Oleh: sastraindonesiaunand | Desember 3, 2007

Menggeluti Naskah Kuno, Menggeluti Pengetahuan

Menggeluti Naskah Kuno, Menggeluti Pengetahuan

Oleh Agnes Rita Sulistyawaty

Sebenarnya mudah saja bagi Muhammad Yusuf untuk mendapatkan kenikmatan: naik mobil, berpakaian necis, dan duduk di kursi kampus. Dia bisa melakukan itu karena hampir semua pemilik naskah kuno yang berusia ratusan tahun di Minangkabau memercayai dia untuk mengelolanya.

Namun, yang terjadi, Muhammad Yusuf (45) justru tetap asyik dengan kemeja dan celana jins, serta rambut ikal yang terurai begitu saja. Dia pun lebih nyaman berkelana dari satu surau ke surau lain, bergaul dengan pak datuk, tuanku, atau guru agama yang rata-rata berusia di atas 50 tahun.

Pergaulan ini demi menjaga silaturahmi serta membangun kepercayaan dengan para pemilik manuskrip alias naskah kuno, yang oleh sebagian masyarakat disebut kitab.

Sebagian naskah kuno yang antara lain berisi ajaran agama Islam, tambo atau kisah sebuah daerah, serta pengetahuan tentang ilmu kesehatan tersebut tersimpan di surau. Sebagian lagi berada di tangan pribadi-pribadi keturunan tokoh agama setempat.

Yusuf bercerita tentang awal perkenalannya dengan para pemilik naskah. Sebagian di antara para pemilik naskah kuno itu ada yang langsung membuka tangan lebar-lebar, namun tidak sedikit juga yang menolak atau memasang kecurigaan berlebihan.

“Pendekatan untuk satu pemilik kitab itu bisa dalam hitungan bulan, bahkan ada yang sampai tahunan sebelum saya boleh melihat kitabnya,” tutur Yusuf yang juga mengepalai Laboratorium Audio Visual Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.

Di sisi lain, sebagian besar pemilik naskah masih melakukan penghormatan yang salah atas naskah kuno. Sebagian besar meletakkan begitu saja naskah tersebut di loteng rumah, karung, atau pada alas tidur. Akibatnya, naskah yang sudah rapuh kondisinya semakin di ambang kehancuran.

“Pekerjaan pertama saya adalah membangunkan kesadaran pemilik, naskah yang mereka simpan sangatlah berharga. Harapannya, mereka tidak menjual naskah-naskah itu. Setelah itu, barulah saya transfer pengetahuan tentang cara perawatan naskah,” ujar Yusuf.

Kehancuran

Naskah kuno yang banyak digeluti Yusuf tersusun atas lembaran-lembaran berwarna kuning kecoklatan karena pengaruh usia kitab. Sebagian naskah tidak utuh lagi, bahkan ada yang sudah berbentuk serpihan. Kertas-kertas ini umumnya dijilid dengan jahitan dan sebagian besar juga sudah hancur.

“Yang menjadi kepedulian saya adalah penyelamatan naskah kuno ini dari kehancuran. Sebab, di sinilah terletak segudang ilmu pengetahuan, sejarah, serta media pembelajaran karakter masyarakat,” tutur Yusuf yang juga mengajar di Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Gudang ilmu yang terangkum dalam naskah yang sudah lusuh dan rapuh itu merupakan cermin kegairahan hidup intelektual masyarakat puluhan hingga ratusan tahun silam. Ragam naskah yang dimiliki kelompok-kelompok masyarakat di seluruh Sumatera Barat menunjukkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang biasa dan lazim terjadi. Namun, ketidaksetujuan atas satu pendapat itu tak dilampiaskan lewat kekerasan fisik, melainkan melalui tulisan dalam kitab-kitab.

Kemajuan dunia pemikiran Islam di Sumbar juga didukung oleh aktivitas di surau-surau. Masyarakat—khususnya anak laki-laki—umumnya menghabiskan hidup sehari-hari di surau, termasuk untuk belajar. Kegairahan hidup serupa itu di Sumbar diperkirakan berlangsung hingga abad ke-19.

“Bila isi kitab-kitab itu tak terselamatkan lagi, maka Indonesia kehilangan catatan pemikiran yang sangat besar,” ucap Yusuf. Sayangnya, sebagian naskah kuno ini sudah lari ke luar negeri. “Mungkin karena penghargaan atas naskah kuno di luar negeri lebih baik ketimbang di negeri sendiri,” katanya.

Setelah mengenali seluk-beluk perdagangan naskah kuno, Yusuf juga kerap menyelamatkan naskah yang hendak dijual ke luar negeri. Puluhan naskah disimpan di Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Menurut Yusuf, keterbatasan dana membuat dia sulit mencegah naskah diboyong ke negeri tetangga. Padahal, sejumlah naskah itu mempunyai keterkaitan satu sama lain. Sayangnya, pemetaan asal-usul naskah belum dilakukan. Pemetaan naskah nantinya bisa menjadi sebuah garis penyebaran agama Islam di Sumbar. Dari beberapa temuan Yusuf di lapangan, beberapa guru penulis naskah itu mempunyai keterkaitan.

Untuk menelusuri sejarah di Minangkabau diperlukan pemetaan keterkaitan antara naskah kuno yang satu dan yang lain. Yusuf mengaku masih menyimpan segudang pekerjaan rumah, seperti alih aksara isi kitab dengan tulisan Latin agar bisa dibaca banyak orang.

Rencana mendokumentasikan naskah secara digital dilakukan mulai November 2007. Dokumentasi serupa pernah dilakukan bekerja sama dengan Tokyo University for Foreign Studies, Jepang, 2004-2005.

Lagi-lagi, kepedulian atas naskah kuno berasal dari luar negeri. Kini, British Library menyerahkan bantuan 18.000 poundsterling untuk aktivitas tersebut. “Mau bilang apa, yang peduli atas masalah ini masih datang dari luar negeri?” tuturnya.

Kecintaan

Menggeluti dunia naskah sudah dikerjakan Yusuf sejak awal 1990-an. Kecintaan pada naskah kuno semakin menjadi setelah dia mendapatkan gelar master di Leiden, Belanda, tahun 1993.

Walaupun berasal dari suku Sunda, pria kelahiran Asahan, Sumatera Utara, ini tekun menggeluti naskah demi naskah di seluruh pelosok Sumbar. Baginya, unsur pendidikan dan penyelamatan naskah kuno merupakan bagian penting, jauh melebihi sekat etnis.

Latar belakang keluarga dia tak terkait langsung dengan naskah kuno. Ibunda Yusuf berprofesi sebagai petani, sementara sang ayah bekerja di perusahaan perkebunan Lonsum (London Sumatera). Dari kehidupan keluarga yang serba susah inilah Yusuf mewarisi semangat sebagai pekerja keras.

Ketekunan mendalami naskah kuno membawa Yusuf meraih Anugerah Universitas Andalas kategori pengabdian masyarakat, September 2007. “Ini hanya dampak,” ucapnya.

Menggeluti naskah kuno juga tak memberikan penghasilan tambahan dalam jumlah besar. Sering kali dana yang didapat justru habis untuk ongkos jalan, makan, dan kebutuhan lain, seperti menjalin pergaulan dengan para pemilik naskah kuno.

Satu hal yang masih diharapkan Yusuf adalah bertemu dengan simpul-simpul penting yang bisa turut menyelamatkan naskah kuno, baik di tingkat Provinsi Sumbar maupun Indonesia. *

http://www.kompas.com/
Kompas, Rubrik Sosok, Senin, 03 Desember 2007

 


Responses

  1. Iyo rancak weblog Sastra Indonesia. Ijau lambok warnanyo.Sajuak mato mamandang. Masuakkanlah tulisan2 ilmiah kawan2, nak bisa kami nan jauah2 mambaconyo. Kok buliah pintak jo kandak, masuk’an pulo foto2 pengajar Jurusan Bahasa/Sastra Indonesia: Ibu Yet (Ibu Dekan), Pak Fadlillah, Pak M. Yusuf, Ibu Upik (eehhhtaragak ambo), Ibu Noni, Ibu Nadra, Ibu2 Ef, dll…enz..enz…. Kito tunggu dari jauah…..dari pakelok’an..

    – Terima Kasih banyak, insya Allah akan kita muat. Gindo

  2. Semua orang sudah pakai blog, tinggal saya yang belum. Katinggalan bana ambo rasonyo.

    – kami tidak percaya, masak orang di Belanda ketinggalan? tidak mungkin.Salam. Gindo (penjaga Blog).

  3. Terima kasih kepada ‘Gindo’ (administrator) yng telah menghubungkn blog ini dengan web kantor saya (Faculteit der Letteren Universiteit Leiden). Sebaiknya dihubungkan juga dengan web CNWS Leiden University dan IIAS Leiden University. Banyak informasi di sana yg mungkin bermanfaat bagi teman2 di Padang.
    Sukses selalu!

    – Terima kasih juga,
    -Gindo

  4. Dan juga web2 sbb:
    http://www.kitlv.nl/cgi-bin/kitlv/web_store/web_store.cgi?page=asia-period-bki.html
    http://www.ubd.edu.bn/
    http://www.efeo.fr/
    http://www.iias.nl/
    http://www.cnws.leidenuniv.nl/
    http://www.nanzan-u.ac.jp/SHUBUNKEN/publications/afs/afsMain.htm

    – Terima kasih Uda Suryadi.

  5. almudazir.blogspot.com

    Itu adalah alamat weblog Almudazir, salah seorang alumni Sasindo FSUA. Mohon disambungkan, katanya.

    Salam,
    Suryadi

  6. Gindo (administrator), sedikit ralat sejarah singkat sastra indonesia. Mulai pindah ke Limau Manis sejak BP 1990, bukan 1991. Saya termasuk yang Ospek pertama di gedung B sekarang.

    – Terima kasih Da.

  7. Selamat tahun baru kepada warga Limau Manih. Semoga angin 2008 lebih sejuk barabuih di Limau Manin nan tacinto.

  8. Kenapa ini? Kok sepi?

  9. Sepi…..sepi….sepi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: