Oleh: sastraindonesiaunand | Desember 3, 2007

Ujung Tanjung

UJUNG TANJUNG

Sajak Esha Tegar Putra

di ranting matamu ada purnama tersangkut. hinggap pula punai

bersarang rumput. tapi bukan kutakut terpiuh limau purut

bukan pula pandang mata di hari raba’a yang bikin kalut

oi, puan yang beranak di miang bunga ilalang

puan yang mematukkan bibir seulas asam ke sarang unggas

tampaknya kau mendemam ingin berjoget, bersongket berkebaya

demammu tersirat, bertarian dicium pokok meranti basah

dan dendangku terpelituk dipatah hujan penghujung tahun. tersebab liurmu

aku pandir menukak ladang. aku gugu menahan umpat orang sekampung

kupecah gelas tiongkok (upeti ingin berkawin) dalam berang tak tertahan

sebutlah rindu yang melubuk dalam jantung, tak ada ikan, tapi tanah lembab

membenamkan segala macam humus. juga kita yang bermalam

di dendang lengang rimba berpantai. kaukah puan yang bersarang serupa ketapang

membikin licin segala pertemuan. hingga jalan tergelincir air. juga kaukah

puan yang bertanak di tungku tua pemberian emak dari zaman bertanak ubi

dan pucuk-pucuk daun ubi beranak-pinak di malangmu, malangku, malang kita malang orang sekampung yang menggumamkan cerita kita, setiap merindui bulan.

serupa itulah kenangan, menggenang, setiap rinai berpiuh jadi hujan lebat

kau bermenung di jenjang rumah, membayangkan “inilah buritan

tempat kita menyauh senja yang berlari.” mari berkayuh ke pulau seberang

di mana ladang batang pinang bersahut-sahutan dahan

tempat para perindu berjibaku wangi gaharu. duh, kapan kabar ini diarak unggas

ke laut lepas. kabar yang serupa hikayat, tak disebut, hilang tempat bergantung.

sungguh di ranting matamu ada purnama tersangkut. hinggap pula punai

bersarang rumput. tapi tukang tenung telah berkarib meranjangi malammu

entah sesiapa yang mengunyah dedaun sirih. mengirim pekabar cinta

ke dalam denyut dagingmu

di ujung tanjung aku menahan pasir teramuk badai

berlepasanlah akar bakau jadinya, dalam asin diri, di lantak tanah berkasih

kusulam kebaya buatmu berjoget di gelanggang ramai

tanamlah sesak permainan bergemulai liuk daun

mari melagukan cerita kawin yang tak jadi

sungguhpun kita sampai beruban, bermalam dalam lengang seorang.

sejauh-jauh pandangan mata tak tampak jua kau di mana gerangan

kubakaukan bayanganmu. “kusebut kau putri mata beranting

mulai sekarang sampai sahibul hikayat terbaca lagi.” berharap kita bersua

mungkin di ujung tanjung pada lipatan tahun lain

tahun pucuk-pucuk patah mulai bertumbuhan dalam hujan

dalam diri yang berkarib dengan basah

Kandangpadati-Padang, 2007

(Dimuat Harian Kompas Minggu, 02-12-2007)

struk.jpgEsha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Sedang berkuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, serta bergiat di Komunitas Daun dan Ranah Teater Padang.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: