui Hui dan An Lu San yang mengadakan hubungan gelap sepuas hati mereka. Karena pengaruh Yang Kui Hui di depan Kaisar, maka An Lu San memperoleh kehormatan yang besar, bahkan diangkat menjadi Gubernur di Propinsi Liao Tung. Menguasai pasukan-pasukan terbaik dari kerajaan dan menjaga di propinsi yang merupakan perbatasan timur. Kehormatan ke dua diterimanya tak lama kemudian, tentu saja atas desakan dan bujukan Yang Kui Hui yaitu ketika dia dianugrahi gelar Pangeran Tingkat Dua. Kehormatan yang besar sekali karena biasanya, gelar ini hanya diberikan kepada keluarga kerajaan yang berdarah bangsawan! Memang An Lu San seorang yang berasal dari suku bangsa terbelakang, namun dia diberkahi dengan kecerdikan luar biasa. Melihat betapa kaisar bertekuk lutut di depan kedua kaki yang mungil dari selir kaisar Yang Kui Hui, dia mengeluarkan semua kepandaian untuk mengambil hati selir ini dan ternyata semua muslihatnya berhasil baik dan dia memperoleh kedudukan yang tinggi sekali. Akan tetapi, tentu saja banyak pula orang merasa iri hati dan tidak suka kepada An Lu San. Di antara mereka ini adalah kakak kandung Yang Kui Hui sendiri, yaitu Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Pertama. Dengan kedudukanya yang tingi, Yang Kok Tiong melakukan penyelidikan dan ketika dia memperoleh berita bahwa An Lu San mempersiapkan pemberontakan, segera dia berunding dengan Putera Mahkota dan melapor kepada Kaisar. Kaisar tidak percaya dan menganggap pelaporan ini omong kosong belaka, akan tetapi karena para pangeran mendesaknya, akhirnya Kaisar memanggil An Lu San yang merasa keadaannya belum kuat betul untuk memulai pembrontakan yang memang benar telah dipersiapkannya, tidak membantah. Dia menghadap Kaisar dan dengan air mata bercucuran dia memprotes, menyatakan kesetiaanya terhadap Kaisar dan dalam hal ini kembali pengaruh Yang Kui Hui membantunya. Selir ini pun mencela Kaisar yang mudah saja dipermainkan orang yang merasa iri hati bahkan Yang Kui Hui mengambil contoh selir Yauw Cui yang irir hati kepadanya. “hendaknya Paduka ingat bahwa An Lu San adalah seorang pahlawan kerajaan yang jasanya sudah amat besar. Tidak mungkin dia memberontak, dan andaikata dia benar mempunyai niat memberontak tentu dia tidak akan datang memenuhi panggilan Paduka! Kedatangannya ini sudah merupakan bukti akan kebersihan dan kesetiaanya! Kabar tentang niat pembrontakan itu tentu ditiup-tiupkan oleh mereka yang merasa iri hati kepadanya.” Seperti biasa, hati kaisar luluh dan lenyaplah semua kecurigaan dan keraguannya. Dia malah menjamu An Lu San dan malam itu dengan amat pandainya An Lu San “membalas budi” Yang Kui Hui, dengan sepenuh hatinya, di dalam kamar selir Kaisar itu, aman karena terjaga oleh orang-orang kepercayaan mereka. Demikianlah, pada saat cerita ini terjadi An Lu San sudah kembali ke utara dengan penuh kebesaran dan kebanggaan, dan diam-diam dia makin mempercepat persiapannya untuk memberontak! Dan demikian pula dengan keadaan kerajaan Tang pada waktu itu. Kelemahan Kaisar yang jatuh di bawah telapak kaki halus dari Yang Kui Hui, menimbulkan ketidakpuasan kepada banyak pembesar sehingga di sana-sini timbul niat untuk memberontak. Kesempatan keadaan yang lemah dari kerajaan Tang inilah dipergunakan oleh The Kwat Lin untuk mulai dengan petualangannya, untuk memenuhi cita-citanya mencarikan kedudukan tinggi untuk puteranya! Pada suatu hari, datanglah seorang utusan dari kota raja mendaki Pegunungan Bu-tong-san, menghadap Ketua Bu-tong-pai. Melihat bahwa utusan ini adalah utusan dari Pangeran Tang Sin Ong dari kota raja, Kwat Lin cepat menerimanya di kamar rahasia. Setelah utusan itu menyampaikan tugasnya dia cepat pergi lagi meninggalkan Bu-tong-pai dan terjadilah kesibukan di Bu-tong-pai. Pangeran Tang Sin Ong, yaitu seorang pangeran di kota raja yang mempersiapkan pemberontakan pula, sebagai saingan besar dari An Lu San, pangeran yang dihubungi oleh Kwat Lin, mengirim berita tentang hari dan tempat di mana Yang Kui Hui akan ikut dengan Kaisar yang hendak berburu binatang dalam hutan, sebuah di antara kesenangan Kaisar. saat inilah yang dinanti-nanti oleh The Kwat Lin dan Pangeran Tang Sin Ong untuk menjalankan siasat mereka yan telah lama mereka rencanakan. Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Kaisar bersama Yang Kui Hui bersenang-senang di dalam hutan di kaki Pegunungan Funiu-san, tidak jauh dari kota raja. Seperti biasa, di waktu mengadakan perburuan ini, tempat itu dijaga oleh para pengawal dan ada pula pasukan yang tugasnya hanya mencari dan menggiring binatang hutan sehingga binatang-binatang yang ketakutan itu menuju ke dekat tempat Kaisar dan Permaisurinya menanti sehingga dengan mudah Kaisar dapat melepaskan anak panah ke arah binatangbinatang itu. Sekali ini, selain beberapa orang pembesar penting, yang menemani Kaisar terdapat juga Pangeran Tang Sin Ong. JILID 14 Seperti biasa, Kaisar dan selirnya yang tercinta menanti di dalam pondok yang memang tersedia di situ, di tengah-tengah hutan. Para pembesar dan Pangeran Tang Sin Ong menanti di luar pondok sambil bercakap-cakap. Mereka menanti sampai datangnya binatang-binatang yang akan digiring oleh pasukan yang sudah menyusup-nyusup ke dalam hutan lebat di depan. para pengawal menjaga di sekeliling tempat itu, pengawal Kaisar dan pengawal Pangeran Tang Sin Ong karena pangeran ini mempunyai pasukan pengawal sendiri. Mereka tidak usah lama menanti. Segera terdengar sorak-sorai dari jauh, makin lama makin mendekat. itulah suara pasukan yang bertugas menggiring binatang hutan menuju ke tempat penyembelihan itu, di mana para pembesar telah menanti dengan gendewa bersama dengan anak panahnya siap di tangan. Mendengar suara ini, kaisar sudah keluar dari pondok sambil tersenyum-senyum gembira membawa sebatang gendewa. Seorang thaikam yang menjadi kepercayan dan pelayannya mengikuti Kaisar sambil membawa tempat anak panah. Tak lama kemudian, mulailah bermunculan binatang-binatang hutan yang panik ketakutan karena dikejarkejar dan digiring oleh pasukan di belakang mereka yang bersorak-sorai itu. Dan mulailah Kaisar bersama Pangeran Tang Sin Ong dan para pembesar lainnya menghujankan anak panah mereka ke arah binatangbinatang itu. Tidak ada seorang pun melihat ketika dari rombongan pengawal Pangeran tang Sin Ong, seorang pengawal menyelinap kedalam semak-semak, menanggalkan pakaian biasa menyelinap dan memasuki pondok Kaisar dari samping, meloncat masuk dari jendela yang terbuka. Dengan kecepatan kilat, laki-laki setengah tua ini menyergap Yang Kui Hui yang sedang berdiri menonton di ambang pintu depan. Terdengar selir cantik itu menerit, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas ketika dia tertotok dan ketika semua orang menoleh medengar jeritan itu, Yang kui Hui telah dipondong dan dibawa lari oleh laki-laki itu. “Penculik…..!” “penjahat….!” “Jangan lepas anak panah, bisa salah sasaran….!!” Tiba-tiba Pangeran tang Sin Ong berseru keras. Mendengar ini, Kaisar yang sudah pucat mukanya cepat berseru, “Benar! Jangan lepas anak panah. Kejar dan tangkap! Selamatkan dia….!” Semua orang, pengawal, pembesar, pangeran tang Sin Ong, bahkan Kaisar sediri, mengejar penculik yang memiliki gerakan yang amat gesit itu. Dengan beberapa loncatan saja penculik itu telah lari jauh sekali. “Cepat kejar…. tolong dia…. ahhhh, Kui Hui….!!” kaisar berteriak dengan muka pucat. Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan orang berkelebat menghadang penculik itu. Dari jauh kelihatan jelas bahwa dua orang itu adalah wanita-wanita cantik yang gerakannya cepat luar biasa. Wanita yang lebih tua sudah menerjang maju dan dengan serangan mendadak berhasil memukul roboh penculik dan merampas Yang Kui Hui, kemudian wanita ke dua yang muda dan cantik menggerakan pedangnya menusuk. Terdengar jerit melengking yang nyaring sekali ketika pedang itu menembus dada penculik itu yang berkelojotan, terbelalak dan menudingkan telunjuknya kepada wanita pertama seolah-olah hendak berkata sesuatu, akan tetapi sebuah tendangan yang mengenai kepalanya membuat penculik itu tak dapat bergerak lagi dan tewas seketika! Kaisar dan rombongannya sudah tiba di situ. Dengan tepukan perlahan wanita perkasa yang lebih tua itu membebaskan totokan Yang Kui Hui. Selir ini mengeluh dan menangis sambil menubruk Kaisar yang memeluknya. kaisar memandang kepada dua orang wanita cantik yang sudah berlutut di depan kakinya dengan perasaan bersyukur dan berterima kasih. “Untung sekali kalian berdua yang gagah perkasa datang menolong!” kata kaisar dengan penuh rasa syukur, suaranya masih gemetar karena ketegangan hebat yang baru saja dialaminya. “Siapakah kalian?” “Hamba adalah Ketua Bu-tong-pai bernama The Kwat Lin,” berkata wanita cantik itu lalu menuding kepada dara muda yang cantik jelita dan tinggi semampai di sebelahnya, “dan ini adalah Bu Liang-cu murid hamba.” “Ahhh, kiranya ketua Bu-tong-pai yang terkenal!” Kata Kaisar sambil tersenyum lebar. “Pantas saja demikian lihai! Kalian telah berjasa, telah menyelamatkan kekasih kami dan membunuh penculik jahat. Kalian pantas diberi hadiah besar.” Yang Kui Hui sudah menghentikan tangisnya dan kini dia pun memandang kedua orang wanita itu dengan mata berseri. “Kalian datanglah ke istana, aku akan memberi hadiah kepada kalian.” The Kwat Lin menyembah dengan hormat. “Hamba berdua hanya melakukan tugas hamba sebagai rakyat yang setia kepada junjungannya. hamba berdua tidak mengharapkan balas jasa, hanya apabila paduka sudi menerima, biarlah murid hamba ini bekerja sebagai pengawal pribadi paduka. Sekarang banyak orang jahat, tanpa pengawalan yang kuat tentu membahayakan Paduka. Girang bukan main hati Yang Kui Hui. “Baik sekali! Siapa namamu tadi?” tanyakan kepada gadis cantik yang menunduk sejak tadi. Gadis itu kini mengangkat mukannya dan dengan sepasang mata yang bersinarsinar dia menjawab, “Nama hamba Bu Liang-cu. Saking girangnya, yang Kui Hui mencabut tusuk konde dari emas berhiaskan permata dan menghadiakan benda itu kepada The Kwat Lin, dan dia menerima pula gadis murid Bu-tong-pai itu sebagai pengawal pribadinya. Mulai saat ini gadis yang bernama Bu Liang-cu itu ikut bersama rombongan Kaisar, selalu mengawal di belakang Yang Kui Hui, kembli ke istana. Ada pun The Kwat lin segera kembali ke Bu-tongsan dengan hati girang karena siasatnya berjalan dengan baik sekali, sungguhpun untuk itu dia terpaksa harus mengorbankan nyawa seorang anggautanya. Penculik itu bukan lain adalah seorang anggautanya sendiri, seorang bekas penjahat yang memiliki ginkang tinggi. Penculik itu hanya diperintah untuk melarikan diri Yang Kui Hui dengan janji akan dibantunya kalau sampai mengalami bahaya. Akan tetapi, penculik itu baru tahu bahwa dia dikhianati oleh ketuanya sendiri setelah dia roboh dengan pedang menembus dadanya. Baru ia tahu bahwa dia dikorbankan untuk suatu siasat licik dari The Kwat Lin, namun pengetahuan ini tiada gunanya karena dia keburu mati sebelum dapat mengeluarkan suara. Siapakah gadis cantik yang kini menjadi pengawal Yang Kui Hui? Tadinya, untuk tugas ini The Kwat Lin menunjuk muridnya, Bu Swi Nio. Akan tetapi, betapa marahnya ketika dia menghadapi penolakan muridnya! “Teecu tidak berani, Subo. Perintahlah teecu untuk melakukan hal lainnya, biar disuruh membasmi penjahat yang bagaimanapun, biar harus mempertaruhkan nyawa, teecu tidak akan mundur dan pasti akan memenuhi perintah Subo! Akan tetapi ini… ah, teecu tidak mau terlibat dalam…. pemberontakan…..” jawab Swi Nio sambil berlutut dan menundukan mukanya. Hampir saja Kwat Lin menampar kepala muridnya itu saking marah dan kecewanya. Dan pada saat itu, Swi Liang yang melihat adiknya terancam bahaya kemarahan subonya, cepat maju dan berkata, “Subo, kalau Moi-moi tidak berani, biarlah teecu melakukannya.” “Kau seorang pria…. mana mungkin….?” “Teecu bisa saja menyamar sebagai seorang gadis. Dahulu di waktu kecil seringkali teecu mengenakan pakaian Moi-moi dan bermain-main seperti seorang anak perempuan .” Mendengar ini, Kwat Lin termenung. Betapapun juga dia lebih percaya kepada muridnya dan juga kekasihnya ini. Selama ini, Swi Nio delalu memperlihatkan sikap dingin dan kdang-kadang menentang. Berbeda dengan Swi Liang yang selalu menuruti kehendaknya, bahkan pemuda itu mau pula melayani nafsu berahinya! Pekerjaan yang direncanakan ini amat berbahaya kalau sampai bocor, maka sebaiknya kalau dilakukan oleh orang yang paling dipercayanya. Memaksa Swi Nio amat berbahaya karena siapa tahu kalau-kalau murid perempuan ini akan mengkhianatinya kelak. “Hemm, kita coba saja!” katanya dan setelah melihat Swi Liang berpakaian wanita dan bergaya, Kwat Lin menjadi girang sekali. Agaknya murid itu memang mempunyai bakat sandiwara maka ketika berpakaian wanita dan beraksi, dia sendiri hampir pangling dan mengira bahwa Swi Liang adalah Sawi Nio! Demikian, rencana siasat itu dijalankan dengan baik dan Swi Liang yang menyamar sebagai seorang gadis cantik bernama Bu Liang-cu, berhasil menyusup ke dalam istana sebagai pengawal pribadi dari Yang Kui Hui! Memang itulah tujuan pokok dari siasat Kwat Lin, yaitu memikat hati Yang Kui Hui. Pemikatan dengan jalan menolong selir itu dari bahaya cukup baik, akan tetapi akan lebih berhasil lagi kalau muridnya itu berhasil menjatuhkan hati selir itu dengan ketampanannya! Kalau sampai berhasil Swi Liang menjadi kekasih Yang Kui Hui, hemm, akan mudah saja melakukan gerakan pemberontakan dari dalam! Inilah sebabnya maka dia setuju muridnya itu menyamar sebagai wanita. Dia rela memberikan kekasihnya ini kepada Yang Kui Hui demi tercapainya cita-citanya. Berbeda dengan kakaknya yang telah mabok bujukan gurunya, Swi Nio makin lama merasa makin tidak enak tinggal di Bu-tong-san. Dia sama sekali tidak senang dan hatinya menentang menyaksikan semua perbuatan subonya. Tadinya memang dia rela menjadi murid wanita sakti, karena wanita itu yang menolong dia dan kakaknya, juga yang telah membunuh Pat-jiu Kai-ong musuh besar yang telah membunuh ayah mereka. Akan tetapi semenjak menyaksikan betapa subonya itu menguasai Bu-tong-pai dengan kekerasan, melihat subonya melawan susiok sendiri dan bahkan membuat para tokoh Bu-tong-pai mengundurkan diri dari Bu-tong-pai, hatinya sudah merasa tidak senang. Apalagi melihat masuknya orangorang kasar dan yang dia ketahui adalah bekas-bekas penjahat menjadi anggauta Bu-tong-pai dia merasa penasaran. Semua itu masih ditambah lagi kenyataan yang membuatnya merasa malu dan hina, yaitu melihat kakaknya menjadi kekasih subonya. Seringkali secara diam-diam Swi Nio menasihati kakaknya, bahkan menganjurkan kakaknya untuk bersama dia melarikan diri saja dari Bu-tong-pai, namun semua itu tidak diacuhkan oleh Swi Liang. Swi Nio menderita batin seorang diri, seringkali menangis di dalam kamarnya. Melihat munculnya Kiam-mo Cai-li, hatinya menjadi makin gelisah. Dia dahulu sudah mendengar dari mendiang ayahnya bahwa Kiam-mo Cai-li adalah seorang datuk kaum sesat yang amat kejam. Namun kenyataannya, subonya menjadi sekutu iblis itu, bahkan diakui sebagai pemimpin! Pagi hari itu, setelah merasa kehilangan kakaknya yang pergi tampa pamit bersama subonya dan kemudian melihat subonya pulang sendiri tanpa kakaknya, Swi Nio tak dapat menahan kegelisahan hatinya lagi dan dia memberanikan diri memasuki kamar subonya di mana subonya sedang bercakap-cakap dengan Kiam-mo Cai-li yang kebetulan datang ke Bu-tong-san. “Subo, teecu (murid) tidak melihat adanya Liang-koko yang tadinya pergi bersama Subo selama beberapa hari lamanya. Ke manakah dia, Subo? Apakah yang terjadi dengan kakakku itu?” tanyanya dengan wajah agak pucat karena beberapa malam dia kurang tidur memikirkan kakaknya. The Kwat Lin mengerutkan alisnya. Hatinya memang sudah tidak senang pada muridnya ini, apalagi ketika Swi Nio terang-terangan berani menolak perintahnya sehingga tugas itu digantikan oleh Swi Liang biarpun pemuda itu berhasil baik, betapapun juga The Kwat Lin merasa kehilangan, apalagi di waktu malam yang sunyi dan dingin! “Kau tidak perlu tahu!” jawabnya membentak. “Tapi…. Subo, dia adalah kakak teecu……” Swi Nio membantah. “Hemm, dia bertugas di kota raja. Sudah, pergilah dan jangan kau mengganggu kami yang sedang bicara!” Swi Nio bangkit berdiri dari atas lantai dan memandang gurunya dengan mata terbelalak dan muka pucat. “Jadi….dia…. dia telah menyelundup ke dalam istana….?” The Kwat Lin bangkit berdiri dan menudingkan telunjuknya ke muka Swi Nio sambil membentak marah, “Gara-gara engkaulah! Apa kaukira kalau tidak terpaksa aku suka membiarkan dia melakukan tugas berbahaya itu? Mestinya engkau yang bertugas, akan tetapi engkau telah menolak. Dia seorang murid yang amat baik, tidak seperti engkau yang tak mengenal budi!” Swi Nio membalikan tubuhnya, menutupi muka dan menangis sambil mengeluh, “Liang-koko….. ah, Koko….!” Setelah dara itu berlari pergi, Kwat Lin duduk kembali, wajahnya keruh dan dia mengomel, “Murid yang murtad! Sungguh menjengkelkan saja dia itu!” Kiam-mo-Cai-li tersenyum. “Mengapa pusing-pusing menghadapi seorang gadis seperti itu? Kalau dibiarkan saja, tentu dia akan terus merongrongmu dan boleh jadi kelak akan membahayakan perjuangan kita. Dia harus ditundukkan!” “Hemm, maksudmu menggunakan kekerasan?” “ah, aku mengenal gadis seperti itu. Wataknya keras dan kalau digunakan kekerasan, sampai mati pun dia tidak akan tunduk. Kalau sampai dia mati, amat tidak baik bagi kakaknya yang kita butuhkan tenaganya. Dia harus dilawan dengan cara halus.” “Bagaimana maksudmu? Membujuknya?” Kiam-mo Cai-li menggeleng kepalanya. “Dibujukpun takkan berhasil. Akan tetapi sekali dia telah jadi isteri orang, tentu dia akan menurut segala kehendak suaminya.” “Ihhh! Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Dengan siapa?” “Kita harus cerdik, kita harus memakai siasat sekali tepuk memperoleh dua ekor lalat atau menggunakan pedang yang bermata dua. Di satu fihak, kita harus menyenangkan hati Pangeran Tang Sin Ong yang aku tahu memiliki watak mata keranjang sehingga dia akan tentu berterima kasih sekali kepadamu kalau kau rela memberikan muridmu yang cantik manis itu kepadanya, menjadi seorang selirnya yang tercinta dan dapat diandalkan. Ke dua, kalau muridmu itu sudah menjadi selir Pangeran Tang Sin Ong, tentu dia akan tidak banyak bantahan lagi!” The Kwat Lin mengangguk-angguk dan diam-diam dia memuji kecerdikan temannya ini. “Siasatmu memang baik sekali, Cai-li! Akan tetapi…. biarapun sudah pasti sekali Pangeran akan menerima penawaran ini dengan kedua tangan terbuka, kukira belum tentu Swi Nio akan mau dijadikan selir pangeran itu. Kalau dia menolak, lalu bagaimana?” Kiam-mo Cai-li tertawa. “Hi-hi-hik, tidak usah khawatir, Pangcu. Aku yang tanggung jawab dia tentu tidak akan menolak.” Dia lalu mendekatkan mulutnya ketelinga The Kwat Lin berbisik-bisik. Kwat Lin mengangguk-angguk. ” Hemm, kalau dia merupakan seorang murid yang baik dan taat, tentu aku tidak tega, akan tetapi…. demi suksesnya perjuangan kita, agar dia tidak menjadi penghalang malah kelak mungkin dapat membantu, biarlah…. kita atur secepatnya agar Pangeran dapat berkunjung ke sini.” “Tentu mudah saja dan tidak menimbulkan kecurigaan. Bukankah peristiwa di hutan itu membuat nama Bu-tong-pai terangkat tinggi dalam pandangan kerajaan? Kalau seorang Pangeran berkunjung ke sini, menemui penolong selir Yang Kui Hui, hal itu sudah semestinya! Hi-hi-hik.” “Kau memang cerdik sekali, Cai-li!” The Kwat Lin memuji dan kedua orang wanita berkepandaian tinggi itu sambil tersenyum-senyum minum arak wangi yang berada di dalam cawan-cawan perak mereka. Beberapa hari kemudian, sesuai dengan siasat mereka itu, datangalah rombongan tamu agung dari kota raja. Pangeran Tang Sin Ong! Inilah hasil pertama dari siasat The Kwat Lin menolong Yang Kui Hui. Sebelum peritiwa itu, hubunganya dengan pangeran itu dilakukan secara sembunyi dan pertemuan rahasia yang diadakan hanya melalui kurir (utusan). Akan tetapi sekarang, setelah siasat di hutan itu sekaligus mengangkat nama Bu-tong-pai, Pangeran Tang Sin Ong berani datang secara berterang, bahkan sebelum berangkat pangeran itu menerima titipan bingkisan hadiah yang dikirim oleh Yang Kui Hui sendiri melalui pangeran itu. Tentu saja keadaan di Bu-tong-san seperti dalam pesta. Semua anak buah Bu-tong-pai mengenakan pakaian baru dan rombongan tamu agung itu disambut dengan meriah seperti sambutan terhadap seorang pengantin. Dengan penuh kehormatan para tamu agung dijamu di ruangan yang lebar dari Bu-tong-pai, dan pesta pora diadakan diruangan yang biasa dipergunakan untuk Lian-bu-thia (ruang belajar silat). Sambutan resmi dilakukan dan pangeran menyerahkan bingkisan dari Yang Kui Hui dan menyerahkan pula bingkisan dari dirinya sendiri kepada ketua Bu-tong-pai. Malam harinya, sebagai penghormatan khusus, Pangeran Tang Sin Ong seorang diri dijamu oleh The Kwat Lin diruangan dalam dan ketua ini ditemani oleh Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio! Dara ini setengah dipaksa oleh subonya untuk menemaninya menjamu pangeran itu dan biarpun di dalam hatinya Bu Swi Nio tidak setuju, namun dia tidak berani membantah. Pula, di dalam hatinya dia ingin sekali mendengar percakapan mereka yang tentu akan menyangkut pula keadaan kakaknya di kota raja. Ketika pengeran ini dipersilahkan duduk menghadapi meja yang sudah penuh hidangan, The Kwat Lin memperkenalkan Kiam-mo Cai-li Liok Si sebagai pemilik istana Rawa Bangkai, dan memperkenalkan muridnya pula Bu Swi Nio sebagai muridnya yang terkasih. Pangeran itu memandang Kiam-mo Cai-li dan Bu Swi Nio, lalu tertawa gembira dan berkata, “Sungguh beruntung sekali Pangcu mendapatkan seorang pembantu seperti Liok Toanio ini yang saya yakin tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan muridmu ini….aaihh… penerangan ini menjadi makin bercahaya, suasana menjadi makin gembira dan segar, hidangan menjadi bertambah lezat. Sungguh saya merasa berbahagia sekali bahwa Nona Bu suka menemani saya makan minum, untuk ini saya harus menghaturkan arak penghormatan sebagai tiga cawan!” Pangeran itu tentu saja tadinya sudah diberitahu oleh Kwat Lin bahwa ketua ini hendak menghadiahkan muridnya kepadanya. Maka begitu melihat Swi Nio yang masih amat muda dan cantik jelita itu, hati Sang Pangeran sudah jatuh dan gairahnya sudah bernyala-nyala. Wajah Swi Nio menjadi merah padam. Dia merasa malu sekali menyaksikan sikap dan mendengar kata-kata yang penuh pujian ini. Dia tidak biasa berhadapan dengan pria seperti ini. Hatinya berdebar tegang dan khawatir, akan tetapi untuk menolak, tentu saja dia tidak berani. Sambil menunduk dan membisikan kata-kata terima ksih dia menerima tiga cawa arak berturut-turut. Biarpun dia tidak biasa minum banyak arak, akan tetapi terpaksa tiga cawan arak itu diminumnya tanpa banyak membantah. Melihat ini The Kwat lin dan Kiam-mo Cai-li tertawa girang dan dari seberang meja, The Kwat Lin mengedipkan sebelah matanya kepada Sang Pangeran.Tang Sin Ong mengerti akan isyarat ini, maka dia lalu melepas seuntai kalung emas bertaburan permata yang tergantung di lehernya, bangkit berdiri dan mengulurkan kedua tangan yang memegang kalung itu kepada Swi Nio sambil berkata, “Nona Bu, kalung ini sama sekali tidak dapat mengimbangi kecantikan Nona, akan tetapi karena pada saat ini yang ada pada saya hanya kalung ini, maka sudilah Nona menerimanya sebagai tanda penghormatan saya kepada seorang Nona secantik dewi!” Bu Swi Nio terkejut sekali dan cepat dia menoleh kepada subonya. Menurutkan kata hatinya, ingin dia menolak keras dan mencela sikap pangeran yang terlalu berani itu. Akan tetapi dia melihat subonya mengangguk dan berkata, “Swi Nio, Pangeran telah bermurah hati kepadamu, mengapa tidak lekas menerima dan menghaturkan terima kasih?” Bu Swi Nio merasa terdesak dan dengan suara gemetar dia berkata, “Hamba…., hamba…., tidak berani menerimanya…..” “Swi Nio….!” The Kwat Lin menegur “Bu Swi Nio, mengapa kau menolak kemurahan hati Pangeran?” Kiam-mo Cai-li juga ikut menegur. Pangeran Tang Sin Ong tertawa. “Ahh, tentu saja Nona Bu merasa malu-malu, tidak seperti gadis-gadis yang haus akan harta benda. Hal ini malah menonjolkan kecemerlangan watak seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa! Nona, biarlah aku mengalungkan hadiah ini di lehermu.” Berkata demikian, Sang Pangeran lalu bangkit berdiri dan mengalungkan kalung emas itu melingkari leher Swi Nio yang menundukan kepalanya. Karena tak dapat menolak lagi dan kalung yang lebar itu sudah mengalungi lehernya, dengan muka sebentar pucat, Swi Nio menjura, “Banyak terima kasih hamba haturkan…” “Aaaahhh, jangan sungkan-sungkan.” Dia tertawa, kedua orang wanita sakti itupun tertawa dan mereka bergantian menyuguhkan arak kepada Sang Pangeran dan juga Bu Swi Nio. “Muridku, karena pangeran telah bermurah hati kepadamu, tidak saja menyuguhkan arak tetapi juga menghadiahkan kalung, mengapa kau tidak bersikap sebagai seorang muridku yang tahu aturan dan mengenal budi. Hayo cepat suguhkan tiga cawan kepada Pangeran sebagai penghormatanmu!” Muka Swi Nio menjadi merah. Dia tidak membantah kebenaran ucapan ini, maka secara terpaksa dia bangkit berdiri, dipandang oleh pangeran yang tersenyum-senyum dan mengelus jenggotnya, menghampiri pangeran dan menuangkan arak ke cawan Sang Pangeran dari guci emas. “Silahkan Paduka minum arak sebagai tanda kehormatan hamba, Pangeran,” kata Swi Nio dengan malu-malu. “Ha-ha-ha, terima kasih, Nona. Akan tetapi, aku tidak mau minum kalau tidak aku temani. Hayo untukmu juga secawan!” Kembali Kwat Lin dan Kiam-mo Cai-li ikut membujuk dan terpaksa akhirnya Swi Nio kembali minum tiga cawan arak bersama Sang Pangeran. Karena tidak biasa minum arak, kini diloloh banyak arak yang diamdiam telah dicampuri bubuk putih dilepas secara lihai oleh Kiam-mo Cai-li ke dalan cawan gadis itu, akhirnya Swi Nio menjadi mabok. Dia mulai tersenyum dengan lepas, memperlihatkan deretan gigi yang putih, dan mulai berani mengangkat muka memandang pangeran yang pandai bicara itu. “Ha-ha-ha, setelah ditemani makan minum oleh Nona Bu, aku lupa semua wanita di istanaku! Hemm, bagaimana aku dapat berpisah lagi darimu, Nona?” kata Pangeran itu. Mendengar ini Swi Nio mengerutkan alisnya, akan tetapi karena kepalanya sudah pening dan pandang matanya sudah berkunang, hanya sebentar saja dia merasa betapa kata-kata itu tidak pada tempatnya dan dia hanya tersenyum! “Bu Swi Nio muridku yang baik. Pangeran telah berkenan mencintaimu! Kau akan diambilnya sebagai selir yang tercinta. Cepat kau berlutut dan haturkan terima kasih, muridku.” Sepasang mata dara itu terbelalak. “Tidak….! Ah, tidak……!” Terdengar suara pangeran, “Nona, kau cantik sekali…. kau gagah perkasa, aku cinta padamu dan marilah kau ikut bersamaku ke kota ke kota raja. Kau akan menjadi selirku yang paling tercinta, menjdi pengawal pribadiku….” “Tidak….! Ahhh, tidak mau…. oughh…….!” Swi Nio yang tadinya bangkit berdiri serentak itu, tiba-tiba terhuyung dan kembali menjatuhkan diri di atas bangku karena melihat betapa kamar itu berpuatr-putar dan dia merasa seperti terayun-ayun. Karena tidak tahan lagi, Swi Nio merebahkan kepalanya di atas kedua lengan yang berada di atas meja, hanya menggoyang kepalanya tanda menolak. Terdengar olehnya lapat-lapat suara gurunya, “Jangan bodoh, Swi Nio. Engkau akan menjadi seorang nyonya Pangeran yan terhormat, dan di kota raja kau dapat bekerja sama dengan kakakmu……..” “aku tidak mau…. ah, tidak mau…..” Swi Nio membuka matanya dan melihat wajah yang dekat sekali dengan mukanya. Wajah Sang Pangeran Tang Sin Ong, wajah seorang laki-laki yang cukup tampan gagah, akan tetapi sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya. Dia merasa ngeri, takut dan akhirnya dia tidak ingat apa-apa lagi. Obat bubuk yang dicampurkan di raknya oleh Kiam-mo Cai-li telah bekerja dengan baik, dia tertidur dan tidak merasa apa-apa lagi. Swi Nio mengeluh dan mengerang. Dia mimpi. Seolah-olah dia berada di dalam sebuah perahu berdua saja bersama Pangeran Tang Sin Ong. Lalu perahu itu diserang badai, terguling dan dia merontaronta hendak melawan gulungan ombak yang menggelutnya. Namun dia merasa tubuhnya lemas, dia terseret, tenggelam, gelagapan dan seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit, kepalanya pening. Sebentar dia timbul, lalu tenggelam lagi, dan lapat-lapat dia mendengar suara Pangeran Tang Sin Ong yang menyatakan cinta kasihnya. Jauh lewat tengah malam Swi Nio mengeluh dan merintih perlahan, lalu membuka matanya Mimpi itu teringat lagi olehnya, membuat dia bergidik ngeri. Untung hanya mimpi, pikirnya ketika dia membuka mata mendapatkan dirinya, telah rebah di atas pembaringannya sendiri di dalam kamarnya. “Ouh….!” Kepalanya masih pening sekali. Dia bangkit duduk dan hampir dia menjerit kaget ketika melihat bahwa dia tidak berpakaian sama sekali! Dia teringat bahwa dia menemani subonya, Kiam-mo Cai-li, dan Pangeran Tang Sin Ong makan minum. Teringat betapa dia terlalu banyak minum dan mabuk. Mengapa dia tahu-tahu berda di pembaringannya tanpa pakaian? Dia memeriksa keadaan tubuhnya, melihat kalung yang masih bergantung di lehernya, dan tiba-tiba tahulah dia akan semua yang telah terjadi atas dirinya! “Keparat….!” Dia bangkit akan tetapi terguling lagi karena selain kepalanya pening sekali, tubuhnya juga panas dan lemas seolah-olah kehabisan tenaga. Dia tidak tahu bahwa itulah pengaruh obat bubuk, racun yang diminumnya bersama arak, yang membuat dia pulas sehingga tidak dapat melawan ketika Pangeran Tang Sin Ong membawanya ke dalam kamar dan menggagahinya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar. Swi Nio menahan napas, mengambil keputusan untuk mengerahkan seluruh tenaganya membunuh Pangeran itu. Dia sudah maklum bahwa dirinya diperkosa Pangeran itu. “Selamat, muridku. Engkau telah menjadi isteri Pangeran! Besok Pangeran Tang Sin Ong akan menjemputmu secara resmi membawanya ke kota raja sebagai selirnya terkasih….” “Tidak sudi! Aku harus membunuhnya!” Swi Nio meloncat turun tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang bulat, kedua tanganya dikepal. “Plak!” Swi Nio terlempar dan terbanting di atas pembaringannya lagi ketika kena tamparan tangan gurunya. “Swi Nio, apa yang kauucapkan itu? Engkau suka sendiri melayani Pangeran, engkau menerima kalungnya, engkau tersenyum-senyum kepadanya. Setelah engkau dan dia bersenang-senang di dalam kamar ini, semestinya aku mengutukmu. Akan tetapi aku sayang kepadamu, aku tidak marah malah bersyukur bahwa engkau akan menjadi isteri muda seorang pangeran. Dan sekarang kau hendak memberontak? Hendak membikin malu Gurumu? Kau mau membunuh kekasihmu sendiri? Bocah setan tak kenal budi! Kalau tidak aku robah pendirianmu, aku sendiri yang akan membunuhmu! Pikirkan ini baik-baik. Engkau sudah bukan perawan lagi, engkau milik Pangeran Tang Sin Ong!” The Kwat Lin meninggalkan kamar itu dan membanting keras-keras daun pintu kamar. Swi Nio menutupi mukanya dan menangis mengguguk. Tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan terisak-isak dan jari-jari tangan gemetar dia mengenakan pakaiannya yang bertumpuk di sudut pembaringan. Kepalanya masih pening dan tenaganya habis. Tak mungkin dalam keadaan seperti itu dia melarikan diri. Tentu akan mudak tertangkap kembali oleh gurunya. Melawan pun tidak mampu, apa lagi dia benar-benar merasa seperti tidak bertenaga lagi. Apa lagi hendak membunuh pangeran itu yang selalu terkawal kuat! “Ta Tuhan….!” Dia menangis lagi sesenggukan. “Ayah…. Koko…., apa yang harus kulakukan……?” Dia sudah ternoda. Mau atau tidak, dia harus menjadi selir Pangeran itu. Dia tidak sudi! Lebih baik mati! Mati!! Ya, matilah jalan satu-satunya, demikian pikiran yang ruwet itu mengambil. Dirabanya ikat pinggangnya. Tidak, dia seorang gadis gagah perkasa, tidak semestinya mati menggantung diri seperti wanita-wanita lemah. Dihampirinya pedangnya yang tergantung di dinding. Biarpun tangannya gemetar dan tidak bertenaga dipaksanya tangan itu mencabut pedangnya, lalu sambil memejamkan matanya, dia mengayun pedang itu ke lehernya. “Plakkkk!!” Lengan kanannya dipegang orang dan pedang itu dirampasnya. Tadinya dia mengira bahwa subonya yang mencegahnya membuuh diri, maka dia terisak dan membalik. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang mencegahnya membunuh diri itu adalah seorang laki-laki muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya. Laki-laki ini tersenyum, wajahnya cukup tampan dan membayangkan kegagahan. “Membunuh diri bukan perbuatan seorang gagah.” Bisik laki-laki itu. “Kalau sudah mati, mana mungkin dapat menghilangkan penasaran? Kalau masih hidup, selalu terbuka harapan untuk membalas dendam!” Ucapan ini menyadarkan Swi Nio. “Siapa kau….?” “Ssssttt…., bisik pula laki-laki itu. “Aku seorang mata-mata yang dikirim oleh Jenderal An Lu San. Nona, daripada engkau membunuh diri, mari kubantu kau keluar dari tempat ini dan kau ikut bersamaku. Dengan bekerja untuk An-goanswe, kelak kau berkesempatan untuk membalas kepada semua orang yang telah mendatangkan malapetaka ini kepadamu.” Seperti kilat masuknya pikiran ini ke dalam kepala Swi Nio. Mengapa tidak? Mati bukan merupakan jalan yang memecahkan persoalan! Dia harus membalas kepada Pangeran itu! Dan kini, dia dapat menduga bahwa dia tentu pingsan karena pengaruh obat dari Kiam-mo Cai-li. Dia tahu bahwa wanita itu adalah seorang ahli tentang racun. Kini dia mengerti semua. Dia sengaja dikorbankan oleh gurunya dan oleh wanita iblis itu, seperti seekor domba yang sengaja dikorbankan menjadi mangsa serigala, Si Pangeran itu! Dendamnya bertumpuk, kini terbuka jalan baginya, perlu apa mengambil jalan pendek membunuh diri? “Baik, mari ikut aku….” bisiknya dan dengan berindap-indap Swi Nio mengajak laki-laki itu melalui jalan rahasia dan akhirnya, menjelang pagi, mereka berdua berhasil keluar dari tembok pagar Butong- pai. “Haiii….!!” tiba-tiba terdengar bentakan dan lima orang anggauta Bu-tong-pai muncul dari tempat penjagaan tersembunyi. Akan tetapi ketika mereka melihat Swi Nio, mereka terheran-heran, memandang kepada gadis itu lalu kepada orang asing yang keluar dari jalan rahasia bersama murid utama ketua mereka. Malam itu memang banyak datang tamu dari kota raja yang ikut dalam rombongan Pangeran, maka mereka mengira bahwa tentu orang ini adalah anggauta rombongan pula. Akan tetapi sepagi itu, masih gelap, apakah yang akan dilakukan tamu ini bersama Swi Nio keluar dari Bu-tong-pai dengan diam-diam?” Tiba-tiba terdengar teriakan berturut-turut dan lima orang itu roboh dan tewas seketika. Mereka hanya mampu satu kali saja mengeluarkan teriakan karena tenggorokan mereka hampir putus disambar jari-jari yang amat kuat dari mata-mata itu yang bergerak dengan cepat luar biasa menyerang mereka. Melihat kelihaian orang itu, Swi Nio tercengang. Dia makin kagum. Kiranya mata-mata ini bukan orang biasa dan andaikata ketahuan pun akan merupakan lawan tangguh, sungguhpun tentu saja dia sangsi apakah orang ini akan mampu lolos kalau Kiam-mo Cai-li dan subonya turun tangan. “Mari cepat….!” Orang laki-laki itu berkata dan melihat keadaan Swi Nio yang masih lemas, dia tanpa ragu-ragu lagi lalu menyambar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan berlarilah dia dengan amat cepatnya meninggalkan tempat yang berbahaya baginya itu. Gadis bernama Liang-cu yang sebenarnya adalah penyamaran Bu Swi Liang, bekerja di dalam istana sebagai pengawal pribadi Yang Kui Hui. Dia bertugas memikat hati selir Kaisar yang cantik jelita ini. Dapat dibayangkan betapa tersiksa hati pemuda itu menyaksikan semua yang terjadi di dalam kamar Yang Kui Hui, melihat selir yang cantik jelita itu beristirahat, mandi, berganti pakaian dan lain-lain di depan matanya begitu saja karena dia dianggap wanita pula! Betapa tersiksa hati orang muda ini hidup di antara wanita-wanita cantik, yaitu para pelayan Yang Kui Hui. Di istana bagian puteri ini tidak ada prianya, karena para thaikam yang bertugas di situ biarpun kelihatan seperti orang pria, namun sesunguhnya tidak lagi dapat disebut sebagai pria. Swi Liang adalah seorang pemuda yang sedang berkobar nafsunya karena Bu-tong-san dia diseret ke dalam kekuasaan nafsu berahi oleh subonya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang baru gila berahi, kini berada ditengah-tengah para wanita cantik itu, tentu saja dia tidak kuat bertahan terlalu lama. Untuk melakukan tugasnya memikat Yang Kui Hui, dia belum berani karena kesempatanya belum tiba. Dia tidak berani bersikap kasar dan membuka rahasia penyamarannya begitu saja. Karena sekali gagal, dia tentu akan mati konyol. Akan tetapi untuk menunda lebih lama lagi menguasai nafsunya, dia tidak sanggup! Akan tetapi, Swi Liang menahan gelora hatinya sedapat mungkin. Dia harus bersabar menanti kesempatan baik. Tugasnya amat penting bagi perjuangan subonya Sama sekali tidak boleh gagal karena taruhannya adalah nyawanya. Pada suatu senja belasan hari kemudian Swi Liang diperbolehkan mengaso karena malam itu kaisar akan mengunjungi selirnya yang tercinta dan tempat itu penuh dengan pengawal-pengawal pribadi Kaisar sendiri. Swi Liang lalu mengundurkan diri ke dalam kamarnya, sebuah kamar yang amat indah dan berdekatan dengan kamar para pelayan utama atau pelayan pribadi selir Kaisar itu. Selagi duduk melamun sendiri di dalam kamarnya, mencari akal bagaimana untuk memulai tugasnya, merayu dan memikat Hati Yang Kui Hui, dia membayangkan keadaan selir itu dan jantungnya berdebar penuh nafsu dan gairah. Selir itu memang cantik luar biasa, dan ketika mandi atau bertukar pakaian, dia dapat menyaksikan seluruh bagian tubuh yang padat dan amat menggaerahkan itu. Pernah dia membantu pelayan menyelimutkan kain setelah selir itu mandi dan jari-jari tangannyamenyentuh kulit yang halus, lunak, dan hangat, dan tercium olehnya bau semerbak harum dari tibuh selir itu. Keharuman yang khas dan alangkah jauh bedanya antara kecantikan dan tubuh indah selir itu dibandingkan dengan subonya! “Enci Liang-cu! kenapa melamun saja?” Seorang gadis cantik berbaju hijau menegurnya sambil tertawatawa, di belakangnya masuk pula seorang gadis cantik berbaju merah. Mereka itu adalah dua orang pelayan pribadi Yang Kui Hui, dua orang gadis cantik jelita yang genit-genit “Ah, Enci Liang-cu orangnya pendiam amat sih, tidak mau bersendaugurau dengan kami? Swi Liang tersenyum menekan jantungnya yang berdebar-debar dan menahan matanya agar jangan terlalu melotot melahap kecantikan dua orang gadis itu. “Ahh, aku lelah dan sedang beristirahat. Jarang ada kesempatan beristirahat seperti ini….” kata Swi Liang. “Mari temani kami main thio-ki (kartu) di kamarku, Enci Liang-cu!” kata Si Baju Hijau. “Ya, marilah, Enci Liang-cu. Tidak enak hanya bermain berdua. Marilah, sambil kita berkenalan lebih erat lagi. Kenapa sih? Bukankah kita ini rekan-rekan yang berkerja di sini?” kata Si Baju Merah sambil menarik tangan Swi Liang. Tak dapat Swi Liang menolak karena hal ini mendatangkan kecurigaan apalagi memang dia sudah rindu sekali akan sentuhan tangan wanita cantik setelah belasan hari berpisah dari subonya. Kedua orang gadis itu tertawa-tawa, menggandeng kedua tangan Swi Liang dan membawanya kedalam kamar Si Baju Hijau yang berbau harum. Sebuah meja bundar rendah telah dipersiapkan di tengah kamar, di dekat pembaringan di sekeliling meja itu terdapat tikar yang ditilami kasur dan bantal. Selain kartu untuk main, juga di atas meja terdapat seguci arak wangi dan cawan-cawan kecil, juga beberapa macam kuih kering. “Duduklah, Enci Liang-cu. Mari kita, main-main. kau bermalam saja di sini malam ini, ya?” Si Baju Hijauberkata sambil merangkul. “Dan tubuhmu begini tegap dan kelihatan kuat, Enci Liang-cu,” kata